NovelToon NovelToon

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Jantung Yang Hilang

Hujan deras mengguyur kota sejak sore hari, mengetuk kaca-kaca jendela mansion megah milik keluarga D'Alterio dengan irama yang kelam dan konstan. Di dalam ruang keluarga yang sangat luas, kehangatan yang belasan tahun lalu selalu menghiasi setiap sudut rumah kini digantikan oleh hening yang mencekam.

Di atas perapian besar yang menyala redup, bergantung sebuah bingkai foto berukuran raksasa. Foto keluarga terakhir yang diambil tepat empat belas tahun lalu, sebelum tragedi berdarah penyerangan markas yang memisahkan mereka dari putri bungsu tercinta.

Amoera duduk terpaku di sofa beludru hitam. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah bingkai tersebut tanpa berkedip. Di dalam foto itu, seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan sepasang mata bulat berbinar dan senyuman paling manis tengah berada di dalam dekapannya.

"Alaura ...," lirih Amoera, suaranya parau menahan gelombang kerinduan yang membakar dada.

Jemarinya yang gemetar menggenggam erat selembar gaun merah muda kecil milik putrinya yang masih ia simpan dengan rapi. Gaun itu sudah memudar warnanya, namun harum kenangan masa kecil Alaura seolah masih tertinggal di sana.

"Sudah empat belas tahun, Sayang ... Di mana kamu sekarang? Apakah kamu tumbuh dengan baik? Apakah orang yang membawamu memberimu makanan yang layak? Apakah kamu kedinginan di luar sana?" Amoera terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan gaun kecil tersebut.

Leon D'Alterio, sang Don Cosa Nero melangkah mendekat dari arah belakang. Pria tegap yang kini gurat ketegasannya dipenuhi duka mendalam itu melingkarkan kedua tangannya di bahu sang istri. Ia menyandarkan dagunya di kepala Amoera, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang hendak menetes.

Sebagai seorang mantan King Cosa Nero yang ditakuti di seluruh dunia bawah, Leon merasa dirinya adalah pria paling tak berguna di dunia. Kekuasaan, harta berlimpah, dan ribuan pasukan bersenjata yang ia miliki seolah tak ada artinya karena sampai detik ini, ia tak mampu menemukan keberadaan putri tunggalnya, Alaura Princess D'Alterio.

Sejak penyerangan brutal musuh saat Alaura berusia lima tahun yang memisahkan bocah itu dari pengawalan dan menghilangkan jejaknya tanpa sisa, dunia Leon dan Amoera seolah runtuh. Mereka mengerahkan seluruh armada jaringan intelijen, menggeledah setiap sudut kota hingga luar negeri, namun pencarian itu selalu membentur dinding hampa.

"Kita akan menemukannya, Amoera ... Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak akan pernah berhenti mencari Alaura sampai napas terakhirku," bisik Leon dengan suara dalam dan bergetar.

Tak jauh dari mereka, dua pria dewasa bertubuh jangkung berdiri bersandar di balik pilar. Eren dan Enzo, si kembar yang kini telah tumbuh menjadi eksekutor mafia yang dingin, ditakuti, dan tak berperasaan menatap foto adik kecil mereka dengan raut wajah keras.

"Eren," panggil Enzo pelan tanpa menoleh, matanya terpaku pada sosok balita di foto itu. "Aku kangen celotehan cadel si kecil ...,"

Eren mengepalkan tangannya di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi renyah. "Aku juga, Enzo. Dan jika kita menemukan siapa pun yang menyembunyikan Alaura dari kita selama ini ...," Sorot mata Eren berkilat membunuh, "... aku sendiri yang akan menguliti mereka hidup-hidup tanpa sisa."

"Andai Kak Kael masih ada, dia tak akan mungkin membiarkan Alaura hilang. Tapi nyatanya, dia pergi dan tak lagi kembali," lirih Eren.

