NovelToon NovelToon

TRANSMIGRASI CEIRA: TERJERAT CANDU LIAR EMPAT PENGUASA

Jiwa Baru dan Dua Gerhana

​Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Ceira. Diikuti oleh suara ritmis alat pemantau detak jantung yang berbunyi teratur di celah kesunyian.

​Bip. Bip. Bip.

​Rasa sakit yang hebat menjalar di sekitar dadanya. Paru-parunya serasa terbakar, seolah-olah baru saja menenggak literan air yang memaksa masuk secara brutal. Ceira terbatuk pelan, tubuhnya menegang otomatis.

Tunggu... apa aku masih hidup? batin Ceira. Tapi ini dimana?

​Memori terakhirnya sangat jelas dan brutal. Bus tour anak-anak panti asuhan yang ia tumpangi mengalami rem blong, menghantam pembatas jalan, dan jatuh meluncur ke dalam jurang yang dalam.

Sebagai gadis panti asuhan yang tumbuh keras di jalanan—bertahan hidup dengan kepalan tangan di ring tinju ilegal, mencari uang lewat kejeniusan hacking, dan meluapkan trauma lewat goresan lukisan—refleks bertahan hidup Ceira sangat cepat.

​Secara insting, Ceira tidak langsung berteriak. Ia menahan napasnya sejenak, memasang mode waspada, lalu perlahan membuka matanya.

​Namun, penglihatan pertamanya bukan ruang ICU rumah sakit umum yang kumuh dan berbau obat murah.

​Ia berada di sebuah kamar VIP yang luar biasa luas dan mewah. Dindingnya terbuat dari marmer hitam elegan, berpadu dengan furnitur monokrom bergaya minimalis modern yang memancarkan aroma kekayaan tak terbatas.

​Dan yang paling mengejutkan... tepat di samping ranjangnya, berdiri dua anak laki-laki kembar sangat tampan, berusia tujuh belas tahun.

​Kedua bocah itu mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit kelas atas yang melekat sempurna di tubuh mereka. Wajah mereka luar biasa tampan, bak pahatan porselen mahal yang tak tersentuh noda. Namun, yang membuat bulu kuduk Ceira berdiri adalah mata mereka.

​Dingin. Gelap. Kosong. Bagaikan sumur tua tanpa dasar yang menelan seluruh cahaya di sekitarnya.

"Dia sudah sadar, Kaiser," ucap bocah di sebelah kiri. Suaranya terdengar lembut, dilengkapi dengan senyuman tipis yang sangat memikat. Namun, mata peraknya tidak memancarkan kehangatan sedikit pun.

​Bocah yang dipanggil Kaiser—berdiri di sebelah kanan—hanya menatap Ceira datar. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan mewahnya.

Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, aura dominasi yang memancar dari tubuh kecilnya terasa begitu berat, seolah sanggup menekan napas siapa saja yang berada di satu ruangan dengannya.

​Deg!

​Jantung Ceira berdegup kencang. Naluri bertahannya sebagai petinju langsung menyala merah. Tubuhnya memberi sinyal bahaya yang amat sangat: Orang-orang di depannya adalah predator puncak.

​Seketika itu pula, rasa pening yang luar biasa menghantam kepala Ceira. Berbagai ingatan asing yang bukan miliknya berjejal masuk secara paksa, berputar seperti rol film berkecepatan tinggi.

​Nama tubuh yang ia tempati ini adalah Ceira.

​Seorang bocah perempuan berusia tiga belas tahun yang diangkat anak ketika masih bayi secara resmi oleh keluarga Sterling. Ibu kandung Ceira tewas mengenaskan dalam kecelakaan tragis bersama suaminya tepat di hari Ceira dilahirkan. Karena rasa utang budi dan kasih sayang mendalam pada sang sahabat, orang tua Sterling membawa Ceira kecil ke kediaman mereka dan merawatnya bagai putri bungsu.

​Dan dua bocah kembar di hadapannya saat ini... adalah Kaiser Sterling dan King Sterling.

