Mei Lin bergerak sunyi di dalam ruang kerja direktur di lantai 45. Tangan yang terbungkus sarung tangan hitam itu meraba bingkai foto digital di atas meja. Jarinya menemukan sebuah kartu chip perak yang tertempel di belakangnya--- ia dapat melacak kartu itu berkat kacamata sensor buatan profesor Ping.
Mei Lin segera melangkah ke dinding di belakang meja besar itu. Ia menempelkan kartu tersebut ke sebuah sensor tersembunyi.
Bip.
Sebuah panel dinding bergeser, menampakkan brankas baja yang tertanam kuat di sana. Mei Lin menekan tombol angka pada layar sentuh brankas itu.
"53901."
Layar berkedip merah pertanda bahwa sandi salah. Mei Lin mendengus. Ia tahu pemilik gedung ini sangat teliti. Ia melihat ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam. Cahaya lampu dari gedung seberang mengingatkannya pada sesuatu. Ia teringat kode rahasia yang pernah ia curi dari email targetnya.
"31590."
Ceklek.
Brankas terbuka. Sebuah lampu kecil di dalamnya menyala, menunjukkan sebuah flashdisk emas berisi data penelitian penting. Namun, saat tangannya baru saja hendak menyentuh benda itu, pintu baja ruangan itu meledak karena didobrak paksa.
Seketika, cahaya senter dari senjata laras panjang memenuhi ruangan. Wang Yu masuk paling depan, menodongkan pistolnya tepat ke wajah Mei Lin.
"Menyerah lah! Kau sudah dikepung di ketinggian ini. Tidak ada jalan keluar!" teriak Wang Yu.
Mei Lin perlahan mengangkat kedua tangannya. Ia tahu, di balik kaca jendela di belakangnya, ada titik merah dari senapan sniper yang sudah mengunci kepalanya.
"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk mencuri data penelitian 'itu'?!" Tanya Wang Yu dengan nada tegas dan sangat hati hati. Mei Lin memutar bola mata nya malas. Pandangan nya terpaku pada helikopter militer yang terbang mengarah ke gedung Astra-Core ini. Bahkan jika pasukan nya menyerang kumpulan polisi militer ini, mereka akan tetap kalah telak. Pemerintah sudah mengerahkan ratusan polisi militer untuk mengepung nya.
"Letakan dulu senjata mu dan perintahkan pada bawahan mu untuk meletakan senjata mereka!" Pinta Mei Lin sembari menatap belasan polisi yang menatap tajam ke arah nya dengan sengit dan mengarahkan pistol mereka ke Mei Lin seakan ingin menghujani gadis itu dengan peluru kematian.
Wang Yu melirik ke belakang dan mengangguk. Ia meletakan senjata nya ke lantai diikuti oleh para bawahannya.
Gadis berambut hitam itu mengangkat bibir pucatnya. Melengkung. Membentuk sebuah rencana licik setelah terdengar kalimat "End" dari alat komunikasi yang tertempel di telinga nya.
"Kemarilah, aku akan membisikimu." Ujar Mei Lin dengan menaruh wajah serius. Wang Yu menghela nafas untuk tetap siaga. Ia mulai mendekat ke arah Mei Lin , dan di langkah terakhir , Mei Lin segera menyeret Wang Yu ke pelukannya.
"Kau akan ikut aku ke akhirat!"
Lalu Mei Lin segera membuka sarung tangan nya yang terlilit sebuah jam plastik.
Boom.
Seketika sebuah ledakan terjadi. Mei Lin melakukan aksi bunuh diri di detik terakhirnya saat ia terkepung habis.
Disisi lain, seorang lelaki berjanggut putih panjang dengan jas hitam tersenyum kecut. "Agen No. 859 mati." Gumamnya sembari melihat ke arah CCTV yang menampakan adegan Mei Lin melakukan bunuh diri.
***
Happy Reading ❤️
Note : Tolong baca nya jangan lompat lompat ya kak... Kalo misal tidak terlalu nyaman dengan salah satu bab dan ingin melompat ke bab lain, tolong di scroll saja , jangan di lewatin ya kakak~ terimakasih~🥰
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
CETAR!
Suara cambukan itu menggema di seluruh ruangan, membentuk sebuah dengingan yang amat mengerikan.
Seorang wanita paruh baya dengan konde tinggi dan hanfu merah terus melayangkan cambukan pada tubuh gadis lumpuh di depan nya. Gadis itu duduk dikursi roda yang terbuat dari kayu murahan dengan posisi pasrah saat punggung nya dihujani cambukan yang merobek kain sutra tipisnya. Darah mulai merembes, mengubah warna hanfu putih yang ia pakai menjadi merah pekat. Bai Hua---gadis malang itu menunduk lesu. Wajah nya sudah dipenuhi genangan air sejak tadi.
