BRAK!
Suara tembakan terakhir menggema di dalam sebuah gudang tua di pinggiran Beijing. Seorang pria bertubuh besar jatuh tersungkur dengan mata terbuka lebar. Darah mengalir perlahan dari dahinya, sementara pistol berperedam di tangan wanita yang berdiri beberapa meter di depannya masih mengepulkan asap tipis.
Wanita itu mengenakan setelan serba hitam. Rambut panjangnya diikat tinggi. Wajahnya cantik, tetapi tatapannya sedingin es.
Namanya... Aurora Veyra.
Di dunia bawah tanah, nama itu adalah mimpi buruk bagi setiap targetnya. Tidak ada satu pun target yang pernah selamat dari cengkeramannya. Tidak pernah ada kata gagal dalam setiap misinya.
Karena dia adalah pembunuh bayaran terbaik di Beijing.
"Misi selesai," gumamnya puas sambil meniup ujung pistolnya.
Ponselnya bergetar.
Pesan itu berasal dari klien yang telah menggunakan jasanya.
Aurora memotret target yang sudah tidak lagi bernyawa. Tak lama setelah foto itu terkirim, ponselnya kembali bergetar. Sebuah notifikasi dari bank menyatakan bahwa uang sebesar lima ratus juta yuan telah masuk ke rekening pribadinya.
"Bagus," serunya sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tangannya.
Aurora tahu pekerjaannya memang salah dan sangat berbahaya. Namun, di dunia yang keras ini ia hanya hidup seorang diri. Jika tidak bekerja, maka ia akan mati karena kelaparan.
Baginya, lebih baik membunuh orang daripada harus menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Menjadi pembunuh bayaran adalah pilihan yang menurutnya paling tepat daripada harus menjadi wanita penghibur.
Aurora melangkah keluar dari gudang tanpa menoleh lagi.
Di luar, hujan turun cukup deras.
Mobil sport hitam miliknya telah menunggu.
Ia masuk ke dalam mobil, melepas sarung tangan kulitnya, lalu mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya selesai juga."
Aurora mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
Sesampainya di apartemen mewahnya di pusat Kota Beijing, Aurora segera mandi dan berganti pakaian menjadi piyama longgar.
Ia membuat secangkir kopi hangat, mengambil sekotak camilan, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk.
"Nyamannya," serunya puas.
Tangannya meraih novel yang sejak pagi belum sempat ia selesaikan.
Judulnya...
Cinta Tulus Raja Mafia.
Aurora sudah mengikuti novel itu selama berminggu-minggu. Kini hanya tersisa satu bab terakhir.
"Semoga ending-nya bagus," harapnya.
Lalu ia mulai membaca.
Awalnya wajahnya masih terlihat santai.
Namun, semakin lama...
Alisnya semakin berkerut.
"Astaga..."
"Apa-apaan ini?"
Ia membaca semakin cepat.
Semakin dibaca, semakin membuatnya kesal.
Tokoh antagonis wanita bernama Shen Yuxin benar-benar membuat emosinya memuncak.
Wanita itu memiliki suami yang nyaris sempurna.
Lu Zhichen namanya.
Raja Mafia yang paling ditakuti di seluruh Beijing.
Tampan.
Kaya.
Setia.
Bahkan rela mati demi istrinya.
Namun, apa balasan Shen Yuxin?
Dia justru menyiksa suaminya tanpa ampun.
Menguras harta suaminya demi selingkuhannya.
Bahkan berkali-kali mencoba membunuhnya demi pria lain.
Aurora menutup novel itu sejenak.
"Dasar wanita bodoh! Kalau aku jadi dia... aku justru akan terus bersikap baik. Yah, tapi mau apa dikata. Dia cuma batu loncatan untuk pemeran utama wanita agar terlihat lebih menonjol," komentarnya sambil menggelengkan kepala.
Aurora kembali membaca hingga bab terakhir.
Di sanalah Lu Zhichen akhirnya menyerah.
Hatinya yang selama ini dipenuhi cinta perlahan berubah menjadi kebencian.
Semua berawal ketika seorang gadis berhati lembut, sahabat Lu Zhichen sejak kecil yang bernama Lin Xiaoran, menyelamatkannya dari penyiksaan Shen Yuxin.