Kael dulunya anak angkat Leon. Namun, kedekatannya dengan Alaura membuat Leon khawatir hingga berniat membawa Kael pergi jauh. Tapi naas, sebelum hal itu terjadi. Kael tiba-tiba menghilang.

Kehampaan di rumah itu begitu pekat, seolah takdir tengah menyembunyikan sang Princess di balik kabut tebal yang sangat jauh dari jangkauan mereka.

.

.

.

.

Berjarak puluhan kilometer dari kemewahan mansion D'Alterio, di sebuah pemakaman umum yang sepi dan berlumpur, seorang gadis muda berusia 19 tahun tengah berlutut di depan sebuah gundukan tanah yang masih basah.

Gadis itu adalah Kiyora Aleena yang tak lain adalah Alaura sang princess D'Alterio . Namun, ia tak lagi mengenakan gaun mewah atau perhiasan mahal. Ia hanya mengenakan baju lusuh berukuran kebesaran yang sudah pudar warnanya dan celana kain yang menipis di bagian lutut. Hujan yang turun membasahi tubuh mungilnya, menyamarkan tetesan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya yang kemerahan.

"Kakek ... kenapa Kakek tinggalkan Kiyora secepat ini?" bisik Kiyora tersedu-sedu. Tangannya yang mungil mengelus papan nisan kayu bertuliskan nama Kakek Rendra.

Bagi Kiyora, Kakek Rendra adalah satu-satunya pelindung dan tempatnya berteduh selama bertahun-tahun. Setelah hilang di usia lima tahun akibat tragedi penyerangan, yang membuat ingatan masa kecilnya terkunci rapat akibat trauma hebat, Kakek Rendra-lah yang menemukannya terlunta-lunta di jalanan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun hidup sangat sederhana, Kakek Rendra selalu memperlakukan Kiyora bagai seorang putri raja.

Namun kini, pria tua yang baik hati itu telah berpulang ke sang maha kuasa, meninggalkan Kiyora seorang diri di tengah kejamnya keluarga angkatnya.

"Kiyora janji bakal jadi anak yang tetap ceria seperti kata Kakek ... tapi tolong jemput Kiyora, Kakek ... Kiyora takut di rumah itu sendirian ...," tangisnya pecah, menyembunyikan wajah di kedua lututnya yang gemetar.

"HEI! WANITA SIALAN! MALAH ENAK-ENAKAN NANGIS DI SINI!"

Sebuah teriakan melengking yang sangat kasar mendadak memecah keheningan pemakaman. Kiyora tersentak kaget dan refleks mendongak dengan mata sembabnya. Dari balik payung hitam, muncul tiga orang yang sangat ia kenali, keluarga angkatnya sendiri dari Keluarga Whitmore.

Roman Whitmore, anak kandung mendiang Kakek Rendra melangkah maju dengan wajah bersungut-sungut, didampingi istrinya yang licik, Rika, serta putri tunggal mereka yang seusia dengan Kiyora, Selena.

"Bisa-bisanya kamu buang-buang waktu di makam tua bangka ini!" bentak Rika seraya menarik paksa lengan Kiyora hingga gadis itu terhuyung berdiri dan hampir jatuh di lumpur. "Rumah masih kotor, baju menumpuk belum dicuci, makanan belum dimasak! Kamu pikir kamu di rumah itu ratu, hah?!"

"T-Tapi Tante ... Kiyora cuma mau mengantar Kakek untuk terakhir kalinya ...," cicit Kiyora pelan. Meskipun memiliki sifat dasar yang ceria di intimidasi tiada henti dari keluarga Whitmore sejak Kakek Rendra sakit-sakitan membuat Kiyora merasa ciut.

"Alasan saja kamu!" celetuk Selena, sepupu angkatnya yang mengenakan pakaian modis dan bersolek tebal. Selena menatap Kiyora dengan tatapan jijik dan iri.

