NovelToon NovelToon

Grandmaster Yang Terlupakan

Bab 1 : Grandmaster Fana

Pagi di Kota Yunzhou selalu berbau tanah basah dan asap tungku.

Di sudut jalanan sempit dekat gerbang barat, sebuah kios kecil berdiri sederhana di antara deretan pedagang lain. Papan kayunya sudah agak kusam, tulisan di atasnya memudar dimakan hujan dan angin — Toko Buku Lin. Di balik meja yang dipenuhi tumpukan buku bergambar, seorang pemuda duduk santai sambil menyesap teh yang sudah setengah dingin.

Wajahnya biasa saja. Bukan tampan yang mencuri perhatian, bukan pula buruk yang mengundang pandang. Hanya tenang — tenang seperti kolam tua yang tak pernah terguncang angin.

Namanya Lin Qian.

Sebelum membuka kios setiap pagi, ia selalu meluangkan waktu di halaman sempit di belakang tokonya. Gerakan Tai Chi yang ia lakukan mengalir tanpa celah — setiap perpindahan bobot, setiap putaran pergelangan, sempurna hingga ke rincian terakhir. Bagi siapa pun yang mengerti seni bela diri murni, mereka akan menahan napas menyaksikannya. Keindahan yang nyaris seperti tarian langit.

Sayang, dunia ini tidak peduli dengan keindahan tanpa Qi.

Dua puluh tahun, batinnya datar, menatap langit pagi yang mulai ramai oleh titik-titik cahaya. Dan aku masih berjualan buku.

Cahaya-cahaya itu adalah para kultivator — murid sekte, pengembara pedang, atau sekadar orang berbakat yang bahkan lalat pun bisa mereka bunuh dari jarak seratus tombak. Mereka melesat seperti meteor di siang bolong, tak peduli dengan kerumunan manusia biasa di bawah mereka.

Yunzhou mendadak ramai bukan karena panen bagus atau festival musiman. Kabar sudah tersebar ke seluruh penjuru: Sekte Lingxue dan Sekte Xuanwu akan bertanding. Bukan latihan, bukan ujian — pertarungan hidup mati. Para pedagang menggelar lapak lebih pagi, pendekar jalanan menjajakan jimat dan ramuan murahan, semua orang sibuk mengais keuntungan dari hiruk-pikuk para orang kuat.

Lin Qian merapikan tumpukan bukunya dengan jempol.

Bukan urusanku.

Namun belum sempat ia menyesap tehnya lagi, dua sosok perempuan muncul dari kerumunan.

Yang pertama adalah gadis kecil berambut kepang dua, berlari setengah melompat dengan mata berbinar ke segala arah. Jubahnya putih bersih bergaris biru muda — seragam murid Sekte Lingxue yang mudah dikenali. Yang kedua berjalan beberapa langkah di belakangnya, dan orang-orang di sekitar tanpa sadar membuka jalan.

Wajar saja.

Wanita itu berjalan seperti salju turun — sunyi, dingin, dan terasa berat meski tak bersuara. Jubah putihnya tak berdebu walau jalanan penuh pasir. Rambutnya terikat rapi, wajahnya sempurna dengan ekspresi yang tampaknya sudah lama lupa cara tersenyum. Aura seorang kultivator berderajat tinggi memancar darinya seperti dinginnya lereng puncak gunung di musim salju.

Mei Lian. Salah satu murid terbaik Sekte Lingxue.

Adiknya, Xiao Rui, sudah lebih dulu berhenti tepat di depan kios Lin Qian. Mata beningnya menyapu tumpukan buku bergambar, lalu langsung bersinar.

"Kak, lihat! Gambarnya bagus sekali!" serunya, tangan kecilnya sudah hampir menyentuh salah satu buku.

"Xiao Rui."

Suara Mei Lian jatuh seperti es. Gadis kecil itu langsung menarik tangannya kembali.

Pandangan Mei Lian melintas sekilas ke arah Lin Qian — singkat, datar, mengandung sesuatu yang lebih menyakitkan daripada penghinaan langsung. Tatapan yang sama yang orang gunakan saat melihat batu di tepi jalan. Ia menilai, lalu mengabaikan.

