NovelToon NovelToon

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Wanita Anggun Sejati

Aroma kopi hitam tanpa gula beradu dengan wangi sisa hujan semalam yang masih menempel pada aspal jalanan di pinggiran Jakarta.

Di sebuah sudut ruangan berukuran empat kali lima meter yang dipenuhi dengan tumpukan map jepit transparan, Safira Angela duduk dengan punggung tegak.

Jemari tangannya yang lentik bergerak dengan ritme yang teratur di atas papan tik komputer jinjing yang sudah mulai usang di beberapa sudutnya.

Safira tidak pernah mengeluh, bahkan ketika pendingin ruangan di kubikelnya mulai mengeluarkan suara bising yang mengganggu konsentrasi karyawan lain.

Baginya, riuh rendah suasana kantor kecil milik PT Sinar Abadi Mandiri adalah sebuah perusahaan distributor alat tulis dan perlengkapan kantor berskala menengah adalah sebuah berkah yang menyelamatkannya dari kegelapan tiga tahun lalu.

"Safira, tolong cek laporan mutasi barang dari gudang cabang Bekasi. Pihak administrasi di sana bilang ada selisih sekitar dua puluh kardus kertas rangkap," suara lantang Bu Lastri, kepala bagian keuangan yang terkenal galak namun berhati emas, memecah keheningan kubikel.

Safira mendongak. Sebuah senyuman manis, tulus, dan menenangkan terbit di wajahnya yang bersih tanpa riasan tebal.

Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecokelatan diikat rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah ovalnya dengan sempurna.

"Baik, Bu Lastri. Kebetulan saya baru saja menyelesaikan rekonsiliasi data untuk bulan ini. Saya periksa sekarang juga ya, Bu," jawab Safira dengan nada suara yang lembut, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan ketergesa-gesaan.

Sifat Safira yang tenang dan tidak banyak tingkah atau yang sering disebut rekan-rekan kerjanya sebagai wanita anggun sejati membuatnya menjadi kesayangan di kantor tersebut.

Di saat karyawati lain sibuk bergosip tentang drama selebriti atau mengeluhkan jam kerja saat jam istirahat, Safira lebih memilih untuk duduk di pantry, menikmati bekal makan siang yang ia masak sendiri, atau membaca buku-buku tentang manajemen bisnis untuk mengasah otaknya.

Dia pintar, sangat pintar, namun kelebihannya itu tidak pernah ia pamerkan untuk menjatuhkan orang lain.

"Kamu itu ya, Fir. Kalau semua staf di sini seperti kamu, tensi darah saya tidak akan pernah naik setiap akhir bulan," puji Bu Lastri sembari meletakkan sebuah map merah di meja Safira.

"Terima kasih ya. Tolong ditaruh di meja saya kalau sudah selesai." lanjut Bu Lastri.

"Sama-sama, Bu." balas Safira singkat.

Safira kembali fokus pada layar monitornya. Matanya yang jernih dengan cepat memindai deretan angka-angka rumit di lembar kerja digital.

Otaknya bekerja dengan efisien mulai dari memilah, membandingkan, dan menemukan titik masalah hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Ada kesalahan input kode barang oleh staf magang di gudang Bekasi.

Dengan teliti, Safira membuat catatan kaki dan membetulkan formatnya agar Bu Lastri bisa membacanya dengan mudah.

Tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengubah seorang wanita yang dulunya hidup dalam gelimang kemewahan dan perlindungan penuh, menjadi seorang wanita mandiri yang harus menghitung setiap rupiah yang ia keluarkan untuk biaya hidup sehari-hari.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang, suasana kantor mendadak riuh. Jam istirahat adalah waktu di mana semua ketegangan mencair.

"Fir, makan siang di luar yuk? Itu ada warung soto mie baru di dekat pertigaan depan. Katanya enak dan murah," ajak rani, rekan sebangkunya yang bertubuh agak gempal dan selalu ceria.

Safira menoleh, lalu menepuk pelan tas kain kecil yang berada di bawah mejanya.

