NovelToon NovelToon

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Episode — 1.

Tepuk tangan memenuhi ballroom Hotel Arunika. Lampu sorot mengarah ke panggung tempat Deris Adikara berdiri dengan jas hitam yang pas di tubuhnya. Senyum puas terpancar di wajah pria itu setelah menerima penghargaan sebagai Pengusaha Inspiratif Tahun Ini.

"Keberhasilan ini tentu tidak saya raih sendirian," ucap Deris di depan para tamu undangan.

Zahira Narapati yang duduk di meja paling depan ikut tersenyum. Selama tujuh tahun, ia menemani Deris dari masa sulit. Ia pernah ikut mengantar pesanan menggunakan motor tua, menyusun laporan keuangan hingga dini hari, bahkan menjual perhiasan peninggalan ibunya agar perusahaan suaminya tetap bertahan saat hampir bangkrut. Malam ini, ia berharap Deris akan mengucapkan terima kasih kepadanya... setidaknya sekali saja.

Namun, tatapan Deris justru beralih ke arah seorang perempuan bergaun merah yang duduk di meja VIP.

"Keberhasilan yang saya raih hari ini juga tidak lepas dari dukungan seseorang yang selalu memberi semangat serta perspektif baru dalam setiap langkah saya. Dia adalah Nona Kayla, putri Direktur Utama Gardapati Group."

Perempuan itu tersenyum malu-malu, lalu beberapa tamu mulai berbisik.

Zahira memandang suaminya tanpa berkedip, dadanya terasa sesak. Nama yang disebut bukan dirinya.

Deris turun dari panggung. Bukannya menghampiri istrinya, ia berjalan menuju Kayla dan berbincang akrab. Beberapa kamera wartawan langsung mengabadikan momen tersebut.

"Kasihan Nyonya Zahira."

"Aku kira yang akan disebut tadi istrinya."

"Siapa Nona Kayla untuk Pak Deris?"

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Zahira menundukkan kepala, jemarinya menggenggam ujung gaun sampai buku-buku jarinya memutih. Waktu terus berlalu, tetapi Zahira bahkan tak berani mengangkat pandangannya ke arah sang suami.

Tak lama berselang, Wulan, ibu mertuanya, melangkah menghampirinya.

"Ikut Ibu sebentar." Nada suara wanita paruh baya itu terdengar datar.

Zahira mengangguk dan mengikuti langkah mertuanya menuju ruang VIP di belakang ballroom. Begitu pintu tertutup, Deris sudah berdiri di sana. Di atas meja tersimpan sebuah map cokelat.

"Aku ingin kita bercerai." Tatapan pria itu dingin.

Zahira sontak membeku, Ia menatap Deris dengan wajah tak percaya dan berharap suaminya sedang bercanda.

"A-apa maksudmu, Mas?"

"Aku sudah menyiapkan semuanya." Deris mendorong map itu ke hadapan Zahira. "Surat gugatan cerai."

Zahira membuka map tersebut dengan tangan gemetar, namanya tertera jelas. Semua dokumen telah ditandatangani oleh Deris, matanya tiba-tiba mulai memanas.

"Kenapa?" tanya Zahira dengan suara yang tercekat. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menghimpit hingga sulit bernapas. Ia menatap pria di hadapannya, berharap masih ada alasan yang bisa ia pahami, atau setidaknya sedikit penyesalan di wajah suaminya.

Namun Deris hanya menatap Zahira tanpa ekspresi, tak ada penyesalan sedikitpun di wajah tampannya. "Kita sudah tidak cocok."

Kata-kata pria itu meluncur begitu saja, singkat dan dingin. Tak ada penjelasan, tak ada upaya untuk menghibur atau meminta maaf, seakan tujuh tahun kebersamaan mereka tidak pernah memiliki arti apa pun baginya.

Wulan mengembuskan napas pelan. "Zahira, terimalah dengan baik. Deris sekarang memiliki kehidupan yang berbeda. Dia membutuhkan pendamping yang bisa membantunya memperluas relasi bisnis. Sementara kamu, hanya menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga."

Ucapan ibu mertuanya menghantam harga diri Zahira. "Bu... tujuh tahun aku mendampingi Mas Deris membangun perusahaan ini."

Wulan menghela napas pelan. "Masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu. Tujuh tahun kalian bersama, tetapi belum juga memiliki anak. Ibu tidak pernah menudingmu mandul, jadi jangan salah paham. Namun, jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, lepaskan pernikahan ini secara baik-baik."

