NovelToon NovelToon

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Bab 01

Lampu-lampu kota Jakarta masih menyala terang ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam keluar dari basement Royal Crown Bar, salah satu bar eksklusif milik De Luca Group.

Tempat itu dikenal sebagai surga bagi para pebisnis kelas atas. Banyak kesepakatan bernilai miliaran rupiah lahir di balik denting gelas kristal dan alunan musik jazz. Tidak sedikit pula wanita cantik yang dijadikan alat untuk melancarkan kerja sama.

Namun, semua itu tidak pernah menarik perhatian Kenzo Roman. Baginya, orang-oranglah yang harus datang menghadap. Mereka yang membutuhkan dirinya, bukan malah sebaliknya.

Di usia tiga puluh lima tahun, Kenzo telah mengambil alih seluruh kerajaan bisnis keluarga setelah sang ayah, Alex Roman Vasillo, memilih pensiun dan menetap di Berlin bersama istrinya. Kini, perusahaan investasi terbesar di Asia Tenggara berada di bawah kendalinya.

Begitu pula seluruh jaringan dunia bawah yang selama puluhan tahun dibangun keluarga Vasillo. Kasino, bar keamanan dan distribusi. Semua berada dalam satu komando. Meski begitu, Kenzo memiliki satu aturan yang tak pernah bisa ditawar.

Tidak ada narkoba dan perdagangan manusia di wilayah kekuasaannya. Siapa pun yang melanggar akan berurusan langsung dengannya.

"Tuan." Digo membukakan pintu mobil.

Kenzo baru saja hendak masuk ketika sebuah bayangan berlari dari arah lorong parkiran. Pintu belakang yang telah terbuka, membuat seorang gadis muda menyelinap masuk ke dalam mobil dan langsung berjongkok di lantai kabin.

"Nona?" gumam Digo terkejut.

Kenzo mengernyit, tatapan tajamnya beralih kepada gadis asing yang napasnya memburu. Rambut panjangnya berantakan. Gaun hitam yang dikenakannya tampak kusut, sementara kedua tangannya gemetar hebat.

"Tolong..." Suaranya nyaris tak terdengar.

"Jangan keluarkan saya, tolong..."

Belum sempat Kenzo bertanya, suara langkah kaki terdengar mendekat.

"Itu dia! Cari ke sana!"

Beberapa pria bertubuh besar berlari memasuki area parkir. Salah seorang dari mereka menghampiri Digo.

"Maaf, apa Anda melihat seorang wanita memakai gaun hitam lewat sini?"

Digo memasang wajah datar. "Tidak." Ia lalu menunjuk emblem berbentuk huruf V di kap mobil.

"Ini mobil Tuan Kenzo, apa kalian kira kami akan menyembunyikan seseorang yang kalian cari?"

Nama itu seolah menjadi ancaman. Wajah para pria langsung berubah pucat.

"M-maaf."

Tanpa berani berkata lebih banyak, mereka segera pergi meninggalkan basement.

Di dalam mobil, gadis itu masih memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar, wajahnya memerah tidak normal. Kenzo memperhatikannya beberapa detik.

"Apa yang terjadi padamu?"

Gadis itu mengangkat wajah perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Saya, saya tidak tahu...." Ia memejamkan mata sambil menggigit bibir.

"Tolong, tubuh saya terasa panas...."

Ucapan itu membuat Digo saling pandang dengan atasannya.

"Tuan..."

Kenzo memahami situasinya. Seseorang kemungkinan telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman gadis itu.

"Turun!" Perintah Kenzo singkat.

Digo membuka pintu belakang. Namun, gadis itu justru bergerak mendekati Kenzo seolah mencari tempat berlindung.

"Tolong jangan tinggalkan saya...." Napasnya semakin tidak teratur.

Kenzo menghela napas pelan. "Digo."

"Ya, Tuan."

"Tinggalkan kami beberapa saat."

Digo terdiam, selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Kenzo, ia belum pernah menerima perintah seperti itu.

"Tuan, apa Anda yakin?"

Tatapan Kenzo tetap tenang. "Saya tahu apa yang saya lakukan."

