"Aku berangkat bulan depan."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi bagi Nandin, kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.
Sendok yang sedang ia gunakan untuk mengaduk sayur lodeh berhenti di tengah jalan. Uap panas dari panci mengepul ke wajahnya, tetapi yang terasa dingin justru dadanya.
"Apa?" tanyanya pelan.
Wisnu menghela napas panjang sambil memainkan ponselnya.
"Aku udah daftar kerja ke Korea." ujarnya tanpa melihat Nandin.
Nandin menatap suaminya beberapa detik.
Ia menunggu.
Menunggu Wisnu tertawa dan mengatakan kalau itu cuma bercanda.
Sayangnya tidak.
Lelaki itu tampak serius.
"Korea?" ulang Nandin.
"Iya."
"Kenapa tiba-tiba?" timpalnya sedikit emosi.
Wisnu akhirnya meletakkan ponselnya.
"Karena aku capek hidup begini terus."
Kalimat itu menusuk tanpa permisi.
Rumah kontrakan kecil yang mereka tempati memang jauh dari kata mewah.
Atapnya kadang bocor saat hujan.
Dinding belakangnya mulai lembap.
Kulkas mereka bahkan sudah rusak sejak tiga bulan lalu.
Tapi selama ini Nandin selalu berpikir mereka baik-baik saja.
Setidaknya mereka masih bersama.
"Aku lagi hamil, Mas." seru Nandin mencoba menahan suaminya.
"Aku tahu." Wisnu menjawab enteng.
"Usia kandunganku belum genap empat bulan."
"Aku juga tahu."
Nandin menggigit bibir.
Lalu kenapa rasanya Wisnu begitu mudah mengucapkan keinginannya untuk pergi?
Di dalam perutnya, ada calon anak mereka.
Meski belum terasa gerakannya, setiap malam Nandin selalu mengelus perutnya sambil mengajak bayinya berbicara.
Kadang ia membayangkan wajah anak mereka.
Kadang ia membayangkan Wisnu akan menjadi ayah yang baik.
Tapi sekarang...
Lelaki itu justru ingin pergi ke negara lain.
"Kalau aku melahirkan gimana?" ujarnya.
"Kamu bisa sendiri."
Jawaban itu keluar begitu saja.
Seolah tidak ada yang salah.
"Astaga mass." Nandin membatin kecewa.
Seolah melahirkan adalah hal sederhana yang bisa dilakukan tanpa rasa takut.
Mata Nandin langsung berkaca-kaca.
Namun sebelum ia sempat bicara, suara seseorang terdengar dari depan rumah.
"Wisnu!"
Mereka berdua sama-sama menoleh.
Ibu Sri.
Ibu mertua Nandin.
Perempuan itu masuk tanpa mengetuk pintu.
Seperti biasa.
"Apa sudah bilang ke Nandin?" tanyanya.
Wisnu mengangguk.
"Sudah."
Ibu Sri tersenyum puas.
"Bagus."
Nandin langsung mengerti.
Jadi ini bukan ide Wisnu seorang diri.
Pantas saja.
Sejak awal, ibu mertuanya memang yang paling bersemangat soal Korea.
"Bu, memang harus sekarang?" tanya Nandin hati-hati.
Senyum di wajah Ibu Sri langsung memudar.
"Memangnya kenapa?"
"Nandin lagi hamil."
"Perempuan hamil itu biasa." sindir bu Sri.
Jawaban itu membuat Nandin tercekat.
Ibu Sri duduk di kursi plastik ruang tamu sambil melipat tangan.
"Kamu pikir ibu dulu nggak pernah hamil?"
"Bukan begitu, Bu."
"Lagian Wisnu pergi buat masa depan."
Nandin hampir tertawa miris mendengarnya.
Masa depan siapa?
Karena yang ia lihat selama ini, justru ibu mertuanya yang paling sering meminta uang.
Setiap bulan.
Tidak pernah terlambat.
Padahal Wisnu hanya bekerja di pabrik mebel dengan gaji pas-pasan.
Kadang mereka harus menghemat beras menjelang akhir bulan.
Kadang Nandin diam-diam mengurangi lauk agar uang belanja cukup.
Namun setiap kali Ibu Sri meminta uang, Wisnu selalu mengirim.
Tanpa pernah menolak.
"Nanti kalau Wisnu kerja di Korea, orang-orang kampung juga tahu kalau anak saya sukses."
Nah.
Itulah kalimat yang sebenarnya.