"Kita ada urusan penting," ucapnya dingin. "Jangan buang waktu pada barang tak berguna buatan manusia biasa."

Manusia biasa.

Lin Qian menyesap tehnya. Tidak ada yang berubah di wajahnya.

Namun jauh di dalam dadanya, sesuatu terasa seperti bara yang diinjak pelan-pelan. Sudah dua puluh tahun ia hidup di dunia ini. Sudah dua puluh tahun ia menelan kata-kata seperti itu. Saluran tenaganya tersumbat sejak lahir — tak secuil pun bakat kultivasi mengalir dalam dirinya. Di mata para kultivator, ia memang tidak lebih dari semut.

Seandainya aku kuat, pikirnya pahit, sudah kuberi pelajaran wanita sombong itu.

Tapi ia tidak kuat. Jadi ia diam.

Xiao Rui menguncupkan bibir, matanya mulai mengembun. Mei Lian meliriknya sebentar, menghela napas panjang penuh ketidakrelaan, lalu melempar satu keping emas ke atas meja dengan gerakan setengah jijik — seperti melempar tulang untuk anjing jalanan. Tanpa bertanya harga, tanpa menunggu kembalian, ia mengambil satu buku sembarangan dan berbalik pergi.

"Ayo."

Xiao Rui mengikutinya, sempat berbalik melempar senyum kecil ke arah Lin Qian seolah meminta maaf atas kelakuan kakaknya.

Lin Qian menatap keping emas itu. Nilainya dua kali lipat harga buku mana pun di mejanya.

Ia mendengus pelan, lalu menyimpannya.

 

Beberapa saat kemudian, di lorong sepi di balik kedai teh tak jauh dari kios Lin Qian, Xiao Rui membuka buku itu dengan penuh semangat. Halaman demi halaman ia balik, sesekali bergumam kagum melihat gambar-gambar jurus yang digoreskan dengan tinta hitam tebal namun mengalir indah.

"Kak Mei, yang ini keren! Lihat caranya berdiri—"

"Simpan saja."

Tapi Xiao Rui sudah terlanjur menunjukkan halaman itu. Mei Lian hendak berpaling, namun sudut matanya menangkap sesuatu.

Sebuah pola.

Bukan gambar jurus biasa. Di sudut halaman terakhir, tersembunyi di balik goresan tinta yang tampak seperti hiasan belaka, terdapat susunan garis yang membentuk sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di tangan pedagang jalanan.

Niat Bela Diri.

Bukan tiruan. Bukan sketsa. Tapi niat sesungguhnya — jiwa seorang yang telah menembus batas tertinggi ilmu bela diri, tertuang dalam satu gambar seperti petir yang membeku di atas kertas.

Tubuh Mei Lian seketika menegang.

Benturan tak kasat mata menghantam kesadarannya seperti puncak gunung runtuh. Ia tidak sempat membela diri, tidak sempat mengalihkan Qi-nya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya sebelum ia menyadari dirinya sudah mundur dua langkah, lutut hampir bertekuk.

Tangannya gemetar memegang buku itu.

"Niat Bela Diri…" bisiknya, suaranya pecah tak percaya.

Di kejauhan, di balik meja kios kayu tuanya, Lin Qian masih menyesap teh yang sudah benar-benar dingin.

Tanpa tahu sama sekali apa yang baru saja terjadi.

-----bersambung bab 2 -------

Bab 2 : Kitab Tai Chi, Hadiah Guru

Musim gugur datang diam-diam ke Kota Yunzhou.

Daun-daun di tepi jalan mulai menguning, jatuh berputar pelan sebelum menyentuh tanah. Lin Qian berdiri sejenak di depan kiosnya, menatap jalanan yang tetap ramai seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang, pedagang berteriak menawarkan dagangan, dan di langit, sesekali kilatan cahaya melesat — para kultivator yang entah ke mana tujuannya.

Dua puluh tahun. Sudah dua puluh kali ia menyaksikan musim berganti di dunia ini.

"Hah, sudah siang." Ia melambaikan tangan ke arah warung mie daging sapi di seberang jalan. Pelayan di sana langsung mengangguk riang, hafal betul pesanan langganan tetapnya.

