NovelToon NovelToon

Kau Rebut Kekasihku, Ku Nikahi Ayahmu

Pernikahan Yang Kacau

Auryn Athaya Wiguna berdiri terpaku di depan cermin besar yang memantulkan sosok wanita cantik berusia 22 tahun. Gaun putih berbahan brokat halus itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menjuntai indah hingga ke lantai. Sehelai kain lace transparan tersemat di rambutnya yang disanggul modern, memberikan kesan suci sekaligus rapuh. Di tangannya, seikat buket mawar putih segar digenggam erat, hingga jemarinya memutih karena tekanan.

Matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan yang berkecamuk. Detak jantungnya berpacu liar, bukan hanya karena euforia pernikahan, melainkan karena beban status yang akan segera berganti. Baginya, pernikahan ini bukan sekadar penyatuan cinta, melainkan sebuah gerbang pelarian. Ia ingin keluar dari rumah yang selama ini terasa seperti penjara emosional, jauh dari bayang-bayang ayahnya yang dominan. Ia ingin memiliki kehidupannya sendiri, menentukan arah langkahnya tanpa perlu mendengar dikte dari siapa pun.

"Sudah siap?"

Suara berat itu memecah keheningan kamar. Auryn menoleh pelan. Di ambang pintu, berdiri Danni Wiguna, pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas formal yang kaku. Ekspresinya datar, bahkan cenderung tidak bahagia. Tidak ada binar bangga di mata sang ayah saat melihat putrinya akan melangkah ke pelaminan.

Auryn membalas tatapan itu dengan tatapan cuek, sebuah mekanisme pertahanan diri yang sudah ia bangun bertahun-tahun. "Ya, aku siap Pi," balasnya pendek.

Danni melangkah masuk, tangannya bersedekap di dada. "Papi tanya sekali lagi, kamu benar-benar yakin menikah di usia semuda ini? Dengan pria yang baru kamu kenal tiga bulan dan bahkan pekerjaannya hanya karyawan kontrak? Apa yang kamu harapkan dari masa depan seperti itu, Auryn?"

Suara Danni penuh dengan nada meremehkan yang terselubung dalam kedok kekhawatiran. Ia tidak pernah menyetujui hubungan ini sejak awal. Baginya, calon suami Auryn hanyalah kerikil kecil yang tidak level dengan keluarga Wiguna.

Namun, Auryn justru mendongak, menunjukkan raut wajah yang mantap dan keras kepala. "Aku sudah yakin, Pi. Lagian, dengan aku menikah, bukankah ini solusi terbaik untuk Papi? Tak ada lagi anak yang keras kepala di rumah ini. Tak ada lagi anak yang selalu menambah masalah keluarga, dan tak ada lagi anak yang membuat Papi stres setiap hari karena tidak bisa diatur. Bukankah itu yang Papi inginkan?"

Kalimat itu menghunus tajam. Danni menatap putrinya dengan sorot mata yang mengeras. "Papi menegurmu selama ini agar kamu menjadi anak yang baik, Auryn! Agar kamu punya tata krama dan masa depan yang jelas!"

Auryn memutar bola matanya malas, sebuah gestur yang selalu memancing amarah Danni. "Anak baik Papi kan hanya Bang Pandu dan Aneth. Biasanya anak kedua memang jarang dipedulikan, cuma dianggap sebagai pembawa masalah atau pelengkap penderita. Jadi, biarkan aku pergi dengan caraku sendiri."

"Kamu—"

"Mas, jangan lagi ribut-ribut! Penghulu sudah datang. Ayo, Auryn, semua orang sudah menunggu." Maya, ibu Auryn muncul di balik pintu dengan wajah cemas. Ia segera menengahi sebelum perang mulut itu meledak menjadi badai. Maya tahu betul, suami dan putrinya memiliki ego yang sama besarnya, seperti dua batu karang yang saling beradu.

"Gandeng tangan Papi," bisik Maya memperingatkan putrinya dengan tatapan memohon.