Digo akhirnya mengangguk.

"Baik."

Ia menutup pintu mobil dan menjauh dari kendaraan, menyisakan keheningan di dalam kabin.

Kenzo memandangi wanita yang kini terduduk lemas di sampingnya. Napasnya memburu, pipinya memerah, dan tatapannya mulai kehilangan fokus. Jelas, ada sesuatu yang telah dicampurkan ke dalam minumannya.

Wanita itu mengangkat wajah perlahan. Meski kesadarannya mulai kabur, sorot matanya masih menyimpan keberanian yang aneh.

"Tuan..." lirihnya, dia bergerak mendekat, seolah hanya Kenzo yang bisa menjadi tempat berlindung.

Kenzo menahan kedua bahunya agar tetap menjaga jarak.

"Jangan mendekat."

"Tapi, tubuh saya tidak nyaman."

"Saya tahu."

Wanita itu menggeleng pelan. "Saya tidak pernah seperti ini."

Kenzo mengembuskan napas panjang. Selama bertahun-tahun hidup di dunia malam, ia sudah berkali-kali melihat perempuan menjadi korban obat terlarang. Namun, untuk pertama kalinya ia merasa sulit bersikap setenang biasanya.

Entah karena wajah wanita itu, atau karena keberaniannya yang masih tersisa di tengah keadaan yang kacau.

"Saya ingin bertanya sesuatu."

Wanita itu mengangguk lemah.

"Kau masih perawan?" Pertanyaan itu membuat wanita tersebut berusaha menegakkan tubuhnya.

"Saya baru lulus kuliah tahun ini." Suaranya terdengar bergetar, tetapi tegas. "Bagaimana mungkin saya sengaja menggoda laki-laki? Saya ini dijebak!" Dia menekan telunjuknya pada dada Kenzo.

Tatapan Kenzo berubah. Di balik wajah yang memerah dan tubuh yang kehilangan kendali, gadis itu masih berusaha mempertahankan harga dirinya.

"Itu sebabnya kau dikejar?"

Wanita itu mengangguk pelan.

"Saya kabur, sebelum mereka berhasil membawa saya. Saya ditawarkan sebuah pekerjaan tetapi malah berakhir seperti ini,"

Keheningan memenuhi kabin mobil. Beberapa detik kemudian, wanita itu tersenyum tipis.

"Kalau dipikir-pikir..." gumamnya lirih. "Saya tidak terlalu rugi kalau malam ini bersama Anda."

Kenzo mengangkat sebelah alisnya.

"Oh?"

"Setidaknya, Anda terlihat bersih dan tampan."

Ucapan polos itu membuat Kenzo nyaris kehilangan ekspresi datarnya.

"Tapi justru saya yang akan rugi," balasnya singkat.

Wanita itu terkekeh pelan, dengan gerakan lambat, ia mengangkat telunjuknya lalu menempelkan ujung jari itu di bibir Kenzo.

"Sst, jangan katakan itu, Tuan!"

Jantung Kenzo berdetak lebih cepat. Selama hidupnya, tidak pernah ada seorang wanita yang berani menyentuhnya sedekat ini. Tatapan mereka bertemu, untuk beberapa saat, dunia di luar mobil seolah menghilang.

Di kejauhan, Digo yang berdiri menjaga hanya bisa memandang mobil itu dengan wajah penuh tanda tanya. Ia belum pernah melihat atasannya menatap seorang wanita selama itu.

Entah keberanian dari mana wanita itu langsung naik ke pangkuan Kenzo yang duduk di depannya. Tangan kanan menyentuh bahu Kenzo, tangan lain bermain di dada bidang pria itu. Napasnya memburu, wajahnya kian memerah merasakan detak jantung yamg terus berdegup.

"Berhenti, atau kau akan menyesal?!" suaranya kecil tetapi tegas dalam memerintah.

"Menyesal? Aku tidak akan menyesal. Justru aku menyesal jika aku berhasil dibawa oleh pria di luar sana," wanita itu menyentuh wajah dan bibir Kenzo dengan ibu jarinya, tatapan tajam Kenzo kini berubah menjadi sesuatu yang melunakkan. Lalu, tangannya perlahan bergerak mencengkram rambut wanita itu, dan langsung mendorongnya berbaring di jok mobil.

