NovelToon NovelToon

ISTRI PEMBUAT ONAR SANG MAFIA KEJAM

Menikah

Istanbul, 2026

Kediaman Aslan sudah dipenuhi dengan para tamu yang berdatangan. Hari ini adalah hari besar di mana sang raja mafia paling ditakuti di Turki akan menikahi seorang gadis bernama Claire Wang. Wang adalah nama depan yang dipalsukan sejak ia kecil. Karena dia tidak bisa memakai nama besar papanya demi keselamatan.

Sebagai putri dari orang penting, tentu saja hidup Claire akan terancam kalau dirinya dikenali dunia. Jadi orangtuanya melakukan segala cara agar putri mereka hidup damai dan bebas melakukan apa yang dia suka di luar sana.

Namun karena keberadaannya mulai terendus musuh, papanya segera meminta Jeremy menikahinya. Laki-laki itu setuju karena punya maksud tertentu juga, bukan karena cinta.

Karena kesepakatan tersebut, didapatkanlah tanggal pernikahan untuk keduanya. Hari ini, dilakukan di kediaman Jeremy di Turki dan hanya dihadiri oleh orang-orang Jeremy. Bahkan orangtua Claire tidak hadir demi menjaga terbongkarnya identitasnya.

Meski begitu, Claire tetap bahagia. Dia adalah perempuan paling ceria dan jauh dari kata manja. Sebenarnya ada manjanya juga, tapi tergantung dengan siapa dia berhadapan.

"Ya ampun, aku masih nggak nyangka akan nikah sama laki-laki tampan itu. Jeremy, Jeremy ... Astaga, kalau jodoh memang gak ke mana." seru Claire sambil menatapi penampilannya di cermin.

"Cewek cantik jodohnya cowok tampan memang. Gak apa-apa deh gak cinta. Yang penting dia nggak jatoh di tangan yang salah. Aku harus nyelamatin dia dari pikiran buruk suka sesama jenis. Daripada terong makan terong, mending terong makan jeruk kan?"

Claire terkikik sendiri. Sampai sekarang dia bahkan masih bingung Jeremy itu penyuka sesama jenis atau tidak. Tapi lebih condong ke penyuka sesama jenis sih, karena dia sudah punya trauma. Dia pernah dengar orang-orang bilang kalau mantan pacarnya itu penyuka sesama jenis tapi belum ngaku sampai sekarang. Pokoknya akan dia buktikan suatu saat nanti.

Tok tok tok.

"Nona Claire?"

Claire membalikkan badannya menatap seorang wanita yang sedang melangkah ke arahnya.

"Iya?"

"Sebentar lagi pernikahannya di mulai. Nona sudah siap?"

"Siap seratus persen!" Balas Claire antusias. Wanita itu tertawa kecil.

Sekitar lima menit kemudian mereka keluar. Kebanyakan orang yang hadir adalah tamu-tamu Jeremy. Entah siapa semua, Claire tidak kenal. Ia hanya peduli sebentar lagi dia akan menjadi istri laki-laki setampan Jeremy.

Langkah kaki Claire terasa ringan melintasi lorong berlantai marmer, sementara gaun putihnya yang menjuntai lembut menyapu lantai di belakangnya. Angin sore khas Istanbul berhembus pelan menerpa wajahnya saat ia tiba di halaman terbuka, tempat upacara digelar. Langit berwarna jingga keunguan memenuhi tempat itu, seolah memberikan latar paling indah untuk hari yang sekaligus menjadi awal dan benteng baginya.

Di ujung lorong, berdiri sosok yang sejak tadi menghuni pikirannya. Jeremy Aslan. Pakaian jas hitamnya terlihat sempurna di tubuh tegapnya, sorot matanya yang biasanya tajam dan dingin kini tertuju tepat ke arahnya. Tidak ada senyum di bibirnya, tapi tatapannya tidak lagi sekadar datar, seolah ada rasa ingin tahu yang tersembunyi di balik wajah tegas itu. Para tamu yang tadinya berbisik pelan kini terdiam serentak, semua mata tertuju pada gadis yang berjalan mendekat ke arah sang raja mafia.

Saat akhirnya ia berdiri di samping Jeremy, laki-laki itu menunduk sedikit, dan suara beratnya terdengar pelan hanya untuk didengarnya.