Dua gerhana! batin Ceira menjerit.

​Anak kembar pemilik takhta Sterling yang kelak akan membagi dunia menjadi dua kekuasaan mutlak: dunia atas yang dikuasai bisnis dan politik, serta dunia bawah yang dikuasai darah dan hukum mafia.

​Ceira menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya membelalak kecil.

Ini... ini adalah dunia novel dark romance yang pernah kubaca! jerit Ceira kembali dalam hati.

​Di dalam alur asli novel tersebut, sosok Ceira hanyalah seorang figuran sepele. Karakter yang harusnya mati tenggelam hari ini di kolam renang mansion setelah didorong secara tak sengaja saat bermain bersama sang Pemeran Utama Wanita dan karakter Antagonis. Mati muda, dilupakan, dan hanya menjadi footnote singkat di bab awal.

​Tapi masalah terbesarnya bukan itu.

​Masalah utamanya adalah dua bocah kembar di hadapannya. Di dalam novel, Kaiser dan King adalah sosok psikopat yang tidak memiliki empati. Mereka memiliki sisi gelap dan alter ego yang sangat mengerikan. Siapa pun yang berani mengusik lingkaran mereka akan berakhir mengenaskan.

​"Kenapa kamu menatap kami seperti itu, Adik kecil?" suara King memecahkan kesunyian. Bocah sepuluh tahun itu melangkah mendekat, menumpukan kedua tangannya di pinggir ranjang tempat tidur Ceira.

​Senyum King terkembang manis, tetapi matanya mengunci pergerakan Ceira bagaikan seekor ular yang sedang mengamati mangsanya. "Kamu kelihatan... beda. Biasanya kalau melihat kami, kamu akan menangis dan bersembunyi di balik gaun Ibu."

​Ceira mengepalkan jemarinya di balik selimut putih. Buku-buku jarinya memutih.

​Jika ini adalah Ceira yang asli—si bocah penakut dan lemah—dia pasti sudah gemetar ketakutan dan meminta maaf. Tapi jiwa yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah Ceira si petinju jalanan dan peretas dingin.

​Ceira mengatur napasnya yang sempat memburu. Ia memaksakan matanya menatap lurus ke dalam manik mata King. Naluri petinjunya menolak untuk menunjukkan kelemahan di hadapan lawan, meski tubuh kecil sepuluh tahun ini sejujurnya sangat rapuh.

​"Aku cuma... sedikit pusing," jawab Ceira dengan suara serak. Ia berusaha keras membuat nada suaranya terdengar datar dan tenang.

​Alis King terangkat tipis. Ada kilatan ketertarikan yang asing melintas di matanya. Ia berpaling menatap kembarannya. "Kaiser, dengar itu? Adik kecil kita yang penakut tidak menangis sama sekali hari ini."

​Kaiser tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang teratur bergema di lantai marmer saat ia berjalan mendekati sisi ranjang Ceira.

​Setiap langkah Kaiser terasa bagaikan hitungan mundur menuju kematian. Ketika Kaiser berdiri tepat di samping ranjang, ia menunduk, menatap Ceira dari atas ke bawah.

​Tidak ada ekspresi di wajah Kaiser. Tatapannya begitu dingin, menusuk hingga ke tulang hitam Ceira.

​Kaiser mengulurkan tangannya yang mungil namun bersih, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Ceira, memaksa gadis kecil itu untuk mendongak menatapnya.

​Deg.

​Sensasi dingin menyengat kulit Ceira. Pada detik itu, Ceira bisa merasakan sesuatu yang membahayakan di balik mata Kaiser. Sesuatu yang terlelap, liar, dan mematikan—sisi kegelapan yang kelak akan dikenal sebagai Zero.

​"Matamu," ucap Kaiser pelan. Suaranya datar tanpa nada, namun sanggup membekukan udara di dalam kamar. "Sejak kapan matamu memiliki tatapan menantang seperti ini, Putri kecil?"