Lin Qian kembali bersandar di kursi malasnya. Matanya melayang ke arah sekelompok wanita muda yang sedang berkerumun di depan toko kosmetik, lalu menghela napas pelan. Pikirannya terlintas pada Ying'er — gadis tetangga yang dulu sering mampir ke kiosnya, cerewet dan menyenangkan. Sudah berbulan-bulan ia pergi, mengejar impian masuk sekte untuk berkultivasi.

Lebih baik ia tinggal di sini saja, pikir Lin Qian. Setidaknya hidupnya lebih tenang.

Tapi ia tidak bisa memaksa siapa pun. Ia hanya menghela napas lagi.

Pesanannya tiba. Semangkuk mie daging sapi mengepul harum, porsinya seperti biasa — melimpah ruah, hampir tidak muat di mangkuknya. Saat Lin Qian hendak membayar, pelayan itu menggeleng keras sambil tertawa.

"Tidak usah, Tuan Lin! Kalau bukan Anda yang menolong istri saya waktu itu, entah bagaimana nasibnya sekarang." Ia mendorong tangan Lin Qian kembali. "Ini belum sebanding dengan budi Anda."

Lin Qian tidak banyak menolak. Di lingkungan ini, ia memang dikenal bukan sebagai pedagang buku semata. Dengan ilmu pengobatan yang ia kuasai hingga puncak tertinggi, ia sering membantu warga biasa tanpa meminta imbalan. Tidak ada yang tahu dari mana ia belajar — dan ia tidak pernah menjelaskan. Para tetangga hanya menyebutnya Guru Lin, dengan hormat yang tulus.

Namun baru saja ia menyesap kuah pertamanya, keributan pecah di kejauhan.

Di depan gerbang cabang Sekte Lingxue yang berdiri megah di ujung jalan, seorang anak laki-laki berpakaian compang-camping didorong keluar dengan kasar. Tubuhnya kurus, wajahnya penuh goresan luka lama dan baru, tapi matanya — matanya memancarkan sesuatu yang tidak mudah padam.

Ia berlutut di depan gerbang yang tertutup rapat.

"Aku mohon! Aku ingin berkultivasi! Tolong izinkan aku masuk Sekte Lingxue!"

Seorang Tetua cabang keluar dengan wajah masam. Tanpa banyak kata, kakinya terayun — sebuah tendangan keras menghantam dada anak itu hingga terguling di tanah berbatu. Darah menetes dari bibirnya.

"Tidak berbakat, tidak tahu diri! Berani-beraninya datang lagi! Jika kau muncul di sini sekali lagi, jangan salahkan aku jika kakimu tidak bisa berjalan pulang!"

Pintu gerbang ditutup. Keras.

Anak itu terbatuk, meringkuk sebentar menahan sakit. Tapi matanya tidak meninggalkan pintu itu.

"Kasihan sekali," desah pelayan warung di samping Lin Qian. "Begitulah dunia ini, Tuan Lin. Tanpa bakat, kau bukan siapa-siapa."

Lin Qian tidak menjawab. Ia menatap anak itu dengan tatapan yang sulit dibaca.

Aku mengerti perasaan itu.

Anak itu akhirnya bangkit dengan langkah berat. Saat melewati depan warung, matanya melirik sekilas ke mangkuk mie yang masih beruap — lalu cepat-cepat berpaling, menelan ludah diam-diam. Ia terus berjalan.

Namun baru dua langkah, ia berhenti.

Ia membungkuk, mengambil sesuatu dari tanah — sebuah keping emas yang tergeletak di antara debu jalanan. Koin yang dulu dilempar Mei Lian sebagai bayaran. Lin Qian memang sengaja tidak mengambilnya.

Anak itu menoleh ke arah kios Lin Qian dengan ragu.

"Pak Pemilik Toko… apakah ini milik Anda? Saya menemukannya di sini."

Lin Qian tertegun.

Anak itu baru saja diusir, kelaparan, dan mungkin tidak tahu malam ini akan tidur di mana. Namun ia tetap berdiri di sana, mengulurkan koin itu dengan tangan gemetar — bukan karena takut, melainkan karena memang begitulah wataknya.

