NovelToon NovelToon

Kau Pura-pura Sekarat, Aku Pura-pura Mati

Tipuan

"Aku melakukan semua ini hanya untuk menguji cintanya. Apa dia dapat bertahan dengan aku yang penderita kanker dan miskin. Kalau tidak dapat bertahan, itu artinya dia tidak tulus. Dan tidak pantas memasuki keluarga Wiguna." 

Suara tawa penuh senyuman terdengar dari kekasihnya, Romi. Di dalam sebuah restoran mewah di atas kapal. 

“Itu artinya kamu benar-benar mencintainya? Aku kira kamu hanya bermain-main dengan gadis miskin itu.” Dwika, teman Romi berucap. 

“Tidak, Aku benar-benar serius dengannya. Aku mencintainya karena itu aku melakukan pengujian besar ini. Berpura-pura miskin, berpura-pura mengidap kanker. Hanya Untuk mengujinya apakah dia akan bertahan, atau dia hanya matrealistis wanita materialistis yang menyukai uang.” Romi kembali meminum sedikit red wine.

“Benar! Untuk memasuki keluarga Wiguna, Kak Romi harus selalu berhati-hati kepada kekasihnya. Jangan sampai wanita itu hanya ingin memanfaatkan uang keluarga Wiguna untuk naik status.” Citra, teman masa kecil Romi berucap. 

“Ngomong-omong selamat ulang tahun Citra.” Romi memberikan sebuah kalung berlian kepadanya. 

“Semua makanan dan minuman Hari ini aku yang traktir.” Suara teriakan Romi mengangkat gelasnya.

Felicia yang berpakaian pelayan menutup mulutnya sendiri. Matanya menatap ke arah kekasihnya.

Dua setengah tahun mereka menjalani hubungan. Wanita itu mengira Romi hanya pria miskin. Benar-benar menjalin hubungan yang sederhana. 

Walaupun orang tua Felicia menentang, Felicia malah memutuskan hubungan dengan keluarganya sendiri. 

Pada bulan-bulan pertama mereka menjalin hubungan. Tiba-tiba Romi didiagnosa mengidap kanker.

Demi pengobatan kekasihnya, Felicia menjalani dua pekerjaan. Hanya tidur 4 sampai 5 jam sehari. Selalu mengkonsumsi mie instan, hingga sempat mengalami radang usus. Tapi itu hanya sebuah pengujian? Sebuah pengujian yang berjalan selama 2 tahun? 

Wanita itu memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak. 

Matanya menatap ke arah cincin stainless di jari manisnya. Pria yang mengatakan tidak memiliki uang untuk membeli perhiasan. Hanya membelikan cincin seharga rp20.000 di pinggir jalan. 

Tapi dapat membelikan kalung berlian untuk sahabatnya.

Felicia menghela nafas kasar. Citra yang memberikannya pekerjaan ini. Wanita itu sudah pasti sengaja melakukannya, agar Felicia mengetahui semua kenyataan ini.

Felicia meraih handphonenya. Kemudian mencoba menghubungi kekasihnya. Dirinya hanya mengintip dari pintu yang terbuka. 

“Sttt…Kalian diam. Felicia menghubungiku.” Isyarat yang diberikan oleh Romi kepada teman-temannya sembari mengacungkan jari telunjuknya di depan mulutnya. 

Ketika mengangkat panggilan darinya. Romi mulai melemahkan nada bicaranya. 

“Halo…Felicia? Apa kamu masih bekerja.”

“Em…Aku sedang bekerja.” Jawaban dari Felicia, menatap ke arah kekasihnya dari jauh. 

“Maafkan Aku, karena penyakitku memerlukan biaya operasi. Kamu harus bekerja keras demi aku…” kalimat yang diucapkan oleh Romi begitu pelan. 

“Tidak apa-apa.” 

“Felicia, Aku harap kamu bisa bersabar. Aku janji, setelah aku sembuh aku akan membahagiakanmu.”

“Em…” wanita yang hanya mengiyakan kata-kata Romi. Matanya melirik ke arah kekasihnya yang masih berada di sana. Tubuhnya terlihat sehat, tidak seperti saat berakting ketika berada di rumah sakit. 

