Jarum jam digital di sudut kanan layar laptop perlahan berubah menjadi 02.00 dini hari. Angka itu menyala dingin, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan panjang seorang mahasiswi bernama Lilian Zetiana Beatrixia. Jemarinya akhirnya berhenti bergerak. Huruf terakhir tertulis dengan sempurna. Proposal penelitian yang telah ia perjuangkan tanpa tidur selama tiga hari akhirnya selesai.
Lilian tidak langsung menutup laptop. Ia hanya menatap layar itu beberapa detik lebih lama, matanya kosong, pandangannya kabur. Seolah ingin memastikan bahwa semua jerih payahnya benar-benar nyata, bukan sekadar ilusi akibat kurang tidur. Tangannya perlahan menggerakkan kursor, mengklik tombol save satu kali… lalu sekali lagi. Barulah ia sedikit mengendurkan bahunya.
Kepalanya terasa berat, seperti diisi timah. Sejak tiga hari lalu, tubuhnya hanya bertahan dari kopi sachet dan mi instan murah. Tidak ada nasi, tidak ada lauk. Hanya kafein dan rasa lapar yang dipaksa diabaikan. Wajahnya yang terpantul samar di layar laptop tampak kusam. Kulitnya pucat, matanya cekung, dengan lingkar hitam tebal mengendap jelas di bawahnya.
Namun Lilian sudah terbiasa hidup seperti itu.
Sebagai mahasiswi dari keluarga sederhana di desa, ia tahu betul bahwa menyerah bukanlah pilihan. Setiap rupiah yang dikirim orang tuanya penuh pengorbanan. Setiap langkahnya di ibukota adalah harapan. Maka ia terus memaksa dirinya bertahan, meski tubuhnya kerap berteriak lelah.
Ia menutup laptop dan meletakkannya di samping ranjang kos yang sempit. Ruangan kecil itu berantakan. Beberapa piring kotor tergeletak di lantai, sisa makanan mengering di atasnya. Bau mi instan bercampur kopi basi memenuhi udara. Biasanya Lilian akan merasa risih, tapi kali ini, bahkan untuk bangkit dan membersihkannya saja, ia tak punya tenaga.
Ia menjatuhkan diri ke ranjang, kasur tipis yang berderit pelan. Napasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan. Kepalanya masih berdenyut, seolah menolak untuk benar-benar beristirahat. Namun rasa kantuk akhirnya menelan kesadarannya, perlahan dan tanpa perlawanan.
Keesokan harinya
Kesadaran Lilian kembali dengan cara yang tidak biasa.
Ia terbangun dengan rasa lelah yang aneh. Lelah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kelopak matanya terasa berat, seolah tertutup lapisan pasir halus. Ia mencoba membukanya, namun dunia di balik kelopak itu enggan muncul. Butuh beberapa detik sebelum penglihatannya perlahan kembali terbentuk.
Tubuhnya dingin.
Otot-ototnya terasa kaku dan rapuh, seperti baru sembuh dari sakit panjang. Ia menghela napas pelan, namun tenggorokannya terasa sangat kering, seolah telah lama tidak tersentuh air. Setiap tarikan napas terasa pendek dan tidak memuaskan.
Hal pertama yang benar-benar menyentuh kesadarannya adalah keheningan.
Tidak ada suara kipas angin tua yang biasa berdecit di kamarnya. Tidak ada suara kendaraan dari jalanan ibukota. Tidak ada notifikasi ponsel atau dengungan listrik. Hanya sunyi—sunyi yang pekat dan asing.
Alis Lilian mengernyit.
Ia membuka matanya sepenuhnya dan menatap ke atas.
Langit-langit itu… bukan milik kamar kosnya.
Kayunya tampak tua dan kusam. Di beberapa sudut, sarang laba-laba menggantung tak terganggu, seolah telah lama dibiarkan. Ada celah kecil di atap, tempat cahaya pucat menembus masuk.
Kesadaran itu datang perlahan, seperti air dingin yang merembes ke kulit.
Ini bukan kamarnya.
