NovelToon NovelToon

Suamiku Selingkuh

Bab 1 Kecurigaan Renata

Suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah, aku segera berjalan ke depan pintu untuk menyambut suami tercintaku.

"Mas, kok sampai tengah malam begini?" tanyaku pada mas Raditya.

"Kan aku sudah kasih tahu kamu kalau lembur sayangku, maaf ya buat kamu nunggu sampai malam gini" Ucapnya mencium keningku.

"Iya mas, mau makan dulu apa mandi?" tanyaku.

"Langsung mandi saja sayang, tadi mas udah makan kok dikantor. kamu makan dulu aja kalau lapar" jawab mas Raditya dan segera berlalu ke kamar.

Aku mengikuti langkahnya untuk naik ke lantai dua dimana kamar kami berada, dengan membawa tas kerjanya dan juga jas hitam miliknya.

"Hmm kok bau parfum wanita" gumamku.

Sesampainya dikamar aku langsung menaruh jas suamiku dikeranjang baju kotor, serta celana dan kemeja yang dilemparkanya diatas ranjang.

Memang kebiasaan buruk suamiku selalu meletakkan barang dengan sembarangan, bahkan baju kotor juga dilemparkan di atas ranjang.

Saat aku melihat kemeja milik suamiku ada yang janggal dengan kerah kemeja ini, segera ku teliti.

"Noda lipstik siapa ini? Tadi aroma parfum di jas sekarang noda lipstik. Apa yang kamu sembunyikan dariku mas" gumamku dan segera menaruhnya di keranjang baju kotor yang terletak di sudut kamar.

Ceklek, bunyi suara pintu dibuka membangunkan lamunanku malam ini.

Mas Raditya keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan dipinggangnya, dengan beberapa tetesan air dirambutnya.

"Sayang, kamu kenapa kok mukanya ditekuk gitu?" Tanyanya dan mengambil baju yang ada dilemari.

"Hmm gak apa mas, aku ke kamar Rindiani dulu ya." Ucapku dan berlalu dari kamar.

Entahlah aku malam ini seperti tengah dilanda kecurigaan serta kekecewaan yang menjadi satu. Aku ragu jika suamiku main dibelakangku tapi aku jadi curiga kenapa ada noda lipstik di kemejanya.

Aku segera berjalan ke kamar Rindiani yang berada di sebelah kamar kami, gadis mungil yang sebentar lagi berusia lima tahun itu tengah terlelap dengan memeluk boneka beruang kesayangannya, hadiah dari mas Raditya di ulang tahunnya yang ke empat.

"Sayang, semoga saja kecurigaan mama gak benar ya nak" gumamku sambil mengusap perlahan puncak kepala putriku.

"Aku akan menyelidikinya mas, awas aja kalau kamu ada main dibelakangku. Ku pastikan kamu akan menyesal..!!" Sumpahku dalam hati.

Karena aku tak mentolerir namanya perselingkuhan, sekali berselingkuh akan tetap seperti itu.

setelah puas memandangi putri kecilku, aku segera berjalan ke kamarku dan dengan perlahan membuka pintu kamar karena takut kalau mas Raditya baru saja tidur nanti bisa terganggu dengan suaraku membuka pintu kamar.

"Iya, besok mas janji akan belikan berlian yang kamu mau sayang. Asal imbalannya setimpal" Ucap mas Raditya di balik telepon.

"Berlian?Sayang?Dan juga imbalan apa yang dimaksud. Astaga aku harus segera menyelidiki ini semua" Ucapku dalam hati.

Aku pura-pura tak tahu jika suamiku tengah bertelepon.

"Mas, lagi apa?" Ucapku yang berjalan kearahnya.

Dia gelagapan saat tahu aku sudah berada didalam kamar, dengan segera mas Raditya menempelkan jari telunjuk dibibirnya.

Pertanda agar aku diam dulu.

"Iya pak, besok saya akan menghubungi sekretaris saya agar menyiapkan jadwal untuk kita golf bersama" Ucapnya di telepon.

Aku tahu jika dia berpura-pura mengalihkan pembicaraan ditelepon agar aku tidak curiga.

Beberapa saat kemudian mas Raditya sudah selesai bertelepon dan ikut berbaring disebelahku.

"Siapa mas?" Tanyaku dengan menghadap ke arahnya.

"Itu rekan bisnis baru, katanya pengen main golf bareng mas. Ya mas sih mau aja asalkan tidak diwaktu weekend kan jadwal bersama keluarga " Jawabnya.

"Terus masa main golf di jam kerja mas?"

