NovelToon NovelToon

Mahar Dendam Sang Ceo

MDSC : 01

"Saya terima nikah dan kawinnya Indira zaara Husain binti Baskoro husain dengan maskawin tersebut dibayar tunai! "

Suara Ryan pramudya terdengar mantap dan penuh keyakinan, wajahnya berseri dengan senyum lebar terlukis di bibirnya, tangannya menjabat erat tangan penghulu, seperti baru saja memenangkan hadiah terbesar dalam hidup nya.

Sementara itu, Indira, wanita cantik yang akan menyandang gelar sebagai istri itu hanya menunduk. Diam. Kebaya putih yang ia kenakan terasa seperti kain dingin yang membungkus tubuh kosong. Hatinya hampa. Matanya hanya menatap lantai yang terlihat kabur.

Hari ini... seharusnya menjadi hari yang paling bahagia dalam hidup nya, tapi kenapa rasanya begitu sesak?

"Sah? " tanya penghulu pada para saksi, suasana akad tampak sangat sakral, meskipun terdapat perbedaan raut wajah yang signifikan antara mempelai pria dan wanitanya.

"SAH!! "

"Tunggu! "

Suara bariton yang menusuk itu memecah keheningan yang terasa sakral. Semua mata langsung menoleh ke arah pintu. Seorang laki-laki berdiri di sana, matanya dingin dan tajam, nafasnya memburu. Jas mahalnya terlihat sedikit kusut seolah dia baru saja datang dengan terburu-buru. Wajahnya keras, matanya memancarkan amarah yang membara, namun meski begitu auranya sangat kuat dan berwibawa.

Dia adalah Senopati trian Barata. CEO muda dari Barata group. Bukan orang sembarangan dan yang lebih penting, dia adik dari Rania, istri sah Ryan pramudya.

Ya, lelaki yang akan menikah dengan Indira inj ternyata adalah seorang pria beristri, dan mereka sepertinya tidak tahu, atau pura- pura tidak tahu.

Kehadiran Seno benar-benar membuat suasana langsung berubah. Begitu mengenalinya, beberapa tamu langsung berbisik- bisik heboh.

Sementara tuan Baskoro, ayah Indira sontak langsung berdiri dengan tatapan tak suka.

"Ada apa ini? " Bentak Baskoro. "Sapa kau? beraninya kau masuk dan mengacaukan pernikahan putri ku!"

Seno tak menjawab. Tatapannya lurus, menembus ke arah Ryan. Langkah nya tenang namun penuh intimidasi saat ia mulai mendekat.

"Hei! saya bicara padamu!" bentak Baskoro lagi, tapi sebelum sempat lanjut, seseorang membisikkan sesuatu di telinganya.

Begitu mendengar nama "Barata", wajah pria tua itu langsung berubah pucat.

Seno berhenti di tengah ruangan.

" Ini bukan pernikahan, " ucapnya dingin. "ini ... kebusukan! "

Sementara Ryan sontak bangkit. Wajahnya yang tadi penuh senyum kini memucat, seolah-olah darah tidak mengalir di sana. Ia menatap Seno dengan sorot ketakutan. "Seno, apa yang kamu lakukan di sini? "

Senopati dengan amarah yang membara langsung menoleh ke arahnya.

"Aku di sini untuk memberikan mu pelajaran, brengsek! "

Tanpa aba- aba Seno langsung melayangkan pukulan ke wajah Ryan.

Buggghhh!

Ryan tumbang. Sudut bibirnya pecah, darah mengalir. Tapi Seno belum puas, dia menarik kasar kerah kemeja Ryan dan menghajarnya lagi.

Pukulan demi pukulan.

Tamu- tamu mulai panik. Sebagian berteriak, sebagian lagi menghindar. Suasana yang tadinya sakral kini berubah menjadi kekacauan.

Tak ada yang berani menghentikan aksi Seno yang brutal dan beringas itu.

Hingga tiba- tiba....

"Seno! hentikan! " teriak seorang wanita yang mendadak muncul di ambang pintu, air matanya mengalir,suaranya pecah bak ombak yang membentur batu karang. Itu Rania.

Rania mendekat, menggeleng dengan isyarat wajah yang langsung dimengerti oleh Seno.

Seno menghentikan pukulannya. Ia terdiam tapi matanya masih menyala.

