NovelToon NovelToon

Mendadak Jadi Ibu Tiri Antagonis

Alur Novel

"Kenapa sih anak sekecil ini harus dibuat menderita? Hanya untuk menjadi penjahat besar di masa depan? Tidak adil banget! Kaiden sayang, kamu begitu malang. Andai saja aku yang menjadi ibu tirimu, akan kubawa kamu pergi dari ayahmu yang durjana itu! Biarkan saja dia mati menderita seorang diri, tanpa harus menyeretmu!" gerutu Khaira setelah membaca novel daring di ponselnya.

Khaira adalah seorang yatim piatu yang hidup seorang diri di dunia yang kejam ini. Dia bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket dekat kontrakannya. Sudah berusia 27 tahun, tetapi Khaira masih menjomblo lantaran tidak ada yang mau dengan gadis miskin sebatang kara sepertinya. Hobinya adalah membaca novel romansa karena menurutnya, dunia paralel lebih indah daripada kenyataan.

Gajinya hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan dan bertahan hidup saja. Bajunya banyak yang sudah lusuh, bahkan warnanya sudah memudar karena sering dicuci. Khaira lebih mengutamakan membeli novel ketimbang baju baru. Toh, baju yang bagus tidak menjamin bisa mengubah hidupnya. Sungguh berbeda jika dia membaca novel; seolah dia hanyut dan ikut hidup di dalam cerita tersebut.

Novel yang Khaira baca saat ini berjudul Cinta Sejati untuk Arabella. Berkisah tentang terbentuknya penjahat besar yang akan menjadi penghalang cinta Arabella dan Edward Louis. Kaiden Alfaro Lucifer hidup penuh penyiksaan yang dilakukan oleh sang ibu tiri. Kaiden menjadi sarana pelampiasan karena sang ayah selalu mengabaikan ibu tirinya.

Sedangkan sang ayah tidak pernah peduli dengan hidup dan mati Kaiden. Hal itu membuat hati Kaiden membeku, penuh dengan kebencian dan dendam. Anak yang dulunya manis tumbuh menjadi monster yang membunuh ibu tiri sekaligus ayah kandungnya sendiri.

Hingga Kaiden bertemu dengan gadis lemah lembut bernama Arabella. Arabella-lah yang mengulurkan tangan di saat Kaiden sudah muak dengan dunia. Di tengah keterputusasaan Kaiden mengharapkan kasih sayang, Arabella datang bagaikan air yang membasahi tumbuhan yang hampir mati.

Dunia Kaiden berubah menjadi indah dan berwarna; Arabella adalah alasannya untuk tetap bertahan hidup. Dia melakukan apa saja demi Arabella, bahkan menyerahkan saham terbesarnya di perusahaan yang ia bangun dengan susah payah kepada Arabella, hingga membuatnya jatuh miskin dan terabaikan.

Namun ternyata, setelah pengorbanan besar yang ia lakukan demi Arabella, gadis itu malah jatuh cinta pada Edward Louis—teman semasa kuliah sekaligus cinta pertamanya. Ketika Kaiden menyatakan perasaannya, Arabella menolaknya dengan halus.

"Maafkan aku Kaiden, aku hanya menganggapmu sebagai teman baik. Selamanya kau adalah orang terpenting dalam hidupku. Tetapi maaf, cintaku hanya untuk Edward. Kuharap kamu dapat memahami perasaanku."

Kata-kata Arabella membuat Kaiden hancur dan terbersitlah pemikiran yang dangkal. "Jika Edward mati, tentulah Arabella akan kembali ke pelukanku," gumam Kaiden pelan.

Tekadnya kuat untuk membunuh Edward, namun sangat disayangkan, Kaiden kini tidak memiliki apa pun dan tanpa dukungan siapa pun. Kaiden yang nekat mencari Edward di mansion mewahnya untuk mencelakainya, malah tertangkap oleh beberapa pengawal yang ditugaskan menjaga Edward.