Walaupun Kiyora hanya mengenakan pakaian lusuh dan berantakan karena hujan, keindahan alami wajah Kiyora, kulit putih bersih, sepasang mata bulat yang hidup, serta bibir merah muda alami, selalu berhasil membuat Selena kalah saing dan terbakar cemburu.

"Pasti kamu sengaja kan nangis-nangis di sini biar dikasihani orang-orang?! Cepat pulang sana! Cuci bajuku dan bersihkan kamarku sampai mengilap!" perintah Selena angkuh seraya mendorong bahu Kiyora hingga gadis itu mundur beberapa langkah.

Sejak Kakek Rendra meninggal dunia, status Kiyora di keluarga Whitmore tak ubahnya seperti seorang pembantu gratisan. Roman dan Rika yang pemalas serta serakah selalu menumpahkan seluruh pekerjaan rumah tangga ke pundak gadis 19 tahun itu.

"Iya ... Kiyora pulang sekarang ...," jawab Kiyora menundukkan kepala dalam-dalam.

Sambil melangkah menembus hujan, jemari mungilnya mengelus lembut pergelangan tangan kirinya, tempat di mana sebuah gelang perak berbandul batu merah darah melingkar cantik. Gelang misterius itu adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuhnya sejak kecil, harta paling berharga yang selalu ia sembunyikan setengah mati dari jangkauan tangan serakah Rika dan Selena.

_________________________________

Mengganti Pengantin

Dua minggu berlalu setelah kematian Kakek Rendra, dan kehidupan Kiyora berubah menjadi neraka kecil. Dari terbit matahari hingga larut malam, Kiyora harus mengepel lantai seluruh rumah, mencuci tumpukan pakaian, menyiapkan makanan, hingga memijat kaki Rika dan Selena.

Pagi itu, Kiyora tengah berlutut mengepel lantai ruang tamu. Wajahnya agak pucat karena kelelahan, namun dasar jiwanya yang ekstrovert dan agak centil, ia mencoba mengusir rasa sedihnya dengan berbicara sendiri pada kain pel di tangannya.

"Wahai kain pel yang tidak seberapa ini, bersihkanlah lantai ini dengan penuh cinta ya ... Supaya Tante Rika nda kumat emosinya, kasihan nanti keriputnya makin mirip kulit jeruk purut. Semoga malaikat terima dia di surga, hais ...," gumam Kiyora berbisik sembari tertawa pelan sendiri.

"Kiyora! LAMA BANGET NGEPELNYA! CEPAT BUATKAN KOPI UNTUK PAMANMU!" teriak Rika dari arah dapur.

"Iya Tante Rika yang cantik tapi galak, ini Kiyora meluncur!" sahut Kiyora dengan nada cempreng cerianya.

"Cerewet banget dah tuh tante, kalau sabarku habis udah ku buat semur tuh orang," gerutu Kiyora kesal.

Namun, belum sempat Kiyora berdiri, pintu depan rumah keluarga Whitmore tiba-tiba didobrak dengan sangat keras dari luar!

Brak!

Pintu kayu itu hampir roboh dari engselnya. Tiga orang pria bertubuh kekar dengan jas hitam mahal dan tato bernuansa garis gelap di leher mereka melangkah masuk dengan santai namun memancarkan aura membunuh yang pekat.

Roman Whitmore yang sedang duduk di sofa langsung melompat kaget, wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat. Rika dan Selena yang baru keluar dari kamar pun langsung menjerit ketakutan.

Kiyora yang masih memegang kain pel hanya bisa terperangah di sudut ruangan, matanya membulat menatap tiga pria menakutkan itu.

"Waduh ... ini debt collector versi mafia atau gimana? Ganteng-ganteng tapi seram banget ...," batin Kiyora panik.

Pria bertubuh paling jangkung yang memimpin rombongan itu melangkah maju, melempar sebuah map hitam tebal ke atas meja hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.