"Jangan tersenyum seperti itu, para tamuku akan berpikir aku menikahi perempuan gila." bukannya tersinggung, Claire malah tertawa memukuli pelan lengan Jeremy, membuat Jeremy dan para tamu tersentak.

"Kalau aku gila, itu karena cinta. Hahahaha!"

Jeremy menatap wanita itu dengan wajah tercengang.

Sinting.

Semenjak Charles, calon ayah mertuanya itu meminta dia menikah dan menjaga Claire, perempuan ini memang sudah keliatan kurang warasnya.

Suasana yang tadinya hening seketika berubah riuh rendah oleh tawa kecil para tamu, bahkan beberapa orang kepercayaan Jeremy yang biasanya kaku pun tersenyum tipis. Jeremy menggeleng lelah. Dia masih tidak percaya akan setuju menikah dengan perempuan yang jauh sekali dari tipenya.

Selama prosesi janji suci, Claire menjawab dengan lantang dan mantap, seolah dia bukan sedang menandatangani perjanjian perlindungan, tapi sedang mengucapkan sumpah cinta sejati. Sementara Jeremy menjawab dengan nada datar dan berwibawa, namun setiap kata yang keluar terasa penuh ketegasan. Dia sudah berjanji, jadi akan tetap menikahi perempuan di sampingnya ini.

"Cincinnya sudah terpasang, sekarang, pengantin laki-laki, silahkan mencium istrimu sebagai bukti tanda cinta kalian."

Bola mata Jeremy melebar. Ia menatap pendeta yang menikahkan mereka dengan tajam. Padahal tadi ia sudah bilang berkali-kali lewatkan saja prosesi ciuman. Pendeta sialan.

"Ciuman woi, ciuman. Aduh, udah lama banget nih gak di cium cogan."

Tidak tahu malu.

Jeremy menatap Claire yang sangat antusias itu dengan wajah kesal. Namun ia cepat-cepat memasang tampang biasanya yang cool dan senyum tipis agar para tamu tidak merasa ada yang aneh dengan pernikahan mereka.

"Kenapa mukamu begitu? Aku sikat gigi kok, di jamin wangi dan bikin nagih." Claire tersenyum lebar.

Rasanya Jeremy ingin menendang si pendeta. Tapi akhirnya ia maju juga membungkuk sedikit agar posisinya sejajar dengan Claire. Wajahnya makin maju, semua orang menunggu dengan antusias.

"Jangan masukin lidah ya. Aku geli soalnya kalau lidah ketemu lidah. Kecuali lidah kamu rasanya kayak permen mmphh ..."

Astaga perempuan sinting ini. Tanpa aba-aba, Jeremy segera menarik Claire dan langsung menempelkan bibir mereka. Ia tidak punya waktu lagi menanggapi perempuan ini, ingin semuanya cepat-cepat berakhir. Toh ini semua bukan pernikahan sungguhan di matanya.

Ciuman itu singkat, tegas, dan sama sekali tidak lembut, hanya sekadar sentuhan bibir yang cukup untuk membungkam ocehan Claire sekaligus memuaskan rasa penasaran para tamu. Namun saat Jeremy hendak menarik wajahnya, tangannya yang mencengkeram bahu Claire tiba-tiba terasa kaku. Claire tiba-tiba menariknya dan kembali mengecup bibirnya dengan kuat dan tidak ada malu-malunya.

Jeremy kaget bukan main. Dia ingin mendorong tapi tidak mungkin. Ia tidak ingin mengacaukan pernikahan. Sialan, berani-beraninya perempuan ini menggigit bibirnya.

Tepuk tangan yang tadinya bergema seketika berhenti sejenak, lalu meledak lebih riuh lagi. Mata Claire berbinar puas saat akhirnya melepaskan bibir Jeremy perlahan. Ia bahkan tidak lupa mengedipkan sebelah mata dengan jenaka.

Jeremy berdiri tegak dengan napas sedikit tersendat, bibir bawahnya terasa perih bekas gigitan. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu semata, tapi karena campuran kaget dan rasa gemas yang tak tertahankan. Ia menatap tajam ke arah Claire, tapi gadis itu malah tersenyum lebar seolah tak melakukan hal gila.

"Kau ..." desisnya pelan, hampir tak terdengar, sambil meremas bahu Claire pelan.

"Itu baru yang namanya ciuman." Claire mengedipkan sebelah matanya lagi dan Jeremy mendengus kasar.

Mabuk?

"Hufttt... Capeek ..."

