NovelToon NovelToon

Transmigrasi Ke Raga Istri Jendral

Bab 1

Negara Yan

Di salah satu rumah seorang perdana Mentri Negara Yan, terlihat seorang gadis muda duduk di gazebo taman samping rumahnya, dia adalah Lu Mingyu putri satu satunya perdana mentri Lu, yang terkenal bodoh dan juga keras kepala, tapi Lu Mingyu memiliki wajah yang cantik dan juga lahir dari orang tua yang sangat kaya raya, yang menjadi kannya masih memiliki kepercayaan diri.

Sayangnya di Negara Yan wajah cantik atau lahir dari orang tua kaya raya bukanlah sesuatu yang bisa di banggakan, jika tidak memiliki bakat apapun mereka akan tetap di pandang rendah oleh masyarakat di negara Yan, meskipun gadis itu anak pejabat sekalipun.

Dan satu bulan yang lalu Negara Yan di hebohkan dengan berita kalau pria idaman para gadis di negara Yan akan menikah.

Pangeran Rong Cheng atau biasa di panggil dengan Jendral Rong, dia adalah adik bungsu kaisar negara Yan, memiliki wajah yang sangat tampan menjadikan Jendral Rong sebagai idola para gadis muda ataupun tua di negara Yan.

Pangeran Rong Cheng sudah masuk militer sejak usianya baru enam belas tahun, dan saat usianya menginjak dua puluh tahun Pangeran Rong Cheng menjadi pemimpin anggota militer di seluruh negara Yan, dan sejak menjadi pemimpin anggota militer Pangeran Rong Cheng hampir tidak pernah pulang ke istana, dia selalu menghabiskan waktunya di kamp militer.

Hingga suatu hari Pangeran Rong Cheng di panggil kembali oleh Ibunya, karna harus menikah dengab gadis yang sudah di jodohkan oleh mendiang Ayahnyanya atau kaisar sebelumnya.

Masyarakat terkejut saat tahu kalau wanita yang di nikahi oleh Jendral Rong adalah putri perdana mentri Lu, mereka sangat menyangkan perjodohan itu, dari segimanapun Lu Mingyu tidaklah pantas bersanding dengan Jendral Rong.

Sedangkan Lu Mingyu sendiri, dia juga salah satu gadis yang sangat mengidolakan Jendral Rong, Mingyu sangat bahagia saat tahu kalau ternyata dirinya di jodohkan dengan Jendral Rong.

Tapi setelah acara pernikahan mereka selesai, Mingyu harus menelan kenyataan pahit ketika Jendral Rong meninggalkannya di saat malam pengantin mereka, Jendral Rong memilih kembali ke kamp militer saat itu juga.

''Aku peringatkan kamu, untuk tidak berharap apapun di dalam pernikahan ini'' ucap Jendral Rong saat itu dengan expresi datar, lalu keluar meninggalkan Mingyu sendirian di kamar pengantin.

Selama beberapa hari di kediaman Jendral Rong, Mingyu selalu menjadi bahan gosip para pelayan, membuat Mingyu tidak betah dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman Lu.

Setiba di kediaman Lu, Mingyu terus mengurung diri di kamarnya, setiap hari Mingyu terus berharap kalau Jendral Rong pulang dan menjemputnya, tapi hingga hampir tiga minggu belum juga ada tanda tanda Jendral Rong akan kembali, hingga suatu hari Mingyu yang terus melamun menunggu Jendral Rong, tidak sengaja terpeleset di kolam taman kediaman Lu, hingga membuatnya pingsan selama tiga hari, dan saat bangun jiwa yang ada di dalam raga Mingyu sudah di tempati oleh jiwa lain yabg memiliki nama yang sama Lu Mingyu gadis mata mata dari abad dua satu.

