NovelToon NovelToon

Mantan Calon Istri Yang Kamu Buang Kini Jadi Jutawan

​Bab 1: Hadiah Ulang Tahun Paling Berdarah

​"Surprise! Selamat ulang tahun, Sayang!"

​Suara Maya ceria, nyaris melengking saat dia mendorong pintu ruangan manajer pemasaran dengan sikutnya. Tangannya penuh. 

Sebuah kotak kue merah ada di tangan kanan, dan buket bunga lili putih kesukaan Adit terselip di ketiaknya. Senyumnya lebar, selebar harapannya bahwa kejutan ini akan menebus waktu lembur yang belakangan ini menyita perhatiannya.

​Hening. Tapi tidak benar-benar sepi.

​"Mas, geli... jangan di situ," sebuah suara perempuan mendesah pelan, diikuti tawa renyah yang sangat Maya kenal.

​Kotak kue di tangan Maya miring. Krim lembutnya nyaris merosot. Di sofa kulit panjang pojok ruangan, dua orang yang paling dia percaya sedang berimpitan. 

Adit, tunangannya, sedang membenamkan wajah di leher Siska. Kancing kemeja Adit sudah terbuka dua di bagian atas. Siska? Perempuan itu malah tertawa sambil mengelus rambut Adit, matanya langsung bertabrakan dengan mata Maya.

​Tidak ada kepanikan di wajah Siska. Malah, senyumnya makin lebar.

​"Eh, ada Mbak Maya. Aduh, maaf ya, Mas Adit lagi butuh hiburan," celetuk Siska tanpa bergeser sedikit pun dari pelukan Adit.

​Adit tersentak, dia langsung duduk tegak dan merapikan kemejanya dengan kikuk. "Maya? Kok kamu... bukannya kamu lagi cek laporan di gudang?"

​Maya merasa jantungnya seperti dihantam palu godam. Dia meletakkan kue itu di meja dengan suara buk yang keras. "Cek laporan gudang supaya kamu bisa bebas main sabun sama dia di kantor, Mas? Ini maksudnya apa?"

​"May, dengerin dulu. Ini nggak kayak yang kamu lihat," Adit berdiri, mencoba mendekat, tapi Siska menarik lengannya kembali.

​"Sudahlah, Mas. Buat apa bohong terus? Kasihan Mbak Maya, capek-capek kerja tapi nggak tahu kalau posisinya sudah diganti," Siska bangkit dari sofa, merapikan rok span pendeknya yang tersingkap. Dia berjalan tenang ke arah meja kerja, mengambil selembar amplop cokelat, dan melemparkannya ke depan Maya.

​Maya menatap amplop itu, lalu menatap Adit. "Apa ini?"

​"Surat pemecatan kamu, May," jawab Adit pelan, suaranya tidak berani naik.

​Maya tertawa getir. "Pemecatan? Atas dasar apa? Aku manajer dengan performa terbaik di sini selama tiga tahun! Kita baru saja tembus target kuartal ini, Adit!"

​Siska menyandarkan pinggulnya di pinggir meja kerja, melipat tangan di dada. "Performa terbaik? Mbak, jangan halusinasi. Direktur sudah tanda tangan itu karena laporan penggelapan dana proyek katering kemarin. Semua bukti mengarah ke rekening Mbak Maya. Sayang banget ya, gila kerja tapi malah serakah."

​"Aku nggak pernah ambil uang itu! Kalian jebak aku!" teriak Maya, suaranya gemetar menahan tangis yang mulai mendesak di pelupuk mata.

​"Bukti bicara lebih keras daripada teriakan, Mbak," Siska melangkah mendekat, menatap Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan menghina. "Lagian, Mbak lihat diri Mbak sendiri di cermin. Kusam, bau keringat, pulang selalu malam, muka ditekuk terus gara-gara urusan kerjaan. Cowok mana yang betah? Mas Adit itu butuh pendamping yang segar, yang wangi, yang bisa manjain dia. Bukan mandor kayak Mbak."

