“Aditya, kapan kalian kasih Ibu cucu?” tanya Bu Ratih sedikit mengeluh dan kesal.
Aditya yang duduk di sofa hanya menghela napas pendek. Dia bersandar, satu tangan masih memegang ponsel, seolah pertanyaan itu hanyalah angin lalu yang sudah terlalu sering lewat.
“Ya, mau bagaimana lagi, Bu,” jawab pria itu santai, nyaris tanpa beban. “Kemuning sampai sekarang belum hamil juga.”
Di balik pintu depan, langkah Kemuning terhenti. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu mendadak kaku dan dingin. Dia tidak jadi masuk.
“Kalau Kemuning tidak bisa kamu kasih anak,” lanjut Bu Ratih, nada suaranya turun, namun justru lebih menusuk, “cari saja wanita lain yang subur!”
Kalimat itu menghantam seperti petir. Napas Kemuning tercekat. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Dia menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa ada yang mengganjal.
“Bu, tidak semudah itu!” balas Aditya, kali ini sedikit lebih serius. “Pastinya Kemuning enggak akan setuju kalau dipoligami.”
Sejenak ada harapan kecil yang menyelinap di hati Kemuning. Namun, harapan itu runtuh bahkan sebelum sempat tumbuh.
“Ya, salah dia!” potong Bu Ratih cepat. “Enggak bisa memberi keluarga kita keturunan!” Suara Bu Ratih meninggi.
“Jadi wanita mandul itu harusnya tahu diri!” lanjut wanita paruh baya itu ketus, penuh penekanan. “Orang berumah tangga itu ingin memiliki penerus.”
Kata “mandul” itu seperti dilempar tepat ke wajah Kemuning.
Di balik pintu, Kemuning masih diam mematung. Dadanya semakin terasa sesak dan sakit mendengar ucapan barusan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya ibu mertuanya akan bilang begitu.
Kemuning tidak bisa membendung air matanya. Sebelah tangannya menutup mulutnya erat-erat agar suaranya tidak lolos keluar. Niat dia kembali ke rumah untuk membawa dompet yang tertinggal, malah mendengar pembicaraan suami dan ibu mertuanya yang menyakitkan.
Sementara itu, di dalam suasana mendadak hening. Aditya tidak menjawab atau membantah, apalagi membela istrinya. Pria itu hanya diam. Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.
“Jangan sampai keturunan keluarga kita terputus di kamu, Aditya,” ujar Bu Ratih lagi, kali ini lebih pelan, tetapi setiap katanya terasa tajam. “Kamu harus punya anak.”
Kemuning memejamkan mata. Selama lima tahun dia bertahan dalam rumah ini, menelan hinaan dan menyimpan luka. Selalu memaksa untuk tersenyum di depan mereka yang terus menyudutkannya.
Padahal bukannya dia tidak pernah berusaha. Mereka sudah tiga kali pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tiga kali pula dia menggenggam hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar.
Setiap kali melakukan pemeriksaan hasilnya selalu sama, normal. Dokter mengatakan mereka hanya perlu bersabar. Namun, kesabaran itu seolah tidak pernah cukup bagi keluarga ini.
“Ya, akan aku usahakan, Bu.”
Suara Aditya memecah lamunan Kemuning.
“Aku harus segera pergi ke peternakan. Sekarang semakin banyak permintaan ayam potong dari pasar induk.”
“Lihatlah!” Suara Bu Ratih kembali meninggi, diiringi bunyi kursi yang didorong. “Harta kamu sudah banyak, usaha kamu juga maju. Buat apa itu semua kalau tidak punya keturunan!”
“Iya, Bu,” balas Aditya singkat dan datar. Seolah semua itu tidak penting untuk diperdebatkan.
Terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu. Kemuning tersentak dan panik. Dia mundur cepat, hampir tersandung kakinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, wanita itu berlari memutar ke samping rumah. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan.
Pintu belakang didorong pelan, Kemuning segera masuk. Rumah itu masih sama, tetapi terasa berbeda. Seolah dinding-dindingnya baru saja membisikkan rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.
Tubuh Kemuning masih gemetar. Air matanya belum berhenti. Di atas meja dapur, dompetnya tergeletak begitu saja. Dia menatap benda itu beberapa detik dengan tatapan kosong.
Dari depan rumah, suara motor terdengar dinyalakan. Kemuning tersentak kecil. Dia buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangan, meski jejaknya masih jelas di pipi. Dia meraih dompet itu cepat.