Bukan soal masa depan.
Bukan soal keluarga.
Bukan soal bayi yang sedang dikandung Nandin.
Melainkan gengsi.
Mata Nandin menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Sangat sesak.
"Aku nggak setuju, Mas."
Akhirnya kalimat itu keluar.
Wisnu langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
"Aku nggak mau kamu pergi." ungkapnya melunak berharap kali ini suaminya mendengarkannya
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan suara kipas angin tua di sudut ruangan terdengar jelas.
"Aku takut."
Nandin menggenggam ujung bajunya.
"Aku hamil."
"Jangan egois." tegas Wisnu.
Seketika Nandin terdiam.
Egois?
Ia?
"Aku cuma minta kamu tetap di sini."
"Justru kamu yang egois," kata Wisnu. "Aku kerja buat keluarga."
Nandin ingin bertanya.
Kalau benar untuk keluarga, kenapa ia merasa tidak pernah diajak berdiskusi?
Kenapa keputusan sebesar ini sudah dibuat tanpa mempertimbangkan dirinya?
Kenapa sejak awal semua orang hanya bicara soal keberangkatan Wisnu, bukan soal kondisi istrinya yang sedang mengandung?
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Tak keluar.
Malam itu Nandin menangis diam-diam di kamar.
Wisnu sudah tertidur.
Atau mungkin pura-pura tidur.
Ia tidak tahu.
Yang jelas lelaki itu tidak memeluknya.
Tidak mengusap kepalanya.
Tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Nandin menatap langit-langit kamar yang kusam.
Perlahan tangannya bergerak ke perut yang mulai membuncit.
"Halo, Nak..."
Air mata hangat mengalir ke pelipisnya.
"Ibu takut."
Suaranya bergetar.
"Sangat takut."
Ia tidak tahu kalau di dalam rahimnya bukan hanya satu bayi yang sedang tumbuh.
Ada dua kehidupan kecil yang kelak akan menjadi alasan terbesar ia bertahan hidup.
Dan malam itu...
Tanpa disadari siapa pun...
Takdir mulai membuka jalan menuju penderitaan panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Kepergian Wisnu bukan sekadar perjalanan mencari kerja.
Itu adalah awal dari kehancuran yang belum mampu dibayangkan oleh Nandin.
Sebuah kehancuran yang suatu hari nanti akan merenggut suami, anak-anak, kewarasan, bahkan harga dirinya.
Dan saat semuanya benar-benar hancur...
Nandin harus memilih.
Menyerah.
Atau bangkit sendirian.
Satu bulan kemudian...
Bandara selalu dipenuhi dua jenis manusia.
Mereka yang berangkat dengan harapan.
Dan mereka yang ditinggalkan dengan kesedihan.
Pagi itu, Nandin termasuk golongan yang kedua.
Tangannya tak henti-henti mengelus perut yang mulai membesar di balik gamis longgarnya. Meskipun kehamilannya belum terlalu besar, rasa pegal di pinggangnya mulai sering datang.
Di depannya, Wisnu sedang mengobrol dengan beberapa calon pekerja yang akan berangkat bersamanya ke Korea.
Mereka tampak bersemangat.
Tertawa.
Bercanda.
Membahas gaji yang katanya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Sementara Nandin berdiri sendirian di dekat kursi tunggu.
Entah kenapa, dadanya terasa sesak sejak tadi malam.
Seperti ada sesuatu yang tidak ingin melepaskan kepergian suaminya.
"Nanti kalau sudah sampai langsung kabarin aku ya, Mas."
Nandin akhirnya memberanikan diri bicara.
Wisnu mengangguk singkat.
"Iya."
"Jangan lupa makan." imbuhnya.
"Iya."
"Kalau ada waktu video call."
"Iya."
Jawaban itu terdengar datar.
Pendek.
Seolah ia sedang berbicara dengan teman biasa.
Bukan istrinya yang sedang mengandung anaknya.
Nandin memaksakan senyum.
Meski rasanya sulit.
Di belakang mereka, Ibu Sri justru tampak paling bahagia.
Perempuan itu sibuk memotret.
Berkali-kali.
Lalu mengirimnya ke grup WhatsApp.
Sesekali ia tertawa sendiri sambil membaca balasan para anggota grup arisan.
"Alhamdulillah, Bu Sri. Anak ibu hebat."
"Wah, calon orang kaya nih."
"Nanti jangan lupa traktir kalau sudah kirim uang dari Korea."