"Kau berani menolak calon suamimu?!" teriak Nyonya Besar Bai Yun.
"Ingat posisimu, sampah! Kau harus balas budi karena aku sudah membesarkanmu! Jika bukan karena kemurahan hati ku, keluarga Bai sudah membuangmu ke jalanan! Siapa juga yang akan menikahi putri cacat sepertimu!
CETAR!
"Mereka menawarkan ratusan ribu tael jika kau menikahi Pangeran idiot itu!"
"Nyonya, hamba mohon, hentikan..." Seorang pelayan berlari dari arah pintu gudang pengap itu dan berlutut di hadapan kaki besar milik Nyonya Bai Yun. Tangan pelayan berusia empat puluh tahun itu memegang kaki majikan nya dengan sangat erat.
"Minggir!" Hardik Nyonya Bai Yun. Ia menendang pelayan itu hingga tersungkur, lalu kembali mengangkat cambuknya tinggi-tinggi. "Hari ini, aku akan memastikan kau tahu cara menjadi istri yang patuh sebelum kereta pengantin datang menjemputmu!"
Cambuk itu melesat di udara, membelah angin dengan suara mendesis. Namun, kali ini suara yang mengerikan itu tidak terdengar.
Tangan kurus dan pucat milik Bai Hua bergerak secepat kilat. Ia menangkap ujung cambuk itu dengan tangan kosong. Darah mengalir dari telapak tangannya yang teriris, tapi ekspresi wajahnya berubah total. Mata sayu itu kini menatap tajam, sedingin es, dan penuh aura membunuh.
Bai Hua merasakan denyut sakit di sekujur tubuhnya. Ia menyentakkan cambuk itu dengan teknik pengungkit, membuat Nyonya Bai Yun terhuyung ke depan.
"Siapa yang kau sebut sampah?" tanya Bai Hua dengan suara serak namun menekan.
Nyonya Bai Yun terbelalak. "Kau... kau berani melawan?!"
Bai Hua menyeringai tipis, "Aku tidak suka suara berisik. Dan aku paling benci dicambuk."
Dengan satu gerakan terukur, Bai Hua memutar sisa cambuk di tangannya dan menjerat leher Nyonya Bai Yun, menariknya hingga wajah wanita tua itu memerah kebiruan. Para pengawal di pintu terpaku, tak percaya melihat si gadis kursi roda bisa bergerak secepat itu.
"Lepaskan! Kau... kau sudah gila, Bai Hua?!" Nyonya Bai Yun tercekik, tangannya mencakar udara berusaha melonggarkan jeratan cambuk di lehernya. Matanya melotot ngeri melihat aura mematikan yang terpancar dari gadis yang biasanya hanya bisa menunduk ketakutan itu.
Bai Hua menatap wanita di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya sempat berdenyut hebat.
Meledak. Bukankah aku baru saja meledakkan diri di lantai 45?
Kilatan memori asing masuk ke kepalanya seperti arus listrik. Ia melihat potongan kehidupan gadis bernama Bai Hua yang disiksa, dihina dan diludahi. Ayah nya yang seorang Menteri Keuangan yang selalu memandang Bai Hua dengan jijik. Ibu kandung Bai Hua meninggal saat melahirkannya.
Posisi istri Menteri pun dengan cepat digantikan oleh Bai Yun---ibu tiri yang kejam. Ia melahirkan seorang putri cantik yang hobi berhias diri dan sifat nya tidak beda jauh dengan Bai Yun.
Anak Bai Yun bernama Bai Rui, dikenal sebagai Bunga Peony yang mekar karena kecantikan dan bakat nya dalam segala bidang, sangat berbanding terbalik dengan Bai Hua. Bai Rui tengah menjalin asmara dengan Pangeran Kedua yang secara fisik sempurna dan tampan , berbeda dengan Pangeran Pertama yang memiliki keterbelakangan mental.
Perasaan sedih dan amarah milik pemilik tubuh asli menyatu dengan insting pembunuh sang agen mata-mata.
"Nona... Nona Muda..." pelayan yang tadi ditendang---Bibi Pong---menatap dengan mulut ternganga.
"Diam," desis Bai Hua. Suaranya tidak lagi gemetar. Ia menarik cambuk itu sedikit lebih kencang, memaksa wajah Nyonya Bai Yun mendekat ke wajahnya. "Dengarkan aku, wanita tua. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan soal utang budi, tapi mulai detik ini, satu goresan di tubuhku berarti satu nyawa melayang di keluarga ini."