Suara motor Aditya semakin menjauh. Kemuning berdiri diam beberapa detik. Lalu, melangkah keluar lagi, masih lewat pintu belakang. Dia tidak ingin bertemu Bu Ratih.
Langkah Kemuning pelan saat menyusuri jalan kecil menuju pasar. Jaraknya hanya satu kilometer, tetapi hari ini terasa lebih jauh.
Kata-kata ibu mertuanya terus terngiang. “Wanita mandul harus tahu diri!”
Bibir Kemuning bergetar. “Aku tidak mandul,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Tangannya tanpa sadar mengepal. Hatinya juga terasa perih.
Namun, di balik luka itu ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Sebuah rasa yang belum sempat ia kenali. Sesuatu yang terasa ganjil dan tidak beres.
Langkah Kemuning terhenti sejenak di tepi jalan. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya mulai berputar.
Tiga kali pemeriksaan semuanya normal. Lalu kenapa dirinya belum juga hamil? Napas Kemuning tertahan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pertanyaan itu muncul.
Selama belanja pikiran Kemuning kacau. Beberapa kali dia salah menyebut barang yang akan dibeli atau tertukar ukuran beratnya.
Sepulang dari pasar, Kemuning buru-buru memasukan pakaian ke dalam mesin cuci. Lalu, ditinggal dengan melakukan pekerjaan lainnya, menyapu rumah dan halaman, kemudian memasak. Setelah matang, dia baru mengepel. Karena Bu Ratih tidak suka jika lantai dapur licin.
"Sudah selesai masaknya?" Tiba-tiba saja Bu Ratih muncul di dapur.
Kemuning yang baru saja masuk ke rumah, selesai menjemur pakaian, dibuat terkejut. "Sudah, Bu," jawabnya sopan. "Ibu makannya mau di sini atau mau sambil nonton TV?"
"Kamu bawakan ke depan! Ibu mau makan sambil nonton acara gosip pagi."
Kemuning pun dengan cekatan menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya. Dia sudah hafal betul bagaimana kebiasaan Bu Ratih. Wadah nasi, sayuran, atau lauk lainnya harus dipisah-pisah. Lalu, air minumnya juga harus teh tawar hangat.
Bu Ratih tersenyum lebar ketika melihat acar ikan patin, nasi hangat, tahu goreng, sambal, lalapan segar, dan kerupuk. Setelah Kemuning menjadi menantunya, dia sering dimanjakan dengan makanan enak.
"Cepat kamu antar makanan untuk Aditya! Kasihan dia belum makan. Dia yang capek cari uang. Harus diperhatikan makanannya," ucap Bu Ratih. Dia tidak perduli sang menantu juga lapar dan lelah.
"Iya, Bu. Ini aku bersiap mau pergi," balas Kemuning.
Di atas meja makan sebuah rantang bersusun berisi makanan untuk Aditya sudah disiapkan oleh Kemuning. Selama ini dia selalu bersemangat jika melakukan pekerjaannya karena itu baktinya sebagai seorang istri dan menantu. Namun, ucapan Aditya dan Bu Ratih tadi pagi membuat Kemuning kehilangan semangat.
Dari rumah ke peternakan jaraknya cukup jauh, sekitar dua setengah kilometer. Jadi, Kemuning naik motor ke sana.
Sementara itu, Aditya sedang berpelukan dan berciuman mesra dengan seorang wanita, di ruang dapur. Namanya Lavanya, satu-satunya karyawan wanita yang bekerja di sana.
“Mas, kapan mau menikahi aku?” tanya Lavanya manja sambil mengelus pipi Aditya.
“Kamu harus sabar, Sayang,” jawab Aditya sambil menjawil dagu wanita itu.
“Apa sulitnya menceraikan Mbak Kemuning?”
Kemuning memarkirkan motor dekat pintu pagar, beberapa orang menyapanya ramah. Dia harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke sebuah pondok yang dijadikan kantor oleh Aditya.
Ketika masuk, tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan Kemuning tidak mendapati suaminya di ruang kerjanya.
"Mas Aditya di mana, ya?" batin Kemuning sambil berjalan ke arah ruangan paling belakang.
Terdengar suara tawa dari arah dapur. Kemuning mengerutkan kening, lalu berjalan cepat ke sana.
