Sabtu pagi, jarum jam baru menunjukkan pukul enam ketika suara deru motor matic Karin berhenti di halaman rumah Maya—kakaknya. Dengan langkah santai, Karin melenggang masuk ke dalam rumah.
Di dapur, Maya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan langsung menoleh dengan mata membelalak.
"Tumben pagi-pagi banget datang ke sini? Berangkat dari jam berapa kamu, Rin?" tanya Mbak Maya heran.
"Iya, Kak. Karin berangkat jam lima pagi tadi," jawab Karin sambil nyengir.
Maya menggeleng-gelengkan kepala. "Ngapain jam segitu rajin banget? Biasanya juga kamu baru nongol siang."
"Biarin dong. Oh ya, Eja ada, kan? Belum bangun dia?"
"Belum."
Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, Karin sudah melesat pergi menuju tangga. "Tapi..." Mbak Maya hanya bisa menghela napas menatap punggung adiknya yang sudah menghilang ke lantai atas.
Karin langsung menuju kamar keponakannya. Tanpa ragu, ia membuka pintu kamar Reza yang tidak terkunci. Di atas ranjang, tampak seorang lelaki sedang tidur telungkup memunggungi pintu, bertelanjang dada dengan selimut yang hanya menutupi batas pinggang.
Si Eja masih tidur rupanya, pikir Karin jahil.
Dengan sekali gerakan, Karin meloncat ke atas ranjang. "Hey! Karin datang!" serunya heboh.
Klek.
Tiba-tiba lampu kamar menyala terang.
"Tante! Ngapain masuk kamarku sembarangan?!"
Karin tersentak. Suara protes itu bukan berasal dari bawahnya, melainkan dari arah ambang pintu kamar mandi di dalam kamar. Karin menoleh ke sumber suara, lalu menatap horor ke arah lelaki yang sedang ia duduki.
Merasakan ranjangnya berguncang hebat, lelaki yang tidur telungkup itu mulai terusik. Dia berbalik, mengucek matanya yang masih mengantuk, lalu menoleh ke arah Karin dengan wajah bingung sekaligus kaget.
Sadar dirinya salah sasaran, Karin buru-buru turun dari pinggang laki-laki itu dan bergeser duduk di tengah-tengah ranjang dengan canggung.
Reza berjalan mendekat sambil bersedekap dada, wajahnya masam. "Tante ngapain sih? Eja kan udah gede, harusnya Tante ketuk pintu dulu, jangan main masuk sembarangan!"
"Tante gak tahu kamu bakalan bawa teman tidur di sini..." Karin membela diri, lalu buru-buru menatap laki-laki di sampingnya dengan wajah bersalah. "Maaf ya..."
Laki-laki itu hanya diam. Dia mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Reza, meminta penjelasan.
"Itu tante gue, Tante Karin," kata Reza memperkenalkan dengan nada malas. "Udah ah, sana lo keluar aja, Tan. Ganggu tahu!"
Karin malah mengerucutkan bibirnya. "Ih, kamu tuh ya, gak kangen apa sama aku?"
"Gak!" jawab Reza ketus.
Bukannya keluar seperti yang diperintahkan, Karin malah dengan santai merebahkan tubuhnya di kasur Reza, tepat di samping teman Reza yang kini sudah mengubah posisi menjadi duduk.
Merasa situasi kamar mulai aneh, teman Reza itu akhirnya berdeham. "Gue ke kamar mandi dulu," pamitnya pelan.
Karin menengok, sedikit terkejut saat mendengar suara laki-laki itu. Suaranya terdengar sangat berat dan ngebas. Persis kayak karakter cowok di novel-novel yang sering gue tulis, batin Karin. Sudut bibirnya refleks terkekeh kecil.
Setelah laki-laki itu masuk ke kamar mandi, Reza langsung duduk di tepi ranjang dengan gusar. "Tante, malu-maluin banget ih! Itu kan temen Eja!"
Karin mengubah posisinya menjadi tidur menyamping, menahan kepalanya dengan tangan kanan sambil menatap keponakannya dengan jeli. "Siapa namanya?"
"Arvin," jawab Reza singkat dan padat.
Karin tersenyum misterius. Dia kemudian bangkit berdiri, lalu dengan gemas mengacak-ngacak rambut Reza sampai berantakan.