Tangah kasar menarik dasinya hingga longgar, lalu bibirnya kini menyentuh leher putih bersih wanita itu seraya berkata, "ku pastikan kau tidak akan menyesal,"

"Tidak akan, Tuan!" kedua tangannya memeluk leher Kenzo.

"Ah! Tuan, saya perawan! Tolong lebih pelan,"

"Kau salah masuk sarang, harusnya kau tidak akan berani datang padaku, setelah esok kau tau siapa aku!"

Malam itu, Kenzo telah gagal menjaga apa yang selama ini dia banggakan. Semenjak Organisasi Vasillo, berubah menjadi De Luca Organisasi, hidup Kenzo jauh lebih menantang dari sebelumnya. Dunia bawah tanah yang kini di pimpin oleh Kenzo Roman De Luca.

Bab 02

Di area basement yang sepi, mobil mewah itu terparkir di sudut yang jauh dari lalu lalang orang.

Di dalam kabin, wanita itu tertidur dengan napas yang mulai teratur. Sebuah jas hitam menutupi tubuhnya, sementara sisa-sisa efek obat masih membuat wajahnya terlihat pucat.

Di luar mobil, Kenzo berdiri membelakangi kendaraan sambil menyalakan rokok. Digo berada di sampingnya, menunggu penjelasan.

“Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak menyangka malam ini akan berakhir seperti ini,” ucap Digo hati-hati.

Kenzo mengembuskan asap rokok pelan. “Aku juga tidak menyangkanya.”

Digo melirik ke arah mobil. “Apa rencana Anda terhadap wanita itu?”

“Periksa identitasnya,” jawab Kenzo singkat. “Cari tahu siapa dia, kenapa dia datang ke bar kita, dan siapa orang-orang yang mengejarnya tadi.”

Digo mengangguk.

Kenzo melanjutkan dengan nada dingin, “Tidak ada perempuan baik-baik datang sendirian ke tempat seperti itni tanpa alasan. Kecuali dia datang bersama seseorang atau memang punya tujuan tertentu.”

“Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya.”

Sementara itu, di dalam mobil, wanita itu perlahan membuka mata. Kepalanya berdenyut hebat. Ia mengerang pelan sambil memegang pelipisnya. Saat mencoba bergerak, tubuhnya terasa lemas dan ada rasa tidak nyaman yang membuat wajahnya langsung memucat.

Pandangan matanya jatuh pada jas hitam yang menutupi tubuhnya. Ia terdiam beberapa detik sebelum berbisik lirih, “Bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Tata.”

Tata menggigit bibirnya, menahan rasa malu yang tiba-tiba menyerbu.

“Kamu malah menyerahkan dirimu pada pria asing…”

Dengan gerakan panik, ia mencari pakaiannya yang tergeletak di kursi. Setelah mengenakannya secepat mungkin, ia mengintip keluar jendela.

Dari celah kaca, ia melihat pria pemilik mobil, pria itu berdiri membelakanginya sambil berbicara dengan pria bernama Digo. Tata menarik napas pelan, lalu membuka pintu mobil sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan suara.

Jantungnya berdegup kencang. Ia melangkah keluar dengan hati-hati, menundukkan kepala, lalu berjalan cepat menyusuri sisi basement yang gelap.

Beberapa detik kemudian, sosoknya menghilang di balik lorong parkiran.

Ponsel Kenzo bergetar di dalam saku jasnya. Nama Kenzi muncul di layar, saudara kembarnya yang tinggal di Berlin.

Kenzo segera mengangkat panggilan itu.

“Bagaimana keadaan Daddy dan Mommy?” tanyanya sambil berjalan menjauh dari mobil.

“[Daddy baik, hanya masih harus kontrol rutin,] jawab Kenzi dari seberang sana. [Mommy juga menanyakan kapan kau mau datang ke Berlin, Kak? Sudah terlalu lama.”