"Ya, itu milikku," jawab Lin Qian tenang. Ia menatap anak itu sebentar, lalu tersenyum tipis. "Tapi sekarang… itu milikmu. Ambillah."

Mata anak itu membelalak. Ia membungkuk berkali-kali, lalu setengah berlari ke warung mie dan memesan dengan suara bergetar penuh semangat. Lin Qian mengangguk ke arah pelayan — porsi lebih banyak, kekurangannya ia yang tanggung.

Setelah mangkuk kosong dan perut kenyang, anak itu — bernama Han Yu — berlari menghampiri Lin Qian dan berlutut langsung di tanah.

"Wahai Guru yang mulia! Saya sudah memikirkannya matang-matang. Saya tidak punya bakat, ditolak di mana-mana. Tapi Guru adalah orang paling mulia yang pernah saya temui seumur hidup." Kepalanya menyentuh tanah. "Mohon terima saya sebagai murid. Han Yu bersedia mengabdi sepenuh hati — seperti anjing atau kuda pun saya rela!"

Lin Qian menatapnya lama.

Ia tidak pernah berniat menerima murid. Hidupnya sudah cukup tenang tanpa komplikasi tambahan. Tapi melihat anak ini — tulang punggung yang tidak mau patah meski sudah berkali-kali diinjak — ia tidak sanggup berkata tidak.

"Baiklah. Aku terima kau."

Han Yu bersorak, bersujud sampai dahinya merah.

Lin Qian membawanya masuk ke ruang dalam kios. Matanya jatuh pada pedang berkarat yang tergantung di pinggang murid barunya — pedang murahan yang bahkan gagangnya sudah retak. Ia diam sebentar, lalu membuka lemari kayu tua di sudut ruangan.

Di dalamnya tersimpan sebuah pedang panjang. Karya tangannya sendiri — ditempa dengan ilmu pandai besi yang telah ia kuasai hingga setara dengan kehebatan para dewa. Begitu terhunus sedikit saja, cahaya dingin menyilaukan memenuhi ruangan.

"Guru tidak punya harta kekayaan, dan tidak bisa mengajarimu teknik kultivasi." Lin Qian menyodorkan pedang itu. "Tapi ini… ambillah. Hadiah dari gurumu."

Han Yu menerimanya dengan kedua tangan gemetar. Matanya berkaca.

"Murid akan menjaganya dengan nyawa!"

Jauh dari keramaian Yunzhou, di puncak Gunung Baiyun yang diselimuti awan abadi, Mei Lian melangkah cepat memasuki aula utama Sekte Lingxue.

Di singgasana batu giok di ujung aula, Patriark Tianhe duduk dengan mata terpejam — tenggelam dalam kultivasi tertutupnya. Aura dahsyat yang memancar darinya membuat udara di sekitar terasa berat seperti sebelum badai.

Mei Lian berlutut. "Guru, maafkan gangguan ini. Tapi murid membawa sesuatu yang harus Guru lihat sendiri."

Patriark Tianhe membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin. "Apa yang berani kau bawa ke hadapanku saat aku berkultivasi?"

Mei Lian menyodorkan kitab itu dengan kedua tangan.

Patriark Tianhe menatapnya sebentar dengan jijik — sebuah buku lusuh, tidak memancarkan energi apa pun, tampak seperti sampah jalanan. Ia hampir menolak, namun mengingat muridnya yang tidak pernah berlaku sembrono, ia membukanya dengan enggan.

Halaman pertama.

Tubuhnya langsung menegang.

Wajahnya berubah — kekagetan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Seperti seseorang yang seumur hidup menatap cahaya lilin, tiba-tiba berhadapan langsung dengan matahari.

Tangannya gemetar memegang buku itu.

Di hadapan goresan tinta yang ditulis santai namun mengandung makna seluas langit dan bumi, Patriark Tianhe — seorang ahli tingkat Roh Bela Diri yang ditakuti ribuan orang — merasa dirinya tidak lebih dari seorang murid baru yang baru belajar berdiri.

"Ha ha ha ha!"