Kaiden disiksa sedemikian rupa. Arabella hadir di sana bukan untuk menolongnya, tetapi malah mengucapkan kata-kata yang menghancurkan dunia Kaiden.

"Kaiden! Aku tidak menyangka kamu sejahat itu! Aku kecewa padamu. Mulai sekarang kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu ingin membunuh lelaki yang sangat aku cintai? Aku membencimu hingga ke sumsum tulangku!" teriak Arabella dengan air mata berlinang, berada di pelukan Edward.

Kaiden tertawa getir. Dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan tak tahan dengan sakit di ulu hatinya, akhirnya Kaiden memilih untuk bunuh diri di depan Arabella dan Edward. "Beginilah seharusnya jalanku dulu. Seharusnya kamu tidak pernah datang untuk menyelamatkanku. Dari awal sampai akhir, tidak ada cinta dan kasih sayang yang benar-benar nyata untukku. Semuanya palsu!" ucap Kaiden sebelum memejamkan mata untuk selamanya.

Arabella menangis histeris atas kematian Kaiden. Penyesalan dan rasa bersalah terus menghantuinya. Namun, dengan Edward di sampingnya yang selalu menghibur, membuat Arabella akhirnya berangsur-angsur melupakan kejadian tragis itu. Dia pun hidup bahagia bersama Edward untuk selamanya.

Tamat.

*

*

*

Khaira baru saja selesai bekerja. Dalam perjalanan pulang, Khaira berjalan sambil melanjutkan membaca novel di ponselnya. Khaira menangis sesenggukan setelah membaca novel itu hingga selesai. Dia menangisi kehidupan malang Kaiden, seolah melihat kesamaan antara hidupnya dengan tokoh tersebut.

Namun, hidup Kaiden lebih tragis darinya. Padahal Kaiden terlahir dengan sendok emas di mulutnya, berbeda dengan Khaira yang lahir dengan "sendok karatan". Makanya, ia merasa hidupnya nelangsa sekali. Dia bahkan tidak tahu siapa ayah dan ibunya; sejak bayi dirinya sudah berada di panti asuhan.

"Huhu... penulis yang kejam! Malaikat maut! Kalau ingin membuat tokoh utama wanita bahagia dengan tokoh utama pria, kenapa harus membuat orang lain menderita dan mati menyedihkan seperti itu! Kudoakan kamu, Author, masuk ke dalam novel yang kamu tulis sendiri dan hidup menderita di sana!" teriak Khaira lantang.

Duar! Duar!

Tiba-tiba langit menjadi gelap. Kilat dan guntur menyambar-nyambar. Khaira yang terkejut tidak sadar bahwa dia sedang berada di tengah jalan. Saat dia menoleh, sebuah mobil menabrak tubuhnya. Khaira tergeletak tak sadarkan diri. Darah merembes keluar dari kepalanya sementara ponselnya masih menyala, menampilkan akhir dari cerita tersebut. Orang-orang berkerumun menyaksikan akhir tragis, dari gadis malang yang hidup sebatang kara itu.

*

*

*

Di sebuah kamar mewah bernuansa emas, terbaring seorang wanita berparas cantik. Matanya terpejam erat dan di dahinya terdapat sebuah luka. Perlahan-lahan, mata itu terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat adalah seorang wanita mengenakan seragam pelayan yang berdiri di samping ranjangnya.

Setelah pelayan itu melihat majikannya membuka mata, dia segera melangkah mendekat. "Syukurlah, Nyonya sudah sadar. Saya sangat khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Nyonya."