“Nanti kalau semua urusan di sini selesai.”

Keduanya berbicara beberapa menit mengenai kondisi orang tua mereka dan perkembangan bisnis keluarga di Eropa. Kenzo masih terlihat tenang, seolah malam itu tidak terjadi sesuatu yang aneh.

Sampai terdengar suara Digo dari belakang.

“Tuan…” Nada suaranya membuat Kenzo langsung menoleh. Digo berdiri di samping pintu mobil yang terbuka dengan wajah terkejut.

“Mobilnya kosong.”

Kenzo menutup panggilan telepon tanpa banyak bicara lagi, lalu melangkah cepat mendekat. Tatapannya langsung menyapu seluruh kabin. Wanita itu benar-benar menghilang. Hanya jas hitamnya yang terlipat rapi di kursi belakang.

Saat pandangannya jatuh ke jok, mata Kenzo menyipit. Ada noda merah kecil yang tertinggal di sana. Rahangnya langsung menegang. Seorang wanita masuk ke mobilnya tanpa izin, menghabiskan malam bersamanya, lalu menghilang begitu saja tanpa meninggalkan identitas.

“Dia pergi lewat mana?” suara Kenzo terdengar rendah dan berbahaya.

“Saya tidak melihat siapa pun keluar, Tuan. Mungkin bisa jadi saat kita sedang berbicara.”

Kenzo mengusap pelan noda itu dengan ibu jarinya, lalu berkata tegas, “Cari dia.”

Digo langsung berdiri tegak. “Baik, Tuan.”

“Periksa seluruh rekaman CCTV basement, pintu keluar, dan area sekitar bar. Cari tahu dengan siapa dia datang dan siapa orang-orang yang mengejarnya tadi.”

“Siap.”

Tatapan Kenzo masih tertuju pada kursi belakang mobilnya.

“Jangan sampai dia lolos sebelum aku tahu siapa dia sebenarnya.”

Digo mengangguk cepat.

Kenzo menambahkan dengan nada dingin, “Aku tidak percaya semua ini datang secara kebetulan. Bisa jadi ada seseorang yang sengaja mengirimnya untuk mendekatiku.”

Sejak malam itu, pencarian terhadap gadis misterius tersebut tidak pernah berhenti. Atas perintah langsung Kenzo, Digo mengerahkan orang-orang terbaiknya untuk memeriksa seluruh rekaman CCTV di Royal Crown Bar, area parkir, hingga jalan-jalan di sekitar gedung.

Namun, hasilnya justru nihil. Wanita itu seolah sudah mengetahui letak setiap kamera pengawas. Rekaman yang ditemukan hanya memperlihatkan sosoknya dari arah samping dan belakang. Wajahnya tidak pernah tertangkap jelas.

Bahkan, CCTV di dalam bar pun tidak menemukan keberadaannya.

“Sepertinya dia sengaja menghindari kamera,” gumam Digo sambil meletakkan beberapa foto hasil tangkapan CCTV di meja kerja Kenzo.

Kenzo menatap foto-foto buram itu tanpa berkedip. Ia masih mengingat malam tersebut dengan sangat jelas. Rambut panjang yang berantakan. Tatapan mata yang dipenuhi ketakutan sekaligus keberanian.

Dan sebuah tahi lalat kecil di leher wanita itu dengan detail nya Kenzo dapat mengingat. Tetapi, entah mengapa tertanam kuat dalam ingatannya semua bayangan tentang wanita itu.

Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, bayangan wanita itu terus muncul di benaknya. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Digo akhirnya datang membawa laporan baru.

“Tuan, saya rasa dugaan Anda benar.”

Kenzo mengangkat pandangan.

“Ada seseorang di balik semua ini. Identitas wanita itu disembunyikan dengan sangat rapi. Tidak ada data tamu yang cocok, tidak ada catatan kendaraan, dan tidak ada jejak digital yang bisa ditelusuri.”

“Jadi dia benar-benar hilang?”

“Ya, Tuan. Dengan foto yang hanya memperlihatkan punggung dan sisi wajah, hampir mustahil menemukannya. Seolah-olah seseorang sengaja membersihkan semua jejaknya.”

