NovelToon NovelToon

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan

Langit Jakarta sore itu seolah tiba-tiba runtuh. Hujan turun bukan lagi seperti butiran air, melainkan seperti disiram dari atas dengan ember raksasa, memukul aspal dengan bunyi gemuruh yang menutupi suara kendaraan lain.

Angin kencang menyapu basahi apa saja yang lewat, membuat suhu udara yang biasanya panas menyengat seketika berubah dingin menusuk tulang.

Di trotoar yang mulai banjir setinggi mata kaki, Rima berlari tergesa-gesa. Satu tangannya menekan erat tas bahu kain yang warnanya sudah agak pudar, sementara tangan lainnya sibuk melindungi kantong kertas cokelat yang digenggam erat di dada.

Itu adalah gorengan pesanan teman sekamarnya. Bakwan sayur dan pisang goreng yang baru saja ia beli di pinggir jalan sebelum hujan turun tiba-tiba.

"Jangan sampai basah, jangan sampai dingin, jangan sampai hancur..." gumamnya sendiri sambil terus berlari, matanya menyapu kiri dan kanan dengan panik. "Kalau sampai dingin, Dinda pasti ngambek seharian! Dia udah nunggu dari tadi!"

Rima sebenarnya berniat menunggu angkutan umum, tapi melihat hujan yang makin menjadi-jadi dan belum ada satu pun taksi yang lewat, ia mulai putus asa.

Kakinya sudah basah kuyup sampai ke mata kaki, sepatu kets putihnya kini berubah warna menjadi cokelat lumpur. Ia menggigil kedinginan, dan rasanya setiap detik yang berlalu semakin menyiksa.

Saat itulah, sebuah mobil sedan hitam berkilauan melambat dan berhenti tepat di pinggir jalan, beberapa langkah di depannya. Bentuknya persis seperti mobil taksi eksekutif yang sering ia lihat di jalan.

Bodi besar, warna gelap, dan berhenti persis di sampingnya. Rima tidak sempat lagi melirik pelat nomor, tidak sempat melihat logo di bagian depan, apalagi mengintip siapa yang ada di dalam. Yang ada di pikirannya cuma satu, dapat juga taksinya!

Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat larinya, menarik gagang pintu belakang dengan gerakan cepat, lalu menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin yang hangat dan berbau wangi segar.

Pintu ditutup dengan bunyi ''duk" yang agak keras, memotong suara hujan yang gaduh di luar.

"Ah, lega!" serunya sambil menyeka air hujan dari wajah dengan punggung tangan. Ia belum menoleh ke depan, bahkan belum melihat siapa yang menyetir.

"Pak, tolong cepetan ya nyetirnya! Hujannya deras banget, nanti gorengan ini dingin dan alot nih! Saya harus antar ke rumah teman sekarang!"

Rima menaruh tas bahunya di kursi sebelah, lalu membetulkan posisi duduknya. Kantong gorengan masih ia peluk erat di dada, seolah itu barang paling berharga di dunia.

Karena tidak kunjung terdengar suara mesin menyala atau gerakan setir, ia baru mengangkat kepalanya menatap ke arah kursi pengemudi sambil tersenyum canggung.

"Eh, Pak? Kenapa belum jalan?"

Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Senyumnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi bingung yang makin lama makin besar.

Di kursi pengemudi tidak duduk sopir taksi dengan seragam rapi. Di sana duduk seorang pria muda yang terlihat sangat berkuasa.

Jas hitam yang ia kenakan terlihat sangat mahal, kemeja putih di dalamnya bersih tanpa satu pun kerutan, dasi bergaris halus diikat dengan sempurna.

Wajahnya tampan dan tegas, rahangnya menegang kaku, namun yang paling membuat Rima membeku adalah tatapan matanya lewat kaca spion tengah, dingin, tajam, dan seolah tidak percaya melihat keberadaan Rima di sana.

Pria itu adalah Andre. Direktur Utama perusahaan tempat Rima baru saja mulai magang tiga hari yang lalu.