Auryn menghela napas kasar. Meski hatinya menolak, ia tidak ingin menciptakan keributan di depan para tamu. Dengan gerakan kaku, lengannya meraih pergelangan tangan ayahnya—tangan yang bahkan ia lupa kapan terakhir kali merangkulnya dengan kasih sayang. Keduanya terdiam dalam kebisuan yang menyesakkan. Danni kemudian memegang telapak tangan Auryn, sebuah formalitas yang terasa dingin.

Mereka mulai berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga rumah mewah keluarga Wiguna. Di lantai bawah, dekorasi bunga-bunga putih dan kursi-kursi yang tertata rapi menyambut mereka. Kamera fotografer mulai menjepret, mengabadikan momen yang terlihat indah dari luar. Auryn memaksakan senyum ramah saat melihat teman-temannya. Dua sahabat baiknya, Jovita dan Gea, melambaikan tangan dengan antusias.

"Auryn OMG! Kamu cantik bangeeeet!" pekik keduanya bersamaan saat Auryn melintas di dekat mereka.

Auryn tersenyum tipis. Ia diarahkan untuk duduk di kursi di hadapan penghulu. Para tamu sudah duduk tenang, dan keluarga inti berdiri di sekeliling area akad. Namun, keheningan yang seharusnya sakral itu perlahan berubah menjadi ketegangan yang aneh.

Menit berlalu. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit.

"Dimana pengantin prianya?" tanya penghulu dengan raut wajah bingung sembari melirik jam tangannya.

Danni menoleh, menatap putrinya yang kini mulai sibuk dengan ponsel di balik buket bunganya. "Auryn, mana calon suamimu? Hubungi dia, kenapa siang sekali datangnya? Ini sudah lewat jadwal!" bisik Danni dengan nada tertahan yang penuh penekanan.

"Aku ... aku lagi berusaha menghubunginya, Pi. Tapi nomornya tidak aktif," ucap Auryn panik. Jantungnya kini berdegup karena ketakutan, bukan lagi karena gugup.

"Kok bisa? Coba hubungi lagi! Jangan main-main, Auryn!" tegur Danni.

"Tetap tidak aktif!" Auryn mulai gemetar. Wajahnya yang tadi cantik merona kini memucat, berganti dengan semburat merah karena menahan malu dan cemas. Para tamu mulai berbisik-bisik. Suasana menjadi gaduh dengan spekulasi yang tidak enak didengar.

Danni yang merasa harga dirinya dipertaruhkan, merasa sangat malu. Akhirnya, tanpa mempedulikan pandangan orang, ia meraih tangan Auryn dengan kasar dan membawanya pergi ke ruangan belakang, menjauh dari kerumunan.

Maya segera menyusul dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh kedua anak mereka yang lain. Setelah sampai di ruang keluarga yang tertutup, Danni melepaskan tangan Auryn dan berbalik dengan emosi yang meledak.

"Kamu gimana sih?! Kenapa dia tidak bisa dihubungi? Keluarga besar dan tamu penting sudah datang! Rekan kerja Papi juga ada di sana! Kamu mau buat malu keluarga?! Kenapa sih kamu sukanya bikin malu keluarga kita?! Gak bisa sekali saja kamu buat Papi bangga!" sentak Danni. Suaranya menggelegar di ruangan itu.

Air mata Auryn luruh seketika. Perasaannya sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Namun, di tengah kehancurannya, ia tetap menatap tajam sang ayah. "Aku memang bisanya buat malu Papi dan Mami saja! Aku juga tidak tahu! Kalian pikir, aku mau kejadian seperti ini? Enggak! Enggak ada yang mau kejadian ini!"

Dalam keadaan seperti ini pun, sang ayah tetap memojokkannya membuat Auryn tak bisa apapun selain berteriak panik.

