NovelToon NovelToon

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Episode 1

Lampu-lampu kota memantul di kaca gedung tinggi, menciptakan kilau yang indah, ironis bagi seorang gadis yang hidupnya baru saja dilelang.

Tasya berdiri di depan pintu suite hotel mewah lantai tiga puluh. Gaun tipis yang dikenakannya terasa seperti ejekan. Transparan hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang gemetar.

Di belakangnya, pamannya menggenggam lengannya kuat.

“Paman, tolong…” suara Tasya bergetar. “Jangan lakukan ini. Aku akan kerja apa saja. Aku bisa bantu perusahaan—”

“Diam!” bentak sang paman.

Bibinya menyilangkan tangan, wajahnya tanpa rasa bersalah.

“Perusahaan ini hampir bangkrut karena orang tuamu dulu. Sekarang kamu gantinya.” Bentak, Milan.

Merlin, anak mereka tersenyum sinis.

“Lagian kamu cuma anak pungut. Harusnya bersyukur bisa laku seratus miliar.”

Di dalam kamar itu, seorang pria tua duduk di kursi empuk dekat meja kaca. Rambutnya memutih. Senyumnya menjijikkan. Kontrak sudah tergeletak rapi di atas meja.

“Masukkan dia,” katanya santai.

Tasya meronta. “Aku mohon! Jangan!”

Namun, jarum suntik menembus lengannya. Cairan dingin mengalir ke tubuhnya. Pandangan Tasya mulai kabur saat pintu didorong terbuka dan tubuhnya dilempar masuk.

Pintu tertutup terkunci dari luar, langkah kaki menjauh tanpa ragu.

“Paman! Bibi! Tolong buka!” Tasya memukul-mukul pintu, tangannya lemah karena obat.

Tak ada jawaban, dan ketika dia berbalik perlahan. Pria tua itu berdiri, matanya menjalar rakus di balik gaun transparan yang kini terasa seperti hukuman.

“Aku sudah membayar seratus miliar untukmu,” katanya, suaranya berat dan serak. “Dan kontrak kerja sama itu akan menyelamatkan perusahaan keluarga pamanmu. Kau harus merasa terhormat.”

Tasya mundur.

“Jangan mendekat…”

Pria itu tertawa pelan dan melangkah maju.

Tasya berlari mengitari ruangan. Jantungnya berpacu. Obat bius membuat tubuhnya limbung, tapi ketakutan memberinya tenaga. Pria tua itu mencoba menangkapnya. Tangannya hampir menyentuh bahu Tasya namun,

Prang!

Tanpa sengaja, Tasya meraih vas bunga kristal di atas meja dan mengayunkannya sekuat tenaga. Vas itu menghantam kepala pria tua itu.

Suara pecahan menggema, tubuh pria itu roboh. Darah mengalir dari pelipisnya, Tasya terdiam dan tangannya gemetar.

“A-aku tidak…” napasnya memburu. Namun, ia tak punya waktu untuk menyesal. Dengan tangan gemetar, ia mencari tas pria itu. Sebuah kartu akses hotel dan kartu hitam tanpa nama jatuh ke lantai.

Tasya meraihnya, dia membuka pintu dan berlari. Namun, di ujung sana Paman dan bibinya masih berdiri. Seolah memastikan transaksi selesai.

Tasya membeku, tak mungkin ia lewat dari sana. Dengan panik, ia melihat sebuah pintu kamar terbuka sedikit. Seorang pria berjas hitam baru saja keluar dari sana dan berjalan cepat ke arah lift.

Berarti kini kamar itu kosong, pikir Tasya. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan menutup pintu perlahan.

Lampu kamar redup, dia bersandar pada pintu, mencoba menenangkan napasnya. Namun, aroma alkohol kuat menyeruak di udara. Perlahan, Tasya menoleh ke arah ranjang dan seketika darahnya seolah berhenti mengalir. Ada seorang pria yang terbaring di sana dan tak sadarkan diri.

Di luar kamar, pengawal yang tadi keluar sebenarnya hanya memastikan lorong aman. Tak ada yang tahu bahwa seorang gadis panik telah masuk ke dalam kamar tuannya.

Di atas tempat tidur king size itu, pria yang tadi ia kira tak sadarkan diri mulai bergerak. Tangannya yang besar dan berurat menarik dasinya kasar, seolah benda itu mencekiknya. Hawa panas menyelimuti ruangan, bukan karena suhu, melainkan karena sesuatu yang tidak beres.