​"Kamu..." Maya mengangkat tangannya, ingin sekali mendaratkan tamparan di pipi mulus Siska yang penuh bedak mahal itu.

​"Eits, jangan main fisik," Siska menangkap pergelangan tangan Maya dengan kuat. "Mending Mbak simpan tenaganya buat kemas-kemas barang. Security akan datang lima menit lagi buat antar Mbak keluar. Oh, dan satu lagi... Mas Adit sudah kasih cincin barunya buat aku. Yang kemarin Mbak pakai? Buang saja, katanya desainnya kampungan."

​Maya menoleh ke arah Adit, berharap pria itu membela atau setidaknya bicara sesuatu. Tapi Adit hanya memalingkan wajah, sibuk menatap sepatunya sendiri.

​"Mas, kamu diam saja?" suara Maya parau.

​"May, mungkin memang kita sudah nggak cocok. Kamu terlalu dominan. Aku capek setiap hari cuma bahas target perusahaan sama kamu. Siska lebih bisa bikin aku merasa jadi laki-laki," ucap Adit tanpa dosa.

​Dunia Maya runtuh. Semua pengorbanannya, bangun subuh untuk menyiapkan bekal sarapan Adit, lembur demi karier mereka berdua, bahkan rencana pernikahan yang sudah tinggal tiga bulan lagi, semuanya hancur hanya karena alasan "nggak cocok".

​"Kalian benar-benar menjijikkan," bisik Maya. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil yang selalu dia bawa. Foto mereka berdua saat acara pertunangan tahun lalu.

​Sret! Brak!

​Maya mencungkil foto itu keluar dari bingkainya, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil di depan wajah Adit dan Siska. Potongan kertas itu jatuh ke lantai, bercampur dengan krim kue ulang tahun yang tadi dia bawa.

​"Ambil saja laki-laki sampah ini, Siska. Kalian memang cocok. Sama-sama sampah," Maya melempar sisa kertas itu ke dada Adit.

​"Keluar sekarang, Maya! Sebelum aku panggil satpam!" bentak Adit, mungkin karena merasa harga dirinya terluka.

​Maya berbalik tanpa kata. Dia berjalan tegap keluar dari ruangan itu, meskipun kakinya terasa seperti jeli. 

Di lorong kantor, beberapa rekan kerja menatapnya dengan pandangan kasihan, sebagian lagi berbisik-bisik senang. Siska memang sudah menyebarkan fitnah itu dengan rapi.

​Begitu sampai di lobi gedung perkantoran mewah di kawasan bisnis Grand Sudirman, hawa panas Jakarta langsung menyengat kulitnya. Maya berdiri di pinggir jalan, menatap gedung pencakar langit yang selama ini dia banggakan. Sekarang, dia bukan siapa-siapa. Tidak punya pekerjaan, tidak punya tunangan, dan dicap sebagai pencuri.

​Ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk. Maya berharap itu permintaan maaf dari Adit, tapi ternyata bukan.

​Itu dari ibunya.

​“Maya, Sayang... maaf ya Ibu ganggu kerja kamu. Kalau nanti sudah gajian, boleh Ibu pinjam uang sedikit buat bayar bunga bank bulanan? Warung sedang sepi sekali, sudah tiga hari ini nggak ada pelanggan borongan. Uang simpanan Ibu habis buat benerin atap dapur yang bocor. Maaf ya Nak kalau Ibu merepotkan.”

​Maya menyandarkan punggungnya di tiang listrik. Air mata yang tadi dia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah juga. 

Dia memejamkan mata, meremas ponselnya kuat-kuat. Di depannya, kemacetan Jakarta terlihat begitu hampa. Dia harus pulang, tapi bagaimana dia bisa bilang pada ibunya kalau dia baru saja kehilangan segalanya?