"Roman Whitmore," panggil pria itu dengan suara berat yang dingin. "Batas waktu pelunasan utangmu sudah habis hari ini."

Roman gemetar hebat, kedua lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut di lantai. "T-Tolong, Pak ... Bawa kasihanilah kami ... Beri kami waktu satu bulan lagi ...,"

"Satu bulan?" Pria berjas hitam itu tertawa sinis, sebuah tawa tanpa nada humor yang membuat bulu kuduk Kiyora meremang. "Utang pokok beserta bunga dan denda keterlambatanmu pada sindikat Salvatore kini sudah menyentuh angka lima miliar rupiah. Tuan Salvatore tidak pernah memberikan toleransi kedua untuk pemalas sepertimu."

Mendengar nama Salvatore, Roman dan Rika serasa disambar petir di siang bolong.

Di dunia bawah, siapa yang tidak kenal nama Salvatore? Pimpinan mafia tertinggi yang menguasai jaringan keuangan dan bisnis gelap. Sosoknya dikenal sangat dingin, genius, dan tanpa ampun. Siapa pun yang berani menunggak utang pada Don Salvatore, dipastikan akan menghilang dari muka bumi sebelum matahari terbit berikutnya.

"Pak! Tolong! Jangan bunuh suami saya!" Rika menangis histeris, memeluk kaki pengawal mafia itu. "Kami memang tidak punya uang lima miliar ... T-Tapi kami punya sesuatu yang lain!"

Rika tiba-tiba menoleh ke arah Selena yang berdiri gemetar di belakangnya. Rika menarik lengan Selena dengan kasar ke depan.

"Maaa!"

"Lihat anak saya, Selena! Dia masih muda, berusia 19 tahun, cantik, dan sangat penurut! Sampaikan pada Tuan Salvatore ... kami sudi menyerahkan Selena untuk dijadikan pengantin atau simpanan Tuan Salvatore sebagai pengganti pelunasan utang lima miliar itu!" cerocos Rika tanpa malu.

Selena tersentak kaget, namun detik berikutnya, rasa takut di wajahnya berganti dengan kilatan serakah. Menikah dengan seorang Tuan mafia kaya raya seperti Salvatore adalah tiket emasnya untuk keluar dari kemiskinan dan hidup bergelimang harta, peduli setan dengan rumor kekejaman pria itu.

"I-Iya Pak! Saya bersedia nikah sama Tuan Salvatore!" seru Selena dengan percaya diri, membusungkan dadanya.

Pengawal mafia itu menatap Selena dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin, lalu merogoh ponsel di sakunya dan menelepon sang atasan. Setelah beberapa menit menyampaikan tawaran tersebut dengan nada pelan, pengawal itu mematikan ponselnya.

"Tuan Salvatore menyetujuinya," ucap pengawal itu datar. "Pernikahan akan dilaksanakan secara privat di rumah ini. Jika kalian mencoba melarikan diri, seluruh keluarga kalian akan dibantai."

Roman dan Rika bernapas lega, sementara Selena tersenyum penuh kemenangan.

Sedangkan Kiyora hanya menganggukkan kepalanya, "Setidaknya 1 beban di rumah ini pergi," gumamnya.

.

.

.

.

Hari yang ditentukan pun tiba. Rumah keluarga Whitmore yang sempit dihias seadanya dengan kain-kain putih. Selena duduk di depan cermin kamar dengan gaun pengantin putih berenda yang terkesan mencolok dan riasan wajah yang sangat tebal. Ia tersenyum bangga menatap bayangannya sendiri, merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia.

Sementara itu, di dapur belakang yang pengap, Kiyora tengah sibuk menyiapkan nampan minuman. Hari ini ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang sudah agak kusam, satu-satunya pakaian paling bersih yang ia miliki. Rambut panjangnya diikat ke belakang asal-asalan, namun keindahan alami wajahnya justru terpancar murni tanpa polesan makeup sedikit pun.

