Vivi Anindita, 30 tahun, telah menghabiskan delapan tahun terakhir hidupnya sebagai guru di yayasan pendidikan Pincuran Ilmu. Bagi rekan-rekannya, Vivi dikenal sebagai sosok sabar, pekerja keras, dan hampir tidak pernah mengeluh. Namun di balik senyumnya, ia menyimpan kesepian yang tidak pernah benar-benar hilang.
Hidupnya berjalan sederhana dan nyaris tanpa perubahan. Setiap pagi berangkat mengajar, sore menyiapkan materi pelajaran, lalu pulang ke rumah orang tuanya. Sementara satu per satu teman seusianya menikah dan membangun keluarga, Vivi memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Bukan karena ia tidak ingin menikah.
Bertahun-tahun lalu, saat masih berusia awal dua puluhan, Vivi menerima vonis yang menghancurkan harapannya. Dokter Sinta, dokter senior yang juga teman ibunya menyatakan bahwa ia mengalami gangguan yang membuatnya hampir mustahil memiliki keturunan. Sejak hari itu, dunia Vivi seakan berhenti bergerak.
Beberapa pria pernah mendekatinya. Ada yang tulus, ada yang datang melalui perjodohan keluarga. Namun satu per satu memilih mundur setelah mengetahui kondisinya. Ada yang menolak secara halus, ada pula yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka menginginkan seorang istri yang dapat melahirkan anak.
Penolakan demi penolakan membuat Vivi kehilangan kepercayaan diri. Ia mulai meyakini bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dicintai sebagai seorang perempuan. Karena itulah ia berhenti berharap.
***
Pagi itu, Vivi dipanggil ke ruang pribadi Bu Mega. Bukan ruang rapat, bukan ruang administrasi. Ruangan itu lebih terasa seperti tempat keputusan besar dibuat, tempat yang tenang, rapi, dan dingin.
Vivi berdiri di depan meja kerja yang besar, sementara Bu Mega tidak langsung membuka pembicaraan. Ia justru menatap laporan di tangannya seolah sedang memastikan sesuatu yang sudah ia putuskan sejak lama. “Duduklah, Vivi,” ucapnya akhirnya.
Vivi menurut, meski firasat tidak enak mulai muncul sejak langkah pertamanya masuk ke ruangan itu.
Ada jeda panjang sebelum Bu Mega berbicara lagi. “Kamu sudah delapan tahun bekerja di yayasan ini.”
“Ya, Bu.” jawab Vivi dengan sopan.
“Dan selama itu, kamu tidak pernah membuat masalah.”
Vivi mengangguk kecil. Selama delapan tahun mengajar, setiap tahunnya ia selalu terpilih menjadi guru terbaik. Itu sudah menjadi bukti bagaimana ia disukai oleh murid-murid, rekan guru hingga wali murid.
Bu Mega meletakkan kertasnya perlahan. “Karena itu, saya percaya kamu orang yang bisa menjaga tanggung jawab.” Lalu kalimat itu datang, tanpa pembukaan yang lebih lembut. “Kamu tahu Baskara?" jeda sejenak . "Putra saya satu-satunya. Sejak dua tahun lalu ia menjadi duda, istrinya meninggal saat melahirkan cucu saya yang kelima." Ruangan terasa lebih sempit dalam satu detik. “Lima anaknya membutuhkan figur ibu,” lanjut Bu Mega, memotong pelan, tapi tegas. “Rumah itu sudah terlalu lama kosong dari sosok perempuan yang bisa menenangkan mereka.”
Vivi menunduk sedikit, mencoba mencari logika di balik percakapan ini, akan kemana arahnya? Sebab sebelumnya ia dan Bu Mega tidak dekat, hubungan mereka hanya sebatas atasan dan karyawan.
Tiba-tiba, seolah mengerti tanda tanya di kepala Vivi, Bu Mega menyatakan harapannya agar Vivi mau menjadi calon istri Baskara.
“Kenapa saya?” suaranya akhirnya keluar, lebih kecil dari yang ia inginkan. Ini kantor, tempatnya bekerja. Tetapi sekarang ia malah dijodohkan.