Claire duduk di kasur besar kamar Jeremy. Pesta pernikahan mereka berakhir dengan cepat. Pokoknya Claire belum puas. Padahal dia pikir bakalan ada pesta khusus anak muda yang kayak disko-disko gitu. Dia kan jarang banget masuk ke tempat-tempat pesta kayak gituan. Kayak dunia malamlah istilahnya.

Padahal dia sudah request pada Jeremy. Dia pikir laki-laki itu sudah setuju karena waktu dia bilang harus ada acara khusus goyang-goyang gitu. Eh, ternyata gak di bikin.

"Gak asyik banget suami tampan aku. Aku pikir mukanya ganteng abis jadi orangnya gaul. Eh, malah kaku banget kayak kanebo kering." ia mulai mengomel sendiri.

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Jeremy muncul dengan wajah datarnya. Tidak tampak lelah sedikit pun, hanya saja muka datarnya nyebelin abis.

Untung tampan, jadi Claire ada hiburan.

"Suami tampan akuu akhirnya masuk kamaar..."

Ia berlari sambil merentangkan tangannya lebar-lebar untuk memeluk Jeremy, namun pria itu segera mendorong tubuhnya menjauh. Tidak kasar. Karena Jeremy memang tidak membenci perempuan ini. Dia hanya lelah dan tidak ingin terlalu dekat. Karena kelakuan manusia satu ini setengah waras.

Claire sendiri tidak tersinggung sama sekali atau merasa di tolak. Dia suka cogan, tapi dia juga tahu laki-laki yang baru saja sah menjadi suami sah-nya itu masih ada dalam masa-masa patah hatinya. Lagian dia juga nikah agar bisa melakukan apa saja yang dia suka. Kata papanya, kalau dia nikah sama Jeremy, dia bebas melakukan apa saja. Jelas langsung di setujui dong.

Pandangan Claire mengikuti Jeremy yang kini duduk di sofa panjang kamar itu. Tangannya bergerak melonggarkan dasi yang masih bersarang di kemejanya, lalu matanya mendongak ke atas menatap langit-langit kamar.

Claire yang kepo mendekat, berdiri di depan pria itu sambil memeluk dadanya. Sesekali menatap ke langit-langit juga seakan mencari tahu apa yang sedang di lihat laki-laki itu.

"Kamu lagi lihat apa, cecak kawin?"

Jeremy menatapnya lama. Claire langsung tersenyum lebar. Jeremy  menghembuskan nafas lelah lalu menggeser tubuh gadis itu.

"Minggir, kau menghalangi pandanganku." katanya.

Claire berdecak pelan, minggir dan duduk di samping pria itu.

"Cih, padahal tadi dia lihatnya ke atas, tapi aku yang malah di tuduh menghalangi pandangannya. Begini nih kalo ganteng tambah patah hati. Biasanya suka nggak konsen. Apalagi kalo yang di sukai jenis yang sama. Hufftt, nggak papa deh aku nikahin cowok yang suka cowok, biar nanti aku bawa dia ke jalan yang benar, kalo yang harusnya di sukai laki-laki itu ada lubang di depan."

Perkataan panjang lebar itu sukses membuat Jeremy menatap Claire dengan tatapan menusuk nan mengintimidasi.

Penyuka sesama jenis? Perempuan ini memang tidak ada habis-habisnya dengan asumsinya sendiri.

"Sekali lagi kau katakan itu, aku lempar kau dari balkon ke kolam." ancan Jeremy tajam.

"Hiihh ..."

Claire langsung bergidik ngeri dan menjauh dari pria itu. Dia duduk di tempat tidur masih lengkap dengan baju pengantin.

Matanya masih tak lepas dari Jeremy yang kembali menatap langit-langit kamar.

Claire berdecih sendiri dari tempatnya duduk lalu memutuskan mandi. Ia membuka resleting gaun pengantinnya tapi rasanya sulit sekali di jangkau. Berulang kali ia mencoba, berulang kali pula ia gagal dan sampai dibatas dirinya menyerah.

"Hufftt... Siapa yang punya ide bikin resleting belakang sih? Kenapa gak di depan aja biar gampang." omelnya kesal. Matanya lalu berpindah ke Jeremy yang masih menutup matanya.

Claire turun dari kasur dan mendekat ke pria itu lagi.