Wanita cantik itu mengernyit bingung karena jiwa di dalamnya telah digantikan oleh jiwa Khaira. "Perasaan tadi aku tertabrak mobil dan terluka parah, tapi kok aku tidak merasa tubuhku sakit ya? Hanya nyeri di bagian dahi saja. Dan... ini di mana? Seharusnya kan aku dibawa ke rumah sakit. Tapi tempat ini tidak seperti rumah sakit. Dan sejak kapan perawat rumah sakit memakai baju pelayan?" gumam Khaira lirih, sehingga sang pelayan tidak mendengar apa yang diucapkannya. Oleh Khaira

Kehadiran sistem

Kaira masih bingung dengan keadaannya, membuat maid di sampingnya ikut kebingungan. “Kamu siapa? Ini di mana?” tanya Kaira pada maid tersebut. Namun, sang maid bukannya langsung menjawab, malah tampak ketakutan lalu berlari keluar dari kamar itu.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba terdengar sebuah suara di atas kepalanya.

“0…10…50…90…100. Selamat, Tuan telah terhubung dengan Sistem Pertahanan Hidup. Saat ini Nona telah memasuki novel yang baru saja Nona baca sebelum meninggal, yaitu Cinta Sejati untuk Arabella, sebagai hadiah utama karena berhasil mengikat sistem. Sistem pusat telah mengabulkan permintaan terakhir Anda, yaitu menarik jiwa sang penulis ke dalam novel ini. Dan saat ini Nona telah memasuki raga Ece Aylin Beren, yang menjadi ibu tiri dari Kaiden.”

“Kamu siapa? Tidak mungkin aku menjadi ibu tiri Kaiden! Hidupku sial sekali kalau benar-benar jadi Aylin! Punya suami spek dajjal lagi!” teriak Kaira yang kini telah menjadi Aylin.

“Halo, Tuan. Saya adalah sistem yang terhubung langsung ke otak Anda. Jadi, Anda tidak mungkin bisa melihat saya ataupun melacak keberadaan saya. Tidak ada yang dapat mendengar suara saya selain Anda. Sayangnya, ini adalah kenyataan. Nona Kaira kini telah memasuki novel Cinta Sejati untuk Arabella. Karena Nona begitu menyayangi Kaiden, maka sistem dengan baik hati mengirim Nona menjadi orang yang paling dekat dengannya,” kata suara sistem itu.

“Oh tidak! Aku bakal mati dibunuh Kaiden! Anjir, pengin kaya, eh malah jadi kaya di tengah para psikopat!” teriak Aylin frustrasi.

Mulai sekarang kita panggil Kaira dengan nama Aylin saja agar tidak membingungkan.

“Tenang, Nona. Saya hadir untuk membantu Anda bertahan hidup. Karena orang yang mengancam nyawa Anda adalah Kaiden dan Tuan Albert, maka tugas Anda adalah mengubah rasa benci mereka menjadi suka agar Nona terhindar dari kematian tragis,” ujar sistem dengan penuh semangat.

“Bagaimana kalau aku menolak menjalankan tugas itu?” tanya Aylin waswas.

“Maka Nona akan dimusnahkan, begitu pula saya. Karena tubuh asli Nona sudah dimakamkan di dunia nyata,” jawab sistem.

Aylin menghela napas pasrah. “Baiklah. Sekarang tunjukkan berapa persen perasaan mereka padaku! Dan jelaskan biodataku beserta kedua target itu!” perintah Aylin.

“Siap, Nona. Ding!”

Nama: Ece Aylin Beren.

Usia: 28 tahun.

Tinggi badan: 165 cm.

Berat badan: 48 kg.

Status: Figuran dalam novel, berperan sebagai istri sah Tuan Albert dan ibu tiri Kaiden.

Pekerjaan: Mantan supermodel yang kini menjadi ibu rumah tangga kaya raya.

Target rasa suka yang dibutuhkan: 100%.

Rasa suka Tuan Albert saat ini: -100. Penyebabnya karena pemilik tubuh asli sering mengganggu cinta pertama Tuan Albert, yaitu Nona Dorothea Valeria.

