NovelToon NovelToon

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Bab 1 — Orang yang Menolak Reinkarnasi

Gelap.

Tidak ada langit, tidak ada bumi, dan tidak ada suara.

Chu Xuan perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah aula kuno yang tak berujung. Pilar-pilar hitam menjulang tinggi, sementara ribuan lentera hijau menggantung di udara, menerangi tempat itu dengan cahaya yang suram.

Di ujung aula, seorang pria tua berjubah hitam sedang menatapnya dengan ekspresi aneh.

"Chu Xuan, umur 27 tahun. Meninggal karena tertabrak kendaraan setelah menyelamatkan seorang anak."

Chu Xuan terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"Anak itu selamat?"

"Selamat."

"Bagus."

Pria tua itu tampak terkejut.

"Apakah itu satu-satunya hal yang ingin kau tanyakan?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Besok seharusnya hari liburku."

"..."

Suasana di aula mendadak menjadi hening.

Pria tua berjubah hitam itu mengusap pelipisnya.

"Karena jasa baikmu, kau memenuhi syarat untuk bereinkarnasi ke dunia kultivasi."

"Dunia kultivasi?"

"Benar. Di sana, yang kuat dihormati. Kau bisa hidup selama ribuan bahkan jutaan tahun. Jika beruntung, kau bahkan bisa mencapai keabadian."

Chu Xuan mengernyit.

"Kedengarannya melelahkan."

"Apa?"

"Aku sudah lelah hidup sekali. Kenapa aku harus mengulanginya lagi?"

Pria tua itu membeku.

Selama puluhan ribu tahun menjadi utusan akhirat, ini adalah pertama kalinya dia mendengar seseorang mengeluhkan kesempatan untuk hidup kembali.

"Itu dunia kultivasi!"

"Lalu?"

"Kau bisa menjadi Kaisar Abadi!"

"Apakah Kaisar Abadi harus bekerja?"

"Tentu saja!"

"Kalau begitu, aku tidak tertarik."

Pria tua itu menarik napas dalam-dalam.

"Kau bisa memiliki kekayaan tak terbatas!"

"Aku harus menjaganya."

"Kau bisa memiliki pengikut di seluruh dunia!"

"Itu terdengar merepotkan."

"Kau bisa hidup selamanya!"

Chu Xuan terdiam beberapa saat sebelum menggeleng.

"Hidup dua puluh tujuh tahun saja sudah cukup melelahkan."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, utusan akhirat mulai meragukan dirinya sendiri.

Akhirnya, dia menatap Chu Xuan dengan wajah serius.

"Kalau begitu, apa yang kau inginkan?"

Chu Xuan menjawab tanpa ragu.

"Aku ingin tidur."

"..."

Di hari itu, Aula Reinkarnasi menyambut orang pertama dalam sejarah yang menolak untuk hidup kembali.

Utusan akhirat menatap Chu Xuan dalam diam.

Selama puluhan ribu tahun, dia telah melihat berbagai macam manusia. Ada yang menangis memohon kehidupan kedua, ada yang berlutut meminta kekuatan, dan ada pula yang rela melakukan apa pun demi memperpanjang umur.

Namun, orang di hadapannya...

...ingin tidur.

"Chu Xuan."

"Ada apa?"

"Apakah kau tahu berapa banyak orang yang menginginkan kesempatan ini?"

"Tidak."

"Tak terhitung!"

"Oh."

"Oh?! Hanya itu tanggapanmu?!"

Chu Xuan mengangguk pelan.

"Aku mengantuk."

Pembuluh darah di dahi utusan akhirat mulai terlihat.

"Baik! Mari kita bicara secara sederhana!"

Dia melambaikan tangannya.

WHOOSH!

Sebuah layar raksasa muncul di udara.

Di dalamnya tampak seorang kultivator berdiri di atas pedang terbang, diikuti ribuan pengikut yang berlutut di bawahnya.

"Lihat! Jika kau bereinkarnasi, kau bisa menjadi seperti itu!"

Chu Xuan mengamati layar itu selama beberapa detik.

"Dia terlihat sibuk."

"Apa?"

"Memiliki ribuan pengikut berarti harus mengingat ribuan nama."

"..."

Utusan akhirat mengganti layar.

Kini terlihat sebuah istana megah yang dipenuhi harta karun.

"Kekayaan! Kau bisa memiliki semua ini!"