"Kakak? kakak tahu semua ini? "

Rania menunduk, diam tidak bisa menjawab. Seno mulai menjadi tak sabaran.

"Ck, berarti kakak tahu? dan diem aja?! "

Namun Rania tetap menunduk, seolah tak sanggup bicara.

Kemudian Pak Baskoro maju lagi, kini di dampingi istri dan anak bungsunya.

"Hei,kau! sudahlah menghancurkan pernikahan anakku,sekarang malah buat keributan! kau harus bertanggung jawab! " Baskoro berteriak, menunjuk ke arah Seno.

Seno mendengus.

"Bertanggungjawab? "balas Seno. " Harusnya dia yang bertanggung jawab karena telah merebut suami kakak ku! " tunjuk nya pada Indira dengan mata berkilat dendam.

Semua orang terdiam, Indira tersentak. Ia perlahan mendongak, menatap Ryan, lalu Seno secara bergantian.

Fakta yang barusan di dengernya sungguh mengguncang dunianya.

"A- apa maksud perkataannya mu?" tanyanya pada Seno, suaranya kecil, nyaris tak terdengar. "Mas... apa maksudnya ini? " lalu menuntut jawaban pada Ryan.

Seno mendekat,tatapannya sinis. "wanita penggoda seperti mu memang selalu bersikap sok polos. Tidak kah kau tahu, siapa laki-laki yang hendak kau nikahi ini? apa keluarga mu tidak menyeleksi calon suami mu? lelaki ini sudah menikah dan istrinya adalah kakak ku ini. "

Penjelasan Seno mengejutkan semua orang, terutama Indira yang seketika terpaku. Otaknya berhenti bekerja, matanya otomatis menatap Ryan, yang kini tak berani menatapnya balik.

"Lalu, apa urusannya dengan mu? " Baskoro menyahut keras. "Kau telah merusak pernikahan putri ku. Kau telah membuat keluarga ku malu di depan banyak orang, kau harus bertanggung jawab!"

"Cih, aku tidak akan sudi bertanggung jawab atas kebusukan yang kalian lakukan! " Seno berseru lantas kembali menatap Ryan dengan berang.

"Sebaliknya aku akan mengirim mu ke neraka! " Tinjunya hendak mengarah lagi ke wajah Ryan namun tangan ringkih Rania segera menahan.

"Seno sudah! kakak mohon, cukup! cukup sampai di sini Senopati!"

Namun tatapan Seno yang seperti seorang pemburu kejam tak berubah sama sekali.

"Tidak kak, aku harus mengirim si brengsek ini dulu ke liang lahat, dia yang telah membuat mu sengsara setiap harinya, tak akan ku beri ampun! "

Ryan segera melindungi kepalanya dengan tangan, suara Rania menggema. "Berhenti Seno, atau kau akan melihat mayat kakak mu saat ini juga! "

Seno sontak berhenti, nafasnya terengah, tangannya mengepal. Tapi ia mundur satu langkah.

Tiba-tiba Baskoro maju.

"Kau pikir bisa seenaknya pergi? Tidak semudah itu. Karena kau sudah membuat kami malu, kau tidak bisa pergi tanpa tanggungjawab! "

"Tanggung jawab apa yang kau pinta itu? jangan bermimpi! " sarkas Seno.

Namun Baskoro justru tersenyum sinis. " Kalau begitu jangan salahkan kami, jika pernikahan ini akan tetap di lanjut. "

Seno tertegun, matanya tajam melirik ke samping. "Apa yang kau bilang barusan? "

Pak Baskoro malah terlihat santai. "Kami sudah tahu jika nak Ryan sudah memiliki istri tapi pernikahan ini pun ada karena restu istrinya. Nak Ryan berkata jika istrinya mandul dan ingin melakukan poligami, dan dengan restu istri pertama di tangan, mengapa pernikahan ini tak boleh terjadi? "

Ucapannya seperti seorang yang sedang menantang.

Rahang Seno otomatis mengeras, giginya bergemeletuk, menatap Ryan dengan ekspresi murka. "Kau selain brengsek kau juga bajingan! aku akan membunuhmu sialan! "

"Tunggu Seno! " Rania menahan lengannya, Seno melihat kakaknya itu menggeleng dengan air mata bercucuran. "Aku memang merestui mas Ryan untuk menikah lagi Sen, aku sadar tak bisa memberikan keturunan. "

Seno tercekat. Jadi kakaknya pun selain mengetahui ini juga memberikan restu? ia benar-benar tak habis pikir. Namun membiarkan pernikahan ini tetap terjadi, jangan harap!