Rasa suka Kaiden saat ini: -100. Penyebabnya karena pemilik tubuh asli sering menyiksa Kaiden.

Biodata Tuan Albert.

Nama: Albert Gavriel Lucifer.

Usia: 32 tahun.

Tinggi badan: 177 cm.

Berat badan: 70 kg.

Pekerjaan: Presiden direktur perusahaan KOQ Holding.

Status: Ayah biologis antagonis pria utama dalam novel, yaitu Kaiden. Albert masih belum bisa melupakan cinta pertamanya yaitu Dorothea. Dan Fahrin Ilma Gamila, istri pertamanya yang meninggal saat melahirkan Kaiden akibat jebakan seseorang. Karena itu, Albert sangat membenci putra kandungnya sendiri. Ia juga sangat membenci pemilik tubuh ini karena sering mengganggu Dorothea.

Biodata Kaiden.

Nama: Kaiden Alfaro Lucifer.

Usia: 6 tahun.

Tinggi badan: 124 cm.

Berat badan: 24 kg.

Status: Antagonis utama dalam novel yang sangat membenci keluarganya, terutama pemilik tubuh ini.

Aylin mengangguk pelan. “Sial… mereka membenciku sampai ke tulang sumsum. Pasti akan sangat sulit mengubah semua itu.”

“Nona tenang saja. Selama ada sistem, Nona tidak perlu khawatir. Karena sistem dan Nona adalah satu kesatuan!” kata sistem penuh percaya diri.

Aylin menghembuskan napas panjang. Tak apa, pikirnya. Setidaknya sekarang dia tidak perlu bekerja keras seperti kuda lagi sampai lupa membahagiakan dirinya sendiri.

Maid yang tadi menemaninya kini masuk kembali ke kamar dengan langkah tergesa. Di belakangnya ternyata sudah ada seorang dokter yang siap memeriksa keadaan Aylin.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter mengatakan bahwa kondisi Aylin baik-baik saja. Kemungkinan benturan keras di kepalanya menyebabkan hilang ingatan sementara. Namun, untuk hasil yang lebih akurat, Aylin disarankan pergi ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Setelah dokter pergi, Aylin segera meminta maid yang tadi menemaninya untuk mendekat. Maid itu berjalan perlahan dengan tubuh gemetar hingga wajahnya tampak pucat pasi.

Aylin mengernyit bingung melihat ketakutan maid tersebut. Padahal dia manusia, bukan hantu.

“Ding! Tentu saja maid itu takut pada Nona. Pemilik tubuh asli tidak hanya menyiksa Kaiden, tetapi juga sering menyiksa para pekerja mansion ketika sedang diabaikan Tuan Albert atau cemburu melihat kemesraan Albert dan Dorothea,” ujar sistem tiba-tiba tanpa aba-aba, membuat Aylin terkejut.

Ketika maid itu sudah berdiri tepat di depan ranjang, Aylin mencoba tersenyum agar maid tersebut tidak terlalu takut padanya. Namun, hasilnya justru sebaliknya. Maid itu malah semakin ketakutan melihat senyuman Aylin.

“Nyonya, mohon ampuni saya! Jangan hukum saya, Nyonya!” teriak maid tersebut sambil bersimpuh di bawah ranjang Aylin.

Aylin melongo tak percaya melihat reaksi itu. Sementara sistem malah tertawa terbahak-bahak.

“Sistem sialan, sempat-sempatnya kau menertawakan ku,” gerutu Aylin dalam hati.

“Tenanglah. Memangnya kamu salah apa? Aku tidak melihatmu melakukan kesalahan apa pun. Berdirilah, jangan seperti itu. Kau membuatku tidak nyaman. Tadi kamu dengar sendiri, kan? Aku kehilangan ingatan,” ujar Aylin lembut.

Perlahan-lahan maid tersebut kembali berdiri. Wajahnya mulai sedikit normal, meskipun masih terlihat waspada.