Tawa menggelegar meledak dari dadanya. Aura dahsyat yang selama ini tersimpan rapi meluap tak terkendali — rambutnya terangkat tanpa angin, lantai aula retak di bawah kakinya. Tubuhnya melesat ke atas, menembus atap aula, meroket tinggi ke angkasa.

Di bawah, Mei Lian hanya memandang ke atas dengan tenang.

Kini ia semakin yakin.

Pemuda berpenampilan sederhana yang duduk santai di kios buku pinggir jalan itu — bukan manusia biasa. Sama sekali bukan.

-----bersambung bab 3 ------

Bab 3 : Mencurigai Sosok Kuno

Langit di atas Gunung Baiyun masih berputar perlahan ketika Patriark Tianhe akhirnya mendarat kembali di halaman aula utama.

Aura Raja Bela Diri yang baru saja ia terobos masih bergemuruh di dalam tubuhnya — hangat, penuh, dan terasa seperti sungai besar yang akhirnya menemukan muaranya. Selama puluhan tahun ia terjebak di puncak ranah Roh Bela Diri, menatap batas itu dari dekat namun tak pernah mampu melangkahinya. Kini, hanya berkat satu kitab lusuh dari tangan seorang pedagang jalanan, ia melompati batas itu seolah melangkahi genangan air.

Lompatan ikan mas melewati Gerbang Naga. Itulah yang baru saja terjadi.

"Wahai Xuanwu…" gumamnya sambil menatap langit dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Kau memaksaku menerima duel itu dengan percaya diri, tapi andai kau tahu bahwa aku kini telah mencapai ranah Raja Bela Diri… aku sangat penasaran seperti apa wajahmu nanti saat kita bertemu."

Di bawahnya, Mei Lian berlutut penuh hormat. "Selamat kepada Guru atas keberhasilan menerobos ke ranah Raja Bela Diri. Ini anugerah besar bagi seluruh sekte kita."

Patriark Tianhe turun dan mengangkat muridnya berdiri dengan kedua tangan, matanya memancarkan kelembutan yang jarang ia tunjukkan. "Xue'er, bangunlah. Jasamu kepada Sekte Lingxue tidak akan pernah terlupakan."

Mei Lian menunduk rendah. "Itu hanya kewajiban murid."

"Baiklah." Patriark Tianhe mengelus kitab yang kini terasa begitu berharga di tangannya. "Tadi aku terlalu sibuk hingga lupa bertanya. Ceritakan padaku — Senior Agung itu, seperti apa sosoknya?"

Mei Lian diam sejenak, mengumpulkan bayangan itu dalam ingatannya. "Dia terlihat sangat muda. Tampan, tapi bukan tampan yang mencolok. Auranya tenang — tenang sekali, seperti danau yang tidak pernah berangin. Saat itu aku belum sadar, tapi sekarang setelah kukenang kembali… setiap gerak-geriknya memancarkan kedalaman seorang Grandmaster yang telah melihat segalanya. Dia hanya duduk santai, mengelola kios kecil, dan menjual banyak sekali buku bela diri bergambar."

"Banyak buku bela diri?!" Patriark Tianhe tersentak, mulutnya terbuka lebar.

Mei Lian mengangguk.

Wajah Patriark Tianhe berubah serius. Ia menatap muridnya dengan tatapan penuh peringatan. "Xue'er, dengarkan baik-baik. Jangan pernah menilai orang ini dari penampilan atau usianya. Berdasarkan semua yang kau ceritakan… aku curiga dia bukan sekadar ahli yang menyembunyikan diri. Aku curiga dia adalah sosok yang sangat tua — makhluk yang telah hidup ribuan tahun, jauh melampaui perhitungan kita. Kultivasi orang ini… kemungkinan besar telah berada di ranah Kaisar Bela Diri."

"Kaisar… Bela Diri?!"

Mei Lian sangat paham hierarki kekuatan dunia ini. Seniman Bela Diri, Guru Bela Diri, Guru Bela Diri Agung, Roh Bela Diri, Raja Bela Diri, lalu Kaisar Bela Diri. Di atasnya masih ada tingkatan lain, namun itu hanya legenda. Sosok yang mencapai Kaisar Bela Diri ibarat naga suci — hampir tak pernah terlihat. Bahkan Pendiri Sekte Lingxue yang dulu membelah gunung dengan satu tebasan pedang pun konon hanya setingkat Kaisar Bela Diri.