Membiarkan dua manusia laknat itu bahagia di atas penderitaan kakaknya, tentu saja tak akan ia biarkan. Meskipun kakaknya setuju tapi itu hanya bentuk kepasrahan, dia yang paling tahu bagaimana air mata yang selalu mengalir di setiap hari yang di jalani kakaknya.

Baskoro maju, mengalihkan atensi Seno. Pria tua itu menatap Seno penuh arti. "Atau begini saja, berikan Dua milyar rupiah sebagai ganti rugi untuk pernikahan yang sudah kau hancurkan, atau.... kau gantikan dia untuk menikahi putri ku!"

Seno terdiam. Dua milyar? tak sulit baginya mengeluarkan uang sejumlah itu, tapi membalas dendam dengan uang terasa kurang. Ia memandang Baskoro lalu beralih memandang Indira yang juga sedang menatap nya.

Wajahnya pias, matanya berkaca- kaca. Kepalanya pelan- pelan menggeleng, seolah berkata, jangan. "

Melihat ekspresi Indira yang seperti itu malah membuat Seno terkekeh sinis, seketika dendamnya kepada Ryan dan Indira memuncak. Dendam karena mereka telah membuat Rania, kakaknya, menderita. Seno melihat ini sebagai kesempatan. Kesempatan untuk membalas dendam. Kesempatan untuk membuat hidup mereka berdua sama-sama hancur.

“Baik, " ujarnya datar. "Aku pilih .... yang kedua.”

Terdengar suara helaan nafas kaget dari berbagai sudut ruangan.

Indira terkejut, tubuhnya melemas,air matanya jatuh lagi. Dan Baskoro sendiri sama sekali tidak menyangka Seno akan menerima pilihan itu.

Seno berjalan mendekati perempuan rapuh itu. Tatapannya kini berubah menjadi sangat dingin dan kejam. “Jangan khawatir. Pernikahan ini akan jadi neraka untukmu.”

Indira hanya bisa menunduk. Nafasnya berat, langit- langit matanya panas, namun sekuat tenaga ia tak ingin ada air mata yang mengalir di sana, tapi rasanya ia ingin lari sekencang- kencangnya dari situasi ini namun kakinya seolah tak bisa di gerakkan.

Hari yang seharusnya menjadi miliknya, berubah menjadi awal dari hidup yang tak pernah dia bayangkan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Halo readers tercinta, selamat datang di karya terbaru aku, semoga kalian suka yaa🫶

MDSC : 02

Bagi Indira ini bukan lagi sebuah pernikahan. Ini neraka versi baru-- dan dia adalah tawanan utamanya.

Tapi bagi ayahnya? tentu saja ini adalah sebuah kesempatan emas.

Pak Baskoro terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan undian lotre. Matanya berbinar, bibirnya nyaris tak berhenti tersenyum.

"Ini namanya mati satu tumbuh seribu. Gagal nikah sama Ryan? tidak masalah! " pikirnya. "Dapet gantinya yang jauh lebih kaya! kolongmerat! CEO besar! ini jelas- jelas buang kerikil dapat berlian!"

Istrinya, Bu Rukmini juga tidak kalah sumringah. Bahkan adik Indira, Bayu, juga ikut- ikutan menatap Seno, seolah pria itu adalah tiket menuju kehidupan mewah.

Keluarga ini memang begitu. Sejak dulu, uang jadi segalanya. Nilai anak perempuan tidak diukur dari kebahagiaan nya, tapi dari berapa besar dompet suaminya.

Dan sayangnya, Indira sadar betul soal itu.

Pernikahannya dengan Ryan saja terjadi karena paksaan. Karena Ryan tampak 'mapan' dan ayahnya butuh itu. Indira cuma alat tawar- menawar.

Sekarang? ia akan di jadikan alat lagi. Tapi kali ini, alat untuk menebus 'malu' keluarga. Dan alat untuk memperkuat status sosial ayahnya.

