NovelToon NovelToon

Papa Tiri Anti Bakteri

CEO Anti Bakteri

Pagi itu, atmosfer di gedung pencakar langit Lergan Empire terasa lebih mencekam daripada hari-hari biasanya. Di lobi utama yang luasnya hampir setengah lapangan bola, para Office Boy tampak bekerja dengan keringat dingin yang membasahi pelipis. Mereka tidak hanya mengepel lantai hingga mengkilap seperti cermin, tetapi juga menyemprotkan cairan disinfektan ke setiap inci permukaan yang mungkin tersentuh oleh tangan manusia. Lantai marmer itu seolah-olah harus bisa memantulkan wajah siapa pun yang memandangnya tanpa ada satu pun bercak noda yang mengganggu.

Seorang petugas pembersih kaca tampak mengelap gagang pintu lift dengan sangat hati-hati. Ia melakukannya berulang kali, menggunakan kain mikrofiber yang berbeda untuk setiap sentuhan, memastikan tidak ada satu pun bekas sidik jari atau butiran debu mikroskopis yang berani menempel di sana. Baginya, satu noda kecil bukan hanya sekadar kotoran, melainkan tiket satu arah untuk kehilangan pekerjaan di perusahaan paling bergengsi di negara ini. Ia bekerja seolah sedang membersihkan berlian yang sangat rapuh, jangan sampai ada debu sekecil apa pun yang tertinggal.

Di sudut lain, beberapa dari karyawan saling berbisik sambil keluar dari lift. Ketiga karyawan wanita itu tampak berjalan terburu-buru, namun mulut mereka tak henti membicarakan soal CEO baru mereka yang baru saja resmi menjabat.

"Katanya dia putra pertama Tuan Xander, anti bakteri!" bisik wanita pertama dengan nada suara yang tertahan namun penuh kengerian. "Sama sekali tidak mau disentuh orang, bahkan menganggap semuanya bakteri."

"Oh astaga, benarkah?" sahut rekannya, matanya membelalak penasaran sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk utama. "Apa dia tak lemah di sentuh wanita?"

Wanita ketiga mendengus kecil, menata rambutnya yang sedikit berantakan. "Bisa jadi, tapi dia sangat tampan. Wajahnya seperti pahatan dewa, namun auranya sangat dingin. Seperti pangeran yang hidup di dalam kotak kaca steril."

"Hais, apa gunanya kalau tampan tapi tak suka wanita. Jangan-jangan ... dia suka sama yang berbatang lagi?" celetuk wanita kedua yang langsung disambut tatapan horor dari dua rekannya.

"Hust! Kalau ada yang dengar dan melaporkan kita, tamat riwayat kita. Ayo, kita kembali ke ruangan," ajak wanita pertama sambil mempercepat langkahnya.

Bisik-bisik ketiga wanita itu melewati seorang pria yang asyik dengan sebungkus ciki di tangannya. Namanya Atlas, asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun melayani keluarga Lergan. Ia berdiri bersandar di pilar, mengunyah keripik kentang dengan santai meskipun sekelilingnya sedang dilanda kepanikan steril.

"Para wanita penggosip," gumamnya pelan sambil membuang bungkus cikunya ke tempat sampah. Ia membersihkan tangannya dengan sangat teliti menggunakan tisu basah dan lekas menuruni lift untuk menyambut orang penting yang baru saja tiba di pelataran gedung.

Di pintu utama perusahaan, terlihat para karyawan tengah berbaris rapi. Mereka menahan napas saat sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan karpet merah. Terlihat, seorang pria berjas abu-abu turun dari mobilnya. Sepatu mewah yang berkilat dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan angkuh yang begitu kental. Rahangnya yang terlihat tegas dan ketampanannya begitu menguar, membuat beberapa karyawan wanita harus bersusah payah menahan jeritan kagum mereka.

Xavier Rey Lergan, putra pertama Xander Rey Lergan. Pria yang berusia 26 tahun itu mengidap mysophobia, sebuah kondisi psikologis di mana ia memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap bakteri dan noda. Bagi Xavier, dunia luar adalah medan perang yang penuh dengan kontaminasi. Kedua tangannya selama ini selalu memakai sarung tangan hitam, kehadirannya harus sangat bersih seolah tak boleh ada noda yang membandel yang berani mendekatinya.