"Maaf ya, Ran. Aku bawa bekal hari ini. Sayang kalau tidak dimakan, takut basi." tolak Safira.

Rani mendesah pelan, namun tidak marah. Dia sudah hafal dengan kebiasaan Safira.

"Yah, sayang banget. Padahal aku mau cerita soal pacarku yang makin hari makin aneh itu. Ya sudah, aku duluan ya, Fir. Kamu jangan telat makan." seru Rani dengan nada kecewa namun dia segera pamit karena sudah lapar juga.

"Iya, Rani. Selamat makan siang."

Setelah area kubikel mulai sepi, Safira mengambil kotak bekalnya dan berjalan menuju pantry kecil di sudut belakang kantor. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah kulkas satu pintu, dispenser air, dan satu meja panjang dengan beberapa kursi plastik.

Safira duduk di salah satu kursi, membuka tutup kotak makanannya yang berisi nasi putih, tumis kangkung, dan sepotong tahu goreng. sederhana, namun baginya ini sudah lebih dari cukup.

Sembari mengunyah makanannya dengan perlahan dan sopan, pandangan mata Safira menerawang keluar jendela kaca pantry yang langsung menghadap ke jalan raya pinggiran kota yang padat dan berdebu. Pikirannya melayang pada keputusan besar yang ia ambil tiga tahun lalu.

Keputusan yang menghancurkan hatinya sendiri hingga berkeping-keping. Keputusan untuk berjalan pergi, meninggalkan sebuah rumah besar yang hangat, dan melepaskan statusnya sebagai seorang istri dari pria yang sangat ia cintai.

"Apakah dia baik-baik saja sekarang?"

Pertanyaan itu selalu muncul di benak Safira setiap kali dia memiliki waktu luang untuk melamun. Namun, dengan cepat Safira menggelengkan kepalanya, mengusir bayang-bayang masa lalu yang berusaha merayap masuk ke dalam benaknya.

"Tidak, Safira. Kamu tidak boleh egois. Kamu pergi demi kebaikannya. Kamu tidak boleh menariknya masuk ke dalam lumpur masalah keluargamu yang menjijikkan itu," bisik Safira pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar bergetar, namun matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.

Dia tahu persis apa yang dia korbankan. Dia melepaskan kebahagiaannya sendiri agar pria itu tidak perlu menanggung beban, ancaman, dan kerugian besar akibat kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh keluarga besar Safira di masa lalu.

Safira memilih untuk menelan semua kepahitan itu sendirian, memotong semua akses komunikasi, dan menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Bahkan surat perceraian sepihak yang ia urus secara diam-diam melalui pengacara lama keluarganya adalah bentuk keputusasaan terakhirnya untuk melindungi pria itu.

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Safira mencuci kotak bekalnya hingga bersih di wastafel.

Saat dia hendak kembali ke meja kerjanya, dia berpapasan dengan Pak Bambang, manajer operasional mereka yang usianya sudah mendekati masa pensiun.

Wajah pria tua itu terlihat sangat pucat dan cemas, kontras dengan ekspresi santainya yang biasa.

"Selamat siang, Pak Bambang. Bapak baik-baik saja? Wajah Bapak pucat sekali." tanya Safira lembut, menunjukkan rasa kepeduliannya yang tulus.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

HAIII READERS

Akhirnya author kembali lagi dengan cerita baru nihhhh,,,, jangan lupa baca ya dan jangan lupa juga buat favoritkan cerita ini, kasih ulasan dan bintang lima nya juga, VOTE, LIKE, HADIAH dan komentar semangatnya ya biar cerita ini bisa lebih baik lagi dan bisa update hingga akhir.....

Selamat membaca yaaaaaa

Dia Pasti Sudah Melupakan Aku

Pak Bambang menghentikan langkahnya, menatap Safira dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia menghela napas panjang, pundaknya tampak merosot seolah memikul beban yang sangat berat.