''Hah''

Mingyu menghela nafasnya, sembari menyangga dagunya dengan kedua tangannya, dia masih tidak menyangka kalau jiwanya akan melakukan perjalanan waktu ke zaman kerajaan antah berantah, dan menempati raga orang lain yang kebetulan namanya sama dengannya, dan sialnya raga yang ia tempati adalah milik seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya, mana masih di kenal bodoh pula dan tak punya bakat lagi, tapi Mingyu masih bersyukur karna raga yang ia tempati putri orang kaya, setidaknya dia tidak perlu bekerja bertaruh nyawa seperti di kehidupannya jika ingin membeli ini dan itu.

''Mingyu''

Mingyu langsung menegakkan tubuhnya, saat Tuan Lu atau ayah Mingyu berjalan ke arahnya.

''Ayah'' sapa Mingyu tersenyum.

''Sedang apa di sini?'' tanya Tuan Lu sembari duduk berhadapan dengan putri semata wayangnya.

Walaupun putrinya bodoh dan tidak memiliki bakat apapun, tapi Tuan Lu sangat menyangi Mingyu, bagi Tuan Lu putrinya adalah sebuah anugrah yang di titipkan oleh Tuhan, yang harus ia jaga dan sayangi, apa lagi sejak istri Tuan Lu meninggal lima tahun yang lalu, Tuan Lu semakin menyayangi Lu Mingyu.

Sayangnya Tuan Lu tidak tahu yang sudah di lakukan oleh Jendral Rong Cheng padan putrinya, karna Mingyu tidak cerita apapun, saat dia kembali ke kediaman Lu, Mingyu hanya mengatakan kalau dia merindukan Ayahnya, dan juga mengatakan kalau Jendral Rong juga harus kembali ke kamp militer, Mingyu tidak pernah menceritakan jika Jendral Rong kembali ke kamp saat malam pengantin mereka, andai Tuan Lu tahu sudah di pastikan dia akan sangat murka.

''Mingyu, nanti sore Ayah harus pergi ke negara tetangga sebagai utusan kaisar'' ucap Tuan Lu agak berat, karna harus meninggalkan putrinya yang baru saja mengalami kecelakaan.

''Berapa hari Ayah?'' tanya Mingyu spontan.

''Mungkin tiga hari''

Mingyu langsung mengulum senyum, akhirnya dia punya kesempatan untuk bebas selama tiga hari.

''Kalau begitu Ayah hati hati, Ayah harus pulang dengan selamat'' ucap Mingyu dengan tersenyum menunjukkan wajah cantiknya.

Tuan Lu juga ikut tersenyum menganggukkan kepala, sembari mengusap surai hitam milik putrinya.

Malam hari Mingyu sudah berpakian seperti prajurit pria, dia berdiri di depan cermin sembari merenggangkan kedua tangannya.

''Hah, rasanya seperti sudah sangat lama tidak berolahraga, apa mungkin ini bawaan dari pemilik tubuh asli'' gumam Mingyu merasakan kaku di sekujur tubuhnya, setelah beberapa saat melakukan

pemanasan dengan gerakan taekwondo.

Tok

Tok

''Masuk!!'' seru Mingyu.

Ceklek

''Nona makan ma,, siapa kamu?!!'' pekik Xiao Fe terkejut melihat pria di dalam kamar Nona Mudanya.

Mingyu langsung membalikkan badannya, dan Xiao Fei seketika membulatkan matanya.

''Nona!''

Mingyu menghampiri Xiao Fei sembari tersenyum.

''No,, Nona, kenapa anda berpakian seperti ini?''

''Fei, aku mau jalan jalan, mumpung Ayah pergi'' sahut Mingyu sembari menutup wajahnya dengan kain tipis berwarna hitam.

''Ta,, tapi kenapa anda harus berpakaian seperti ini?'' tanya Xiao Fei.

Mingyu tersenyum di balik cadarnya. ''Tentu agar tidak ada yang mengenaliku'' ujarnya lalu meraih pisau yang ada di atas buah apel.

''Fei, aku pergi dulu''

''Nona saya ikut''

''Tidak perlu, kamu tunggu di sini saja, aku akan kembali sebelum fajar'' tukas Mingyu dan berlalu pergi melompati jendela kamar.