"Kamu istri dan menantu yang baik, kami mengakui itu. Hanya saja... dunia Deris sudah berubah." Ayah mertuanya, Bima Adikara, yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

Zahira tersenyum pahit. "Ayah... Ibu... saat perusahaan hampir bangkrut, siapa yang menjual rumah warisan orang tuanya?"

Mereka terdiam, tak ada yang menjawab.

"Siapa yang mengurus seluruh administrasi perusahaan tanpa menerima gaji? Siapa yang menemani Mas Deris... saat semua investor menolak bekerja sama?"

Wulan mengalihkan pandangan, tapi Deris mulai kehilangan kesabaran.

"Sudahlah Zahira! Aku akan memberikan rumah, mobil, dan sejumlah uang padamu untuk kompensasi. Percuma dipaksakan, aku udah gak mencintaimu lagi."

"Aku nggak meminta semua itu, Mas." Suara Zahira terdengar tenang, namun jelas bergetar. "Aku hanya ingin tahu, selama tujuh tahun... apakah semudah ini aku disingkirkan?"

Deris menarik napas panjang, gurat ketidaksabaran terlihat jelas di wajahnya. "Aku sudah katakan tadi, aku gak mencintaimu lagi dan sudah mencintai wanita lain."

Perkataan Deris menghancurkan sisa harapan Zahira, air matanya menggenang tetapi tak jatuh. Ia memandang dalam-dalam pria yang pernah menjadi pusat dunianya, suami yang dulu bersumpah akan menggenggam tangannya sampai tua. Sekarang... pria itu meminta dirinya pergi, dengan cara yang sangat mudah tapi menyakitkan.

"Tandatangani, cepat." Deris mengambil sebuah pena dan menaruhnya di atas kertas gugatan cerai.

Zahira memejamkan mata beberapa saat, lalu membukanya kembali. Kali ini, tatapannya berubah. Kesedihan masih ada, tetapi perlahan digantikan keteguhan. Ia mengambil pena itu, tangannya bergerak tanpa ragu. Coretan tanda tangannya selesai dalam hitungan detik.

Deris sempat terdiam, Ia mengira Zahira akan menangis, memohon, atau menolak. Namun, semuanya tidak terjadi.

Zahira menutup map itu, lalu berdiri. "Mulai malam ini, aku bukan bagian dari keluarga Adikara lagi."

Ia melepas cincin pernikahan dari jari manisnya, cincin itu diletakkan perlahan di atas surat cerai yang baru saja ia tanda tangani.

"Terima kasih untuk tujuh tahun yang pernah kita jalani, Mas. Dan terima kasih... atas semua luka yang kamu dan keluargamu berikan. Aku akan membawanya sebagai pengingat, untuk tidak lagi memberikan seluruh hidupku kepada orang yang tidak mampu menghargainya."

Zahira melangkah menuju pintu dengan wajah tegar, tapi sebelum keluar wanita itu berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Semoga keputusan kalian hari ini... tidak menjadi penyesalan seumur hidup suatu hari nanti."

Pintu tertutup keras saat Zahira keluar dari ruangan.

Wulan mengalihkan pandangannya ke cincin nikah milik mantan menantunya yang tergeletak di atas meja. Untuk sesaat, ada rasa sesak yang menyelinap di dadanya tanpa alasan yang mampu ia jelaskan.

Sementara di luar ballroom, Zahira berjalan sendirian melewati lobi hotel. Langkahnya tetap tegak, meski air mata akhirnya jatuh membasahi pipi.

Malam itu, Zahira kehilangan suami sekaligus keluarga yang selama ini menjadi tempatnya pulang. Yang tersisa hanyalah luka, kecewa, dan langkah kaki yang terasa begitu berat. Namun, hidup tak pernah benar-benar berhenti pada sebuah perpisahan. Di balik kehancuran yang ia rasakan, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali, meski saat itu ia belum mampu melihatnya.

Episode — 2.

Begitu keluar dari hotel, udara malam langsung menerpa wajah Zahira. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dadanya yang masih terasa sesak. Tangannya menggenggam erat tas kecil yang sejak tadi dibawanya, dan air mata sudah ia hapus. Ia tak ingin menangis lagi di tempat yang menjadi saksi runtuhnya rumah tangganya.

Baru beberapa langkah menuju area parkir, sebuah suara menghentikannya.

"Mbak Zahira."

Zahira berhenti, perlahan ia menoleh. Kayla, wanita baru yang dicintai Deris berdiri beberapa meter di belakangnya. Perempuan itu masih mengenakan gaun merah yang tadi mencuri perhatian di ballroom. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya penuh kemenangan.

"Aku sengaja menunggumu."

Zahira mengalihkan pandangannya kepada perempuan yang tampak jauh lebih muda darinya itu. Tatapannya datar, nyaris tak menyisakan emosi.

