"Sialan! Sialan! Sialan! Penulis macam apa sih yang bikin alur cerita kayak gini?! Otaknya ditaruh di mana, hah?"
Jeslyn atau yang biasa disapa Jeje oleh teman-temannya melempar novel tebal di tangannya ke atas kasur dengan kasar. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap-luap. Ia masih duduk bersila di atas lantai kamar kosannya yang berantakan, dikelilingi oleh bungkusan keripik singkong pedas yang hampir habis.
"Lucian itu baru tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun, woi! Bisa-bisanya dia mati ditusuk sama sahabatnya sendiri cuma gara-gara cewek?!" Jeje berteriak pada ruangan kosong, matanya yang tadi sempat merah karena marah kini mulai berkaca-kaca.
Ia mengambil lagi bungkusan keripik singkong, memasukkan segenggam besar keripik ke dalam mulutnya dengan brutal. Mengunyahnya dengan kasar seolah sedang mengunyah si penulis novel yang menyebalkan itu.
"Mmmph, hhmm! Nggak masuk akal banget," gumam Jeje dengan mulut penuh keripik. Ia menelan paksa kunyahannya, lalu lanjut mengomel lagi.
"Keluarganya Lucian itu... astaga, benar-benar nggak punya hati. Bapaknya sibuk kerja, ibunya sibuk pacaran sama berondong. Hah, selingkuh di depan mata kepala sendiri dan si Bapak cuma diam? Itu rumah tangga apa tempat pembuangan sampah sih?!"
Jeje menyeka ujung matanya yang basah. Ia benar-benar tidak habis pikir. Sebagai wanita berusia 25 tahun yang hidup mandiri, ia paling benci melihat ketidakadilan, apalagi jika menyangkut anak muda yang seharusnya mendapatkan kasih sayang.
"Lucian itu cuma butuh dipeluk, bego! Dia dingin karena dia nggak pernah diajarin cara buat hangat sama orangtuanya. Dia kesepian, dia butuh perhatian, tapi dia malah mati di gang sempit, sendirian, ditusuk orang yang dia percaya."
Jeje mengambil napas panjang, tapi isak tangisnya malah pecah. Air matanya jatuh lebih deras sekarang. Ia kembali meraih keripik singkong, tangannya gemetar. Tanpa sadar, ia mengambil porsi yang terlalu besar.
"Kenapa harus sad ending sih? Kenapa Lucian harus jadi kerangka dulu baru ditemuin sama polisi? Itu sadis banget! Penulisnya pasti psikopat!" Jeje terus mengoceh sembari menyumpal mulutnya dengan keripik. Saking emosinya, ia tidak menyadari bahwa ia tidak benar-benar mengunyah dengan sempurna.
Kruk.
Tenggorokannya terasa tersumbat. Potongan keripik singkong yang tajam dan besar itu seolah tersangkut tepat di jalan napasnya.
"Uhuk!"
Jeje terbatuk kecil, mencoba menelan sisanya. Tapi bukannya turun ke kerongkongan, keripik itu justru terasa semakin menghalangi.
"Eh... uhuk! Aduh..."
Jeje mulai panik. Ia mencoba mengambil napas, tapi yang terasa justru sesak yang menusuk dada. Ia memukuli dadanya sendiri dengan kepalan tangan, berharap sumbatan itu meluncur turun.
"Minum... mana minum..."
Matanya menyapu sekeliling, mencari botol air mineral yang tergeletak di dekat meja belajar. Tangannya terulur, meraih botol itu dengan gerakan limbung. Namun, saat ia mencoba meneguknya, tenggorokannya sudah benar-benar tertutup rapat. Air itu justru membasahi dagu dan baju kaosnya.
"Uhuk! Nggh... nggak bisa..."
Suara batuknya kini tertahan. Wajah Jeje mulai memerah, lalu perlahan berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas tak bertenaga. Ia jatuh terduduk kembali, punggungnya menabrak pinggiran kasur.
"Tolong..." bisiknya lirih, meski suaranya hampir tak terdengar karena saluran napasnya terhambat total.