“Nyonya ada perlu apa dengan saya?” tanyanya pelan.

“Siapa namamu? Dan siapa aku sebenarnya? Bagaimana aku bisa mendapatkan luka di keningku?” tanya Aylin dengan suara lembut agar maid itu tidak semakin takut.

Maid itu tampak terkejut hingga wajahnya kembali pucat.

“N-nama saya Diana. Saya maid pribadi Nyonya Aylin. Nyonya adalah istri Tuan Albert dan memiliki putra tiri bernama Tuan Muda Kaiden. Dan soal luka Nyonya…” Diana menelan ludah gugup. “Nyonya terluka karena sedang menghukum Tuan Muda Kaiden setelah tanpa sengaja menumpahkan jus ke gaun Nyonya. Saat itu kalian berada di atas tangga. Tuan muda berusaha menghindari pukulan dari Nyonya hingga membuat Nyonya terpeleset dan jatuh terguling dari tangga.”

Mata Aylin langsung melebar mendengarnya.

“Lalu… di mana Kaiden sekarang?” tanya Aylin cepat.

“Nyonya… tolong ampuni Tuan Muda Kaiden. Tubuhnya masih melepuh akibat pukulan dari Nyonya,” kata Diana sambil kembali bersimpuh di lantai.

Ucapan itu membuat dada Aylin terasa sesak. Walaupun Kaiden hanyalah tokoh novel, tetap saja sekarang anak itu hidup di depannya sebagai manusia sungguhan. Membayangkan tubuh kecil anak enam tahun dipenuhi luka membuat hati Aylin terasa tidak nyaman.

“Sistem… sejahat itu kah pemilik tubuh asli?” tanya Aylin pelan di dalam hati.

“Lebih parah dari yang Nona bayangkan,” jawab sistem santai.

Aylin memejamkan mata sejenak. Pantas saja rasa suka Kaiden berada di angka minus seratus. Kalau dia berada di posisi Kaiden, mungkin dia juga akan membenci ibu tirinya sampai mati.

“Antar aku menemui Kaiden,” ucap Aylin tegas.

Diana langsung mengangkat kepalanya dengan wajah panik. “Nyonya… Tuan Muda Kaiden sedang dikurung di ruang hukuman.”

“Apa?” Aylin sontak membelalakkan mata.

“Karena Nyonya pingsan setelah jatuh dari tangga, kepala pelayan memerintahkan Tuan Muda Kaiden dikurung sambil menunggu Nyonya sadar,” jelas Diana dengan suara bergetar.

Aylin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Dalam hati ia mengutuk pemilik tubuh asli yang telah menghancurkan hidup anak kecil itu.

“Cepat antar aku ke sana.”

Kaiden

Langit malam yang begitu gelap dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip indah di angkasa. Bumi nyaris sunyi, karena sebagian besar penduduknya telah terlelap dalam mimpi, menyisakan hanya segelintir orang yang masih terjaga menantang dinginnya malam.

Aylin pun tertidur dengan sangat pulas di atas kasur super empuk yang terasa begitu nyaman. Kasur itu sangat berbeda dengan kasur di kamar kosnya yang sudah bantat dimakan usia, hingga setiap pagi tubuhnya selalu terasa pegal dan nyeri saat bangun tidur.

Namun, Aylin tidak sadar bahwa ada sosok kecil yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Sosok itu membawa sebilah pisau tajam di tangannya, sementara tatapannya dipenuhi kebencian pekat. Anak kecil itu mengangkat tangannya perlahan tanpa ragu, bersiap menghabisi nyawa Aylin.

Ding...

"Peringatan bahaya!! Peringatan bahaya!! Nona, bangun! Atau kau akan mati untuk kedua kalinya!!" teriak sistem di dalam pikiran Aylin dengan suara nyaring.

Aylin langsung membuka matanya dengan kaget. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sebilah pisau yang sudah teracung ke arahnya.