_____________________________________

Haloooo, berjumpa lagi di karya baruku😍 semoga suka ceritanya yah, ini agak santai kok tapi konflik tetap kuat. Sebenarnya mau rilis yang cerita konflik berat, tapi banyak ngundang emosi. Penulisnya juga ikutan emosi🤣 jadi tunda dulu yah😆

Ini cerita baru yah, bukan cerita turunan oke🫣 jangan lupa dukungannya kawan😍

Titik Rendah Auryn

Pandu Wiguna dan Aneth Serra Wiguna mendekat. Maya berusaha menahan mereka agar tidak ikut campur, tapi Pandu tidak bisa tinggal diam melihat adiknya terpojok.

"Sini ponselmu, Abang lihat," pinta Pandu tenang namun tegas. Auryn menyerahkan ponselnya dengan tangan gemetar. Pandu segera mengecek daftar panggilan dan pesan singkat. Wajah Pandu berubah drastis setelah melihat sesuatu.

"Nomor kamu di-block ini. Artinya dia memang sengaja menghilang. Dia kabur dari pernikahan kalian," ucap Pandu dengan suara rendah namun terdengar seperti vonis mati bagi Auryn.

"Apa?" Auryn syok. Tubuhnya mematung, kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja. "Enggak mungkin, Bang ... enggak mungkin. Semalam kita masih teleponan kok. Dia juga sudah siapin mahar buat aku, dia sudah siapin semuanya ... dia gak mungkin ninggalin aku di hari pernikahan kita!" seru Auryn dengan isak tangis yang mulai pecah.

"Tapi buktinya dia block kamu, Auryn! Semua keluarga sudah datang, kamu bisanya bikin malu keluarga kita saja! Apa yang harus Papi bicarakan pada tamu, hah? Mau taruh di mana muka Papi!" sentak Danni lagi, seolah-olah rasa malu ayahnya jauh lebih penting daripada hancurnya hati sang putri.

"Kak, tenang dulu ...," ucap Aneth berusaha menenangkan Auryn. Usia mereka yang hanya berbeda satu tahun membuat Aneth sangat memahami betapa rapuhnya Auryn saat ini, meski selama ini mereka tampak tidak akur.

Auryn terduduk di lantai, mengabaikan gaun putih mahalnya yang kini kotor. Ia merasa dunianya runtuh. Di tengah isak tangisnya, kedua sahabatnya, masuk ke ruangan dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Ryn, ada apa ini?" tanya Jovita langsung memeluk Auryn.

"Digta ... Digta kabur. Dia block nomorku dan sekarang aku gak tahu harus bagaimana," ucap Auryn dengan suara lirih yang nyaris hilang.

"Kabur? Coba aku hubungi deh ya, masa sih si Digta kabur di hari H begini," Jovita mencoba mencari nomor Digta di ponselnya. Mereka memang satu kampus, jadi koneksi mereka cukup luas. Namun hasilnya nihil. "Nomornya benar-benar tidak aktif."

"Aku cari tahu dari teman-teman yang lain deh, mungkin ada yang tahu keberadaan dia," tambah Gea, berusaha membantu meski tahu kemungkinannya kecil.

Di tengah kekacauan itu, Auryn merasa benar-benar sendirian. Impiannya untuk bebas melalui pernikahan justru berubah menjadi penjara baru yang penuh dengan hinaan dan rasa malu.

.

.

.

.

Sementara itu, di sebuah kediaman mewah yang tenang di sudut kota yang lain, suasana sangat kontras. Terlihat seorang pria matang tengah berdiri di depan cermin besar, mengenakan jam tangan mewah di lengan kirinya. Setelan jas biru gelap dengan potongan slim-fit melekat sempurna di tubuhnya yang atletis dan tegap.

Keandra Mahessa, pria berusia 38 tahun itu, adalah definisi dari kemapanan dan ketampanan yang terasah oleh waktu. Wajahnya yang tegas dengan sedikit jambang tipis memberikan kesan berwibawa. Hari ini, ia tengah bersiap untuk menghadiri sebuah undangan pernikahan.

"Daddy mau kemana?"

Sebuah suara kecil yang cadel memecah konsentrasi Keandra. Ia menoleh dan mendapati sosok bocah laki-laki berusia empat tahun sedang berdiri di ambang pintu kamar. Anak itu mengenakan piyama dinosaurus, menatap ayahnya dengan tatapan bingung sekaligus protes.