Bu Mega menatapnya lama. Bukan dengan ragu. Tapi dengan keyakinan yang membuat Vivi justru merasa tidak punya ruang untuk menolak. “Karena kamu stabil. Dan kamu tidak asing bagi saya.”
Kalimat terakhir itu membuat Vivi bingung. Seolah semua alasan yang disebutkan bukanlah alasan, melainkan penempatan. Seperti ia sudah dipilih jauh sebelum percakapan ini dimulai. Vivi menarik napas pelan. “Ini… lamaran?” tanyanya hati-hati, hampir tidak percaya dirinya mengucapkan kata itu.
Bu Mega mengangguk. “Kurang lebih begitu. Maafkan saya kalau lamaran ini terkesan resmi, di tempat kerja, tanpa kehadiran keluarga, tetapi saya terpaksa melakukan ini demi cucu-cucu saya,” jawabnya. Lalu Bu Mega melanjutkan, kali ini lebih pelan, tapi justru lebih tajam. “Kalau kamu menolak, mungkin kami tidak bisa menempatkan kamu di yayasan lagi.” Kalimat itu tidak perlu dilanjutkan. Tidak ada ancaman yang diucapkan keras-keras.
Namun Vivi mengerti dengan sangat jelas. Delapan tahun kerja, satu-satunya tempat ia berdiri, semua bisa runtuh hanya dengan satu jawaban. Vivi menatap tangannya sendiri di atas lutut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak sedang memilih karier. Ia sedang memilih hidupnya.
***
Malam itu, rumah sederhana itu terasa seperti biasa. Tidak besar, tidak mewah, tapi cukup lapang untuk tiga orang yang tinggal di dalamnya, yaitu Vivi dan kedua orang tuanya. Kedua kakaknya sudah berumah tangga dan menetap di kota lain, menyisakan rumah itu dengan ritme yang pelan dan teratur.
Seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah, mereka makan malam bersama di meja yang sama, tiga piring, tiga gelas, dan obrolan ringan tentang hari yang baru saja lewat. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda di dada Vivi. Ia makan lebih lambat dari biasanya.
Ibunya yang pertama kali menyadari. “Kamu capek?” tanya ibunya sambil menyendok sayur.
Vivi mengangguk kecil. “Sedikit.”
Ayahnya tidak banyak bicara. Hanya makan seperti biasa, tenang, seolah dunia di luar meja makan tidak sedang membawa sesuatu yang baru.
Setelah makan selesai, seperti tradisi kecil yang tidak pernah dilewatkan, ibunya mulai membereskan piring, sementara ayahnya duduk bersandar di kursi kayu tua mereka. Dan di saat itulah, Vivi akhirnya membuka suara. “Bu, Pak… aku mau cerita sesuatu.”
Gerakan ibunya berhenti sejenak. Ayahnya menoleh pelan.
Vivi menarik napas. “Di yayasan, tadi aku ditawari untuk menikah.”
Seketika, tangan ibunya yang memegang piring terhenti di udara. “Apa?” suara ibunya naik sedikit, bukan marah, tapi kaget yang tidak disembunyikan.
Vivi melanjutkan cepat, seolah takut kehilangan keberanian. “Namanya Baskara. Anak pemilik yayasan. Duda,” tambah Vivi, “punya lima anak.”
Ibunya langsung menoleh penuh. “Lima?” ulangnya, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
Vivi mengangguk. Untuk sesaat, hanya suara jam dinding yang terdengar di ruangan itu.
Lalu ibunya duduk kembali, tapi kali ini bukan dengan ragu. Justru ada sesuatu yang menyala di matanya. “Ya sudah,” katanya cepat. “Terima.”
Vivi berkedip. “Bu?”
“Ini kesempatan bagus,” lanjut ibunya, suaranya mulai naik semangat. “Kamu itu sudah tiga puluh, Vivi. Kamu pikir mau tunggu sampai kapan? Ini pria mapan, anak orang baik-baik, kerjaan kamu juga aman.” Vivi membuka mulut, tapi belum sempat bicara, ibunya sudah melanjutkan lagi. “Lima anak juga bukan masalah. Kamu kan memang,” ibunya ragu sejenak, lalu menurunkan suara, “kamu tidak bisa punya anak. Jadi kamu tidak perlu khawatir soal itu. Malah ini seperti jalan keluar." Ibunya tidak bermaksud menyakiti. Justru sebaliknya, ibunya terlalu ingin memastikan hidup Vivi seperti kebanyakan orang-orang yang lain. Setelah dewasa menikah.