“Felicia, maafkan Aku. Seharusnya kamu biarkan aku mati saja. 200 juta, bukanlah uang yang sedikit. Tapi kamu terus berjuang mengumpulkannya demi pengobatanku. Aku hanya ingin jadi beban dalam hidupmu.” 

“Romi, tidak ada yang tahu dengan usia manusia. Tidak ada yang tahu dengan hidup manusia. Karena itu jangan pernah bercanda tentang kematian.” Felicia mengucapkannya dengan nada dingin, kemudian mematikan panggilannya sepihak.

Rasa sakit masih menghujam dadanya. Seorang Nona muda keluarga Gunawan, bersedia meninggalkan keluarganya. Hanya karena jatuh cinta pada pria biasa. Bahkan bersedia menjalani dua pekerjaan hanya untuk pengobatan kekasihnya. 

Tapi semuanya hanyalah pengorbanan konyol. Sebuah pengorbanan cinta bagaikan tertutup lumpur.

“Dia mematikan panggilanku?” Romi mengangkat sebelah alisnya. 

“Tidak usah dipikirkan, seorang wanita miskin sepertinya bisa apa. Kamu hanya tinggal berbaik hati padanya, berikan dia satu atau dua benda yang dibeli di pinggir jalan, dia akan bahagia menganggap itu adalah harta berharga.” Tommy kembali menuangkan minuman ke dalam gelas milik Romi. 

“Iya benar, aku terlalu cemas. Mungkin dia memang sedang sibuk bekerja.” Romi kembali memasukkan handphonenya. 

“Romi, pakaikan kalungnya…” Citra tersenyum, meminta pria ini memakaikan kalung untuknya. 

Benar saja wanita yang begitu cantik, dari kalangan atas, itulah Citra. Pertemanan yang sama sekali tidak tahu batas. Setelah dipakaikan kalung Citra mengecup singkat bibir Roni. 

Orang-orang yang berada di sana malah bertepuk tangan. Sebenarnya segalanya apa bagi Romi? Apa semuanya hanya sebuah permainan?

Dirinya melangkah keluar dari restaurant. Menghela nafas kasar, matanya menatap ke arah hiruk pikuk orang-orang yang berlalu di dermaga. 

Tidak tahu ke mana tujuannya. Felicia hanya melangkah, tidak tentu arah.

“Romi…” panggilnya dalam keputusasaan. Tidak ada seseorang yang menguji cinta pasangannya selama 2 tahun. Tidak ada pria yang benar-benar mencintai, tapi tega melihat kekasihnya tidur 4 sampai 5 jam sehari, sementara pria itu hidup dalam kesenangan. 

Felicia menghela nafas. Matanya melirik ke arah sepasang kekasih yang menikmati udara dermaga. 

Sang pria melepaskan jaket hangatnya, kemudian memakaikan untuk kekasihnya.

“Sayang nanti kamu kedinginan…”

“Aku yang kedinginan tidak apa-apa. Asalkan bukan kamu, karena kamu begitu berharga bagiku.”

Felicia tersenyum lirih, air matanya masih mengalir. Wanita yang memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya hari ini. Mengemudikan motornya, ke sebuah tempat kost. Tempatnya tinggal selama ini. 

Menekan saklar lampu, matanya menatap ke arah foto dirinya dan Romi. Pria yang kebetulan berkenalan dan bertemu dengannya. 

Pria yang membuatnya jatuh hati. Tapi ketika hendak memperkenalkan kepada orang tuanya. Kedua orang tua Felicia tidak setuju, dirinya jatuh cinta pada pria biasa. Ayah dan ibunya ingin menjodohkannya dengan kakak angkatnya. 

Felicia menghela nafas. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. 

Ini sungguh konyol…dirinya meninggalkan rumah mewah milik keluarganya hanya untuk ini. Hanya untuk pria yang dapat hidup senang padahal membuat kekasihnya hidup susah. 

“2 tahun…2 tahun pengujian macam apa! Brengsek!” Suara teriakan yang melemparkan foto mereka.

Frame foto yang pada akhirnya pecah, membentur dinding. 