​"Gajian..." bisik Maya getir, menatap saldo ATM-nya di layar ponsel yang hanya cukup untuk tiket bus pulang dan makan beberapa hari. "Uang dari mana, Bu?"

​Bab 2: Turun Kasta

​"Oalah, ini beneran Maya? Keponakanku yang katanya jadi bos besar di Jakarta itu?"

​Suara cempreng yang sangat Maya kenal itu memecah kesunyian malam di depan gerbang rumahnya. 

Tante Rosa. Saudara jauh ibunya, yang merupakan orang terakhir yang ingin dilihat Maya di kampung ini.

“Ini beneran Maya? Kok kuyu banget kayak kerupuk kecemplung sayur lodeh.”

Maya yang baru saja turun dari ojek dengan mata merah dan koper butut, tersentak. Dia melihat Tante Rosa berdiri di sana, berkacak pinggang sambil memamerkan gelang emas yang berjejer sampai ke siku. 

​"Iya, Tante. Ini Maya," jawab Maya pendek. Dia mencoba menarik kopernya yang rodanya agak macet di jalanan aspal kampung yang berlubang.

​Tante Rosa mendekat, matanya memindai penampilan Maya dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Ngapain pulang? Kok dandanannya kucel begini? Mana mobilnya? Katanya mau pulang bawa mobil baru buat pamer ke orang sekampung? Kok malah naik ojek butut?"

​"Maya lagi pengen pulang aja, Tante. Kangen Ibu," Maya berusaha tetap sopan meskipun dadanya sesak. Bau debu jalanan dan aroma tanah basah khas Desa Sukamaju biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa mencekik.

​"Halah, alasan! Paling juga kena pecat, kan? Atau ditinggal pacarmu yang ganteng itu? Tante sudah bilang, jadi perempuan itu nggak usah ketinggian mimpinya. Ujung-ujungnya paling balik ke dapur juga. Lihat nih," Tante Rosa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, membuat gelang-gelang emasnya beradu dan menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik. 

"Suami Tante baru dapet proyekan di kota sebelah. Langsung dibeliin ini. Nggak perlu kerja lembur sampai muka keriput kayak kamu,” sambung Tante Rosa.

​Beberapa tetangga yang sedang duduk-duduk di pos ronda mulai menoleh. Bisikan-bisikan halus mulai terdengar. Di kampung ini, berita kegagalan seseorang adalah hiburan yang lebih seru daripada sinetron televisi.

​"Eh, Jeng Rosa, itu si Maya yang kerja di Jakarta ya? Kok pulangnya malem-malem bawa koper?" teriak Bu RT dari seberang jalan.

​"Iya Jeng! Kayaknya sih jadi pengangguran sekarang. Makanya, jangan sombong jadi orang kota, pulangnya tetep aja numpang makan sama orang tua!" sahut Tante Rosa dengan suara yang sengaja dikencangkan.

​Maya mengepalkan tangannya di pegangan koper. "Tante, Maya capek. Boleh Maya masuk ke rumah sekarang?"

​"Masuk aja sana! Paling juga ibumu lagi pusing mikirin utang. Lagian kamu itu gimana sih, katanya manajer, tapi masa kiriman uang buat Ibu aja sering telat? Jangan-jangan uangnya habis buat gaya hidup di sana ya?" Tante Rosa terus menyerang tanpa ampun.

​"Maya selalu kirim uang buat Ibu tepat waktu , Tante!"

​"Kirim berapa? Seribu dua ribu? Buktinya ‘Warung Bu Sum’ milik ibumu makin reyot begitu. Kalau sukses itu kayak Tante, bisa renovasi rumah, pakai emas sampai berat. Bukan pulang bawa koper isi baju bekas doang," Tante Rosa tertawa puas, lalu berjalan pergi dengan gaya yang dibuat-buat, membiarkan Maya berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang remang-remang.