​Ceira menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detak jantungnya bisa terdengar oleh Kaiser. Tubuh kecilnya bereaksi secara alami terhadap aura intimidasi mutlak milik sang kakak tertua.

​Naluri bertahannya berteriak. Berbahaya! Berbahaya! jangan menentang orang ini! batinnya cemas.

​Secara tidak sadar, keberanian Ceira yang tadi sempat menyala perlahan luntur. Otot-otot tubuhnya menegang, dan untuk pertama kalinya sejak sadar, Ceira menurunkan pandangan matanya. Ia tidak sanggup menatap mata Kaiser lebih lama lagi. Rasa ciut dan ketakutan yang mendalam mendadak menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.

​Kaiser yang menyadari perubahan reaksi Ceira—bagaimana gadis itu mendadak gemetar dan pasrah di bawah cengkeraman jarinya—memiringkan kepalanya tipis. Ada rasa puas yang aneh menyelinap di benak bocah kembar tertua itu.

​"Bagus," bisik Kaiser dingin. Ia melepaskan dagu Ceira secara perlahan. "Tetaplah tunduk seperti itu."

​King yang memperhatikan dari samping menyeringai lebar. "Ibu dan Ayah sedang mengurus anak yang mendorongmu ke kolam renang. Tapi sepertinya... tenggelam di air dingin membuat otakmu sedikit lebih berguna, Adik Kecil."

​Ceira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang saat kedua bocah kembar itu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

​Sebelum membuka pintu, Kaiser sempat berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Istirahatlah. Karena mulai hari ini, kamu tidak akan pernah bisa lari dari rumah ini, Ceira."​

Brak.

​Pintu kamar VIP tertutup rapat. Kesunyian kembali melingkupi ruangan.

​Ceira menyandarkan kepalanya ke bantal empuk, menyapu keringat dingin yang membasahi dahi mungilnya. Tangannya yang mungil masih gemetar hebat.

​Ia sudah masuk ke dalam tubuh figuran ini. Dan secara tidak sengaja, sikap barunya baru saja memancing perhatian dua predator paling berbahaya di dunia ini.

​Di alur asli novel, si kembar seharusnya terobsesi pada sang Pemeran Utama Wanita. Tapi respon mereka padanya hari ini... memberikan sinyal buruk.

​"Aku harus memanfaatkan kemampuan hacking-ku untuk mengumpulkan uang secara rahasia," gumam Ceira lirih, menatap jemari tangannya. "Aku juga harus melatih tubuh kecil ini agar bisa bertarung lagi. Begitu aku dewasa... aku harus kabur dari keluarga Sterling."

​Namun Ceira tidak menyadari, jauh di luar ruangan, dua bocah kembar Sterling sedang berdiri di balik kaca transparan, memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan obsesif yang mulai mengakar kuat.

​Jerat liar itu telah terpasang. Dan Ceira... baru saja melangkah masuk ke dalamnya.

Rencana Rahasia Ceira

Seminggu telah berlalu sejak insiden tenggelamnya Ceira di kolam renang mansion.

​Kini, tubuh mungil berusia tiga belas tahun itu sudah diperbolehkan pulang ke Kediaman Utama Sterling—sebuah kastel megah bergaya Neoklasik yang berdiri kokoh di atas bukit pribadi. Tempat yang dari luar terlihat seperti istana megah, namun bagi Ceira, tempat ini tak ubahnya sangkar emas yang dipenuhi pemangsa.

​Tok. Tok.

​Suara ketukan pintu memecahkan lamunan Ceira.

​"Nona Muda Ceira, Tuan Besar dan Nyonya Besar menunggu Anda di ruang makan utama untuk makan malam," ucap suara pelayan wanita dari balik pintu kayu mahoni yang tebal.

​"Baik, aku turun sebentar lagi," jawab Ceira datar. "Hmm... bisa makan enak... tapi tubuh ini..."