Tasya perlahan menoleh, dan dunia seolah berhenti. Pria itu telah duduk setengah bangun. Tubuhnya kekar dan tegap. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, memperlihatkan bidang dada yang tegas. Lengan-lengannya dipenuhi tato gelap yang menjalar hingga pergelangan tangan.

Namun, bagi Tasya, semuanya terlihat kabur. Pandangannya berbayang akibat obat bius yang masih mengalir di dalam darahnya, obat yang disuntikkan Merlin ke lengannya beberapa menit lalu.

Kepalanya terasa berat dan dunia berputar. Ia memegang pelipisnya.

“Aku harus … pergi…” gumamnya pelan.

Di sisi lain, pria itu menyadari kehadiran orang asing di kamarnya. Tatapannya liar, namun ia berusaha keras untuk tetap sadar dan otot rahangnya menegang.

Seseorang telah membiusnya setelah pertemuan penting malam ini, pertemuan yang memaksanya muncul di depan publik untuk kedua kalinya sepanjang hidupnya yang tiga puluh dua tahun.

Ia jarang terlihat dan jarang memberi wajah pada namanya. Dan malam ini, ia juga menjadi korban.

“Siapa … kamu…” suaranya rendah dan berat, tertahan oleh kesadaran yang setengah hilang.

Tasya tersentak.

“A-aku minta maaf … aku salah kamar,” jawabnya cepat. “Aku akan pergi.”

Ia berbalik, berniat membuka pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang, sebuah genggaman kuat menangkap pergelangan tangannya.

Tubuh Tasya tersentak. Pria itu bergerak cepat meski kesadarannya terancam hilang. Ia menarik Tasya dan dalam satu gerakan, mendorongnya ke atas kasur.

Tasya terkejut, napasnya tercekat.

“Lepaskan aku!” serunya lemah, mencoba melepaskan diri.

Namun, tenaga mereka sama-sama tidak stabil. Obat di tubuh Tasya membuat gerakannya lambat, sementara obat dalam tubuh pria itu mengacaukan kewarasannya.

Tatapan pria itu menelusuri wajah Tasya yang samar dalam pandangannya.

“Siapa yang mengirimmu…” gumamnya, suaranya serak.

Tasya menggeleng cepat.

“Tidak ada … aku hanya—”

Kata-katanya terpotong saat kepalanya semakin berat. Penglihatannya semakin buram. Ia tidak lagi yakin mana kenyataan dan mana bayangan.

Pria itu menutup mata sesaat, mencoba melawan efek racun dalam darahnya. Namun, tubuhnya terasa panas, pikirannya kacau, nalurinya tak terkendali.

Tatapan mereka bertemu, keduanya sama-sama tidak sepenuhnya sadar. Sama-sama terjebak dalam racun yang mengalir di tubuh mereka.

Tasya mencoba bangkit.

“Aku harus pergi…” bisiknya, suaranya pecah.

Namun, genggaman pria itu terlalu kuat. Tenaganya jauh lebih besar dibanding tubuh Tasya yang melemah karena obat bius. Setiap gerakan Tasya terasa lambat, berat, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.

Pria itu mengangkat tangan, menyentuh wajah Tasya.

Sentuhan itu membuat Tasya tersentak.

“Jangan…” lirihnya.

Pandangan Tasya kabur. Wajah pria di atasnya hanya bayangan samar, rahang tegas, napas berat, kulit hangat yang terasa membakar. Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa dia.

Pria itu menunduk, napasnya menyentuh kulit Tasya. Ada sesuatu yang tidak wajar dalam gerakannya. Ada dorongan liar yang bukan lahir dari kesadaran utuh.

Tasya memberontak, air mata mulai mengalir.

“Lepaskan aku … tolong…”

Namun, setiap tangisnya seperti tak mampu menembus kesadaran pria itu. Racun yang menguasai pikirannya mengaburkan batas benar dan salah. Naluri yang terdistorsi membuatnya bertindak bukan sebagai dirinya.

Pria bukan sedang sadar, dia bukan sedang menjadi dirinya sendiri. Namun, bagi Tasya, alasan itu tak mengurangi rasa takut.