Xiao Fei terkejut melihat Nonanya dengan mudah melompati jendela kamar, sesuatu yang belum pernah dia lihat sama sekali, tapi beberapa detik kemduian Xiao Fei tersadar, lalu dia buru buru mengejar Nonanya tapi sudah tidak ada.

''Kenapa setelah kejadian terpeleset di kolam, sikap Nona terlihat berbeda'' gumam Xiao Fei.

Saat ini di dalam hutan dekat perbatasan, Mingyu dengan santai duduk di tepi sungai seorang diri, tadi setelah berjalan jalan cukup lama, Mingyu menemukan tempat yang sangat pas untuk menikmati suasana malam, pemandangan di tepi sungai di hutan perbatasan sangatlah indah, jadi Mingyu memilih duduk di sana sembari melahap buah buahan yang ia ambil dari dalam hutan tadi.

''Hah,, andai ada ponsel, langsung aku abadikan moment malam ini'' gumam Mingyu menatap gemerlap bintang di langit malam.

Dan beberapa saat kemudian Mingyu di kejutkan dengan suara pedang yang saling bersahutan.

Trang

Trang

''Sepertinya ada yang bertarung'' gumam Mingyu.

Karna penasaran Mingyu memilih pergi untuk melihat.

Bab 2

Dari balik pohon besar, Mingyu memperhatikan dua pria yang sedang bertarung, salah satu dari mereka ada yang memakai topeng, jadi Mingyu tidak bisa melihat seperti apa rupanya, di tambah lagi hanya menggunakan cahaya bulan untuk penerang.

Tang

Wush

Jleb

Ugh,,

Mingyu terkejut saat pedang milik pria bertopeng melayang, dan menancap tepat di pohon tempat dia mengintip.

''Huh, untung saja tidak kena'' gumam Mingyu mengelus dadanya.

Akhirnya Mingyu memilih kembali mengintip pertarungan dua pria di depannya, dan membiarkan pedang di depannya tetap menancap di batang pohon tempat dia bersembunyi.

Sreett

Akhhh

Mingyu meringis saat pria bertopeng yang melawan dengan tangan kosong terkena sabetan pedang di lengannya, dan semakin lama Mingyu memperhatikan pria bertopeng itu sudah mulai kualahan melawan dengan tangan kosong.

''Apa aku bantu saja ya, dari penampilannya dia kelihatannya orang kaya, bisa aku mintain uang nantinya'' gumam Mingyu tersenyum sembari mengetuk ngetuk dagunya dengan jarinya.

Pria bertopeng itu kembali terkena sabetan pedang.

Srettt

''Sialan'' desis pria bertopeng itu, sembari memegang lengannya yang mengeluarkan darah semakin banyak, karna sebelumnya sudah terkena.

''Ha ha ha ha,, lebih baik menyerah lah saja, percuma terus mewalawan, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku'' ucap pria satunya dengan congkak.

Saat Pria itu melihat si pria bertopeng sudah kehabisan tenaga, dia kembali menyerang dengan mengarahkan pedangnya ke lengan pria bertopeng, tapi belum sempat pedang itu menyentuh, tiba tiba sebuah pisau melayang dan menancap tepat di dada pria itu.

Jeleb

Akhh

 Seketika pedang milik Pria itu terlepas dari genggamannya, dan selang beberapa detik pria itu ambruk dengan nafas naik turun.

Sedangkan pria bertopeng itu langsung menggunakan kesempatan itu untuk melawan kembali, dia berdiri dan menghampiri pria itu, lalu menginjak pisau yang menancap di dada pira itu hingga menembus jantungnya.

''Ka,, kamu'' gumam pria itu dan akhirnya mati.

Setelah itu Pria bertopeng itu berbalik dan hendak pergi, namun tiba tiba tubuhnya oleng, Mingyu yang melihatnya langsung berlari dengan cepat, dan menahannya.

