"Isaac Newton pernah menyatakan dalam hukum pertamanya bahwa benda yang diam akan cenderung tetap diam, kecuali ada gaya luar yang memaksanya untuk bergerak."
Kinan sangat mengagumi teori itu. Sebab bagi Kinan hukum fisika tersebut bukan sekadar materi ujian yang berhasil mengantarkannya lulus kuliah dengan predikat Cum Laude bulan lalu, melainkan sebuah prinsip hidup yang sakral. Dan saat ini, kasur busa berukuran queen size di kamarnya adalah pusat gravitasi terkuat di alam semesta. Tempat di mana Kinan mempraktikkan hukum Newton tersebut dengan tingkat akurasi seratus persen.
**
"Kinaaaan! Turun! Ini sudah jam sepuluh siang, kamu belum sarapan, belum mandi, kerjaannya cuma telentang kayak ikan asin dijemur! Kamu itu perempuan, sudah lulus kuliah, masa depanmu mau ditaruh di mana kalau punggung kamu itu nempel terus di kasur?!"
Suara cempreng Ibu yang melengking dari arah dapur menembus sela-sela pintu kamar. Itu adalah 'gaya luar' yang paling Kinan hindari. Sebuah ganguan yang berpotensi merusak kedamaian yang sedang ia bangun sejak membuka mata dua jam lalu.
Kinan menghela napas panjang. Mengeluarkan energi untuk berteriak menyahut omelan Ibu dirasa terlalu melelahkan untuknya. Detak jantungnya harus tetap berada di zona yang stabil. Namun, dia tahu Ibunya tipe wanita yang tidak akan berhenti berteriak sebelum mendengar tanda-tanda kehidupan dari dalam kamarnya.
Dengan gerakan yang sudah terlatih di mana sebuah koreografi efisiensi tenaga yang ia sempurnakan selama bertahun-tahun.
Kinan tidak menggerakkan badannya sama sekali. Dia hanya menjulurkan kaki kanannya ke ujung kasur. Ibu jari dan jari telunjuk kakinya menjepit kabel pengisi daya yang menjuntai di lantai, menariknya perlahan dengan perhitungan tingkat tinggi. hingga ponsel miliknya yang berada di lantai ikut terseret naik ke atas kasur. Begitu ponsel itu berada dalam jangkauan tangan, Kinan menangkapnya.
Happ... Zero effort.
"Kinan... Kau memang Cerdas, hemat energi, dan tepat sasaran." Ia lalu mengetik sebuah pesan singkat di WhatsApp.
Kinan: "Kinan sudah bangun, Bu. Lagi merenungkan masa depan di kamar. Jangan teriak-teriak lagi ya, Bu, nanti tensi Ibu naik. Kinan sayang Ibu."
Pesan dikirim. Dua detik kemudian, terdengar suara denting notifikasi dari dapur, diikuti oleh keheningan. Kinan tersenyum puas. Mengetik sepuluh kata di ponsel jauh lebih efektif daripada harus berteriak balas-membalas yang bisa memicu perang dunia ketiga di rumah mereka.
Bagi sebagian besar orang, lulus kuliah adalah gerbang menuju kompetisi hidup yang sesungguhnya. Teman-teman seangkatannya di media sosial sibuk memperbarui profil LinkedIn mereka, memakai jas rapi, menghadiri job fair, atau membagikan foto estetik di depan gedung korporat dengan caption penuh motivasi tentang 'menjemput mimpi'.
Kinan? Baginya, pencapaian tertinggi setelah berhasil melewati drama skripsi dan dosen pembimbing yang ajaib adalah hak untuknya membalas dendam dengan cara menjadi penguasa tertinggi di atas kasurnya tanpa perlu memikirkan alarm jam enam pagi yang menggangu tidurnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit? Pikir Kinan sinis sambil mengubah posisinya miring ke kanan. Cari kerja, bangun subuh, menembus kemacetan kota yang gila, berdesakan di transportasi umum, sampai kantor dimarahi bos, lembur sampai malam demi target yang tidak ada habisnya, lalu ujung-ujungnya stres, asam lambung naik, dan uang gajinya habis hanya untuk bayar dokter atau psikolog yang mahal.