"Pengawal! Serang dia! Cepat!" teriak Nyonya Bai Yun dengan suara parau yang tersisa.
Dua pengawal yang berjaga di pintu segera menghunuskan pedang dan menerjang maju. Bai Hua mendengus meremehkan. Meski duduk di kursi roda, kecepatan tangannya adalah hasil latihan bertahun-tahun sebagai agen elit.
Ia melepaskan jeratan leher Nyonya Bai Yun, lalu menggunakan gagang cambuk itu sebagai senjata penangkis. Brak! Dengan satu gerakan putaran kursi roda yang tepat, ia menghindari tebasan pedang, lalu menghantamkan siku tangannya tepat ke jakun salah satu pengawal hingga pria itu tumbang tak bisa bernapas.
Satu pengawal lainnya mencoba menusuk, namun Bai Hua menangkap pergelangan tangannya, memutarnya hingga terdengar suara krak yang memilukan, dan merebut pedang tersebut.
Kini, Bai Hua memegang pedang panjang dengan ujung yang menempel tepat di bawah dagu Nyonya Bai Yun yang gemetar di lantai.
"Tadi kau bilang... aku akan menikah dengan Pangeran Idiot demi ratusan ribu tael?" Bai Hua menyeringai kejam. Darah yang mengalir dari punggungnya seolah tidak terasa. "Bagus. Aku akan pergi. Bukan karena aku patuh, tapi karena aku ingin melihat seberapa hancur keluarga ini tanpa uang jaminan dariku."
Ia melemparkan pedang itu ke lantai hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.
"Bibi Pong, bersihkan lukaku," perintah Bai Hua dingin. "Siapkan gaun pengantin itu. Aku ingin bertemu dengan 'suamiku' yang katanya bodoh itu. Aku penasaran, siapa yang lebih gila di antara kami berdua."
Nyonya Bai Yun jatuh terduduk, lemas. Ia menatap punggung Bai Hua dengan ngeri. "Sampah itu.."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
Bibi Pong masih mematung, matanya melotot menatap dua pengawal yang mengerang di lantai. Namun, suara dingin Bai Hua menyentaknya kembali ke kenyataan. "Bibi, kau dengar aku?"
"I-iya, Nona Muda! Segera!" Bibi Pong dengan tangan gemetar mendorong kursi roda Bai Hua keluar dari gudang pengap itu menuju paviliun kecil milik Bai Hua yang nyaris runtuh.
Di dalam kamar, Bibi Pong menangis tersedu-sedu saat membuka kain sutra yang menempel pada luka di punggung Bai Hua. Darah sudah mengering, menyatukan kain dengan kulit. Namun, yang membuat Bibi Pong merinding adalah fakta bahwa Bai Hua tidak sedikit pun meringis. Gadis itu justru duduk tegak, matanya menatap kosong ke cermin tembaga seolah sedang menyusun rencana perang.
"Tahan sedikit, Nona..." Bibi Pong membasuh luka itu dengan air hangat.
"Lanjutkan saja, Bibi. Rasa sakit ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang akan mereka terima," ucap Bai Hua datar. Di pikirannya, ia sedang menghitung efisiensi tubuh barunya. Lumpuh, tapi saraf motorik tangan masih tajam. Aku perlu melatih kekuatan inti tubuh jika ingin bertahan di dunia ini.
Setelah luka dibalut, Bibi Pong membantu Bai Hua mengenakan gaun pengantin merah yang dikirim oleh pihak istana. Gaun itu sangat mewah, berbanding terbalik dengan kamar Bai Hua yang kumuh.
Saat kursi roda Bai Hua didorong menuju gerbang depan, sebuah tawa meremehkan menghentikan langkah mereka.
"Lihatlah si pengantin lumpuh kita."
Seorang gadis cantik dengan gaun Peony ungu yang megah berdiri di sana. Ia adalah Bai Rui, adik tiri Bai Hua. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan raut wajah keras yang penuh otoritas. Menteri Bai.
"Ayah, lihatlah Kakak. Bahkan dengan baju pengantin terbaik pun, ia tetap terlihat seperti sampah yang dibungkus kain mahal," ejek Bai Rui sambil menutup mulutnya dengan kipas. "Kasihan sekali, aku akan mendapatkan Pangeran Kedua yang tampan dan perkasa, sementara kau... kau hanya akan mengurus pria yang hobi bermain lumpur dan air liur."
Menteri Bai mendengus, menatap Bai Hua dengan pandangan jijik. "Jangan bicara sepatah kata pun saat di istana nanti. Pernikahanmu hanyalah transaksi. Mahar ratusan ribu tael dari keluarga Pangeran Wan Long adalah alasan satu-satunya kau masih diizinkan bernapas hari ini. Jangan permalukan nama Menteri Keuangan!"