"Ya gak gitu sayang, kalau ada waktu senggang sih oke. Mangkanya tadi mas akan tanya dulu ke Rohana jadwal mas beberapa hari kedepan"

"Oh gitu, kalau gak ada jadwal kosong gak apa kok mas. Kan gak enak juga kalau menolak ajakan rekan baru bukan? Kan cuma satu kali aja kamu melewatkan weekend bersama kami sih gak apa" Ucapku dengan santai.

"Beneran sayang?" Tanyanya dengan antusias.

"Iya mas, kapan sih aku pernah gak serius kalau bicara sama kamu"

"Hehe gak gitu sayang, makasih ya sayang udah mengerti" Jawabnya dan mencium keningku.

Aku segera memejamkan mataku tapi tidak untuk tidur melainkan menyusun rencana untuk mengetahui apa yang sedang disembunyikan oleh mas Raditya dibelakangku.

Hingga aku kefikiran untuk menyadap ponsel miliknya, tapi bagaimana caranya? Selama ini mas Raditya selalu membawa ponselnya kemana-mana. Ah sial...!

Aku harus memikirkan cara yang lain. Otakku benar-benar buntu untuk malam ini, lebih baik aku segera tidur agar besok lebih fresh dan bisa memikirkan ide untuk mengetahui kerjaan suamiku diluar kantor.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Suara adzan subuh membangunkanku pagi ini, aku segera membangunkan mas Raditya agar kami bisa melakukan sholat subuh secara berjemaah seperti biasanya.

"Mas, bangun udah subuh nih" Ucapku sambil menggoyangkan lengannya.

"Bentar sayang, kamu duluan aja kalau mau sholat " Jawabnya yang membuatku kaget tak biasanya dia menolak untuk sholat berjemaah denganku.

Tanpa memikirkannya lagi aku segera kekamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera melakukan tugasku sebagai umat muslim.

Setelah sholat subuh aku kembali membangunkan mas Raditya dan akhirnya dia bangun dari tidurnya meskipun dengan wajah ditekuk katanya masih ngantuk.

Tak habis fikir aku dengan suamiku ini, bisa- bisanya dia menggerutu karena dibangunkan untuk sholat, aku segera ke kamar putriku untuk membangunkannya seperti biasa dan jogging sebentar di halaman rumah.

Rindiani memang aku biasakan setelah sholat subuh tidak tidur lagi melainkan olahraga agar badannya sehat dan tidak mudah terserang sakit.

Setelah hampir satu jam kami melakukan jogging disekitaran rumah, kini aku kembali masuk ke dalam kamar untuk membangunkan mas Raditya agar segera siap-siap ke kantor.

"Semoga saja hari ini aku menemukan bukti kecurigaanku mas" gumamku dalam hati.

Flashback on...

Saat sedang jogging bersama dengan Rindiani aku kefikiran untuk menghubungi sahabatku Rohana, aku segera menceritakan kecurigaanku kepada mas Raditya dan juga noda lipstik di kemeja miliknya yang sangat kentara itu.

[Kamu ada alat sadap berukuran mini yang bisa di letakkan di mobil gak han?] Tanyaku setelah menceritakan kejadian tadi malam.

[Ada dong, aku kesana sebentar lagi. Ini aku juga lagi ditoko, sekitar lima belas menit lagi aku sampai] Ucapnya di telepon.

[Buruan, nanti mas Raditya keburu bangun] Ucapku.

[Iya bawel...! Udah aku mau turun kebawah dulu mau ambil alat sekalian langsung OTW kerumah kamu.] Jawab Rohana dan langsung mematikan panggilannya secara sepihak.

Rohana ini memiliki toko perlengkapan elektronik, jadi dengan mudah dia menyiapkan alat penyadap untukku karena kebetulan sekali tadi malam dia tidur diruko karena capek mau pulang kerumahnya.

Suaminya masih dinas diluar kota, dia memang jarang pulang kerumah kalau suaminya sedang keluar kota. Jadilah tidur diruko pilihan terbaiknya, toh disana dia tidak sendirian. Ada beberapa karyawan yang tidur disana.

Toko milik Rohana terdiri dari empat lantai, lantai satu dan dua digunakan untuk transaksi jual beli.

Sedangkan lantai ke tiga gudang penyimpanan dan lantai empat sebagai mess karyawan yang rumahnya jauh, juga ada satu kamar pribadi miliknya.

Beberapa saat kemudian Rohana sudah datang dan membawa alat penyadap yang akan ku tempelkan di bawah alat kemudi mobil mas Raditya. Karena disana merupakan tempat yang paling aman, tidak mungkin ketahuan karena alatnya juga sangat kecil.

"Segera lakukan" Ucapnya dan memberikan alat itu.

"Ajak Rindiani main dulu pastikan dia tidak tahu kalau aku masuk ke mobil papanya" Ucapku dan langsung diangguki oleh Rohana.