"Kiyora! Cepat bawakan nampan teh ke ruang tamu! Rombongan Tuan Salvatore sudah sampai!" teriak Rika kasar dari lorong.

"Iya Tante Rika! Ini Kiyora jalan, jangan teriak-teriak nanti suaranya habis!" sahut Kiyora ceria sembari mengangkat nampan kayu berisi cangkir-cangkir teh hangat.

Kiyora melangkah menuju ruang tamu. Namun, begitu kakinya melewati pintu penyekat, langkah Kiyora mendadak terhenti kaku.

Suasana ruang tamu terasa teramat sangat menekan. Puluhan pengawal bersenjata lengkap berbaris rapi dan siaga di sepanjang dinding. Dan di tengah ruangan, duduk seorang pria bertubuh tegap di atas kursi tunggal.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan hasil jahitan penjahit kelas atas Italia. Wajahnya sangat tampan dengan rahang tegas, namun sepasang mata hitamnya memancarkan aura dingin, dominan, dan penuh intrik yang sanggup membuat siapa saja berlutut ketakutan. Pria itu adalah Salvatore.

Kiyora menelan ludahnya dengan susah payah. "Waduh ... itu Tuan mafianya? Ganteng banget kayak pangeran di komik, tapi mukanya datar banget kayak papan kuburan ...," batin Kiyora menjerit gemas sekaligus meremang.

Dengan hati-hati dan sedikit gemetar, Kiyora berjalan mendekat untuk meletakkan nampan teh di atas meja kayu.

"P-Permisi, papan ... eh, Maksud Kiyora, Tuan ... ini teh hangatnya diminum dulu biar ndak emosi melulu ...," cicit Kiyora refleks melontarkan celotehan ekstrovertnya dengan senyuman canggung.

Salvatore sama sekali tidak menjawab. Manik mata hitamnya yang semula sedingin es, mendadak terkunci lurus pada sosok gadis di hadapannya.

Tatapan Salvatore bergerak perlahan, menyusuri garis wajah Kiyora, turun ke lehernya, hingga pandangannya berhenti tepat di pergelangan tangan kiri gadis itu. Di sana, melingkar sebuah gelang perak dengan bandul batu merah darah.

Deg!

Jantung Salvatore seolah berhenti berdetak seketika. Manik matanya melebar sempurna, kilatan syok dan gelombang emosi yang dahsyat berkecamuk hebat di dalam dadanya. Batu merah darah itu ... ia sangat mengenalinya.

"Alaura?" batin Salvatore menjerit.

Selama empat belas tahun Salvatore menghilang dan bertarung berdarah-darah membangun kerajaannya di Italia, ia tak pernah sekali pun berhenti melacak keberadaan putri kecil yang dulu selalu menempel padanya. Salvatore mengenali gelang ikatan darah itu, gelang yang ia sematkan sendiri di tangan Kiyora sebelum tragedi penyerangan terjadi!

"Tuan Salvatore ...," Roman Whitmore maju mendekat dengan senyum memeluk bola. "Ini anak saya, Selena, sudah siap menjadi pengantin Anda. Pernikahan bisa kita mulai sekarang—"

"Siapa gadis ini?" potong Salvatore dengan suara berat, dalam, dan dingin yang menggema di seluruh ruangan, memotong ucapan Roman mentah-mentah. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit menunjuk lurus ke arah Kiyora yang masih memegang nampan.

Rika tertawa canggung seraya mengibaskan tangannya. "Oh, dia? Dia cuma pembantu di rumah ini, Tuan! Anak angkat tidak berguna yang kami beri tumpangan hidup. Jangan hiraukan dia, mari fokus pada Selena pengantin Anda—"

"Aku tidak bertanya apa statusnya di rumah ini," sela Salvatore lagi dengan tatapan tajam yang sanggup membekukan darah Rika di tempat.

