*Penyesalan seumur hidupku adalah melukai hatimu yang tulus dan murni.*
"Selamat ...! Akhirnya kamu memenangkan pertaruhan ini, Arkana!"
Suara Raditya terdengar begitu bersemangat dari layar laptop. Di layar itu tampak wajah ketiga sahabatnya sedang tersenyum lebar seolah baru saja merayakan sebuah kemenangan besar. Mereka terlihat jauh lebih antusias daripada orang yang sebenarnya memenangkan taruhan tersebut.
Arkana yang sedang duduk di kursi kerjanya hanya memandang layar itu tanpa banyak bereaksi. Sesaat ia bahkan tidak langsung memahami maksud ucapan Raditya. Pikirannya sedang dipenuhi berbagai urusan pekerjaan sehingga butuh beberapa detik sampai akhirnya ia mengingat kembali taruhan yang pernah mereka buat beberapa bulan lalu saat masih berkumpul santai di halaman kampus Fakultas Ekonomi.
Sore itu mereka masih menjadi mahasiswa yang menganggap segala sesuatu sebagai permainan. Tidak ada yang berpikir bahwa sebuah taruhan konyol bisa mengubah hidup seseorang secara permanen. Saat itu Kanaya menjadi topik pembicaraan mereka. Gadis pelayan kantin yang pendiam dan selalu menutupi sebagian wajahnya dan jarang bergaul dengan banyak orang. Entah bagaimana, obrolan iseng mereka berkembang menjadi sebuah tantangan yang akhirnya berubah menjadi taruhan.
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu berhasil menunjukkan wajah Kanaya dan menjalin hubungan dengannya selama seratus hari," ujar Bimantara sambil menggelengkan kepala. Wajahnya masih memperlihatkan ekspresi tak percaya.
Sadewa yang duduk di sampingnya langsung tertawa keras. "Hei, bro! Dia bukan cuma berhasil melihat wajah Kanaya."
Raditya mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
Sadewa menyeringai jahil. "Dia bahkan sudah melihat seluruh tubuhnya dan menikmatinya. Ingat, mereka sudah menikah?!"
Ucapan itu langsung disambut gelak tawa oleh dua sahabat lainnya.
Namun berbeda dengan mereka, Arkana tidak ikut tertawa. Senyum yang sempat muncul di bibirnya perlahan menghilang. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Padahal dulu dialah yang paling percaya diri menerima taruhan itu. Dahulu, ia begitu yakin semuanya hanya permainan biasa. Akan tetapi sekarang, setelah mengenal Kanaya lebih dekat, setelah mengetahui betapa tulusnya perempuan itu mencintainya, dan setelah menjalani hari-hari sebagai suami istri bersama perempuan tersebut, kemenangan yang dahulu begitu diinginkannya justru terasa pahit.
"Kamu beruntung banget, Arka. Setiap hari bisa melihat wajah cantik Kanaya. Iri banget, deh!" sela Sadewa dengan nada ringan, sudut bibirnya terangkat nakal.
"Gila, sih, ya! Tiap buka mata yang pertama kali dilihat itu wajah cantik seorang bidadari," lanjut Raditya tertawa kecil.
Tanpa sadar bayangan wajah Kanaya muncul di benak Arkana. Perempuan itu selalu menyambutnya pulang dengan senyum hangat. Tidak pernah mengeluh ketika Arkana terlalu sibuk dengan tugas kampus. Tidak pernah marah ketika ia pulang larut malam. Bahkan ketika Arkana bersikap cuek, Kanaya tetap memperlakukannya dengan kelembutan yang sama. Perasaan bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.
"Sesuai perjanjian awal aku akan memenuhi janjiku," kata Sadewa kemudian, menatap lurus ke arah kamera. "Kamu boleh ambil kapan saja mobil Ferrari itu."
"Selamat ... selamat!" sahut Raditya.
Arkana membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak nyaman membahas semua ini.
"A-aku ..."
Belum sempat Arkana menyelesaikan kalimatnya, Raditya tiba-tiba mengangkat tangan seolah baru teringat sesuatu. "Eh, tunggu sebentar."
Ketiga sahabatnya langsung menoleh.
"Apa lagi?" tanya Bimantara.
Raditya tersenyum lebar. "Kalian lupa bagian terpentingnya."
Arkana mendadak merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan datang.
"Bagian apa?" tanya Sadewa.