"Safira... bisa tolong ikut saya ke ruangan saya sebentar? Ada hal sangat penting yang harus saya bicarakan dengan kamu, dan juga dengan Bu Lastri nanti." kata Pak Bambang dengan suara yang agak bergetar.

Safira merasakan debaran aneh di dadanya, namun dia tetap mempertahankan ketenangannya.

"Baik, Pak. Saya akan rapikan berkas saya sebentar lalu segera ke ruangan Bapak."

Lima menit kemudian, Safira sudah duduk di dalam ruangan Pak Bambang yang dipenuhi aroma minyak angin. Di sebelahnya, Bu Lastri juga sudah hadir dengan raut wajah yang sama bingungnya.

"Ada apa sebenarnya, Pak Bambang? Kok tumben sekali suasananya tegang seperti ini? Apa ada masalah dengan audit eksternal?" tanya Bu Lastri langsung tanpa basa-basi.

Pak Bambang menggelengkan kepala. Dia meletakkan sebuah dokumen resmi dengan kop surat mewah berwarna hitam dan emas di atas meja kerja kayunya. Dokumen itu terlihat sangat asing dan terlalu megah untuk berada di kantor operasional kecil seperti ini.

"Ini bukan masalah audit, Lastri, Safira. Ini tentang kelangsungan hidup perusahaan kita," ujar Pak Bambang pelan.

Dia memajukan tubuhnya, menatap kedua staf kepercayaannya itu bergantian.

"Tadi pagi, pemilik saham mayoritas tunggal PT Sinar Abadi Mandiri telah menandatangani perjanjian akuisisi mutlak." ucapnya dengan begitu serius.

Bu Lastri terbelalak. "Akuisisi? Maksud Bapak, perusahaan kita dibeli oleh perusahaan lain? Tapi kenapa? Bukankah arus kas kita selama setahun ini sangat stabil?" tanya Bu Lastri tidak percaya.

"Benar, Lastri. Arus kas kita sehat untuk ukuran perusahaan menengah. Tapi skala bisnis kita terlalu kecil untuk menolak tawaran raksasa ini. Pemilik saham kita tidak punya pilihan lain ketika konglomerasi sebesar mereka mengajukan penawaran harga yang nilainya sepuluh kali lipat dari nilai pasar perusahaan kita saat ini. Mereka membeli kita secara utuh, termasuk seluruh aset, sistem distribusi, dan semua karyawan yang ada di dalam gedung ini." jelas Pak Bambang dengan nada pasrah.

Safira mendengarkan dengan saksama. Otak pintarnya langsung menganalisis situasi ini.

"Jika ini adalah akuisisi mutlak dari konglomerasi besar, Pak Bambang, biasanya akan ada restrukturisasi organisasi secara besar-besaran. Apakah posisi karyawan kecil seperti kami di bagian staf akan terancam oleh pemutusan hubungan kerja?" tanya Safira dengan nada suara yang tetap tenang namun menuntut kejelasan fakta.

Pak Bambang menatap Safira dengan tatapan kagum sekaligus prihatin. "Itulah yang membuat saya cemas, Safira. Dari dokumen awal yang saya terima, mereka tidak akan melakukan PHK massal. Sebaliknya, mereka ingin mempertahankan seluruh staf operasional karena mereka mengincar jalur distribusi kita di pinggiran kota yang sudah matang. Namun..." Pak Bambang menggantung kalimatnya, mengambil napas dalam-dalam.

"Namun apa, Pak?" desak Bu Lastri yang mulai tidak sabar.

"Namun, manajemen baru dari korporasi pusat akan langsung mengambil alih kendali mulai awal bulan depan. Dan yang paling membuat saya merinding... perusahaan yang mengakuisisi kita bukanlah perusahaan sembarangan. Mereka adalah anak perusahaan inti dari Abraham Group." jelas Pak Bambang.

Deg.

Jantung Safira serasa berhenti berdetak sesaat mendengar nama itu. Seluruh persendiannya mendadak terasa lemas, dan warna kulit wajahnya yang semula merona sehat kini perlahan memudar menjadi pucat pasi.