Sedikit demi sedikit...
Hati sang Raja Mafia mulai luluh.
Dia jatuh cinta kepada Lin Xiaoran.
Sedangkan Shen Yuxin...
Wanita itu kehilangan segalanya.
Keluarganya dibuat bangkrut.
Pria yang selama ini ia kejar ternyata hanya memanfaatkan kekayaannya.
Dia bahkan menikah dengan sepupunya sendiri, Shen Meilin.
Dan pada akhir cerita...
Lu Zhichen sendiri yang menembakkan peluru ke dada istrinya.
Kalimat terakhir dalam novel itu membuat Aurora mendengus kesal.
"Aku pernah mencintaimu lebih dari hidupku. Namun hari ini... aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu."
DOR!
Novel pun berakhir.
Aurora menatap langit-langit apartemennya.
"Lumayan... tapi sangat menyebalkan. Kasihan sekali Yuxin. Dia dimanfaatkan habis-habisan oleh pria yang ia cintai dan juga sepupunya sendiri. Lalu harus menanggung akibat dari semua perbuatannya dengan mati di tangan suami yang selama ini selalu ia sakiti," komentarnya lagi.
Saat hendak meletakkan novel itu di atas meja, buku tersebut justru terpental hingga masuk ke bawah meja.
Aurora mendecak pelan.Ia bangkit dari sofa untuk mengambilnya. Namun, lantai masih sedikit basah oleh tetesan air hujan dari sepatunya. "Kyaaa...!" Jerit Aurora menggema.Tubuhnya terpeleset.
BUG!
Kepalanya menghantam sudut meja dengan keras.
Pandangannya langsung menggelap.
Cangkir kopi terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Suara sirene ambulans terdengar samar di kejauhan.
Lalu...
Semuanya menjadi sunyi.
Entah sudah berapa lama berlalu.
Aurora perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa sangat sakit.
Namun, yang membuatnya membeku bukanlah rasa sakit itu.
Melainkan langit-langit kamar yang sama sekali asing.
Lampu kristal raksasa.
Tempat tidur berukuran sangat besar.
Perabotan bergaya klasik yang tampak begitu mewah.
Aurora menundukkan pandangan.
Di tangannya tergenggam sebuah cambuk kulit yang ujungnya berlumuran darah.
Sementara di hadapannya...
Seorang pria tampan sedang berlutut.
Punggung pria itu dipenuhi luka cambukan hingga darah merembes membasahi pakaiannya.
Aurora terkejut bukan main.
Ia refleks mundur, lalu melempar cambuk itu ke lantai.
"Apa yang terjadi? Kamu siapa?" tanya Aurora dengan suara bergetar ketakutan.
Belum sempat ia memahami keadaan, kepalanya mendadak terasa seperti dihantam ribuan palu tak kasatmata.
"Aaa... sakit...!"
Rasa nyeri yang luar biasa membuatnya memegangi kepalanya.
Dalam sekejap, kepingan-kepingan ingatan asing menerobos masuk ke dalam benaknya secara paksa.
Kenangan yang bukan miliknya mengalir begitu saja.
Di sisi lain, pria yang tubuhnya telah penuh luka justru menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Padahal, wanita di hadapannya baru saja menyiksanya tanpa belas kasihan.
Pria itu merangkak menghampiri Aurora yang sedang kesakitan.
Aurora akhirnya mulai memahami situasinya.
Tubuhnya langsung membeku.
Ia telah masuk ke dalam novel yang baru saja selesai dibacanya.
Dan yang lebih buruk lagi...
Ia bukan menjadi tokoh utama, Lin Xiaoran.
Bukan pula tokoh pendukung.
Melainkan menjadi Shen Yuxin.
Tokoh antagonis yang paling ia benci.
Aurora tersenyum pahit.
"Mungkin ini hukuman dari langit."
"Setelah begitu banyak dosa yang kulakukan..."
"Aku justru dikirim ke dunia novel sebagai karakter paling menyebalkan."
"Dari sekian banyak tokoh..."
"Kenapa harus Shen Yuxin?"
Kepalanya kembali terasa semakin berat.
Pandangannya mulai kabur.
Kesadarannya perlahan menghilang.
Dan Aurora kembali jatuh tak sadarkan diri.