Kayla melangkah mendekat sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Aku cuma ingin memastikan... kamu benar-benar menandatangani surat cerai itu."

"Sudah." Zahira tersenyum hambar.

"Syukurlah."

Kayla mengembuskan napas lega, lalu terkekeh pelan. "Setidaknya, kamu masih tahu diri."

Tatapan Zahira tetap tenang, tak sedikit pun terusik oleh ucapan Kayla. Mungkin hari ini ia telah kalah dalam satu porsi bagian hidupnya, tetapi ia menolak larut dalam keterpurukan. Ia memilih bangkit dan menata kembali hidupnya dengan kemampuannya sendiri.

"Ada lagi?"

Kayla mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari tas tangannya, ia membukanya perlahan hingga sebuah cincin berlian berkilau terlihat jelas.

"Ini hadiah dari Mas Deris." Nada suara Kayla sengaja dipenuhi kebanggaan. "Katanya, cincin ini sebagai tanda kalau aku adalah perempuan yang ingin dia ajak menjalani masa depan."

Kayla sengaja mengangkat tangannya agar berlian itu memantulkan cahaya lampu hotel, dan senyum puas terbit di bibirnya. "Aku dengar... selama tujuh tahun menikah, kamu belum pernah mendapatkan cincin sebagus ini."

Zahira memandang cincin itu sekilas, ekspresinya tak berubah. Melihat reaksi Zahira yang datar, senyum Kayla perlahan memudar.

"Apa kamu nggak penasaran sejak kapan hubungan kami dimulai?"

"Aku tidak tertarik," ujar Zahira dengan nada acuh.

Jawaban Zahira membuat Kayla mengernyit. "Kau wanita yang sangat aneh. Suamimu direbut orang lain, tapi kamu masih bisa setenang ini."

"Dia sudah bukan suamiku." Kalimat Zahira terdengar ringan.

Kayla mendecak pelan. "Kalau begitu aku ucapkan terima kasih."

"Terima kasih?"

"Iya." Perempuan itu tersenyum lebar. "Kamu yang membangun semuanya dengan Mas Deris dari nol. Kamu yang menemani dia saat miskin, kamu juga yang mengurus semua pekerjaan yang melelahkan."

Kayla menatap Zahira dari ujung kepala sampai kaki. "Lalu setelah dia sukses... aku tinggal menikmati hasilnya. Rasanya menyenangkan, ya."

Zahira memandang wajah Kayla tanpa berkedip. "Sudah selesai?"

Kayla mendekat lagi hingga jarak mereka tinggal selangkah, ia menyeringai tipis. "Kamu tahu kenapa Mas Deris lebih memilihku dan malah menceraikanmu? Karena aku bisa membuka pintu yang selama ini gagal kamu buka. Ayahku adalah Direktur Utama Gardapati Group. Sekali beliau membantu, perusahaan Mas Deris akan langsung naik kelas."

Puk!

Kayla sengaja menepuk pelan bahu Zahira, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Mbak... kamu itu cuma ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya di rumah. Sementara aku masih muda, baru 25 tahun. Aku punya masa depan yang bisa berjalan seiring dengan Mas Deris. Sayang sekali... Mbak menemaninya sejak usiaku sekarang. Kamu mengorbankan tujuh tahun hidupmu, tetapi akhirnya tetap dibuang."

Tatapan Kayla dipenuhi kemenangan. "Lagipula... Mas Deris pantas mendapatkan perempuan yang selevel dengannya."

Zahira menyingkirkan tangan Kayla dari bahunya dengan gerakan tenang, tetapi tegas. "Kalau hanya itu yang ingin kamu sampaikan, aku permisi."

"Kamu marah?" Kayla menahan langkahnya.

"Tidak."

"Kecewa?"

"Tentu."

"Lalu kenapa masih bisa setenang ini?"

Zahira menatap Kayla tanpa menghindar. "Karena jika kau benar-benar merasa menang, kau tidak perlu merendahkanku."

Senyum Kayla perlahan memudar. "Apa maksudmu?"

"Sejak tadi kamu sibuk meyakinkanku kalau Mas Deris mencintaimu." Zahira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau kau benar-benar yakin akan cintanya... kau tidak perlu menungguku di parkiran hanya untuk mengatakan semua ini. Sebenarnya kau masih ragu, bukan? Masih bertanya-tanya, apakah Mas Deris benar-benar mencintaimu."