Abraham Group. Nama yang selama tiga tahun ini selalu ia hindari, nama yang bahkan tidak berani ia baca di surat kabar atau lihat di berita televisi.

"Abraham Group? Konglomerat multinasional yang bergerak di bidang properti, perbankan, dan logistik internasional itu, Pak?" tanya Bu Lastri dengan mata berbinar-binar antara tidak percaya dan kagum.

"Wah, kalau kita berada di bawah payung mereka, kesejahteraan staf pasti akan melonjak drastis!" serunya lagi.

"Kesejahteraan memang akan terjamin, Lastri. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana reputasi kepemimpinan mereka sekarang," sahut Pak Bambang dengan nada memperingatkan.

"Kalian pasti tahu berita internasional akhir-akhir ini. Abraham Group sekarang dipimpin sepenuhnya oleh putra mahkota tunggal mereka yang baru kembali dari luar negeri. Dia terkenal sangat dingin, kejam dalam berbisnis, dan tidak segan-segan mendepak siapa saja yang dianggapnya tidak kompeten dalam hitungan detik. Aura kepemimpinannya membuat direksi-direksi tua di sana ketakutan." jelas Pak Bambang lagi.

Bu Lastri menelan ludah, antusiasmenya sedikit menyusut. "Maksud Bapak... sang CEO utama sendiri yang akan mengawasi kita?"

"Tidak secara langsung untuk operasional harian, tentu saja. Tapi dokumen final akuisisi dan penandatanganan serah terima jabatan kabarnya harus dilakukan langsung di hadapan beliau atau jajaran direksi eksekutif utamanya minggu depan. Semua kepala divisi dan staf inti administrasi, termasuk kalian berdua di bagian keuangan dan data, diwajibkan hadir dalam rapat pleno perdana di gedung pusat mereka." ucapnya.

Safira mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menyembunyikan getaran hebat yang mulai menyerang jemarinya. Keringat dingin mulai keluar di tengkuknya. Pikirannya berputar liar, mencoba mencari alasan untuk menghindar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang paling ia takuti ini.

Gavin... nama itu bergema di dalam relung hati Safira yang paling dalam, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat yang selama ini ia tekan dengan paksa.

"Safira? Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," tegur Bu Lastri, menyadari perubahan drastis pada raut wajah rekan kerjanya itu.

Safira tersentak kecil, lalu dengan cepat menguasai dirinya kembali. Dia memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sedikit dipaksakan di mata Pak Bambang.

"Saya... saya tidak apa-apa, Bu Lastri. Hanya sedikit terkejut dengan berita mendadak ini. Kepala saya tiba-tiba agak pusing, mungkin karena pengaruh cuaca yang tidak menentu hari ini." Safira mencari alasan yang masuk akal.

"Ah, kamu pasti kelelahan karena memeriksa laporan gudang Bekasi tadi," kata Pak Bambang penuh pengertian.

"Kalau begitu, kamu boleh kembali ke mejamu dulu, Safira. Istirahatlah sejenak. Yang jelas, persiapkan semua dokumen data keuangan dan distribusi kita dengan rapi selama seminggu ini. Kita harus memberikan impresi terbaik agar posisi kita aman saat manajemen baru masuk."

"Baik, Pak Bambang. Terima kasih. Saya permisi kembali ke ruangan dulu," ucap Safira dengan nada sesopan mungkin.

Dia berdiri dari kursinya dengan perlahan, memastikan langkah kakinya tetap terlihat anggun dan stabil meskipun di dalam dirinya, badai kecemasan sedang berkecamuk dengan dahsyat. Safira berjalan kembali ke kubikelnya, mengabaikan sapaan beberapa rekan kerja yang lewat di koridor.