Tak berapa lama, Baskoro maju, mengalihkan tatapan mata pada Seno dan putrinya secara bergantian. "Baiklah kalau begitu, demi menjaga citra keluarga dan martabat putri ku, jika memang tuan Seno bersedia bertanggung jawab, maka aku setuju. Pernikahan ini pun akan tetap dilanjutkan dengan nak Seno sebagai mempelai prianya. "

Secepat itu.

Tanpa meminta pendapat Indira. Tanpa rasa malu sedikitpun.

Tak berapa lama, para tamu sebagian langsung di bubarkan hanya tersisa beberapa kerabatnya saja yang menjadi saksi. Ryan yang masih terduduk lemas di pojok ruangan hanya bisa memandangi semuanya dengan tatapan kosong. Bibirnya robek, rahangnya nyeri, dan harga dirinya hancur. Tapi yang paling menyakitkan, dia gagal memiliki Indira,gadis yang sudah lama diincar nya untuk menjadi istri kedua.

Dan citra yang selama ini ia bangun rapi, suci dan penuh kharisma-- hancur seketika. Rahasia yang ia tutup rapat, terbongkar begitu saja. Dan kini ia di tinggalkan sendirian, babak belur-- dalam arti yang sebenarnya dan secara batin.

Tapi yang lebih sakit? ia kalah dari adik iparnya sendiri.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Semuanya kembali di persiapkan.

Make-up Indira kembali di rapikan. Mata sembabnya di tutupi concealer. Pipinya di pulas ulang, padahal hatinya masih ambruk. Gaun kebaya putih yang sebelumnya terlihat suci, sekarang terasa seperti kain penjara.

Seno pun di ganti jasnya. Di tata, di rapikan. Ia tampak tenang-- luar biasa tenang, untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup dua orang sekaligus.

Namun di balik ketenangan nya, pikirannya kacau. Matanya sempat menatap wajah Indira, dan untuk seperkian detik ia terpaku.

Indira memang cantik, memiliki fitur wajah lembut yang di turunkan oleh almarhumah ibunya yang merupakan seorang dengan keturunan darah Pakistan, kulitnya sehalus sutra, berwarna putih ke pink- pinkan jika terkena cahaya matahari.

Matanya bulat dan jernih, di hiasi oleh bulu mata yang panjang alami, bibirnya mungil kemerahan seperti mawar yang baru mekar, hidungnya tinggi namun terlihat mungil, dan yang paling memikat adalah matanya yang berwarna hazelnut. Warna yang terbilang langka dan jarang dimiliki oleh ras Indonesia jika bukan karena campuran keturunan luar.

Untuk sesaat itulah yang dapat Seno tangkap saat memperhatikan wanita itu, tidak hanya cantik, Indira juga memiliki bentuk tubuh bak jam pasir dengan pinggang yang ramping namun pinggul yang besar, bagian depannya pun terlihat begitu sempurna. Pantaslah si bereng*sek itu sampai berselingkuh hingga sejauh ini dan nekat untuk menikahinya sampai- sampai membuat kakaknya Rania rela begitu saja agar si breng*sek itu menikah lagi dengan selingkuhan nya ini.

Tertegun, Seno segera menutup matanya dan menggeleng, baru tersadar jika ia terus memperhatikan gadis itu sejak tadi.

"Ck, sadarlah Sen, dia memang seorang wanita penggoda sudah sepantasnya dia memiliki paras dan bentuk tubuh yang bagus untuk memikat kaum adam. Benar- benar penggoda ulung. " Dengan cepat tatapan kekaguman kini berganti sebagai tatapan seseorang yang penuh dendam kesumat.

"Jadi, apa mahar yang akan nak Seno berikan? "

Pertanyaan dari Baskoro segera menarik Seno dari lamunannya. Seno menatap pria paruh baya itu, dari raut wajahnya saja ia sudah mengetahui jika Baskoro adalah seorang mata duitan. Sebelum ini pun dia sudah mencari tahu dulu soal Indira yang sebagai selingkuhan kakak iparnya itu hingga ke seluk-beluk nya, jadi tak begitu kaget dengan sikap Baskoro yang seperti ini.

"Dua milyar, itu adalah mahar yang akan ku berikan. Sama seperti jumlah yang anda minta tadi, sebagai ganti rugi. "

Memberikan mahar yang sebelumnya di mintai sebagai ganti rugi jelas itu adalah penghinaan, itu sebabnya Seno mengatakan nya dengan begitu lantang agar orang lain ikut mendengar.