Aku segera melakukan aksiku sesuai dengan rencanaku tadi, tak butuh waktu lama aku sudah selesai menempelkan alat itu.

"Sudah beres?" Tanya Rohana saat aku mendekat ke arahnya.

"Sudah, buruan pulang sana. Nanti kalau mas Raditya bangun dia curiga kamu disini ngapain sepagi ini. Bayarannya udah aku transfer ke rekeningmu besti" Ucapku karena takut mas Raditya bangun duluan.

"Iya iya, nanti kita ketemu di tempat biasa setelah kamu mengantar Rindiani kesekolah" Ucap Rohana dan langsung aku angguki saja, karena aku juga akan meminta banyak bantuan kepadanya.

Flashback off...

Setelah memastikan mas Raditya bangun dan mandi, aku segera menyiapkan pakaian kerjanya dan aku letakkan diatas ranjang seperti biasanya.

"Siap semuanya sekarang gantian ke kamar Rindiani" gumamku dan berjalan keluar kamar dan berjalan ke kamar anakku.

Rindiani terlihat masih didalam kamar mandi, meskipun usianya belum genap lima tahun tapi dia sudah terbiasa mandi sendiri hanya saja untuk berpakaian kadang masih membutuhkan bantuan.

Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan ke badannya.

"Sini sayang, mama bantu pakai seragam sekolahnya" Ucapku.

Dengan telaten aku memakaikan seragam juga mengikat rambut milik putriku yang panjangnya sepundak itu.

"Ululu cantik sekali anak mama, nanti belajar yang pintar disekolah ya nak. Sebentar lagi kakak akan kenaikan kelas ke TK B jadi harus rajin belajarnya" Ucapku dan mencium gemas pipi putriku.

"Siap mama, nanti kakak jadi diantarkan papa kan ma?" Tanyanya dengan penuh harap.

"Nanti kita tanya papa dulu ya sayang, yuk kita sarapan dulu" Ucapku dan membawakan tas sekolah milik anakku.

Di meja makan terlihat mas Raditya sudah duduk menikmati kopinya dan sesekali melihat kearah ponsel yang ada dimeja.

"Pagi papa..." Sapa Rindiani dengan riang dan duduk di sebelah papanya.

"Pagi sayangnya papa, hmm cantik sekali princess" Jawab mas Raditya dengan menatap putri kami penuh cinta, aku tidak bisa berfikir bagaimana jika benar mas Raditya selingkuh. Rindiani pasti terluka karena cinta pertamanya malah menghianati mamanya.

"Ayok kita sarapan, nanti terlambat" Ucapku dan mulai menyendokkan makanan untuk mas Raditya juga Rindiani.

"Pa, nanti jadi antar kakak ke sekolah kan?" Tanyanya.

"Maaf sayang, nanti kakak diantar mama ya. Papa harus ke kantor pagi nak" lagi-lagi mas Raditya membuat Rindiani kecewa karena selalu mengingkari janjinya untuk mengantarkan Rindiani kesekolah.

"Ga apa ya sayang, nanti sama mama kesekolahnya?" Ucapku dengan memandang Rindiani yang terlihat sangat kecewa dengan papanya.

"Iya udah ga apa, tapi hari minggu kita jadi kan renang bersama pa?" Tanyanya lagi dengan penuh harap.

"Siap tuan putri, akan papa usahakan ya" Jawab mas Raditya.

Bab 2 Permulaan Dan Peringatan

Setelah mengantarkan Rindiani aku melajukan mobilku ke tempat janjianku bersama dengan Rohana. Tadi saat masih didepan sekolah Rindiani aku menyempatkan sebentar untuk melihat ponselku dan ternyata mas Raditya memang berangkat kekantor.

"Ini Rohana mana sih?" gumamku sambil celingak celinguk mencari sahabatku itu.

Aku segera duduk di kursi yang ada di Cafe dan menghubungi Rohana, belum sempat aku menghubunginya terlihat dia sudah memasuki Cafe dan berjalan mendekat kearahku.

"Udah lama?" Tanyanya

"Baru sih, kamu udah sarapan belum. Kalau belum sekalian pesan makanan aja nanti aku yang traktir" Ucapku.

"Hmm boleh deh, tadi cuma sarapan roti doang" Jawab Rohana dan segera memanggil pelayan serta memesan makanan berat.

Tak berapa lama pesanan dia sudah sampai, dengan cekatan Rohana makan dengan santai dan sesekali bercengkrama ringan denganku yang hanya makan kentang goreng. Kami memang belum membahas masalah inti agar Rohana selesai makan dulu baru menyusun strategi.

"Udah kenyang?" Tanyaku dan diangguki oleh Rohana.

"Aku harus gimana selanjutnya Hana?"