Jantung Lilian berdetak sedikit lebih cepat. Ia mencoba bangkit, namun baru setengah duduk, kepalanya langsung berdenyut hebat. Pandangannya berkunang-kunang, memaksanya kembali bersandar. Tubuhnya terasa sangat lemah, lebih lemah dari saat ia demam paling parah sekalipun.
Dengan sisa tenaga, ia memaksa dirinya untuk duduk. Tangannya yang gemetar bertumpu di sisi ranjang. Kakinya terasa ringan, hampir tak berisi, seolah bukan bagian dari tubuhnya sendiri. Setiap gerakan kecil menguras tenaga yang entah sejak kapan menghilang.
Barulah saat itu ia benar-benar memperhatikan sekeliling.
Ruangan ini terlihat seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Lantai berdebu, dingin di telapak kakinya. Beberapa papan kayu tampak lapuk. Semua perabotan terlihat asing. Meja tua, ranjang sederhana, dan bau lembap yang membuatnya bersin-bersin. Dan yang paling membuat napas Lilian tercekat adalah satu hal sederhana.
Ia tidak menemukan satu pun barang miliknya.
Tidak ada tas. Tidak ada ponsel. Tidak ada laptop.
Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh di dadanya, pelan namun pasti, seperti benih ketakutan yang baru saja ditanam.
“Ini…” suaranya serak, nyaris tak keluar.
“Ini bukan kamarku…”
Ia berdiri dengan sangat hati-hati. Langkah pertamanya goyah, tubuhnya hampir terjatuh. Kakinya gemetar, napasnya pendek. Kepanikan mulai merayap, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bereaksi berlebihan. Ia hanya berusaha memahami apa yang terjadi, sedikit demi sedikit.
Lilian mengangkat tangannya dan meraba wajahnya.
Sentuhan itu terasa… aneh.
Kulitnya dingin dan terlalu halus. Struktur wajah yang biasa ia kenal terasa berbeda di bawah jemarinya. Ia mengusap pipi, tulang pipi, rahang, dan jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri.
Lebih kecil. Lebih kurus. Jari-jarinya tampak rapuh, dengan warna kulit yang pucat.
Gaun tipis berwarna pucat membalut tubuhnya. Ini sama sekali bukan pakaian tidur yang ia kenakan semalam.
“Kenapa tubuhku selemah ini…?”
“Kenapa rasanya seperti… bukan milikku?”
Suara-suara itu bergema di kepalanya.
Ketidaknyamanan berubah menjadi kegelisahan yang menekan dada. Dengan langkah tertatih, Lilian mulai mencari sesuatu. Bukan untuk memastikan keberadaannya, melainkan untuk menenangkan dirinya.
Ia membutuhkan cermin.
Ia menyusuri ruangan secara perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah tubuh ini menolak untuk bergerak. Kepalanya masih berdenyut, napasnya tak pernah benar-benar stabil.
Setelah beberapa saat mondar-mandir dengan panik yang tertahan, akhirnya ia menemukannya.
Sebuah cermin besar berdiri di sudut ruangan, bingkainya retak dan kusam.
Lilian berhenti beberapa langkah di depannya.
Dadanya terasa sesak. Telapak tangannya dingin dan basah oleh keringat. Namun ia tetap maju, satu langkah… lalu satu langkah lagi.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Pantulan itu membuat seluruh tubuhnya membeku.
Wajah yang menatap balik sangat pucat dan kusam, seolah telah lama kehilangan cahaya hidup. Lingkar hitam tebal mengelilingi mata yang tampak sayu dan lelah. Bibirnya pucat, hampir tak berwarna. Kecantikannya yang nampak jelas, namun rapuh seperti bunga yang hampir layu.
Itu bukan wajahnya.
“Ti… tidak…”
Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Kakinya melemas, memaksanya berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh.
“Ini bukan aku…”
“Kenapa wajahku berubah…”
“Aku tidak mengenali wajah ini…”
“Kenapa… kenapa bisa seperti ini…”
Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun tak satu pun jatuh.
Di hadapan cermin itu, dengan tubuh yang terasa lemah dan wajah asing yang sangat kusam, Lilian akhirnya menyadari satu hal yang membuat jantungnya mencelos.