"Tuan," Atlas menyapa dengan hormat, berdiri di depan pintu lift pribadi. Ia menyapa putra dari atasannya sebelumnya, karena kini kursi CEO secara resmi telah diduduki oleh putra pertama Xander tersebut.

Xavier tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung sejenak, matanya yang tajam menyisir lobi. Ia bisa melihat partikel debu yang menari di bawah sorot lampu lobi dengan ketajaman yang tidak dimiliki orang normal. "Sudah kukatakan, harus bersih bukan?" tanya Xavier dengan suara rendah namun penuh tekanan sambil membenarkan letak sarung tangan hitamnya.

"Iya Tuan, semuanya sudah dikerjakan sesuai dengan keinginan Anda," ucap Atlas yang mendapat anggukan dingin dari Xavier.

"Baiklah," Xavier melangkah maju. Sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang teratur. Para karyawannya pun menyapanya dengan hormat, sedikit membungkuk tanpa berani menatap matanya secara langsung. Xavier melangkah memasuki lift pribadinya dan bergerak naik ke lantai di mana ruangannya berada.

Sesampainya di lantai atas, pintu lift terbuka. Xavier melangkah keluar menuju ruang kerjanya yang luas. Namun, ia tidak langsung masuk. Matanya menatap ke arah Atlas yang sempat terlihat bingung sesaat. Namun, sedetik kemudian Atlas mengerti. Asistennya itu lekas mengambil botol semprotan dan menyemprotkan disinfektan ke udara serta gagang pintu sebelum Xavier melangkah masuk ke dalam zona pribadinya.

"Ya, kerja bagus. Sesuai yang saya mau," gumam Xavier saat ia akhirnya duduk di kursi kebesarannya. Baginya, kebersihan adalah harga m4ti, dan kesterilan adalah segalanya. Ia tidak akan bisa berpikir jernih jika ada sedikit saja noda di atas meja kerjanya.

"Kalau begitu saya minta OB siapkan kopi untuk Anda," ucap Atlas dan akan melangkah pergi. Namun, Xavier malah menghentikannya dengan suara dingin.

"Jangan pakai gelas dapur kantor," tegur Xavier sambil membuka berkas yang ada di hadapannya. Ia membuka kertas-kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah kertas itu sendiri membawa kuman. Atlas yang mendengar itu menghela napas pelan, ia tersenyum paksa dan melangkah pergi keluar ruangan.

"Bos yang sekarang agak aneh ya, dia kira dalam tubuhnya tidak ada kuman? Ck, apa dia kira dia adalah tisu bersih yang turun dari langit?" gerutu Atlas sepanjang koridor menuju dapur khusus.

Sementara Xavier membaca berkas yang ada di mejanya sejenak. Ia terpaksa menuruti kemauan sang ayah untuk menggantikan pria itu memimpin perusahaan besar ini. Bisa dikatakan, saat ini dirinya adalah seorang CEO magang di bawah pengawasan ketat ayahnya. Namun, sejak remaja Xander memang sudah mengajari Xavier ajaran dasar perusahaan. Apalagi, Xavier adalah tipe orang yang sangat cepat tanggap dan perfeksionis. Tentunya, kecerdasan itu tak disia-siakan oleh Xander.

"Vier."

Vier mengangkat pandangannya. Ia melihat Xander, masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Yang lebih mengerikan lagi bagi Xavier, sang ayah membawa sebuah paper bag berminyak dan langsung meletakkannya di atas meja kerja Xavier yang suci. Sontak, Xavier langsung berdiri dari kursinya dan menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya dan penuh kengerian.

"Ayaaaah!!" serunya kesal, suaranya hampir mencapai nada tinggi.

Namun, sang ayah justru menyeringai lebar dan duduk dengan santai di hadapannya. Pria paruh baya itu membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan kotak makanan yang seketika membuat seluruh isi ruangan berbau tajam makanan berminyak. Xavier mendengus kesal, hidungnya terasa perih menc1um bau itu. Ia pun duduk di kursinya kembali dengan sangat enggan, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari meja.

Namun sang ayah semakin menjadi. Dengan santainya, Xander melepas kaos kakinya sembarangan dan melemparkannya ke arah sofa kulit yang berada di sudut ruangan. Mata Xavier melotot sempurna melihat benda itu mendarat di atas permukaan sofa yang baru saja disemprot alkohol.