"Ya udah, ayo turun. Sarapan!" seru Karin riang, melangkah keluar kamar seolah tidak baru saja membuat kehebohan.
Di meja makan, aroma nasi goreng dan telur dadar buatan Maya sudah menguar. Karin langsung menarik kursi dan cemberut ke arah kakaknya.
"Kakak kok gak kasih tahu sih kalau Eja bawa temennya nginep di sini?" protes Karin setengah berbisik.
Mbak Maya memutar bola matanya gemas. "Kamu yang main pergi gitu aja tadi, Rin! Kakak baru mau ngasih tahu, kamunya udah ngibrit ke atas. Tapi... mereka udah pada bangun?"
"Udah," jawab Karin singkat, agak tengsin kalau ingat kejadian tadi.
Tak lama kemudian, Hendra—kakak ipar Karin—muncul dari arah kamar sambil menuntun anak bungsu mereka yang baru berusia 5 tahun dan masih mengantuk, Lulu.
"Tante Alin!" seru Lulu dengan suara serak khas anak baru bangun tidur.
Melihat keponakan kecilnya yang menggemaskan itu, Karin langsung bangkit. "Sini sama Tante Alin," ucapnya sambil mengambil alih Lulu ke dalam gendongannya, membuat Lulu langsung menyandarkan kepala di bahu Karin.
Saat sarapan sudah siap di meja, Reza dan Arvin akhirnya turun. Arvin kini sudah rapi mengenakan kaos hitam santai. Kebetulan, posisi duduk Karin berhadapan langsung dengan Arvin. Dengan telaten, Karin memangku Lulu, menyuapinya sesekali, dan dengan sabar memberikan minum menggunakan sedotan agar tidak tumpah ke baju sang keponakan.
Hendra yang memperhatikan ketelatenan adiknya itu tersenyum kecil. "Makanya nikah, Rin. Biar kamu punya anak sendiri, gak cuma ngasuh keponakan terus."
Karin mendengus pelan sambil mengelus rambut Lulu. "Gak ah, gak mau ya," jawab Karin santai, enggan membahas topik sensitif itu pagi-pagi.
Saat Karin hendak meraih gelas minumnya sendiri, tanpa sengaja tatapan matanya bertemu langsung dengan Arvin. Laki-laki 17 tahun itu ternyata sedang memperhatikannya sejak tadi. Begitu mata mereka beradu, Arvin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan mendadak sibuk melanjutkan makannya.
Setelah beres makan, suasana hangat itu sedikit berubah ketika mereka bersantai di ruang tamu. Karin duduk di sofa panjang sambil meluruskan kakinya.
Hendra membuka koran digital di ponselnya, lalu menatap Karin. "Rin, kamu kenapa gak cari kerjaan yang beneran sih? Yang kantoran gitu, biar kamu punya penghasilan tetap."
Karin menghela napas, sudah hafal dengan arah pembicaraan ini. "Ya emang kenapa kalau kerja di rumah, Mas? Yang penting aku bisa makan dari hasil keringat sendiri."
Maya ikut menimpali sambil melipat sisa pakaian di sudut ruangan. "Ya kan setidaknya kalau kerja kantoran, kamu gak kekurangan uang, Rin. Masa depan juga lebih jelas."
Merasa jengah karena pekerjaannya sebagai penulis fiksi dianggap sebelah mata, Karin langsung memotong omongan kakaknya dengan nada tegas namun tenang.
"Emangnya kapan aku minta jatah buat hidup aku ke kalian? Gak, kan? Aku ke sini cuma mau main dan ketemu keponakan-keponakan aku, bukan mau minta uang jajan."
Mendengar jawaban telak dari Karin, kedua kakaknya itu seketika terbungkam. Maya dan Hendra hanya bisa saling pandang lalu menghela napas panjang, tahu kalau adik mereka yang satu ini memang keras kepala dan mandiri.
Di sudut ruangan, Arvin yang sedang bermain ponsel bersama Reza diam-diam mencuri dengar. Ada rasa kagum yang terselip di hatinya melihat cara Karin mempertahankan prinsip hidupnya di depan orang tua yang kolot.
Mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang, Karin menoleh ke arah keponakan remajanya. "Eja, weekend ini kalian mau ke mana?"