“Bu,” suara Vivi pelan, “aku belum tahu orangnya seperti apa. Anak-anaknya juga, katanya mereka sulit menerima orang baru.”
Ibunya mengibaskan tangan kecil, seolah itu bukan masalah besar. “Namanya juga anak-anak. Kalau kamu sabar, pasti bisa.”
Vivi menoleh ke ayahnya, mencari sesuatu, dukungan, pertimbangan, atau setidaknya jeda dari tekanan yang mulai terasa mengisi ruangan.
Ayahnya masih diam. Tangannya perlahan menyentuh gelas teh yang sudah dingin. Tatapannya tidak pada Vivi, tapi ke arah meja, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar lamaran.
“Pak…” Vivi memanggil pelan.
Ayahnya menghela napas panjang. “Kamu mau kerja di sana terus?” tanyanya akhirnya, datar.
Vivi terdiam. Pertanyaan itu bukan benar-benar pertanyaan. Lebih seperti pengingat.
Ibunya langsung menyela lagi, lebih lembut kali ini tapi tetap tegas. “Kita tidak akan selalu ada, Vi.” Ibunya melanjutkan, “Kakak-kakakmu sudah punya keluarga. Kamu tinggal di sini dengan kami terus. Kalau kami sudah tidak ada nanti, kamu mau bagaimana?”
Ayahnya akhirnya berbicara lagi, lebih pelan dari sebelumnya. “Kalau kamu tanya, bapak tidak akan menyuruh kamu atau melarang kamu.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kamu juga tidak boleh hidup hanya karena takut kehilangan pekerjaan.”
Vivi menunduk. Di antara ibunya yang terlalu yakin, dan ayahnya yang terlalu diam, Vivi merasa satu hal yang sama-sama mereka tidak lihat bahwa keputusan ini bukan sekadar tentang menikah atau tidak. Tapi tentang memasuki hidup orang lain yang bahkan belum ia kenal dengan harga dirinya, masa depannya, dan ketakutannya sendiri masih berdiri di garis yang sama. Dan malam itu, Vivi belum menjawab apa pun. Tapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar apa pun yang ia pilih, tidak akan ada yang benar-benar ringan.
***
Vivi akhirnya bertemu Baskara pada hari yang ditentukan oleh Bu Mega. Ia datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan, antara gugup, canggung, dan sedikit pasrah. Dalam bayangannya, seorang duda dengan lima anak tentu sudah cukup tua, mungkin lelah, mungkin sudah kehilangan banyak hal dari hidupnya. Namun bayangan itu runtuh bahkan sebelum ia sempat menyusunnya dengan benar. Pria yang berdiri di hadapannya tidak terlihat seperti sosok yang ia bayangkan.
Baskara Mahendra. Usianya tidak jauh berbeda darinya, mungkin sekitar tiga tahun diatas Vivi. Wajahnya tegas, tapi masih menyimpan ketampanan yang tidak bisa disembunyikan. Posturnya rapi, berwibawa, namun ada sesuatu yang membuatnya tampak jauh, seperti seseorang yang secara fisik hadir, tapi pikirannya entah berada di tempat lain. Vivi sempat ragu melangkah.
“Vivi Anindita?” suara Baskara terdengar datar, hampir formal.
Vivi mengangguk cepat. “Iya.”
Tidak ada senyum penyambut. Tidak ada basa-basi hangat. Hanya tatapan singkat yang terasa seperti penilaian, bukan perkenalan. Baskara menunjuk kursi di seberang meja kecil itu. “Silakan duduk.”
Vivi duduk dengan hati-hati, merapikan tangannya di atas lutut. Ruangan itu sunyi, terlalu rapi untuk disebut rumah, terlalu dingin untuk disebut hangat. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Akhirnya Vivi memberanikan diri membuka percakapan, meski suaranya pelan. “Aku… Vivi. Guru di yayasan.”