Kesadaran Aurora kembali perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma obat-obatan yang samar memenuhi ruangan. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.
Pandangannya masih sedikit buram.
Namun, kali ini ia tidak lagi melihat pria yang berlutut di hadapannya. Ia sedang berbaring di atas ranjang mewah dengan tirai sutra putih yang menjuntai hingga menyentuh lantai.
"Madam!"
Suara seorang wanita terdengar penuh kegembiraan.
Aurora menoleh.
Seorang pelayan muda yang mengenakan seragam hitam putih langsung berlari menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Syukurlah... Anda sudah sadar," ucap sang pelayan penuh syukur.
Belum sempat Aurora menjawab, pintu kamar terbuka.
Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya tampan, berkacamata, dan membawa sebuah koper medis.
Begitu melihat Aurora membuka mata, ia langsung mengembuskan napas lega.
"Keadaanmu sudah stabil, Yuxin," kata pria tersebut.
Samar-samar Aurora mulai mengenali wajah itu dari ingatan Shen Yuxin yang asli.
Pria tersebut tidak lain adalah Gu Yichen.
Dokter yang selalu didambakan Shen Yuxin dan pria yang telah menghasutnya agar mengkhianati suaminya sendiri. Serta pria yang ternyata menjalin hubungan dengan sepupunya, Shen Meilin.
"Yuxin, kamu membuatku khawatir," kata Gu Yichen.
Nada suaranya terdengar lembut penuh perhatian.
Namun, Aurora justru merinding.
Karena ia tahu isi novel itu. Tentang betapa licik dan munafiknya karakter Gu Yichen ini.
Di dalam novel dijelaskan bahwa Gu Yichen dan Shen Meilin memanfaatkan Shen Yuxin sedemikian rupa hingga semua orang menganggap Shen Yuxin adalah wanita gila yang tergila-gila kepada Gu Yichen.
"Bagaimana keadaanku?" tanya Aurora pelan, berusaha mengikuti situasi saat ini.
Gu Yichen tersenyum tipis.
"Kamu hanya pingsan karena tekanan darah meningkat. Kepalamu juga terbentur saat terjatuh," jelas Gu Yichen.
Aurora mengangguk pelan.
Ia sengaja berpura-pura lemah.
Padahal, saat ini pikirannya bekerja sangat cepat.
"Aku benar-benar masuk ke dalam novel..."
"Dunia ini nyata. Semua orang di sini benar-benar hidup."
"Berarti kalau aku mati di sini... mungkin aku juga akan benar-benar mati dan tidak bisa hidup lagi?" batin Aurora.
Ia menggenggam selimut dengan erat.
"Tidak."
"Aku tidak akan mengikuti takdir Shen Yuxin."
"Aku tidak ingin mati konyol di tangan Lu Zhichen."
Saat mengingat akhir tragis novel itu, tubuh Aurora bergidik.
Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Lu Zhichen menembakkan peluru ke dada istrinya.
Tatapan pria itu...
Bukan lagi tatapan penuh cinta.
Melainkan kebencian yang begitu dalam.
Kalau ingin bertahan hidup di dunia ini, ia harus mengubah semuanya.
Meski mungkin akan ada konsekuensi yang harus ia terima.
"Yuxin?" panggil Gu Yichen lembut karena Shen Yuxin dari tadi hanya terlihat melamun.
Lamunan Aurora buyar.
Gu Yichen menatapnya dengan wajah khawatir.
"Apakah kepalamu masih sakit?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.
Aurora menggeleng.
"Sudah jauh lebih baik, Dok."
Gu Yichen tersenyum lega.
"Kalau begitu aku benar-benar tenang."
Aurora membalas dengan senyum tipis.
Namun, di dalam hati ia mencibir.
"Dasar aktor."
"Pria licik."
"Kalau bukan karena ingin memanfaatkanku, mana mungkin kamu rela datang kemari."
"Bahkan raut wajah jijikmu itu masih terlihat jelas setiap kali memandang wajahku."
Beberapa menit kemudian, Gu Yichen berpamitan.
Aurora memperhatikannya hingga pintu kamar tertutup rapat.
Begitu pria itu pergi, ia langsung mengembuskan napas panjang.