"Psstt, psstt." ia memanggil dengan caranya. Jeremy membuka mata, menatapnya tanpa minat, tanpa bicara dan tanpa ekspresi.

Perempuan-perempuan lain mungkin akan takut pada laki-laki yang begitu dingin itu, tapi Claire tidak. Ia malah santai.

"Bisa tolongin bukain resleting aku? Sudah aku coba dari tadi tapi susah banget. Aku udah gerah, mau mandi, mau bersih-bersih, habis itu..."

Belum sempat Claire menyelesaikan ucapannya, Jeremy sudah menarik tangannya, membuatnya berbalik membelakangi pria itu dan melucuti resleting perempuan bawel ini.

Suara gesekan halus resleting yang perlahan turun memecah keheningan kamar. Jeremy melakukannya dengan gerakan cepat dan cekatan, tanpa sentuhan berlebihan, tanpa menundukkan pandangannya lebih dari yang perlu. Namun meski begitu, Claire merasakan sensasi hangat menyelinap di punggungnya saat jari-jari laki-laki itu tak sengaja menyentuh kulit bahunya yang terbuka.

"Terima kasih, suamiku sayang!" seru Claire riang begitu resleting terbuka sepenuhnya.

Ia segera berlari ke kamar mandi. Jeremy hanya menggeleng lelah, merasa ia menikah dengan anak-anak yang masih labil.

Ia bersandar lagi ke dinding sofa, masih tidak menyangka telah menikah. Menikah dengan gadis bawel yang suka sekali bikin kepalanya pusing.

"Haloo pemirsaaa!"

Lihat? Belum lama masuk mandi, gadis itu sudah keluar lagi hanya dengan handuk yang terlilit di tubuhnya dan rambut basah. Jeremy tidak melakukan apa-apa, hanya menatap dari tempat dia duduk. Sementara di depan pintu toilet sana, Claire mulai melakukan pidato yang random.

"Dunia ini jahat! Penuh dengan penjahat-penjahat kelas kakap yang harus di basmi! Aku! Aku adalah super women yang akan membasmi penjahat-penjahat itu! Aku, Claire! Punya kekuatan super! Tenang, tenang, selama ada Claire di muka bumi ini, dunia ini akan aman!"

Jeremy terkekeh. Ada-ada saja.

"Dan musuh terbesarku saat ini... adalah rambut basah yang nggak mau kering!" serunya lagi sambil mengibas-ngibaskan kepala sampai percikan air terlempar ke mana-mana, tak lupa gaya superhero yang sedang berjuang melawan badai.

Jeremy tertawa lagi, tidak kuat. Tapi setelah seharian ini, ia akhirnya merasa mendapat hiburan gratis. Wajahnya berubah datar lagi begitu melihat Claire menatap ke arahnya. Kemudian berjalan dan bahkan ...

Jeremy kaget karena gadis itu tiba-tiba naik ke pangkuannya. Handuknya masih terlilit di badannya, tapi kalau dia bergerak-gerak terus, Jeremy yakin benda itu pasti jatuh.

"Claire, turun." ucapnya tegas.

Tentu saja Claire tidak mendengarnya. Gadis itu malah menangkup wajahnya tanpa takut.

"Wahhh... Ini cowok ganteng banget paraahh. Kok bisa ada cogan di kamar aku?"

Katanya terus mengucel-ucel wajah Jeremy. Jeremy menatap gadis itu lama, merasa ada yang aneh. Tatapan Claire tampak sayu, pipinya sedikit memerah, sementara gerakannya mulai lambat seolah kepalanya sedang melayang.

Mabuk?

Hal itu yang pertama kali terpikir oleh Jeremy. Tapi, kenapa bisa tiba-tiba mabuk. Gadis ini kan hanya pergi mandi, kenapa pas keluar...

Pikiran Jeremy langsung buyar saat merasakan bibirnya di tarik oleh Claire menggunakan bibirnya.

Keras banget

Jeremy terpaku kaku di tempat, seluruh aliran darah di tubuhnya seolah berhenti berdetak sejenak saat bibir hangat Claire kembali mendarat di bibirnya, kali ini tak lagi singkat atau ragu, melainkan mendesak, lembut namun penuh keinginan yang tak disembunyikan.

Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran untuk menolak, bibir itu perlahan bergerak menjauh, menyapu sudut bibirnya, naik ke pipi kanan yang tegap, lalu turun lagi ke pipi kirinya seolah sedang menghafal setiap inci wajah itu. Bahkan saat ia mencoba memalingkan wajah, Claire tak menyerah, bibirnya menyentuh pelan kelopak matanya, lalu melumat pelan dagunya dengan gerakan yang polos namun sekaligus penuh gairah, tanpa rasa malu sedikit pun seolah Jeremy adalah milik mutlak yang berhak ia jelajahi sesuka hati.

"Ganteng banget ..." gumamnya pelan di sela-sela ciuman beruntun yang jatuh di wajah dan leher Jeremy, tangannya yang terasa hangat menyentuh rahang laki-laki itu, lalu perlahan turun menelusuri garis leher yang kaku.

"Kulitnya halus... baunya enak... Pokoknya harus aku bikin jadi milikku sendiri, biar nggak ada yang berani ambil dariku ..."

Jeremy mencoba menahan kedua bahu gadis itu dengan lembut namun tegas, berusaha wajah Claire dari dirinya.

"Claire, berhenti." desisnya pelan, suaranya terdengar lebih bergetar dan berat dari yang ia inginkan. Ia berniat bangkit dan menjauh, tapi gerakannya yang sedikit tergesa tak sengaja menyentuh pinggang Claire yang terbalut handuk.

Seketika itu juga, handuk yang hanya tersangkut longgar di tubuh gadis itu melorot perlahan, meluncur turun melewati pinggang, lalu jatuh ke lantai marmer dengan suara pelan. Jeremy terpaku seketika, matanya tak sengaja menangkap pemandangan di hadapannya.

Kulit Claire putih bersih, halus seperti sutra yang baru dibuka, dan tubuhnya yang ramping namun indah sempurna terpampang jelas di depan matanya, payudaranya yang mulus dan penuh, lekuk tubuhnya yang lembut, semuanya tampak begitu memikat.

Sial.

Ia segera memalingkan wajah dengan cepat, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, sebagai laki-laki normal, tentu saja ia mengakui betapa indahnya tubuh gadis itu. Claire memiliki tubuh yang akan diidamkan oleh semua laki-laki mata keranjang. Tapi ia tidak berniat menyentuhnya, tidak di saat ia tidak memiliki perasaan apa-apa pada gadis ini.

Jeremy akui, kehadiran Claire dalam hidupnya membantunya mulai melupakan ingatannya pada Dami. Tapi, Jeremy juga tahu benar apa itu pernikahan yang didasarkan pada sama-sama saling menguntungkan. Dan selama dia belum ada perasaan itu, dia tidak akan pernah menyentuh gadis ini.

"Hmm, wangi. Kamu pakai minyak wangi apa? Wanginya kayak babi baru habis mandi. Kamu pasti suka wangi babi baru kelar mandi ya? Sama aku juga suka, heheh."

Jeremy menatap gadis yang sudah telanjang bulat di depannya ini dengan wajah kesal setengah mati. Bisa-bisanya wanginya di samakan dengan wangi babi.

"Turun," ucapnya dengan suara rendah dan terdengar sedikit mengancam. Tapi Claire tentu saja tidak peduli apalagi takut.

Gadis itu makin menjadi-jadi karena pengaruh mabuknya. Tangannya mulai menjelajahi tubuh bagian atas Jeremy, ia mengusap dada pria itu yang masih tertutup dengan kemeja mahalnya.

"Keras, kok bisa keras? Kamu pakai papan dalam kemeja kamu biar keliatan dada kamu rata?"

Ini lagi. Benar-benar tidak masuk akal. Manusia gila mana yang akan pakai papan cuma untuk dadanya terlihat rata. Belum sempat Jeremy menjawab, tangan Claire sudah membuka kancing kemejanya satu persatu.

Jeremy menghembuskan nafas kasar. Ia menyandarkan tubuhnya lagi di dinding sofa, membiarkan sampai sejauh mana gadis ini akan melangkah dalam keadaan mabuk.

"Wahhh... Bukan papan... Dada beneran!" mata Claire yang membulat lebar dan berbinar cerah menatapi dada rata Jeremy yang amat menggoda. Dan Jeremy, entah kenapa matanya terus menatapi buah dada gadis itu yang begitu menantang di depan matanya.

Jika dipikir-pikir, mereka memang menikah secara sah. Tidak ada salahnya dia melihat pemandangan indah itu. Anehnya, dia jarang tertarik melihat pemandangan seperti ini. Tapi malam ini, entah kenapa matanya terus menatapi puting merah muda yang seakan menantangnya untuk menghisapnya.