​Maya menarik nafas panjang, mencoba membuang sisa amarahnya. Dia menatap rumahnya. Bangunan tua itu terlihat lebih rapuh dari terakhir kali dia melihatnya. Papan nama "Warung Bu Sum" yang dulu gagah, kini miring dan warnanya sudah pudar dimakan cuaca.

​Dia melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Pintu depan memang tidak pernah dikunci kalau Ibu belum tidur.

Suasana di dalam sunyi, hanya ada suara televisi tua yang mengeluarkan bunyi kresek-kresek.

​"Ibu?" panggil Maya pelan.

​Tidak ada jawaban. Maya berjalan menuju dapur, mengikuti arah cahaya lampu kuning yang temaram. Semakin dekat ke dapur, bau minyak goreng yang dipanaskan berkali-kali menusuk hidungnya. Bau tengik yang tajam.

​Di sana, di depan kompor gas satu tungku, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah banyak memutih sedang berdiri membelakanginya. Bahunya tampak bergetar.

​"Ibu, Maya pulang," suara Maya tercekat di kerongkongan.

​Ibu tersentak hebat. Beliau langsung berbalik, wajahnya pucat pasi. Tangannya yang memegang sodet gemetar. "Maya? Kok... kok nggak bilang kalau mau pulang, Nak?"

​"Kejutan buat Ibu," Maya mencoba tersenyum, meski hatinya hancur melihat wajah ibunya yang tampak jauh lebih tua dan kurus.

​Maya mendekati kompor. Di atas wajan, ada tiga potong tempe yang sedang digoreng. Minyaknya benar-benar hitam, seperti oli bekas. "Ibu kok goreng tempe pakai minyak hitam begini? Ini nggak sehat, Bu. Mana minyak yang baru?"

​"Eh, ini... ini masih bisa dipakai kok, Nak. Sayang kalau dibuang, harganya lagi mahal," sahut Ibu terbata-bata. Beliau tampak sangat gelisah dan terus meraba-raba celemeknya yang kusam.

​Maya melihat ada sesuatu yang menonjol di balik celemek ibunya. Sebuah kertas berwarna merah muda yang terlihat mencolok. "Itu apa di balik celemek Ibu?"

​"Bukan apa-apa, Maya. Cuma catatan belanjaan," Ibu mencoba mengelak dan mundur selangkah.

​"Ibu nggak jago bohong sama Maya. Sini, Maya lihat," Maya bergerak cepat, meraih kertas itu sebelum ibunya sempat menghindar.

​Tangan Maya gemetar saat membaca tulisan di kertas itu. Bukan catatan belanjaan.

 Itu adalah surat peringatan terakhir dari sebuah lembaga keuangan bernama Mitra Dana Desa. Isinya lugas dan dingin: Jika tunggakan selama enam bulan tidak segera dilunasi dalam waktu tiga hari, maka aset berupa tanah dan bangunan rumah beserta warung tersebut akan disita.

​"Ibu... ini maksudnya apa? Kenapa utangnya bisa sebanyak ini?" suara Maya meninggi karena panik.

​Ibu langsung menunduk, air matanya jatuh menetes ke lantai dapur yang lembab. "Maafin Ibu, Maya. Ibu ditipu sama Pak Broto yang katanya mau jadi penyalur bahan katering. Uang tabungan yang kamu kirim tiap bulan Ibu kasih ke dia buat modal, tapi dia malah kabur. Ibu terpaksa pinjam ke bank buat nutupin operasional warung, tapi warungnya makin sepi..."

​"Kenapa Ibu nggak cerita sama Maya?"

​"Ibu nggak mau bebani kamu, Nak. Kamu di Jakarta sudah kerja keras, Ibu nggak mau kamu kepikiran," tangis Ibu pecah. Beliau terduduk di kursi kayu tua di pojok dapur.

​Maya menatap surat sita itu, lalu menatap minyak hitam di wajan, dan terakhir menatap koper satu-satunya yang dia bawa dari Jakarta. Dia baru saja dipecat, tidak punya pesangon karena tuduhan penggelapan dana, dan sekarang rumah satu-satunya yang mereka miliki terancam hilang.

