Riu Han seorang bocah laki-laki yang baru berusia enam tahun dari keturunan Klan Riu, salah satu klan yang cukup dihormati di wilayah Pegunungan Awan Putih. Sejak lahir, ia diharapkan bisa melanjutkan nama baik keluarganya dengan menguasai ilmu kultivasi yang menjadi dasar kehidupan setiap orang di dunia ini.
Namun, takdir berkata lain. Saat usianya menginjak empat tahun, saat anak-anak lain seusianya sudah mulai merasakan dan menarik energi alam ke dalam tubuhnya, Riu Han justru tidak merasakan apa-apa. Setelah diperiksa oleh tetua klan, diketahui bahwa ia memiliki saluran energi yang tersumbat. Kondisi ini membuatnya tidak dapat menyalurkan energi alam sedikit pun—hal yang sama artinya dengan tertutupnya jalan untuk berkultivasi selamanya.
Di lingkungan yang mengagungkan kekuatan, menjadi orang yang tidak bisa berkultivasi sama saja dianggap sebagai orang yang tidak berguna. Banyak orang mulai memandangnya dengan pandangan iba, bahkan ada yang mencemooh dan menganggapnya sebagai aib bagi Klan Riu.
Meskipun hatinya sering terasa perih mendengar kata-kata sinis orang lain, Riu Han tidak pernah menyerah. Setiap hari, tanpa lelah ia mengulangi gerakan dasar yang diajarkan kepada semua pemuda klan: menarik napas dalam-dalam, membayangkan energi alam masuk lewat pori-pori kulit, lalu menyalurkannya ke seluruh bagian tubuh. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, namun tidak ada satu pun tetes energi yang berhasil ia kumpulkan. Tubuhnya tetap terasa kosong, sama seperti saat ia baru mulai berlatih.
“Tak apa, setidaknya aku sudah berusaha,” gumamnya pelan pada diri sendiri setiap kali merasa lelah dan putus asa.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat memancarkan cahaya keemasan, Riu Han kembali pergi ke hutan kecil yang terletak di belakang perumahan klan. Tempat ini sepi, jarang dikunjungi orang lain, sehingga ia bisa berlatih tanpa mendengar cemoohan atau tatapan kasihan siapa pun.
Ia berdiri di bawah naungan pohon raksasa yang batangnya begitu lebar sehingga butuh lima orang dewasa bergandengan tangan untuk melingkarinya. Pohon itu bernama pohon Kayu Keabadian, konon sudah tumbuh sejak ribuan tahun silam. Riu Han mulai melatih gerakan pernapasannya seperti biasa, matanya terpejam rapat, berusaha sekuat tenaga merasakan hembusan energi di sekitarnya. Namun lagi-lagi, usahanya sia-sia.
Karena merasa kecewa, ia duduk bersandar pada batang pohon itu sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba, telapak tangannya yang menempel pada kulit pohon merasakan sesuatu yang aneh. Ada lekukan samar yang membentuk pola lingkaran, persis seukuran telapak tangan anak-anak seusianya. Riu Han menggosok-gosokkan tangannya di sana, rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya.
Saat ia menekan bagian tengah lekukan itu dengan sedikit tenaga, terdengar suara gemeretak pelan namun jelas. Tanah di bawah kakinya sedikit bergetar, dan perlahan-lahan dinding batang pohon yang terlihat kokoh itu terbuka ke samping, membuka sebuah celah gelap yang cukup besar untuk dimasuki satu orang anak.
Riu Han tertegun, matanya terbelalak tak percaya. Jantungnya berdegup kencang karena campuran rasa takut dan penasaran. Ia melirik ke sekeliling hutan yang mulai gelap, memastikan tidak ada orang lain yang melihat kejadian ini. Setelah merasa aman, ia memberanikan diri melangkah masuk ke dalam celah itu.
Begitu kakinya melangkah melewati pintu rahasia itu, celah di belakangnya tertutup kembali secara otomatis tanpa menimbulkan suara keras. Di dalamnya, semula terasa gelap gulita dan lembap. Namun, seiring berjalannya waktu, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan itu. Ia melihat bahwa ruangan ini tidaklah sempit. Langit-langitnya cukup tinggi, dan dinding-dindingnya terbuat dari batu halus yang mengeluarkan cahaya keperakan samar, cukup untuk menerangi seluruh isi ruangan.