Chu Xuan menghela napas.

"Aku harus membersihkannya."

Utusan akhirat terdiam.

Layar berubah lagi.

Seorang Kaisar Abadi sedang bertarung melawan naga raksasa di atas langit.

"Bagaimana dengan ini?!"

Chu Xuan mengamatinya cukup lama sebelum bertanya.

"Berapa lama pertarungan itu berlangsung?"

"Mungkin tiga hari tiga malam."

"Itu terlalu lama."

Retak.

Suara sesuatu yang pecah terdengar dari hati sang utusan akhirat.

Dia mulai mengerti.

Orang ini tidak takut mati.

Orang ini hanya terlalu malas untuk hidup.

Akhirnya, dia mengusap wajahnya dengan lelah.

"Baiklah, Chu Xuan. Katakan padaku, apa kehidupan idealmu?"

Chu Xuan berpikir sejenak.

"Sebuah rumah kecil."

"Lalu?"

"Tempat tidur yang nyaman."

"Lalu?"

"Makanan yang cukup."

"Lalu?"

"Tidak ada yang menggangguku."

Utusan akhirat terdiam.

Itu saja.

Tidak ada ambisi menjadi penguasa dunia.

Tidak ada keinginan untuk hidup abadi.

Tidak ada impian mencapai puncak Dao.

Hanya sebuah kehidupan yang tenang.

Sayangnya...

Utusan akhirat perlahan tersenyum.

"Kalau begitu, aku sudah memutuskan."

Chu Xuan tiba-tiba memiliki firasat buruk.

"Apa yang kau putuskan?"

"Aku akan mengirimmu ke dunia kultivasi."

"Aku menolak."

"Ditolak."

"Tunggu, bukankah aku yang seharusnya—"

"Dan aku akan memastikan kehidupanmu di sana sangat menyedihkan."

"..."

Senyum di wajah utusan akhirat semakin lebar.

"Karena ini adalah pertama kalinya seseorang berani menolak reinkarnasi di hadapanku."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Aula Reinkarnasi, ekspresi Chu Xuan akhirnya berubah.

"Aku punya firasat buruk."

Di belakang utusan akhirat, sebuah roda raksasa perlahan mulai berputar.

Roda Reinkarnasi.

Roda Reinkarnasi perlahan berputar.

Ukurannya begitu besar hingga seolah mampu menopang langit dan bumi. Di permukaannya terukir jutaan nama yang terus muncul dan menghilang.

Chu Xuan memandang roda itu dengan tatapan datar.

"Aku masih punya hak untuk menolak."

"Tidak."

"Aku bisa mengajukan banding."

"Tidak."

"Aku ingin berbicara dengan atasanmu."

Utusan akhirat tersenyum dingin.

"Aku adalah atasanku sendiri."

"..."

Chu Xuan menghela napas.

"Hidup benar-benar tidak adil."

"Kau baru menyadarinya sekarang?"

Utusan akhirat mengangkat tangannya.

"Chu Xuan! Karena kau menolak anugerah Surga, maka dengarkan hukumanku!"

Suara itu menggema di seluruh Aula Reinkarnasi.

"Di kehidupan barumu, kau akan terlahir sebagai yatim piatu!"

"..."

"Kau tidak akan memiliki bakat kultivasi!"

"..."

"Kau akan hidup dalam kemiskinan!"

"..."

"Dan selama delapan belas tahun, hidupmu akan dipenuhi kesengsaraan!"

Akhirnya, Chu Xuan mengangkat kepalanya.

"Apakah setidaknya aku bisa makan dengan tenang?"

"TIDAK!"

"Itu keterlaluan."

Utusan akhirat menunjuk ke arah Roda Reinkarnasi.

"Pergilah! Dan renungkan kesalahanmu!"

"Kesalahanku apa?"

"TERLALU MALAS!"

Sebelum Chu Xuan sempat mengatakan apa pun, sebuah kekuatan tak terlihat langsung menyeret tubuhnya.

"Tunggu sebenta—"

WHOOSH!

Tubuhnya terhisap ke dalam Roda Reinkarnasi.

Di detik terakhir, dia masih bisa mendengar suara utusan akhirat.

"Dan satu hal lagi, Chu Xuan!"

"Apa?!"

"JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MENEMUKANKU LAGI!"