“Kau!“

Wajah Kayla berubah kaku, ucapan itu tepat mengenai sasaran. Sejak tadi, ia memang ingin melihat Zahira menangis, memohon, atau mengamuk. Namun, semua bayangannya tidak terjadi. Zahira justru berdiri dengan kepala tegak, dan hal itu membuat kemenangan Kayla terasa hambar. Dan ya, dia juga ingin meyakinkan dirinya jika cinta Deris pada Zahira sudah berakhir.

"Cih! Kau cuma pura-pura tegar!" kali ini suara Kayla terdengar emosi.

Zahira hanya menganggukkan kepala pelan. "Kalau itu membuatmu merasa lebih baik, anggap saja begitu."

Kayla tersenyum sinis. "Cepat atau lambat, kamu akan menyesal!"

Zahira mengulas senyum tipis. "Kalimat itu... lebih cocok untuk orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya."

Raut wajah Kayla mengeras. "Jangan merasa suci! Mas Deris memilihku karena dia sudah lelah hidup bersamamu."

"Kalau memang begitu, jagalah dia baik-baik."

Kayla mengerutkan dahi.

“Rawat laki-laki itu saat dia sakit, dukung dia saat usahanya jatuh. Temani dia... ketika semua orang meninggalkannya." Zahira menatap tepat ke mata Kayla, lalu senyum dingin terbit di bibirnya. "Semoga nanti... kamu mampu melakukan semua yang sudah kulakukan selama tujuh tahun ini. Dan semoga saja, dia tidak memperlakukanmu seperti yang dia lakukan padaku saat ini. Namun, watak seseorang jarang berubah. Mas Deris terbiasa meninggalkan orang yang sudah tidak lagi dianggap berguna."

Setelah mengucapkan itu, Zahira berbalik. Ia melangkah dengan dagu terangkat, meninggalkan halaman hotel tanpa sekali pun menoleh.

Kayla mengepalkan kedua tangannya, ia merasa dirinya yang kalah dalam percakapan tadi. Padahal Zahira sama sekali tidak membentak, tidak menghina, bahkan tidak menangis.

Di sisi lain, dari balik jendela ruang VIP lantai dua, Deris tanpa sengaja melihat punggung Zahira yang semakin menjauh. Untuk sesaat, dadanya terasa kosong. Perasaan itu datang begitu cepat hingga ia sendiri tidak sempat memahami artinya. Namun, Deris segera mengabaikannya. Baginya, malam ini adalah awal kehidupan baru.

*

*

*

Mohon dukungannya ya, like komen. Makasih♥️

Episode — 3.

Mobil taksi melaju perlahan membelah jalanan kota yang mulai lengang. Zahira menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Cahaya lampu jalan berkelebat silih berganti, tetapi pikirannya tetap berhenti pada satu kenyataan.

Tujuh tahun pernikahannya telah berakhir hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Ia membuka ponselnya, tak ada satu pun pesan dari Deris. Bahkan tak ada satupun panggilan telepon untuk menanyakan... apakah dirinya sudah sampai dengan selamat.

Yang muncul justru puluhan notifikasi dari media sosial. Ada foto Deris dan Kayla memenuhi beranda. Dalam salah satu foto, Deris tampak tersenyum sambil berdiri di samping Kayla ketika menerima penghargaan.

Judul berita itu membuat dada Zahira kembali sesak.

“Pengusaha Muda Deris Adikara Hadir Bersama Putri Direktur Gardapati Group. Keduanya Dikabarkan Akan Menjalin Kerja Sama Strategis.“

Kolom komentar sudah dipenuhi berbagai pendapat.

"Serasi banget."

"Kirain yang itu istrinya."

"Pantas kariernya makin melejit."

"Wanita seperti Kayla memang cocok mendampingi pengusaha sukses."

Zahira mematikan layar ponselnya, Ia tak ingin membaca lebih banyak.

"Maaf, Mbak... alamatnya sudah sampai."

Suara sopir taksi membuyarkan lamunannya, Zahira segera mengangkat kepalanya. Mobil berhenti di depan rumah dua lantai yang selama tujuh tahun menjadi tempatnya pulang. Ia membayar ongkos, lalu turun dari taksi.

Begitu membuka pagar rumah, langkahnya terhenti. Dua koper besar sudah berdiri rapi di teras. Di atasnya terdapat sebuah amplop putih, Zahira mengambilnya.

Tulisan tangan Wulan langsung dikenalnya.

"Barang-barangmu sudah Ibu kemasi. Rumah ini atas nama Deris. Mulai malam ini, kamu tidak perlu kembali lagi."

Tak ada kalimat lain, ucapan hati-hati, ataupun sedikit rasa iba. Zahira tersenyum tipis, ternyata mereka bahkan tidak memberinya kesempatan masuk untuk mengambil barang-barangnya sendiri.