Orang yang hanya berani ia lihat sekilas dari jauh saat rapat pembukaan, orang yang semua karyawan sebut sebagai sosok yang tegas, perfeksionis, dan tidak suka keributan sama sekali.

Detik itu Rima merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia salah masuk mobil. Bukan taksi, melainkan mobil pribadi CEO-nya sendiri!

Otaknya mendadak kosong, tapi mulutnya malah bergerak sendiri tanpa perintah. Bahkan tangannya refleks menyodorkan kantong gorengan berminyak itu ke arah Andre.

"Eh... Bapak mau satu nggak?" tanyanya dengan suara gemetar, mata berkedip-kedip bingung. "Masih hangat kok, ini bakwan sayur. Enak lho, isinya banyak wortelnya..."

Andre hanya melirik sekilas ke arah kantong kertas yang sedikit lecek itu, lalu kembali menatap Rima dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Keluar."

Satu kata itu diucapkan dengan nada rendah dan tenang, tapi cukup membuat bulu kuduk Rima meremang seketika.

Namun karena gugup yang melanda, ia malah menyandarkan punggung ke kursi kulit empuk itu sambil menggeleng pelan.

"Iya bentar Pak... hujannya gila banget di luar. Nanti saya basah kuyup, nanti kalau sakit saya nggak bisa masuk magang..."

"Saya bilang, keluar!" Kali ini nada suara Andre sedikit lebih tegas, matanya menatap tajam lewat pantulan kaca. "Ini bukan taksi."

Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Kesadaran penuh menghantam kepala Rima seketika. Wajahnya seketika memerah padam, dari ujung rambut sampai ke leher, rasanya ingin sekali menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"Ma—maaf Pak Andre!" cicitnya buru-buru, tangan gemetar mencari pegangan pintu. "Saya kira ini taksi! Hujannya deras banget, saya nggak lihat pelat nomor, saya nggak sengaja masuk... Maaf banget Pak!"

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka pintu mobil secepat mungkin, melompat keluar tanpa menoleh lagi, bahkan lupa menutup pintu dengan rapi.

Ia berlari kembali ke pinggir jalan sambil memeluk kantong gorengan erat-erat, menghilang di balik tirai air hujan yang tebal secepat kemunculannya tadi.

Di dalam mobil, suasana hening sejenak. Andre menatap pintu yang terbuka sedikit itu, lalu perlahan ia menunduk melihat apa yang tertinggal di kursi belakang.

Tas bahu kain milik gadis itu tergeletak di sana, resletingnya terbuka lebar, dan isinya tumpah ruah menutupi permukaan kursi kulit yang bersih.

Andre menghela napas panjang, lalu membuka pintu dan menutupnya rapat sebelum berbalik menatap kekacauan itu.

Di sana terlihat dompet tipis berwarna merah muda yang jahitannya sudah mulai lepas, isinya terlihat hanya uang receh beberapa ribu rupiah dan kartu identitas magang.

Di sebelahnya ada buku sketsa sampul karton yang sudah digambar coretan warna-warni, sebatang lipstik kemasan plastik murah berwarna merah terang, gantungan kunci boneka kucing yang bulunya sudah rontok di beberapa bagian, dan di paling atas tergeletak selembar kertas buram yang terlipat rapi.

Andre mengambil kertas itu dengan ujung jari seolah takut kotor, lalu membacanya sekilas. Itu adalah nota utang di warung depan kostnya: "Rima: 1 bungkus indomie rebus, 2 gelas es teh manis, total 12.000 rupiah. Belum bayar."

Pria itu menatap nota itu sebentar, lalu menaruhnya kembali di atas tumpukan barang dengan gerakan hati-hati.

Ia menyandarkan punggung ke kursi pengemudi, menatap ke arah jalan yang penuh air, lalu perlahan menggelengkan kepala.

Sepanjang masa jabatannya sebagai direktur utama, belum pernah ada hal seaneh ini yang terjadi. Belum pernah ada orang yang berani masuk ke mobilnya sembarangan, menyuruhnya menyetir cepat, menawarkan gorengan berminyak, lalu pergi dengan meninggalkan bukti utang warung di kursi belakangnya.