Mata Ibu Sri berbinar.
Seumur hidupnya mungkin belum pernah menerima pujian sebanyak itu.
"Makanya," katanya bangga kepada seorang tetangga yang ikut mengantar. "Anak saya memang pekerja keras."
Nandin hanya diam.
Ia tahu.
Jika memang benar ini demi masa depan keluarga mereka, tentu ia akan mendukung sepenuh hati.
Tapi jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal.
Sejak awal keberangkatan ini lebih sering dibicarakan sebagai kebanggaan Ibu Sri daripada kebutuhan keluarga mereka.
Tepat sebelum panggilan keberangkatan diumumkan, Nandin menggenggam tangan Wisnu.
"Mas."
Wisnu menoleh.
"Hati-hati di sana."
Untuk sesaat, Nandin berharap lelaki itu akan memeluknya.
Atau setidaknya menyentuh perutnya.
Mengucapkan selamat tinggal kepada calon anak mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Wisnu hanya menarik tangannya perlahan.
"Lagipula cuma kerja."
Cuma kerja.
Kalimat itu kembali menusuk.
Beberapa menit kemudian, sosok Wisnu menghilang di balik pintu keberangkatan.
Dan tanpa disadari Nandin...
Itulah awal dari penantian panjang yang akan mengubah hidupnya.
Hari pertama.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Nandin masih menunggu kabar.
Ia selalu meletakkan ponsel di dekat bantal.
Berharap sewaktu-waktu layar itu menyala.
Berharap nama Wisnu muncul.
Namun tidak pernah terjadi.
Sampai satu minggu berlalu.
Barulah sebuah pesan masuk.
"Aku sudah sampai."
Hanya tiga kata.
Tidak ada pertanyaan tentang dirinya.
Tidak ada pertanyaan tentang bayi mereka.
Tidak ada kalimat rindu.
Tetapi Nandin tetap tersenyum.
Setidaknya Wisnu baik-baik saja.
Ia membalas cepat.
"Alhamdulillah. Jaga kesehatan ya, Mas. Aku sama bayi baik-baik saja."
Centang dua.
Dibaca.
Namun tak pernah dibalas lagi.
Waktu terus berjalan.
Perut Nandin semakin membesar.
Tabungan mereka semakin menipis.
Sementara kabar dari Wisnu semakin jarang.
Kadang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Bahkan lebih sering hanya berupa satu atau dua kalimat.
"Aku sibuk."
"Lagi kerja."
"Nanti saja."
Padahal setiap hari Nandin menunggu.
Setiap hari.
Tanpa pernah absen.
Suatu sore, ia membuka buku tabungannya.
Sisa saldo membuat jantungnya berdegup tidak nyaman.
Dua juta tiga ratus ribu rupiah.
Itu saja.
Padahal biaya kontrol kehamilan terus berjalan.
Belum kebutuhan sehari-hari.
Belum biaya persalinan nanti.
Nandin menghela napas panjang.
Ia membuka aplikasi mobile banking.
Berharap ada transfer masuk.
Namun nihil.
Tetap kosong.
Tidak ada kiriman dari Wisnu.
Tidak ada apa-apa.
Tak satu rupiah pun dikirim.
Awalnya Nandin masih mencoba berpikir positif.
Mungkin gaji pertama belum cair.
Mungkin masih ada potongan biaya penempatan.
Mungkin Wisnu sedang beradaptasi.
Namun semakin lama, alasan-alasan itu mulai terdengar rapuh.
Karena hidup tetap harus berjalan.
Dan uang tabungan terus berkurang.
Suatu siang, Nandin duduk di teras kontrakan sambil memegang buku rekening.
Matanya berkaca-kaca.
Saldo terakhir tersisa tujuh ratus ribu rupiah.
Itu pun belum termasuk biaya kontrol bulan depan.
"Nak..." bisiknya sambil mengusap perutnya.
"Kita harus hemat ya."
Air matanya jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
Ia tidak berani menangis keras.
Takut membuat bayinya ikut sedih.
Saat itulah sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Nandin langsung mengenalinya.
Mobil tua milik ayahnya.
"Pak!"
Ia segera berdiri.
Meski tubuhnya terasa berat.
Ayah dan ibunya turun dari mobil.
Membawa beberapa kardus.
Karung beras.
Minyak goreng.
Telur.
Mie instan.
Buah-buahan.
Dan berbagai kebutuhan lainnya.
"Nak..."