Ia tidak hanya terbangun di tempat yang salah.
Ia juga terbangun dalam tubuh yang bukan miliknya.
✨
Jika kamu suka dengan ceritanya, jangan lupa bantu like, vote, dan komentar ya!
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Happy reading & keep happy everyday!
Salam hangat dari author 🤍
Kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu setelah jeritannya mereda. Udara terasa berat, seolah ikut menekan dada Lilian—atau siapa pun dirinya sekarang. Ia masih berdiri terpaku di depan cermin, kedua tangannya mencengkeram tepi meja di sampingnya. Dadanya naik turun pelan, napasnya belum sepenuhnya stabil. Jantungnya masih berdetak cepat, seperti belum siap menerima kenyataan yang barusan menamparnya tanpa ampun.
Pantulan di cermin masih sama. Wajah pucat, kusam, dengan mata sayu yang menyimpan kelelahan mendalam. Wajah yang asing, namun kini tak lagi sepenuhnya terasa asing.
Lilian memejamkan mata.
“Tenang…” bisiknya pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.
“Tenang… pikirkan baik-baik.”
Ia menarik napas dalam-dalam, meski udara yang masuk terasa dingin dan menusuk paru-parunya. Ia mencoba mengatur detak jantungnya, mencoba menenangkan pikiran yang bergejolak seperti ombak di tengah badai.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ia berusaha mengingat. Menggali kembali malam sebelum semua ini berubah. Malam saat ia masih menjadi Lilian Zetiana Beatrixia, mahasiswi biasa yang kelelahan karena proposal penelitian.
Tidak ada yang aneh di malam itu.
Ia ingat dengan jelas. Laptop. Jam dua dini hari. Proposal selesai. Tubuhnya jatuh ke ranjang kos dengan sisa tenaga terakhir. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada rasa sakit yang tiba-tiba.
Ia hanya… tertidur.
Lilian membuka matanya kembali. Dahi berkerut dalam kebingungan yang semakin dalam.
“Kalau begitu…” gumamnya lirih, suaranya serak.
“Kenapa aku bisa ada di sini?”
Tangannya terangkat, jari-jarinya yang kurus dan pucat menekan pelipisnya. Ia memejamkan mata sekali lagi, memaksa ingatannya bekerja lebih keras. Seolah dengan kemauan saja, ia bisa menarik kembali potongan ingatan yang hilang.
Namun semakin ia berusaha, kepalanya justru terasa semakin panas.
Awalnya hanya rasa tidak nyaman, seperti tekanan ringan. Lalu perlahan berubah menjadi nyeri yang jelas, menjalar dari tengkuk ke belakang kepala, naik hingga ke ubun-ubun. Sensasinya seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam, memaksa keluar.
“Akh…”
Keluhan itu terlepas tanpa sadar. Tubuhnya terhuyung, lututnya melemas. Ia nyaris jatuh jika tidak cepat berpegangan pada meja di samping ranjang. Detak jantungnya semakin cepat, berdentum keras di telinganya sendiri. Pandangannya menggelap sejenak, seperti tirai hitam yang turun lalu terangkat kembali.
Dan kemudian,
Ingatan itu datang.
Bukan satu. Bukan dua.
Melainkan banyak.
Terlalu banyak.
Potongan-potongan gambar berkelebat di benaknya, datang bertubi-tubi tanpa memberi waktu untuk bernapas. Seperti lembaran presentasi yang tergulir terlalu cepat, tak bisa dihentikan, tak bisa dipilih.
Ia melihat halaman kediaman luas dengan bangunan megah berornamen kayu. Mendengar suara tawa para wanita, lembut namun mengandung ketajaman tersembunyi. Aroma dupa yang menenangkan sekaligus menyesakkan. Langkah kaki para pelayan yang teratur. Pintu kayu berat yang tertutup rapat dengan bunyi duk pelan seolah memutus dunia luar.
Ada dingin ranjang yang sama persis dengan yang kini ia duduki.
Ada rasa sakit yang samar namun terus-menerus.
“Apa… semua ini…?” Lilian terengah, kedua tangannya kini memegangi kepalanya. Napasnya tersengal, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ingatan-ingatan itu tidak berhenti.