Rasa sakit menjalar. Tubuhnya menegang, dia menangis, memohon, mencoba mendorong, tetapi tenaganya habis sedikit demi sedikit.

Tangis Tasya teredam di antara dinding tebal kamar hotel mewah itu. Di luar, Berlin tetap membeku, tak peduli pada dua manusia yang sama-sama dikhianati oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Tolong berhenti ... itu sakit, kamu menyakitiku," mohon Tasya, tetapi tak digubris oleh pria itu.

Sementara pria itu, dalam kesadaran yang retak, seolah terjebak dalam kegelapan yang membisikkan kekuasaan dan kemenangan, seakan melihat musuh yang harus ditundukkan, bukan seorang gadis yang tak berdaya.

'Mama ... Papa, Tata telah gagal...' bisik Tasya dalam hati, memohon dan memberontak pun kini tak ada gunanya lagi, pria itu telah berhasil merengut sesuatu yang berharga darinya. Sesuatu yang sangat dijaga olehnya.

Episode 2

Subuh itu, Tasya terbangun dengan rasa sakit yang menusuk seluruh tubuhnya. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar kembali. Langit di balik tirai masih gelap. Lampu kamar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.

Ia menoleh ke sampingnya, kosong dan tak ada siapa pun di sana.

Seprai berantakan menjadi satu-satunya bukti bahwa semalam bukan mimpi. Namun, tak ada sosok pria itu.

Jantung Tasya berdetak lebih cepat.

"Apakah dia sudah pergi?"

Pertanyaan itu belum sempat terjawab terjawab, ketika suara air mengalir terdengar dari kamar mandi.

Tasya membeku, "pria itu masih di dalam."

Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya. Ia bangkit tergesa dari ranjang, tetapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir terjatuh kembali. Lututnya lemas, tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri.

Ia menahan napas, menahan nyeri, memaksa dirinya berdiri.

“Aku harus pergi…” bisiknya pelan.

Matanya mencari pakaiannya. Gaun tipis yang ia kenakan malam tadi tergeletak di lantai, sobek di beberapa bagian. Tak mungkin dipakai keluar hotel tanpa mengundang perhatian.

Tanpa pilihan lain, Tasya meraih kemeja pria itu yang tersampir di kursi. Ia mengenakannya dengan tangan gemetar. Kemeja putih itu kebesaran, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha. Setidaknya cukup untuk membawanya keluar dari kamar ini.

Suara air masih terdengar, waktunya tidak banyak. Tasya melangkah menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti. Dia baru sadar satu hal yang lebih menyakitkan dari tubuhnya sendiri.

Ia tidak punya uang, tak punya sepeser pun. Ia tak mungkin pergi jauh tanpa uang, bahkan untuk naik taksi pun tidak cukup. Dengan napas tertahan, Tasya menoleh kembali ke dalam kamar. Pandangannya menyapu meja kecil di dekat sofa. Di sana tergeletak sebuah dompet hitam.

Dia berjalan cepat ke sana, tangannya sedikit ragu sebelum membukanya. Di dalamnya terdapat kartu-kartu tanpa nama dan beberapa lembar uang euro.

Ia menghitung cepat, hanya ada dua lembar. Tasya mendengus pelan, kesal di tengah kepanikan.

“Tinggal di kamar hotel semewah ini, tapi cuma simpan dua lembar uang…” gumamnya lirih.

Kesal, tetapi tetap mengambil uang itu untuk ongkosnya. Ia tak berani mengambil kartu apa pun. Ia tak ingin meninggalkan jejak lebih banyak dari yang sudah terjadi.

Suara air di kamar mandi tiba-tiba mengecil. Tanpa menoleh lagi, Tasya membuka pintu perlahan. Lorong hotel masih sunyi dalam dingin subuh Berlin. Dengan langkah tertahan oleh rasa sakit dan dada yang dipenuhi campuran takut serta tekad, Tasya berjalan pergi.

Dia tidak mengucapkan apa-apa, dia tidak meninggalkan pesan. Ia hanya membawa dua lembar uang, luka yang tak terlihat, dan keputusan untuk menghilang sejauh mungkin dari malam itu.

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Begitu Tasya melangkah ke lobi hotel, udara hangat menyambutnya, berbanding terbalik dengan dingin yang terasa di dalam dadanya.

Beberapa pasang mata langsung menoleh.