Belum lagi tatapan bingung dan wajah memerah gadis itu tadi. Entah bagaimana, hal itu membuat suasana hatinya yang biasanya tenang dan teratur seolah sedikit berantakan, sama seperti isi tas yang tertinggal itu.

Andre mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor cepat. Hening sejenak sampai terdengar suara dari seberang.

"Halo Pak Andre?"

"Dino," ucap Andre datar sambil menatap tas kain di kursi belakang. "Siapkan kendaraan pengganti.

Dan... tolong cari tahu alamat lengkap Rima, anak magang baru di bagian desain. Dia meninggalkan tasnya di sini."

"Baik Pak. Kenapa bisa tas Rima ada di mobil bapak?" tanya Dino dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.

Andre terdiam sebentar, melirik nota utang yang tergeletak di atas buku sketsa.

"Tidak ada masalah serius," jawabnya pelan, ujung bibirnya bergerak sedikit membentuk garis tipis yang hampir tak terlihat. "Hanya ada sedikit kekacauan yang harus dirapikan."

Setelah mematikan sambungan telepon, ia kembali menatap keluar jendela. Hujan masih turun deras, seolah tak ada tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Dan entah kenapa, ia merasa hari ini bukan hari biasa sejak gadis ceroboh itu membuka pintu mobilnya tadi, segalanya terasa sedikit berbeda.

Bab 2: Tas yang Ketinggalan

Hujan perlahan mereda, menyisakan genangan air di mana-mana dan udara yang sejuk menyentuh kulit. Di dalam mobil, suasana kembali hening.

Andre menatap tas kain yang tergeletak berantakan di kursi belakang, lalu menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan barang bawaan anak magang yang ceroboh.

Bagi Andre yang terbiasa dengan keteraturan mutlak, menyentuh barang orang lain saja sudah cukup membuatnya tidak nyaman, apalagi barang yang isinya berantakan seperti itu.

Ia menyalakan mesin dan melaju perlahan menuju gedung kantor. Sesampainya di area parkir bawah tanah, Dino sudah menunggu di dekat pintu keluar sambil memegang payung besar. Begitu melihat mobil Andre berhenti, Dino segera membuka pintu pengemudi.

"Selamat sore, Pak. Perjalanannya lancar?" tanyanya sopan, lalu matanya tertuju pada tas kain berwarna biru pudar yang tergeletak di kursi belakang dengan isi yang sedikit tumpah.

Andre keluar dari mobil, merapikan ujung jasnya yang sedikit berkerut, lalu menunjuk tas itu dengan dagu.

"Itu tas anak magang bagian desain. Namanya Rima. Dia salah masuk mobil tadi saat hujan, lalu lupa membawanya pergi," ucapnya singkat dengan nada datar, seolah menceritakan hal yang paling tidak penting di dunia. "Ambil, lalu serahkan ke bagian keamanan."

Dino menahan tawa, tapi tetap berusaha menjaga wajah serius saat mengangkat tas itu. "Baik Pak. Tapi... isinya agak berantakan ya Pak. Saya pastikan tidak ada yang hilang sebelum diserahkan ke satpam."

"Tidak perlu diperiksa. Cukup masukan semua ke dalam tas dan diserahkan saja," jawab Andre sambil melangkah menuju lift. "Saya tidak mau dia datang ke ruangan saya hanya untuk mengurus hal sepele seperti ini."

"Siap, Pak!" Dino mengangguk, lalu saat Andre sudah masuk ke dalam lift, ia akhirnya tertawa pelan sambil menatap tas itu. Wah, benar-benar kejadian langka.

Belum pernah ada yang berani masuk mobil Pak Andre sembarangan, malah ninggalin tas begini.

Sementara itu, Rima baru sampai di depan kostnya dengan tubuh basah kuyup. Ia menyodorkan kantong gorengan yang sudah agak lembek ke Dinda, teman sekamarnya, lalu langsung jatuh terduduk di kursi teras.