Kemuning masuk ke dapur. Di sana Aditya sedang duduk di kursi, menikmati secangkir kopi. Sementara Lavanya berdiri dekat kabinet, sedang membuat teh.
“Mas ...,” panggil Kemuning berjalan mendekat.
“Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar,” kata Aditya ketus.
Alis Kemuning mengerut karena tiba-tiba saja suaminya marah. Dia melihat jam di dinding, baru pukul delapan. Waktu biasanya dia mengirim makanan.
“Wangi sekali masakan Bu Kemuning. Pasti enak!” puji Lavanya ketika melihat makanan di tata di atas meja. Sementara dalam hatinya dia mengumpat Kemuning karena sudah mengganggu kebersamaannya dengan Aditya, tadi.
“Anya, ayo, makan bersama! Katanya kamu belum sarapan," ajak Aditya sambil menarik kursi di sebelahnya.
“Memangnya boleh, Pak?” tanya Lavanya sambil duduk.
“Tentu saja boleh,” jawab Aditya dengan senyum lebar. “Kamu, tuh, butuh tenaga untuk kerja. Kalau nanti tiba-tiba kamu pingsan, aku bisa berabe.”
Melihat interaksi keduanya, Kemuning sangat kesal. Karena dia juga lapar dan belum makan apapun. Sementara porsi makanan yang dibawa hanya cukup untuk dua orang.
“Tapi, Mas—”
“Bukannya kamu sering bilang harus berbuat baik dan kasih perhatian sama karyawan,” ujar Aditya dengan tatapan sinis. Dia menahan kesal dan ingin mengusir Kemuning dengan cara halus.
Padahal maksud Kemuning, berbuat baik dan perhatian kepada karyawan itu bukan seperti itu bentuknya.
Diam-diam Lavanya tersenyum. Dia senang melihat Aditya memojokan istrinya.
“Kalau begitu aku pulang,” kata Kemuning dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh Aditya juga Lavanya.
Sore itu, langit mulai meredup, menyisakan cahaya jingga yang masuk dari celah jendela rumah. Kemuning baru saja selesai merapikan dapur, sehabis masak, ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar.
Aditya keluar dengan langkah cepat, rambutnya masih basah, aroma sabun masih melekat di tubuhnya. Pria itu masuk kamar, langsung menuju lemari, mengambil pakaian dengan tergesa, seperti seseorang yang dikejar waktu.
Kemuning yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa berdiri diam di dekat meja. Ada rasa asing yang mengendap di dadanya. Seperti ada sesuatu yang sedang dia lewatkan, sesuatu yang tidak dia ketahui. Dia pun menyusul masuk ke kamar.
“Mas, mau ke mana?” tanya Kemuning pelan sambil menutup pintu.
Aditya tidak menoleh. Dia hanya menarik kemejanya dengan kasar, lalu memakainya sambil berjalan melewati Kemuning, seolah kehadiran istrinya tidak lebih dari bayangan di sudut ruangan.
“Aku ada urusan penting,” jawab pria itu singkat dan datar.
Langkah Aditya terus berlanjut menuju pintu depan.
“Ini sudah sore dan sebentar lagi waktunya makan,” lanjut Kemuning, suaranya sedikit bergetar. Dia hanya mengingatkan dan berharap didengar. Namun, harapan itu langsung runtuh.
“Berisik!” bentak Aditya tiba-tiba, suaranya keras, membuat Kemuning tersentak. “Aku mau pergi ke mana pun, kamu tidak bisa melarang!”
Kemuning membeku di tempat. Kata-kata itu terasa seperti tamparan yang keras, membuat telinganya berdengung. Dia bahkan tidak sempat menjelaskan bahwa dia tidak pernah berniat melarang. Belum sempat wanita itu berkata apa-apa, suara lain muncul dari belakangnya.
“Kamu itu jadi istri jangan suka mengekang suami.”
Kemuning menoleh perlahan. Bu Ratih berdiri di sana, kedua tangannya bersedekap, wajahnya dingin tanpa sedikit pun empati.
“Biarkan Aditya bebas pergi ke mana pun yang dia mau,” lanjut wanita paruh baya itu dengan nada yang tegas, seolah sedang menghakimi.
Kemuning menunduk. Jantungnya berdetak tidak teratur. Dia ingin menjelaskan dan ingin mengatakan bahwa dia hanya khawatir, tetapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Di depan rumah, suara mesin mobil menyala, lalu perlahan menjauh. Meninggalkan keheningan yang terasa begitu berat.