Semuanya hanya omong kosong. Benar-benar sebuah omong kosong. 

Felicia meraih handphonenya, rasa ragu ada dalam benaknya untuk kembali ke rumah. Jemari tangannya gemetar, ketika hendak menghubungi ayahnya. 

Namun, ini hanya satu-satunya jalan keluar. Romi mengatakan keluarga Wiguna. Itu artinya Romi bukan orang biasa, kemungkinan Romi adalah putra tunggal keluarga Wiguna. 

Jika ingin putus, tidak akan semudah yang dibayangkan. Tapi dirinya juga tidak ingin terjerat oleh cinta yang menyakitkan ini. Pengujian gila selama 2 tahun, Felicia bahkan sempat menjual rambutnya sendiri, hanya untuk kekurangan biaya pengobatan Romi. 

“Ha…hallo…” sapanya dengan nada bergetar ketika panggilannya diangkat. Wanita yang melarikan diri dari rumah, sudah lama mengganti nomor teleponnya. 

“Ini siapa?” Tanya seseorang di seberang sana, benar-benar suara ayahnya.

“A…ayah…ini aku Felicia.” Jawab Felicia menangis sesegukan. 

“Felicia? Ini kamu? Kamu ada di mana sekarang? Ayah janji, ayah akan menyetujui hubunganmu dengan pria miskin itu. Kembalilah ke rumah ya?” Pinta sang ayah merendahkan egonya sendiri. 

“A…aku ingin pulang. Aku janji akan menerima perjodohan dengan Gabriel. Ayah..."

Yang Mulia Suami

Suara yang dirindukan olehnya selama 2 tahun ini. Suara ayahnya, hanya karena Romi pernah menyelamatkan nyawanya. Dirinya jatuh cinta dengan pria itu. 

Cinta yang pada akhirnya kandas perlahan. 

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa pria itu menyakitimu!?” Suara bentakan dari sang ayah. Pria yang terdengar benar-benar emosional. 

“Aku ingin pulang…Aku ingin segera pulang…” kalimat yang diucapkan yang berurai air mata. 

“Ayah tidak bisa menjemputmu. Ayah masih berada di luar negeri sekarang. Tapi, Gabriel yang akan menjemputmu. Kirimkan saja lokasimu pada Ayah, ayah akan mengirimkannya pada Gabriel.” Sang ayah menghela nafas, berucap dengan nada berat. 

“Felicia, Kamu adalah satu-satunya Putri kebanggaan ayah. Ayah benar-benar tidak ingin kamu terpuruk. Karena itu tolong maafkan sifat Ayah yang terlalu protektif selama ini. Kita akan pulang dan berkumpul kembali…ya?” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sang ayah pelan. 

Felicia mengangguk.”Aku benar-benar ingin pulang sekarang…”

Panggilan yang kemudian dimatikan sepihak oleh wanita itu. Kemudian mengirimkan alamat lokasinya kepada ayahnya. 

Wanita yang menghela nafas berkali-kali. Matanya melirik ke arah foto lainnya. Foto kelulusannya, di sana ada dirinya, Gabriel, dan sang ayah. 

Mereka bertiga tersenyum, rambutnya yang indah terawat. Dirinya mengenakan pakaian yang indah. 

Namun sekarang, kapan terakhir dirinya membeli pakaian? Mungkin 2 tahun lalu. 

Felicia sempat menjual rambut panjangnya, untuk bahan dijadikan wig. Suatu hal yang benar-benar tidak sepadan. Saat ini rambutnya memang sudah kembali memanjang. Tapi tidak seindah rambut sebelumnya. 

Hingga dering suara telepon terdengar. Dengan nama pemanggil, Romi. 

“Halo…Felicia, bisa kamu ke rumah sakit sekarang? Ini keadaan darurat.” Kalimat yang diucapkan oleh pria itu dalam kepanikan. 

Permainan apa lagi yang ingin dilakukan oleh Romi. Felicia meraba foto kelulusan dirinya. Menghela nafas kasar.”Aku akan ke sana.” ucapnya mematikan panggilan. 

***

Wanita yang melangkah perlahan, menelusuri lorong rumah sakit. Menggunakan celana panjang yang kebesaran, ditambah dengan baju kaos di mana bagian lehernya sedikit sobek. 