"Kenapa hujan-hujanan Rim. Harusnya tunggu reda dulu." kata Dinda kaget sambil memeriksa suhu tubuh Rima.

Rima memegang kepalanya yang terasa pening, lalu bercerita dengan suara yang masih gemetar.

"Din... sial banget nasibku hari ini. Aku kira mobil itu taksi, aku masuk aja, eh ternyata itu mobil pribadi CEO di kantorku! Wajahnya dingin banget kayak es batu, dia suruh aku keluar. Aku panik, lari buru-buru. Dan aku lupa bawa tasku!"

"Apa? Tasmu ketinggalan di mobil CEO kantormu?" Dinda melotot. "Di tas kamu kan ada nota utang di warung juga kan?"

"Nah itu dia!" Rima hampir menangis, matanya berkaca-kaca. "Kalau nota itu dibaca orang, aku malu setengah mati!''

''Belum lagi buku sketsaku yang ada gambar jelek-jeleknya... Aduh Din, aku harus ambil sekarang sebelum dilihat orang banyak!"

Tanpa menunggu keringnya pakaian, Rima langsung berlari kembali ke halte. Ia sampai di gedung kantor sekitar pukul lima sore, saat sebagian karyawan sudah mulai pulang.

Ia berlari menuju ruang keamanan di lobi depan dengan napas terengah-engah.

"Pak Satpam! Pak Satpam!" serunya panik begitu melihat petugas keamanan sedang merapikan meja. "Apa bapak dititipkan tas saya ya?"

Petugas keamanan tersenyum ramah. "Ada, Mbak. Tadi Pak Dino yang bawa ke sini. Katanya punya Mbak Rima ya?"

"Iya iya betul! Terima kasih Pak!" Rima langsung mengambil tas itu dan memeluknya erat, lalu buru-buru membuka resletingnya untuk memeriksa isi.

"Semoga aman... semoga nggak ada yang hilang... semoga nota utangnya nggak dilihat orang..."

Saat sedang memeriksa satu per satu barang, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dino baru saja turun dari lantai atas untuk mengambil barang pribadinya, lalu berhenti di dekat meja keamanan begitu melihat Rima.

"Lagi cari apa, Mbak Rima?" tanyanya sambil tersenyum geli.

Rima mendongak kaget, lalu langsung berdiri tegak dengan wajah memerah. "Ah Pak Dino! Saya mau ambil tas saya yang ketinggalan tadi. Maaf ya Pak, merepotkan Bapak..."

"Enggak kok. Tadi tas mbak Rima dititipkan pak Andre ke saya.''

"Tadi beliau yang ketemu tas ini di kursi belakang mobilnya," Dino menahan senyum melihat ekspresi Rima yang makin panik. "Beliau sendiri yang menyuruh saya bawa ke sini."

Wajah Rima seketika berubah pucat lalu memerah lagi. Ia meremas ujung tasnya dengan kuat. "Ya ampun. Maaf ya pak jadi merepotkan."

"Semoga tidak ada yang hilang ya. Karena isinya tumpah di kursi. Pak Andre pasti melihatnya." jawab Dino berusaha menenangkan. "Tenang saja, beliau bukan tipe orang yang suka mengurusi hal pribadi orang lain kok."

"Tapi kan Pak! Itu memalukan banget!" Rima mulai berbicara panjang lebar tanpa henti, tangannya bergerak-gerak menekankan ucapan.

"Baru hari ketiga magang, eh udah bikin masalah! Salah masuk mobil, ninggalin tas berantakan, ada bukti utang pula... Pasti Pak Andre mikir aku ini anak magang yang ceroboh banget, nggak bisa diandelin!''

''Nanti kalau aku dikasih tugas, pasti beliau nggak percaya sama aku! Padahal aku udah berusaha belajar dari awal, cuma kadang mulutku lari lebih cepet dari otakku, dan kakinya juga suka lari ke mana aja tanpa dipikir dulu..."

Rima menghela napas panjang, lalu menunduk dalam-dalam seolah sedang meminta maaf pada lantai.