Kenzo menyandarkan tubuhnya di kursi, tetapi tatapannya tetap tertuju pada foto buram wanita tersebut.

“Kalau memang ada orang yang sengaja menyembunyikannya,” ucapnya pelan, “berarti wanita itu lebih penting daripada yang kita kira.”

Digo mengangguk, dan sejak hari itu, pencarian terus dilakukan meskipun tak pernah mendapat jawabannya.

Bab 03

Enam tahun kemudian.

Pagi itu, lantai paling atas gedung De Luca Group, tampak sibuk seperti biasa. Dari balik dinding kaca kantor utama, pemandangan kota Jakarta terlihat membentang luas di bawah sana.

Kenzo Roman De Luca, berdiri di depan jendela dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya tetap dingin, tetapi aura yang dimilikinya kini jauh lebih matang dibanding enam tahun lalu.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kenzo.

"Masuk,"

Pintu terbuka dan Digo melangkah masuk sambil membawa sebuah map hitam

"Tuan, ada hal penting."

Kenzo berbalik lalu duduk di kursi kerjanya.

"Ada apa?"

"Pengacara utama perusahaan resmi pensiun Minggu lalu. Divisi hukum meminta kita segera merekrut kandidat baru."

Kenzo mengangguk singkat. "Pilih yang terbaik. Aku tidak mau orang yang hanya pandai di ruang sidang."

Digo tersenyum tipis, "karena itu saya datang sendiri." Dia membuka map hitam tersebut, dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Kenzo.

"Ada satu nama yang menurut saya paling cocok untuk posisi ini."

Kenzo hanya menatap sekilas, lalu kembali menatap Digo.

“Tara Devika Halim.” Nama itu terdengar asing, tetapi entah mengapa membuat dada Kenzo terasa sedikit mengusik.

Digo melanjutkan, “Usianya tiga puluh satu tahun. Lulusan terbaik Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Setelah itu pindah ke Hong Kong dan membangun karier di firma hukum internasional.”

Kenzo mulai membaca profil tersebut.

“Selama enam tahun terakhir, dia menangani banyak kasus korporasi dan arbitrase internasional. Reputasinya sangat bagus. Bahkan, beberapa perusahaan besar di Hong Kong pernah mencoba merekrutnya secara permanen.”

“Kenapa dia kembali ke Indonesia?” tanya Kenzo.

“Itu yang menarik,” jawab Digo. “Tidak banyak informasi pribadi tentang dirinya. Seolah dia sengaja menjaga kehidupan pribadinya tetap tertutup.”

Kalimat itu membuat Kenzo terdiam beberapa detik. Digo menyerahkan satu lembar foto terbaru.

“Wawancara dijadwalkan sore ini, Tuan.”

Kenzo mengambil foto tersebut. Seorang wanita berambut panjang berdiri dengan setelan blazer krem, membawa map dokumen di tangannya. Wajahnya cantik dan terlihat tenang, tetapi ada sorot mata tegas yang membuatnya tampak berbeda dari wanita-wanita yang biasa ditemuinya. Jantung Kenzo berdetak sedikit lebih lambat.

Tatapan itu, sangat mirip dengan wanita yang pernah memohon perlindungan di mobilnya enam tahun lalu. Namun, ia segera menepis pikirannya sendiri.

'Mustahil.' Gumam Kenzo kemudian.

“Siapkan ruang wawancara,” ucapnya akhirnya.

“Baik, Tuan.”

Saat Digo hendak keluar, Kenzo kembali memanggilnya.

“Digo.”

“Ya?”

“Pastikan data latar belakangnya diperiksa ulang. Semua yang bisa ditemukan.”

Digo mengangguk tanpa curiga. “Siap.”

Pintu tertutup kembali.

Kenzo menatap foto Tara lebih lama dari yang seharusnya. Setelah bertahun-tahun, firasat aneh kembali muncul.

"Kenapa wajah wanita ini terlihat tak asing?" kata Kenzo yang terus menatap foto itu.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di Jakarta, Tara sedang merapikan dasinya seorang anak laki-laki kecil yang tampan.