Ia merasakan kesedihan yang bukan miliknya. Ketakutan yang asing, namun terasa nyata. Kesepian yang menekan dada hingga sulit bernapas.
Dan di tengah kekacauan itu, satu nama muncul, jelas, tegas, dan tak terbantahkan.
Wu Zetian.
Nama itu bergema di benaknya.
Bukan namanya.
Namun… tubuh ini mengenal nama itu dengan sangat baik. Seolah nama itu telah tertanam jauh sebelum kesadarannya terbangun.
Wu Zetian.
Seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun. Nona Kedua dari Kediaman Perdana Menteri Wu Zheng. Salah satu pejabat tertinggi di Kekaisaran Dinasti Tang. Putri sah. Anak satu-satunya dari istri resmi.
Namun terabaikan.
Gambaran seorang gadis muda muncul jelas di benaknya. Tubuh kurus yang sering terbaring di ranjang. Wajah pucat yang jarang tersenyum. Tatapan kosong yang lebih sering menatap langit-langit kamar daripada dunia luar.
Ibunya meninggal sepuluh tahun lalu.
Sejak hari itu, kehidupan Wu Zetian perlahan runtuh, sedikit demi sedikit, tanpa ada yang benar-benar peduli.
Ayahnya, Wu Zheng, tenggelam dalam urusan istana. Kesedihannya atas kematian istri sah berubah menjadi jarak. Jarak yang semakin lama semakin tak terjembatani. Kediaman perdana menteri yang megah berubah menjadi tempat penuh intrik, senyum palsu, dan bisikan beracun.
Wu Zetian memiliki dua saudara tiri.
Wu Wei, putra dari selir pertama, Bao Yu. Anak laki-laki yang tumbuh dengan perlindungan penuh dan ambisi besar. Wu Fanghua, putri dari selir ketiga, Li Hua. Cantik, lembut di luar, namun licik di dalam.
Sedangkan selir kedua, Zhen Zu sampai saat ini belum dikaruniai anak.
Ingatan itu terus mengalir, semakin jelas, semakin menyakitkan.
Sejak kecil, Wu Zetian hidup di tengah ketegangan yang tak pernah benar-benar mereda. Kediaman itu megah, namun dingin. Indah di luar, namun rapuh di dalam.
Dan di balik tirai sutra, di balik senyum anggun para selir, kematian ibu sah Wu Zetian bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari kerja sama keji Bao Yu dan Li Hua.
Kesadaran itu menghantam Lilian atau Wu Zetian dengan keras. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, melainkan karena kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Namun di antara ingatan-ingatan pahit itu, ada satu sosok yang terasa berbeda.
Hangat.
Zhen Zu.
Selir kedua ayahnya. Seorang wanita lembut dengan tatapan penuh kasih. Sejak ibu Wu Zetian meninggal, dialah satu-satunya yang memperlakukan gadis itu seperti manusia, bukan sekadar bayangan di kediaman megah.
Ia selalu memastikan makanan Wu Zetian diantarkan. Ia duduk di sisi ranjang saat gadis itu sakit. Ia berbicara lembut, seolah Wu Zetian adalah darah dagingnya sendiri.
Namun bahkan kasih itu pun tercemar.
Tanpa disadari siapa pun, pelayan yang mengantarkan makanan ternyata adalah mata-mata selir pertama. Racun perlahan diselipkan. Dosis kecil. Tidak mematikan. Hanya cukup untuk melemahkan tubuh, hari demi hari.
Dan perhatian Zhen Zu menjadi awal petaka lain.
Bao Yu dan Li Hua tidak menyukai kedekatan mereka.
Dengan senyum lembut dan kata-kata manis, mereka menyuruh pelayan setia menyelipkan racun yang sama ke dalam makanan Zhen Zu.
Selama dua tahun terakhir, tubuh Zhen Zu perlahan runtuh. Ia sakit-sakitan, tak mampu keluar dari kamarnya. Dan bersamaan dengan itu,
Wu Zetian pun dilupakan sepenuhnya. Tanpa perlindungan dan tanpa perhatian dari siapapun. Melalui fitnah keji Bao Yu dan Li Hua, perdana menteri Wu Zheng menjatuhkan hukuman pengasingan kepada Wu Zetian di sebuah rumah kecil di tengah hutan yang lebat.