"Arkana pernah bilang setelah selesai taruhan ini, dia akan menceraikan Kanaya."
Kalimat itu membuat senyum Arkana dan kedua teman lainnya lenyap seketika.
Tubuh Arkana menegang, wajahnya berubah pucat. Ucapan itu memang pernah keluar dari mulutnya, tiga bulan lalu sesaat sebelum mengucapkan ijab kabul. Sebelum ia mengenal Kanaya yang sebenarnya. Sebelum perempuan itu berhasil mengisi ruang kosong di dalam hatinya. Jauh sebelum ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta.
PRANG!
Suara benda pecah yang sangat keras tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Seluruh tubuh Arkana langsung membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Perlahan ia menoleh ke belakang. Dan pada saat itulah dunia seolah runtuh di hadapannya.
Kanaya berdiri beberapa langkah dari tempat Arkana. Di dekat kaki perempuan itu terdapat pecahan gelas yang berserakan di lantai. Air yang tadi memenuhi gelas tersebut kini membasahi keramik dan ujung gaun yang dikenakan. Akan tetapi, Kanaya sama sekali tidak memedulikannya.
Wanita itu hanya berdiri diam mematung. Wajahnya pucat seperti kehilangan seluruh warna. Kedua matanya memerah karena dipenuhi air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Tatapannya tertuju lurus kepada Arkana, seakan sedang berusaha memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya bukanlah mimpi buruk.
"A-Aya ...."
Suara Arkana terdengar begitu kecil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa takut.
Kanaya tertawa pelan. Namun tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Jadi ..." Suaranya bergetar hebat. "Jadi, inikah alasan kamu menikahiku secara siri?"
Setiap kata yang keluar dari bibir Kanaya terasa seperti pisau yang menghunjam dada Arkana.
"Tidak, Aya. Dengarkan aku dulu."
Kanaya menggeleng pelan. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. "Selama ini aku pikir kamu mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu."
"Benarkah?"
Pertanyaan itu membuat Arkana terdiam. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia sadar bahwa apa pun yang dikatakannya sekarang tidak akan mampu menghapus kenyataan bahwa semua hubungan mereka memang berawal dari sebuah taruhan.
Kanaya memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Wanita itu tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan yang selama ini dianggap suci ternyata berawal dari permainan yang dilakukan oleh orang yang paling ia percayai.
"Aku benar-benar bodoh," bisiknya lirih. "Aku mempercayaimu sepenuhnya."
"Aya ...." Arkana melangkah mendekat. Namun, Kanaya justru mundur satu langkah.
Gerakan sederhana itu membuat hati Arkana serasa diremas. Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Kanaya menjauh darinya. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Tatapan yang biasanya penuh cinta kini hanya menyisakan luka dan kekecewaan.
"Apa kamu tahu rasanya mendengar semua itu?" tanya Kanaya dengan suara yang semakin bergetar. "Apa kamu tahu betapa hancurnya aku sekarang?"
Air mata Arkana mulai menggenang. Ia ingin memeluk perempuan itu. Ingin menjelaskan semuanya dan mengatakan bahwa perasaannya sudah berubah. Bahwa taruhan itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Karena sekarang Kanaya adalah satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Namun, semua kata itu terasa terlambat.
Karena luka yang terlanjur tercipta tidak akan hilang hanya dengan penjelasan sederhana.
Saat melihat air mata yang terus jatuh dari mata Kanaya, Arkana akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan. Ia mungkin telah memenangkan taruhan, tetapi pada saat yang sama, ia juga sedang kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
***
Assalamualaikum, semuanya. Aku buat karya baru lagi, semoga kalian suka. Ambil sisi positifnya dari cerita ini dan jangan tiru sisi negatifnya, ya!
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak, like, komentar, sebagai dukungan kalian untuk karya ini.
Kanaya menatap Arkana tanpa berkedip. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena marah semata, melainkan karena rasa sakit yang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.
Selama ini Kanaya percaya bahwa pernikahan mereka memang sederhana, tetapi penuh ketulusan. Ia menerima semua keterbatasan yang ada karena percaya kepada pria di hadapannya. Ia bahkan tidak pernah mempermasalahkan status pernikahan siri yang mereka jalani. Baginya, selama Arkana mencintainya, selama mereka saling menjaga, itu sudah lebih dari cukup. Namun, kini semua keyakinan itu hancur dalam sekejap.