Penampilannya tak biasa. Kemeja putih kebesaran dengan langkah yang sedikit tertatih jelas menarik perhatian. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat.

Namun, Tasya tak peduli. Dia tak punya tenaga untuk merasa malu. Tasya hanya ingin pergi. Dengan langkah cepat, ia melirik ke kanan dan kiri mencari akses keluar. Meja resepsionis. Sofa tamu, pintu putar besar yang mengarah ke jalan.

Ia menuju pintu tanpa berhenti.

Udara subuh Berlin menyentuh kulitnya begitu ia keluar. Dingin, menusuk, tetapi entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada kamar hotel tadi. Beberapa taksi terparkir di depan hotel. Tanpa berpikir panjang, Tasya membuka pintu salah satunya dan masuk ke kursi belakang.

“Wohin?” tanya sopir itu singkat.

Tasya menyebutkan alamat rumah pamannya. Suaranya pelan, tetapi tegas.

Mobil mulai melaju. Jalanan masih gelap, lampu-lampu kota redup, sebagian toko belum buka. Berlin pukul tiga lewat, kota itu belum benar-benar hidup.

Di dalam mobil yang bergerak pelan, Tasya menatap ke luar jendela.

Air matanya jatuh tanpa suara. Dia tak pernah menyangka orang yang ia anggap keluarga, orang yang membesarkannya sejak orang tuanya meninggal, bisa menjualnya seperti barang.

Tangisnya pecah pelan, dia menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Kenapa hidupku harus seperti ini?"

Beberapa menit berlalu dalam diam. Sopir taksi tak banyak bertanya. Hanya sesekali melirik dari kaca spion, mungkin bertanya-tanya, tetapi memilih tak ikut campur.

Tasya menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Dia harus kembali ke rumah pamannya.

Semua barangnya ada di sana. Paspor cadangan. Dokumen, sisa tabungan kecil yang ia sembunyikan. Jika ingin benar-benar pergi dari Jerman dan mungkin kembali ke Indonesia, ia harus mengambil semuanya malam ini juga.

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan yang lebih sepi. Tangis Tasya mereda, berganti tekad yang perlahan mengeras di dalam dada. Ia mungkin tak bisa mengubah apa yang terjadi malam ini. Namun, ia masih bisa memilih apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mobil taksi berhenti di depan rumah besar milik pamannya.

Lampu taman masih menyala redup, tetapi suasana terlihat sepi. Tak ada mobil di halaman. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tasya membayar dengan dua lembar uang yang ia ambil dari kamar hotel tadi. Tangannya masih gemetar, tetapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena tekad yang mulai mengeras.

Ia turun dari mobil.

Gerbang rumah terbuka sedikit. Satpam yang berjaga menatapnya terkejut.

“Nona Tasya?” tanyanya, heran melihat penampilannya yang tak biasa. “Anda baru pulang?”

Tasya sedikit tersentak, lalu memaksakan diri untuk tetap tenang.

“Paman dan Bibi sudah bangun?” tanyanya pelan.

Satpam itu menggeleng.

“Belum pulang, Nona. Sejak sore tadi kalian pergi bersama. Sampai sekarang belum kembali.”

Tasya terdiam beberapa detik, lalu ia mendengus pelan.

Tentu saja, mereka pasti sedang merayakan keberhasilan transaksi itu. Berfoya-foya dengan uang yang mereka dapatkan dari menjual dirinya.

Ia yang hampir kehilangan segalanya, sementara mereka mungkin sedang tertawa di restoran mahal.

“Baik,” jawab Tasya singkat.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lebih lama. Rumah itu terasa asing meski ia telah tinggal di sana bertahun-tahun. Dinding-dinding yang dulu ia anggap tempat berlindung kini terasa seperti kandang.

Ia menuju kamarnya, pintu dibuka cepat. Semua barangnya masih di sana. Lemari, meja belajar. Koper kecil di sudut ruangan. Tanpa membuang waktu, Tasya menarik koper itu dan mulai memasukkan pakaian seperlunya.

Ia membuka laci meja dan mengambil tabungan yang selama ini ia sembunyikan, uang hasil kerja sambilan dan sisa pemberian almarhum orang tuanya yang tak pernah ia sentuh.