“Mateo, jangan berlari saat Bibi Maya mengantarmu ke sekolah. Ini hari pertamamu sekolah di sini,"

“Baik, Mommy.”

Di samping mereka, seorang gadis kecil dengan wajah yang sangat mirip Tara sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya.

“Mommy, nanti pulang cepat ya.”

Tara tersenyum lembut dan mencium kening kedua anak kembarnya.

“Alisya dan Mateo harus jadi anak baik hari ini.”

Keduanya mengangguk bersamaan. Setelah pintu apartemen tertutup, Tara menatap undangan wawancara dari De Luca Group yang ada di tangannya. Ia menarik napas pelan.

“Semoga ini awal yang baik.” Setelah memasukan kembali undangan itu, Tara lalu pergi meninggalkan apartemennya.

Di dalam apartemen, Mateo duduk bersila di atas karpet sambil menatap serius layar iPad milik Alisya. Jari-jari kecilnya bergerak cepat membuka beberapa aplikasi pendidikan yang dulu sering mereka gunakan saat tinggal di Hong Kong.

Maya yang baru keluar dari dapur menggeleng geli melihat bocah itu.

“Mateo, jangan sibuk dengan iPad terus, nanti matanya sakit.”

Mateo mendongak. “Bibi Maya, untuk apa sih kita sekolah lagi?”

“Kenapa memangnya?”

“Aku sama Alisya kan sudah punya sertifikat belajar dari Hong Kong. Bukannya itu sudah cukup?”

Maya tersenyum sambil merapikan rambut bocah itu. “Di Indonesia kita harus mulai lagi dari awal, Teo. Anggap saja supaya kalian bisa punya teman baru.”

Sebelum Mateo sempat membalas, Alisya yang sedang duduk sambil memeluk bonekanya ikut menyahut dengan wajah polos.

“Sepelti ici bencin aja, mulai dali nol.”

Maya tak bisa menahan tawa kecilnya.

“Iya, seperti isi bensin mulai dari nol lagi,” ulangnya sambil menahan senyum melihat pelafalan Alisya yang masih cadel.

“Bibi ambilkan bekal dulu, ya. Jangan berantem.”

Kedua anak itu mengangguk patuh. Begitu Maya masuk ke dapur, Mateo mendekat ke Alisya dan berbisik pelan.

“Kata Mommy, sekolahnya luas dan banyak orang di sana.”

Alisya mengangguk.

“Cha, kamu mau nggak cari Daddy?”

Gadis kecil itu langsung menoleh. “Memangnya kakak tau Daddy ada di mana?”

Mateo menggeleng cepat. “Kalau aku tau, kita tinggal jemput aja terus ajak Daddy pulang.”

“Kalau ndak tau, gimana calinya?”

“Makanya aku ngajak kamu cari!” Wajah Mateo terlihat kesal dibuat sama adiknya.

Alisya mengerucutkan bibir. “Ngomong yang benal dulu, Kak Teo.”

“Aku bukan Teo!” protes Mateo spontan. “Namaku Mateo!”

Alisya ikut berdiri sambil menunjuk dirinya sendiri dengan serius. “Alischa bukan Cha! Sebut dulu yang benal, balu boleh panggil.”

Mateo memutar bola mata. “Itu juga salah, Alisya!”

“Alischa!”

“Alisya!”

“Alischa!”

Perdebatan dua bocah kembar itu makin seru sampai suara Maya terdengar dari dapur.

“Kalian berdua, jangan ribut!”

Keduanya langsung diam dan saling melirik. Lalu tanpa aba-aba, mereka tertawa bersamaan. Maya yang keluar sambil membawa dua kotak bekal hanya bisa menggeleng pasrah melihat tingkah dua anak jenius itu.

Meski sering berdebat soal hal-hal kecil, Alisya dan Mateo selalu menjadi pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Dan di balik pertengkaran lucu mereka, tersimpan satu pertanyaan yang sama-sama belum berani mereka tanyakan langsung kepada Tara. Siapa sebenarnya Daddy mereka, dan dimana pria itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!