''Tuan, anda tidak apa apa?'' tukas Mingyu sembari meletakkan tangan kekar pria bertopeng itu ke pundaknya agar tidak jatuh ke tanah.

''Nona, apa anda barusan yang melemparkan pisau pada pria itu?'' tanya pria bertopeng itu.

''Tentu, memangnya apa ada orang lagi di sini selain saya'' sahut Mingyu sembari mendudukkan pria bertopeng itu di bawah pohon besar tempat dia bersembunyi tadi.

''Tuan, luka di lengan anda lumayan dalam'' ucap Mingyu menatap luka di lengan pria bertopeng itu yang terus mengeluarkan darah.

Pria bertopeng itu hanya menganggukkan kepalanya.

Mingyu lalu beranja pergi meninggalkan pria itu sendirian di bawah pohon, tapi tak lama kemudian dia kembali dengan membawa beberapa lembar daun di tangannya, lalu dia meremat semua daunnya hingga hancur.

''Nona, apa yang sedang anda lakukan?'' tanya Pria bertopeng itu.

''Karna di sini tidak ada obat obatan, sebagai gantinya daun daun ini bisa untuk menghentikan darah di luka anda'' sahut Mingyu.

Mingyu mengambil sapu tangan dari balik bajunya, lalu dengan hati hati dia mengelap darah yang terus keluar dari luka pria itu.

Dan Pria bertopeng itu yang terus memperhatikan Mingyu di buat terkejut, saat cadar yang di pakai Mingyu tersibak oleh hembusan angin.

''Ming,, Mingyu''

Mingyu kaget mendengar pria bertopeng itu memanggil namanya.

''Tuan, anda mengenal saya?'' tanya Mingyu.

Pria bertopeng yang tak lain adalah Pangeran Rong Cheng dia menganggukkan kepalanya, tentu saja dia mengenal Mingyu, walaupun hanya bertemu di saat upacara pernikahan saja, tidak mungkin dia lupa dengan wajah wanita yang dia nikahi sebulan yang lalu.

''Saya hanya pernah bertemu dengan anda sekali'' ucap Pangeran Rong Cheng tanpa mengalihkan tatapannya dari mata bulat milik Lu Mingyu yang sedang serius mengobati lukanya.

''Benarkah?, kapan?, dan dimana?'' tanya Mingyu menatap balik Rong Cheng.

''Saat di pernikahan anda dengan Jendral Rong''

Lu Mingyu langsung berdecak. ''Ck''

''Kenapa Nona?'' tanya Rong Cheng.

''Tidak apa apa, hanya kesal saja kalau teringat dengan suami sialan itu'' jawab Mingyu.

Jendral Rong hampir tersedak ludahnya, saat di katai sialan tepat di depan wajahnya langsung oleh istrinya sendiri.

Ehem

''Nona, apa anda tidak takut dengan Jendral Rong, kalau dia tahu anda mengatainya sialan, pasti beliau akan murka?'' tanya Rong Cheng.

''Cih, aku tidak takut, meskipun dia Jendral sekalipun'' sahut Mingyu santai, membuat Rong Cheng bungkam seketika.

''Tuan lukanya sudah selesai saya balut'' ucap Mingyu, dia membalut luka di lengan Rong Cheng menggunakan ikat rambutnya.

''Terimakasih Nona''

''Sama sama, tapi ini tidak gratis, anda harus membayar saya''

Di balik topengnya Rong Cheng tersenyum geli, lalu dia mengambil beberapa lembar uang kertas dari balik bajunya, dan ia berikan pada Mingyu.

''Ini bayaran untuk anda''

Mingyu tanpa malu malu langsung mengambilnya, dan matanya berbinar saat melihat lembaran uang kertas di tangannya.

''Terimakasih Tuan''

Tapi beberapa saat kemuduan Mingyu di buat kaget, saat pria di depannya tiba tiba memuntahkan darah sangat banyak.

''Tuan, anda kenapa?''