​Setelah mendengar langkah kaki pelayan menjauh, Ceira langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju cermin berukir emas di sudut kamar, menatap pantulan dirinya sendiri.

​Wajah mungil berumur tiga belas tahun dengan mata bundar yang jernih dan kulit putih porselen. Secara fisik, Ceira figuran tampak seperti boneka rapuh yang mudah dihancurkan. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada ketajaman yang tak biasa di balik sorot matanya.

​"Tubuh ini terlalu lemah, Ceira kamu lemah sekali." gumam Ceira seraya mengepalkan tangannya.

​Sebagai mantan petinju yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan refleks, Ceira merasa sangat frustrasi dengan stamina tubuh barunya. Ia harus mulai melatih fisik ini secara sembunyi-sembunyi—melakukan latihan beban dasar dan gerakan shadow boxing setiap malam di kamarnya agar buku-buku jarinya kembali mengeras.

​Bukan cuma itu. Tadi malam, menggunakan komputer rahasia yang ia rakit sendiri dari komponen bekas yang ia minta secara halus pada teknisi mansion, jiwa hacker Ceira sudah mulai beraksi. Ia berhasil menyusup ke pasar uang kripto rahasia dan membuat rekening anonim.

​Aku butuh modal besar. Begitu umurku delapan belas tahun lebih, aku harus punya cukup uang dan identitas palsu untuk menghilang dari keluarga ini. batin Ceira bertekad.

​Setelah memastikan penampilannya rapi, Ceira menghela napas panjang, menetralkan raut wajahnya, lalu melangkah keluar kamar.

​Ruang makan keluarga Sterling terlihat sangat megah dengan lampu kristal gantung yang memancarkan cahaya keemasan. Di ujung meja makan yang panjang, duduk Tuan Besar Edward Sterling dan istrinya, Nyonya Helena Sterling.

​Dan di sisi kiri meja makan, duduk dua anak kembar mereka: Kaiser Sterling dan King Sterling.

​Kedua bocah itu mengenakan kemeja rapi tanpa cela. Mereka duduk tegak dengan etika makan bangsawan yang sempurna. Namun, suasana di sekitar meja makan terasa sangat menekan.

​"Oh, putri kecilku sudah datang! Ayo duduk, Sayang," Ucap Nyonya Helena dengan senyuman hangat begitu melihat Ceira masuk.

​Nyonya Helena sangat menyayangi Ceira karena rasa duka mendalam atas kematian sahabat kembarnya—ibu kandung Ceira. Bagi Helena, Ceira adalah putri bungsu yang harus dilindungi.

​"Terima kasih, bunda," jawab Ceira pelan, menarik kursi di sisi kanan meja makan—berhadapan langsung dengan si kembar.

​Saat Ceira duduk, secara refleks matanya beradu dengan mata perak milik King. Bocah tujuh belas tahun itu menyunggingkan senyum manis yang sangat menawan, tetapi sorot matanya penuh kilatan intrik yang tajam.

​"Bagaimana keadaan kepalamu, Adik kecil? Tidak pusing lagi?" tanya King dengan nada suara yang terdengar sangat perhatian di depan orang tua mereka.

​"Sudah jauh lebih baik, Kak King," balas Ceira formal. Ia memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat berhati-hati.

​"Baguslah," sela Tuan Edward Sterling, suaranya terdengar tegas dan berwibawa. "Mulai minggu depan, keluarga keluarga sahabat Ibu akan berkunjung. Putri mereka, Audrey, ingin meminta maaf secara langsung padamu atas insiden di kolam renang."

​Deg.

​Tangan Ceira yang memegang garpu sempat terhenti sejenak.

​Audrey.

​Nama itu langsung memicu ingatan novel di kepala Ceira. Audrey adalah sang Pemeran Utama Wanita di novel asli! Anak dari keluarga konglomerat yang dalam alur aslinya dijodohkan dengan si kembar Sterling.