"Aku aduin Bunda ya!" pekik Xavier dengan tatapan marah.

"Adukan saja, Bunda kan lagi marah padamu, hahah," jawab Xander dengan tawa lepas. Ia mulai melahap makanannya dengan penuh selera. Tanpa rasa bersalah, ia mengambil potongan ayamnya langsung dengan tangan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, yang seketika membuat Xavier meringis ngeri dan membuang muka.

"Pantes Ayah gak gemuk, cacingan itu," celetuk Xavier dengan tatapan sinis, melihat minyak yang menempel di ujung jari ayahnya.

Xander terkekeh kecil sambil mengunyah. "Ayah rajin olahraga, mana ada cacingan. Hais lupakan soal itu, lebih baik kamu pikirkan cara bujuk Bundamu," ucap Xander setelah menelan makanannya.

Xavier membuang pandangannya ke jendela besar kantornya, menatap hiruk-pikuk kota di bawah sana. Ia teringat bahwa sejak semalam sang bunda mengabaikannya, tidak membalas pesannya, dan bahkan tidak mau mengangkat teleponnya. Semua itu karena satu persoalan, Xavier menolak keras untuk dijodohkan.

"Kenapa Bunda suka memaksa?" tanya Xavier pelan.

"Bukan memaksa, tapi Bunda takut. Penyakit kamu itu semakin parah, sudah dibawa berobat sana-sini tetap aja. Siapa tahu dengan menikah, kamu sedikit berubah Vier. Setidaknya ada seseorang yang bisa menyentuhmu tanpa kamu merasa kotor," tegur Xander. Ia tahu betul apa yang istrinya maksudkan, tapi ia juga sangat mengerti posisi sulit putranya.

"Kalau boleh pilih, aku juga enggak mau hidup kayak gini Yah," lirih Xavier. Suaranya terdengar sangat rapuh untuk sesaat, menunjukkan bahwa di balik kaku dan dinginnya sarung tangan hitam itu, ada seorang pria yang juga merasa tersiksa oleh kondisinya sendiri.

Xander yang tadinya akan memakan potongan ayam berikutnya pun berhenti sejenak. Ia melihat gurat kesedihan di wajah putranya. Ia menghela napas pelan, berdiri dari kursinya, dan menghampiri putranya lalu merangkulnya lembut. "Kamu hanya anti bakteri kan? Bukan anti perempuan? Maksud ayah ... kamu gak suka pedang kan?" ucap Xander mencoba mencairkan suasana.

Mata Xavier terbelalak lebar mendengar pertanyaan k0ny0l itu. "ENGGAK LAH! AKU NORMAL!" pekiknya kesal sambil mencoba melepaskan diri dari rangkulan ayahnya.

Namun, saat ia menoleh, matanya kembali membulat sempurna karena melihat tangan Xander yang penuh bekas minyak ayam berada tepat di sebelah wajahnya.

"AYAAAAH TANGANNYA CUCI DULU! JANGAN DEKAT-DEKAT!" teriak Xavier dengan panik. Namun, bukan Xander namanya jika tidak jahil. Ia justru sengaja mencolek pipi putranya itu sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan tawa kemenangan, meninggalkan Xavier yang seketika tantrum dan terus menggosok pipinya menggunakan lembaran-lembaran tisu dengan wajah yang hampir menangis.

"AYAAAAH!"

"Hahaha!

_____________________________

Selamat datang ke ceritaku yang ke ... lupa lah keberapa😆 semoga suka dan sesuai ekspetasi kalian.😍

Kita kerja sama lagi yah, jangan lupa dukungannya 😍

Luka Nara

Di belahan kota yang berbeda. Terlihat, seorang wanita berusia 25 tahun tengah menatap putri kecilnya yang tengah tertidur lelap di atas bed pasien rumah sakit. Di tangan mungil gadis kecil itu, terpasang infusan yang mengalirkan cairan penolong. Wajah gadis itu tampak sangat menggemaskan saat tertidur, namun pemandangan itu justru membuat hati Nara Geisya Rodriguez tersayat dan hancur berkeping-keping.

"Papa Laya mau Papa ...," gumam anak itu lirih dalam tidurnya, memanggil sosok yang sangat ia rindukan.