"Daddy ada undangan, kamu di rumah dulu sama Oma. Jangan mogok makan lagi, berat badan kamu turun terus. Ingat kata dokter kemarin?" tegur Keandra dengan nada tegas namun terselip kasih sayang. Ia sering kali pening menghadapi putranya, Jeandra Axelio Mahessa, yang tingkat keras kepalanya melebihi dirinya sendiri.

"Olang nda napcuuu, kenapa halus di pakcaaa?" protes Jeandra sambil melipat tangan di dada. Bibirnya mengerucut sebal.

Keandra menghela napas, berjongkok agar tingginya sejajar dengan sang putra. "Terserah deh, kalau kamu gak makan lagi nanti siang ... Daddy bawa kamu ke tukang urut, biar diurut lagi sama mbah-mbah itu. Mau?" ancam Keandra.

Seketika, raut wajah Jeandra berubah panik. Pengalaman diurut oleh seorang nenek tua beberapa bulan lalu tampaknya masih menjadi trauma bagi bocah itu. "Iya nanti makaaaan! Kenapa Daddy yang lepot ciiih! Yang nda makan Andla yang lepot Daddy, yang punya pelut Andlaaa, yang belak Andlaaaa!" pekik anak itu kesal, mencampuradukkan argumen versinya sendiri.

Keandra hampir saja tertawa, namun ia menahannya agar wibawanya sebagai ayah tidak jatuh. "Ya sudah kalau tahu itu perut kamu. Sekarang Daddy pergi dulu."

Keandra bangkit berdiri dan hendak melangkah pergi, namun tangan mungil Jeandra dengan cepat menahan ujung jas birunya. "Daddy, Andla boleh titip balang?" tanya anak itu dengan mata bulat yang penuh harap.

Keandra mengernyitkan keningnya dalam. "Tentu, mau titip apa? Mainan lagi? Mobil-mobilan?"

Jeandra menggeleng cepat, lalu tersenyum sangat lebar hingga giginya yang kecil terlihat. "Titip Mommy balu, bial ada yang ngulus Andla," ucapnya dengan enteng.

Keandra tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Ia sudah menduda selama empat tahun. Istrinya meninggal dunia sesaat setelah berjuang melahirkan Jeandra ke dunia. Sejak saat itu, fokusnya hanyalah pekerjaan dan membesarkan putranya. Menikah lagi? Itu adalah daftar terakhir dalam rencana hidupnya.

"Kan ada Oma yang urus kamu," ucap Keandra santai.

Wajah Jeandra langsung berubah masam. "Omaaaa? Oma itu macam nenek Lapunsel! Daddy tahu? Baikan ibu tili cindelela dali pada nenek Lapunsel! Ceteleeees dili ini tau ndaaa?!" pekik anak itu dengan nada dramatis, seolah-olah ia adalah korban penindasan terbesar di dunia.

Keandra memutar bola matanya malas. Anaknya ini terlalu banyak menonton kartun. "Ya ya, Daddy pergi dulu. Jangan nakal."

Keandra meraih kepala Jeandra, mengusap rambutnya lembut, lalu meng3cup kening putrinya sebelum benar-benar beranjak pergi. Ia masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di depan rumah.

Saat duduk di kursi kemudi, Keandra terdiam sejenak. Ia menatap lurus ke depan, teringat ucapan nyeleneh putranya tadi. Satu sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum misterius yang jarang ia tunjukkan.

"Ibu tiri yah ...," gumamnya pelan. Ia melajukan mobilnya menuju lokasi pernikahan yang akan di hadirinya.

Nikahi Aku Om!