​Di alur novel asli, insiden kolam renang itulah yang menjadi awal mula Kaiser dan King mulai memperhatikan Audrey. Si kembar terobsesi pada kepolosan dan kebaikan Audrey yang dianggap sebagai cahaya di tengah kegelapan mereka.

​Bagus, pikir Ceira dalam hati, rasa lega membuncah di dadanya. Kalau Audrey datang, perhatian si kembar pasti bakal teralih penuh padanya. Aku cuma perlu jadi figuran tak terlihat di sudut ruangan. batinnya penuh rencana.

​Namun, lamunan Ceira buyar saat merasakan sebuah tatapan yang sangat dingin menusuk kulit wajahnya.

​Ceira mendongak perlahan.

​Di depannya, Kaiser Sterling sedang menatapnya tanpa mengedip. Bocah kembar tertua itu belum menyentuh makanannya sama sekali. Jemari tangannya yang mungil menopang dagu, sementara mata hitam pekatnya mengunci Ceira dengan intensitas yang mengerikan.

​Aura di sekitar Kaiser mendadak berubah sangat pekat. Ini adalah sinyal dari Zero—sisi gelap Kaiser yang mendominasi sejak dini.

​"Kenapa kamu kelihatan senang, Kucing kecil?" tanya Kaiser. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membuat kliring pisau dan garpu di meja makan seketika berhenti. ​Tuan Edward dan Nyonya Helena sampai menoleh terkejut pada putra sulung mereka.

​Ceira menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang secara otomatis. Keberanian dan rencana cerdik yang baru saja ia susun di kepala seketika luntur di bawah intimidasi dingin Kaiser.

Kenapa Kaiser bisa membaca ekspresiku?! teriak Ceira panik dalam hati.

​"A-aku tidak senang, Kak Kaiser. Aku cuma... berpikir kalau insiden itu sudah berlalu," jawab Ceira, suaranya sedikit gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga menahannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap piring porselen di depannya, menolak bertatap mata dengan Kaiser.

​Kaiser memperhatikan gerakan leher Ceira yang menegang dan jemarinya yang menyengkeram pisau makan dengan erat—sebuah kuda-kuda bertahan yang aneh bagi seorang anak kecil.

​Bibir Kaiser terangkat sangat tipis. Sebuah reaksi kepatuhan dan ketakutan dari Ceira yang mendadak terasa begitu memuaskan bagi insting gelapnya.

​"Audrey tidak perlu meminta maaf," ucap Kaiser dingin, memecahkan kesunyian meja makan. "Karena di rumah ini, tidak ada yang boleh menyentuh milik keluarga Sterling tanpa izin dariku."

​King yang duduk di sebelah Kaiser tertawa kecil, melirik kembarannya dengan sudut mata. "Kaiser benar, Ayah. Lagi pula, Ceira adalah adik kita. Siapa pun yang membuatnya celaka, harus membayar harganya."

​Nyonya Helena tersenyum terharu mendengar ucapan kedua putra kembarnya. "Kalian berdua memang kakak yang sangat menyayangi adiknya."

Penyayang dari mananya? yang ada terlihat obsesi di mata mereka, bagaikan predator. gumam batin Ceira dalam hati, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

​Ceira bisa merasakan dengan sangat jelas, baik

Kaiser maupun King sama sekali tidak menganggapnya sebagai adik yang harus dilindungi, melainkan sebagai barang milik yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun.

​Malam itu, di bawah temaram lampu kristal mewah mansion Sterling, Ceira sadar bahwa usahanya untuk kabur dari dua gerhana ini tidak akan pernah berjalan mudah

Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.

Semingguu kemudian, aula utama Kediaman Sterling disulap menjadi tempat jamuan teh privat yang sangat elegan. Kilau perak dari peralatan teh bangsawan memantulkan cahaya siang yang lembut.

​Hari ini adalah hari kedatangan keluarga Audrey—sang Pemeran Utama Wanita dalam novel asli yang secara resmi telah dijodohkan dan ditunangkan dengan Sterling bersaudara melalui perjanjian bisnis keluarga besar mereka.