Dunia di depan matanya mulai berputar. Pemandangan kamar kos yang sempit, tumpukan buku, bungkus keripik yang berserakan, dan novel sialan yang masih terbuka, semuanya tampak buram dan gelap.
"Oksigen, aku butuh oksigen." guman Jeje
Jeje mencengkeram lehernya sendiri, berusaha mengeluarkan apa pun yang menyumbat di sana. Namun, tenaganya semakin menipis. Pikirannya yang tadi penuh dengan amarah pada kisah hidup Lucian, kini perlahan memudar, digantikan dengan rasa takut akan kegelapan yang mulai merayap di pinggiran pandangannya.
"Lucian..." gumamnya lagi, sebuah nama yang entah kenapa menjadi hal terakhir yang terpikirkan olehnya.
"Kasihan... banget..."
Ia tidak tahu apakah ia sedang menangis atau hanya sekadar mengeluarkan sisa napas terakhir. Tangan yang tadi memukuli dada kini perlahan jatuh lemas ke samping tubuhnya. Bungkusan keripik yang ia pegang tumpah, menabur serpihan gurih di lantai kayu yang dingin.
Pandangannya yang tadi tertuju pada langit-langit kamar kini tidak lagi fokus. Kelopak matanya terasa sangat berat, seperti ditarik oleh beban yang luar biasa.
"Maafin... gue..." entah ditujukan untuk siapa kata itu, mungkin untuk dirinya sendiri yang ceroboh, atau mungkin untuk Lucian yang nasibnya lebih tragis dari dirinya.
Kepala Jeje terkulai ke samping. Napas yang tadi tersengal, kini benar-benar berhenti. Tidak ada lagi suara umpatan, tidak ada lagi isak tangis yang terdengar di ruangan itu. Kamar kos itu kembali hening, meninggalkan Jeslyn yang tergeletak tak berdaya di lantai, tepat di samping novel yang membawanya pada emosi mendalam sesaat sebelum kesadarannya benar-benar direnggut oleh kegelapan.
Apa yang Jeslyn rasakan saat dia sedang tersedak tadi benar-benar membawanya ke titik di mana dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain membiarkan tubuhnya menyerah pada keadaan.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.
"Ugh... aduh, kepalaku..."
Jeslyn mengerang pelan. Sisa rasa perih di tenggorokannya masih terasa samar, seperti bekas tersedak keripik singkong yang banyak.
"Tunggu dulu, keripik?"
Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar yang terasa lebih temaram dan... mewah? Bukan kosan sempitnya yang penuh tumpukan baju kotor. Ruangan ini luas, bernuansa klasik dengan gorden beludru yang menjuntai anggun.
"Ini di mana? Gue diculik?" Jeslyn hendak bangkit, tapi sebuah sensasi aneh menahannya. Perutnya terasa berat. Sangat berat.
Saat ia mencoba duduk, tangannya refleks menyentuh bagian tengah tubuhnya yang membuncit secara drastis. Mata Jeslyn membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum memompa darah dengan kecepatan dua kali lipat.
"Hah?! Apa-apaan ini?!" teriak Jeslyn histeris. Ia meraba perutnya yang keras dan membulat sempurna itu dengan gemetar.
"Gue makan apa sampai buncit begini?! Kista? Tumor? Atau ada orang gila yang masukin balon ke dalam perut gue pas gue pingsan?!"
Jeslyn memukul-mukul perutnya sendiri dengan panik.
"Woi! Keluar lo! Siapa yang naruh gundukan ini di sini? Gue nggak hamil! Gue aja pacar nggak punya, apalagi suami! Jangan bilang gue kena kutukan tidur seribu tahun terus bangun-bangun langsung dapet bayi? Ini nggak masuk akal!"
Ia bangkit berdiri dengan susah payah, berjalan mondar-mandir di kamar yang asing itu sambil terus meracau.
"Gila, gila, gila! Kalau orang lihat gue begini, mereka pasti mikir gue hamil di luar nikah! Habis reputasi gue! Nggak, nggak, ini pasti mimpi. Iya, mimpi buruk gara-gara kebanyakan makan keripik tadi."
Jeslyn mencubit lengannya sendiri dengan keras sampai memerah. "Aduh! Sakit! Jadi ini nyata?"