Pintu rumah terbuka, seorang asisten rumah tangga keluar dengan wajah canggung.

"Nyonya...."

Zahira menggeleng pelan. "Panggil aku Mbak Zahira saja."

Asisten itu menundukkan kepala.

"Maaf.... Ibu Wulan yang menyuruh kami mengemasi semuanya."

"Aku tahu."

Wanita paruh baya itu menyerahkan sebuah kotak kecil. "Ini barang yang hampir tertinggal."

Zahira membukanya. Di dalamnya terdapat celemek masak yang sering ia pakai, album foto pernikahan, serta sebuah buku catatan keuangan perusahaan yang ia tulis sejak usaha Deris masih berupa toko kecil.

Jemarinya berhenti pada album foto, perlahan ia membukanya. Foto pertama memperlihatkan dirinya dan Deris saat baru menikah. Mereka tersenyum sederhana di rumah kontrakan yang bahkan dindingnya masih belum dicat sempurna.

Halaman berikutnya memperlihatkan Deris sedang tidur di sofa kantor. Saat itu Deris demam tinggi setelah bekerja hampir tiga hari tanpa istirahat. Zahira yang merawatnya semalaman. Ada pula foto ketika mereka mengantar pesanan menggunakan motor butut di tengah hujan. Setiap lembar menyimpan kenangan, dan setiap kenangan... kini terasa seperti ironi.

Zahira menutup album itu kembali.

"Bu Wulan bilang...." Asisten rumah tangga itu ragu melanjutkan.

"Katakan saja."

"Beliau meminta Mbak segera membawa semua barang malam ini."

Zahira mengangguk pelan. "Baik."

Tak lama kemudian, seorang satpam membantu memasukkan koper ke bagasi taksi. Saat semuanya selesai, Zahira berdiri menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.

Di rumah itu, Zahira belajar menjadi seorang istri. Belajar mengalah demi menjaga keutuhan rumah tangga, belajar bertahan di tengah berbagai keadaan, hingga akhirnya menyadari bahwa tidak setiap pengorbanan akan dibalas dengan penghargaan.

"Selamat tinggal."

Ia berbalik tanpa membawa apa pun selain dua koper dan satu kotak kenangan. Mobil kembali melaju. Kali ini, ia benar-benar tidak memiliki tujuan.

Di saat yang sama...

Ballroom Hotel Arunika masih dipenuhi tamu. Deris sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnis ketika Wulan menghampirinya.

"Barang-barang Zahira sudah Ibu keluarkan."

Deris hanya mengangguk singkat.

"Kamu tidak merasa keputusan ini terlalu terburu-buru?"

Deris menatap ibunya. "Bukankah tadi Ibu juga setuju?"

Wulan terdiam beberapa saat. "Tadi... Ibu hanya berpikir setelah bercerai, Zahira masih bisa tinggal beberapa hari sampai menemukan tempat baru."

"Percuma." Deris menyeruput minumannya dengan wajah santai tanpa penyesalan sedikitpun. "Semakin lama dia di rumah itu, semakin akan sulit nantinya."

Ucapan putranya membuat Wulan menghela napas pelan. Entah mengapa, bayangan Zahira yang selalu mengurus mereka muncul di benaknya.

Setiap pagi, sarapan selalu tersedia. Pakaian Bima selalu rapi. Obat untuknya juga tidak pernah terlambat disiapkan. Saat Wulan sakit dua tahun lalu, Zahira yang tidur di rumah sakit selama hampir seminggu. Anak kandungnya sendiri bahkan hanya datang sebentar karena sibuk bekerja.

Wulan menepis pikirannya, keputusan sudah dibuat, Ia tak boleh goyah.

Di sisi lain, Kayla datang menghampiri Deris sambil menggandeng lengannya.

"Mas, Papa mengundangmu makan malam besok."

"Tentu." Deris tersenyum.

Kayla menyandarkan kepala di bahu pria itu seraya tersenyum. "Kita akan segera memulai hidup baru, kan?"

"Iya." Deris membalas senyumnya.

Namun, tanpa sadar mata pria itu kembali mengarah ke pintu keluar ballroom. Untuk sesaat, ia merasa tempat itu terlalu sepi. Padahal orang-orang masih memenuhi ruangan.

Deris mengerutkan dahi, perasaan aneh itu kembali muncul. Seolah ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia mengabaikannya sekali lagi, dan sama sekali belum mengetahui bahwa malam itu bukan hanya Zahira yang meninggalkan keluarga Adikara.

Malam ini juga menjadi awal dari penyesalan yang perlahan akan menghampiri satu per satu penghuni keluarga itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!