"Gini sekarang kita pantau perkembangan Raditya dulu, kalau nanti dia ke toko berlian sesuai dengan omongan tadi malam. Kita langsung kesana juga pura-pura aja lagi mau beli sesuatu eh ketemu suamimu. Jangan sampai pelakor mendapatkan berlian itu...!" Ucapan Rohana yang langsung ku setujui karena dia cukup cerdik dalam hal seperti ini.

"Bentar aku cek dulu dimana mas Raditya sekarang" Ucapku dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.

Kulihat posisi mobil mas Raditya kini sedang ada dijalanan, yang belum jauh dari kantor.

"Dia keluar dari kantor, kita ikutin sekarang" Ucapku.

Kami segera berjalan keluar dari Cafe dan masuk ke dalam mobilku, aku harus segera mengikuti kemana arah mas Raditya ini.

Setelah cukup lama berkendara mobil yang dikendarai mas Raditya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota.

Aku segera parkir di dekat mobilnya, sengaja agar tak kehilangan jejak lagi pula kali ini aku memakai mobil Rohana untuk menguntit jadinya aman.

"Wah itu mereka...!!" Ucapku dengan sedikit emosi melihat mas Raditya berjalan dengan seorang wanita berpakaian seksi disebelahnya, tidak kelihatan wajahnya memang tapi aku yakin betul itu mas Raditya.

"Ayok kita ikuti tapi jangan sampai kentara" Sahut Rohana.

Kini kami beriringan mengikuti mas Raditya dan wanita disebelahnya yang bergelayut dengan manja, aku dan Rohana memakai masker dan kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilan kami siang ini.

"Kayaknya mereka akan ke toko berlian deh Hana...! Kita jaga jarak aja setelah si jalang itu puas memilih kita baru masuk" Saranku yang diacungi jempol oleh Rohana.

Benar apa fikiranku kini mereka masuk ke toko berlian ternama di pusat perbelanjaan ini, harganya tak main-main karena disana model modelnya terbatas dan bisa dikatakan limited edition.

"Kita awasi dulu dari sini" Ucapku.

Setelah sepuluh menitan aku melihat wanita itu mondar mandir memilih berlian, aku langsung mengajak Rohana untuk masuk ke toko itu tak lupa masker dan kacamata kami lepas dan masukkan dalam tas.

"Loh mas Raditya disini?" tanyaku pura-pura kaget saat melihat suamiku sedang duduk disofa tunggu. Aku memang sengaja lewat sebelah sana agar mas Raditya semakin yakin kalau aku hanya tak sengaja mampir kesana juga.

"Sa- sayang kok disini?" Tanyanya dengan gugup.

"Aku mau antar Rohana ini cari hadiah buat adik iparnya, memang kamu ngapain mas belum jam istirahat kok udah keluyuran kesini?" tanyaku dengan nada sengit.

"Hm anu sayang, mas tadi mau cari hadiah buat kamu. Rencananya akan ngasih kejutan gitu loh, eh kamunya udah di sini jadi gak kejutan lagi deh" Jawabnya dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Beneran? Kalau gitu aku pilih sendiri aja ya mas?" Ucapku.

Dari sudut toko terlihat wanita seksi itu menghampiri suamiku, bermaksud memanggilnya mungkin disuruh membayar kali. Kan dia dari tadi fokus dengan berlian didepannya jadi tak tahu kami dari tadi ngobrol.

"Beb, ini loh buruan bayar...! Kok malah diem aja disitu...!! Ucapnya dengan merajuk.

"Beb...??!!!" Tanyaku dengan menoleh ke arah wanita tadi dia langsung gugup dan salah tingkah, begitupun dengan mas Raditya wajahnya langsung pucat.

"Engg maksud saya bos bu, maaf mungkin ibu salah dengar" Elaknya dengan sedikit gugup.

"Kamu siapa?" Tanyaku pada wanita itu.

"Saya Ratih bu, sekretaris baru pak Raditya baru beberapa bulan sih" Ucapnya memperkenalkan diri.

"Sekretaris baru?? Kenapa kamu gak konfirmasi dulu sama aku mas?" Tanyaku dengan mata memicing.

Udah sayang, nanti aja dibahas katanya kamu mau pilih-pilih berlian. Udah ayok tuh si Rohana aja sudah sibuk disana milih" Ucap mas Raditya dan menunjuk Rohana yang sedang akting akan memberikan hadiah untuk adik iparnya itu.

"Ratih, kamu tunggu di situ saja. Biar istri saya sendiri yang memilih" Ucap mas Raditya pada wanita tadi dan langsung diangguki dengan lesu.

"Tak ku sia-siakan kesempatan ini, aku akan membuat tabunganmu terkuras mas! Aku gak rela kamu membelikan berlian buat jalang itu...!!" Gumamku dengan senyuman devil.