Salvatore perlahan berdiri dari duduknya. Langkah kakinya yang tegap dan penuh dominasi bergerak mendekati Kiyora. Setiap langkah Salvatore membuat jantung Kiyora berdegup kencang bagai benderang perang.

Gadis 19 tahun itu mundur satu langkah karena gugup. "E-Eh, Om ... maksudku Tuan ... kenapa lihat aku begitu? Benar, aku hanya pembantu, tidak banyak daging yang bisa kamu makan dengan membunuhku." celetuk Kiyora asal karena saking paniknya.

Di luar dugaan, sudut bibir Salvatore yang tadinya datar terangkat sangat tipis, sebuah ukiran senyum tipis yang tak pernah terlihat oleh siapa pun di dunia bawah selama belasan tahun.

Salvatore menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kiyora. Tanpa memedulikan tatapan bingung seluruh orang di ruangan itu, Salvatore mengulurkan tangan tegapnya, meraih jemari tangan kiri Kiyora, dan mengelus lembut permukaan gelang berbandul merah tersebut dengan penuh kehangatan.

Sentuhan itu membuat tubuh Kiyora tersengat aliran listrik aneh. Ada perasaan familiar, hangat, dan aman yang mendadak menyeruak di relung hatinya, sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sejak Kakek Rendra meninggal.

Salvatore kemudian mengalihkan pandangannya menatap tajam ke arah Roman dan Rika yang mulai gemetar ketakutan.

"Aku merubah syarat pelunasan utang kalian," tegas Salvatore dengan nada mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.

Selena yang mendengar hal itu langsung maju dengan raut wajah panik. "M-Maksud Tuan Salvatore bagaimana? Saya pengantinnya, Tuan! Saya yang sudah pakai gaun ini!"

Salvatore bahkan tidak sudi menoleh sedikit pun pada Selena. Mata hitamnya tetap terkunci lekat pada manik mata bulat milik Kiyora.

"Pernikahan tetap dilangsungkan hari ini," ucap Salvatore lantang, suaranya menggema penuh otoritas. "Tapi pengantin wanitaku ... adalah gadis ini."

"APA?!"

Teriakan syok membahana seketika dari mulut Roman, Rika, dan Selena. Wajah mereka pucat pasi seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Rencana mereka untuk menjadikan Selena ratu mafia hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

Sementara itu, Kiyora melotot sempurna dengan mulut menganga tak percaya. Nampan kayu di tangannya hampir saja merosot jatuh jika Salvatore tidak dengan cepat menahannya.

"E-Eh?! Nanti dulu, Om!" pekik Kiyora heboh dengan mata bulatnya yang berbinar kaget. "Kiyora baru 19 tahun! Belum siap jadi istri mafia! Lagi pula Kiyora cuma niat nganter teh, kok malah diajak nikah ngasal begini?!"

Salvatore tidak memedulikan protes ceria nan menggemaskan dari sang Princess. Ia menarik lembut genggaman tangannya pada pergelangan tangan Kiyora, menatap gadis itu dengan sorot mata posesif dan penuh janji perlindungan yang telah tertunda selama empat belas tahun.

"Namamu mulai hari ini bukan lagi pembantu ...," bisik Salvatore rendah di dekat telinga Kiyora, membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah. "Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku, Alaura."

Degh!

___________________________

Ratuku

Jantung Kiyora seakan berhenti berdetak detik itu juga. Nama itu ... Alaura?

Sebuah sengatan rasa sakit yang mendadak menghantam kepala Kiyora. Bayangan samar tentang sebuah mansion besar, harum bunga mawar, dan suara bisikan lembut seorang wanita yang memanggil nama itu mendadak terlintas sekilas di benaknya sebelum menghilang secepat kilat, meninggalkannya dalam rasa pusing yang hebat.

Siapa pria ini? Kenapa cara dia menyebut nama Alaura terasa begitu sarat akan rasa rindu, kepedihan, dan kerinduan belasan tahun?