Suasana di ruang belakang acara pernikahan itu semakin mencekam. Gea, dengan napas tersengal dan wajah yang memerah karena amarah, berlari mendekat ke arah Auryn. Auryn yang saat itu sedang berada di titik frustrasinya, mendongak dengan tatapan kosong. Di luar sana, kegaduhan tamu dan tuntutan penghulu akan kejelasan status pernikahan ini bagaikan dengungan lebah yang menyakitkan telinga. Danni sebagai kepala keluarga, sedang berada di garis depan, berusaha memadamkan api kecurigaan para tamu dengan sisa-sisa wibawanya yang mulai runtuh.

"Auryn! Auryn! Kamu harus lihat ini!" teriak Gea panik, mengabaikan sopan santun di depan keluarga besar Wiguna.

"Gea, tenang! Jangan bikin Auryn tambah panik!" tegur Jovita kesal, sambil terus merangkul bahu Auryn yang bergetar.

"Aku baru saja dapat info dari teman nongkrong Digta! B4jingan itu ... dia benar-benar kabur, Ryn! Dan dia tidak sendirian. Dia pergi sama selingkuhannya!"

Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong. Auryn tersentak, ia beranjak berdiri dengan gerakan mekanis. Matanya yang sembab kini menatap Gea dengan tatapan hampa. Selama tiga bulan ini, Digta adalah sosok yang sempurna di matanya. Pria itu manis, perhatian, dan selalu memberikan kata-kata penenang di saat Auryn merasa tertekan oleh ayahnya. Tidak ada satu pun firasat, tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu memiliki kehidupan ganda.

"Selingkuhan?" bisik Auryn, suaranya parau. "Bagaimana mungkin?"

"Iya, Ryn! Dia kabur sama perempuan yang ternyata masih anak SMA! Bayangkan, dia meninggalkanmu demi bocah sekolah!" seru Gea sambil mengotak-atik ponselnya dengan kasar.

"Nih, kamu lihat muka perempuan gatal ini! Ini dia orangnya!" Gea menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Auryn. Foto seorang gadis muda dengan senyum polos namun menyimpan kelicikan itu terpampang jelas di akun sosial medianya.

Darah Auryn mendidih. Rasa sedihnya menguap, berganti dengan kemarahan murni yang membakar setiap sel di tubuhnya. Kepalan tangannya menguat hingga kuku-kukunya memutih. "Dasar perempuan gatal! Di mana rumahnya?! Di mana dia?! Aku akan samperin dia sekarang juga dan merobek wajahnya!" sentak Auryn dengan nada tajam yang membuat siapa pun bergidik.

Namun, Jovita yang sedari tadi diam sambil mengamati layar ponsel Gea, mendadak bergumam dengan raut wajah yang berubah sangat serius. "Tunggu ... aku kenal orang ini."

"Kamu kenal?" Auryn dan Gea menoleh serempak, menuntut penjelasan.

"Iya, aku tahu siapa ayahnya. Ayahnya adalah salah satu tamu undangan kamu hari ini. Namanya Keandra Mahessa. Dia ada di sana, di antara para tamu di depan."

Mata Auryn menyipit, memancarkan aura predator yang terluka. "Mana orangnya?"

Tanpa banyak bicara, Jovita menarik tangan Auryn menuju celah gorden yang membatasi ruang privat dengan area aula utama. Ia menyibak sedikit kain beludru itu dan menunjuk pada seorang pria yang duduk dengan posisi sangat santai di kursi baris depan. Pria itu mengenakan setelan jas biru gelap yang mewah, tampak kontras dengan kegaduhan di sekitarnya. Wajahnya tenang, seolah badai yang sedang terjadi di keluarga Wiguna hanyalah hiburan ringan baginya.

"Dia orangnya. Keandra Mahessa."

Auryn terpaku. Matanya mengunci sosok Keandra dengan dendam yang membara. "Jadi, gadis gatal itu adalah putrinya? Dia mencoba membangunkan singa yang sedang tidur? Apa dia tidak tahu risiko jika singa ini membalas dendam? Oke ... dia sudah berani mengusik hidupku, menghancurkan martabatku di hari pernikahanku ... maka aku akan mengusik seluruh hidupnya melalui ayahnya!"