Chu Xuan terdiam beberapa saat sebelum berteriak dari dalam pusaran cahaya.

"Kalau begitu jangan kirim aku ke tempat yang merepotkan!"

BOOM!

Roda Reinkarnasi memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Aula Reinkarnasi kembali sunyi.

Utusan akhirat menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.

"Akhirnya pergi juga."

Namun, tepat pada saat itu, sebuah suara kuno tiba-tiba bergema dari kehampaan.

"Kesalahan terdeteksi."

Utusan akhirat membeku.

"Jiwa dengan kompatibilitas sempurna telah ditemukan."

"Mengaktifkan prosedur pewarisan."

"Sistem Kuil Tak Terkalahkan akan aktif dalam delapan belas tahun."

"Apa?"

Wajah utusan akhirat berubah drastis.

"Tunggu... SISTEM APA?!"

Sayangnya, tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

Di saat yang sama, jauh di sebuah dunia kultivasi yang tak dikenal, tangisan seorang bayi mulai terdengar di kaki Pegunungan Tianyun.

Dan takdir Yang Tak Terkalahkan pun resmi dimulai.

Bersambung...

Bab 2 — Bayi di Depan Kuil

Hujan turun dengan deras.

Petir sesekali menyambar langit Pegunungan Tianyun, menerangi jalan setapak yang sempit menuju sebuah kuil tua di puncak gunung.

Kuil Qingfeng.

Sebuah kuil kecil yang bahkan hampir dilupakan oleh dunia.

Atapnya bocor di sana-sini.

Dindingnya dipenuhi retakan.

Dan satu-satunya penghuni tempat itu hanyalah seorang pertapa tua yang telah tinggal sendirian selama puluhan tahun.

Malam itu, Pertapa Qingfeng sedang duduk di depan tungku api sambil merebus semangkuk bubur.

"Cuaca seperti ini..."

Dia melirik ke luar jendela yang diterpa hujan.

"...bahkan hantu pun mungkin malas keluar."

BOOM!

Petir menyambar tidak jauh dari kuil.

Namun, sesaat kemudian, di antara suara hujan dan gemuruh petir, Pertapa Qingfeng mendengar sesuatu.

Tangisan.

Tangisan seorang bayi.

Wajah tuanya yang tenang sedikit berubah.

"Mustahil."

Tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar Pegunungan Tianyun. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendaki gunung ini pada malam hari.

Tangisan itu terdengar lagi.

"Waaa... waaa..."

Pertapa Qingfeng terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan berdiri.

"Jangan bilang..."

Dengan membawa lentera tua, dia membuka pintu kuil.

Angin dingin langsung menerpa wajahnya.

Di depan tangga batu yang telah ditelan lumut, sebuah keranjang bambu kecil terlihat terguncang oleh hujan.

Tangisan itu berasal dari sana.

Pertapa Qingfeng segera menghampiri dan mengangkat penutup keranjang tersebut.

Di dalamnya...

...terbaring seorang bayi laki-laki yang dibungkus kain lusuh.

Anehnya, meski hujan begitu deras, bayi itu sama sekali tidak menangis ketakutan. Setelah melihat wajah Pertapa Qingfeng, dia malah menguap kecil.

"Ah..."

Lalu tertidur lagi.

Pertapa Qingfeng terdiam.

"Anak ini..."

Dia mengamati bayi itu dengan saksama.

Tidak ada liontin.

Tidak ada surat.

Tidak ada petunjuk tentang asal-usulnya.

Hanya selembar kain yang sudah usang dan sebuah nama yang ditulis dengan tinta yang hampir memudar.

Chu Xuan.

Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.

"Siapa orang tua yang tega membuang anaknya di tempat seperti ini?"

Hujan semakin deras.

Pertapa Qingfeng menatap bayi di pelukannya, lalu menatap kembali ke arah kuil yang sunyi.

Selama puluhan tahun, dia hidup seorang diri.

Dia makan seorang diri.

Berbicara seorang diri.

Dan menua seorang diri.

Dia sudah lama menerima bahwa dirinya mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesunyian.

Namun malam ini...

Takdir sepertinya memiliki rencana lain.

Bayi kecil itu tiba-tiba membuka matanya.

Sepasang mata hitam pekat menatap lurus ke arah Pertapa Qingfeng.

Kemudian, dengan suara yang sangat pelan, bayi itu bergumam dalam tidurnya.