''Orang tadi sudah memberiku racun'' ucap Rong Cheng lirih.

Mingyu buru buru memasukkan lembaran uang kertas itu ke dalam bajunya, lalu dia membantu Rong Cheng untuk bersandar di bawah pohon.

''Tuan, anda tunggu di sini sebentar''

''Nona, anda mau kemana?'' tanya Rong Cheng sembari menahan lengan Mingyu.

''Mencari Kelapa muda''

Mingyu pernah mendengar kalau air kelapa muda bisa menetralisir racun di dalam tubuh, jadi dia ingin mencobanya siapa tahu bisa.

Melihat Rong Cheng diam, Mingyu langsung berlalu pergi mencari pohon kelapa, dan lima belas menit kemudian Mingyu kembali dengan membawa tiga kelapa muda di tangan kanan dan kirinya.

Mingyu langsung membuka kelapa muda itu, lalu dia berikan pada Rong Cheng.

''Tuan, ini cepat di minum''

Rong Cheng dengan patuh meminum air kelapa muda itu langsung dari tempatnya, dan benar saja rasa panas yang tadi membakar paru parunya perlahan memudar.

''Nona, bagaimana cara anda mengambil kelapa ini?'' tanya Rong Cheng penasaran.

''Tentu memanjat pohonnya'' jawab Mingyu membuat Rong Cheng yang kembali meneguk air kelapa muda tersedak.

Uhuk

Uhuk

Uhuk

''Nona, anda bisa memanjat pohon kelapa?'' tanya Rong Cheng yang masih tidak percaya.

''Hem, benar''

Jangankan pohon kelapa, bahkan di kehidupan pertamanya dia bisa memanjat bangunan lantai lima yang jauh lebih tinggi dari pohon kelapa dengan mudah batin Mingyu.

Rong Cheng seketika kehabisan kata kata, tapi Rong Cheng masih penasaran kenapa rumor yang tersebar di Negara Yan, kalau Lu Mingyu hanyalah gadis bodoh yang tidak memiliki bakat apapun.

Sebenarnya saat pernikahannya itulah pertama kalinya Rong Cheng bertemu dengan Mingyu, selama ini dia hanya mendengar nama Lu Mingyu dari bawahannya, dan Rong Cheng juga tidak pernah perduli, begitupun saat dia tahu kalau sudah di jodohkan dengan Lu Mingyu, dia juga sama sekali tidak menolak, bagi Rong Cheng pernikahannya dengan Mingyu hanya sekedar formalitas saja, jadi dia tidak begitu mempermasalahkannya, walaupun wanita yang menjadi istrinya tidak memiliki kelebihan apapun.

Tapi sepertinya sekarang pandangannya tentang pernikahannya dengan Mingyu sedikit berbeda, Rong Cheng ingin mengenal lebih dekat sosok istrinya, memurutnya rumor tentang istrinya tidaklah benar, atau mungkin memang ada yang sengaja menjelekkan nama istrinya.

Bab 3

Menjelang matahari terbit Pangeran Rong Cheng yang terlelap di bawah pohon tersentak, saat ada yang memanggil manggil namanya.

''Pangeran, pangeran''

''Han Bing'' gumam Rong Cheng melihat orang kepercayaannya ada di depannya.

''Pangeran, apa anda baik baik saja?'' tanya Han Bing.

Rong Cheng hanya menganggukkan kepalanya, tapi beberapa detik kemudian dia tersentak kaget, saat teringat kalau semalam Mingyu terlelap di sampingnya, apa dia sudah pergi pikirnya menoleh kekiri dan kekanan.

''Pangeran, anda mencari siapa?'' tanya Han Bing.

''Tidak ada'' sahut Rong Cheng sembari bangkit berdiri dan Han Bing dengan sigap membantu Tuannya berdiri.