"Mbak berikan saya satu set berlian koleksi terbaru toko ini" Ucapku pada pegawai yang berjaga.

"Baik bu, tunggu sebentar" Ucapnya dan langsung ke etalase di belakangnya yang hanya memajang koleksi terbaru.

"Ini bu koleksi terbaru kami, modelnya cantik kan? Cocok sekali buat ibu" Ucapnya sembari mempromosikan dagangannya.

"Gimana mas kalau aku ambil ini?" Tanyaku pada mas Raditya.

"Asal kamu suka ambil aja sayang" Jawabnya.

"Wahh suaminya sweet sekali bu, bagaimana jadi ngambil yang ini?" Tanyanya.

"Iya Mbak ini saja, berapa memang?" Tanyaku.

"Ini totalnya seratus delapan puluh tujuh juta enam ratus ribu rupiah bu" Jawabnya dengan senyuman.

Seketika wajah mas Raditya pias mendengar total berlian yang akan aku beli, tabungan dia kan banyak kali ini aku akan terus menguras habis isinya.

"Jadi ya mas?" Tanyaku dengan menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman termanisku.

"Boleh dong sayangku, ini mbak kartunya" Ucapnya dengan memberikan kartu sakti miliknya.

Di sofa tunggu wajah Ratih terlihat meradang menahan marah, bagaimana bisa dia yang dijanjikan untuk dibelikan berlian malah aku yang dibelikan satu set pula. Ya gimana lagi aku istri sahnya bukan?

Rasakan ini pelakor, ini baru permulaan tunggu saja setelahnya...!!

"Aahh makasih ya mas kamu emang paling mengerti" Ucapku dan bergelayut manja dilengannya. Sengaja memanas manasi Ratih yang ganjen itu.

"Sebelum membongkar perselingkuhan kalian aku harus mengamankan seluruh aset juga menguras rekening pribadi kamu mas...!!" Ucapku dalam hati.

Aku tak rela jika harta yang kamu miliki jatuh ke tangan jalang itu, ini semua milik Rindiani apalagi kamu bekerja dengan enak dan nyaman juga karena diriku yang melepaskan jabatan tertinggi diperusahaan papaku buat kamu mas.

"Mas kamu kalau mau balik ke kantor silakan aja, aku masih mau keliling sama Rohana setelah itu jemput Rindiani ke sekolah" Ucapku saat sudah keluar dari toko berlian.

"Hmm beneran kamu gak apa gak diantar pulang?" Tanyanya.

"Iya mas, kan aku kesini sama Rohana gak enak kalau aku tinggalin" Jawabku.

"Baiklah aku langsung ke kantor saja. Ratih ayok kita ke kantor sekarang, kamu langsung ke parkiran saja" Ajak suamiku dengan suara tegas, mungkin untuk mengusir rasa grogi karena istri dan selingkuhannya berada disebelahnya.

"Baik bos, bu Renata saya duluan ke kantor. Permisi" Ucapnya dan berlalu meninggalkan kami.

"Kamu hati-hati ya sayang, mau belanja juga?" Tawarnya.

"Pengen sih mas tapi kan kamu tahu aku sedang mengumpulkan uang untuk membuka butik" Ucapku dengan nada memelas.

"Ini pakai kartu punya mas aja, kan gak enak kalau cuma nemenin Rohana belanja. Malu dong masa istri direktur cuma jadi kacung" Ucapnya dengan sombong, inilah yang aku kurang suka dari mas Raditya dia menjunjung tinggi harga diri dan juga jabatannya. Tapi ada baiknya sih karena dia mementingkan harga dirinya black cardnya jadi jatuh ke tanganku sekarang.

"Beneran ini mas?" Tanyaku seolah kaget.

"Iya sayang, kamu kan istri mas sudah sepantasnya memakai uang hasil kerja mas selama ini" Ucapnya dengan jumawa.

"Wah gak nyangka mas Raditya perhatian banget sama Renata ya" Ucap Rohana yang pintar sekali berakting.

"Jelas dong Mbak Rohana kan kerja juga buat istri sama anak, aku balik ke kantor dulu ya sayang. Sampai ketemu dirumah" Ucapnya dan mengusap pucuk kepalaku.

Selepas mas Raditya pergi aku bertos dengan Rohana, terserah dia setelah ini mau kemana. Toh kartu saktinya sudah berada ditanganku.

Hari ini aku akan memanfaatkan kartu milik mas Raditya untuk berbelanja, tapi sebelum itu aku akan ke atm dulu untuk melihat saldonya.

"Langsung belanja?" Tanya Rohana.

"Kita ke atm disebelah sana dulu" Tunjukku pada Rohana.