Begitu melihat wajah putrinya, sang ibu langsung memeluknya.
Tangis Nandin yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
"Bu..."
Ibunya mengusap punggungnya perlahan.
"Sudah. Jangan nangis."
"Bu... aku capek."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan membuat kedua orang tuanya ikut menahan air mata.
Mereka tahu.
Anak mereka sedang berusaha kuat.
Padahal usianya baru dua puluh tiga tahun.
Malam itu mereka makan bersama.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah kontrakan terasa hangat.
Ayahnya menatap sekeliling rumah.
"Listrik aman?"
Nandin mengangguk.
"Masih, Pak."
"Kontrakan sudah dibayar?"
"Sudah sampai dua bulan lagi."
Ayahnya menghela napas.
Lalu menyelipkan sebuah amplop ke tangan Nandin.
"Apa ini, Pak?"
"Pegang saja."
Nandin membuka sedikit.
Lima juta rupiah.
Matanya langsung membesar.
"Pak, jangan."
"Sudah."
"Tapi Bapak sendiri..."
"Kami masih punya."
Nandin tahu itu bohong.
Ia tahu ayahnya hanya seorang pensiunan sopir travel.
Ia tahu uang itu pasti dikumpulkan dengan susah payah.
Tangisnya kembali pecah.
"Aku jadi merepotkan..."
Ayahnya langsung menggeleng.
"Anak tidak pernah merepotkan orang tua."
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nandin semakin sesak.
Karena orang yang seharusnya bertanggung jawab atas dirinya dan bayi yang dikandungnya justru tidak ada di sini.
Malam semakin larut.
Setelah kedua orang tuanya tidur, Nandin duduk sendirian di ruang tamu.
Ia kembali membuka ponselnya.
Mencari nama Wisnu.
Lalu mengetik pesan.
"Mas, aku kontrol kandungan besok."
Dibaca.
Tidak dibalas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tetap tidak ada jawaban.
Nandin memejamkan mata.
Ia mulai merasa takut.
Bukan takut miskin.
Bukan takut melahirkan.
Melainkan takut bahwa dirinya dan bayi yang dikandungnya sudah tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup suaminya.
Dan ketakutan itu perlahan tumbuh.
Diam-diam.
Seperti racun yang menetes sedikit demi sedikit.
Menggerogoti hatinya setiap hari.
Tanpa ia sadari...
Penantian yang selama ini ia pertahankan dengan penuh harapan, perlahan berubah menjadi luka.
Luka yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh hidupnya.
[Bersambung...]
Ada kabar yang membuat seseorang menangis karena bahagia.
Ada juga kabar yang membuat seseorang menangis karena takut.
Pagi itu, Nandin merasakan keduanya sekaligus.
Sejak subuh, perutnya terasa lebih berat dari biasanya. Pinggangnya pegal. Kakinya sedikit bengkak. Semalaman ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena bayi dalam kandungannya terus bergerak.
Atau setidaknya, itulah yang ia pikir.
Satu bayi.
Selama tujuh bulan terakhir, Nandin selalu yakin hanya ada satu anak yang tumbuh di dalam rahimnya.
Hari itu ia harus kontrol kandungan lagi.
Untung masih ada uang yang ditinggalkan ayahnya minggu lalu.
Kalau tidak, mungkin ia sudah menunda pemeriksaan lagi seperti bulan lalu.
Nandin mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda dan kerudung krem yang mulai pudar warnanya.
Sebelum berangkat, ia membuka dompet.
Uang yang tersisa tidak sampai satu juta rupiah.
Ia menatapnya cukup lama.
Lalu menarik napas pelan.
"Yang penting kita berdua sehat ya, Nak."
Tangannya mengusap perut yang besar.
Meski suaminya tidak pernah mengirim uang, meski hidup terasa semakin berat, setidaknya bayi dalam kandungannya harus tetap sehat.
Itu yang paling penting.
Klinik kandungan pagi itu cukup ramai.
Nandin duduk di antara beberapa ibu hamil lainnya.
Sebagian ditemani suami.
Ada yang sedang bercanda.
Ada yang dipijit pundaknya.
Ada yang bahkan disuapi camilan oleh suaminya.
Nandin hanya tersenyum kecil.
Lalu menundukkan kepala.
Kalau dipikir-pikir, sejak Wisnu pergi ke Korea, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Kontrol sendiri.
Belanja sendiri.
Masak sendiri.
Menangis sendiri.