Kemuning masih berdiri di tempatnya. Tangannya saling menggenggam erat, menahan gemetar yang mulai menjalar. Perasaannya sangat tidak enak. Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi di luar jangkauannya. Sesuatu yang perlahan merenggut semua yang ia percaya. Namun, dia tidak tahu apa itu.
Malam harinya, suasana rumah tidak menjadi lebih baik. Justru terasa semakin dingin. Kemuning berdiri di dapur, tangannya sibuk membereskan piring dan peralatan masak. Air mengalir dari keran, suara gemericiknya mengisi keheningan yang menyesakkan. Matanya sembab, tetapi dia terus bekerja, seolah dengan begitu dia bisa melupakan semuanya.
Semua yang ia lihat di peternakan tadi terus berputar di kepalanya. Cara Aditya berbicara pada wanita lain dengan suara yang tidak pernah lagi ia dengar ditujukan padanya. Dada wanita itu kembali terasa perih.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah depan. Aditya sudah pulang, tanpa melihat ke arahnya apalagi menyapa. Pria itu langsung masuk ke kamar.
Kemuning menghela napas pelan. Dia mengeringkan tangannya, lalu hendak menyusul, berharap setidaknya malam ini bisa berjalan tanpa pertengkaran. Namun, harapan itu lagi-lagi tidak diberi kesempatan.
“Mana air minum?” Suara Aditya terdengar tajam dan keras.
Kemuning tersentak. Jantungnya berdegup cepat. Wanita itu segera kembali ke dapur, tangannya sedikit gemetar saat menuangkan air. Dia bergegas menuju kamar, langkahnya cepat namun hati-hati. Namun, begitu dia masuk Aditya menatapnya dengan kesal, alisnya berkerut tajam.
“Kamu ini bagaimana, sih?! Hal seperti ini saja harus diingatkan!”
Kemuning langsung menunduk. Jemarinya mencengkeram gelas itu erat, seolah itu satu-satunya yang bisa dia pegang agar tidak runtuh. “Maaf, Mas, aku lupa,” ucapnya pelan. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar.
“Selalu lupa!” bentak Aditya lagi, lebih keras dari sebelumnya. “Apa gunanya kamu di rumah kalau urus suami saja tidak becus!”
Kata-kata itu sangat tajam, menghantam tepat di dada Kemuning. Itu menyakitkan dan mengoyak bagian yang sudah rapuh sejak siang tadi.
Namun, Kemuning tidak melawan. Dia hanya menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan getaran yang ingin keluar. Menahan tangis yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Bu Ratih yang lewat depan kamar dan mendengar keributan itu hanya menggeleng pelan. Mertuanya itu tidak merasa kasihan, malah memprovokasi.
“Memang begitu kalau istri tidak bisa diandalkan dan berguna,” ucap Bu Ratih, cukup keras untuk terdengar jelas. “Sudah tidak bisa kasih anak, urusan rumah juga berantakan.”
Kalimat itu kembali menghantam luka lama Kemuning yang terus dibuka paksa, berulang-ulang, tanpa diberi kesempatan untuk sembuh.
Kemuning memejamkan matanya erat. Napasnya tertahan. Dadanya terasa sesak, seolah tidak ada lagi ruang untuk udara masuk. Selalu saja itu yang dibahas ibu mertuanya, wanita mandul, tidak becus, atau tidak berguna.
Sudah sejak lama semua kata itu berputar di kepala Kemuning, semakin lama semakin keras, semakin menekan. Dan perlahan tanpa dia sadari, dia mulai mempercayainya. Bahwa semua ini memang salahnya. Bahwa mungkin, dia memang tidak cukup baik.
Kemuning berdiri dengan tubuh yang masih tegak, tetapi hati yang perlahan hancur sedikit demi sedikit, tanpa ada yang benar-benar peduli. “Kenapa nasibku seperti ini? Aku aku tidak berhak untuk hidup bahagia dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain?”
Suatu hari, matahari terasa jauh lebih terik dari biasanya. Cahaya menyengat jatuh lurus ke jalanan yang tampak berkilau karena panas. Udara terasa berat, membuat napas sedikit sesak dan tubuh cepat lelah, bahkan untuk sekadar berdiri terlalu lama. Di dalam rumah, suasana tetap hening, tetapi bukan ketenangan yang terasa, melainkan kesunyian yang menekan.