Tanpa aba-aba, Auryn meraih kedua sisi gaun pengantinnya yang lebar, mengangkatnya sedikit agar ia bisa melangkah lebar. Ia berjalan keluar dari persembunyiannya menuju aula utama dengan langkah yang mengintimidasi.

"Auryn! Mau ngapain kamu?!" seru Gea panik, berusaha mengejar namun tertinggal oleh langkah cepat Auryn.

"Gak tahu! Kamu tahu sendiri dia cewek gila kalau sudah nekat!" Jovita ikut berlari di belakangnya dengan perasaan was-was.

Sedangkan Keandra masih sibuk dengan ponsel di tangannya, sesekali membetulkan letak jam tangannya yang berkilau. Ia merasa ada sesuatu yang mendekat, sebuah aura panas yang membelah kerumunan. Perlahan, ia mendongak. Di hadapannya, berdiri sang pengantin wanita yang seharusnya sedang menangis di belakang layar. Wajah cantik gadis itu berantakan oleh riasan yang sedikit luntur karena air mata, namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.

Keandra menatapnya dengan ekspresi datar, tak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.

"Nikahi aku, Om! Om harus tanggung jawab karena putri Om sudah membawa kabur calon suamiku!"

Kalimat itu terlontar begitu saja, lugas dan tanpa basa-basi. Keheningan seketika melanda aula. Para tamu yang tadi berbisik-bisik kini benar-benar terdiam, menahan napas menyaksikan drama yang jauh lebih seru daripada sinetron mana pun. Sahabat-sahabat Auryn yang baru sampai di belakangnya hampir saja pingsan mendengar permintaan gila itu.

Gea menepuk keningnya dengan keras. "Auryn benar-benar gila. Om itu pasti tidak akan ma—"

"Oke. Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan putri saya."

Suara Keandra yang berat dan mantap memotong keraguan Gea. Jovita dan Gea menganga tak percaya. Mereka mengharapkan penolakan, makian, atau setidaknya tawa ejekan dari pria semapan Keandra. Namun, pria itu justru menyanggupinya seolah ia baru saja menyetujui kontrak bisnis biasa.

Waktu seolah berhenti berputar bagi Auryn. Ia sendiri pun terkejut dengan reaksi Keandra yang begitu tenang. Pria itu berdiri, menunjukkan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan tegap dibandingkan dirinya. Keandra menatap Auryn dari atas ke bawah, seolah sedang menilai investasi barunya.

"Mana orang tuamu? Saya mau bicara," ucap Keandra dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Auryn sempat ngeblank sejenak, otaknya mencoba memproses kenyataan bahwa ia baru saja melamar seorang pria asing dan diterima. Namun, dendamnya jauh lebih kuat. Ia segera memimpin jalan, membawa Keandra kembali ke ruang keluarga untuk menemui orang tuanya.

Di dalam ruangan, Danni Wiguna masih mondar-mandir seperti harimau yang terluka. "Anak itu memang tidak bisa diandalkan! Selalu buat malu! Dia selalu saja—"

"Pi," potong Auryn dingin. Danni menoleh dan langsung bersiap untuk meledakkan amarahnya lagi.

"Sudah bisa dihubungi?! Auryn, sejak awal Papi sudah bilang jangan pernah percaya dengan pria seperti—"

"Dia akan menikah denganku hari ini, di sini," ucap Auryn lantang sambil meraih dan menggandeng tangan Keandra dengan erat.

Danni terpaku. Matanya beralih dari tangan Auryn ke wajah Keandra. Ia tahu jarak usia mereka sangat jauh, terlihat dari aura pria itu. Keandra Mahessa bukanlah pria yang cocok untuk Auryn, dan melihatnya berdiri di samping putrinya dengan pakaian pengantin mendatangkan perasaan yang campur aduk.

"Gak ada habisnya kamu buat masalah, ya? Sekarang kamu mau menikah dengan pria ini? Kamu tahu siapa dia? Berapa usianya? Jangan buat Papi tambah malu dengan skenario gila ini!" bentak Danni.