Ia terus melangkah dengan panik, kakinya yang sedikit bengkak terasa berat. Napasnya terengah-engah hingga langkahnya terhenti tepat di depan cermin besar berbingkai emas yang menempel di dinding.
"Cermin... oke, gue cuma perlu lihat siapa yang lagi ada di dalam tubuh gue," gumamnya dengan nada yang mencoba tenang, padahal tangannya masih gemetar hebat.
Namun, saat ia menatap pantulan di kaca, Jeslyn justru mematung. Ia melotot hingga matanya terasa perih. Sosok di dalam cermin itu memiliki paras yang sangat cantik, elegan, dan jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya yang asli. Wajahnya pucat dengan riasan yang sudah berantakan, menunjukkan bekas tangisan yang dalam.
Jeslyn mengangkat tangan kanannya, sosok di cermin pun mengangkat tangan kanan. Jeslyn memiringkan kepalanya, sosok di cermin pun melakukan hal yang sama.
"Gue... gue pindah tubuh?" bisiknya pelan, suaranya terdengar lebih berwibawa namun rapuh.
Ia mundur satu langkah, lalu maju lagi. "Bukan tubuh gue. Ini bukan tubuh gue yang bar-bar, kurus, dan hobi pakai kaos oblong. Ini tubuh... wanita lain?"
Ia meraba wajahnya sendiri, menyentuh pipinya yang halus, lalu turun ke perutnya yang buncit. Sebuah ingatan asing tiba-tiba menghantam kepalanya. Bukan ingatan miliknya, tapi ingatan pemilik tubuh ini. Tentang seorang istri yang diabaikan suaminya yang dingin dan acuh, tentang seorang wanita yang hanya menginginkan uangnya, dan tentang...
"Lucian?" desis Jeslyn.
Matanya membulat sempurna. Ingatan tentang novel yang baru saja ia baca tadi malam novel tentang Lucian yang menderita, Lucian yang diabaikan, Lucian yang mati sendirian seketika berputar di otaknya seperti potongan film.
"Tunggu... jangan bilang..." Jeslyn menempelkan tangannya ke cermin, menatap pantulan dirinya dengan tatapan yang kini berubah drastis.
"Gue ada di dalam tubuh ibunya Lucian? Istri dari bapak yang brengsek itu?"
Senyum aneh lebih tepatnya senyum sinting terulas di bibirnya. Ia tertawa kecil, yang kemudian berubah menjadi tawa lepas yang menggema di dalam kamar besar itu.
"Hah! Jadi ini plot twist-nya? Gue masuk ke tubuh antagonis paling menyebalkan yang bikin hidup Lucian hancur?" Jeslyn berkacak pinggang, mengabaikan perutnya yang masih terasa berat.
"Oke, kalau Tuhan ngasih gue kesempatan buat masuk ke sini, berarti gue punya tugas suci." Ia menunjuk pantulan dirinya di cermin dengan telunjuk yang tegas.
"Dengar ya, Nyonya Besar. Lo boleh jadi sampah di cerita aslinya, tapi sekarang gue yang pegang kendali. Gue nggak akan biarin Lucian kesepian lagi. Gue nggak akan biarin dia mati jadi kerangka di gang sempit itu!"
Jeslyn memutar tubuhnya di depan cermin, mengamati gaun tidur sutra mewah yang ia kenakan.
"Hamil ya? Hamil anak Lucian... eh, maksud gue, adik Lucian? Atau jangan-jangan ini Lucian-nya sendiri yang masih di dalam? Astaga, kalau ini Lucian yang masih di kandungan, berarti gue punya kesempatan buat benerin semuanya dari nol!"
Ia kembali tertawa, kali ini dengan mata yang berbinar penuh semangat.
"Bapaknya mau mati? Silakan! Gue bakal cerai juga deh nanti, gue bakal ambil hartanya, dan gue bakal kasih kehidupan yang layak buat Lucian. Nggak ada lagi penderitaan, nggak ada lagi adegan sedih di novel sialan itu!"
Jeslyn berjalan ke arah jendela, menyingkap gorden dengan satu sentakan. Cahaya pagi yang terik menerpa wajahnya. Ia menarik napas panjang, menikmati kebebasan dalam peran baru ini.