"Aya, dengarkan aku dulu," pinta Arkana dengan wajah pucat. Langkahnya maju perlahan, seolah takut sedikit gerakan saja akan membuat Kanaya semakin menjauh.
Kanaya tertawa lirih. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Mendengarkan apa lagi, Mas?" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa masih ada kebohongan lain yang belum aku ketahui?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa?" Kanaya mengangkat wajahnya. Matanya yang basah menatap Arkana penuh luka. "Apa aku harus berterima kasih karena sudah membantu kamu memenangkan taruhan?"
"Aya ...."
"Atau aku harus merasa terhormat karena ternyata aku hanya bagian dari permainan kalian?" lanjut Kanaya dengan suara bergetar.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Kanaya terasa seperti pisau yang menusuk dada Arkana berkali-kali. Ia ingin menyangkal semuanya karena kenyatanya perasaan itu sudah berubah. Ingin menjelaskan bahwa taruhan itu sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Akan tetapi, ia tidak bisa mengubah kenyataan bahwa semua memang berawal dari taruhan. Dan kenyataan itulah yang menghancurkan wanita yang dicintainya.
"Aku memang salah," ucap Arkana dengan suara serak. "Aku mengakuinya. Aku benar-benar salah. Tapi perasaanku sekarang tidak bohong."
Kanaya menggeleng pelan. "Terlambat, Mas."
Dua kata itu membuat napas Arkana tercekat. "Tidak ada yang terlambat. Aku mencintaimu, Aya."
Kanaya memejamkan mata sesaat. Semakin ia mendengar pengakuan cinta itu, semakin sakit pula hatinya. Dulu kata-kata itu selalu mampu membuatnya tersenyum bahagia. Namun, sekarang kata-kata yang sama justru terasa seperti hinaan.
"Cinta?" bisik Kanaya lirih. "Kamu menyebut ini cinta?"
Arkana menatapnya putus asa. "Aku benar-benar mencintaimu."
"Kalau memang cinta, kenapa kamu menjadikanku taruhan?"
Arkana terdiam. Tidak ada jawaban ataupun pembelaan untuk dirinya. Karena tidak ada alasan yang cukup untuk membenarkan kesalahan yang sudah dibuatnya.
Air mata Kanaya kembali jatuh. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. "Aku percaya sama kamu, Mas."
Suara perempuan itu perlahan pecah. Tangisnya semakin menjadi.
"Aku percaya ketika kamu bilang mencintaiku. Aku percaya ketika kamu bilang ingin menghabiskan hidup bersamaku."
Arkana menunduk. Dadanya terasa diremas-remas oleh rasa bersalah yang luar biasa.
"Aku bahkan percaya ketika kamu memintaku menikah secara siri." Kanaya tersenyum pahit. "Ternyata aku cuma perempuan bodoh."
"Bukan begitu, Aya."
"Kalau bukan begitu, lalu apa?"
Arkana mengulurkan tangan hendak menggenggam jemari Kanaya. Namun, perempuan itu mundur satu langkah.
Gerakan sederhana yang membuat hati Arkana runtuh. Kanaya menghindari sentuhannya dan memandangnya seperti orang asing.
Mata Arkana memerah. "Aya, aku mohon!"
Kanaya menggeleng pelan. Kemudian pandangannya beralih ke layar laptop yang masih menyala.
Di sana Raditya, Sadewa, dan Bimantara hanya bisa diam membeku. Tidak ada lagi senyum ataupun tawa di wajah mereka. Ketiganya mulai menyadari bahwa permainan yang mereka anggap lucu telah menghancurkan kehidupan seseorang.
Kanaya kembali menatap Arkana. "Jadi setelah menang taruhan ini, kamu mau menceraikanku?"
"Tidak!" Jawaban itu keluar begitu cepat dari mulut Arkana. "Tidak, Aya. Aku tidak pernah berniat melakukannya."
"Tapi tadi temanmu bilang begitu."
"Itu dulu."
"Bedanya apa?"
"Aku sudah berubah."
Kanaya tersenyum pahit. "Tapi kenyataannya tidak berubah, Mas."
Arkana merasa jantungnya berdegup tidak karuan. "Aya ...."
"Kamu mendekatiku karena taruhan."
Arkana terdiam.
"Kamu menjalin hubungan denganku karena taruhan."
Arkana menutup mata.
"Kamu menikahiku karena taruhan." Air mata Kanaya jatuh semakin deras.