"Huft... Ckckck... Bukankah itu pemborosan energi, dan juga lingkaran setan yang tidak efisien," gumam Kinan pada dirinya sendiri. "Lebih baik potong yang rumit itu. Dan lngsung bahagia dengan cara rebahan di kamar. Hemat biaya hidup, ramah lingkungan, dan menjaga kesehatan mental."
Kinan menarik napas panjang lalu membuangnya. "Huft... Nikamatnya hidup."
Kinan meraih tablet grafis yang tergeletak di samping bantalnya. Sambil tetap mempertahankan posisi tiduran miringnya. posisi yang menurut penelitian pribadinya adalah posisi paling sempurna untuk bekerja tanpa membuat lengan pegal, dengan jemarinya yang mulai menari di atas layar digital menggunakan pena stylus.
Di balik kelakuannya yang mirip kungkang, Kinan sebenarnya adalah seorang pelukis digital yang sangat berbakat. Dia lulusan Desain Komunikasi Visual. Alasan dia memilih jurusan itu pun sebenarnya sangat sederhana Karena tugas-tugasnya bisa dikerjakan di mana saja, termasuk di atas kasur, selama ada laptop dan koneksi internet. Kinan tidak malas berpikir, otaknya justru bekerja dua kali lebih cepat jika tujuannya adalah menemukan cara tercepat untuk menyelesaikan sesuatu agar dia bisa segera menganggur lagi.
Saat ini, dia sedang menyelesaikan sebuah pesanan ilustrasi dari klien luar negeri yang dia dapatkan lewat platform freelance. Harganya lumayan, menggunakan mata uang dolar, dan yang paling penting, Kliennya tidak perlu tahu bahwa ilustrasi indah beraliran surealis dengan detail memukau itu dikerjakan oleh seorang gadis yang bahkan belum menyisir rambutnya sejak kemarin sore dan hanya mengenakan setelan tidur longgar favoritnya yang sudah bolak-balik dicuci sampai menipis.
Brak!
Pintu kamar Kinan terbuka tanpa permisi. Pertahanan surga dunianya runtuh seketika. Ibu berdiri di ambang pintu dengan daster bermotif batik, tangan kanannya memegang spatula besi. Dengan tatapan matanya yang tajam, yang bahkan tidak membuat Kinan terkejut, melainkan hanya mengedipkan mata pelan.
"Tuh, kan! Ibu bilang juga apa! Masih begini posisinya!" Ibu berjalan mendekat, berkacak pinggang di samping kasur. "Kinan, Ibu serius ya. Kamu tahu gak, anaknya Jeng Lastri yang seangkatan sama kamu itu? Si Rara? Hari ini dia resmi keterima kerja di bank BUMN. Tadi Jeng Lastri pamer di grup arisan komplek, fotonya pakai seragam rapi banget."
Kinan menatap langit-langit kamarnya sejenak, menghitung putaran kipas angin sebelum menjawab dengan suara selembut mungkin. "Alhamdulillah, Bu. Ikut senang buat Rara. Berarti lowongan kerja di bank berkurang satu, beban persaingan berkurang."
"Bukan itu poinnya, Kinan!" Ibu mulai gemas, spatula besinya diangkat sedikit ke udara. "Poinnya adalah kamu kapan? Mau sampai kapan jadi pajangan kamar begini? Teman-teman kamu itu kalau gak sibuk cari kerja, ya sibuk sebar undangan nikah. Itu si Dita, minggu depan nikah sama pacarnya yang manajer di perusahaan swasta. Lah kamu? Jangankan kerja, pacar aja hilal-nya gak kelihatan. Kamu gak pengen nikah apa?"
Kinan memperbaiki posisi bantalnya, menumpuknya agar kepalanya sedikit lebih tinggi untuk menatap sang Ibu. "Bu, coba kita pakai logika matematis ya. Menikah itu artinya menyatukan dua kepala yang berbeda. Otomatis, potensi masalah hidup bertambah dua kali lipat. Harus mikirin ego suami, mertua, cicilan rumah, cucian piring yang numpuk, belum lagi kalau punya anak. Kalau sekarang Kinan sendiri saja sudah bahagia lahir batin, tidak ada konflik, hidup damai sejahtera, buat apa Kinan sengaja cari masalah baru dengan cara menikah? Itu tidak logis, Bu."