Baskara mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Vivi menatap pria di depannya secara diam-diam. Dari dekat, ia semakin menyadari sesuatu yang tidak sesuai dengan bayangannya. Baskara bukan pria tua yang lelah karena usia, tetapi pria muda yang lelah karena sesuatu yang lebih dalam. Bukan tubuhnya yang berat. Tapi matanya. Seolah ia membawa sesuatu yang belum selesai. “Aku minta maaf kalau situasi ini terasa,” Vivi berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.
Baskara menggeleng pelan. “Bukan tidak biasa,” jawabnya singkat. “Hanya tidak perlu dibicarakan terlalu lama.”
Kalimat itu membuat Vivi terdiam. Bukan karena kasar. Tapi karena dingin. Seolah percakapan ini bukan sesuatu yang penting baginya. Vivi menarik napas pelan, mencoba tetap tenang. “Bu Mega bilang… kamu membutuhkan seseorang untuk anak-anakmu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Baskara sedikit berubah. Bukan menjadi lebih hangat. Tapi lebih berat. “Anak-anak tidak butuh orang baru,” jawabnya datar.
Vivi berkedip. “Lalu?”
Baskara menatapnya lama. Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di matanya, bukan marah, bukan juga benci, tapi sesuatu yang tertahan terlalu lama. “Yang mereka butuhkan sudah tidak ada,” katanya pelan.
Vivi menangkap kata-kata itu dengan hati-hati. “istri kamu?” tanyanya akhirnya, hampir berbisik.
Baskara tidak langsung menjawab. Namun ketika ia mengangguk kecil, gerakan itu terasa seperti membuka pintu ke ruangan yang tidak ingin ia masuki kembali.
“Sudah lama?” tanya Vivi lagi, lebih hati-hati. Meski ia sudah diceritakan garis besarnya, tetapi Vivi merasa perlu untuk membahasnya lagi dengan orangnya langsung.
“Tidak cukup lama untuk dilupakan,” jawab Baskara singkat. Kalimat itu menggantung di udara.
Vivi menunduk sedikit, merasa percakapan ini bukan lagi tentang dirinya atau pernikahan yang ditawarkan, tapi tentang seseorang yang masih hidup di dalam ingatan pria di depannya.
Baskara bersandar ke kursinya, menatap jauh ke arah jendela. “Aku tidak tahu kenapa ibu saya memilih kamu,” ucapnya akhirnya. “Tapi kalau kamu berharap ini akan menjadi keluarga yang hangat… kamu salah tempat.”
Vivi mengangkat kepala. Ada dorongan kecil dalam dirinya untuk bertanya lebih jauh, tapi ia menahan diri. Karena untuk pertama kalinya sejak tawaran itu datang, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih jelas, Masalahnya bukan hanya lima anak yang menolak ibu baru. Masalahnya adalah seorang ayah yang belum pernah benar-benar melepaskan istrinya yang sudah tiada. Dan Vivi, tanpa ia sadari, baru saja melangkah ke dalam rumah yang masih penuh dengan seseorang yang tidak terlihat tapi belum pergi.
Vivi menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara lagi. Kalimat sebelumnya masih menggantung di antara mereka, tentang istri Baskara yang belum bisa dilepaskan, tentang rumah yang dingin, tentang dua orang asing yang dipaksa duduk di meja yang sama. Namun Vivi tahu, kalau ia tidak jujur sekarang, semuanya akan semakin kabur. “Aku… sebelum kita lanjut ke arah yang lebih serius, aku harus jujur tentang kondisiku.”
Baskara menoleh sedikit. Tidak menyela.