Setelah semuanya siap, Tasya duduk sejenak di tepi ranjang. Ia menyalakan ponselnya dan memesan tiket penerbangan pertama menuju Indonesia. Penerbangan subuh menuju Jakarta masih tersedia.

Ia memesan tanpa ragu.

Begitu sampai di bandara, ia hanya perlu mencetak boarding pass dan langsung berangkat. Tak ada lagi ruang untuk berpikir ulang.

Beberapa menit kemudian, Tasya menarik koper keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah untuk terakhir kalinya.

Saat ia melewati pos jaga, satpam kembali menegurnya.

“Nona Tasya mau ke mana pagi-pagi begini?”

Tasya berhenti sejenak.

“Aku akan pergi dari sini,” katanya tenang.

Satpam itu terlihat bingung. “Pergi? Maksudnya…”

“Kalau Paman dan Bibi tanya apakah aku pulang,” lanjut Tasya, menatap lurus ke depan, “tolong jangan katakan apa pun.”

Satpam itu terdiam, dia hanya mengangguk pelan.

Tasya tidak menoleh lagi.

Ia melangkah keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia sebut tempat tinggal.

Episode 3

Sementara itu, di dalam kamar hotel. Air dari shower terakhir jatuh ke lantai marmer sebelum akhirnya berhenti.

Pria itu melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Uap tipis masih menguar di udara, tetapi hawa panas dalam tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Kepalanya berdenyut, efek sisa racun yang semalam mengacaukan kesadarannya.

Pria itu menyeka rambutnya kasar. Begitu melangkah ke area kamar utama, langkahnya terhenti.

Ranjang kosong, seprai masih berantakan, dan tak ada siapa pun di sana.

Rahangnya mengeras, dia berjalan pelan mengelilingi kamar. Tatapannya jatuh pada lantai, dompetnya tergeletak di sana. Ia memungutnya, membukanya cepat.

Uang di dalamnya tidak ada, Pria itu mendegus pelan, tatapannya menggelap.

“Datang hanya untuk uang…” gumamnya dingin.

Matanya menyapu ruangan sekali lagi. Kemeja yang ia kenakan semalam juga hilang.

Pintu kamar diketuk.

“Masuk,” perintahnya tegas.

Seorang pria berjas hitam melangkah masuk sambil menunduk hormat.

“Tuan Alex, ini baju ganti Anda.”

Nama itu menggantung berat di udara, pria itu adalah Alex Roman Vasillo.

Alex mengambil pakaian itu tanpa menatap lama, lalu mengenakannya dengan gerakan tenang, untuk seseorang yang baru saja menyadari pelanggaran besar di kamarnya.

Setelah rapi, ia mengancingkan kemejanya. Barulah ia menatap bodyguard-nya.

“Cari wanita yang semalam masuk ke kamar ini.” Nada suaranya rendah namun terdengar cukup berbahaya.

“Cari di mana pun dia berada.” Alex melangkah mendekat.

“Dia telah merusak semuanya yang ku pertahankan selama ini.”

Bodyguard itu menunduk lebih dalam. Ia menyadari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar uang yang hilang. Tuannya bukan pria yang biasa disentuh wanita mana pun.

Berbeda dengan Tuan Besar Vasillo di masa lalu yang dikenal hidup bebas, Alex tumbuh berbeda. Ia menjaga jarak, menjaga kontrol. Bahkan, dalam dunia kelam yang ia jalani, ia tak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan kelemahan.

Ia terbiasa sendiri, karena baginya, menyentuh hal-hal kotor dalam pekerjaan sudah cukup. Ia tak ingin membawa kekacauan ke dalam wilayah yang ia anggap miliknya. Tetapi, kini seseorang telah masuk ke ruang pribadinya.

Bodyguard itu juga tahu, kembalinya Alex ke Jerman bukan tanpa alasan. Ia selama bertahun-tahun mengasingkan diri di Mesir, membangun jaringan sendiri, menjauh dari pusat keluarga.

Dia baru kembali ketika mendengar kabar bahwa Tuan Besar Vasillo jatuh sakit, diserang oleh musuh lama.

Kembalinya bukan untuk nostalgia, tetapi melainkan untuk perang dan balas dendam. Alex menatap jendela kamar hotel yang memperlihatkan langit Berlin yang mulai memucat.