"...tempat tidur..."

Pertapa Qingfeng membeku.

"Apa?"

"...aku mau tidur..."

Keheningan menyelimuti puncak gunung.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasakan sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Menarik."

Dia mengangkat bayi itu lebih tinggi.

"Baiklah, Chu Xuan."

"Mulai hari ini..."

"...Kuil Qingfeng akan menjadi rumahmu."

Di kejauhan, petir kembali menyambar langit.

Tidak ada yang tahu bahwa bayi yang tertidur lelap di pelukan seorang pertapa tua itu kelak akan menjadi eksistensi yang membuat seluruh dunia kultivasi gemetar.

Untuk saat ini...

...dia hanyalah seorang bayi yang sangat ingin tidur.

Hujan masih turun ketika Pertapa Qingfeng membawa keranjang bambu itu masuk ke dalam kuil.

Pintu kayu tua ditutup perlahan, menghalau angin dingin dari luar.

Pertapa Qingfeng meletakkan bayi itu di dekat tungku api yang menyala redup.

"Kau beruntung."

Katanya pelan sambil mengaduk bubur yang hampir matang.

"Jika aku terlambat membukakan pintu, kau mungkin tidak akan melihat matahari esok hari."

Bayi itu tidak menjawab.

Dia hanya tertidur pulas dengan kedua tangan kecil terangkat ke atas, seolah-olah tidak peduli terhadap nasibnya sendiri.

"..."

Pertapa Qingfeng mengamati wajah bayi itu cukup lama.

Sudah puluhan tahun sejak kuil ini mendengar suara selain miliknya sendiri.

Terkadang, dia bahkan lupa seperti apa rasanya berbicara dengan orang lain.

Dia hidup terlalu lama.

Melihat terlalu banyak perpisahan.

Dan mengubur terlalu banyak nama.

"Takdir benar-benar suka bercanda."

Dia mengambil mangkuk kayu dan mulai meniup bubur agar tidak terlalu panas.

Di sudut aula utama Kuil Qingfeng, puluhan papan nama leluhur tersusun rapi. Cahaya api yang redup membuat bayangan mereka menari-nari di dinding.

Tatapan Pertapa Qingfeng sempat tertuju ke arah salah satu papan nama yang paling tua.

Sudah sangat lama...

...sejak seseorang berhasil mencapai puncak Pegunungan Tianyun.

Namun malam ini, seorang bayi berhasil melakukannya.

"Tidak."

Pertapa Qingfeng menggeleng pelan.

"Lebih tepatnya, seseorang membawamu ke sini."

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mata tuanya yang keruh memancarkan sedikit cahaya.

Dia pernah mengamati pergerakan bintang.

Dia pernah membaca pertanda langit.

Tetapi takdir bayi ini...

...tidak dapat dilihat.

Hal itu seharusnya mustahil.

"Hm."

Pada saat itu, bayi Chu Xuan sedikit mengernyit dalam tidurnya.

Kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia bergumam:

"...jangan lembur..."

Tangan Pertapa Qingfeng yang sedang memegang mangkuk langsung berhenti.

"Apa?"

"...hari libur..."

"...aku mau pulang..."

Keheningan menyelimuti aula utama.

Pertapa Qingfeng mulai meragukan pendengarannya.

"Apakah semua bayi zaman sekarang seperti ini?"

Tidak ada yang menjawabnya.

Pada akhirnya, dia hanya menghela napas dan menggelengkan kepala.

"Sepertinya aku benar-benar terlalu tua."

Dia lalu mengambil sesendok kecil bubur dan dengan hati-hati menyuapkannya kepada Chu Xuan.

Anehnya, bayi itu membuka mulutnya secara refleks tanpa membuka mata.

Bahkan setelah selesai makan...

...dia tetap tidak bangun.

"Anak yang aneh."

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pertapa Qingfeng tersenyum.

Malam semakin larut.

Hujan mulai mereda.

Sebelum memadamkan lampu minyak, Pertapa Qingfeng melirik ke arah keranjang bambu di samping tungku.

"Chu Xuan..."

Dia mengeja nama itu perlahan.

"Mulai hari ini, kau adalah cucuku."

"Dan selama aku masih hidup..."

"...tidak seorang pun akan membuatmu kelaparan."

Di luar kuil, angin malam kembali bertiup.