Udara di dalam ruangan ini terasa sangat sejuk dan segar, bahkan terasa lebih pekat dibandingkan udara di luar hutan. Riu Han melangkah perlahan mengamati sekeliling. Tidak ada benda berbahaya yang terlihat, hanya ada sebuah alas duduk dari batu yang halus berada tepat di tengah ruangan, serta beberapa ukiran simbol yang tidak dikenalnya terpahat rapi di dinding.
“Tempat apa ini?” bisiknya lirih.
Ia merasa sangat tenang di sini. Semua beban pikiran, rasa malu, dan lelah yang selama ini membebani dadanya seolah terangkat begitu saja. Di tempat ini, tidak ada yang tahu ia cacat dalam berkultivasi; tidak ada yang akan mengejeknya karena usahanya yang tidak membuahkan hasil.
Sejak hari itu, Riu Han menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Setiap hari sepulang berlatih atau saat ia ingin menyendiri, ia akan datang ke tempat tersembunyi di dalam pohon raksasa itu. Ruangan itu menjadi tempat perlindungan sekaligus satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar damai. Ia belum tahu bahwa ruangan yang ia temukan secara tidak sengaja itu bukanlah tempat biasa—melainkan pintu gerbang menuju sebuah warisan kuno yang telah ditunggu selama ribuan tahun, dan mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mengubah nasibnya yang dianggap sudah tertutup jalan itu.
Semakin sering Riu Han datang ke tempat itu, semakin ia sadar bahwa ruangan di dalam pohon Kayu Keabadian ini bukanlah ruang kosong biasa. Awalnya ia mengira hanya ada dinding batu dan alas duduk sederhana, namun saat ia mulai menjelajahi setiap sudutnya dengan lebih teliti, ia terkejut bukan main.
Ruangan itu ternyata tersusun sangat rapi dan terasa hidup. Di satu sisi, terdapat sebuah alas tidur yang dibentuk dari batu halus, namun dilapisi dengan serat tumbuhan yang lembut dan harum, terasa selembut kain sutra saat disentuh. Di sisi lain, ada semacam meja kecil dan bangku yang juga terukir dengan sangat halus, seolah dibuat oleh tangan ahli yang sangat terampil. Bahkan udara di dalamnya selalu terasa sejuk, tidak lembap sama sekali meski berada di dalam batang pohon raksasa selama ratusan tahun.
“Tempat ini benar-benar indah… seperti rumah kecil yang tersembunyi dari dunia luar,” gumam Riu Han sambil duduk bersandar di tepi alas tidur itu.
Hatinya terasa sangat senang. Selama ini, ia selalu merasa terasing di klannya sendiri—di mana-mana ia hanya mendengar bisikan, tatapan kasihan, atau kata-kata yang meremehkan usahanya. Namun di sini, semuanya terasa berbeda. Tidak ada yang tahu ia memiliki saluran energi tersumbat, tidak ada yang akan mengejeknya meski ia berlatih berjam-jam tanpa hasil. Ruangan ini menjadi pelarian sempurna, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut atau malu.
Setiap hari, setelah menghabiskan waktu berlatih di luar hutan hingga tubuhnya terasa lemas dan keringat membasahi seluruh pakaiannya, Riu Han akan segera menuju tempat rahasia itu. Di sana ia bisa beristirahat dengan tenang, memulihkan tenaga, dan melupakan sejenak segala kekecewaan yang menimpanya.
Pada suatu sore yang cerah, setelah seharian mengulangi gerakan dasar kultivasi yang sama tanpa perubahan sedikit pun, Riu Han kembali masuk ke dalam ruangan itu. Ia merasa sangat lelah hingga tulang-tulang kecilnya terasa ngilu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas alas tidur yang empuk itu, berniat beristirahat sejenak sebelum pulang ke kediamannya.
Saat ia menggeser posisi tubuhnya agar lebih nyaman, matanya secara tidak sengaja melirik ke celah sempit di bawah alas tidur tersebut. Di antara bayangan remang cahaya dinding batu, terlihat sesuatu yang menonjol sedikit dan berwarna sangat gelap, kontras dengan nuansa keperakan di seluruh ruangan itu.