“Temukan dia sebelum matahari terbenam,” ucapnya dingin. Karena bagi seorang Vasillo, tak ada yang boleh masuk ke wilayahnya tanpa konsekuensi.

Sementara itu, pesawat mulai bergerak perlahan di landasan. Tasya duduk di kursi dekat jendela, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, tetapi untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa kini telah aman.

Lampu kabin diredupkan, suara mesin pesawat mengaum pelan, lalu semakin keras. Berlin mengecil di balik kaca. Saat roda pesawat terangkat dari tanah, dada Tasya terasa lebih ringan.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, tetapi kali ini bukan karena takut. Bukan karena sakit. Melainkan karena lega yang begitu dalam hingga hampir terasa menyakitkan.

Ia menatap ke luar jendela. Kota itu perlahan menghilang di balik awan putih. Gedung-gedung tinggi, hotel mewah, rumah besar pamannya, semuanya tertinggal di bawah sana.

“Aku bebas…” bisiknya pelan. Dia tak tahu bagaimana hidupnya di Indonesia nanti. Ia tak tahu harus mulai dari mana.vNamun, setidaknya, ia telah memilih untuk hidup. Tasya menyandarkan kepala ke kursi. Tubuhnya masih nyeri, luka di hatinya belum sembuh. Bayangan malam tadi sesekali masih mencoba menyelinap masuk ke pikirannya.

Siang harinya.

Suasana di Berlin terasa dingin meski matahari bersinar terang. Di dalam suite hotel mewah itu, suasana justru lebih membeku.

Alex Roman Vasillo berdiri di depan jendela besar, memandang kota dengan tatapan gelap. Jas hitam yang baru dikenakannya terlihat rapi dan mahal, tetapi aura yang mengelilinginya jauh lebih tajam daripada potongan kain terbaik sekalipun.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk!”

Mario, asisten pribadi sekaligus tangan kanan yang paling dipercaya, melangkah masuk dengan langkah hati-hati.

“Tuan Alex,” ucapnya hormat. “Kami sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV hotel.”

Alex tidak menoleh. “Dan?”

Mario menelan ludah tipis. “Wajah wanita itu tidak terlihat jelas. Rambutnya menutupi hampir seluruh wajahnya. Namun, dari gerakannya … dia tampak seperti berada di bawah pengaruh obat.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih hening.

Mario melanjutkan, “Kemungkinan besar dia juga dibius oleh seseorang. Gerakannya tidak stabil. Sepertinya ia masuk ke kamar Anda tanpa sadar.”

Rahasia kecil itu justru membuat rahang Alex mengeras.

“Ada perempuan asing,” suaranya rendah dan berbahaya, “yang berani masuk ke kamarku.”

Bagi pria lain, itu mungkin sekadar kesalahan.

Bagi Alex, itu adalah pelanggaran.

Wilayahnya tidak pernah boleh disentuh. Hidupnya terlalu berbahaya untuk dimasuki orang asing tanpa izin. Tatapan gelapnya akhirnya beralih pada Mario.

“Di mana bodyguard yang berjaga tadi malam?”

“Mereka sudah kami tahan untuk diperiksa, Tuan.”

“Lalai.” Alex mendengus dingin. “Hukum mereka.”

Mario langsung mengerti. Tidak ada ruang untuk toleransi dalam organisasi Vasillo. Kesalahan sekecil apa pun bisa berarti pengkhianatan.

“Baik, Tuan.”

Namun, sebelum Mario berbalik, suara Alex kembali terdengar dan kini lebih tajam dari sebelumnya.

“Dan jika perempuan itu datang menuntut tanggung jawab…”

Mario terdiam.

“Bunuh saja!” Perintah itu diucapkan tanpa nada emosi. Tanpa keraguan, tanpa belas kasihan. Mario sangat mengenal tuannya. Alex Roman Vasillo tidak pernah memberi ancaman kosong.

Mario hanya mengangguk. “Dimengerti, Tuan.”

Ketika pintu tertutup kembali, Alex berdiri sendirian. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Bukan soal uang yang hilang, bukan soal kamar yang dilanggar. Melainkan sepasang mata yang samar, mata yang bahkan tak ia lihat dengan jelas, tetapi entah mengapa teringat dalam bayangannya.

Ia mengepalkan tangan.

“Jangan sampai aku menemukanmu,” gumamnya pelan, lebih dari seperti peringatan yang sangat berbahaya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!