"Mau ke curug. Mau ikut?" jawab Reza santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Mata Karin langsung berbinar. "Ikut lah! Karin ke sini kan emang mau liburan!" serunya riang, melupakan kekesalannya pada kakaknya barusan.
Di sebelahnya, Arvin diam-diam menyunggingkan senyum tipis. Liburan ke curug kali ini tampaknya akan jauh lebih menarik dari yang dia bayangkan.
Di dalam kamar, Reza dan Arvin sedang bersiap-siap memasukkan baju ganti ke dalam tas punggung mereka. Arvin yang sedang merapikan jaketnya berpura-pura bertanya dengan nada santai.
"Itu tante lo... umur berapa emang, Ja?"
Reza menoleh sekilas. "Kalau gak salah 25 atau 26, lupa gue. Sekitar segituanlah. Kenapa? Kelihatan muda, kan, dia?"
"Iya," jawab Arvin jujur. "Gue kaget aja, kirain siapa tadi yang tiba-tiba loncat gitu."
Reza terkekeh sambil menyampirkan tasnya. "Tante gue itu emang agak gila, suka absurd gitu anaknya. Sorry, ya, atas kelakuannya tadi pagi."
Arvin hanya mengangguk kecil, memaklumi. "Tapi, gapapa kan tante gue ikut ke curug?" tanya Reza memastikan.
"Ya gapapa, seru juga kan kalau rame. Ya udah, gue kabari yang lain dulu buat kumpul di pom bensin depan," sahut Arvin sambil mengetik pesan di ponselnya.
Setelah semuanya beres, Reza memanggil Karin yang sudah siap di bawah. Mereka bertiga pun melangkah ke luar rumah. Di halaman, Arvin mulai mengeluarkan motor sport-nya dari garasi. Karin yang berdiri di dekat teras hanya diam memperhatikan proporsi tubuh cowok 17 tahun itu dari belakang.
"Suka olahraga, ya?" tanya Karin tiba-tiba, memecah keheningan.
Arvin menoleh, agak terkejut dengan pertanyaan random itu. "Iya. Emangnya kenapa, Tan?"
"Tubuhmu bagus, gak kayak si Eja," puji Karin blak-blakan dengan nada santai khas orang dewasa.
"Tante! Enak aja kalau ngomong!" protes Reza yang baru keluar menutup pintu rumah. "Yang penting gue gak gendut, tau!"
Karin hanya terkekeh melihat keponakannya yang merajuk. Di matanya, Arvin memang memiliki bentuk tubuh yang atletis, meski guratan ototnya masih tampak samar, namanya juga masih anak sekolahan yang masa pertumbuhannya belum maksimal. Tapi tetap saja, untuk ukuran remaja 17 tahun, Arvin terlihat proporsional.
Mereka pun berangkat. Karin mengendarai motor matic-nya sendiri, sedangkan Reza nebeng bersama Arvin.
Begitu tiba di pom bensin depan kompleks, dua motor lain sudah menunggu. Di sana ada Reno, Dito, Fino, dan Bima yang sedang asyik mengobrol.
"Loh, gue kira bakalan berenam, siapa tuh?" tanya Fino saat melihat ada satu motor matic tambahan yang mengiringi Arvin dan Reza.
Reza membuka kaca helmnya. "Tante gue ikut, gapapa ya?"
"Oh, oke deh, boleh," jawab Dito santai mewakili yang lain. Karena Karin memakai masker hitam dan helm, teman-teman Reza tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tanpa buang waktu lama, rombongan itu langsung memacu motor menuju curug.
Satu jam perjalanan berlalu, mereka akhirnya tiba di kawasan wisata curug. Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut. Karin mematikan mesin motornya, membuka helm, lalu turun sambil berkacak pinggang menghirup udara dalam-dalam.
"Wah, enak banget! Seger banget di sini!" serunya riang.
"Tante, bayar tiketnya dulu," kata Reza mengingatkan sambil menunjuk ke arah loket.
Karin langsung melenggang ke loket tiket mendahului anak-anak remaja itu. "Mbak, tiketnya berapa semuanya?" tanya Karin pada petugas penjaga.
"Untuk 7 orang ditambah parkir motor, totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah, Mbak," sebut si penjaga loket.