Nara memejamkan matanya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia mengelus kepala putrinya perlahan agar sang buah hati kembali terlelap dalam tidurnya. Setelah memastikan putrinya tenang, Nara beranjak berdiri. Ia mengambil ponsel dan tasnya dengan gerakan yang penuh tekad yang dipaksakan. Saat ia berbalik untuk keluar ruangan, ia berpapasan dengan kedua orang tuanya yang baru saja datang membawakan makanan.

"Mau kemana Nara?" tanya Angkasa Rodriguez, sang ayah yang menatap putrinya dengan dahi berkerut, bingung melihat Nara yang tampak terburu-buru.

"Aku ada perlu sebentar, Pa," ucap Nara singkat tanpa menatap mata ayahnya.

"Nara, kamu mau bertemu lagi dengan pria baj1ngan itu? Mau mengemis lagi padanya agar dia menjenguk Raya? Dimana harga dirimu, Nara?" tanya Angkasa dengan nada suara yang meninggi, tidak tahan melihat putrinya terus-menerus merendahkan diri di depan mantan suaminya.

"Sayang, tenang," tegur Jingga, istri Angkasa. Ia memegang lengan suaminya, mencoba meredam emosi pria itu. Walaupun Nara adalah putri sambungnya, bagi Jingga, Nara sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri yang ia besarkan dengan kasih sayang.

Nara berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan hancur. "Ayah sudah jadi orang tua, masih tanya dimana harga diriku sebagai ibu? Pa, aku akan melakukan apapun untuk putriku, termasuk menjatuhkan harga diriku ke titik terendah sekalipun!" seru Nara dengan suara bergetar sebelum akhirnya ia melesat pergi meninggalkan ruangan.

Angkasa menatap kepergian putrinya dengan tatapan tak percaya dan penuh amarah. Ia memalingkan wajah ke arah Jingga dengan napas memburu.

"Kamu sering memanjakan dia, membuatnya menjadi keras kepala seperti ini. Andaikan saat itu aku tak mendengarkanmu dan melarangnya menikah, putriku tak akan jatuh ke tangan pria br4ngsek sepertinya!" sentak Angkasa yang kemudian berlalu pergi dengan emosi yang meluap-luap.

Jingga hanya bisa memejamkan matanya sejenak, mencoba tetap sabar menghadapi badai yang sedang menghantam keluarganya.

Di sisi lain, Nara baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang cukup tenang. Kaca tengah spion mobilnya memantulkan bayangan wajahnya yang sendu, namun lipstik merah yang ia poleskan mencoba menutupi pucat di bibirnya. Rambutnya yang tergerai indah sebenarnya menambah pesonanya, namun tatapan matanya menyiratkan rasa kecewa yang luar biasa dalam. Nara mengatur napasnya berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri turun dari mobil. Dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya, ia melangkah masuk ke dalam kafe untuk menemui seorang pria yang sudah menunggunya di sudut ruangan.

Nara duduk di hadapan pria itu dan meletakkan tasnya di kursi sebelah. Ia melepas kacamata hitamnya, namun ia enggan menatap langsung mata pria di hadapannya. Pria itu adalah Zeno Elmore, mantan suaminya.

"Raya sakit, dia ... dia mau ketemu kamu, Zeno," ucap Nara dengan suara yang diusahakan tetap tegar.

Pria di hadapannya itu justru meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan santai. Ia menatap Nara dengan pandangan yang datar, seolah kabar tentang anak kandungnya yang sedang sakit bukanlah hal yang penting. "Mila juga sedang sakit, dia dirawat di rumah sakit tepat di depan kafe ini. Aku bisa bertemu denganmu sekarang karena lokasinya dekat. Katakan saja pada Raya jika aku sedang sibuk bekerja, biar dia tidak merasa kecewa," jawab Zeno tanpa beban sedikit pun.

Mendengar itu, emosi Nara yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya tersulut hebat. "ZENO! Raya juga putrimu! D4rah dagingmu sendiri! Kenapa tidak bisa sekali saja kamu perhatian padanya?! Dia hanya bisa bertemu denganmu sesekali, itu pun sangat sebentar! Dan sekarang, saat dia sedang sakit parah, kamu justru memilih menemani putri dari wanita mur4han itu!" teriak Nara, mengabaikan tatapan mata pengunjung kafe lainnya.