"Untung aku sudah membaca novelnya hingga tamat. Kalau tidak... bisa saja aku benar-benar mempercayai dokter munafik itu," gumamnya pelan sambil mengelus dadanya.
Pelayan yang sejak tadi berdiri di samping ranjang akhirnya memberanikan diri berbicara.
"Madam..." katanya dengan tubuh gemetar.
Aurora menoleh.
"Ya?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
"Master masih menunggu di ruang hukuman," kata pelayan tersebut dengan raut wajah ketakutan. Ia menundukkan kepala, tak berani menatap Yuxin secara langsung.
Aurora membeku.
Ruang hukuman?
Aurora langsung teringat pada kejadian sebelum ia pingsan.
Aurora menelan ludah.
"Tunggu... jangan bilang... sebelum aku masuk ke dalam novel ini, pemilik tubuh yang asli sedang mencambuk Lu Zhichen."
Pelayan itu kembali berbicara dengan suara pelan.
"Master belum bergerak sedikit pun sejak Madam pingsan tadi," katanya sambil terus menatap lantai.
Aurora langsung duduk tegak.
"Apa?"
Aurora membelalakkan mata.
"Sudah berapa lama?"
"Hampir tiga jam, Madam."
"Uhuk... uhuk..."
Aurora terbatuk karena terlalu terkejut.
"Benar-benar bodoh," gumamnya pelan.
Pelayan itu tampak kebingungan.
Biasanya, Shen Yuxin justru akan marah jika mendengar Lu Zhichen masih tetap sadar.
Hari ini reaksinya benar-benar berbeda.
Aurora buru-buru turun dari ranjang.
Pelayan panik.
"Madam! Dokter meminta Anda banyak beristirahat," serunya sambil mengejar Shen Yuxin yang sudah berjalan menjauh.
"Ayo ke ruang hukuman," kata Aurora yang berada di tubuh Shen Yuxin sambil melangkah lebar.
Pelayan itu hanya bisa mengikuti dari belakang.
Semakin mendekati ruang bawah tanah, langkah Aurora semakin melambat.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Ia bukan takut kepada Lu Zhichen.
Sebaliknya...
Ia merasa sangat bersalah.
Meskipun semua luka itu bukan perbuatannya, tetap saja tubuh yang kini ia tempati adalah tubuh Shen Yuxin.
Pintu besi perlahan dibuka.
Cklek...
Ruangan itu terasa dingin.
Dinding beton.
Lampu redup.
Di tengah ruangan...
Masih ada seorang pria yang tetap berlutut.
Kemeja putihnya telah berubah merah oleh darah.
Punggungnya dipenuhi luka cambukan.
Namun, posisi tubuhnya sama sekali tidak berubah sejak Aurora pingsan hingga saat ini.
Aurora terdiam.
Inilah pertama kalinya ia melihat Lu Zhichen secara langsung.
Pria itu...
Benar-benar terlalu tampan.
Rahangnya tegas.
Hidungnya mancung.
Alisnya tajam.
Tatapan matanya dingin, tetapi begitu dalam.
Meski wajahnya pucat akibat kehilangan banyak darah, pesonanya tetap luar biasa.
Namun, sangat disayangkan Lu Zhichen ditakdirkan untuk pemeran utama wanita, yaitu Lin Xiaoran.
Sedangkan dirinya hanyalah batu loncatan agar keduanya dapat bersatu dengan indah.
Begitu Lu Zhichen melihat Shen Yuxin, tatapannya langsung berubah lembut penuh kekhawatiran.
"Yuxin... kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada sangat khawatir.
Di sampingnya berdiri seorang pria yang memandang penuh kebencian kepada Shen Yuxin.
Aurora langsung dapat menebak identitas pria tersebut.
Pria itu adalah Han Mo.
Tangan kanan sekaligus sahabat Lu Zhichen di dunia bawah.
Shen Yuxin masih sedikit linglung, tetapi ia segera mendekat.
"Zhichen... berdirilah. Maafkan aku," kata Aurora yang berada di dalam tubuh Shen Yuxin.
Dengan cepat ia membantu Zhichen untuk berdiri.
Sedangkan Han Mo memandang penuh curiga kepada Shen Yuxin.
"Trik apa lagi yang akan digunakan wanita jahat ini untuk menyiksa Master?" tanyanya dalam hati sambil terus menatap Shen Yuxin dengan penuh kebencian.