"Kita harus mengunjunginya langsung," kata Patriark Tianhe dengan tekad bulat. "Bersiaplah, kau harus ikut bersamaku turun gunung."

Tubuh Mei Lian seketika membeku.

"Guru… saya… saya tidak berani."

"Ada apa?"

"Saya… khawatir telah menyinggung perasaan Senior itu." Suaranya pecah pelan. Rasa cemas yang selama ini ia pendam akhirnya meluap. Dengan gugup dan terbata-bata, ia menceritakan semua yang terjadi — cara ia memandang rendah Lin Qian, nada bicaranya yang dingin, dan cara ia melempar satu keping emas seolah memberi sedekah kepada pengemis.

Wajah Patriark Tianhe merah padam.

"Guru… murid bersalah!" Mei Lian membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali, air mata mengalir tanpa ia sadari. "Saat itu aku sungguh bodoh! Aku mengiranya hanya manusia biasa!"

"Kau…" Patriark Tianhe menunjuk ke arahnya, napasnya memburu menahan amarah sekaligus kepanikan. "Bahkan jika dia benar-benar manusia biasa, dasar budi pekertimu itu sangat kurang! Apalagi kini kita tahu sosok itu bisa meratakan sekte ini hanya dengan satu jentikan jari! Kau melempar satu keping emas?! Kau sungguh beruntung masih bisa berdiri di sini dengan utuh!"

"Saya… pikiran saya sedang kacau karena memikirkan duel Guru. Dan saya hanya membawa satu keping emas saat itu…"

Patriark Tianhe terdiam panjang. Napasnya berat.

"Untungnya adikku, Xiao Rui, ada di sana," lanjut Mei Lian pelan, mencari secercah harapan. "Senior itu tidak marah. Dia malah tersenyum dan memberikan buku kepada Xiao Rui secara cuma-cuma. Mungkin… mungkin karena adikku terlihat polos, itulah yang menyelamatkan aku dan seluruh sekte ini."

Patriark Tianhe menghela napas lega, namun wajahnya tetap tegas. "Justru karena itulah kau wajib ikut. Kau harus meminta maaf secara langsung."

"Tapi bagaimana jika kehadiran saya malah membangkitkan amarahnya?"

"Kau pikir dengan bersembunyi, dia tidak akan tahu kau muridku?" Patriark Tianhe mendengus. "Dengan wawasan Senior itu, dia sudah tahu segalanya sejak awal. Dia membiarkanmu pergi berarti dia tidak menganggapnya penting. Justru jika kita berpura-pura tidak tahu, itulah yang akan membuatnya benar-benar jijik."

Mei Lian akhirnya menguatkan hatinya. "Baiklah, Guru. Apa pun keputusan Senior itu nanti, murid siap menerimanya."

Patriark Tianhe mengangguk. Keduanya berubah menjadi dua garis cahaya yang melesat menuju Kota Yunzhou.

 

Sementara itu, di jalanan Kota Yunzhou yang ramai seperti biasa, Lin Qian berjalan santai sambil menenteng labu anggur besar.

"Han Yu, latih terus gerakan pukulanmu. Guru mau beli anggur sebentar," pesannya tadi sebelum keluar, meninggalkan muridnya yang rajin berlatih di dalam kios.

Sepanjang jalan, hampir semua orang yang berpapasan menyapanya hangat. Lin Qian membalas dengan senyum santai — ia sudah seperti bagian dari jalanan itu sendiri. Bahkan beberapa wanita di lantai atas kedai minuman memanggilnya riang, mengajaknya minum gratis. Lin Qian hanya tertawa canggung dan melanjutkan langkahnya.

Namun baru beberapa langkah, keributan besar pecah di tengah jalan.

Para pedagang dan warga berlarian sambil membawa galah dan tongkat panjang, berteriak-teriak bersemangat mengejar sesuatu.

"Tuan Lin! Cepat ke sini! Ada anjing gila aneh yang muncul entah dari mana! Dagingnya pasti empuk, pas sekali untuk teman minum anggurmu!"