​"Jadi... kita benar-benar nggak punya apa-apa lagi, Bu?" bisik Maya lirih.

​Ibu hanya bisa terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Maafin Ibu, Maya... Maafin Ibu."

​Di tengah tangisan ibunya, dari luar terdengar suara Tante Rosa yang masih asyik berteriak-teriak ngobrol dengan tetangga, seolah sengaja ingin memperdengarkan betapa suksesnya dia dibandingkan keluarga Maya.

​Maya melipat surat itu kuat-kuat sampai kukunya memutih. Rasa sedihnya tiba-tiba berubah menjadi api dingin yang membara. Dia meletakkan surat itu di meja dapur, lalu mengambil sodet dari tangan ibunya.

​"Ibu berhenti nangis," kata Maya tegas. Matanya menatap tajam ke arah wajan. "Mulai malam ini, Maya yang pegang dapur ini. Kita nggak akan biarkan mereka ambil rumah kita."

​Ibu mendongak, menatap anak perempuannya dengan bingung. "Tapi gimana caranya, Maya? Utang itu puluhan juta..."

​Maya tidak menjawab. Dia mematikan kompor, membuang minyak hitam itu ke tempat pembuangan, dan menatap ke arah pintu dapur dengan tatapan yang belum pernah ibunya lihat sebelumnya. "Besok, warung ini akan punya menu baru. Dan Tante Rosa... dia akan tutup mulut sendiri lihat hasilnya."

​Namun, di balik ketegasannya, Maya tahu dia hanya punya sisa uang beberapa ratus ribu di dompetnya. Tantangan ini terasa mustahil, apalagi dia belum menceritakan pada ibunya kalau dirinya sendiri adalah seorang pengangguran sekarang.

​Lalu, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu depan yang sangat keras.

​"Sum! Keluar kamu! Saya tahu anakmu yang manajer kota itu pulang! Bayar utang sekarang atau besok saya bawa orang buat pasang plang sita!" teriak sebuah suara pria yang kasar dari luar.

​Ibu gemetar hebat, wajahnya kembali pucat. "Itu... itu orang dari lembaga itu, Maya. Mereka sudah datang..."

​Maya memegang pisau dapur di meja dengan erat, detak jantungnya berpacu cepat. Inilah kenyataan pahit yang harus dia hadapi tepat satu jam setelah dia menginjakkan kaki di kampung halaman.

​Bab 3: Rahasia di Balik Sambal Ulek

​"Berapa semuanya?" suara pria penagih utang itu menggelegar di ruang tamu yang pengap, membuat gelas-gelas kaca di rak bergetar.

​Maya berdiri di depan ibunya, menatap pria berjaket kulit hitam itu tanpa kedip. "Sepuluh juta untuk tunggakan bunga? Mas nggak salah hitung?"

​"Gak usah panggil Mas, panggil Bang Jago saja. Hitungannya sudah pas dari kantor. Kamu kalau nggak bisa bayar, mending minggir. Saya mau tempel stiker sita sekarang," pria itu sudah mengeluarkan gulungan kertas segel.

​"Bang Jago, dengerin saya. Saya baru sampai hari ini. Berikan waktu tiga hari. Saya jamin uang bunga itu lunas," suara Maya tenang, tapi tangannya mengepal di balik punggung.

​"Tiga hari? Halah, gaya manajer kota tapi dompet kosong! Saya nggak percaya!"

​"Nama saya Maya. Saya bukan cuma manajer, saya pemilik warung ini sekarang. Kalau Abang sita sekarang, Abang nggak dapet apa-apa selain bangunan tua. Tapi kalau tunggu tiga hari, uang Abang kembali utuh. Pilih mana?" Maya maju satu langkah, menatap mata pria itu dengan keberanian yang nekat.