“Kemuning!” suara Bu Ratih memanggil dari ruang tengah dengan nada tajam seperti biasa.
Kemuning yang sedang merapikan dapur langsung berhenti dan menjawab pelan, “Iya, Bu?”
Bu Ratih tanpa basa-basi berkata, “Belikan Ibu buah-buahan. Ibu mau rujak. Panas begini enaknya makan yang segar.” Itu bukan permintaan, melainkan perintah.
“Iya, Bu,” jawab Kemuning singkat tanpa bertanya apa pun. Ia segera mengambil dompetnya, jemarinya bergerak pelan seolah kehilangan tenaga.
Kemuning merasa langkahnya berat saat keluar rumah, tidak seperti biasanya. Kepala dia masih dipenuhi pikiran, dan dadanya masih sesak oleh perasaan yang belum reda sejak kemarin. Namun, seperti hari-hari sebelumnya dia tetap berjalan, menjalani semuanya aktivitas tanpa suara dan tanpa perlawanan.
Di luar, jalanan cukup ramai. Kendaraan lalu lalang tanpa henti, suara klakson bersahutan, bercampur dengan teriakan pedagang di pinggir jalan. Panas matahari menyengat kulit, membuat keringat mulai muncul di pelipis. Kemuning berdiri di tepi jalan, matanya melihat ke kanan lalu ke kiri, seolah memastikan keadaan aman.
Sebenarnya pikiran Kemuning tidak berada di sana. Ingatannya kembali ke kejadian kemarin.
Dalam detik yang terasa begitu lambat, dari arah kanan sebuah motor melaju kencang. Suara mesinnya meraung keras, mendekat dengan cepat.
“WOI! AWAS!” teriak seseorang dengan panik.
Kemuning menoleh, matanya langsung melebar. Dia ingin mundur, ingin menghindar, tetapi tubuhnya membeku. Kakinya tidak bergerak, seolah terkunci di tempat. Dan dalam sepersekian detik itu, benturan keras terjadi.
“BRAK!”
Suara menggema, tubuh Kemuning terpental dan jatuh menghantam aspal. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, tajam dan menghantam tanpa ampun. Kepalanya berputar, pandangannya kabur.
Suara orang-orang di sekitarnya terdengar samar, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Ada yang berteriak, ada yang berlari mendekat, tetapi semuanya perlahan menghilang dari jangkauannya.
Dunia di sekelilingnya seperti berputar tanpa arah. Langit yang tadi begitu terang perlahan memudar di matanya. Dalam detik-detik terakhir sebelum semuanya menjadi gelap, satu pikiran lirih melintas di benak Kemuning yang rapuh dan penuh luka. “Kenapa hidupku seperti ini?”
Air matanya mengalir tanpa Kemuning sadari. Lalu perlahan, semuanya menghilang dan gelap sepenuhnya.
Sementara itu, Aryasatya, orang yang menabrak Kemuning, diam mematung dengan tubuh gemetar karena ketakutan. “Tidak! Ku mohon jangan mati,” ucapnya lirih.
“Tolong, bawa korban ke rumah sakit!” pinta seorang pria paruh baya yang kini berjongkok di dekat Kemuning.
“Hey, itu pelakunya!” teriak orang-orang sambil menunjuk pengendara motor yang memakai seragam sekolah.
”Kamu yang sudah menabrak, harus bertanggung jawab," kata pria paruh baya itu kepada Aryasatya.
Di rumah sakit, suasana terasa dingin dan menegangkan. Bau obat-obatan menusuk hidung. Aryasatya mondar-mandir di depan ruang IGD, kakinya tidak bisa diam. Sesekali ia mengacak rambutnya sendiri, wajahnya penuh penyesalan.
“Gimana ini? Gimana kalau dia kenapa-kenapa?” gumam pemuda itu pelan.
Tangan Aryasatya gemetar saat meraih ponsel. Dia langsung menekan nomor yang paling dia percaya. “Kakak.”
Suara di seberang terdengar tenang. “Ya, ada apa Arya? Kenapa kamu belum pulang ke rumah?”
“Kak, a-ku nab-rak orang.” Suara Aryasatya bergetar hebat. “Sekarang lagi di rumah sakit. Aku nggak tahu harus gimana?”
Hening beberapa detik.
“Kamu ada di rumah sakit mana?”