​Ceira duduk di salah satu sofa tunggal berlapis beludru. Ia mengenakan gaun terusan berwarna krem yang simpel namun anggun. Di seberangnya, duduk dua gadis kecil seusianya. Audrey, si gadis berambut pirang ikal dengan mata biru jernih yang memancarkan kepolosan, dan Clara, putri keluarga bangsawan lain yang dalam alur novel memegang peran sebagai sang Antagonis.

​"Ceira... aku benar-benar minta maaf atas kejadian di kolam renang waktu itu," ucap Audrey dengan nada suara bergetar, matanya berkaca-kaca menatap Ceira. "Aku tidak sengaja tersenggol Clara dan malah mendorongmu..."

​"Iya, Ceira! Itu murni kecelakaan, aku tidak bermaksud mendorong Audrey!" sela Clara cepat, raut wajahnya panik karena takut disalahkan oleh keluarga Sterling.

​Ceira menatap kedua gadis di hadapannya dengan raut tenang.

​Sebagai mantan anak panti asuhan yang kenyang dengan tipu daya jalanan, Ceira bisa membaca dengan jelas ekspresi mereka. Audrey memang terlihat polos di luar sebagai tunangan resmi si kembar, sementara Clara memendam rasa iri sekaligus ketakutan besar pada status keluarga Sterling.

​"Tidak apa-apa, Audrey. Clara. Aku sudah sembuh total," jawab Ceira pendek, mengulas senyum tipis yang sopan.

​Ia sengaja memutar cangkir tehnya, tidak ingin memperpanjang drama anak-anak ini. Di dalam benaknya, Ceira hanya ingin acara jamuan teh ini cepat selesai agar ia bisa kembali ke kamarnya untuk memeriksa transaksi aset kripto hasil hacking semalam.

​"Kamu... beneran tidak marah pada kami?" tanya Audrey ragu, matanya berbinar melihat kepasrahan Ceira.

​"Sama sekali tidak," balasan Ceira datar.

​Namun, sebelum Audrey sempat membalas, langkah kaki yang mantap dan teratur bergema di koridor marmer. Suasana santai di aula utama seketika membeku.

​Aura dingin yang sangat familier menyeruak masuk ke ruangan, membuat bulu kuduk ketiga gadis itu berdiri.

​Kaiser dan King melangkah masuk. Kedekatan usia mereka yang baru menginjak belas kasihan tidak mengurangi aura dominasi yang memancar dari tubuh keduanya. Setelan kemeja formal tanpa cela dan tatapan mata mereka yang tajam langsung mengunci atmosfer ruangan.

​"Wah, kelihatannya pesta teh kalian sangat menyenangkan," sapa King dengan senyuman miring di bibirnya.

​Langkah kaki King terhenti di samping kursi Ceira. Tanpa ragu, tangan kanan King terulur, jemarinya mengusap puncak kepala Ceira dengan gerakan yang terkesan mengayomi—namun cengkeramannya pada helai rambut Ceira terasa sedikit terlalu erat, seolah menandai wilayah.

​Di sisi lain, Kaiser berjalan tanpa suara hingga berdiri tepat di belakang sofa tempat Ceira duduk.

Bayangan tubuh tinggi Kaiser menutupi tubuh mungil Ceira dari cahaya matahari siang.

​Mata biru Audrey berbinar saat menatap dua pangeran kembar Sterling yang merupakan tunangannya tersebut. Sesuai perjanjian keluarga, Audrey merasa berhak atas perhatian kedua bocah kembar itu.

​"Tuan Muda Kaiser, Tuan Muda King... aku baru saja meminta maaf pada Ceira," ucap Audrey lembut, mencoba menarik perhatian tunangannya dengan senyuman manis.

​Namun, Kaiser sama sekali tidak melirik ke arah Audrey. Mata hitam pekatnya hanya tertuju lurus pada Ceira dari atas sofa.