Pernikahan mereka yang berjalan selama 5 tahun berakhir kandas karena pengkhianatan Zeno. Nara yang dulu memutuskan menikah muda karena cinta, kini harus menelan pil pahit kenyataan bahwa suaminya memiliki anak lain dari kekasih gelapnya, anak yang usianya hampir sama dengan putrinya sendiri. Zeno lebih memilih membahagiakan selingkuhannya dan anak hasil perselingkuhan itu, membuat Nara memutuskan untuk bercerai. Namun, karena Raya yang selalu merindukan sosok ayah, Nara terpaksa terus berhubungan dengan pria itu.

"Jaga ucapanmu, Nara!" bentak Zeno dengan mata membulat penuh amarah.

"Apa yang perlu aku jaga, hah?! Aku harus menjulukinya wanita baik-baik? Wanita baik-baik mana yang tega merebut suami orang dan ayah dari seorang balita, Zeno?!" balas Nara dengan suara yang semakin meninggi.

"Kamu—" Zeno beranjak berdiri dari kursinya, menatap Nara dengan tajam seolah ingin melenyapkannya. Tapi Nara tidak gentar sedikit pun, ia menantang tatapan mantan suaminya itu dengan penuh emosi yang meluap.

"Aku tak masalah jika putriku tidak mendapat nafkah sepeser pun darimu. Berikan saja semua uangmu untuk wanita mur4han itu. Karena aku tahu, kamu sebenarnya kere! Kamu tidak mampu membiayai dua putri sekaligus, aku paham itu! Anggap saja ... aku sedang mengasihani fakir miskin yang berlagak sok berselingkuh!"

"Kurang aj4r kamu!" Zeno yang sudah kehilangan kesabaran mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Nara.

Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan lain yang terbungkus sarung tangan hitam yang sangat bersih menahan pergelangan tangan Zeno dengan kuat di udara. Waktu seakan berhenti berputar bagi Nara. Ia menoleh perlahan dan menatap sosok pria tampan yang tiba-tiba muncul dan berhasil melindunginya. Pria itu menatap Zeno dengan tatapan yang luar biasa dingin dan meremehkan.

"Jangan kamu kira kamu seorang pria, maka kamu bisa seenaknya menyakiti wanita," ucap pria itu dengan suara yang berat dan berwibawa.

Zeno yang merasa kesal dan malu pun menarik tangannya dengan kasar. Pria yang menolong Nara itu tak lain adalah Xavier, yang kebetulan sedang berada di kafe tersebut untuk sebuah urusan bisnis. Dengan gerakan yang penuh rasa j1jik, Xavier segera melepas sarung tangannya yang baru saja menyentuh kulit Zeno dan membuangnya begitu saja ke lantai seolah itu adalah sampah beracun. Ia kemudian mengambil sepasang sarung tangan baru dari tas yang dibawa Atlas dan langsung mengenakannya kembali.

"Aku tak suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, karena aku memiliki seorang ibu dan tiga saudara perempuan, mana bisa aku melihat 'banci' sepertimu melakukan hal memuakkan tadi di depan mataku," ucap Xavier dengan nada menghina yang sangat kental.

Tepat pada saat itu, ponsel di tas Nara berdering nyaring. Nara segera mengangkatnya dengan tangan gemetar setelah melihat nama penelponnya. "Halo Pa ...," ucap Nara pelan. Namun, detik berikutnya matanya membulat sempurna saat mendengar kabar dari seberang telepon. Tubuhnya seakan lemas seketika.

"Raya kejang?!" pekik Nara dengan suara yang melengking karena panik. Ia segera mematikan ponselnya dengan terburu-buru. Matanya yang sudah dipenuhi air mata menatap Zeno yang juga menunjukkan raut wajah kecemasan sesaat.

"Raya kejang! Kamu masih mau diam di sini, hah?! Anak kamu sedang bertaruh nyawa, Zeno!" teriak Nara sambil terisak hebat. Ia merasa jiwanya hampir tercerabut. Ia sudah merendahkan harga dirinya sedalam mungkin hanya untuk membawa pria ini ke rumah sakit, namun hasilnya justru seperti ini.