"Saya bener-bener minta maaf ya Pak Dino, udah bikin Bapak dan Pak Andre repot. Saya janji deh, mulai sekarang saya bakal berhati-hati banget!''

''Nggak bakal asal masuk mobil lagi, nggak bakal lupa barang, nggak bakal bawa gorengan berminyak ke mana-mana... pokoknya saya bakal lebih rapi, lebih tenang, lebih sopan, pokoknya saya ubah semuanya!"

Dino mendengarkan omelannya dengan sabar, lalu akhirnya tertawa kecil melihat gadis itu yang sibuk menyusun janji sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit.

"Santai saja Mbak Rima. Pak Andre memang kelihatan dingin dan tegas, tapi beliau nggak marah buat hal sepele begini kok," ucap Dino menghibur.

"Asal mulai sekarang lebih teliti saja ya. Ingat, di sini batasan antara pimpinan dan karyawan harus dijaga baik-baik."

"Iya Pak! Saya ingat banget!" Rima mengangguk kencang sampai rambutnya berantakan.

"Saya nggak akan berani mendekat sembarangan ke Pak Andre lagi. Saya kerja saja dengan tenang, selesai tugas pulang. Pokoknya aman!"

"Bagus kalau begitu," Dino menepuk bahunya pelan. "Sudah dapat tasnya kan? Pulanglah sekarang, hari sudah sore."

"Terima kasih banyak ya Pak Dino! Maaf sekali lagi ya!" Rima membungkuk berkali-kali sebelum berjalan keluar lobi dengan langkah tergesa-gesa.

Setelah Rima pergi, Dino kembali menuju lift sambil tersenyum sendiri. Sesampainya di lantai ruangan CEO, ia mengetuk pintu ruang kerja Andre.

"Masuk."

Dino melangkah masuk. "Pak, Mbak Rima sudah mengambil tasnya tadi di ruang keamanan."

Andre sedang menandatangani berkas tanpa menoleh. "Dia banyak bertanya?"

"Banyak sekali Pak," jawab Dino sambil menahan tawa. "Dia panik sekali takut isinya dilihat orang lain, apalagi nota utang di warung. Dia minta maaf berkali-kali dan berjanji bakal lebih berhati-hati mulai sekarang."

Andre berhenti sejenak, ujung pulpennya berhenti di atas kertas. Ia teringat isi tas yang berantakan itu, lalu bayangan wajah Rima yang memerah panik muncul sekilas di benaknya.

"Hm. Biarkan saja," ucapnya singkat lalu kembali menulis. "Pastikan dia mengerti aturan di sini. Jangan sampai kesalahan sepele menghambat pekerjaannya."

"Siap Pak," Dino tersenyum kecil sebelum menutup pintu.

''Anak magang itu benar-benar aneh.''

Sementara di jalan pulang, Rima memeluk tasnya erat-erat sambil bergumam sendiri.

"Janji Rima, mulai hari ini jadi anak magang paling rapi, paling sopan, paling teliti! Nggak ada lagi salah masuk mobil, nggak ada lagi lupa barang... semoga saja janji ini bisa tepati ya Tuhan..."

Bab 3: Pengenalan

Pagi itu, udara di dalam gedung kantor terasa lebih sejuk dari biasanya, namun bagi Rima, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk perutnya.

Ia sudah bangun dua jam lebih awal, menyetrika seragam magangnya sampai licin tanpa satu pun kerutan, memastikan sepatunya bersih, dan bahkan berlatih berdiri tegak di depan cermin sambil melarang mulutnya untuk berbicara sendiri.

"Kamu harus tenang, Rima," bisiknya pada bayangan cermin tadi pagi. "Jangan bikin kesalahan. Jangan lari-lari. Jangan menawari makanan ke siapa pun. Dan yang paling penting, jangan sampai Pak Andre ingat wajahmu!"

Sekarang ia sudah duduk di kursi paling pojok belakang ruang rapat utama, di balik tumpukan berkas setebal dua jari.

Ia berusaha menyusutkan tubuhnya sekecil mungkin, menundukkan kepala sampai dagunya hampir menyentuh dada, dan berdoa dalam hati agar dirinya transparan.