Vivi merapatkan jemarinya di atas lutut, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Menjelang usia dua puluh, aku pernah didiagnosis oleh dokter bahwa aku tidak akan bisa punya anak.” Vivi melanjutkan, lebih pelan. “Aku tidak terlalu paham istilah medisnya. Waktu itu aku hanya diberi tahu kalau ada masalah yang membuat kemungkinan aku hamil hampir tidak ada.” Ia menatap Baskara sekilas, lalu cepat kembali menunduk. “Tapi semua suratnya ada. Semua hasil pemeriksaan juga masih aku simpan. Kalau kamu mau lihat, aku bisa tunjukkan.” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia memaksa tetap lanjut. “Jadi… dengan kondisi seperti itu, aku ingin tanya langsung.” Vivi menarik napas. “Apa kamu tidak keberatan?”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Baskara benar-benar diam lama. Matanya tidak langsung menjawab. Tidak ada reaksi spontan seperti terkejut atau lega. Hanya tatapan yang lebih dalam, seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak sederhana. Bukan tubuh Vivi yang ia lihat saat ini. Tapi keputusan yang ada di balik kata-kata itu. Baskara akhirnya bersandar sedikit, suaranya tetap datar ketika ia menjawab. “Kenapa kamu menganggap itu perlu diberitahukan sekarang?”
Vivi mengangkat kepala, sedikit terkejut. “Aku pikir… itu penting.”
Baskara menggeleng pelan, hampir tak terlihat. “Yang penting bukan apakah kamu bisa atau tidak punya anak.”
Kalimat itu membuat Vivi diam sejenak.
Baskara melanjutkan, lebih pelan dari sebelumnya, tapi tetap dingin. “Yang penting adalah kamu masuk ke rumah itu dengan sadar apa yang akan kamu hadapi.” Ia berhenti sebentar. “Anak-anak saya tidak butuh alasan baru untuk menolak seseorang.”
Vivi terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang mengendur sedikit, bukan lega, tapi juga bukan tenang sepenuhnya.
Baskara menatapnya lagi. “Dan aku,” ia berhenti sejenak, seperti enggan melanjutkan kalimat itu. “tidak sedang mencari istri untuk urusan seperti itu.”
Untuk pertama kalinya, Vivi menyadari sesuatu yang lebih rumit dari sekadar takut atau diterima, Pria di depannya tidak sedang menilai apakah ia “layak punya anak atau tidak”. Baskara bahkan seperti tidak lagi percaya bahwa pernikahan ini akan pernah menjadi sesuatu yang normal.
***
Setelah Baskara pergi, ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Bukan karena pendingin udara atau dinding yang tertutup rapat, tetapi karena sesuatu yang tertinggal di dalam kepala Vivi, percakapan yang belum selesai, tatapan yang sulit dibaca, dan kalimat-kalimat yang tidak memberikan pegangan apa pun.
Vivi masih duduk di kursinya. Beberapa menit berlalu tanpa ia benar-benar bergerak. Tangannya tetap di pangkuan, tapi pikirannya sudah jauh melayang, memutar ulang setiap detik pertemuan itu. Baskara tidak menolak. Juga tidak menerima. Ia hanya tidak menjadikan Vivi sebagai pusat dari keputusan itu. Seolah pernikahan ini bukan tentang dua orang yang saling memilih, tapi tentang dua orang yang sama-sama terseret oleh keadaan masing-masing.
Vivi menunduk pelan. “Aku ini sebenarnya sedang masuk ke apa?” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar oleh dirinya sendiri.
Bayangan wajah Baskara kembali muncul, dingin, jauh, masih tertahan di masa lalu yang tidak bisa disentuh siapa pun. Lalu bayangan lima anak itu, yang bahkan belum pernah ia lihat sepenuhnya, tapi sudah lebih dulu menolak kehadirannya. Dan dirinya sendiri. Seorang perempuan yang selama ini hidup dengan keyakinan bahwa ia tidak utuh.
Vivi menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak tawaran itu datang, pertanyaan itu tidak lagi terdengar seperti keputusan orang lain. Tapi benar-benar menjadi miliknya. “Pernikahan seperti apa yang akan kujalani ini?”
Ia menatap meja kosong di depannya, lalu melanjutkan dalam hati, lebih jujur dari sebelumnya. “Apakah ini akan jadi pilihan yang tepat?” Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang tidak memberi kepastian apa pun, seolah hidupnya sendiri sedang menunggu apakah ia berani melangkah, atau berhenti di titik ini dan kembali ke kehidupan yang selama ini sudah ia kenal, meski tidak pernah benar-benar membuatnya utuh.