Ia melirik Indira, gadis itu menundukkan wajahnya yang muram, sedangkan Baskoro? jangan di tanya, dia seperti seseorang yang tidak punya urat malu lagi, terus saja memasang senyum ramah padahal jelas- jelas tengah di sarkas oleh calon menantunya sendiri.

"Wah, nak Seno ini benar- benar pengertian, " katanya, menjilat dalam senyum munafik. "Tentu saja, berapa pun yang nak Seno anggap layak, kami terima dengan senang hati. "

"Tentu, " pikir Seno, dingin. "Karena uang kau bahkan tega menjual anakmu sendiri. "

Dia pun menghubungi asisten nya, meminta dana itu segera di siapkan secara tunai. Tak sulit baginya, dua milyar? uang receh untuk seorang Senopati trian Barata.

Tapi bagi keluarga ini? Nilai yang bisa menghapus malu, membungkam mulut tetangga, dan membeli martabat.

Sementara itu di sudut lain, Rania berdiri dengan air matanya yang mengalir diam- diam. Hatinya seperti di cabik. Seno yang sejak kecil selalu melindungi nya, kini harus terlibat sejauh ini... Demi dirinya.

"Maafkan kakak, Sen... " bisiknya dalam hati. "kalau saja kakak lebih kuat..."

Di pojok lain, Ryan mengerang pelan. Sakit dan malu membuat tubuhnya kaku. Dia menatap nanar Indira yang kini akan menjadi milik orang lain-- milik adik iparnya sendiri

"Sialan... " gumamnya dalam hati. "kenapa dia harus datang sekarang?! "

"Kenapa semuanya harus berakhir kaya gini?! "

"""

Saat semuanya sudah siap, penghulu kembali duduk di tempat. Indira duduk di samping Seno, tapi rasanya seperti duduk di samping eksekutor.

Ia ingin menjerit. Ingin kabur, tapi tak bisa. Tak lama suara penghulu terdengar menggema di seluruh ruangan.

"Saya nikahkan saudara Senopati trian Barata bin Abian aji Barata dengan saudari Indira zaara Husain yudharta binti Baskoro Husain dengan maskawin uang senilai dua milyar rupiah di bayar tunai. "

Hening.

Semuanya menunggu.

Seno menatap Indira sekilas, gadis itu menunduk dalam. Tangan di pangkuannya gemetar.

Ia kembali menatap lurus ke depan, tak ada kegugupan di wajahnya yang keras. Seno mengeratkan jabat tangannya pada penghulu sebelum menyaut ijab kabul itu. "Saya terima nikah dan kawinnya Indira zaara Husain binti Baskoro Husain dengan maskawin tersebut di bayar tunai! "

Bagaimana para saksi, sah? "

"SAH! "

Dan dengan itu... segalanya berubah.

Resmi sudah. Indira bukan lagi gadis bebas sekarang, ia adalah istri dari seorang pria yang membencinya.

Dan Seno? ia baru saja menikahi wanita yang ia anggap adalah sumber luka untuk kakaknya.

Pernikahan ini... tidak di awali cinta, tapi dendam. Dan mereka berdua tahu, tak ada bahagia dalam cerita ini.

*****

MDSC : 03

"Bapak- ibu sekalian, silahkan masuk kembali! acara masih berlanjut!" suara lantang Baskoro menggema di ruang tamu besarnya yang di sulap menjadi pelaminan sederhana. Nadanya yang congkak tidak berusaha ia tutupi. Senyum lebar nya tampak seakan bangga luar biasa. "Putri saya kini resmi menjadi istri dari seorang CEO muda ternama, Mr. Senopati Trian Barata! "

Senyum jemawanya tak pernah lepas dari wajahnya. Ia bahkan menepuk tangan, mengajak para tamu yang sudah setengah jalan pulang untuk kembali masuk.

Bisik- bisik kecil terdengar di mana- mana.

"Barusan ricuh sekali, kok masih di lanjutkan? "

"Jadi sekarang, mempelai pria nya di ganti ya? "

"Ya tapi... menantunya saat ini CEO, pantas di pamer kan."