"Aaa...!!!" teriak Aylin histeris sambil berguling cepat menghindari tusukan pisau yang hampir menancap di perutnya. Meski berhasil menghindar, sebagian kain baju tidurnya tetap sobek akibat terkena ujung pisau tajam itu.

"Kau harus mati!!" teriak sosok kecil tersebut dengan tatapan membunuh yang mengerikan ke arah Aylin. Aura dingin yang keluar dari tubuh anak itu membuat bulu kuduk Aylin berdiri.

"Kau siapa? Hei, anak kecil! Jangan bermain dengan benda berbahaya seperti itu! Itu sangat berbahaya!" teriak Aylin sambil mencoba merebut pisau tersebut dari tangan anak kecil itu.

Akhirnya mereka saling berebut pisau. Meski masih kecil, anak itu memiliki tenaga yang sangat kuat hingga membuat Aylin cukup kewalahan. Setelah berusaha keras, Aylin akhirnya berhasil merebut pisau tersebut, walaupun lengannya ikut tergores oleh bilah tajam itu.

Dengan napas memburu, Aylin segera menyalakan lampu kamar. Kini terlihat jelas seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan wajah yang sangat tampan. Namun, sorot matanya begitu tajam bagaikan pedang yang siap mencabik-cabik siapa saja.

"Hai, kau siapa? Kenapa masih kecil sudah ingin membunuh orang?" tanya Aylin dengan nada sedikit kesal, walaupun sebenarnya ia merasa merinding melihat aura gelap yang dipancarkan anak itu.

"Karena kau memang pantas mati, dasar nenek sihir jahat!!" bentak anak kecil itu penuh kebencian.

Kamar Aylin yang kedap suara membuat keributan sebesar apa pun tidak terdengar keluar.

Aylin mengernyit dalam. "Apa kau Kaiden, anakku?" tanyanya untuk memastikan.

Mata anak laki-laki itu langsung membelalak penuh amarah.

"Aku bukan anakmu!! Aku tidak sudi memiliki ibu sepertimu!!" teriak Kaiden dengan suara penuh kebencian.

Aylin sempat berpikir untuk mendekati Kaiden dengan lembut dan penuh kasih sayang. Namun baru saja ia melangkah satu langkah, sistem di dalam pikirannya kembali memberi peringatan keras.

"Peringatan! Peringatan! Dilarang mengubah karakter secara tiba-tiba, atau nona akan langsung dimusnahkan oleh sistem pusat!!!"

Mendengar itu, Aylin langsung menghentikan langkahnya. Ia mundur kembali sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Kaiden dengan wajah sombong dan penuh hinaan.

"Aku juga berpikir begitu. Mana mungkin aku memiliki anak sepertimu? Bahkan jiwamu dipenuhi kegelapan. Aku hanya mendengar dari para maid bahwa aku memiliki putra bernama Kaiden. Tapi setelah melihatmu langsung, sepertinya mereka memang membohongiku."

Kaiden mengernyit tajam. Tatapannya masih sedingin es dan setajam pedang.

Sebenarnya Aylin cukup takut melihat aura mengerikan yang dipancarkan anak itu, tetapi ia hanya berpura-pura tegar meski tangannya sedikit gemetar.

"Ada apa dengan wanita jahat ini? Apa benar kata Nanny Jubaila dia sedang hilang ingatan? Tapi dia tetap sombong seperti biasanya. Rasanya aku ingin mencabik-cabik tubuhnya, lalu melemparkan dagingnya pada anjing liar!" batin Kaiden penuh kebencian.

Aylin berdecak kesal melihat Kaiden hanya diam memelototinya. Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada kedua tangan Kaiden yang penuh memar merah akibat bekas cambukan.

"Ya Tuhan... Sepertinya Aylin yang asli benar-benar bukan manusia. Bagaimana dia bisa mencambuk anak tujuh tahun sekejam ini?" gumam Aylin dalam hati dengan perasaan sesak.