Sejak kapan seorang Nona muda menjadi seperti ini? 

Hingga 3 orang berada di sana, Tommy, Dwika dan Rio. Mereka bertiga terlihat berada dalam kepanikan. Tiga orang yang katanya sahabat Romi. 

Tiga orang yang katanya sahabat Romi dari kalangan atas. Romi yang miskin memiliki tiga sahabat dari kalangan atas, itulah kebohongan yang dibuat oleh kekasihnya. 

Hingga pada akhirnya sosok Romi terlihat, mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Melangkah mendekatinya. 

“Felicia akhirnya kamu datang…” ucapnya menggenggam jemari tangan Felicia. Pria yang tanpa mengatakan apapun, menarik jemari tangan Felicia. 

“Felicia, kamu harus menolong Citra. Citra terjatuh dari tangga, kemudian tidak sengaja terkena pecahan kaca. Dia mengalami pendarahan. Golongan darahnya O negatif sama dengan golongan darahmu. Kamu bisa pasti bisa menyelamatkan—” kalimat dari Romi di sela. 

Wanita itu menghempaskan tangan Romi. 

“Bukankah kamu tahu aku menderita anemia? Mendonorkan darah pada orang lain itu berbahaya bagiku.” Felicia menata ke arah kekasihnya, matanya terlihat berkaca-kaca. 

“Felicia! Nyawa Citra saat ini ada dalam bahaya! Citra begitu baik padamu, jika ada pekerjaan maka dia akan memberikannya kepadamu. Dia juga sering memberikanmu pakaian bekas. Kita berhutang budi padanya!” Romi kembali mencengkram tangan kekasihnya. 

“Berhutang!? Aku tidak pernah berhutang kepada Felicia! Aku bekerja dan mendapatkan gaji darinya. Aku benar-benar bekerja keras. Dan semua itu kamu tahu, itu untuk pengobatanmu!” Wanita itu gemetar ketika mengucapkannya. Dirinya benar-benar dalam keadaan emosional saat ini. 

“Kamu menganggapku sebagai beban!?” Romi menatap tidak percaya padanya. 

Felicia menghela nafas.”Romi, aku memang rela berkorban untukmu, karena Aku mencintaimu. Tapi jika kamu tetap memaksa aku untuk mempertaruhkan nyawaku demi wanita lain. Lebih baik kita akhiri hubungan kita. Satu pertanyaan yang ada dalam benakku. Aku sudah membuktikan Jika aku mencintaimu sepenuh hati. Tapi, Bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu mencintaiku?”

“Aku akan membuktikan kalau aku mencintaimu. Setelah aku sembuh dari penyakitku. Tapi sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa Citra!” Romi kembali menariknya secara paksa.

“Romi, Jika kamu tetap seperti ini. Lebih baik anggap saja kita putus. Kita putus…maka aku akan bersedia mendonorkan darahku pada Citra.” itulah yang diucapkan oleh Felicia. 

Tommy kemudian berucap menggunakan bahasa Prancis, karena mengira Felicia tidak akan mengerti. Kurang lebih arti ucapannya seperti ini. 

“Sudah 2 tahun Felicia berkorban begitu banyak padamu. Dia hanya menggertakmu kali ini. Tidak mungkin dia benar-benar ingin putus denganmu.” Kurang lebih itulah yang diucapkan oleh Tommy menggunakan bahasa Perancis. 

Mereka mengira Felicia tidak mengetahuinya. Mereka mengira Felicia tidak bisa menggunakan bahasa Perancis. 

Wanita itu menatap ke arah Romi. Menunggu apa yang akan Romi katakan kepada Tommy. 

Benar saja pria itu menggunakan bahasa Perancis, mengatakan bahwa.” Felicia begitu mencintaiku, dia tidak akan meninggalkanku hanya karena hal ini. Tubuh Felicia jauh lebih kuat daripada Citra. Citra sudah terbiasa dimanjakan dari kecil. Aku memang akan menebus semua kesalahanku kepada Felicia. Tapi menyelamatkan Citra lebih penting saat ini.”