"Kasihan pengantin wanita nya, mukanya sampai pucat begitu. "

Sementara Indira yang mendengar nya, menunduk dalam. Jemarinya meremas kain kebaya yang ia kenakan. Malu bercampur sakit menyeruak di dadanya. Ayahnya begitu bangga, begitu congkak. Sementara dirinya terasa kerdil. Minder. seolah ia hanya alat pameran yang bisa di perlakukan sesuka hati.

Seno sendiri berdiri di sampingnya, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Dari luar, orang mungkin melihat nya sebagai pengantin pria yang gagah dan berwibawa. Tapi di balik sorot matanya, hanya ada kejengkelan yang nyaris tak tertutupi.

Indira paham, situasi ini juga sama- sama memalukan untuk pria itu. Ayahnya benar-benar keterlaluan!

"Fotografer! " seruan Baskoro kembali terdengar. Tangannya melambai, memanggil. "Ayo sudah saatnya sesi foto untuk mengabadikan momen bahagia ini. Indira, lebih dekatlah pada suami mu. "

Dengan langkah berat, Indira bergeser dengan setengah langkah, tubuh nya kaku namun ia menurut. Tekanan yang di berikan orang tuanya sejak kecil membuat ia tumbuh dengan rasa tak aman, hingga seakan tak ada ruang untuk nya menolak.

"Nak Seno, " lanjut Baskoro, suaranya terdengar penuh kebanggaan. "silakan cium kening istri mu, seperti sepasang pengantin pada umumnya setelah akad, biar semua orang tahu betapa bahagianya kalian. "

Padahal disini dialah yang paling bahagia karena ber-mantukan kalangan darah biru.

Senyum kecil terlihat dari beberapa tamu, ada yang bahkan bersiap mengabadikan dengan ponsel mereka. Kapan lagi jadi saksi pernikahan seorang ceo ternama apalagi cara pernikahan mereka tidak biasa, bisa jadi viral. Begitu pikir mereka.

Seno sendiri, menoleh pelan. Senyum tipis mengembang di bibirnya, tapi bukan senyum hangat, melainkan senyum penuh penghinaan yang membuat darah Indira serasa berhenti mengalir.

Tangannya yang besar meraih dagu Indira, mengangkat wajah cantik itu setengah paksa. Dari kejauhan mungkin tampak romantis, seolah pengantin baru yang tengah di mabuk cinta.

Tapi sesaat kemudian, bukannya mengecup di kening, bibir Seno justru menempel kasar di pipi Indira. Cepat, dingin, dan penuh penghinaan.

Klik! kamera memotret, membekukan kebohongan besar berbalut interaksi manis itu.

Di dekat telinga Indira, suara Seno berbisik dingin. "Jangan pernah merasa terhormat karena menyandang gelar sebagai istri ku, kau ini hanya boneka murahan ayahmu. "

Mata Indira bergetar. Nafasnya tercekat, tak bisa menahan air mata tapi ia paksa bibirnya tetap melengkung tipis. Meski senyum itu palsu dan penuh luka, ia harus terlihat kuat. Ia tidak boleh runtuh di hadapan tamu, apalagi di hadapan ayahnya yang tersenyum puas.

"Aku kuat... aku harus kuat. " batinnya merintih.

Sorak tepuk tangan pun pecah, memenuhi ruangan sempit rumah Baskoro. Semua orang tersenyum, pura-pura kagum, seolah tengah menyaksikan bersatu nya cinta sejati meski kenyataan nya kecanggungan itu tetap terasa adanya.

Dan Baskoro, tetap pada tingkah nya yang memalukan. Memamerkan Seno di depan para rekan kerja dan tetangga nya, dengan kata- kata penuh kesombongan yang membuat Seno muak.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Suasana rumah Baskoro mulai sepi, tamu-tamu akhirnya benar-benar bubar. Meninggalkan sisa piring kotor, bunga layu di meja, dan udara pengap penuh campur aduk aroma sisa makanan dan parfum para tamu.

Setelah di lakukan rundingan yang cukup alot, Seno dan Rania memutuskan untuk tinggal semalam di rumah ini baru besok pagi akan pergi ke kediaman mereka dengan membawa Indira. Soal Ryan? nasibnya kini di tentukan di tangan Rania yang akan menceriakan nya atau tidak namun yang pasti dia sedang di rawat saat ini di rumah sakit, karena luka- lukanya.