"A-Alaura?" bisik Kiyora terbata, matanya yang bulat menatap lurus ke dalam manik mata hitam Salvatore yang begitu dalam. "N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia ... Mungkin salah orang kali ...,"

"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," potong Salvatore dengan suara rendah namun begitu mengikat.

Tanpa meminta persetujuan siapa pun, Salvatore menggeser genggaman tangannya dari pergelangan tangan Kiyora turun menuju jemari mungil gadis itu, menyatukan jemarinya dengan erat. Sensasi dingin dari sarung tangan kulit Salvatore berpadu dengan kehangatan genggamannya, seolah tak berniat melepaskan Kiyora untuk kedua kalinya dalam hidupnya.

"T-TUAN SALVATORE! TIDAK BISA BEGITU!"

Selena memekik histeris, melangkah maju dengan gaun pengantin mewahnya yang kini terasa begitu konyol. Matanya memerah akibat rasa malu dan amarah yang meluap-luap.

"Dia itu cuma pembantu sialan! Dia tidak punya tata krama, busuk, dan tidak pantas bersanding dengan Anda! Saya pengantin Anda, Tuan! Saya yang sudah dirias dari pagi!" cerocos Selena tanpa sadar bahwa ia sedang menggali kuburannya sendiri.

Srett.

Dalam hitungan milidetik, tangan kanan Salvatore yang bebas merogoh balik jas hitamnya. Sebuah pistol berperedam berselimut ukiran perak mengkilap kini sudah tertuju presisi tepat di antara kedua mata Selena.

Suasana di ruangan itu seketika berubah membeku. Bahkan deru napas pun seolah tertahan.

"Satu patah kata lagi keluar dari mulutmu tentang istriku ...," bisik Salvatore dengan nada yang sangat tenang, namun kejamnya sanggup membuat bulu kuduk bergidik, "Peluru ini akan menembus kepalamu sebelum kamu sempat berkedip."

Selena membatu. Wajahnya yang tadinya kemerahan akibat marah, kini pucat pasih tanpa darah. Kakinya melemas hingga ia jatuh terduduk di lantai, gemetar hebat menatap moncong senjata yang begitu dekat dengan dahi mulusnya.

"T-Tolong, Tuan Salvatore! Ampuni anak saya!" jerit Rika histeris, berlutut sambil memeluk kaki istrinya bersama Roman yang sudah terkencing di celana karena ketakutan. "Bawa saja Kiyora! Ambil dia! Kami tidak akan pernah menuntut apa pun! Utang kami dianggap lunas, kan?!"

Salvatore sama sekali tidak melirik pasangan suami istri yang menjijikkan itu. Ia menyarungkan kembali senjatanya dengan gerakan elegan yang amat tenang, seolah bahaya yang baru saja ia tebarkan hanyalah angin berlalu.

"Bawa dokumen pelunasan dan surat nikah privat," perintah Salvatore dingin pada pengawal utamanya.

"Baik, Don Salvatore," sahut sang pengawal tegap, maju menyodorkan sebuah lembaran dokumen resmi di atas meja.

Roman dengan tangan gemetar hebat langsung menandatangani surat itu tanpa membaca sepatah kata pun, bersedia melakukan apa saja asal nyawa mereka bertiga selamat dari murka sang Iblis Italia.

Kiyora yang menyaksikan semua itu hanya bisa menganga dengan mata berkedip-kedip heboh. "Waduh ... ini Om-Om ganteng beneran tidak main-main! Sekali senggol melayang nyawa orang! Terus kalau aku jadi istrinya, kalau aku lupa matiin kompor, kepalaku di-ditembak juga tidak ya?!" batin Kiyora menjerit frustrasi.

"Eh, Om Tuan Mafia yang terhormat!" pekik Kiyora berusaha menarik tangannya dari genggaman Salvatore, meski sia-sia karena cengkeraman pria itu begitu kokoh namun tidak menyakitinya.