Zeno terlihat sangat bimbang antara harus pergi ke rumah sakit Raya atau tetap di rumah sakit depannya untuk Mila. Namun, sebuah telepon masuk ke ponsel Zeno membuat pria itu justru menatap Nara dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Nara, maaf ... Mila ... Mila juga sedang butuh aku ...,"

Nara tertawa hambar di tengah tangisannya, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan. "URUS SAJA ANAKMU ITU! JANGAN PERNAH LAGI TEMUI PUTRIKU! RAYA TAK BUTUH AYAH PECUUND4NG SEPERTIMU!" teriak Nara sekuat tenaga sebelum akhirnya ia berlari keluar kafe menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli lagi pada keselamatannya asalkan ia bisa sampai di samping Raya.

Sementara itu, Xavier masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mobil Nara dengan kening berkerut. Ada sesuatu dari wanita itu yang menarik perhatiannya,sesuatu yang sangat asing bagi dunianya. "Kira-kira, mengapa dia masih mau menemui mantannya yang kotor itu? Apa dia tak merasa ... j1jik?" tanya Xavier tanpa menoleh ke arah Atlas.

"Hah? Gimana maksudnya Tuan?" tanya Atlas yang merasa bingung dengan pertanyaan mendadak bosnya itu.

Xavier menghela napas panjang, ia merasa udara di kafe itu mulai terasa penuh bakteri. "Lupakan, otakmu juga sepertinya sudah penuh kuman hari ini. Cepat bersihkan," ucap Xavier dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang selalu steril, meninggalkan Atlas yang hanya bisa mendengus kesal di belakangnya.

Obrolan 2 Ayah

Nara sampai di rumah sakit dalam keadaan yang sangat berantakan. Ia berlari sepanjang lorong dan mendapati orang tuanya sedang menunggu dengan cemas di depan ruang gawat darurat. Putrinya sedang ditangani secara intensif oleh tim dokter di dalam sana. Begitu melihat Nara, Jingga langsung menghampiri dan memeluk putrinya yang gemetar hebat.

"Raya gimana Pa? Raya gimana?!" tanya Nara dengan suara yang hampir habis karena menangis.

"Dokter sedang menangani di dalam, kamu tenang dulu ya sayang. Berharap agar Raya baik-baik saja," ucap Jingga mencoba menenangkan Nara, meskipun hatinya sendiri juga sangat hancur melihat kondisi cucu dan putrinya.

"Ma ...," lirih Nara, ia menyembunyikan wajahnya di bahu Jingga. "Aku gagal membawa dia ke sini. Apa salahku, Ma? Kenapa dia memperlakukanku dan Raya seperti ini? Kenapa aku diperlakukan seperti sampah oleh pria yang dulu sangat aku cintai?"

Jingga hanya bisa menggeleng pelan sambil mengusap punggung Nara. "Enggak sayang, kamu bukan sampah. Kamu adalah berlian yang sangat berharga. Pria itu yang rugi karena telah membuangmu demi wanita lain. Kamu adalah ibu yang hebat, Nara."

Angkasa yang sedari tadi hanya diam menatap pintu ruang gawat darurat pun akhirnya tidak tahan. Ia merasa sesak di d4danya. Tanpa berkata apa-apa, ia memilih untuk berjalan pergi menuju taman rumah sakit untuk mencari udara segar dan mencoba menenangkan emosinya yang meluap-luap. Ia duduk di salah satu kursi taman yang sunyi, menatap kosong ke arah deretan pepohonan. Ada rasa sakit yang luar biasa di hatinya melihat putrinya harus menderita dalam pernikahan yang gagal, persis seperti kegagalan pernikahan pertamanya dulu. Ia menyeka air mata yang sempat menetes di sudut matanya.

"Maaf, numpang bentar ya bro," ucap seorang pria yang tiba-tiba duduk di sebelah Angkasa.

Angkasa hanya menoleh sekilas dan mengangguk pelan, membiarkan pria itu duduk di sana. Ia kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

"Istri lagi sakit?" tanya pria di sebelahnya itu, yang tak lain adalah Xander Rey Lergan. Xander datang ke rumah sakit itu bukan untuk berobat, melainkan untuk menjemput istrinya yang bekerja sebagai salah satu dokter spesialis di sana.