Keluarga Indira begitu ramah dan hormat memperlakukan Rania, dia di tempatkan di kamar tamu yang cukup besar. Entah benar-benar menghormatinya atau hanya menjilat saja, hanya mereka yang tahu.

Sedangkan di sisi lain, di balik pintu kamar yang dihias seadanya dengan taburan kelopak bunga, Indira duduk di tepi ranjang. Tubuh nya kaku, gaun kebaya putih nya masih melekat. Meski rambutnya sudah sedikit berantakan, sisa dari acara panjang yang penuh air mata.

Tangan nya saling menggenggam erat, jari- jarinya dingin, bahkan lebih dingin dari malam itu.

Pintu tiba-tiba terbuka. Seno masuk, jas hitam nya sudah ia lepas, hanya tersisa kemeja putih yang lengan nya ia gulung. Wajahnya tetap dingin, sorot matanya menusuk seperti pisau.

Indira refleks merunduk, jantung nya berdegup tak karuan.

"Kenapa menunduk? " suara Seno rendah namun penuh ejekan. "Takut? atau sedih karena pada akhirnya kau batal untuk menikahi kekasih tercinta mu itu dan terjebak dengan ku? "

Indira menggigit bibirnya, ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi kata- kata tercekat di tenggorokannya. Apapun yang ia katakan pasti hanya akan di anggap kebohongan.

Seno berjalan mendekat, langkahnya berat, menekan lantai marmer yang dingin. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, lalu sedikit merunduk, menatap wajah Indira yang pucat.

"Lihat aku, " ucapnya dingin.

Namun tak ada respon dari Indira, hingga membuat Seno berdecak pelan-- tangan nya kemudian terulur, bukan untuk menyentuh dengan lembut tapi menarik dagunya kasar. Agar wajah mereka sejajar. Sorot matanya tajam, membuat Indira seakan telanjang tanpa perlindungan.

"Kau tahu apa yang akan terjadi mulai sekarang? " bisiknya dingin. Indira tidak menjawab, matanya berair tapi ia menahan supaya tak jatuh.

Seno terkekeh sinis. "Jangan takut, aku tidak akan menyentuh mu. Aku jijik, bagiku kau cuma simbol kebusukan yang sudah menghancurkan hidup kakakku. Dan aku akan pastikan... kau merasakan setiap detik hidup bersama ku seperti di neraka. "

Tangan nya melepaskan dagu Indira dengan kasar. Gadis itu nyaris terjatuh ke lantai kalau saja tidak sempat berpegangan pada ujung ranjang.

Ucapan pria itu barusan menampar lebih keras daripada pukulan apapun.

Hening, hanya suara detak jam di dinding yang terdengar.

Indira menutup matanya sejenak, mencoba menguatkan hati.

"Kalau kau kira aku menikahi mu karena suka, kau salah besar, " suara Seno kembali terdengar, dingin menusuk. "Aku menikahi mu hanya untuk menghancurkan mu. Kau harus tahu itu! "

Indira menarik nafas panjang. Lalu, untuk pertama kalinya sejak acara tadi, ia membuka suara. "Aku tak pernah mengira hal seperti itu, lagipula seseorang besar seperti mu mana mungkin menyukai gadis seperti ku. "

Seno mengepalkan tangannya, kata- kata Indira seperti menggores egonya namun gengsi nya menolak itu."Ya bagus, akhirnya kau sadar diri. "

"Dan untuk kata- kata terakhir mu, jika itu yang membuat mu puas.... lakukan, aku tidak akan melawan. " lanjut Indira, seolah tak gentar.

Seno tertegun sejenak. Tidak menyangka jawaban seperti itu yang akan di lontarkan gadis itu. Jemarinya kembali menangkup pipi gadis itu. Dan detik berikut nya, ia terkekeh dingin. "Hebat, ternyata kau pandai juga menyembunyikan rasa takut, " sarkasnya. Ia melepaskan cengkeraman nya dari dagu Indira dengan cukup keras hingga membuat Indira lagi- lagi harus berpegangan pada sisi ranjang untuk menahan keseimbangan.

Seno lalu melangkah maju, melakukan gerakan untuk mengendurkan dasinya yang terasa mencekik, lalu membuka dua kancing atasnya di sana.

"Kau tunggu di sini, jangan mencoba kabur. "

Pria itu berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Indira dalam keheningan namun dengan jantung nya yang bergemuruh kencang.

***

Bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!