***
Malam itu, Vivi sedang duduk di kamarnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bu Mega. Awalnya Vivi mengira itu hanya urusan yayasan. Mungkin tentang jadwal mengajar atau laporan administrasi yang tertunda. Namun begitu membaca isinya, dada Vivi langsung terasa sesak.
[Vivi, Ibu harap kamu sudah bisa memberikan jawaban besok. Kamu dan Baskara sudah bertemu. Kalau memang berjodoh, tidak perlu terlalu lama menunggu. Banyak hal yang harus kami persiapkan.]
Singkat. Sopan. Tetapi justru itulah yang membuat Vivi semakin tertekan. Karena di balik kalimat yang terdengar baik-baik saja itu, ia bisa merasakan desakan yang sangat jelas. Mereka menunggu jawabannya. Dan mereka ingin jawaban itu segera.
Vivi menatap layar ponselnya cukup lama. Belum sempat pikirannya tenang setelah bertemu Baskara, kini ia kembali dihadapkan pada keputusan yang harus dibuat secepat mungkin. Ia meletakkan ponsel di atas kasur lalu memijat pelipisnya. "Kenapa semuanya harus secepat ini?" gumamnya.
Beberapa hari lalu ia bahkan tidak pernah membayangkan akan menikah. Ya, Vivi sempat membuat keputusan mungkin ia tak akan menikah saja setelah berkali-kali gagal menjalin hubungan. Sekarang ia diminta menentukan masa depannya hanya dalam hitungan hari. Bahkan mungkin jam.
Vivi memejamkan mata. Pertemuannya dengan Baskara terlintas lagi. Pria itu tampan. Masih muda. Terlihat bertanggung jawab. Tetapi juga dingin. Dan jelas belum benar-benar melepaskan istrinya yang telah meninggal. Lalu ada lima anak yang belum pernah ia temui. Lima anak yang konon berhasil membuat tiga puluh dua calon ibu tiri menyerah.
Tiga puluh dua. Angka itu saja sudah cukup membuat siapa pun berpikir ulang.
Vivi bangkit lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Di luar, malam terasa tenang. Sangat berbeda dengan isi kepalanya. "Pernikahan kok rasanya seperti wawancara kerja." bisiknya pelan.
Ia tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak lucu. Karena memang seperti itulah rasanya. Semua berlangsung begitu cepat. Pertemuan. Pertimbangan. Keputusan. Seolah hidupnya sedang didorong oleh arus yang terlalu deras. Padahal ia tahu satu hal. Pernikahan bukanlah keputusan kecil. Pernikahan bukan kontrak setahun atau dua tahun. Bukan pula sesuatu yang bisa dibatalkan begitu saja ketika keadaan menjadi sulit. Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup seseorang. Ibadah yang dijalani setiap hari. Setiap bangun tidur. Setiap makan bersama. Setiap kali menghadapi masalah. Setiap kali memilih bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Dan sekarang Ia diminta memutuskan semuanya hanya berdasarkan satu pertemuan. Satu pertemuan dengan seorang pria yang nyaris tidak ia kenal.
Vivi menatap langit malam di luar jendela. Lalu tanpa sadar berbisik, "Ya Allah... kalau memang ini jalan yang baik, mudahkan lah."
Suaranya begitu pelan. Hampir seperti doa yang malu-malu untuk keluar. Karena jauh di dalam hatinya, Vivi masih menyimpan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang terus datang setiap kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimana jika aku salah memilih? Dan yang lebih menakutkan lagi Bagaimana jika aku tidak benar-benar diberi kesempatan untuk memilih?
***
Pagi itu, Vivi bahkan belum sempat menikmati sarapannya dengan tenang. Semalaman ia sulit tidur. Pesan dari Bu Mega terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan wajah Baskara, lima anak yang belum pernah ia temui, dan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia baru saja menuang teh ke dalam cangkir ketika ibunya duduk di hadapannya. Tatapan wanita itu berbeda. Seolah sudah menunggu momen yang tepat untuk membahas sesuatu. "Jadi?" tanya ibunya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!