"Lalu sekarang kamu bilang mencintaiku. Bagaimana aku bisa percaya?" Suara perempuan itu pecah di akhir kalimat.
Arkana ingin memeluknya, lalu menghapus air mata itu. Ingin memutar waktu dan menghancurkan hari ketika taruhan tersebut dibuat. Namun, semua sudah terlambat.
"Tolong maafkan aku."
Kanaya menggeleng. "Bukan aku yang perlu memaafkan, Mas."
"Aya..."
"Aku hanya menyesali satu hal."
Arkana menggelengkan kepalanya perlahan.
Kanaya menatapnya dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku menyesal pernah mencintaimu sebesar ini."
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan Arkana. Pria itu spontan meraih tangan Kanaya.
"Aya, jangan seperti ini!"
Kanaya langsung menarik tangannya. Tatapannya kosong. Seolah seluruh cinta yang dulu memenuhi hatinya telah mati dalam satu sore yang menyakitkan itu. Kemudian perempuan itu menghela napas panjang.
"Apa kamu tahu kalau ucapanmu tadi sudah menjatuhkan talak kepadaku, Mas?"
Tubuh Arkana membeku. Wajahnya kehilangan warna. "Apa?"
"Kamu bilang akan menceraikanku setelah menang taruhan."
"Itu bukan maksudku."
"Tapi ucapan tetaplah ucapan."
Arkana menggeleng berkali-kali. "Tidak. Tidak, Aya."
Air mata mulai memenuhi kedua mata Arkana.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan kehilangan perempuan yang dicintainya.
"Itu berarti mulai saat ini kita sudah bukan siapa-siapa lagi."
Kalimat itu membuat dunia Arkana terasa runtuh. "Aya, jangan."
"Selamat tinggal, Mas. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi." Kanaya tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
"Aya!" Arkana langsung mengejarnya.
Namun Kanaya terus berjalan.
"Aya, jangan pergi!"
Tangis Arkana akhirnya pecah. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya. Tidak peduli pada siapapun yang melihat saat dirinya hancur. Yang ia tahu hanya satu, tidak ingin kehilangan Kanaya.
"Aya!"
Namun perempuan itu tidak menoleh sekali pun. Dan untuk pertama kalinya Arkana memahami bagaimana rasanya menyaksikan seseorang membawa pergi seluruh kebahagiaan dalam hidupnya.
"KANAYA!"
Arkana tiba-tiba terbangun dengan napas memburu. Dadanya naik turun hebat. Keringat dingin membasahi pelipis hingga lehernya. Beberapa saat ia hanya duduk diam sambil menatap kosong ke depan.
Mimpi itu lagi. Lagi dan lagi. Selama lima tahun terakhir, mimpi itu tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Setiap detailnya masih sama. Tangisan Kanaya. Tatapan kecewa Kanaya. Dan punggung perempuan itu yang semakin menjauh darinya.
Arkana mengusap wajahnya kasar. Rasa sesak yang sama kembali memenuhi dadanya.
Arkana baru menyadari bahwa dirinya masih berada di ruang kerja perusahaan. Lampu ruangan masih menyala. Beberapa dokumen masih berserakan di meja.
Tanpa berkata apa-apa, Arkana bangkit dari sofa lalu mengambil gelas berisi air yang tersisa setengah. Air itu langsung dihabiskannya dalam satu tegukan. Rasa haus di tenggorokannya memang hilang. Sementara rasa rindu di hatinya tetap tinggal.
"Kanaya ...."
Namanya keluar begitu pelan. Seperti doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan selama lima tahun.
"Kamu di mana?" Pertanyaan itu kembali menggantung tanpa jawaban.
Sudah lima tahun sejak Kanaya menghilang dari hidupnya. Selama itu pula wanita itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Lalu, selama lima tahun penyesalan Arkana tidak pernah berakhir.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Arkana akan Kanaya.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Sadewa masuk sambil membawa beberapa berkas. Namun begitu melihat wajah Arkana, langkahnya langsung terhenti.
"Kamu mimpi itu lagi?"
Arkana tidak menjawab. Tatapannya saja sudah cukup menjadi jawaban.
Sadewa menghela napas panjang lalu duduk di sofa. "Sudah lima tahun, ya."
Arkana ikut duduk. Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding usianya yang sebenarnya. Bukan karena umur, melainkan karena penyesalan.