Riu Han mengerutkan kening, rasa penasarannya langsung muncul. Ia menggeser tubuhnya ke sisi tempat tidur, lalu menjulurkan kepala dan matanya untuk melihat lebih jelas. Di sana, tersembunyi rapat di bagian paling bawah, teronggok sebuah benda berbentuk persegi panjang yang tampak seperti peti atau kotak. Warnanya hitam pekat, seolah menyerap semua cahaya yang menyentuhnya, sehingga sulit melihat detail ukuran atau bentuknya secara pasti dari kejauhan.
Dengan hati-hati, Riu Han turun dari tempat tidur dan mendekat perlahan. Ia berjongkok di depan benda itu, lalu mengusap debu halus yang menempel sedikit di bagian atasnya. Benar saja, itu adalah sebuah kotak besar yang terbuat dari bahan yang tidak dikenalnya—permukaannya terasa dingin, halus, dan sangat kokoh, tidak ada satu pun goresan atau tanda kerusakan meski sudah tergeletak di sana entah sejak kapan.
Ia menatap kotak hitam itu dengan pandangan penuh tanya. Dari mana asalnya? Mengapa bisa tersembunyi di tempat ini? Siapa yang meletakkannya di sana?
Namun, meski rasa ingin tahunya meluap-luap, Riu Han mengurungkan niatnya untuk membukanya saat itu juga. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya enggan terburu-buru, seolah kotak itu memiliki kesakralan tersendiri yang perlu dihormati. Ia hanya duduk diam di depannya, menatap permukaan hitam yang tenang itu, tanpa berani menyentuhnya lebih jauh atau mencoba membuka tutupnya.
Hingga matahari mulai condong ke ufuk barat dan cahaya di dalam ruangan itu perlahan meredup, Riu Han masih memandangi kotak misterius itu. Ia tahu, keberadaan benda ini pasti bukan kebetulan. Namun untuk saat ini, ia memutuskan untuk menyimpan penemuan baru ini bersama rahasia ruangan itu sendiri, tanpa memberitahu siapa pun, dan tanpa tergesa-gesa mencari tahu apa yang tersimpan di dalamnya.
Pagi hari itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela kayu, menerangi ruangan sederhana kediaman keluarga Riu. Begitu Riu Han bangun dari tidurnya dan mencuci muka, suara panggilan lembut terdengar dari arah ruang makan.
“Riu Han, kemarilah. Mari kita sarapan bersama,” panggil ayahnya, Riu Zheng.
Biasanya, ayah dan anak ini jarang memiliki waktu makan yang tenang berdua karena kesibukan ayah dalam urusan klan. Namun pagi itu terasa berbeda. Saat Riu Han duduk di hadapannya, ia melihat ayahnya menatapnya dalam-dalam, dengan sorot mata yang terlihat berat, penuh rasa sayang sekaligus sedikit rasa bersalah yang mendalam.
Setelah menghela napas panjang, Riu Zheng akhirnya membuka suara dengan nada yang pelan dan serius.
“Nak, maafkan ayah. Ayah merasa sangat bersalah, karena ayah tidak bisa menjagamu saat itu. Akibatnya, kamu harus menanggung nasib ini—tidak bisa berkultivasi seperti anak-anak lain seusiamu.”
Perkataan itu membuat Riu Han tertegun. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah ayahnya yang tampak lebih lelah dari biasanya, lalu bertanya dengan nada bingung namun tenang:
“Kenapa ayah berbicara seperti itu? Selama ini aku pikir memang takdirku begini…”
Riu Zheng menghela napas lagi, kali ini terasa lebih berat seolah ingin mengeluarkan beban yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Ia memandang kosong ke meja makan, seolah melihat kembali kejadian kelam yang telah lama ia kubur dalam ingatan.
“Sebenarnya, ada sebuah kejadian yang tidak terduga saat itu,” mulainya perlahan, suaranya terdengar bergetar menahan emosi. “Waktu itu ayah sedang ditugaskan pergi ke daerah perbatasan untuk urusan klan, sehingga harus meninggalkan rumah dalam waktu cukup lama. Di rumah hanya ada dirimu dan ibumu.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah kata-kata selanjutnya sangat sulit untuk diucapkan.