Sesampainya di meja kerjanya, Safira duduk dan menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia menatap layar komputer yang masih menampilkan deretan angka, namun fokusnya sudah hilang sepenuhnya. Kedua tangannya yang masih bergetar diangkat untuk menutupi wajahnya yang kini dipenuhi gumpalan kesedihan dan ketakutan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Selamat Datang Kembali

Tiga tahun dia bersembunyi di sudut kota yang sepi ini, menata hatinya yang hancur, bekerja keras dari bawah sebagai staf biasa tanpa menggunakan nama besar keluarganya yang sudah hancur. Dia mengira hidupnya akan berjalan datar, tenang, dan terlupakan.

Namun takdir seolah sedang mempermainkannya dengan kejam, menariknya kembali ke orbit pria yang pernah dan masih menjadi seluruh pusat dunianya.

"Tiga tahun sudah berlalu," gumam Safira dengan suara yang sangat lirih, hampir berupa bisikan yang tertelan oleh bisingnya mesin pendingin ruangan.

"Dia pasti sudah melupakan aku. Dia pasti sudah sangat membenciku atas apa yang aku lakukan padanya. Ya, itu lebih baik. Biarlah dia membenciku, asalkan dia tetap aman dan bersinar di tempatnya yang tinggi." liriknya lagi.

Safira menurunkan tangannya, menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang kembali memancarkan keteguhan. Dia memutuskan untuk tidak lari lagi.

Jika dia mengundurkan diri sekarang secara mendadak, itu justru akan menimbulkan kecurigaan dari Pak Bambang dan rekan-rekannya, atau bahkan bisa menarik perhatian pihak manajemen baru yang sedang memeriksa data karyawan.

Dia akan tetap bertahan, bersikap profesional sebagai seorang staf data biasa yang tidak berarti apa-apa di mata sebuah korporasi raksasa.

Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa seorang CEO utama dari Abraham Group tidak akan pernah sudi menurunkan pandangannya untuk melihat seorang staf administrasi kecil di sudut pinggiran kota.

Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, sebersit rasa rindu yang terlarang tetap berdenyut, mengingatkannya pada kehangatan pelukan yang telah lama hilang digantikan oleh dinginnya kenyataan hidup.

...****************...

Suara gemuruh mesin pesawat jet pribadi berlogo inisial "A" besar berwarna emas perlahan mulai mengecil seiring dengan mendaratnya roda-roda pesawat di landasan pacu Bandara Internasional Halim Perdanakusuma.

Penerbangan belasan jam dari London menuju Jakarta itu berlangsung tanpa kendala, namun atmosfer di dalam kabin mewah tersebut terasa begitu mencekam, melebihi dinginnya suhu pendingin udara yang disetel pada tingkatan maksimal.

Di salah satu kursi penumpang eksklusif berlapis kulit premium, duduk seorang pria dengan postur tubuh yang tegap, gagah, dan berwibawa. Gavin Alvaro Abraham.

Pria itu menatap lurus ke luar jendela pesawat, menyaksikan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala di bawah langit senja.

Wajahnya yang luar biasa tampan seolah dipahat dengan kesempurnaan mutlak, mulai dari rahangnya tegas, hidungnya mancung dan lurus, serta sepasang mata elang yang tajam namun memancarkan kekosongan yang amat dalam. Tidak ada lagi senyuman hangat atau binar jenaka yang dulu pernah menghiasi wajah itu.

Tiga tahun di luar negeri telah mengubah Gavin menjadi sosok yang sama sekali berbeda yaitu seorang penguasa bisnis yang sedingin es dan tak tersentuh.

Gavin mengenakan setelan jas tiga potong berwarna hitam legam yang dijahit khusus di Savile Row, London. Penampilannya begitu rapi tanpa cela, memancarkan aura dominasi yang mutlak. Siapa pun yang melihatnya dari jarak dekat pasti akan merasa merinding dan terintimidasi oleh kharisma kegelapan yang menguar dari tubuhnya.

"Tuan Muda Gavin, kita sudah mendarat dengan sempurna. Kendaraan penjemputan dan tim pengawal pribadi sudah bersiap di area apron eksekutif," ucap sebuah suara dengan nada yang sangat sopan dan penuh hormat.