​Pria itu terdiam sejenak, melihat ketegasan di mata Maya, lalu meludahi lantai. "Oke. Tiga hari. Kalau lewat satu jam saja, saya angkut semua barang di sini. Paham?"

​Setelah pria itu pergi dengan raungan motornya yang bising, Ibu langsung merosot ke kursi. "Maya... uang dari mana, Nak? Ibu benar-benar sudah tidak punya apa-apa lagi. Penipu itu membawa semua tabungan kita."

​Maya berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan yang mulai kasar itu. "Ibu jangan tanya uang dari mana dulu. Sekarang, Ibu istirahat. Biar Maya yang bersihkan tempat ini. Warung ini tidak boleh terlihat seperti gudang hantu kalau mau ada pembeli."

​"Tapi Maya, kamu kan capek baru datang..."

​"Sstt... sudah, Ibu masuk kamar. Ini perintah manajer," canda Maya pahit, mencoba menghibur.

​Begitu ibunya masuk kamar, Maya langsung mengambil kemoceng, sapu, dan kain pel. Dia melepas kemejanya, menyisakan kaos oblong putih, lalu mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Dia menyapu debu yang sudah setebal satu sentimeter di kolong meja makan. Dia mengelap kaca etalase yang buram sampai tangannya pegal. Sambil menyapu, dia melihat-lihat kondisi dapur. Benar-benar hancur. Banyak bahan makanan yang busuk karena tidak disimpan dengan benar.

​"Kacau. Benar-benar kacau," gumam Maya sambil membuang sekarung bawang merah yang sudah bertunas dan busuk.

​Perutnya keroncongan. Dia melihat ke meja kayu. Hanya ada nasi sisa tadi siang, dua butir telur, dan beberapa bumbu dasar di cobek. Maya mengambil ulekan batu yang berat. Dia memasukkan bawang merah, bawang putih, cabai rawit yang mulai layu, dan sedikit terasi.

​Tuk! Tuk! Tuk!

​Bunyi ulekan beradu dengan cobek batu memenuhi keheningan malam. Maya mengulek bumbu itu dengan emosi. Setiap tekanannya seolah menghancurkan wajah Adit dan Siska yang sudah mengkhianatinya. Sambal itu mulai mengeluarkan aroma pedas yang menyengat, bercampur gurihnya terasi bakar.

​Dia menyalakan kompor. Wajan panas dia beri sedikit minyak baru—satu-satunya botol yang masih tersegel. Begitu bumbu ulek itu masuk ke wajan, suara cesss! terdengar nyaring. Aroma bawang yang tertumis sempurna langsung memenuhi seluruh ruangan. Wanginya meresap sampai ke sela-sela kayu bangunan tua itu.

​"Harum sekali, Maya..." suara Ibu terdengar dari pintu dapur. Beliau terbangun karena aroma masakan yang begitu kuat.

​"Cuma nasi goreng, Bu. Tapi pakai bumbu rahasia Bapak," jawab Maya sambil mengayunkan wajan. Dia memasukkan nasi, lalu menambahkan kecap manis merek Bungong Desa dan sedikit lada putih.

​Teknik Maya memutar wajan sangat profesional, persis seperti koki restoran bintang lima. Nasi itu menari-nari di atas api besar, setiap butirnya terlapisi bumbu dengan rata. Aroma karamel dari kecap yang terkena panas wajan membuat siapa pun yang menciumnya pasti menelan ludah.

​Maya menyajikannya di dua piring kecil, dihias dengan irisan timun terakhir yang masih segar. "Ayo makan, Bu."

​Ibu menyuap satu sendok kecil. Begitu nasi itu masuk ke mulutnya, gerakan tangan Ibu terhenti. Matanya mulai berkaca-kaca.

​"Ibu kenapa? Rasanya aneh?" tanya Maya panik.