“Suatu hari, datang sekelompok orang asing yang kekuatannya jauh di atas rata-rata. Mereka menargetkan ayah, bukan karena dendam pribadi, melainkan karena sesuatu yang pernah dipegang oleh leluhur kita. Saat mengetahui ayah tidak ada, mereka tetap menyerang rumah dengan kejam. Demi menyelamatkan nyawamu, ibumu tidak ragu melawan mereka sendirian, meski ia tahu kekuatannya tidak sebanding dengan mereka.”
Riu Han mendengarkan dengan napas tertahan, matanya perlahan berkaca-kaca. Ia belum pernah mendengar kisah ini sebelumnya. Selama ini ia hanya tahu ibunya meninggal dunia saat ia masih bayi, tanpa mengetahui sebab sebenarnya.
“Ibumu berhasil membawa dirimu lari menjauh ke dalam hutan, namun ia sudah terluka parah di bagian perut akibat serangan pedang. Meski darah terus mengalir, ia tetap memelukmu erat dan terus berjalan menjauh dari bahaya,” lanjut ayahnya, air mata mulai menetes di sudut matanya. “Namun takdir berkata lain. Saat mereka hampir berhasil lolos, salah satu penyerang itu melemparkan racun berupa kabut tipis yang sangat berbahaya. Racun itu meleset dari sasaran utamanya, namun tersebar ke sekeliling tempat ibumu berdiri.”
Suara Riu Zheng semakin lirih, seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Kabut racun itu langsung menyerang tubuh ibumu, merusak organ dalamnya dalam sekejap. Ia tidak sempat menghindar. Namun yang lebih menyakitkan, uap racun itu juga terhirup oleh dirimu yang masih sangat kecil dan lemah. Racun itu tidak membunuhmu secara langsung, tetapi merusak seluruh aliran energi serta merusak saluran energi dalam tubuhmu secara permanen. Itulah sebabnya para tetua klan mendapati jalan kultivasimu tertutup rapat—bukan karena kamu lahir demikian, melainkan akibat racun itu yang bersemayam di dalam tubuhmu sejak bayi.”
Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Hanya terdengar suara detak jantung yang terasa semakin kencang. Riu Han duduk membeku, hatinya terasa seperti dicengkeram erat. Selama ini ia menyalahkan dirinya sendiri, merasa dirinya tidak berguna, namun baru sekarang ia tahu kebenaran pahit ini. Ia kehilangan ibunya, dan jalan hidupnya berubah total, semata-mata karena bahaya yang mengikuti jejak ayahnya.
Riu Zheng menjulurkan tangannya, mengusap kepala anaknya dengan lembut.
“Ayah telah mencoba segala cara—bertanya ke tabib terbaik, mencari ramuan kuno, hingga meminta bantuan tetua klan dari tempat jauh. Namun racun itu sangat aneh dan halus, tidak meninggalkan jejak yang terlihat jelas, sehingga sulit untuk dihilangkan. Ayah merasa gagal melindungi keluargaku, dan membiarkanmu menderita sendirian selama ini.”
Riu Han menunduk dalam, air matanya akhirnya jatuh membasahi pelupuk matanya. Namun tidak lama kemudian, ia mengangkat wajahnya kembali, menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap ayahnya dengan pandangan yang lebih tegar dari sebelumnya.
“Jangan bicara begitu, Ayah… Bukan salah Ayah. Dan juga bukan salah Ibu. Ibu telah mengorbankan nyawanya demi aku, itu berarti ia ingin aku tetap hidup, bukan menyerah begitu saja,” ucapnya dengan suara yang masih sedikit bergetar namun penuh keteguhan hati.
Di saat itu juga, dalam benak Riu Han terlintas ingatan tentang ruangan rahasia di dalam pohon Kayu Keabadian, serta kotak hitam misterius yang tersembunyi di bawah alas tidur. Entah kenapa, hatinya berbisik pelan—mungkin semua ini bukanlah akhir dari segalanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!