Karin langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar lunas seluruh total tiket mereka tanpa ragu. Melihat hal itu, Dito dan Reno buru-buru menghampiri Karin sambil merogoh saku celana.
"Nih, Tante, uang ganti tiket kami," ucap Dito menyodorkan beberapa lembar uang.
Karin mengibaskan tangannya sambil tersenyum di balik masker. "Gak usah, gapapa. Tante yang bayar, anggap aja Tante lagi traktir kalian."
Arvin yang memperhatikan adegan itu dari jarak dekat diam-diam menyunggingkan senyum di balik helmnya. Ada rasa hangat melihat bagaimana Karin memperlakukan teman-teman keponakannya dengan begitu royal.
Mereka pun berjalan masuk ke area air terjun. Begitu tiba di dekat gemercik air yang deras, Karin langsung melepas helm dan maskernya, membiarkan wajah aslinya terlihat sepenuhnya di bawah sinar matahari.
"Wih, Ja... tante lo cantik juga, ya," bisik Fino ke arah Reza dengan mata agak terkesima.
"Iya lah! Tante siapa dulu!" jawab Reza dengan nada bangga yang sengaja dikeras-keraskan.
Segera setelah itu, Karin melepas jaket jeans-nya. Tak tanggung-tanggung, karena kegerahan, dia juga membuka kaos luarnya hingga kini hanya menyisakan tank top ketat berwarna hitam dan celana pendek di atas lutut.
Reza yang melihat hal itu langsung melotot panik. "Tante! Gak malu apa?!" tegur Reza setengah berbisik, mencoba menutupi tubuh tantenya.
Karin mengerutkan kening heran. "Loh, apa salahnya? Kan mau main air? Tante gak bawa baju ganti, jadi pake baju yang emang udah dipakai aja dari rumah. Apa salahnya?" bela Karin cuek.
"Ya tapi kan ini ada temen-temen Eja, Tante..." gumam Reza frustrasi dengan kepolosan tantenya yang kelewat santai.
Sementara itu, di posisi yang agak jauh, Bima menyenggol lengan Arvin sambil berbisik heboh. "Anjir, gila... body-nya mantep banget. Udah nikah belum sih tantenya si Eja itu?"
Arvin yang sejak tadi diam langsung mengalihkan pandangannya ke arah Karin. Menatap lekuk tubuh Karin yang dewasa dari atas sampai bawah, ada debaran aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, mendengar bisikan nakal temannya, perasaan Arvin mendadak berubah menjadi tidak nyaman.
"Belum nikah katanya," jawab Arvin singkat, nadanya terdengar sedikit dingin.
"Anjir, gila... kalau kayak gini mah gue juga mau," ucap Bima lagi, matanya masih enggan beralih dari Karin.
Arvin menyikut lengan Bima dengan cukup keras hingga temannya itu mengaduh pelan.
"Jaga mata lo," sahut Arvin tajam, memberikan tatapan memperingatkan agar Bima tidak terus-terusan memandangi Karin dengan tatapan seperti itu.
Gemercik air terjun yang deras langsung membuat suasana menjadi riuh. Reza, Dito, Reno, Fino, dan Bima langsung berlari kecil dan melompat ke bagian air yang dangkal, saling mencipratkan air sambil tertawa lepas.
Karin tersenyum lebar melihat kelakuan remaja-remaja itu. Dia berjalan perlahan, merasakan dinginnya air curug yang menyentuh mata kakinya. Kulitnya yang putih tampak kontras dengan air jernih dan bebatuan gelap di sekitarnya.
Saat Karin sedang asyik menikmati kesegaran air, dia menyadari kalau Arvin tidak ikut bergabung dalam kehebohan anak-anak yang lain. Cowok itu berdiri tidak jauh darinya, hanya merendam kakinya sebatas betis sambil memperhatikan sekeliling atau lebih tepatnya, diam-diam menjaganya.
"Arvin, kok gak ikut gabung sama yang lain?" tanya Karin setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru air terjun.
Arvin menoleh, menatap Karin yang rambutnya mulai sedikit basah karena cipratan air. "Gak apa-apa, Tan. Di sini aja, sekalian jagain Tante," jawab Arvin santai, tapi matanya menatap Karin dengan lekat.