"Sori ya, Penulis Novel, lo salah pilih target buat jadi antagonis. Karena Jeslyn yang sekarang nggak bakal main drama tragis lagi." Ia mengelus perutnya dengan lembut, tatapannya melembut.
"Tenang aja, jagoan kecil. Mama baru lo ini bakal jadi pelindung paling bar-bar yang pernah ada. Siapa pun yang berani nyakitin Lucian, bakal gue bikin hidupnya lebih sengsara dari karakter manapun di novel ini!"
Ia memutar tubuhnya lagi, melakukan gerakan menari-nari kecil yang konyol di tengah ruangan.
"Wah, jadi ini rasanya jadi kaya? Hidup di rumah mewah, tapi punya misi penyelamatan dunia fiksi? Seru banget!"
Jeslyn kembali menatap cermin, kali ini dengan seringai penuh tekad. "Siap-siap aja, Lucian. Mama lagi otw buat jadi ibu paling keren sedunia. Dan untuk Bapak Lucian yang nggak tahu diri itu... persiapkan diri lo buat kena amukan dari seorang Jeslyn!"
Ia tertawa puas, menatap bayangannya sendiri yang kini tampak jauh lebih berwibawa dan penuh ambisi.
"Sekarang, mending gue cari tahu di mana letak dompet atau brankas di rumah ini. Perjuangan menyelamatkan masa depan Lucian dimulai hari ini!"
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.
"Hah? Apa-apaan ini?!"
Kepala Jeslyn terasa seperti dihantam palu godam. Ingatan-ingatan asing menyerbu otaknya bagaikan kaset rusak yang diputar paksa, suara-suara sumbang, kilasan pesta kapal pesiar yang gemerlap, alkohol, dan wajah seorang pria dingin bernama Keith Emmanuel Zephyr.
Jeslyn terduduk lemas di pinggiran ranjang yang empuk. Ia menjambak rambutnya sendiri, mencoba mengurai benang kusut yang tiba-tiba memenuhi kepalanya.
"Ibu tiri? Gue... gue pelakor?" Jeslyn mendesis, suaranya terdengar tidak percaya.
"Sialan! Jadi gue bukan ibunya Lucian? Gue cuma orang ketiga yang manfaatin keadaan buat ngerusak rumah tangga orang? Wah, gila! Ini bener-bener di luar dugaan!"
Ia terus bergumam, matanya menatap nanar ke arah meja rias. Ingatannya yang sekarang mulai tersusun rapi namun menyakitkan.
Jeslyn atau pemilik tubuh ini adalah seorang wanita yang terobsesi dengan Keith, pria kaya raya yang dingin dan tidak peduli pada apa pun kecuali pekerjaannya. Peristiwa di kapal pesiar itu bukan sebuah ketidaksengajaan, melainkan jebakan. Dan sekarang, dia sedang mengandung benih yang diminta sebagai syarat pertanggungjawaban.
"Keith cuma mengiyakan? Dia nggak peduli sama gue?" Jeslyn tertawa sinis.
"Ya pantas aja, orang dia sendiri juga nggak peduli sama anaknya sendiri! Terus kalau gue istrinya... di mana Lucian sekarang? Apa dia masih hidup?"
Jeslyn bangkit berdiri, perut buncitnya terasa semakin berat, tapi pikirannya lebih berat lagi. Ia mondar-mandir di kamar yang terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
"Tunggu, tunggu, tunggu," ia berhenti sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk dagu.
"Di novel yang gue baca, nggak ada tuh disebutin soal istri kedua. Yang gue tahu, Lucian itu menderita karena ayahnya kerja terus dan ibunya, si Vivian itu, sibuk selingkuh. Tapi... nggak ada cerita soal wanita yang jebak Keith di kapal pesiar!"
"Apa jangan-jangan..." Jeslyn menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
"Gue masuk ke sini malah ngerubah alur? Atau jangan-jangan, di cerita aslinya, si Jeslyn ini emang nggak pernah ada? Atau dia cuma karakter figuran yang nggak penting sampai penulisnya pun lupa nyebutin dia?"