Ternyata cintanya begitu murah bagi Romi. 2 tahun, 2 tahun dirinya sudah melakukan banyak pekerjaan. Dari mulai pekerjaan sambilan sebagai buruh cuci. Sedangkan siang hari harus menjadi staff administrasi. 

Ketika gaji staff administrasi dirasanya kurang cukup. Dirinya beralih menjadi driver pengantar makanan. Bekerja siang dan malam saat ada orderan. 

Ketika ada pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dirinya akan mengambilnya. 

Gila! Sungguh gila, dirinya dipermainkan kali ini. 

Romi tetap menarik tangannya. Walaupun dirinya berkata kepada Romi.”Romi, kamu tahu betul aku menderita anemia. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku, jika kali ini kamu meminta hal seperti ini untuk menebusnya. Maka mungkin aku tidak akan mencintaimu lagi. Aku akan berbalik untuk membencimu.”

“Felicia, Sudah aku katakan aku akan menebusnya!” Romi kembali menarik jemari tangannya. 

Membawanya untuk mendonorkan darahnya kepada Citra. Wanita yang merasa benar-benar miris. Tentang bagaimana perlakuan kekasihnya. 

Kantong darah mulai terisi, dari selang yang mengalirkan darah. Tubuhnya perlahan terasa begitu lemah. 

“Ambil sebanyak-banyaknya. Yang terpenting selamatkan nyawa Citra. Felicia memiliki tubuh yang kuat, dia akan dapat menahannya.” Itulah yang dikatakan oleh Romi kepada perawat di Rumah sakit ini. 

Ini adalah salah satu aset milik keluarga Wiguna. Tentu saja hal ilegal seperti ini dapat dilakukan olehnya. Mengambil darah tanpa persetujuan pemiliknya. 

Perlahan Felicia memejamkan matanya, matanya benar-benar terasa begitu berat. Tubuhnya lemas perlahan, benar-benar tidak sadarkan diri. 

***

Ketika dirinya membuka mata, sinar matahari sudah melewati jendela. Itu artinya semalam dirinya benar-benar pingsan saat proses pengambilan darah. 

Aroma alkohol medis yang menyengat. Seseorang kini duduk di kursi samping tempat tidur pasien. Pria yang begitu rupawan, seorang pria yang 3 tahun lebih tua darinya.

Gabriel Gunawan, anak laki-laki yang diadopsi oleh ayahnya. Tumbuh besar bersamanya sebagai kakak laki-lakinya.

“Kakak…” panggilnya ketika membuka matanya. 

“Yang mulia suami. Panggil aku yang mulia suami…kata Ayah kamu sudah setuju untuk menikah denganku.”

Kakak

“Kakak, Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang.” Felicia menghela nafasnya. Orang ini adalah kakak angkatnya, walaupun bagaikan kakak kandung sejatinya. 

Ketika dirinya SMA, mereka berdua disekolahkan di sekolah internasional yang sama. Dirinya masih berada di sekolah menengah pertama. Sedangkan kakak angkatnya berada di sekolah menengah atas.

Orang ini memang selalu menjaganya. Sosoknya yang rupawan, otaknya yang cerdas, dan penampilannya yang begitu dingin. Membuat pria ini selalu menjadi idaman para wanita. 

Sudah tidak terhitung jumlahnya wanita yang meminta dirinya menjadi Mak comblang. Semua wanita ingin mendekati Gabriel Gunawan.

Ketika Valentine tumpukan coklat pemberian wanita penggemar kakaknya bisa memenuhi setengah ruangan. Dan semuanya diberikan kepada dirinya, adik Gabriel Gunawan oleh sang kakak.

“Baiklah aku tidak akan bercanda lagi. Kamu tahu hal yang terjadi semalam? Perawat membawamu ke IGD, kamu memiliki riwayat anemia tapi nekat mendonorkan darah. Itu benar-benar dapat mengancam nyawamu. Dan pria miskin yang mengejarmu, dia hanya peduli pada temannya. Meninggalkanmu menjalani perawatan. Aku…aku sebagai yang mulia suami datang. Kemudian menjagamu semalaman. Kamu seharusnya bersyukur memiliki yang mulia suami sepertiku…” Gabriel mengatakannya begitu lancar. Pria ini memang begitu narsis jika di hadapan adiknya. 