Di sekelilingnya sudah duduk belasan anak magang lain yang tampak tenang dan percaya diri, sibuk memeriksa buku catatan atau berbisik pelan dengan teman di sebelahnya.

Rima melirik sekilas ke arah pintu ruangan, lalu segera menunduk lagi. Bayangan wajah dingin Andre masih terbayang-bayang di kepalanya.

Rasanya baru kemarin ia masuk sembarangan ke mobil pria itu, menawarinya gorengan, lalu lari ketakutan. Bagaimana kalau Andre mengenalinya? Bagaimana kalau ia langsung dikeluarkan dari ruangan? Atau lebih parah lagi, dijadikan contoh buruk di depan semua orang?

"Selamat pagi semuanya," suara ramah Bu Tia, staf bagian SDM, memecah keheningan saat ia berdiri di depan ruangan.

"Terima kasih sudah datang tepat waktu. Sebelum kita mulai sesi perkenalan dan penjelasan tugas, sebentar lagi Bapak Direktur Utama akan menyapa kalian semua."

Ruangan seketika menjadi hening. Bahkan suara gesekan kursi pun terdengar berhenti. Rima menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.

Pintu ruang rapat terbuka perlahan.

Langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Rima tidak berani mendongak sedikit pun, matanya terpaku pada garis-garis di lantai keramik.

Ia tahu siapa yang datang. Udara di ruangan seolah berubah menjadi lebih dingin begitu sosok itu berdiri di dekat meja depan.

"Selamat pagi," suara berat dan datar itu terdengar jelas di setiap sudut ruangan. Tanpa nada ramah, tanpa senyum, hanya kalimat yang tegas dan berwibawa.

"Selamat pagi, Pak Andre!" jawab serempak semua orang di ruangan.

Rima ikut berbisik pelan, nyaris tak terdengar. Tangannya meremas ujung rok seragamnya dengan kuat. Ia berharap, sungguh berharap, tatapan mata tajam itu tidak akan sampai ke pojok belakang tempatnya bersembunyi.

"Perkenalkan, saya Andre Pratama, Direktur Utama perusahaan ini," lanjutnya singkat. "Saya tidak suka berpidato panjang lebar. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal penting sebelum kalian memulai masa magang."

Andre berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah anak magang di depannya dengan tatapan yang membuat siapa pun tidak berani menunduk sembarangan, kecuali Rima yang sudah menunduk sedari tadi.

Namun saat matanya menyapu ke arah barisan paling belakang, langkahnya terhenti sepersekian detik.

Ia melihat gadis yang duduk di pojok paling ujung, yang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan berkas.

Punggungnya yang sedikit membungkuk, rambut yang diikat kencang namun masih ada beberapa helai yang berantakan... Andre mengenali sosok itu sekaligus.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin, Andre menyebutkan nama dari daftar di tangannya.

"Rima. Bagian Desain Kreatif."

Nama itu disebut dengan nada biasa, namun bagi Rima rasanya seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.

Ia tersentak kaget, kepalanya terangkat secara refleks, dan matanya langsung bertemu dengan mata Andre yang sedang menatap lurus ke arahnya.

Wajah Rima seketika memerah padam. Ia buru-buru berdiri dengan tergesa-gesa sampai kursi di belakangnya berbunyi berdecit keras.

"I-iya Pak! Hadir Pak!" suaranya sedikit melengking karena gugup.

Di sekelilingnya, beberapa anak magang lain menoleh kaget lalu menahan senyum. Rima ingin sekali menghilang saat itu juga.

Andre masih menatapnya sebentar, tidak ada perubahan ekspresi, tidak marah, tidak tertawa, hanya pengamatan tenang seolah memastikan bahwa gadis ceroboh itu benar-benar ada di ruangan ini.

Lalu ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar Rima duduk kembali.

"Duduk," ucapnya singkat, lalu melanjutkan pidato seolah tidak terjadi apa-apa.