Ibu mengusap dadanya, beristighfar dalam hati menghadapi anak perempuannya yang terlalu pintar berargumen untuk menutupi kemalasannya. "Kamu itu ya, kalau ngomong selalu diputar-putar pakai teori! Hidup itu bukan cuma soal rebahan dan nonton drakor, Kinan...?! Manusia itu makhluk sosial, butuh pasangan. Nanti kalau Ibu sama Ayah sudah gak ada, siapa yang mau ngurusin kamu yang manja dan malesnya minta ampun kayak gini?
"Kinan bisa urus diri sendiri Bu, pakai uang hasil kerja sampingan yang bisa Kinan hasilkan hanya dari kamar," jawab Kinan jujur, menunjuk tablet grafisnya. Tapi tentu saja, bagi ibunya yang merupakan generasi konvensional, bekerja di dalam kamar dengan pakaian tidur tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan nyata.
Sebab di pandangan ibunya seorang pekerja itu adalah ia yang memakai sepatu pantofel, pergi jam tujuh pagi, dan pulang jam lima sore.
"Sudah, Ibu gak mau dengar alasan kamu lagi. Pokoknya, debat kita selama tiga minggu ini selesai hari ini." Ibu menurunkan spatulanya, senyum kemenangan tiba-tiba terbit di wajahnya.
"Maksud Ibu?" Kinan menyipitkan mata, menghentikan goresan penanya di atas layar tablet.
Ibu melipat tangannya di dada, memandang Kinan dengan tatapan tajam tanpa bantahan. "Ibu sama Ayah sudah sepakat. Dan Ibu juga sudah bicara sama Tante Mira, sahabat Ibu waktu SMA dulu yang sekarang tinggal di Jakarta. Minggu depan, anaknya Tante Mira mau datang ke sini sama keluarganya. Kita mau mengadakan pertemuan keluarga."
Jantung Kinan berdegup lebih cepat. "Pertemuan... dalam rangka apa, Bu?"
"Perjodohan. Kamu akan Ibu nikahkan sama anaknya Tante Mira," ucap Ibu dengan nada santai.
Kinan langsung terduduk tegak. "Ibu! Kinan kan sudah bilang, Kinan gak mau nikah dulu! Lagian ini zaman apa sih, Bu? Kok masih pakai jodoh-jodohan kayak Siti Nurbaya aja? Kinan bahkan gak kenal sama anaknya Tante Mira!"
"Kamu gak perlu kenal dulu, nanti juga kenal setelah nikah," balas Ibu, sama sekali tidak goyah oleh protes Kinan. "Namanya Arga. Dia itu anak pertama Tante Mira. Setahu Ibu, dia itu lulusan luar negeri, pintar, dan sekarang jadi CEO di perusahaan startup teknologi miliknya sendiri di Jakarta. Hidupnya sukses, mapan, dan yang paling penting..." Ibu sengaja menggantung kalimatnya, menatap Kinan dengan senyum penuh arti.
"Apa?" tanya Kinan curiga.
"Dia itu orangnya super sibuk. Gila kerja. Istilah anak sekarang itu... workaholic akut. Tante Mira sampai pusing karena Arga itu gak pernah punya waktu buat pacaran, bahkan hidupnya diatur sama Google Calendar, jam kerja, dan target-target bisnis. Dari pagi ketemu pagi, isinya cuma kerja, kerja, dan kerja."
Kinan terdiam sejenak. Otaknya langsung menganalisis informasi tersebut. mencoba mencari-cari celah dari situasi buruk ini.
CEO? Workaholic? Hidupnya cuma buat kerja dari pagi sampai malam?
Sebuah kilatan ide jenius atau mungkin ide gila muncul di kepalanya.
Jika pria bernama Arga itu adalah seorang penggila kerja yang waktunya habis di kantor atau perjalanan bisnis, bukankah itu artinya pria itu tidak akan punya waktu untuk mengurusi kehidupanku dan secara otomatis aku juga tidak perlu mengurusnya?
Kinan membayangkan skenarionya. Mereka menikah demi formalitas orang tua. Setelah menikah, Arga akan sibuk di kantornya selama 24 jam selama seminggu, sementara Kinan akan dipindahkan ke rumah baru yang mewah, karena Arga seorang CEO mapan dan di sana, Kinan bisa melanjutkan aktivitas rebahannya dengan fasilitas yang jauh lebih baik, tanpa perlu mendengarkan omelan Ibu setiap hari. Arga sibuk mengejar dunia, Kinan sibuk menguasai kasur. Sebuah kerja sama yang sangat indah dan saling menguntungkan.