Tidak lama kemudian, seorang pria datang dengan langkah cepat namun terukur. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam. Kemeja yang dikenakan rapi, berbeda jauh dengan Aryasatya yang masih berantakan.
Orang itu adalah Arkatama, kakak dari Aryasatya. Dia langsung menghampiri adiknya. “Kamu nggak apa-apa?”
Aryasatya menggeleng cepat. “Aku nggak kenapa-kenapa, Kak, tapi dia ....” Suara Aryasatya tercekat. “Dia nggak sadar.”
Arkatama menepuk bahu adiknya pelan. “Tenang. Kita akan tanggung jawab.”
Kain gorden pembatas pasien, terbuka. Seorang perawat keluar. “Keluarga pasien?” tanyanya.
Aryasatya langsung menoleh. “Sa-saya ....”
Arkatama maju selangkah. “Kami yang mengantar. Bagaimana kondisinya?”
“Pasien masih tidak sadarkan diri. Ada benturan di kepala dan beberapa luka luar. Kami akan lakukan pemeriksaan lanjutan.”
Arkatama mengangguk. “Lakukan yang terbaik. Semua biaya saya tanggung.”
Perawat itu mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aryasatya menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Kak, aku takut dia kenapa-kenapa.”
Arkatama menatap lurus ke depan. “Takut itu wajar. Tapi sekarang bukan waktunya panik. Kita pastikan dia selamat dulu.”
Beberapa jam kemudian, Kemuning akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Tubuhnya terbaring lemah, wajahnya pucat, dengan perban di kepala. Tangannya terpasang infus.
Arkatama berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan dengan tenang. Sementara Aryasatya duduk di kursi, menunduk, tidak berani menatap.
“Kak, aku benar-benar nggak sengaja,” ucap pemuda itu lirih.
Arkatama tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Kemuning. “Aku tahu,” akhirnya ia berkata pelan. “Makanya kita tanggung jawab sampai dia pulih.”
Keesokan harinya, dokter datang untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Beberapa perawat ikut serta, membawa berkas dan alat medis. Arkatama berdiri di samping, mendengarkan dengan serius.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh,” kata dokter itu sambil membuka hasil laporan. “Untuk kondisi luka akibat kecelakaan, tidak ada yang terlalu fatal. Pasien hanya perlu istirahat dan observasi beberapa hari.”
Aryasatya menghela napas lega.
Rupanya dokter itu belum selesai menjelaskan kondisi Kemuning. “Namun, ada hal lain yang kami temukan.”
Arkatama sedikit mengernyit. “Apa itu, Dok?”
Dokter itu terlihat ragu sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati. “Dalam hasil pemeriksaan, kami menemukan adanya sisa komponen anti-ovulasi dalam tubuh pasien.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Arkatama menatap tajam. “Maksudnya?”
“Zat ini biasanya digunakan untuk menghambat ovulasi. Dan dari kondisinya, sepertinya sudah berada cukup lama di dalam tubuh pasien.”
Aryasatya mengerutkan kening, tidak begitu mengerti. “Itu artinya ...?”
Dokter menarik napas pelan. “Kemungkinan besar, inilah penyebab pasien kesulitan untuk hamil.”
Saat itu juga, kelopak mata Kemuning bergerak pelan. Dia mulai sadar. Pandangan matanya masih kabur, tetapi suara-suara di sekitarnya mulai masuk sedikit demi sedikit.
Kata-kata dokter barusan seperti pecahan kaca yang jatuh satu per satu ke dalam kesadarannya. Mata Kemuning terbuka perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit putih rumah sakit terlihat samar di atasnya. Napasnya terasa berat.
“A-aku di mana?” tanya Kemuning lirih, hampir tidak terdengar.
Arkatama langsung menoleh. “Anda sudah sadar?”
Kemuning tidak langsung menjawab. Matanya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan. “Dok,” panggilnya serak. “Apa yang barusan Anda katakan?”
Dokter itu tampak ragu, tetapi akhirnya menjelaskan dengan lebih pelan, “Kami menemukan zat yang menghambat ovulasi di dalam tubuh Anda. Kemungkinan itu sudah lama dan bisa menjadi penyebab Anda belum hamil.”
Dunia Kemuning seakan berhenti. Matanya membelalak dan napasnya tercekat. Semua suara di sekitarnya mendadak menghilang. Yang tersisa hanya satu kalimat yang terus bergema di kepalanya, “Penyebab Anda belum hamil.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!