Tidak ada yang menyadari bahwa janji sederhana yang diucapkan seorang pertapa tua pada malam hujan itu akan menjadi satu-satunya alasan seorang anak bernama Chu Xuan tetap menganggap Kuil Qingfeng sebagai rumahnya.

Bertahun-tahun kemudian, bahkan setelah seluruh dunia kultivasi gemetar di bawah namanya...

...Chu Xuan masih akan mengingat malam ketika seorang kakek tua memberinya semangkuk bubur hangat dan sebuah tempat untuk pulang.

Bersambung...

Bab 3 — Tahun-Tahun yang Tenang

Waktu berlalu dengan cepat di Pegunungan Tianyun.

Dalam sekejap mata, bayi yang dahulu hanya tahu tidur dan menangis kini telah tumbuh menjadi sedikit besar.

Atau setidaknya...

...dia masih sangat menyukai tidur.

"Xiao Xuan, bangun."

"Tidak."

"Matahari sudah terbit."

"Aku akan terbit nanti."

"..."

Pertapa Qingfeng memandang cucunya yang sedang membungkus dirinya dengan selimut lusuh hingga hanya menyisakan sepasang mata.

Chu Xuan mungkin adalah anak paling malas yang pernah dilahirkan oleh langit dan bumi.

"Jika kau terus tidur seperti ini, bagaimana kau akan menjadi seorang kultivator hebat?"

"Aku tidak mau."

"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"

Chu Xuan membuka satu matanya.

"Aku ingin pensiun."

"Kau bahkan belum mulai bekerja."

"Itulah bagian terbaiknya."

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Pertapa Qingfeng merasa bahwa dia mungkin sedang menerima hukuman dari langit.

Namun, meski sering mengeluh, Chu Xuan tetaplah anak yang baik.

Dia akan membantu mengambil air dari mata air.

Dia akan mengumpulkan kayu bakar.

Dan setiap kali Pertapa Qingfeng sakit, dia akan diam-diam berjaga semalaman di samping tempat tidur sang kakek.

Hanya saja...

...dia akan mengeluh sepanjang waktu.

"Kenapa manusia harus makan tiga kali sehari?"

"Karena jika tidak, manusia akan mati."

"Itu terdengar seperti desain yang buruk."

Pertapa Qingfeng tertawa kecil.

Kehidupan mereka sederhana.

Terlalu sederhana.

Mereka hidup dari hasil menjual kayu bakar dan sesekali menerima sedekah dari para peziarah yang tersesat.

Terkadang mereka makan bubur.

Terkadang mereka makan sayuran liar.

Dan di hari-hari yang sangat istimewa...

...mereka menambahkan sebutir telur ke dalam bubur.

Bagi Chu Xuan, itu adalah hari raya.

"Xiao Xuan."

"Hm?"

"Jika suatu hari kakek sudah tidak ada, apa yang akan kau lakukan?"

Tangan Chu Xuan yang sedang memegang mangkuk tiba-tiba berhenti.

Dia mengangkat kepalanya dan menatap Pertapa Qingfeng.

"Kakek akan pergi?"

"Suatu hari."

"Itu masih lama."

"Bagaimana jika tidak?"

Chu Xuan terdiam cukup lama.

Akhirnya, dia kembali menundukkan kepalanya.

"Kalau begitu, aku akan menjaga kuil."

"Dan?"

"Aku akan tidur."

Pertapa Qingfeng tertawa.

"Lalu?"

"Aku akan makan."

"Lalu?"

Chu Xuan berpikir cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya terlihat serius.

"Aku akan menunggu Kakek pulang."

Senyum di wajah Pertapa Qingfeng perlahan menghilang.

Angin gunung bertiup pelan melewati halaman Kuil Qingfeng.

Pada akhirnya, dia hanya mengusap kepala Chu Xuan dengan lembut.

"Anak bodoh."

Chu Xuan tidak menjawab.

Dia hanya melanjutkan makannya dalam diam.

Karena di usianya yang baru sepuluh tahun, dia belum mengerti satu hal.

Ada orang yang pergi untuk bekerja.

Ada orang yang pergi untuk bepergian.

Dan ada pula orang yang pergi...

...tanpa pernah bisa kembali.

Di kejauhan, Pertapa Qingfeng menatap langit sore dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Sudah terlalu lama.

Tubuhnya yang tua perlahan mulai mencapai batasnya.