Itu normal Jeremy. Kau laki-laki normal.

Ucapnya dalam hati berulang kali.

"Agkhh!"

Jeremy kaget karena merasakan sakit luar biasa di dadanya. Begitu melihat apa yang di lakukan oleh Claire di puting payudaranya, Jeremy tersentak hebat, tangannya refleks menekan bahu gadis itu tanpa berani mendorong kasar. Claire ternyata tak segan, ia menekan dan menggigit pelan namun cukup kuat tepat di puting dadanya, seolah sedang menguji tekstur benda baru yang ia temukan.

"Kau ... apa yang kau lakukan?" desis Jeremy napasnya tersendat, rasa sakit bercampur sensasi aneh yang menjalar seketika ke seluruh tubuhnya membuatnya hampir kehilangan kendali.

Claire mendongak dengan mata yang masih sayu namun berbinar nakal, bibirnya sedikit basah.

"Keras... dan ada asinnya juga, kayak lemon." gumamnya polos, lalu kembali menempelkan pipi di dada bidang itu sambil mengusap-usapnya dengan pipi.

"Lembut ... tapi ada bagian yang keras. Aneh ya tubuhmu ini."

Jeremy memejamkan mata rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga menahan badai di dalam dadanya. Ia tahu gadis ini mabuk, tak sadar apa yang dilakukannya. Meski demikian, sentuhan tanpa beban Claire perlahan meluluhkan pertahanan logisnya. Ia bisa merasakan kehangatan kulit gadis itu, detak jantungnya yang cepat, dan aroma wangi sabun yang menyatu dengan udara di ruangan itu.

"Berhenti ... Claire ..." suaranya makin berat.

Namun lagi-lagi Claire tidak mendengarnya. Tangannya kembali mengusap benda berbiji itu.

"Ih, aneh ya. Kenapa punya aku besar, punya kamu rata? Kok bisa?"

Jeremy terus menahan diri, tapi mulai terpancing dengan sensasi sentuhan yang dia rasakan dari Claire. Tidak, dia harus menghentikan ini sebelum gadis ini semakin menjadi-jadi.

Belum sempat Jeremy menarik tangan gadis itu menjauh, jemari Claire yang penasaran sudah meluncur turun melewati perutnya yang kencang, menyusuri garis pinggang hingga akhirnya menyentuh benjolan keras yang menonjol di balik kain celana panjangnya.

Mata Jeremy seketika melotot lebar, napasnya tertahan sepenuhnya di tenggorokan. Tubuhnya yang tadi sudah kaku kini seolah melengkung spontan, setiap serat ototnya menegang kaku seketika. Sensasi hangat dari telapak tangan Claire yang menekan tepat di sana membuat aliran darahnya berpacu liar, wajahnya memerah padam hingga ke telinga.

"Damm ..." desisnya tertahan, suaranya pecah berubah menjadi napas berat.

Namun Claire sama sekali tak berhenti, ia malah menekan dan meremasnya dengan kuat, seolah sedang menguji kekerasan benda asing yang baru ditemukannya itu.

"Wah... ini apa lagi?" gumamnya dengan mata yang semakin membulat penasaran, gerakannya tak berkurang sedikit pun.

"Keras banget ... kok bisa?"

Jeremy merasakan seluruh pertahanan dirinya runtuh seketika. Tubuhnya bereaksi sepenuhnya di luar kendali, rasa panas menjalar dari titik yang disentuh itu ke seluruh ujung sarafnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha menahan erangan yang hampir lolos, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Laki-laki manapun yang di sentuh di situ tentu saja akan merasakan sensasi aneh. Kecuali laki-laki impoten.

"Claire ... berhenti ..." suaranya kini terdengar lemah dan bergetar, tak lagi tegas seperti tadi. Ia berusaha menyingkirkan tangan itu, namun tenaganya seolah habis diserap sensasi yang begitu nyata dan memabukkan.

Gadis itu malah semakin asyik, memiringkan kepala dengan wajah polos tanpa dosa, tak sadar sama sekali apa yang baru saja ia lakukan pada dirinya.

"Kok kamu bergetar? Dingin ya? Tapi di sini malah panas sekali..." bisiknya, lalu melanjutkan gerakannya lagi, membuka resleting celana Jeremy.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!