“Hueek…” Felicia mengeluarkan suara muntah, dalam artian mengejek kakaknya. 

“Kamu muntah? Tidak disangka menghabiskan waktu satu malam bersamaku dalam ruangan yang sama kamu sudah hamil.” Lagi-lagi kakaknya berucap begitu cepat. 

“Aku tidak hamil, Entah kenapa aku hanya selalu mual dengan kata-katamu.” Felicia hanya dapat menghela nafasnya.

Wanita itu kembali menghela nafas. Jemari tangannya mengepal, matanya menatap ke arah sang kakak.“Bagaimana sebenarnya keadaan wanita itu? Bagaimana sebenarnya keadaan wanita bernama Citra?” 

“Dia? Kamu dapat menebaknya sendiri cedera macam apa yang dialami oleh seseorang yang terjatuh dari tiga anak tangga. Hanya terkena sedikit pecahan kaca, mengalami pendarahan yang tidak bisa berhenti. Tidak! Pendarahannya sudah berhenti, setelah 1 jam…” Gabriel meraih bubur yang ada di atas meja. 

“Setelah 1 jam?” Felicia menatap tidak percaya padanya. 

“Aku sedikit menyelidiki tentang wanita ini semalam. Dia menyuap dokter, memberikan informasi palsu bahwa dirinya mengalami cedera serius. Padahal pendarahannya tidak dapat berhenti begitu saja, karena pengaruh sistem imunnya. Gejala AIDS. Orang ini pernah tinggal di luar negeri, aku juga tidak tahu pasti mungkin kehidupannya lumayan berantakan. Ingat! Kamu jangan dekat-dekat dengan mereka, jangan bergaul dengan mereka. Mereka itu kotor…” kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh kakaknya. 

Sang adik mengangguk dengan cepat. 

“Sekarang sebaiknya Felicia pulang, nanti aku belikan permen di jalan.” Gabriel mengedipkan sebelah matanya. 

“Aku bukan anak kecil lagi.” Felicia mengunyah bubur yang disuapkan oleh Gabriel. 

“Memang bukan anak kecil lagi. Bentuk tubuhmu lumayan, benar-benar membuatku bernafsu.” Kata-kata yang benar-benar tidak tahu malu dari Gabriel. 

Inilah kakaknya, inilah orang yang tubuh besar dengannya. Karena orang ini juga dirinya melarikan diri dari rumah. Ayahnya ingin dirinya menikahi kakak angkatnya. 

Itu karena Felicia tidak memiliki kemampuan dalam berbisnis. Sedangkan Gabriel, bagaikan putra kebanggaan dari ayah dan ibunya. Tidak heran kedua orang tuanya, tidak ingin melepaskan Gabriel begitu saja. 

“Tutup mulutmu…” Felicia berusaha keras untuk tersenyum, menghadapi pria ini memang tidak boleh menggunakan otak yang waras.

“Aku akan menutup mulutku. Tapi, setelah ini kita pulang?” Ucap Gabriel antusias. 

“Di kota ini keluarga Wiguna begitu berkuasa. Mungkin di kota lain kita berada di tempat paling atas. Kakak fikir dapat dengan mudah melarikan diri dari kota ini denganku?” Pertanyaan pelan dari Felicia. 

“Apa identitas pacarmu benar-benar Romi Wiguna? Ternyata selera adikku benar-benar tidak main-main. Tapi, orang ini benar-benar keterlaluan, membuat adikku menjadi kurus seperti ini. Begini saja, Kakak akan membalaskan dendammu…Bagaimana jika kita runtuhkan keluarga Wiguna. Lalu tertawa di atas kehancuran mereka…ha… ha…ha…” suara tawa Gabriel terdengar. 

“Dasar gila.” Felicia mengangkat sebelah alisnya. 

“Kakak…menurutmu Apa hal yang membuat seorang pria lebih sakit hati daripada kehilangan nyawanya?” Felicia terdiam sejenak, 2 tahun hidupnya tidak dapat ditebus. Rambutnya yang indah juga sudah terjual sebagai wig.