Karin terkekeh geli. "Jagain Tante? Tante udah 25 tahun, Vin, bukan anak kecil lagi yang takut hanyut."
"Bukan hanyut karena air," gumam Arvin pelan, hampir tak terdengar.
"Hah? Apa?" Karin mendekat karena kurang dengar.
"Enggak," seru Arvin cepat sambil mengalihkan pandangan, telinganya mendadak sedikit memerah. Dia tidak mungkin jujur kalau yang dia maksud adalah menjaga Karin dari tatapan cowok-cowok lain di sekitar curug yang mulai melirik ke arah tantenya Reza itu.
Tiba-tiba, BYURRR!
Sebuah cipratan air berukuran besar menghantam punggung Karin hingga basah kuyup. Karin menjerit kaget lalu berbalik, mendapati Reza dan Fino sedang tertawa puas di seberang sana.
"Eja! Curang ya!" seru Karin tidak terima. Tanpa pikir panjang, Karin langsung balas menyerang dengan menyendok air menggunakan kedua telapak tangannya, melemparkannya ke arah sang keponakan.
Aksi saling balas pun terjadi. Arvin yang awalnya hanya menonton, mendadak ditarik oleh Dito untuk ikut masuk ke dalam pusaran perang air. Alhasil, dalam waktu singkat, mereka semua basah kuyup dan tertawa bersama.
Di tengah keriuhan itu, beberapa kali Karin hampir tergelincir karena batu curug yang licin. Namun, setiap kali tubuhnya oleng, sebuah tangan yang kekar dan hangat dengan sigap menahan lengannya dari belakang. Saat Karin menoleh, dia selalu mendapati Arvin yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Hati-hati, Tan. Batunya licin banget," ucap Arvin lembut, masih memegangi lengan Karin sampai perempuan itu benar-benar berdiri seimbang.
Karin sempat terpaku beberapa detik. Jarak yang dekat membuat dia bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi air pegunungan dari tubuh Arvin. Dadanya tiba-tiba berdetak aneh, perasaan yang seharusnya tidak dia rasakan dari seorang remaja yang usianya terpaut delapan tahun di bawahnya.
"Ah... iya, makasih ya, Arvin," jawab Karin agak gugup, buru-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat.
Arvin tersenyum tipis melihat reaksi Karin, menyadari kalau kehadirannya mulai memberikan efek yang berbeda pada wanita dewasa di depannya itu.
Setelah puas basah-basahan, rasa dingin mulai menyergap kulit. Sebelum benar-benar menyudahi sesi main air, Karin tiba-tiba teringat sesuatu.
"Eh, fotoin Tante dulu dong!" seru Karin sambil menoleh ke arah keponakannya.
Reza yang baru naik ke daratan langsung menyahut, "Pake HP Arvin aja, Tan. Kamera HP-nya bagus banget, sering buat foto-foto estetik gitu."
"Oh, ya?" Karin beralih menatap Arvin dengan mata berbinar.
Arvin mengangguk pelan. "Iya, Tan. Pake HP gue aja."
"Ya udah, sana ambil terus fotoin Tante, ya," pinta Karin riang.
Arvin pun beranjak menuju batu besar tempat tas mereka diletakkan untuk mengambil ponselnya. Tak butuh waktu lama, cowok itu sudah kembali dan mulai mengarahkan kamera ke arah Karin. Cekrek. Cekrek. Arvin mengambil beberapa foto Karin dengan berbagai pose. Lewat kamera ponselnya, Arvin bisa melihat bagaimana senyum lepas Karin berpadu sempurna dengan latar belakang air terjun yang megah.
"Udah, ayo makan! Biar gak masuk angin," ajak Reza setelah sesi foto selesai.
Mereka akhirnya naik kembali ke area warung-warung kecil di pinggir curug. Dengan pakaian yang masih basah kuyup, mereka duduk di bangku kayu panjang. Hampir semuanya memesan mi instan rebus untuk menghangatkan tubuh. Namun, saat memesan minuman, Karin memilih susu jahe hangat, pilihan yang ternyata sama persis dengan yang dipesan oleh Arvin.
Karin kemudian menggeser duduknya, mengambil posisi tepat di sebelah Arvin. "Gimana fotonya? Bagus gak?" tanya Karin penasaran.