Bahkan menghadapi ketakutannya sendiri.
"Bu Nandin."
Namanya dipanggil.
Ia segera berdiri.
Dokter yang menangani kehamilannya kali ini adalah dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang ramah.
"Silakan berbaring, Bu."
Nandin mengangguk.
Ia naik ke ranjang pemeriksaan.
Gel dingin dioleskan ke perutnya.
Lalu alat USG mulai bergerak.
Awalnya biasa saja.
Namun beberapa detik kemudian, dokter itu terlihat mengernyit.
Lalu tersenyum.
Kemudian mengernyit lagi.
Nandin langsung panik.
"Kenapa, Dok?"
Dokter malah tertawa kecil.
"Bu Nandin..."
"Iya, Dok?"
"Selama ini tidak pernah ada yang bilang kalau ibu hamil kembar?"
Nandin berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu tertawa canggung.
"Hamil kembar?"
"Iya."
Dokter menunjuk layar monitor.
"Nah ini bayi pertama."
Nandin menatap layar.
Jantungnya mulai berdebar.
Kemudian dokter menggeser alat sedikit.
"Dan ini bayi kedua."
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
"Apa?"
Dokter tersenyum.
"Selamat ya, Bu. Bayinya dua."
Air mata langsung memenuhi mata Nandin.
Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Bahagia?
Kaget?
Takut?
Semuanya bercampur menjadi satu.
"Dua?"
"Iya."
"Dua bayi?"
"Iya."
Nandin langsung menutup mulut.
Tangisnya pecah.
Entah kenapa.
Mungkin karena terlalu bahagia.
Atau mungkin karena terlalu takut.
Karena satu bayi saja ia sudah kesulitan.
Sekarang Tuhan memberinya dua sekaligus.
Dalam perjalanan pulang, Nandin terus memegang hasil USG.
Berkali-kali ia melihat gambar hitam putih itu.
Masih sulit dipercaya.
Dua bayi.
Dua anak.
Dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh dalam tubuhnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung mengambil ponsel.
Tanpa pikir panjang, ia mengirim foto hasil USG kepada Wisnu.
"Mas..."
Jarinya gemetar saat mengetik.
"Kita punya bayi kembar."
Pesan terkirim.
Nandin tersenyum sendiri.
Ia benar-benar bersemangat menunggu balasan suaminya.
Ia membayangkan Wisnu akan terkejut.
Mungkin bahagia.
Mungkin langsung menelepon.
Mungkin bertanya bagaimana kondisi mereka.
Satu jam berlalu.
Tidak ada balasan.
Dua jam.
Masih tidak ada.
Empat jam.
Tetap sepi.
Sampai malam tiba.
Pesan itu akhirnya dibaca.
Hanya dibaca.
Tidak dibalas.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada apa-apa.
Nandin menatap layar ponselnya lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya air mata jatuh ke pipinya.
"Kenapa, Mas?"
bisiknya lirih.
"Apa aku dan anak-anak kita sudah nggak penting lagi?"
Dua hari kemudian.
Nandin pergi ke warung Bu Rini untuk membeli telur.
Warung kecil itu memang menjadi tempat berkumpul para ibu kompleks.
Biasanya mereka membahas harga cabai.
Harga minyak.
Atau gosip tetangga.
Namun hari itu, begitu Nandin datang, beberapa orang langsung saling melirik.
Aneh.
Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Eh, Nandin."
Bu Rini tersenyum canggung.
"Sehat?"
"Alhamdulillah."
"Bayinya sehat?"
"Iya."
Nandin mengambil telur satu kilogram.
Namun sebelum ia sempat membayar, seorang ibu tiba-tiba bicara.
"Wisnu sering kirim uang ya sekarang?"
Nandin mengernyit.
"Maksudnya?"
"Ih, masa nggak tahu?"
"Tau apa?"
Beberapa ibu langsung saling pandang.
Bu Rini bahkan terlihat panik.
Seolah ingin menghentikan pembicaraan itu.
Namun terlambat.
"Soalnya Bu Sri sering cerita."
Deg.
Jantung Nandin langsung berdebar.
"Cerita apa?"
"Katanya Wisnu rajin kirim uang dari Korea."
Nandin membeku.
"Apa?"
"Iya."
"Bahkan bulan lalu katanya kirim hampir lima belas juta."
Tangannya langsung dingin.
Lima belas juta?
Mustahil.
Karena selama ini ia tidak pernah menerima apa pun.