"Apa masih belum ada kabar?" tanya Sadewa hati-hati.
Arkana menggeleng pelan.
Selama lima tahun terakhir, ia sudah melakukan segala cara. Ia menyewa detektif. Mengirim orang ke berbagai kota. Memasang iklan pencarian. Menyebarkan informasi ke seluruh relasi bisnisnya. Bahkan setiap ada wanita yang sekilas mirip Kanaya, ia selalu berharap itu benar-benar dirinya. Namun, hasilnya nihil. Kanaya menghilang seolah ditelan bumi.
Kadang Arkana bertanya-tanya bagaimana kehidupan perempuan itu sekarang. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia? Apakah dia sudah menikah lagi? Atau... apakah dia masih membencinya? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantuinya setiap hari.
Sadewa menatap sahabatnya dengan rasa iba.
Selama lima tahun terakhir ia menyaksikan sendiri bagaimana Arkana menghukum dirinya sendiri.
Pria itu tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Tidak pernah membuka hati. Tidak pernah benar-benar bahagia hidupnya. Karena sebagian hidupnya ikut pergi bersama Kanaya.
Sadewa menghela napas panjang. "Jangan-jangan Kanaya sudah ma—"
PLAK!
Arkana memukul mulut Sadewa refleks. Dia tidak suka jika ada yang bicara seperti itu.
Sadewa sampai memalingkan wajah karena kerasnya pukulan itu. Sudut bibirnya sedikit robek.
Ruangan mendadak sunyi..Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara napas berat keduanya.
Arkana membeku. Tangannya masih terangkat. Mata pria itu memerah.
"Jangan pernah ngomong seperti itu!" bentaknya dengan suara bergetar. "Kanaya tidak mati!"
Sadewa perlahan menoleh kembali. Bukannya marah, tatapannya justru dipenuhi rasa iba.
"Sudah lima tahun, Arka! Dan tidak ada kabar sedikitpun yang kita dapatkan."
Arkana mengepalkan kedua tangannya. "Dia masih hidup."
"Kamu yakin?" tanya Sadewa.
"AKU YAKIN!" ucap Arkana dengan keras.
Bentakan itu menggema memenuhi ruangan. Dada Arkana naik turun. Dia seperti orang yang sedang mempertahankan satu-satunya harapan yang tersisa dalam hidupnya.
Sadewa menghela napas panjang. "Aku cuma mengkhawatirkan kamu, Arka."
"Aku tidak butuh kekhawatiran siapa pun," balas Arkana ketus.
"Kamu butuh kenyataan."
Kalimat itu menghantam Arkana seperti palu godam. Pria itu langsung berdiri.
"Aku tidak peduli kenyataan seperti apa. Selama aku belum melihat jasadnya sendiri, aku akan tetap percaya Kanaya hidup."
Sadewa terdiam. Ada sesuatu dalam suara Arkana yang membuatnya tidak mampu membantah. Itu bukan sekadar keyakinan.
Itu keputusasaan. Keputusasaan seorang laki-laki yang kehilangan seluruh dunianya.
Setelah Sadewa pergi, Arkana kembali sendirian. Seperti lima tahun terakhir yang selalu dia jalani. Ruangan kantor yang luas itu tiba-tiba terasa sesak.
Di luar sana, semua orang menganggap hidupnya sempurna. Direktur utama termuda, kaya raya, tampan, berpengaruh, dan memiliki perusahaan yang berkembang pesat. Namun, tidak ada yang tahu bahwa setiap malam dia tidur bersama penyesalan. Dan setiap pagi dia bangun bersama rasa kehilangan.
Arkana berjalan menuju jendela besar kantornya. Lampu-lampu kota terlihat berkelap-kelip dari lantai tertinggi gedung itu. Begitu banyak manusia yang sedang menjalani hidup mereka. Begitu banyak pasangan yang sedang tertawa bersama. Begitu banyak keluarga yang sedang berkumpul. Sementara dirinya sendirian dan terasa kosong.
Pandangan Arkana jatuh pada bingkai foto yang tersimpan di rak kecil dekat meja kerja. Tangannya gemetar saat mengambil benda itu.
Foto itu sudah mulai kusam. Foto seorang perempuan yang sedang berdiri di sampingnya, Kanaya. Wanita sederhana yang pernah dia sakiti dengan begitu kejam.
Arkana mengusap wajah dalam foto itu menggunakan ibu jarinya dengan perlahan dan penuh kerinduan.