Bai Hua menatap ayahnya, lalu beralih ke Bai Rui. Seringai tipis muncul di bibirnya yang pucat. "Transaksi, ya? Jika aku adalah sampah, lalu apa sebutan untuk seorang Menteri yang menjual anaknya demi menutupi utang pribadi?"
"Kau!" Menteri Bai mengangkat tangannya, hendak menampar.
Sret!
Bai Hua menangkap pergelangan tangan ayahnya dengan gerakan yang sangat halus namun kuat. Ia mendongak, matanya berkilat tajam. "Simpan tanganmu, Ayah. Mulai detik ini, aku bukan lagi milik keluarga Bai. Aku adalah bagian dari keluarga Kekaisaran. Kau ingin dicap memberontak karena menyerang istri Pangeran?"
Menteri Bai tertegun. Tekanan pada pergelangan tangannya sangat kuat, bukan seperti tenaga gadis lumpuh. Ia terpaksa menarik tangannya kembali dengan wajah memerah.
***
Iring-iringan pengantin tiba di kediaman Pangeran Wan Long tepat ketika matahari pas di ubun-ubun. Tempat itu luas, namun terasa sunyi dan aneh. Tidak ada musik pesta yang meriah, hanya beberapa kasim yang tampak malas berjaga.
Begitu tandu diturunkan, seorang pria muda dengan jubah merah yang miring dan rambut sedikit berantakan berlari keluar. Ia tertawa-tawa sambil mengejar seekor belalang di tangannya.
"Belalang! Jangan lari! Aku ingin makan kamu!" teriak pria itu. Itulah Pangeran Wan Long.
Bibi Pong gemetar. "Nona... itu Pangeran Wan Long."
Bai Hua turun dari tandu dengan dibantu kursi rodanya. Ia menatap Wan Long yang kini berjongkok di tanah, mengendus-endus ujung sepatunya. Pangeran itu tampak benar-benar idiot, air mukanya kosong dan kekanak-kanakan.
Namun, saat Wan Long mendongak dan mata mereka bertemu, Bai Hua merasakan getaran aneh. Pangeran itu tiba-tiba berhenti tertawa. Selama satu detik yang sangat singkat, pupil mata Wan Long mengecil dan sorot matanya berubah menjadi sangat waspada.
Wan Long tiba-tiba merangkak mendekat, menarik ujung cadar Bai Hua, dan berbisik dengan suara yang sangat rendah di bawah kebisingan para pelayan, menggunakan istilah sandi agen yang sangat spesifik:
"Titik nol tercapai. Objek telah dikunci."
Mata Bai Hua membelalak. Itu bukan bahasa pujangga kerajaan. Itu adalah istilah teknis para agen lapangan di abad 21 untuk menyatakan bahwa posisi sudah aman dan target telah ditemukan.
Sebelum Bai Hua bisa bereaksi, Wan Long kembali tertawa keras sambil menarik-narik bajunya. "Hehe! Istri baru baunya seperti darah! Aku suka darah! Ayo main masak-masakan!"
Bai Hua menyipitkan mata, sebuah senyum penuh arti terukir di wajahnya.
"Baiklah, Pangeran," sahut Bai Hua pelan namun tajam. "Ayo kita lihat siapa yang akan menjadi juru masak, dan siapa yang akan menjadi santapan."
Bai Hua mengalihkan pandangannya dari Wan Long, menyapu halaman kediaman yang sepi itu. Ia menyadari satu hal yang ganjil. "Bibi Pong, di mana Kaisar dan Permaisuri? Bukankah ini pernikahan putra sulung mereka?"
Bibi Pong menunduk dalam, suaranya nyaris berbisik karena takut. "Nona... Kaisar sedang sibuk dengan urusan perbatasan, begitu alasan yang diberikan kasim istana. Sedangkan Permaisuri... beliau mengirimkan pesan bahwa kesehatannya sedang menurun dan tidak bisa mencium aroma darah atau keramaian."
Bai Hua mendengus remeh. Sibuk? Sakit? Ia tahu itu hanya alasan diplomatis. Kaisar malu memiliki putra idiot sebagai pewaris pertama, dan Permaisuri---yang kemungkinan besar bukan ibu kandung Wan Long---pasti lebih memilih menghabiskan waktu dengan Pangeran Kedua.
"Jadi, mereka bahkan tidak sudi datang untuk sekadar melihat wajah 'sampah' dan 'idiot' ini bersatu?" gumam Bai Hua.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!