Aku segera memasukkan kartu milik mas Raditya dan melihat saldonya disana betapa terkejutnya aku dengan saldo miliknya. Jumlah yang sangat fantastis untuk seorang direktur yang baru menjabat sekitar dua tahunan, jumlah saldo yang dimilikinya sebesar dua puluh tiga miliar rupiah.

Tanpa basa basi aku segera mentransfer ke rekening milikku sebesar dua puluh miliar. Sesuai dengan gaji direktur selama dua tahun kalau aku akumulasikan hanya sekitar empat miliar saja ini kenapa lebihnya banyak sekali, aku berjaga jaga saja siapa tahu dia menilap uang perusahaan.

Aku juga memiliki black card tanpa diketahui oleh mas Raditya, tadi aku memang mentransfernya ke rekeningku yang itu. Selain lebih aman juga mas Raditya tidak tahu passwordnya, semua atm yang ku gunakan dia sudah tahu passwordnya dan sekarang aku juga sudah mengamankan saldo rekeningku yang lain untuk dipindahkan dan hanya menyisakan sedikit saja untuk keperluan sehari hari.

Meskipun aku tidak bekerja tapi laba keuntungan perusahaan juga tanam saham ditransfer secara pribadi kerekeningku. Bukannya aku tidak percaya dengan suamiku tapi sebagai pemenang saham dan juga pewaris perusahaan yang sah memang sesuai aturan uang fee perusahaan akan masuk ke rekeningku.

Bab 3 Kekecewaan Rindiani

Setelah puas berbelanja dengan Rohana kini aku harus kesekolah Rindiani menjemputnya, hari ini dia setelah sekolah ada kelas piano jadi pulangnya lebih sore dari biasanya. kebetulan sekali tempat les piano ini jadi satu gedung dengan sekolah Rindiani jadi dia tinggal diantar gurunya ke tempat les.

Meskipun masih TK anakku sangat suka bermain piano, bahkan dia sendiri yang meminta untuk dileskan saja agar semakin mahir dalam memainkan alat musik itu.

"Sayang capek?" Tanyaku pada Rindiani saat dia baru keluar dari tempat les piano.

"Iya ma, Rindiani laper hihi" Ucapnya dengan senyuman menampilkan giginya yang kecil- kecil dan rapi itu.

"Mau makan apa sayang?"

"Emhh ayam goreng kriuk boleh ma?" Tanyanya dengan mata berbinar.

"Boleh tapi ini terakhir di minggu ini ya sayang, kan gak boleh terlalu sering makan ayam goreng kriuk" Ucapku karena aku tak mau anakku sering mengkonsumsi makanan junkfood itu.

"Siap ma" Jawabnya dengan menempelkan tangan mungilnya dikening.

Aku melajukan mobilku dengan santai ke resto ayam goreng favorit Rindiani, salah satu brand ayam goreng ternama di negara ini.

Sesekali aku melirik ponselku yang masih memantau lokasi mas Raditya, lokasinya masih berada di area kantor dan ternyata sehabis dari pusat perbelanjaan tadi dia tidak langsung ke kantor tapi ke salon selama kurang lebih dua jam.

Beberapa saat kemudian mobil yang ku kendarai sudah sampai di resto favorit anakku, kami segera masuk ke dalam dengan bergandengan tangan. Wajah putriku terlihat sangat bahagia sekali, entahlah aku tak tahu lagi setelah perceraian ku dengan mas Raditya apa anakku masih sebahagia ini.

Aku memang berencana menggugat cerai suamiku jika semua aset dan harta yang kami miliki sebagian besar jatuh ke tanganku bahkan semuanya bila perlu..! Katakanlah aku wanita egois, bukan aku melakukan ini semua demi putri kecilku Rindiani.

Aku tak rela jika jalang itu bahagia diatas penderitaan Rindiani yang harus kehilangan kasih sayang papanya.

"Maa..mau pesan apa?" Suara Rindiani membuyarkan lamunanku.

"Emm mama pesen burger aja sayang, kamu terserah mau yang mana bebas untuk hari ini" Ucapku dengan tersenyum kearahnya.

Dengan senang hati Rindiani memesan paket ayam goreng isi dua, kentang goreng, burger dan es krim entahlah itu semua dihabiskan olehnya atau aku yang akan menghabiskannya seperti yang sudah-sudah.

"Hmm enak sekali ma" Ucap Rindiani sambil mengunyah ayam goreng hingga mulutnya penuh.

"Pelan-Pelan sayang, mama nggak minta kok" Ucapku.

"Taa Renata..." teriak seseorang dari kejauhan, lantas aku menoleh ke suara tersebut.

"Rendi...?" Gumamku.

"Hai taa apa kabar?" Ucapnya saat sudah ada di dekat mejaku.