"Bagus," jawab Arvin singkat sambil menyalakan layar ponselnya dan memperlihatkan hasil jepretannya tadi.
Karin mendekat, ikut melihat layar ponsel Arvin. Jarak yang tipis membuat Arvin bisa mencium sisa wangi sampo dari rambut basah Karin. Karin menggeser beberapa foto dan tersenyum puas. "Wah, keren banget hasilnya! Puas deh. Kirim ke nomor Tante, ya."
Mendengar kalimat itu, Arvin sempat terpaku beberapa saat. Kirim ke nomornya? Berarti gue bakal punya nomor WhatsApp Karin?
Mencoba bersikap biasa saja, Arvin mengangguk lalu menyerahkan ponselnya agar Karin bisa mengetikkan nomor teleponnya sendiri. Setelah kontak baru dengan nama 'Tante Karin' itu tersimpan, Arvin langsung mengirimkan semua foto tadi lewat aplikasi pesan.
Sementara Karin dan Arvin sibuk dengan ponsel, di sudut bangku yang lain, Bima menyenggol lengan Reza sambil berbisik penuh selidik. "Ja, mungkin gak sih kalau si Arvin ini suka sama tante lo?"
Reza langsung mendengus geli. "Gak mungkin lah! Dia kan anti cewek banget di sekolah. Gak pernah mau nanggepin cewek."
"Eh, tapi tante lo beda, Ja," sahut Bima lagi, matanya mencuri pandang ke arah Karin. "Tubuhnya udah bukan tubuh anak sekolahan yang masih kecil. Matang banget. Gue aja mau punya cewek modelan kayak tante lo."
"Lo-nya aja yang mesum!" potong Fino cepat, yang langsung diangguki setuju oleh Dito. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu.
Di sisi lain, Arvin sama sekali tidak mendengar bisikan teman-temannya karena fokus oleh hal lain. Posisi duduk Karin yang agak condong ke arahnya membuat belahan dada wanita itu sedikit mengintip dari balik tank top hitamnya yang basah. Pemandangan sedekat itu seketika membuat Arvin menelan ludah dengan susah payah, dadanya bergemuruh hebat hingga dia buru-buru mengalihkan pandangan ke layar ponsel.
"Udah semua terkirim. Kamu bisa hapus foto-fotonya dari HP kamu," ucap Karin membuyarkan lamunan Arvin.
Arvin hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Tepat setelah itu, Karin tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengacak-ngacak rambut Arvin dengan gemas.
"Makasih ya, Arvin," ucap Karin manis, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah menuju pemilik warung untuk membeli camilan tambahan.
Sentuhan ringan di rambutnya itu seperti menyengat tubuh Arvin. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada biasanya. Arvin kembali menatap layar ponselnya yang masih menampilkan galeri foto Karin. Jarinya bergerak lambat, menggeser beberapa foto wajah Karin yang sedang tersenyum lebar di curug tadi.
Alih-alih menuruti ucapan Karin untuk menghapusnya, Arvin justru memencet tombol home dan mengunci ponselnya. Sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menghapus satu pun foto wanita itu dari sana.
Di tengah kepulan asap mi instan yang hangat, Dito membuka obrolan baru sambil menatap Karin dengan penasaran. "Tante, kalau boleh tahu... kerjanya apa sih?"
Karin menelan kunyahan mi instan di mulutnya lalu menjawab santai, "Tante nulis cerita, sama kerja freelance di web gitu."
"Oh, berarti kerjanya dari rumah dong, Tan?" timpal Fino yang duduk di ujung bangku. Karin mengangguk mengiyakan sambil meraih sepotong roti bakar yang baru dihidangkan pemilik warung.
"Kalau... pacar Tante gimana?"
Pertanyaan random dari Bima itu seketika membuat suasana meja makan mendadak hening. Semua anak cowok di sana langsung menoleh serentak ke arah Bima dengan tatapan horor. Merasa dipandangi seperti itu, Bima langsung gelagapan membela diri, "Ya... ya kan ini weekend. Tante malah main sama anak-anak SMA kayak kita, siapa tahu pacar Tante nanti marah, kan?"
Reza yang duduk tepat di samping Bima langsung menyenggol keras lengan temannya itu dengan tatapan tajam. “Ngapain sih lo nanya-nanya privasi tante gue?” bisiknya.