Dan akhirnya, Wu Zetian berakhir di rumah ini. Terbaring lemah di ranjang, hari demi hari nyaris tak ada yang datang menjenguk. Seolah ia sudah mati, hanya saja tubuhnya belum dikuburkan.
Ingatan itu berhenti mendadak.
Kepala Lilian terasa berat, namun panasnya perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang mencekam. Ia terduduk di sisi ranjang, napasnya terengah, tubuhnya masih gemetar.
“Jadi…” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
“Ini… tubuhmu.”
Wu Zetian.
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan Wu Zetian yang tampak kurus dan rapuh. Kulit pucat itu kini terasa nyata di bawah pandangannya.
Kini ia mengerti.
Mengapa tubuh ini begitu lemah. Mengapa wajah ini begitu kusam. Dan mengapa tak ada seorang pun yang peduli.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, satu pemikiran muncul jelas, tegas, dan penuh tekad di benaknya.
“Jika aku kini berada di tubuhmu…”
“…maka aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir sama seperti sebelumnya.”
Matanya menyipit pelan.
Kali ini, Wu Zetian tidak akan mati dalam diam.
---
✨
Yuhuuuu, author balik~
Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa like, vote, dan komen ya 🤍
Terima kasih sudah membaca.
See you di chapter selanjutnya!
Wu Zetian terduduk diam cukup lama di sisi ranjang. Setelah arus ingatan itu berhenti, kepalanya masih terasa berat, seolah baru saja dihantam gelombang besar. Namun anehnya, pikirannya justru perlahan menjadi jernih. Seperti danau yang kembali tenang setelah badai berlalu.
Ruangan itu sunyi. Tidak ada suara apa pun selain napasnya sendiri yang masih terdengar sedikit berat.
“Lalu…” gumamnya pelan, suaranya serak karena tenggorokan yang kering.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban. Ia menunduk, menatap tubuhnya sendiri. Tubuh yang kini ia tempati, tubuh Wu Zetian.
Terlalu kurus. Tulang-tulangnya terasa menonjol di balik kulit pucat yang hampir transparan. Saat ia sedikit menggerakkan jari, terasa nyeri halus di sendi-sendi, seolah tubuh ini telah lama tidak digunakan sebagaimana mestinya. Setiap tarikan napas terasa dangkal. Setiap gerakan kecil menguras tenaga lebih banyak daripada yang seharusnya.
Ia melirik ke sekeliling.
Tidak ada siapa pun.
Tidak ada pelayan yang menunggu perintah di balik pintu. Tidak ada suara langkah kaki di luar kamar. Tidak ada bisikan, tidak ada panggilan. Hanya dirinya sendiri, terperangkap di tempat yang terasa asing namun menyimpan begitu banyak kesedihan.
Wu Zetian benar-benar sendirian.
Perlahan, ia bangkit dari ranjang. Kakinya sempat gemetar saat menapak lantai, namun ia menahan diri agar tidak kembali duduk. Ia berdiri, menegakkan tubuhnya sebisa mungkin, lalu mulai mengamati ruangan tempat ia tinggal.
Pandangan matanya menyapu setiap sudut.
Lantai kayu tertutup debu tebal, meninggalkan bekas jejak samar setiap kali ia melangkah. Sarang laba-laba menggantung di sudut-sudut langit-langit, tebal dan tak tersentuh, pertanda bahwa ruangan ini sudah lama tidak benar-benar dihuni. Beberapa perabot kayu tampak retak dan patah. Sebuah meja dengan salah satu kaki yang disangga balok kecil. Lemari tua yang pintunya tidak bisa menutup sempurna. Semuanya dibiarkan berserakan, seolah keberadaannya tidak pernah dianggap penting.
Hatinya terasa sunyi. Bukan kesepian yang tiba-tiba, melainkan kesepian yang menumpuk bertahun-tahun, meresap ke dalam dinding dan lantai, menyatu dengan debu dan udara.