Tubuh Lu Zhichen tiba-tiba ambruk. Shen Yuxin refleks menangkap tubuh pria itu sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
"Zhichen!" seru Shen Yuxin panik. Suaranya menggema di ruang bawah tanah.
Han Mo dan Xiao Bai membeku.
Mereka belum pernah mendengar Shen Yuxin memanggil nama sang Master dengan nada secemas itu.
Shen Yuxin merasakan tubuh pria itu sangat panas.
"Demam..." gumamnya semakin khawatir.
Ditambah lagi, Lu Zhichen kehilangan darah dalam jumlah yang sangat banyak.
"Kenapa kalian masih diam?!" bentak Shen Yuxin sambil memandang tajam Han Mo dan Xiao Bai. "Siapkan dokter sekarang juga!" perintahnya tegas.
Han Mo dan Xiao Bai saling berpandangan. Mereka bahkan sempat mengira telinga mereka sedang bermasalah.
"Kenapa diam saja?! Dengar perintahku atau tidak?" suara Shen Yuxin meninggi. "Cepat!" teriaknya lagi.
"Baik, Madam!" jawab mereka serempak.
Xiao Bai langsung berlari keluar. Sementara itu, Han Mo membantu mengangkat tubuh Lu Zhichen.
Shen Yuxin ikut menopang tubuh suaminya. Saat tubuh mereka bersentuhan, ia dapat merasakan banyak bekas luka lama di balik pakaian pria itu. Bekas cambukan, bekas sayatan, bahkan bekas tembakan.
Dada Shen Yuxin kembali terasa sesak.
"Shen Yuxin yang asli benar-benar monster..." rutuknya dalam hati.
*
*
Beberapa menit kemudian...
Tubuh Lu Zhichen telah dipindahkan ke kamar utama. Dokter keluarga Lu sibuk membersihkan luka-lukanya. Shen Yuxin berdiri di samping ranjang tanpa bergeser sedikit pun.
Han Mo mengamati semuanya dari sudut ruangan.
Tatapannya dipenuhi kecurigaan dan kebencian yang mendalam kepada Shen Yuxin.
"Aneh... Padahal luka-luka itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Lalu, untuk apa sekarang berpura-pura peduli?" gumam Han Mo dalam hati.
Ketika Shen Yuxin melihat dokter hendak menuangkan alkohol ke luka yang masih terbuka, ia segera mencegahnya.
"Tunggu," katanya cepat.
Dokter menghentikan gerakannya.
"Ya, Madam?" tanya sang dokter bingung. Ia mengira Shen Yuxin akan kembali melarangnya mengobati Lu Zhichen.
"Hangatkan dulu cairannya," kata Shen Yuxin, membuat semua orang terkejut. "Kalau langsung dituangkan, dia akan semakin kesakitan."
Dokter terdiam.
Han Mo ikut membeku. Bahkan para pelayan saling bertukar pandang.
Sejak kapan Shen Yuxin peduli pada rasa sakit yang dialami Lu Zhichen?
Shen Yuxin baru menyadari semua mata sedang tertuju kepadanya.
"Ehem..." Ia berdeham pelan. "Maksudku... kalau dia terlalu kesakitan, nanti proses pengobatannya akan lebih lama dan sangat merepotkan."
Semua orang mengangguk pelan. Penjelasan itu terdengar jauh lebih masuk akal.
Han Mo mencibir dalam hati.
"Ternyata benar. Nyonya ingin Master cepat sembuh supaya bisa disiksa lagi. Memang benar-benar iblis."
Setelah semua luka dibersihkan, dokter memberikan salep khusus.
Shen Yuxin mengambil sendiri mangkuk berisi salep itu.
"Biar aku yang mengoleskannya," katanya sambil mengambil mangkuk tersebut dari tangan sang dokter.
Dokter hampir menjatuhkan kotak peralatannya.
"Madam... Apa Anda yakin?" tanyanya ragu.
Shen Yuxin mengangguk.
"Iya. Dan kalian semua, keluar."
Seluruh ruangan langsung kosong.
Hanya tersisa Shen Yuxin, Lu Zhichen yang masih belum sadarkan diri, dan Han Mo yang tetap berdiri di dekat pintu.