Ia merasa panik. Jika ia bukan bagian dari alur asli, apakah artinya ia adalah anomaly? Apakah keberadaannya justru akan membuat Lucian lebih menderita?
"Lucian..." gumamnya lagi. Nama itu terasa getir di lidahnya.
"Di umur berapa dia sekarang? Apa dia udah jadi kerangka di gang sempit itu, atau dia lagi nunggu waktu buat dibunuh sama sahabatnya?"
Jeslyn memutar-mutar jari di rambutnya, frustrasi. "Kalau dia masih hidup, gue harus nemuin dia. Tapi gimana caranya? Gue bahkan nggak tahu rumah ini di mana, atau di mana kamar Lucian berada. Ini rumah luasnya kayak labirin pastinya, dan gue cuma sendirian di kamar ini!"
Ia berjalan menuju pintu, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu berlapis emas itu.
"Gue harus keluar. Gue harus tahu keadaan sekarang. Kalaupun gue ini pelakor di mata orang lain, gue nggak peduli. Misi gue cuma satu yaitu selamatkan Lucian. Titik!"
Namun, saat tangannya hampir memutar gagang pintu, ia ragu. Ia teringat kembali sosok Lucian yang digambarkan di novel, anak laki-laki pendiam, dingin, dengan mata yang selalu terlihat lelah dan kesepian.
"Kalau dia masih kecil dan gue datang sebagai ibu tiri yang jahat, dia bakal makin benci sama gue," bisiknya pada ruangan kosong.
"Jeslyn, lo harus pinter. Jangan bar-bar dulu. Lo di sini sebagai istri sah kedua. Lo punya akses. Lo punya kekuasaan buat ngelindungin dia, setidaknya di dalam rumah ini."
Ia kembali ke depan cermin, menatap wajah cantik namun penuh kekecewaan di sana.
"Vivian selingkuh, Keith sibuk kerja, dan si Jeslyn ini malah sibuk jadi benalu. Lucian benar-benar hidup di neraka dunia."
"Oke, Jeslyn, fokus!" teriaknya pada pantulan diri.
"Lo bukan lagi cuma pembaca novel yang nangis gara-gara keripik singkong. Lo sekarang adalah bagian dari cerita ini. Kalau ceritanya harus berubah, maka biar gue yang ubah! Gue bakal jadi tembok buat Lucian. Gue bakal bikin dia ngerasa punya rumah, bukan cuma sekadar bangunan megah tanpa jiwa."
Ia mencoba mengatur napasnya. "Pertanyaannya, di mana si Lucian sekarang? Apa dia lagi di kamarnya? Apa dia lagi sekolah? Atau jangan-jangan..."
Jeslyn merasa bulu kuduknya berdiri. "Jangan-jangan dia lagi disiksa oleh keheningan rumah ini?"
Ia kembali menatap perutnya. "Dan bayi ini... apa dia bakal jadi alat buat Keith, atau jadi pelipur lara buat Lucian? Sialan, kenapa takdir hidup orang lain jadi serumit ini?"
Jeslyn kembali duduk di tepi ranjang, masih dengan sejuta tanda tanya yang menari-nari di kepalanya. Tidak ada suara orang lain, hanya keheningan rumah besar yang justru membuatnya semakin waspada.
"Tenang, Jeje. Lo bisa. Lo anak bar-bar, lo nggak bakal takut sama plot twist sampah kayak gini," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
"Sekarang, cari tahu di mana Lucian. Itu prioritas utama. Kalaupun dia udah besar dan dingin, gue bakal jadi ibu tiri paling cerewet yang pernah dia punya, sampai dia capek buat jadi dingin terus!"
Ia tersenyum miring. Meski bingung, semangatnya mulai berkobar. Ia tidak akan membiarkan Lucian berakhir menjadi kerangka di dalam novel ini. Ia akan menjadi anomali yang mengubah tragedi menjadi sebuah cerita yang jauh lebih hangat, meski ia harus menjadi "ibu tiri" yang menyebalkan bagi semua orang di rumah ini.
"Lucian, tunggu gue. Entah lo di mana, Mami baru lo yang nggak tahu malu ini bakal cari lo sampai ketemu!"
Bersambung...
Semoga kalian suka, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!