"Maafkan aku, Aya."
Suara Arkana begitu lirih dan rapuh. Seakan-akan sedikit saja angin bertiup, maka suara itu akan hancur menjadi serpihan.
"Aku benar-benar minta maaf."
Mata pria itu mulai berkaca-kaca. Selama lima tahun dia mengucapkan kalimat yang sama. Namun, orang yang ingin mendengarnya tidak pernah ada di hadapannya.
"Aya, aku rindu kamu."
Arkana menutup mata. Dan seperti biasa kenangan lima tahun yang lalu itu kembali datang.
Hari pertama setelah Kanaya pergi. Arkana masih berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Dia yakin Kanaya hanya marah dan kecewa. Lalu, akan kembali beberapa hari kemudian. Karena semua orang tahu kalau Kanaya itu orang baik dan selalu memaafkan kesalahan orang kepadanya.
Namun, ketika keesokan harinya Arkana datang ke panti asuhan tempat Kanaya dibesarkan dan menjadi salah satu pengurus di sana, dia tidak mendapati wanita itu di sana. Seketika dia panik karena artinya Kanaya benar-benar pergi jauh dari semua orang.
Satu hari berubah menjadi satu minggu..Satu minggu berubah menjadi satu bulan. Kanaya tidak pernah kembali.
Rumah kontrakan kecil yang dulu mereka tempati kosong. Nomor teleponnya tidak aktif. Media sosialnya menghilang. Semua jejak Kanaya seakan ditelan bumi.
Saat itulah hidup Arkana mulai benar-benar hancur. Dia mendatangi semua tempat yang pernah dikunjungi Kanaya. Hasilnya wanita itu tidak ada sama sekali.
Kanaya benar-benar menghilang. Seolah tidak pernah hadir dalam hidup Arkana. Dan saat itulah Arkana menyadari sesuatu. Cintanya sudah habis diberikan untuk perempuan itu. Dia sangat mencintainya. Namun, semuanya terlambat.
Arkana menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Air matanya akhirnya jatuh, tetapi rasa sakit itu tidak pernah berkurang. Bahkan semakin hari terasa semakin tajam.
Arkana sadar kalau dirinya kehilangan Kanaya karena dirinya sendiri. Karena kebodohannya. Karena kesombongannya. Karena taruhan terkutuk yang dulu dianggapnya permainan biasa.
"Kalau saja waktu bisa diputar aku rela kehilangan semuanya. Asal tidak kehilangan kamu, Aya."
Air mata terus mengalir membasahi wajah Arkana. Tangannya mencengkeram pigura foto itu erat. Seolah takut foto itu ikut menghilang.
"Aku ingin bertemu dengan kamu, Aya."
Kalimat sederhana itu justru terdengar paling menyakitkan. Karena tidak ada jawaban, hanya kesunyian.
Arkana menundukkan kepala, bahu lebarnya bergetar. Menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan jalan pulang.
Sementara di luar sana, hujan mulai turun membasahi kota. Entah di belahan dunia yang mana dan dalam keadaan seperti apa? Apakah masih mengingatnya atau tidak? Wanita bernama Kanaya itu masih menjadi satu-satunya nama yang tidak pernah berhasil dihapus dari hati Arkana.
Satu-satunya luka yang tidak pernah sembuh. Dan satu-satunya penyesalan yang akan terus dia bawa sampai akhir hidupnya.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, Kanaya berjalan tergesa di tengah keramaian pusat perbelanjaan. Langkahnya tidak teratur, napasnya tersengal, sementara matanya bergerak liar, mencari ke segala arah.
“Abinaya...! Ayana...!”
Suaranya pecah, tenggelam di antara hiruk pikuk manusia. Ia terus berjalan, lalu berlari kecil, hampir menabrak beberapa orang.
“Maaf ... maaf!” ucap Kanaya terburu-buru tanpa benar-benar menatap mereka, suaranya bergetar, langkahnya goyah.
Pikiran Kanaya tidak berada di sana. “Ya Allah ...,” bisiknya gemetar. “Ke mana mereka ...?”
Ketakutan mulai merayap, perlahan berubah menjadi kepanikan yang terasa mencekik. Tempat ramai dan banyak orang asing. Langkah Kanaya terhenti dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan-jangan ...” Napas Kanya tercekat. “Ada yang menculik mereka?!”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!