"Kabar baik, kamu kapan pulang ke Indonesia?" Tanyaku karena setahu ku Rendi masih mengurusi perusahaan papanya di Singapura setelah lulus kuliah.

"Hmm baru sebulan aku di sini, by the way ini anakmu?" Tanyanya dengan menunjuk ke arah Rindiani.

"Halo omongan aku Rindiani anak mama paling cantik" Ucapnya dengan nada centil, oh sungguh anakku kenapa kamu berkata dengan demikian.

"Nama yang cantik sesuai dengan wajahnya, ihh lucu kamu. Perkenalkan nama om Rendi teman mama sewaktu kuliah dulu" Ucap Rendi.

Rindiani hanya manggut-manggut saja karena kini mulutnya kembali penuh dengan makanan.

"Oh ya Taa ada yang mau aku tanyakan sama kamu" Ucapnya tiba-tiba menjadi serius.

"Apa?" Tanyaku dengan menautkan kedua alisku.

"Hmm kamu baik baik saja kan dengan suamimu?" Dia sedikit berbisik ke arahku mungkin saja takut terdengar Rindiani.

"Jangan bahas disini" Jawabku karena aku tak mau Rindiani jadi bertanya-tanya tentang papanya.

"Ohh sory lain kali kita bahas karena ada yang mau aku tunjukkin sama kamu. Aku pesan makanan dulu, boleh kan ikut gabung disini?"

"Silahkan saja Rendi, nanti kita atur waktu yang pas untuk membicarakan masalah tadi" Jawabku.

Cukup lama kami bertiga makan bersama disini, kini aku akan segera pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kasihan Rindiani harus segera istirahat karena dia pasti capek sekali sehabis sekolah langsung les dan saat ini masih diluar rumah hanya untuk sekedar makan siang.

"Ma, hari minggu kita jadi kan berenang bareng papa?" Tanya Rindiani saat kami sudah ada dijalan pulang.

"Nanti mama tanya dulu ke papa ya kak, kalau papa ada kerjaan renang bareng mama aja gak apa kan?" Tawarku karena aku ragu apa iya mas Raditya mau menyempatkan waktunya untuk renang bersama dengan Rindiani, sudah dua kali dia mengingkari janjinya untuk berenang bersama dengan putri kecilku ini.

"Iya ma, tapi kalau bisa mama bujukin papa ya. Udah lama Rindiani pengen renang bareng papa, tapi papa selalu sibuk padahal dirumah tapi gak mau diajakin renang. Aneh" Gerutu Rindiani.

"Kan papa meskipun libur di rumah juga masih mengerjakan tugas kantor nak" Ucapku dengan sabar memberi pengertian pada Rindiani.

"Iya ma, yaudah kalau papa sibuk sama mama aja gak apa" Ucapnya.

Akhirnya anakku yang menggemaskan ini mau menuruti kata-kataku, aku gak mau dia kecewa untuk kesekian kalinya karena mas Raditya mengingkari janjinya. Entahlah apa yang dia lakukan di dua weekend minggu kemarin karena seharian dia berada diruang kerjanya dan keluar jika akan makan saja.

Bahkan kemarin aku mendengar alasan dia yang berencana akan ke golf hari minggu bukan? Entahlah itu benar ke golf atau malah kencan dengan sekretaris barunya.

             ●●●●●●●●●●

Hari sudah malam tapi mas Raditya belum juga pulang, entah apalagi alasannya malam ini yang jelas aku akan tegas jika menemukan bau parfum yang seperti kemarin ataupun noda lipstik itu.

 "Mending aku istirahat sebentar, nanti kalau mas Raditya datang dia pasti membangunkanku" gumamku karena mata terasa berat dan ngantuk apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.

Tak terasa aku memejamkan mataku hampir semalaman, karena di saat aku bangun Bi Rahmi sudah memasak beberapa makanan dan tersaji dimeja makan.

"Sayang, maafin mama yang telat bangun jadinya tidak bisa ngajakin kamu jogging deh" Ucapku sambil menyisir rambut Rindiani.

"Ya ma no problem, tadi pagi kakak juga males mau jogging ngantuk hehe"

"Mau di ikat model apa ini ka?"

"Hmm ikat dua aja ma, sama pakai pita warna Pink yang baru beli kemarin ya" Ucapnya dan langsung ku angguki.

Jangan tanya mas Raditya kemana, karena dia masih ngorok didalam kamar. Entah jam berapa dia datang, aku sama sekali tak mendengar suara mobilnya.

"Mas, bangun udah siang. Gak nganter?" Tanyaku sembari membangunkan mas Raditya.

"Ngantor agak siangan aja sayang, badan mas capek banget rasanya" Jawabnya dengan masih memejamkan mata.

"Emang habis ngapain?"