"Ini satu-satunya solusi!" teriak Auryn, air matanya kembali tumpah. "Papi selalu memojokkanku tanpa membiarkan aku mencari jalan keluar! Papi selalu menghakimiku tanpa memberiku kesempatan untuk bernapas! Aku muak berada di dalam keluarga ini! Aku ingin pergi, dan pria ini yang akan membawaku pergi!"

Tangisan Auryn pecah, namun mendadak ia merasakan sebuah tangan besar merangkul bahunya. Keandra mencengkeram lengan Auryn dengan mantap, memberikan dukungan fisik yang tak terduga. Tatapan tajam Keandra kini beralih pada Danni.

"Saya Keandra Mahessa, berusia 38 tahun. Mungkin umur saya tidak lagi muda, namun saya memiliki segalanya untuk menjamin kebahagiaan putri Anda. Sebagai bentuk tanggung jawab karena putri saya yang telah membawa kabur calon suami Auryn, saya menawarkan diri untuk menggantikan posisinya. Terimalah pertanggungjawaban ini agar martabat keluarga Anda tetap terjaga di depan para tamu."

Danni terdiam seribu bahasa. Logikanya mulai bekerja. Menikahkan Auryn dengan Keandra jauh lebih menguntungkan daripada membiarkan pernikahan ini batal dan menjadi bahan gunjingan seumur hidup. Ia menghela napas kasar, bahunya sedikit merosot.

"Baik ... aku izinkan kamu menikahi putriku."

Keandra tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat halus. "Terima kasih."

"Lalu, bagaimana dengan maharnya? Kita tidak punya waktu untuk menyiapkan apa pun," tanya Danni dengan nada frustrasi.

Keandra merogoh saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam. Ia menarik selembar uang seratus ribu rupiah berwarna merah yang masih kaku. Semua orang di ruangan itu, termasuk Auryn menatap uang itu dengan bingung.

"Saya jarang menyimpan uang tunai, dan seperti yang Anda lihat, saya datang ke sini hanya sebagai tamu undangan, tanpa persiapan untuk menjadi pengantin. Jadi ... terima saja dulu mahar seratus ribu ini sebagai pengikat sah secara agama dan hukum," ucap Keandra dengan santai.

Gea berbisik pelan ke telinga Jovita, "Masa sih goa Auryn dihargai seratus ribu doang? Mahalan goa punya LC dong,"

"Ssst! Jaga mulutmu!" desis Jovita kesal, meski dalam hati ia juga merasa miris.

.

.

.

.

Suasana aula utama kembali hening saat Keandra dan Danni duduk berhadapan di depan penghulu. Auryn duduk di samping Keandra, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Tangannya yang dingin meremas kain gaunnya sendiri. Ia bisa merasakan tatapan penuh tanya, ejekan, dan kasihan dari ratusan pasang mata tamu undangan.

"Saya nikahkan engkau dengan putri saya, Auryn Athaya Wiguna binti Danni Wiguna dengan maskawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai!" suara Danni bergetar, menahan beban malu yang luar biasa.

"Saya terima nikah dan kawinnya Auryn Athaya Wiguna binti Danni Wiguna dengan maskawin tersebut, tunai!" jawab Keandra dengan satu tarikan napas, tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAH!"

Ucapan sah itu menggema di seluruh ruangan, namun bagi Auryn, itu terdengar seperti lonceng kematian bagi masa mudanya. Ia memejamkan mata erat-erat saat mendengar bisikan-bisikan sinis di barisan belakang tentang mahar yang sangat rendah itu.

“Hanya seratus ribu? Murah sekali harga diri anak keluarga Wiguna.”

“Mungkin itu harga yang pantas untuk pengantin yang ditinggal kabur.”

Auryn menggigit bibir dalamnya hingga terasa asinnya darah. "Tahan, Auryn ... tahan. Demi menciptakan neraka untuk perempuan itu, kamu harus tahan, ini hanya awal dari segalanya." bisik Auryn dalam hatinya dengan penuh dendam.

_______________________

Gimana gimana, sampai part tiga ini seru kaaah?😆

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!