Wu Zetian menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi paru-parunya yang lemah.
“Tidak akan ada yang datang membantuku,” katanya lirih, namun tegas.
“Kalau aku terus menunggu, aku hanya akan mati membusuk di sini.”
Matanya menyipit sedikit.
“Aku ingin hidup,” lanjutnya, suaranya pelan namun penuh tekad.
“Dan kalau begitu… aku harus mulai dari tanganku sendiri.”
Keputusan itu terasa sederhana. Tidak ada sumpah besar, tidak ada janji pada langit atau dewa. Namun bagi Wu Zetian, itulah titik awal segalanya. Garis tipis yang memisahkan antara menyerah dan bertahan.
Ia melangkah ke sudut ruangan dan mengambil sehelai kain lama yang tergeletak begitu saja. Kain itu kasar dan berdebu, namun masih cukup kuat. Dengan gerakan pelan dan napas yang ia atur sebaik mungkin, Wu Zetian mulai membersihkan meja.
Debu beterbangan, membuatnya terbatuk kecil. Ia berhenti sejenak, menenangkan napas, lalu melanjutkan lagi. Setelah meja, ia beralih ke lantai. Menyapu perlahan, sedikit demi sedikit. Tidak terburu-buru, tidak memaksakan diri. Tubuhnya berkali-kali memberi sinyal lelah, namun ia mengabaikannya.
Setiap sudut yang menjadi bersih memberinya rasa puas tersendiri. Bukan karena ruangan itu kini terlihat layak, melainkan karena ia merasa hidup dan pertama kalinya bergerak melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri di dunia antah-berantah ini.
Waktu berlalu tanpa ia sadari. Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela bergeser perlahan. Tubuhnya mulai terasa semakin berat, namun pekerjaannya akhirnya selesai. Ruangan itu kini tampak jauh lebih layak. Bersih, rapi, meski tetap sederhana dan tua.
Wu Zetian berdiri di tengah ruangan. Dadanya naik turun cepat. Napasnya ngos-ngosan, keringat membasahi pelipisnya. Kakinya gemetar, hampir menyerah menopang tubuhnya sendiri.
“T-tubuh ini…” gumamnya sambil mengusap keringat.
“Benar-benar lemah.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tekad daripada kebahagiaan.
“Tapi setidaknya aku masih bisa bergerak,” lanjutnya.
“Ya… aku harus tetap bertahan.”
Rasa haus menyerang tiba-tiba, seperti api kecil yang menyala di tenggorokannya. Ia menelan ludah, namun tak membantu. Wu Zetian segera mencari sumber air, membuka beberapa wadah kayu hingga akhirnya menemukan sebuah kendi tua di sudut dapur kecil.
Airnya tidak banyak, namun masih jernih.
Ia menuangkan ke dalam cangkir dan meneguknya perlahan. Tegukan pertama terasa seperti kehidupan yang kembali mengalir ke dalam tubuhnya. Dingin, namun menenangkan.
Setelah beristirahat beberapa menit, dorongan untuk melihat dunia luar muncul dengan sendirinya. Wu Zetian berjalan ke pintu dan membukanya perlahan.
Cahaya matahari menyambutnya.
Ia refleks menyipitkan mata, lalu mengangkat tangan untuk melindungi penglihatannya. Udara segar menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan. Angin berhembus ringan, mengibaskan rambutnya yang panjang dan kusut.
Barulah saat itu ia benar-benar melihat di mana dirinya berada.
Rumah itu berdiri di tengah area terpencil. Terlihat di semua penjuru di mana hutan lebat membentang, pepohonan tinggi dan rimbun seolah membentuk dinding alami. Namun tak jauh dari sana, berdiri sebuah rumah tua yang mulai reyot dan merupakan satu-satunya bangunan lain yang terlihat di sekitar tempat itu.
Wu Zetian terdiam cukup lama.
“Jadi sejauh ini mereka mengasingkan tubuh ini…” ucapnya lirih.
“Bukan hanya dari kediaman utama… tapi juga dari dunia mereka.”