"Gimana? Kok malah bengong?" tanya Ibu, membuyarkan lamunan Kinan. Ibu mengira Kinan akan syok dan akan menangis histeris.
Kinan berdeham pelan, mengontrol ekspresi wajahnya agar kembali terlihat datar dan malas. Dia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, menarik selimut hingga sebatas dada, lalu menatap Ibunya dengan pandangan tenang.
"Ya sudah," jawab Kinan singkat.
Ibu melongo. "Ya sudah? Maksud kamu, kamu setuju?!" Ibu memastikan, tidak percaya bahwa anak perempuannya yang biasanya keras kepala ini menyerah begitu cepat.
"Iya, Kinan setuju. Kalau memang itu maunya Ibu dan Ayah, Kinan ikut aja. Toh, malas juga kalau harus berdebat terus tiap hari, buang-buang energi," ujar Kinan santai sambil kembali meraih tablet grafisnya. "Tapi ada satu syarat."
"Apa syaratnya?" Ibu bertanya dengan nada waswas.
"Selama seminggu sebelum pertemuan itu, Ibu jangan pernah nyuruh Kinan bangun pagi atau ngomel soal kasur lagi. Kinan butuh mengumpulkan energi untuk menghadapi calon suami Kinan yang... katanya gila kerja itu." Kinan tersenyum tipis di balik layarnya.
Ibu menggeleng-gelengkan kepala, antara gemas dan lega karena misinya berhasil. "Dasar anak aneh! Ya sudah, yang penting kamu gak kabur minggu depan!" Dengan perasaan menang, Ibu akhirnya keluar dari kamar dan menutup pintu.
Kinan mengembuskan napas lega setelah pintu tertutup. Ruangan kembali senyap. Pusat gravitasinya telah kembali berfungsi. Namun, dalam hatinya, Kinan mulai bertanya-tanya tentang sosok Arga. Seorang pria yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target kerja? Membanyangkannya saja sudah membuat persendian Kinan mendadak terasa linu dan melelahkan.
Kinan memejamkan mata sejenak, membayangkan benturan yang akan terjadi ketika prinsip hidupnya jika berhadapan langsung dengan prinsip hidup milik sang CEO.
"Kita lihat saja nanti, Pak CEO," bisik Kinan pada keheningan kamarnya. sebelum akhirnya ia kembali mengerjakan lukisannya di atas kasur.
**
Satu minggu bebas omelan yang dihadiahkan Ibunya adalah masa-masa kenikmatan hidup yang ia manfaatkan dengan sangat maksimal. Tujuh hari penuh ia dedikasikan untuk mengumpulkan energi, bertelentang di kasur, menyelami dunia fiksi melalui drama, dan menyelesaikan beberapa tenggat lukisan digitalnya tanpa ada interupsi dari sang Ibu. Namun, hukum alam selalu adil, setelah ketenangan yang panjang, badai pasti akan datang.
Hari Sabtu yang keramat itu akhirnya tiba.
Sejak jam tujuh pagi, rumah Kinan sudah berubah menjadi layaknya medan pertempuran. Suara vacuum cleaner bersahut-sahutan dengan denting perabotan dapur. Ibu sibuk mondar-mandir memastikan tidak ada debu sedikit pun yang berani singgah di sofa ruang tamu. Sementara Kinan, sang objek utama dari kegemparan hari ini, masih meringkuk di balik selimutnya, mencoba menawar waktu dengan berpura-pura menjadi patung.
"Kinan! Bangun! Ya ampun, ini sudah jam dua siang! Keluarga Tante Mira mau datang jam empat! Kamu belum mandi, belum dandan, malah masih gulung-gulung kayak risol!" Ibu menarik selimut Kinan tanpa ampun, merusak kedamaian fana gadis usia dua puluh tiga tahun itu.
Kinan mengerang pelan, perlahan membuka matanya dengan gerakan sangat lambat. "Ibu... ini baru jam dua. Masih ada seratus dua puluh menit. Menurut kalkulasi Kinan, mandi cuma butuh waktu sepuluh menit, dandan lima menit, pakai baju lima menit. Total dua puluh menit. Masih ada sisa seratus menit buat Kinan memejamkan mata demi menjaga kestabilan emosi."