Pria yang berbicara itu adalah Dimas, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Gavin yang telah menemaninya selama masa pengasingan diri di Eropa. Dimas berdiri dengan posisi membungkuk hormat, menanti respons dari sang atasan.

Gavin tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang mengenakan jam tangan mewah bernilai miliaran rupiah bergerak perlahan, merapikan manset kemeja putihnya. Setelah beberapa detik keheningan yang menegangkan, dia akhirnya mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Bagaimana dengan jadwal malam ini?" tanya Gavin. Suaranya terdengar berat, dalam, dan begitu datar tanpa ekspresi, seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah sebuah perintah mutlak yang tidak boleh dibantah.

"Sesuai perintah Anda, malam ini tidak ada agenda pertemuan dengan pihak eksternal, Tuan. Komisaris Utama yaitu Papa Anda dan Nyonya Besar sudah menunggu kehadiran Anda di kediaman utama untuk makan malam keluarga." jawab Dimas dengan sigap.

Gavin hanya mengangguk kecil sekali, lalu berdiri dari kursinya. Tinggi badannya yang mencapai 185 sentimeter membuat ruang kabin jet yang luas itu mendadak terasa sempit.

Dia melangkah keluar dari pesawat dengan ritme yang tenang namun pasti, diikuti oleh Dimas yang membawa tas kerja kulit eksklusif di belakangnya.

Begitu Gavin melangkah turun dari tangga pesawat, angin malam Jakarta yang hangat menyapu wajahnya. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak di anak tangga terakhir, memejamkan mata tajamnya untuk menghirup udara tanah air yang sudah tiga tahun ini tidak ia injak.

Tiga tahun lalu, dia meninggalkan negara ini dengan hati yang hancur lebur, jiwa yang koyak, dan amarah yang membubung tinggi.

Perceraian sepihak yang tiba-tiba, hilangnya sang istri tercinta tanpa jejak, dan surat-surat resmi yang dikirimkan melalui pengacara tanpa penjelasan apa pun telah mengubah Gavin dari seorang pria penyayang menjadi monster kerja yang kejam.

Dia melarikan diri ke cabang Eropa, menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, hanya untuk membunuh rasa sakit yang terus menggerogoti dadanya.

Kini, dia kembali bukan lagi sebagai Gavin yang rapuh. Dia kembali sebagai pemenang, sebagai predir tunggal yang siap mengambil alih seluruh kekaisaran bisnis Abraham Group.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Gavin." sapa kepala pengawal pribadi yang langsung membukakan pintu mobil Rolls-Royce Phantom hitam yang sudah berbaris rapi bersama tiga mobil SUV pengawal lainnya.

Gavin tidak merespons sapaan itu. Dia langsung masuk ke dalam kabin belakang mobil yang kedap suara, menyandarkan punggungnya, dan memejamkan mata.

Sepanjang perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai padat, keheningan total menyelimuti mobil tersebut. Dimas yang duduk di kursi depan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras, tahu betul bahwa suasana hati bosnya ini sedang tidak bisa ditebak.

Satu jam kemudian, iring-iringan mobil mewah itu memasuki gerbang besi tinggi yang menuju ke sebuah mansion megah di kawasan elit. Rumah besar milik keluarga Abraham itu terlihat benderang dengan lampu-lampu kristal yang mewah.

Pintu mobil dibuka, dan Gavin melangkah keluar dengan langkah kaki yang konstan. Di lobi utama mansion, dua sosok paruh baya yang sangat ia kenal sudah berdiri menunggu.

Romi Abraham, sang papa yang wajahnya kini sudah mulai dipenuhi garis-garis penuaan, dan siska Abraham, sang mama yang masih terlihat anggun di usianya yang berkepala lima.

"Gavin... anakku," Siska langsung melangkah maju dengan mata yang berkaca-kaca, hendak memeluk putra tunggalnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui secara fisik.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!