​"Kamu terlalu baik, Kucing kecil," suara Kaiser terdengar dingin dan berat, menggema tepat di atas kepala Ceira. "Orang yang membuatmu jatuh ke kolam tidak pantas dimaafkan hanya dengan sepatah kata."

​Deg.

​Tubuh Clara gemetar hebat mendengar sindiran dingin Kaiser, sementara wajah Audrey memucat kaku. Ada kilatan rasa tidak terima dan cemburu yang mulai bertunas di mata biru Audrey saat melihat tunangannya justru mengabaikannya demi membela adik angkat mereka.

​Ceira menelan ludah dengan susah payah. Sentuhan tangan King di kepalanya dan keberadaan Kaiser yang berdiri tepat di belakang punggungnya membuat seluruh saraf tubuh Ceira menegang otomatis.

​Naluri petinjunya berteriak panik. Keberaniannya yang biasa luntur seketika. Tubuh Ceira mendadak ciut, kaku seperti patung di antara jepitan dua penguasa ini.

​Tunggu... bukankah di alur novel asli posesif si kembar, seharunya si kembar sangat posesif dan terobsesi pada Audrey sebagai tunangan mereka? Kenapa mereka malah mengabaikan Audrey begitu saja? batin Ceira penuh pertanyaan.

​King menundukkan badannya, menyejajarkan wajah tampannya di samping telinga Ceira. "Adik kecil kita ini terlalu rapuh, Kaiser. Jika tidak kita awasi, dia bisa dimanfaatkan oleh orang asing lagi."

​Napas hangat King yang menerpa leher Ceira membuat gadis itu merinding ketakutan. Ceira mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha mati-matian menahan tubuhnya agar tidak gemetar secara kentara.

kenapa seakan-akan mereka posesif kepadaku? batinnya kembali berkecamuk.

​"Permisi... Tuan Muda Sterling," sela pelayan pribadi yang tiba-tiba mendekat dengan wajah pucat. "Tuan Besar meminta Anda berdua ke ruang kerja sekarang. Ada dokumen penting terkait aset almarhum Kakek dari luar negeri yang harus ditandatangani."

​Mendengar kata Kakek dan luar negeri, mata perak King memicing tajam. Sementara itu, aura di sekitar Kaiser seketika mengeras—sebuah respon otomatis dari Zero dan Lucid yang mulai mengendus takhta kekuasaan besar di depan mata mereka.

​Kaiser akhirnya menarik pandangannya dari Ceira. Tangannya menyentuh bahu Ceira sejenak, meremasnya pelan namun penuh ancaman pelak.

​"Kami harus pergi sebentar, Kucing kecil," bisik Kaiser dingin. "Jangan pergi ke mana-mana tanpa izin kami."

​"I-iya, Kak Kaiser," jawab Ceira patuh dengan nada suara terhalus yang bisa ia keluarkan, menundukkan kepalanya dalam-dalam sampai kedua kembar itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan aula.

​Begitu figur Kaiser dan King menghilang di balik pintu besar, Ceira menghela napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

​Di seberangnya, Audrey menatap Ceira dengan tatapan yang tak lagi polos. Ada gurat kecemburuan mendalam dari seorang tunangan yang merasa posisinya terancam. "Ceira... kakak-kakakmu sangat protektif padamu, ya?"

​Ceira mengusap tengkuknya yang terasa dingin, lalu mengulas senyum tipis yang penuh kepahitan.

Protektif? batin Ceira sinis. Ini bukan protektif. Ini adalah sangkar.

​Namun di balik ketakutannya, otak jenius Ceira menangkap celah besar dari pembicaraan pelayan tadi. Aset kakek dari luar negeri.

​Artinya, momen yang ia tunggu-tunggu—saat di mana si kembar harus meninggalkan negara ini untuk memegang kendali perusahaan mendiang kakek mereka—sudah semakin dekat.

​Pergilah ke luar negeri secepatnya. Doa Ceira dalam hati dengan penuh harap. Pergi dan biarkan aku menghirup udara bebas. Ceira tersenyum tipis.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!