"Ya kerjalah, aku tadi malam lembur sampai tengah malam"

"Ohh pantesan aku tidak tahu jam berapa kamu sampai rumah mas"

"Hmm kalian nanti sarapan duluan aja gak usah nunggu mas, mas mau lanjutin tidur bentar.

"Loh kamu gak jadi anterin Rindiani lagi?"

"Kamu ajalah sayang, biasanya juga gitu kan? Udah aku ngantuk ini malah diajakin ngobrol..!"

Tanpa menjawab mas Raditya aku segera keluar dari kamar dan membawa tas tanganku sekalian, tapi saat aku di ambang pintu aku mundur perlahan karena melihat ponsel mas Raditya tergeletak dinakas.

Dengan segera aku berjalan dengan cara pelan bahkan setengah berjinjit, dengan perlahan aku mengambil ponselnya dan membawanya ke kamar mandi.

Segera ku buka ponsel milik mas Raditya tapi susah sekali, ternyata dia mengganti password ponselnya. Aku hampir saja putus asa dan tiba-tiba terlintas diotakku memakai tanggal lahir Rindiani dan ternyata bisa dibuka. Syukurlah.

Aku tidak membuka chat diaplikasi whatsapp miliknya karena banyak sekali pesan yang masuk, kalau aku buka bisa kentara sekali jika ponselnya habis aku pinjam. Aku hanya menyadap ponsel milik mas Raditya, bahkan semua aplikasi di ponselnya kusadap semuanya agar mudah memantaunya.

"Beres...!! gumamku dan segera mengembalikan ponselnya ke tempat semula.

Aku segera turun ke bawah karena sudah dipastikan jika Rindiani sudah menunggu disana.

"Hai sayang, mau sarapan apa pagi ini?" Tanyaku.

"Nasi goreng aja ma. Oh ya papa anterin kakak kan hari ini?" tanya Rindiani dengan mata berbinar penuh harap.

"Hmm maaf ya kak papa lagi gak enak badan, tadi mama udah bangunin katanya badan papa capek-capek semalam papa lembur cari uang buat mama dan kakak. Jadi kakak diantar mama lagi ya?" jawabku dengan hati-hati sekali takut kalau anakku mendeskripsikan yang berbeda jika ada sedikit saja omongan yang keliru.

"Yaaaa lagi-lagi papa ingkar janji sama kakak ma" Ucapnya dengan nada kecewa.

"Maafin papa ya kak? kakak jangan marah ya sama papa"

"Iya ma, kakak ga marah cuma kecewa sama papa...!" Jawabnya.

"Udah kakak makan dulu nanti terlambat kesekolahnya"

"Iya ma" dengan sedikit malas anakku memasukkan nasi goreng ke dalam mulut kecilnya.

Kami menikmati sarapan dengan perasaan berbeda, Rindiani dengan rasa kecewa kepada mas Raditya dan aku sedikit lega karena bisa menyadap ponsel suamiku.

Beberapa saat kemudian kami berdua sudah selesai sarapan. Bi Rahmi segera mengambilkan tas milik Rindiani yang masih berada di dalam kamar.

"Mama mau buatin bekal dulu buat kakak ya, sebentar aja" Ucapku.

"Iya ma, kakak mau bekal sama sayur capcay ayam goreng dan buahnya jeruk aja ma" Ucapnya.

"Siap tuan putri" Ucapku dan berlalu dari harapannya.

Dengan cekatan aku menyiapkan bekal untuk putriku, aku beri hiasan wortel dan rumput laut di nasi yang ku bentuk kelinci agar Rindiani kalau makan semangat melihat bekal nya yang lucu.

"Bi, tolong kupaskan jeruk dan buah naga ya buat bekal Rindiani" Ucapku dan langsung diangguki olehnya.

Setelah semuanya siap aku langsung mengantarkan putri kecilku ke sekolah. Saat di perjalanan ponselku berdering tapi dengan nada yang berbeda, nada dering yang ku khususkan jika ada pesan atau panggilan masuk dalam ponsel mas Raditya.

"Hmm siapa yang menelepon mas ya" gumamku.

"Nanti ajalah aku lihat, nanggung bentar lagi sampai sekolah" lanjutku.

Beberapa saat kemudian mobil yang ku kendarai sudah sampai di sekolah Rindiani.

"Sayang, semangat ya sekolahnya. Ingat pesan mama sebelum mama jemput jangan pulang duluan kecuali papa yang jemput oke...!" pesanku setiap hari kepada putriku karena takut dia ikut dengan orang asing yang mengaku suruhan kami.

Banyak sekali kan kejadian penculikan seperti itu, jadi aku selalu mewanti- wanti Rindiani jika bertemu orang asing harus hati-hati dan selalu waspada.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!