Shen Yuxin meliriknya.
"Kamu juga."
Han Mo menggeleng.
"Maaf, Madam. Saya diperintahkan untuk melindungi Master," tolaknya dengan nada datar.
Shen Yuxin mengembuskan napas pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, tetaplah di sana."
Han Mo sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
Dalam benaknya hanya ada satu pikiran.
"Aku tidak boleh lengah. Dulu Nyonya pernah berpura-pura merawat Master. Begitu semua orang lengah... Nyonya malah membakar seluruh gudang senjata organisasi."
Kerugian saat itu mencapai ratusan juta yuan. Belum lagi kekacauan besar yang ditimbulkan.
Belum selesai masalah itu, beberapa bulan kemudian Shen Yuxin kembali membuat ulah. Ia menghamburkan miliaran yuan di klub malam selama satu minggu penuh.
Bahkan ia menyuruh para penari menyebarkan uang dari lantai dua hanya karena merasa bosan.
Namun, anehnya Lu Zhichen sama sekali tidak marah. Beliau hanya membayar semua kerugian itu sambil tersenyum.
Yang paling membuat Han Mo hampir muntah darah adalah...
Suatu hari Shen Yuxin berhasil membobol brankas pribadi Lu Zhichen. Brankas yang bahkan para peretas kelas dunia pun kesulitan membukanya.
Seluruh uang tunai, emas, dan berbagai batu permata bernilai tinggi dibawa pergi untuk selingkuhannya, Gu Yichen. Dokter munafik itu.
Master hanya berkata pelan setelah mengetahui semuanya.
"Asal Yuxin bahagia... tidak apa-apa."
Zhichen bahkan tidak berani menyentuh dokter itu. Ia takut jika dirinya menyakiti Gu Yichen, Shen Yuxin akan semakin membencinya.
Saat mengingat semua kejadian itu, Han Mo mengepalkan kedua tangannya.
"Master terlalu mencintainya. Kalau begini terus, cepat atau lambat beliau akan mati di tangan wanita monster itu."
Han Mo tidak pernah mengerti mengapa Master-nya bisa mencintai wanita iblis itu sedalam ini.
Di dalam kamar, Shen Yuxin terlihat sangat hati-hati mengoleskan salep ke seluruh luka Lu Zhichen.
Bahkan ia meniup luka-luka itu perlahan.
Tindakan tersebut membuat Han Mo mengucek matanya berkali-kali karena mengira dirinya baru saja salah melihat.
Namun, Shen Yuxin mengabaikan keberadaan Han Mo.
Ia merawat Lu Zhichen dengan telaten, mengompres dahinya dengan handuk hangat, lalu mengelap keringat dingin yang membasahi tubuh pria itu.
Han Mo memicingkan mata penuh kecurigaan.
"Trik seperti apa lagi yang sedang dimainkan wanita iblis ini? Jangan-jangan dia sengaja berpura-pura baik agar bisa membunuh Master dengan lebih mudah."
Dalam hati, Han Mo bertekad kuat.
Ia harus melindungi Lu Zhichen dari kekejaman Shen Yuxin.
*
*
Menjelang malam, Lu Zhichen perlahan membuka matanya.
Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sosok yang tertidur di samping ranjang.
Wanita itu duduk sambil menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.
Lu Zhichen kemudian menyentuh dahinya. Sebuah handuk hangat masih menempel di sana.
Ia mengambil handuk itu, lalu memandang Shen Yuxin dengan tatapan tidak percaya.
"Apa aku bermimpi?" gumamnya pelan.
"Anda tidak bermimpi, Tuan. Ini kenyataan," kata Han Mo yang tiba-tiba menjawab gumaman Lu Zhichen.
Lu Zhichen mengernyit melihat Han Mo yang masih setia berdiri di depan pintu.
"Apakah Yuxin yang merawatku?" tanyanya dengan nada penuh keraguan.
Han Mo mengangguk.
"Sayangnya benar, Tuan. Entah rencana jahat apa lagi yang sedang ia siapkan untuk menyiksa Master dengan cara yang lebih kejam," jawab Han Mo dengan nada penuh ketidakpercayaan terhadap perubahan sikap Shen Yuxin yang begitu mendadak.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!