"Nanti dulu! Ini transaksi ilegal namanya! Kiyora belum siap nikah, apalagi sama Tuan yang hobinya nodongin pistol begini! Mana belum pamitan sama arwah Kakek Rendra lagi!"

Salvatore menundukkan kepalanya sedikit, menatap Kiyora yang mengoceh ceria di tengah situasi mencekam. Keberanian dan sifat ekstrovert gadis ini benar-benar tidak berubah.

"Pernikahan ini sah secara hukum dan dunia bawah," ucap Salvatore datar, menarik lembut tubuh mungil Kiyora mendekat ke sisinya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Dan soal Kakek Rendra ... aku yang akan membawamu berkunjung ke makamnya kapan pun kamu mau. Dengan pengawalan terbaik."

"T-Tapi—"

"Tidak ada tapi, Mia Regina," potong Salvatore mutlak.

(Ratuku dalam bahasa italia)

Ia mengalihkan pandangannya pada para pengawal berjas hitam yang berdiri siaga. "Bawa semua barang milik istriku. Jangan ada satu pun yang tertinggal."

"Maaf Tuan, tapi baju Kiyora cuma ada di lemari kain yang sudah bolong ...," celetuk Kiyora jujur tanpa rasa malu, membuat pengawal Salvatore sempat menahan senyum tipis.

"Kalau begitu, tinggalkan semuanya," ujar Salvatore tegas. "Di rumahku, kamu hanya akan menyentuh barang-barang terbaik di dunia."

Salvatore lalu melepaskan jas hitam mewahnya, melingkarkannya ke bahu mungil Kiyora untuk menutupi tubuh gadis itu yang hanya mengenakan gaun krem kusam. Harum maskulin kayu cendana dan citrus yang mahal dari jas Salvatore seketika membungkus indra penciuman Kiyora, membuatnya terpaku sejenak.

"J-Jalan ... sekarang?" tanya Kiyora pelan, tiba-tiba merasa agak gugup saat diperlakukan begitu manis oleh pria yang dikenal kejam ini.

"Ya. Kita pulang ke rumah kita," jawab Salvatore.

Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam Selena serta tangisan ketakutan Roman dan Rika, Salvatore merangkul pinggang mungil Kiyora dan menuntunnya keluar dari rumah kumuh keluarga Whitmore.

Di luar, tiga buah mobil hitam mewah berpelat khusus sudah berjejer rapi dengan pintu yang dibukakan oleh para pengawal. Rain coat dan payung hitam dibentangkan untuk melindungi Kiyora dari sisa-sisa gerimis.

Saat Kiyora hendak melangkah masuk ke dalam mobil, ia sempat menoleh ke belakang, menatap rumah yang telah menampungnya dalam siksaan selama dua minggu terakhir.

"Kakek Rendra ... Kiyora dibawa sama mafia ganteng ini. Doain Kiyora ndak dijadikan umpan hiu ya, Kek ...," batinnya pasrah namun tetap diselimuti rasa penasaran yang besar.

Siapa sebenarnya 'Alaura'? Dan kenapa pria bernama Salvatore ini menatapnya seolah ia adalah seluruh dunianya?

Pintu mobil mewah itu tertutup rapat dengan bunyi kllik yang halus, menandakan akhir dari penderitaan Kiyora Aleena sebagai pembantu keluarga Whitmore dan awal dari takdir baru sang Princess D'Alterio yang telah kembali ke pelukan sang Penguasa.

.

.

.

.

Sementara itu di Mansion Mewah Salvatore, terlihat seorang bocah laki-laki menggemaskan yang duduk di teras dengan jeruk di tangannya. Raut wajahnya terlihat kesal, seolah ia tengah menunggu sesuatu yang sejak tadi dia tunggu.

"Kemana itu ci cayul telong, pulang nanti nda bawa makanan buat pilanha Milo awas aja itu olang," gerutunya kesal.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!