"Gak ada tawar-menawar! Buruan mandi, pakai baju gamis yang sudah Ibu setrikain di lemari, terus dandan yang cantik. Jangan buat Ibu malu di depan calon mertuamu!"
Ibu menepuk kaki Kinan gemas sebelum melesat kembali ke luar kamar.
Kinan menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan pasrah. Menolak perintah Ibu di hari penentuan seperti ini jelas bukan strategi yang efisien karena hanya akan memicu omelan yang lebih panjang. Dengan berat hati, Kinan menurunkan kakinya dari kasur, melangkah gontai menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang diseret.
Sesuai dengan prinsip hidupnya, Kinan menolak untuk berdandan heboh. Dia sengaja memilih riasan wajah seminimal mungkin, hanya pelembap, sedikit bedak tabur, dan lip cream berwarna merah muda. Rambut hitamnya yang panjang hanya disisir rapi dan dibiarkan tergerai.
"Biar nanti pas acara selesai, bersihin mukanya gampang. Gak perlu pakai tiga lapis micellar water. Hemat kapas, hemat tenaga," gumam Kinan puas sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Meskipun riasannya sangat minimalis, kulit putih dan mata bulat Kinan justru memancarkan kecantikan alami yang segar. Sesuatu yang membuat Ibunya menggerutu saat Kinan turun ke ruang tamu, namun tidak bisa memprotes lebih jauh karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore tepat.
**
Suara deru mobil mewah yang memasuki pekarangan rumah membuat suasana di dalam ruangan mendadak tegang. Ayah Kinan yang sejak tadi duduk tenang sambil membaca koran langsung berdiri rapi, sementara Ibu sibuk membetulkan letak jilbabnya dengan gugup.
Pintu depan dibuka, memunculkan sosok Tante Mira dan suaminya, Om Hendra. Mereka berdua langsung disambut pelukan hangat dari orang tua Kinan. Namun, ada satu pemandangan yang langsung tertangkap oleh radar Kinan, Kursi di samping Tante Mira kosong. Sang calon suami tidak ada di sana.
"Duh, Rina, maaf banget ya," ucap Tante Mira setelah mereka semua duduk di ruang tamu. Wajahnya tampak tidak enak hati. "Arga tadi sebenarnya sudah jalan bareng kami. Tapi di tengah jalan, ada masalah darurat di kantor startup-nya. Salah satu server aplikasi mereka down, jadi dia harus melipir sebentar ke kafe terdekat buat memimpin rapat darurat lewat Zoom dengan tim IT-nya. nanti secepatnya dia akan langsung menyusul ke sini.."
Ibu Kinan langsung tersenyum maklum. "Ah, gak apa-apa, Jeng. Namanya juga anak muda sukses, CEO sibuk, kami sangat mengerti."
Sementara para orang tua sibuk berbasa-basi dan saling melempar pujian, Kinan duduk tegak di sofa tunggal dengan posisi formalitas yang sangat menyiksa punggungnya. Kepalanya mulai menghitung mundur.
Sudah tiga puluh menit berlalu, pikir Kinan dalam hati. Duduk tegak seperti ini benar-benar sangat melelahkan. Ditambah lagi harus memasang senyum palsu ramah lingkungan ini. Rasanya tubuhku tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi jika pria bernama Arga itu tidak datang dalam lima belas menit.
Tepat ketika pikiran Kinan mulai melantur membayangkan keempukan kasurnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati pintu masuk.
Sesosok pria berusia dua puluh delapan tahun melangkah masuk ke dalam rumah.
Kinan menahan napasnya sejenak. Karena aura Workaholic yang memancar dari tubuh pria itu. Meskipun harus diakui, garis rahangnya yang tegas, hidung mancung, dan potongan rambut undercut yang rapi membuatnya terlihat seperti model majalah bisnis.
Arga memakai kemeja formal berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga sebatas siku. Tangan kirinya memegang sebuah iPad yang layarnya masih menyala menampilkan grafik, sementara tangan kanannya memegang ponsel yang masih terhubung dengan earphone nirkabel di telinganya. Matanya yang tajam bergerak dengan cepat.
Melihat cara Arga bergerak yang serbacepat, Kinan merasakan sendi-sendinya mendadak linu. "Ini orang terbuat dari apa sih? Baru lihat dia jalan saja, energi fisikku rasanya langsung tersedot habis," batin Kinan ngeri.