​Ibu menggeleng pelan sambil menyeka air mata yang tumpah. "Nggak, Nak. Ini... ini persis rasa masakan almarhum bapakmu. Dulu, bapakmu selalu bilang, rahasia sambal ulek itu bukan di bumbunya, tapi di perasaan orang yang menguleknya. Ibu nggak nyangka kamu masih ingat caranya."

​"Maya nggak pernah lupa, Bu. Masakan adalah satu-satunya hal yang nggak bisa dicuri orang dari kita," Maya tersenyum, meski hatinya terasa nyeri.

​Mereka makan dalam diam, menikmati kehangatan nasi goreng di tengah ketidakpastian nasib rumah mereka. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan suara angin yang kencang.

​Tiba-tiba, suara derit rem mobil yang sangat tajam terdengar dari arah jalan raya depan warung. Ciiiiiitttt! Diikuti suara mesin yang terbatuk-batuk lalu mati total tepat di depan pintu masuk.

​"Aduh, ada kecelakaan ya?" Ibu kaget dan hampir menjatuhkan piringnya.

​Maya berdiri, berjalan menuju pintu depan yang terbuka separuh. Cahaya lampu dari sebuah mobil hitam mewah—mereknya terlihat seperti Luxus edisi terbaru—menyilaukan mata. Asap tipis keluar dari kap mesin mobil itu.

​Seorang pria keluar dari pintu kemudi. Dia memakai setelan jas mahal yang sedikit berantakan, dasinya sudah ditarik lepas, dan kemejanya digulung sampai siku. Pria itu tampak sangat frustasi, dia memukul kap mobilnya sekali sebelum menoleh ke arah warung.

​Langkahnya tegap menuju teras warung Maya. Begitu dia masuk ke area cahaya lampu warung, Maya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Rahangnya tegas, matanya tajam, dan auranya sangat berkelas, sangat kontras dengan warung kayu yang nyaris roboh itu.

​Pria itu mengendus udara, hidungnya kembang kempis menghirup sisa aroma nasi goreng buatan Maya yang masih tertinggal di udara.

​"Malam," suara pria itu berat dan terdengar lelah.

​Maya terpaku sejenak, memegang serbet di tangannya. "Malam. Mobilnya mogok, ya?"

​Pria itu tidak langsung menjawab soal mobil. Matanya malah tertuju pada piring nasi goreng yang masih ada di atas meja makan. Perutnya tiba-tiba mengeluarkan suara keroncongan yang cukup keras, membuat suasana jadi canggung.

​Pria itu berdehem, mencoba menjaga martabatnya. "Iya, mesinnya sepertinya kepanasan. Saya sudah telepon montir tapi baru bisa datang satu jam lagi."

​Dia diam sebentar, lalu menatap Maya dengan tatapan memohon yang tidak sinkron dengan jas mahalnya. "Maaf, apa warung ini masih buka? Apa masih ada sisa makanan? Saya sudah menyetir lima jam dan lapar sekali."

​Maya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Sebenarnya kami sudah tutup, tapi..."

​"Tolonglah. Saya bayar berapapun. Aroma sambal dari dapur ini benar-benar membuat saya tidak bisa berpikir jernih," potong pria itu, suaranya terdengar sangat tulus dan kelaparan.

​Maya menoleh ke ibunya, lalu kembali ke pria asing itu. "Namanya siapa?"

​Pria itu tertegun sejenak, seolah tidak terbiasa ditanya namanya oleh orang asing di pinggir jalan. "Arlan. Nama saya Arlan."

​"Oke, Arlan. Silakan duduk. Saya buatkan sesuatu yang lebih baik dari sekadar nasi goreng sisa," kata Maya sambil berjalan kembali ke dapur.

​Arlan menarik kursi kayu yang tadi baru saja dilap bersih oleh Maya. Dia duduk di sana, menatap punggung Maya yang mulai sibuk lagi di balik tungku. Dia tidak tahu bahwa malam ini, rasa masakan perempuan itu akan mengubah hidupnya—dan hidup Maya—selamanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!