Bukannya marah, Karin justru terkekeh geli melihat kepanikan anak-anak remaja di depannya. "Gak ada pacar, kok. Makanya Tante bebas bisa main sama kalian hari ini."
"Padahal Tante cantik banget, lho," sahut Dito polos, jujur dari lubuk hatinya.
Mendengar pujian itu, Karin tiba-tiba membuka kamera depan ponselnya. “Ah…” Dia mendadak menutup kedua matanya dengan tangan, berlagak terkejut dan syok yang membuat anak-anak itu sempat panik.
Namun sedetik kemudian, Karin membuka pelan telapak tangannya sambil menatap layar ponsel, lalu bergumam kagum pada dirinya sendiri, "Ah... iya, ternyata cantik banget aku ini."
Uhuk!
Fino, Dito, dan Bima seketika terkekeh melihat tingkat kepedean Karin yang di luar dugaan. Sementara itu, Arvin yang duduk di sebelahnya hanya menyunggingkan senyum tipis, merasa terhibur dengan sisi humoris dan narsis wanita dewasa tersebut.
Reza langsung menepuk jidatnya sendiri, malu dengan kelakuan tantenya. "Dih, narsis banget jadi orang!"
Karin mengerucutkan bibirnya sambil merapikan rambutnya yang setengah basah dengan jemari tangan. "Apaan? Bener kata temenmu, Tante ini emang cantik."
"Dah ah, lain kali gue gak mau ajak lo lagi. Malu-maluin!" gerutu Reza ketus.
Karin langsung mencubit pelan lengan keponakannya itu. "Eh, kok gitu sih ngomongnya ke Tante sendiri?" protes Karin yang disambut tawa renyah dari teman-teman Reza, termasuk Arvin yang diam-diam makin terpesona dengan sifat Karin yang apa adanya.
Setelah puas mengisi perut dan mengeringkan badan sebentar, matahari di langit curug mulai bergerak naik. Anak-anak remaja itu mulai berkemas untuk bersiap pulang.
Saat berjalan menuju tempat parkir motor, Karin mendadak menghentikan langkahnya dan meregangkan kedua tangannya ke atas. Efek berkendara pagi tadi ditambah main air seharian ternyata langsung membuat otot-ototnya terasa kaku.
"Ja, bawain motor Tante dong. Tante males nyetir, nih, pegel," pinta Karin sambil menyodorkan kunci motor matic-nya ke arah sang keponakan.
Reza yang sedang memakai jaket langsung menggelengkan kepala cepat. "Gak ah! Gak mau nyetir. Males."
"Gue aja, Tan, yang bawa motornya," sahut Fino tiba-tiba, menawarkan diri dengan semangat.
"Nah, iya! Lo aja yang bawa motor Tante gue, No," potong Reza cepat, langsung menyusun strategi posisi pulang agar dia bisa bersantai. "Jadi biar gue boncengan sama Bima aja ya. Tante sama si Arvin aja tuh, pegel juga kalau gue musti duduk di belakang Arvin terus."
Karin hanya bisa menghela napas pasrah melihat keponakannya yang tidak mau direpotkan itu. "Ya udah deh, iya," jawab Karin mengiyakan.
Arvin yang sejak tadi diam langsung berjalan mendekati motor sport-nya. Dia menaiki motor tersebut, menyalakan mesin yang langsung menderu halus, lalu menoleh ke arah Karin yang sedang bersiap untuk naik ke jok belakang.
Karena model jok belakang motor sport Arvin cukup tinggi dan menungging, Karin agak kesulitan untuk menyeimbangkan badannya. Kedua telapak tangan Karin langsung bertumpu dan memegang erat kedua bahu tegap Arvin sebagai pegangan.
Merasakan sentuhan tiba-tiba di bahunya, tubuh Arvin sempat menegang sedetik. Dia mencengkeram stang motornya lebih kuat, mencoba menahan debaran dadanya yang kembali berulah.
Arvin sedikit melirik dari kaca spion, memastikan Karin sudah duduk dengan posisi yang nyaman di belakangnya.
"Hati-hati, Tan," ucap Arvin lembut dengan suara ngebasnya, memperingatkan sebelum dia mulai menarik gas motornya perlahan membelah jalanan pulang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!