"Pagi...eh, sore, Om, Tante. Maaf saya terlambat," suara Arga terdengar sangat to the point. Dia langsung menyalami orang tua Kinan dengan takzim.
"Gak apa-apa, Nak Arga. Ayo silakan duduk, perkenalkan ini Kinan," sahut Ayah Kinan sambil menunjuk ke arah anak perempuannya.
Arga mengalihkan pandangannya, menatap langsung ke arah Kinan yang duduk di seberangnya. Untuk sesaat, dua pasang mata dengan filosofi hidup yang saling bertolak belakang itu bertemu. Arga menilai Kinan dari atas sampai bawah dengan tatapan perhitungan seorang CEO. Di mata Arga, Kinan tampak seperti gadis yang manis, namun pembawaannya yang terlalu santai, gerakannya yang lambat saat membetulkan duduk, dan tatapan matanya yang mengantuk menandakan bahwa gadis ini tidak memiliki ambisi atau target dalam hidupnya.
"Arga," ucap pria itu singkat sambil menganggukkan kepala, tanpa mengulurkan tangan.
"Kinan," jawab Kinan dengan suara seadanya, mengangguk dengan sudut kemiringan kepala yang paling minimal.
Setelah sesi perkenalan yang canggung itu, obrolan keluarga inti dimulai. Tante Mira dan Ibu Kinan dengan cepat mendominasi percakapan, mulai membahas tanggal baik, konsep pernikahan yang elegan, hingga masalah rumah yang akan mereka tempati nanti. Sepanjang obrolan, Arga beberapa kali masih sempat melirik iPad di sebelahnya, membalas pesan penting dengan ketikan jari yang sangat cepat.
"Nah, karena urusan dasar sudah selesai kita bahas, bagaimana kalau Arga sama Kinan mengobrol berdua dulu di teras depan? Biar lebih saling mengenal," usul Tante Mira dengan senyum menggoda.
Ibu Kinan langsung menyenggol lengan Kinan. "Iya, gih. Temani Arga ngobrol di luar."
Kinan menghela napas, lalu berdiri dari sofa dengan keanggunan yang dipaksakan. Arga juga ikut berdiri, mematikan layar iPad-nya, dan melangkah mendahului Kinan menuju teras rumah yang sejuk.
**
Suasana teras sore itu cukup tenang. Angin sepoi-sepoi bertiup seperti mengejek Kinan yang harus terjebak dalam situasi canggung ini. Arga berdiri bersandar pada pagar pembatas teras, melipat tangannya di dada, sementara Kinan memilih duduk bersandar di kursi rotan.
Arga menatap Kinan, lalu melihat jam tangan digital di pergelangan tangan kirinya. "Saya punya waktu tepat lima belas menit sebelum harus membalas email investor dari Amerika," ucap Arga membuka percakapan.
Kinan berkedip lambat. "Baguslah. Lebih cepat selesai jauh lebih baik juga untukku."
Arga sedikit terkejut mendengar jawaban Kinan, namun dia segera menguasai dirinya.
"Oke, mari kita buat ini menjadi efektif," kata Arga, mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi. "Saya setuju dengan pernikahan ini karena ibu saya terus-menerus mengganggu fokus kerja saya dengan urusan perjodohan. Menikah denganmu akan menyelesaikan masalah itu, sehingga saya bisa kembali fokus membesarkan perusahaan saya tanpa gangguan."
Kinan menaikkan sebelah alisnya. "Alasan yang sangat logis. Baik, saya juga setuju, dan sepertinya kita punya misi yang sama. Menikah demi ketenangan masing-masing."
Arga mengangguk, "Sempurna. Ini timeline yang saya buat di Google Calendar," Arga menunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Kinan. Di sana, sudah ada rentetan jadwal berwarna balok-balok biru yang sangat rapi. "Akad nikah akan dilaksanakan satu bulan dari sekarang, hari Sabtu jam delapan pagi tepat. Resepsi akan berlangsung hingga jam sebelas sampai jam satu siang. Setelah itu, jam tiga sore saya ada jadwal penerbangan ke Singapura untuk urusan bisnis selama tiga hari."
Kinan menatap rentetan jadwal di layar ponsel Arga dengan perasaan ngeri. Gila, pikir Kinan. Hari pernikahan saja dijadikan seperti jadwal peluncuran produk baru. Orang ini manusia atau benar-benar robot bernyawa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!