"Bukan, tapi cucu," jawab Angkasa dengan nada suara yang sangat lemah.

"Oh ya? Sakit apa kalau boleh tahu?" tanya Xander dengan nada penasaran namun tetap sopan. Namun, melihat raut wajah Angkasa yang sangat muram, Xander segera memperbaiki posisinya. "Sepertinya ... wajah kita tidak asing bagi satu sama lain. Kita pernah bertemu sebelumnya di acara pelelangan bulan lalu, bukan? Aah ya! Anda adalah pemilik produk skincare ternama itu, kan? Asga Skincare?!"

Angkasa menoleh sepenuhnya, menatap pria di sampingnya itu dengan dahi yang berkerut dalam. Ia mencoba mengingat-ingat wajah tersebut di tengah kekacauan pikirannya. Hingga akhirnya, ingatan itu muncul. Pria di sampingnya ini bukanlah orang sembarangan. "Tuan Lergan? Dari Lergan Empire?"

"Aah benar! Tak kusangka kita bisa bertemu di kursi taman rumah sakit seperti ini," ucap Xander dengan tawa kecil yang mencoba mencairkan suasana. "Kebetulan aku mau menjemput istriku, dia bekerja sebagai dokter senior di sini."

Angkasa mengangguk pelan. "Cucu saya sedang kritis di dalam. Dia sangat merindukan ayahnya, berharap ayahnya datang menjenguknya. Tapi, ayahnya adalah pria br3ngsek yang lebih memilih selingkuhannya. Saya tidak tahu kenapa semesta seolah sedang menghukum saya. Pernikahan pertama saya dulu gagal, dan sekarang hal yang sama terjadi pada putri saya. Saya merasa telah gagal menjadi seorang ayah yang baik bagi dia," ucap Angkasa dengan nada penuh penyesalan.

Xander meluruskan kakinya, ia bersedekap d4da dan menatap lurus ke arah langit sore. "Kita semua sebagai ayah hanya ingin melihat anak-anak kita bahagia, bukan? Namun terkadang, hidup memberikan pilihan yang sulit bagi mereka. Aku pun sebenarnya sedang memiliki masalah besar dengan putra sulungku. Dia ... sepertinya dia enggan untuk memikirkan soal pernikahan atau masa depannya."

"Apa dia sudah memiliki pilihan sendiri?" tanya Angkasa mencoba mengalihkan rasa sedihnya.

"Bukan begitu. Dia menderita mysophobia yang cukup parah. Dia anti bakteri, anti kotor, dan itu membuatnya sangat sulit untuk bisa dekat dengan siapa pun, apalagi dengan lawan jenis. Aku khawatir dia akan hidup dalam kesendirian seumur hidupnya."

"Pa!"

Suara panggilan itu membuat Angkasa menoleh. Ia melihat Nara berjalan menghampirinya dengan langkah yang lemas. Angkasa segera berdiri dan menyambut putrinya, mengelus pelan kepala Nara untuk memberikan kekuatan.

"Tuan Lergan, maaf saya harus masuk ke dalam. Ini putri saya, Nara. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi," ucap Angkasa sambil berpamitan.

Xander mengangguk dan memperhatikan Nara yang berjalan menjauh. Mata Xander membulat sempurna melihat sosok Nara. Meskipun wajah wanita itu tampak sembab dan ia sedang dalam keadaan hancur, aura kecantikan dan ketangguhan seorang ibu sangat terpancar darinya. Xander tertegun sejenak.

"Cantik sekali putrinya ... Kalau dia bisa jadi menantuku, aku tidak bisa membayangkan akan sekeren apa cucu-cucuku nanti. Dan dia tampak seperti wanita yang kuat, yang mungkin bisa menghadapi kegil4an kesterilan Xavier," gumam Xander dengan binar mata yang penuh rencana.

Ia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. Xander tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan bahwa ia baru saja menemukan solusi untuk semua masalahnya. Ia segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.

"Sayangkuuu, aku punya berita hot yang sangat luar biasa!" ucap Xander dengan seringai di bibirnya saat menelepon istrinya. Ia sudah tidak sabar untuk memulai rencana besarnya.

___________________________________

Triple dulu yah😆 semoga sukaaaa

Yang mau baca cerita orang tua Nara dan Xavier, di bawah ini yah

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!