"Saya sudah membaca berkas kalian semua. Saya tahu kalian memiliki potensi, ide-ide baru, dan semangat yang tinggi. Namun di perusahaan ini, semangat saja tidak cukup."

Ia berjalan perlahan di depan meja rapat, suaranya terdengar tegas dan berat.

"Kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab adalah syarat mutlak. Di sini tidak ada alasan untuk kesalahan karena lupa, karena panik, atau karena kecerobohan yang tidak perlu.''

''Semua pekerjaan harus rapi, semua tenggat waktu harus dipenuhi dengan tepat. Satu kesalahan kecil bisa berdampak besar bagi tim dan bagi perusahaan."

Matanya kembali melirik sekilas ke arah Rima, lalu berlanjut ke orang lain.

"Jadi saya harap kalian semua menanamkan hal itu di dalam pikiran kalian sejak hari pertama. Jangan membawa kebiasaan sembarangan ke sini. Kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan hargai waktu orang lain."

"Siap, Pak!" jawab serempak semua anak magang.

Rima mengangguk kencang sampai lehernya terasa pegal. Mulutnya ia rapatkan sekuat tenaga, berusaha menahan diri agar tidak berkomentar atau berbisik sendiri seperti biasanya.

Ia paham betul pesan tersirat dari ucapan Andre tadi. Itu teguran khusus untuknya. Tentang salah masuk mobil, tentang panik, tentang tas yang berantakan.

Setelah Andre selesai menyampaikan pesannya, ia menoleh ke arah Bu Tia. "Saya serahkan sisanya kepada Anda. Pastikan mereka memahami aturan dengan baik."

"Baik, Pak Andre."

Andre berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap, diikuti pandangan semua orang. Pintu tertutup rapat, dan baru setelah itu suasana ruangan menjadi sedikit lebih santai.

Rima baru berani menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.

"Wah, Pak Andre kelihatan tegas banget ya," bisik gadis di sebelahnya yang bernama Sari. "Kamu tadi kaget banget ya Rim? Wajahmu merah padam."

"Iya... namaku dipanggil duluan aja aku udah gemetar," jawab Rima pelan, berusaha menjawab seperlunya saja agar tidak banyak bicara. "Dia kelihatan orang yang sangat teliti banget ya."

"Banget! Katanya beliau perfeksionis tingkat dewa. Nggak suka berantakan, nggak suka telat, nggak suka kebisingan," tambah Sari sambil merapikan buku catatannya. "Kita harus hati-hati banget kalau kerja di bawah pengawasannya."

Rima hanya mengangguk lagi, tapi di dalam hatinya ia berteriak. Tahu banget! Aku udah merasakannya duluan!

Bu Tia kembali berdiri di depan dan mulai menjelaskan pembagian tugas serta jadwal pembimbing masing-masing.

Rima mendengarkan dengan saksama, matanya lekat-lekat pada catatan di depannya, berjanji dalam hati untuk menjaga jarak sebaik mungkin dengan ruangan lantai atas tempat Andre bekerja.

Namun takdir sepertinya punya rencana lain.

Saat sesi perkenalan selesai dan semua orang mulai beranjak berdiri, Bu Tia menunjuk ke arah Rima.

"Rima, kamu sebentar ya. Kamu ditugaskan langsung di bawah pengawasan tim khusus yang dipimpin oleh Pak Andre. Jadi nanti kamu akan sering berkoordinasi dengan ruangan lantai atas."

Rima melongo lebar, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Sari menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum simpati.

"Beruntung sekali kamu Rim. Semangat ya menghadapi Pak Andre yang dingin itu."

Rima hanya bisa tersenyum kecut sambil memegang dadanya yang kembali berdegup kencang. Ia berharap bisa bersembunyi, tapi malah ditugaskan ke area yang paling ingin ia hindari.

"Ya ampun..." bisiknya pelan, "Satu janji aja udah susah ditepati, gimana ini ya..."

Ia mengumpulkan barang-barangnya dengan gerakan hati-hati, memastikan tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang berantakan.

Lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah perlahan, berharap hari-hari ke depannya tidak akan seberat bayangannya sekarang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!