Radang usus sempat dialami olehnya, sebuah rasa sakit yang tidak tertahankan. Rasa cinta kepada Romi sudah memudar. Atau sudah benar-benar lenyap dalam kekecewaan. 

Gabriel menatap lekat ke arah Felicia.”Kehilangan sesuatu yang paling dicintai olehnya. Itulah saat-saat paling terpuruk bagi seorang pria. Rasanya seperti mau mati…”

Wanita itu menatap ke arah Gabriel, kemudian berusaha untuk tersenyum.”Aku ingin pergi dan menghilang tanpa keributan. Aku tidak ingin dia mencariku lagi. Tapi aku juga ingin dia merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Karena itu…apa Kakak bisa membantu?”

“Bagaimana caranya?” Gabriel tidak mengerti, memiringkan kepalanya menatap ke arah adik angkatnya. 

“Kakak bilang penyesalan seorang pria adalah tidak bisa memiliki sesuatu yang benar-benar dicintai olehnya. Aku ingin membuat kematian yang menyakitkan bagiku…Aku ingin dia selalu mengingatku, sebagai dosa dan kesalahan besar yang dia lakukan.” Sebuah keputusan gila yang diambil oleh Felicia. 

Gabriel hanya dapat menghela nafas. Jalan pikiran wanita ini memang sedikit unik. 

“Jadi apa yang akan kamu lakukan?” Gabriel mengangkat sebelah alisnya. 

“Aku akan menjadi kekasih sebaik malaikat untuk Romi sementara waktu ini.” Felicia tersenyum tidak tahu malu.

Sedangkan Gabriel membulatkan matanya.”Goblok…si goblok.” 

“Aku tidak bodoh! Dia sudah memainkan drama ini selama 2 tahun. Kakak tidak tahu penderitaan yang aku alami, kakak tidak tahu pengorbanan yang aku lakukan. Kakak tidak tahu bagaimana aku menangis di depan ruang UGD, sementara dia berpura-pura sekarat Dan hampir mati. Jika aku tidak menuntut balas maka itu tidak adil!” Felicia menoleh ke arah lain. 

“Tapi tadi kamu bilang menjadi kekasih yang begitu baik bagaikan malaikat. Lalu sekarang tiba-tiba mengatakan dendam padanya. Kamu benar-benar kontradiksi.” Gabriel menghela nafas kasar. 

“Maksudku, tahu adegan dari film-film sedih, di mana pemeran utama pria tidak dapat memiliki pemeran utama wanita? Padahal pemeran utama wanita mengalami masa sulit. Mengalami rasa sakit karenanya. Aku ingin membuat adegan syuting itu dalam dunia nyata. Dia berani mempermainkan seorang Felicia Gunawan. Di dalam drama pria sekarat. Maka aku akan mempermainkannya dalam drama pengorbanan cinta hingga mati.” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Felicia penuh keyakinan. 

Sedangkan Gabriel kembali menyuapinya. Kemudian kembali menyuapi mulutnya sendiri dengan sendok yang sama. 

“Kamu benar-benar jorok.” Felicia mengunyah bubur yang ada di mulutnya sendiri. 

“Jorok karena berbagi sendok denganmu? Anggap saja ini adalah ciuman tidak langsung.” Gabriel tersenyum tidak tahu malu. 

“Ciuman tidak langsung? Itu namanya berbagi bakteri. Kakak goblok…si goblok!” Felicia menghela nafas, melihat kelakuan kakaknya. 

“Felicia, Kenapa tidak langsung runtuhkan keluarga Wiguna saja. Kita pergi dengan cara membuat keributan dengan gaya. Daripada pergi diam-diam membuat adegan cinta menyakitkan. Itu lama…aku memiliki banyak urusan bisnis di luar kota.” Gabriel menatap penuh harap kepada adiknya. 

“Ya sudah pergi saja…nanti kalau sudah saatnya aku akan menghubungi kakak untuk—”

“Tidak mau! Nanti kalau kamu tergoda dan kabur dengan pria itu lagi. Itu benar-benar bisa berbahaya.”

“Aku tidak akan kabur dengan pengkhianat.”

“Omong kosong…” 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!