Lin Qian mengintip penasaran. Di tengah kerumunan, sesosok makhluk berbulu abu-abu berlari kian kemari dengan panik, raungannya terdengar menyedihkan.

Sialan! jerit batin makhluk itu. Aku ini Serigala Iblis Pemakan Surga yang agung! Makhluk yang ditakuti seluruh dunia iblis! Kenapa aku malah dikejar manusia-manusia rendahan ini seperti anjing kampung?! Kalau tenagaku tidak tersegel habis, sudah kujadikan abu kota ini!

Serigala iblis itu panik mencari celah kabur. Matanya menemukan jalan kosong — hanya ada satu pemuda santai berdiri di sana dengan labu anggur di tangan.

Itu dia jalan keluarku. Manusia biasa yang lemah itu tidak akan berani menghalangi. Aku masih punya sisa sedikit tenaga iblis — cukup untuk menyingkirkan satu manusia fana ini.

Serigala itu menundukkan kepala, energi samar bersinar di dahinya, lalu melesat bagai anak panah tepat ke arah Lin Qian.

"Eh, nekat juga ya," gumam Lin Qian santai.

Ia mengangkat satu kaki dengan tenang. Jurus paling dasar yang pernah ada — Kaki Shaolin, yang telah ia latih hingga puncak tertinggi yang bisa dicapai manusia.

DUAR!

Satu benturan keras.

Ekspresi angkuh di wajah serigala itu membeku seketika. Rasanya seperti menabrak gunung baja. Pusing menyergap, dan yang paling mengerikan — sisa tenaga iblis terakhirnya lenyap begitu menyentuh telapak kaki pemuda itu. Seperti nyala lilin yang ditiup badai.

Mengapa…?!

Itu pikiran terakhirnya sebelum tubuh besar itu terlempar, berputar dua kali di udara, lalu jatuh diam tak bergerak.

"Wah, hebat Tuan Lin! Sekali tendang langsung beres!" sorak para warga.

"Hahaha, keberuntungan saja." Lin Qian mengangkat ekor serigala itu dengan satu tangan, menentengnya santai. Tangan kirinya masih memegang labu anggur. "Kalau begitu aku terima hadiahnya ya! Ada daging, ada anggur — enak sekali malam ini!"

Sambil tertawa, ia melanjutkan langkahnya menjauh.

 

Tak lama setelah kepergiannya, dua sosok melayang turun perlahan di ujung jalan yang lain.

"Di sinilah tempatnya, Guru," bisik Mei Lian dengan suara bergetar, menunjuk kios sederhana di depannya.

Patriark Tianhe mengangkat kepala, menatap bangunan kecil itu. Biasa saja — meja kayu tua, tumpukan buku, dan sebuah plakat kayu di atas pintu bertuliskan satu kata: BELA DIRI.

Begitu pandangannya jatuh pada tulisan itu, napasnya seakan berhenti.

Karakter itu seolah hidup. Berubah menjadi kepalan tangan raksasa yang menyimpan kekuatan langit dan bumi, menghantam langsung ke arah kesadarannya.

"Ugh!"

Patriark Tianhe mundur terhuyung beberapa langkah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi punggung jubahnya.

"Guru!" Mei Lian buru-buru menopangnya. "Ada apa?!"

"Saya tidak apa-apa…" Patriark Tianhe menghela napas panjang, matanya menatap plakat itu dengan kekaguman dan ketakutan yang bercampur aduk. "Xue'er… tulisan itu saja sudah mengandung Niat Bela Diri yang murni dan dahsyat. Cukup untuk menghancurkan roh jiwa seorang ahli sepertiku jika aku lengah sedikit saja."

Ia menelan ludah.

"Tadi aku mengira dia setingkat Kaisar Bela Diri… tapi sekarang aku sadar betapa buta perkiraanku itu. Di hadapan sosok ini, Kaisar Bela Diri pun tidak lebih dari anak kecil yang sedang bermain lumpur."

Mei Lian menatap plakat kayu itu, lalu menatap gurunya. Hatinya bergetar.

Betapa kecil dan sempitnya dunia yang selama ini mereka anggap luas.

-----Bersambung bab 4 -----

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!