"Beneran?"
"Iya."
"Bu Sri sampai beli kulkas baru."
"Iya, sama televisi baru."
"Nggak cuma itu. Katanya mau renovasi dapur."
Suara para ibu mulai terdengar jauh.
Seperti gema.
Karena kepala Nandin tiba-tiba berputar.
Lima belas juta.
Lima belas juta.
Lima belas juta.
Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Jika benar Wisnu mengirim uang sebanyak itu...
Kenapa ia membiarkan istrinya hidup pas-pasan?
Kenapa ia membiarkan anak-anaknya kekurangan?
Kenapa?
Sore itu Nandin langsung mendatangi rumah mertuanya.
Perut besarnya membuat langkahnya berat.
Namun kemarahan memberinya tenaga.
Begitu tiba, ia langsung melihat kulkas baru berdiri di ruang tamu.
Televisi besar menggantung di dinding.
Bahkan sofa baru juga sudah menggantikan yang lama.
Dadanya semakin sesak.
Karena semua itu dibeli saat dirinya kesulitan membeli susu kehamilan.
"Bu."
Ibu Sri yang sedang menonton televisi menoleh santai.
"Oh, Nandin."
"Ibu dapat uang dari Wisnu?"
Wajah Ibu Sri berubah sesaat.
Lalu kembali santai.
"Kenapa?"
"Jadi benar?"
"Ya memang."
Nandin mengepalkan tangan.
"Berapa?"
"Itu urusan saya."
"Bu!"
Nada suaranya meninggi.
"Ibu tahu nggak saya hampir nggak punya uang buat kontrol kandungan?"
Ibu Sri langsung berdiri.
"Lalu?"
Nandin tertegun.
"Lalu?"
"Iya lalu kenapa?"
"Itu anak Wisnu juga, Bu."
"Memangnya saya suruh kamu hamil?"
Kalimat itu menghantam tepat di dada.
Begitu keras.
Sampai Nandin kehilangan kata-kata.
"Saya ibunya Wisnu."
Ibu Sri melipat tangan.
"Wajar kalau dia kirim uang ke saya."
"Tapi saya istrinya."
"Nggak usah lebay."
Air mata Nandin mulai jatuh.
"Tujuh bulan, Bu."
Suaranya bergetar.
"Tujuh bulan saya sendirian."
Ibu Sri tidak terlihat bersalah sedikit pun.
Malah mendengus.
"Wisnu kerja capek-capek di sana."
"Terus?"
"Kalau uangnya dipakai buat ibunya sendiri memang kenapa?"
Nandin benar-benar tidak mengerti.
Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berkata seperti itu?
Bagaimana mungkin seorang nenek tega membiarkan cucunya sendiri kekurangan?
Malam itu Nandin pulang sambil menangis.
Sepanjang jalan.
Sampai matanya bengkak.
Sampai dadanya terasa sakit.
Begitu sampai rumah, ia langsung menghubungi Wisnu.
Sekali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Tidak diangkat.
Tiga kali.
Tetap tidak diangkat.
Akhirnya ia mengirim pesan panjang.
"Mas, aku cuma mau tahu satu hal."
"Benarkah selama ini kamu kirim uang ke Ibu?"
"Kalau benar, kenapa kamu nggak pernah kirim untuk aku dan anak-anak?"
"Aku nggak minta banyak."
"Aku cuma ingin tahu."
Pesan terkirim.
Dan malam itu...
Nandin tidak lagi menangis karena rindu.
Ia menangis karena mulai menyadari kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Bahwa mungkin...
Suaminya memang tidak pernah benar-benar pergi demi dirinya.
Dan kemungkinan yang lebih menyakitkan mulai muncul di benaknya.
Bagaimana jika sejak awal...
Ia dan anak-anaknya memang tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup Wisnu?
Di kamar yang sunyi, Nandin mengusap perutnya perlahan.
Dua bayi kecil bergerak di dalam sana.
Seolah merasakan kegelisahan ibunya.
"Ibu janji..."
Air mata kembali jatuh.
"Apapun yang terjadi..."
"Ibu akan menjaga kalian."
Meskipun harus sendirian.
Meskipun harus berjuang tanpa ayah mereka.
Meskipun dunia terasa semakin tidak adil.
Nandin belum tahu.
Bahwa luka yang ia rasakan hari ini hanyalah awal.
Karena beberapa bulan ke depan, hidupnya akan berubah jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.
\[Bersambung...\]
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!