''Siapkan kuda, kita kembali ke kota sekarang'' perintah Rong Cheng membuat Han Bing sedikit kaget, biasanya Tuannya akan kembali ke kota jika Ibu suri memanggilnya, tapi sekarang tidak ada panggilan dari Ibu suri Pangeran Rong Cheng tiba tiba berinisiatif pulang sendiri, apa mungkin karna sudah memiliki istri pikirnya.

''Han Bing, kamu mendengarku''

''Ah, baik Pangeran'' sahut Han Bing.

Sedangkan di kediaman perdana mentri Lu, Mingyu masih terlelap di atas ranjang tidurnya, seperti yang dia katakan pada pelayannya, kalau akan kembali sebelum fajar dan Mingyu benar benar menepatinya.

Mingyu terbangun saat sinar matahari masuk melalui jendela kamarnya, dia menggeliat untuk merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku.

''Hoammm,,, jam berapa sekarang'' gumamnya, tapi dia langsung bangkit duduk, saat mengingat kalau dirinya bukan lagi di zaman abad dua satu lagi.

''Hais,, kenapa bisa lupa lagi'' gerutunya memukul pelan kepalanya karna sering lupa.

Lalu dia memutuskan untuk mandi, karna dia sudah berencana mengajak Xiao Fei untuk berkeliling pasar, membelanjakan uang yang di berikan oleh pria yang dia tolong semalam.

Saat hari sudah menjelang siang Mingyu dan Xiao Fei sudah berada di tengah tengah keramaian pasar yang ada di pusat ibu kota, karna tidak ingin ada yang mengenalinya jadi Mingyu memakai cadar untuk menutupi wajahnya, Mingyu juga membawa pengawal pria untuk mengikutinya, dan kini mereka berada di dalam toko kain yang terkenal sangat besar dan ramai, Mingyu berencana membeli beberapa meter kain untuk dirinya dan juga para pelayannya dengan warna yang senada, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Xiao Fei yang memegang uang milik Nonanya segera membayarnya.

''Nona terimakasih'' ucap si pemilik toko karna Mingyu membeli kain di tokonya dengan jumlah banyak.

''Sama sama'' balas Mingyu tersenyum.

Pengawal pria yang di bawa oleh Mingyu, dengan sigap membawa potongan kain yang yang di beli oleh Nonanya.

''Nona, sekarang kita mau kemana lagi?'' tanya Xiao Fei.

''Kita keliling keliling dulu, siapa tahu nanti ada yang membuatku tertarik untuk di beli'' sahut Mingyu.

''Baik Nona''

Xiao Fei dan pengawal pria itu dengan setia mengikuti kemanapun langkah Nonanya, dan saat Mingyu berhenti di tempat penjual tanghulu, tiba tiba terdengar suara derap langkah kaki kuda.

''Nona, sepertinya Jendral Rong kembali'' bisik Xiao Fei.

Mingyu hanya diam saja sembari memilih tanghulu.

Dan benar saja pasar kota yang sudah ramai dengan orang yang berlalu lalang, semakin ramai saat melihat kedatangan Jendral Rong, semua wanita muda menatap penuh kekaguman pada Jendral Rong yang menunggangi kuda melewati jalan utama yang ada di tengah tengah pusat perbelanjaan, di sisi kanan Jendral Rong ada Han Bing orang kepercayaannya, dan di sisi kirinya seorang wanita muda yang menjadi satu satunya anggota militer perempuan, dia adalah Sun Wan Rou putri kepala sekolah Sun.

Banyak masyarakat yang berfikir kalau Sun Wan Rou memiliki hubungan dekat dengan Jendral Rong, hanya karna mereka sama sama berada di militer, dan lagi semua orang tahu kalau Jendral Rong dan Sun Wan Rou sudah bersama sejak mereka kecil, jadi besar kemungkinan jika wanita yang di sukai oleh Jendral Rong adalah Sun Wan Rou.