Tanpa sadar, Aylin langsung melangkah cepat menghampiri Kaiden dan memegang tangannya.

Kaiden tentu saja langsung berontak hebat. Tubuh kecilnya bahkan sedikit gemetar ketakutan, khawatir Aylin akan kembali menyiksanya seperti biasa. Terlebih lagi, ia baru saja ketahuan mencoba mencelakai wanita itu.

"Pasti wanita jahat ini akan menghajar ku lebih parah dari biasanya," pikir Kaiden cemas.

Namun Kaiden tidak menyangka ketika Aylin justru menariknya menuju ranjang empuk itu, lalu menggendongnya.

Kaiden terus meronta dan memberontak, tetapi tenaga Aylin jauh lebih besar. Karena panik, Kaiden langsung menggigit pundak Aylin dengan keras hingga berdarah.

Aylin yang kesal langsung melempar Kaiden ke atas kasur.

"Kau ini manusia atau anjing?! Kenapa menggigit pundak mami?! Diam di situ, atau aku akan menghukum mu berat!" ancam Aylin dengan wajah galak.

Kaiden mengatupkan giginya kuat-kuat karena marah. Wanita jahat itu ternyata tetap menyeramkan meski sudah kehilangan ingatan.

Kaiden sangat membenci keluarga ini. Ia bahkan bertekad bahwa suatu hari nanti, saat dirinya sudah cukup kuat, ia akan menghancurkan keluarganya sendiri seperti mereka menghancurkan hidupnya sekarang.

Tak lama kemudian, Aylin datang membawa kotak obat.

"Sini, mana tanganmu?" kata Aylin dengan wajah jutek.

Kaiden langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh. Dalam pikirannya, mungkin saja Aylin akan menyiram luka-lukanya dengan air panas atau sesuatu yang lebih menyakitkan. Baginya, wanita itu tidak mungkin berniat mengobatinya.

Aylin berdecak tidak sabar melihat tingkah Kaiden. Dengan cepat ia menarik salah satu tangan kecil itu, lalu mulai mengobati luka-luka di sana.

Sesekali Aylin melirik wajah Kaiden. Anak itu tidak menangis, tidak mengaduh, bahkan tidak meringis sedikit pun, padahal luka-luka itu pasti terasa sangat perih saat terkena obat merah.

Namun Kaiden terlihat seolah sudah terbiasa dengan rasa sakit seperti itu.

Pemandangan itu membuat hati Aylin terasa seperti diiris pelan.

Tanpa sadar, air matanya jatuh begitu saja.

Kaiden mengernyit bingung melihat air mata Aylin.

"Ada apa dengan wanita jahat ini? Dia mengobati tanganku dan bahkan menangis? Cih... buat apa berakting sedih? Toh Daddy tidak ada di sini," batin Kaiden sinis.

"Kau harus memiliki tangan yang kuat sebelum membunuhku. Aku tahu aku bukan mami yang baik untukmu. Jadi kau bebas membalasku sesukamu," kata Aylin dengan wajah tetap jutek.

Kaiden mendengus kasar. Ia segera turun dari kasur dan berlari keluar dari kamar Aylin. Namun sebelum benar-benar pergi, Kaiden menoleh dengan wajah penuh kebencian.

"Tentu saja aku akan membalasmu! Tunggu sampai tenaga dan tanganku lebih besar! Kau pasti akan habis di tanganku!" teriak Kaiden lantang.

Ia lalu menatap Aylin tajam sebelum kembali berkata, "Dan satu hal yang harus kau ingat, kau bukan mami-ku! Ibuku hanya Mommy Fahrin!!!"

Setelah mengatakan itu, Kaiden langsung pergi meninggalkan kamar. Ia sama sekali tidak akan luluh oleh sikap sok baik wanita ular itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!