Namun sebelum hari itu tiba...

...dia hanya memiliki satu harapan.

Semoga anak yang menyebut Kuil Qingfeng sebagai rumahnya itu dapat terus tersenyum, bahkan setelah dirinya tiada.

Selama tujuh tahun terakhir, Pertapa Qingfeng telah mempelajari satu kebenaran yang tidak tertulis dalam kitab mana pun:

Membangunkan Chu Xuan jauh lebih sulit daripada membangunkan orang mati.

"Xiao Xuan."

"..."

"Bangun."

"..."

"Kakek membuat telur."

Sepasang mata langsung terbuka.

"Ada berapa?"

"Setengah."

"..."

Dan mata itu kembali tertutup.

Pertapa Qingfeng menghela napas panjang.

"Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah kau benar-benar manusia?"

"Aku juga sering bertanya-tanya."

Pagi itu, seperti biasa, Chu Xuan dipaksa turun gunung untuk menjual kayu bakar.

Meskipun Kuil Qingfeng berada jauh dari peradaban, ada sebuah desa kecil di kaki Pegunungan Tianyun yang sesekali membeli kayu dari mereka.

Dengan langkah malas, Chu Xuan memanggul ikatan kayu yang hampir sebesar tubuhnya.

"Aku punya pertanyaan."

"Tanyakan."

"Kenapa kita tidak menjadi kaya saja?"

"..."

"Atau setidaknya sedikit kaya."

Pertapa Qingfeng tersenyum kecil.

"Karena menjadi kaya tidak semudah itu."

"Kalau begitu, dunia ini rusak."

Dalam perjalanan menuruni gunung, Chu Xuan sesekali melihat sosok-sosok berpakaian mewah melintas di langit menggunakan pedang terbang.

Mereka adalah kultivator.

Bagi penduduk desa, mereka adalah makhluk yang nyaris seperti dewa.

Namun, setiap kali melihat mereka, Chu Xuan hanya memiliki satu pemikiran.

"Mereka tidak takut jatuh?"

Pertapa Qingfeng hampir tersedak mendengarnya.

"Itu bukan hal yang seharusnya kau pikirkan."

"Tapi kalau jatuh dari setinggi itu pasti sakit."

"Itu benar."

Chu Xuan mengangguk puas.

"Nah, lihat. Kekhawatiranku masuk akal."

Sesampainya di desa, beberapa penduduk langsung menyapa mereka.

"Pertapa Qingfeng!"

"Xiao Xuan!"

"Datang menjual kayu lagi?"

Chu Xuan mengangguk lesu.

"Ya. Demi setengah telur."

Seluruh penduduk desa tertawa.

Seorang nenek tua bahkan diam-diam menyelipkan dua buah bakpao ke tangan Chu Xuan.

"Anak baik harus makan yang banyak."

Mata Chu Xuan membelalak.

"Ini untukku?"

"Tentu saja."

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Chu Xuan dipenuhi kebahagiaan yang tulus.

Pertapa Qingfeng yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum.

Anak ini mudah sekali merasa puas.

Sayangnya...

Kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.

Ketika mereka hendak meninggalkan desa, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kejauhan.

"Menyingkir! Menyingkir!"

Seekor kuda besar berlari kencang di jalan utama.

Di atasnya duduk seorang pemuda berpakaian mewah dengan ekspresi arogan.

Penduduk desa segera mundur dengan wajah pucat.

"Itu Tuan Muda keluarga Wang!"

"Kenapa dia datang ke sini?"

Pemuda itu sama sekali tidak memperlambat kudanya.

Tatapannya bahkan tidak tertuju pada orang-orang di sekitarnya.

Namun di tengah jalan...

...seorang anak kecil terjatuh.

Tangisan langsung pecah.

"Ibu!"

Waktu seolah melambat.

Semua orang membeku.

Jarak antara kuda itu dan anak kecil tersebut tinggal beberapa meter.

Pada saat itulah, sebuah suara malas terdengar.

"Kalau dia mati, semua orang pasti akan menangis. Merepotkan sekali."

Semua orang menoleh.

Chu Xuan menghela napas panjang sebelum meletakkan ikatan kayunya.

"Aku benci melakukan pekerjaan tambahan."

Dan untuk pertama kalinya...

...anak yang kelak akan membuat seluruh dunia kultivasi gemetar itu melangkah maju.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!