Tapi pernikahan Jendral Rong dengan Lu Mingyu berhasil menghancurkan bayangan para masyarakat, banyak dari mereka yang menghina dan merendahkan Lu Mingyu, mereka menganggap Lu Mingyu sama sekali tidak pantas menjadi istri Jendral Rong, apa lagi para pemuja Sun Wan Rou mereka selalu menyebarkan berita kalau Lu Mingyu tidak sebanding dengan Sun Wan Rou, walaupun Mingyu lahir dari seorang ayah perdana mentri dan Sun Wan Rou hanya anak kepala sekolah, tapi Sun Wan Rou memiliki bakat yang luar biasa, selain seorang sarjana Sun Wan Rou juga satu satunya anggota militer perempuan di Negara Yan, sedangkan Lu Mingyu dia tidak memeliki bakat apapun, apa lagi dua kelebihan yang di miliki oleh Sun Wan Rou.

Mingyu dengan santai melahap tanghulu yang barusan di belinya, dia tidak perduli dengan ejekan yang di lontarkan oleh orang orang di sekitarnya menurutnya itu tidaklah penting, karna saat ini raga yang di kenal bodoh oleh orang orang itu sudah di kuasai olehnya, asal tidak ada yang mencari masalah dengannya dirinya akan diam saja.

''Nona, jangan dengarkan omongan orang orang, mereka hanya iri dengan anda'' tukas Xiao Fei khawatir, karna biasanya Nona Mudanya akan menangis jika ada yang menghinanya.

''Kamu tenang saja, ayo kita kembali'' sahut Mingyu berlalu pergi dari gerombolan orang orang yang terus menggosipkannya.

Dari atas kudanya tatapan tajam Jendral Rong mengarah pada punggung wanita yang pergi dari kerumunan orang orang, Jendral Rong merasa tidak asing dengan postur punggung wanita itu.

''Mingyu'' gumamnya.

''Pangeran ada apa?'' tanya Han Bing melihat Jendral Rong menghentikan kudanya di tengah jalan.

''Tidak apa apa'' sahut Rong Cheng dan kembali memacu kudanya.

Setiba di kediamannya Jendral Rong yang baru turun dari kudanya langsung bergegas masuk ke dalam, bahkan langkahnya sangat buru buru.

''Pangeran''

Kepala pelayan panik, karna tidak pernah terfikirkan kalau Jendral Rong akan pulang secepat ini, bagaimana jika Jendral Rong tahu kalau istrinya tidak ada di kediaman.

''Paman Han, apa Nona Lu sedang keluar?'' tanya Rong Cheng sembari duduk di kursi ruang tengah.

Paman Han yang tak lain adalah Ayah Han Bing, dia panik dengan pertanyaan dari Tuannya.

''Pangeran, itu, Nona Lu, sejak tiga minggu yang lalu beliau pulang ke kediaman perdana mentri Lu, dan belum kembali lagi'' jawab Paman Han gugup.

Rong Cheng yang mendengarnya seketika genggamannya di pegangan kursi mengerat.

''Kenapa dia bisa pulang tanpa seizinku?, apa kalian memperlakukannya dengan buruk?'' tanya Pangeran Rong Cheng di penuhi amarah, lebih tepatnya bukan bertanya tapi menuduh, membuat Paman Han berkeringat dingin.

Paman Han dan pelayan lainnya berfikir kalau Tuan Merka tidak akan pernah perduli dengan istrinya, mengingat Jendral Rong meninggalkannya di saat malam pengantin mereka, padahal di negaranya malam pengantin adalah malam yang sangat sakral, dan Jendral Rong pergi begitu saja meninggalkan istrinya, bukankah itu namanya menganggap pernikahannya dengan Nona Lu tidak lah penting, tapi siapa sangka Jendral Rong akan semarah itu saat mendengar istrinya pulang ke kediaman Lu tanpa seizinnya.

''Pangeran, anda mau kemana?, anda baru saja kembali'' tanya Paman Han berlari mengejar Pangeran Rong Cheng yang tiba tiba berjalan keluar dari kediamannya.

''Menjemput kembali Nyonya rumah'' sahutnya dingin lalu kembali menaiki kudanya dan berlalu pergi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!