Dadanya terasa perih. Ia membayangkan pemilik asli tubuh ini. Gadis sembilan belas tahun yang terbuang, perlahan sekarat tanpa suara. Hatinya terasa sakit memikirkan sejauh apa penderitaan yang harus ditanggung Wu Zetian sebelumnya.
“Keji…” gumamnya pelan.
“Benar-benar keji. Membuang anak sah ke tempat seperti ini, seolah-olah tak pernah ada.”
Namun setelah beberapa saat, pikirannya berbelok. Emosi panas itu perlahan mereda, digantikan oleh sudut pandang yang lebih tenang.
“Tapi…” katanya sambil menghela napas.
“Mungkin ini juga sebuah berkah.”
Ia menatap sekeliling lagi.
“Tak ada intrik. Tak ada senyum palsu. Tak ada racun tersembunyi.”
“Aku bisa bernapas tanpa diawasi jika berada di sini.”
Pandangan matanya tertuju pada pagar besi kokoh yang mengelilingi rumah. Pekarangan itu luas, meski tampak tak terurus. Setidaknya, pagar itu memberi rasa aman. Hewan buas dari hutan tidak akan mudah masuk.
Ia mengangguk kecil, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Langkahnya kemudian berlanjut mengitari rumah. Ia menyusuri sisi bangunan, matanya mencari sumber air lain. Tak lama kemudian, di belakang rumah, ia menemukan sebuah sumur tua. Dindingnya ditumbuhi lumut, namun talinya masih kuat. Sumur itu sederhana, tapi masih bisa digunakan.
Rasa lega sempat muncul. Namun sebelum sempat berlama-lama, perutnya berbunyi pelan.
Krrr…
Wu Zetian refleks memegangi perutnya, lalu tersenyum kecut.
“Sepertinya aku lupa satu hal penting,” gumamnya.
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Membuka lemari, menggeser kotak kayu, memeriksa sudut-sudut dapur kecil. Namun hasilnya nihil. Tidak ada beras. Tidak ada sayuran. Tidak ada sedikit pun makanan tersisa.
Ia menghela napas, lalu kembali keluar. Dengan langkah pelan, ia mulai mengelilingi pekarangan. Matanya meneliti tanah, tanaman liar, dan semak-semak di sekitar pagar. Beberapa menit berlalu, hingga wajahnya sedikit berseri.
“Singkong…”
Sebuah pohon singkong tumbuh tak jauh dari pagar. Harapan kecil muncul di dadanya. Ia mendekat dan mencoba mencabutnya, namun baru menarik sekali, tubuh lemahnya langsung kewalahan. Tangannya tak cukup kuat dan kakinya hampir kehilangan keseimbangan.
Ia berhenti, mengatur napas.
“Aku butuh alat…”
Matanya menelusuri sekitar, mencari kayu atau sesuatu yang bisa digunakan. Dan saat itulah pandangannya teralihkan ke arah rumah di sebelahnya.
Di depan rumah itu, seorang kakek tua duduk sendirian.
Tubuhnya bongkok, rambutnya memutih seluruhnya. Tangannya bertumpu pada tongkat kayu. Tidak ada seorang pun di sisinya. Rumah itu tampak sunyi dan sederhana.
Dada Wu Zetian tiba-tiba terasa sesak.
Tanpa ia sadari, air mata menetes di pipinya. Bayangan kakeknya di kampung halaman muncul begitu jelas. Senyuman hangat, tangan kasar yang selalu menggenggam tangannya, suara yang selalu memanggil namanya dengan lembut.
“Kakek…” bisiknya dengan suara bergetar.
“Aku rindu…”
Matanya memanas.
“Aku ingin keluar dari dunia asing ini,” lanjutnya lirih.
“Aku bahkan tak tahu… apakah aku masih bisa menemuimu lagi setelah ini.”
Air mata itu jatuh lebih banyak. Ia tidak berusaha menahannya.
Dan sebelum pikirannya sempat mencegahnya, kakinya sudah bergerak pelan. Langkah demi langkah membawanya mendekati rumah tersebut. Setiap langkah terasa berat, namun juga penuh harapan.
Wu Zetian tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Namun untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh ini, ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
---
💛
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote yaa~
Terima kasih, orang baik 😘
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!