NovelToon NovelToon

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

BAB 1: Pernikahan Tanpa Suara

​"Mana dasi abu-abuku?"

​Teriakan itu menggema dari walk-in closet, memecah keheningan pagi di penthouse lantai tiga puluh Skyline Residence.

Kalandra keluar dengan kemeja putih yang kancingnya baru terpasang separuh, wajahnya kusut, dan aura di sekitarnya seolah siap meledakkan siapa saja yang berani lewat.

​Dia menyambar tumpukan jas di sofa ruang tengah, melemparnya lagi karena bukan itu yang dia cari. "Zoya! Kamu dengar aku nggak, sih?"

​Di meja makan yang terbuat dari marmer hitam impor, Zoya Ravendra duduk tenang. Tidak ada kepanikan, tidak ada gerakan terburu-buru.

Perempuan itu hanya menyesap kopi hitamnya pelan-pelan, matanya tidak lepas dari layar TabTech seri terbaru yang menyala menampilkan deretan teks rapat. Rambutnya digelung asal-asalan dengan jepit plastik murah, kontras sekali dengan kemewahan apartemen yang mereka tinggali.

​"Di gantungan dekat pintu, Mas. Sudah disiapkan Bik Sumi sejak semalam," jawab Zoya tanpa menoleh, suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Jarinya menggeser layar tablet, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris artikel—yang di mata Kalandra pasti cuma berita gosip artis atau katalog belanja online.

​Kalandra menoleh ke arah pintu. Benar saja. Dasi itu tergantung manis di sana. Dia mendengus kasar, merasa bodoh tapi gengsi untuk mengakuinya.

Dengan gerakan kasar, dia menyambar dasi itu dan melilitkannya ke leher.

​"Kamu itu istri macam apa?" Kalandra berjalan mendekat ke meja makan, menarik kursi di seberang Zoya dengan kasar hingga kaki kursi berdecit ngilu beradu dengan lantai.

Dia memasang jam tangan hitamnya sambil menatap istrinya dengan tatapan tajam. "Suami mau berangkat kerja, bukannya dibantu, malah asyik main gadget. Nggak ada sarapan, nggak ada basa-basi."

​Zoya akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya kosong, seperti kolam air tenang yang tidak tersentuh angin. "Ada roti di toples. Kopi di mesin. Bik Sumi lagi belanja ke pasar."

​"Bik Sumi, Bik Sumi terus!" Kalandra menggebrak meja pelan, cukup untuk membuat sendok di piring kecil berdenting. "Aku nikah sama kamu, bukan sama pembantu. Setidaknya berlagaklah peduli sedikit. Orang di luar sana mikir aku beruntung dapat putri tunggal keluarga Ravendra. Mereka nggak tahu kalau di rumah, aku kayak tinggal sama patung es."

​Zoya meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi keramik beradu dengan marmer terdengar begitu nyaring di antara ketegangan mereka. "Mas mau aku ngapain? Masangin dasi? Mas kan punya tangan. Masak nasi goreng? Mas bilang masakan aku hambar. Jadi aku diam biar nggak salah terus."

​Jawaban itu begitu logis, begitu tenang, dan justru itu yang membuat darah Kalandra mendidih. Dia benci ketenangan Zoya. Dia benci bagaimana istrinya itu seolah tidak punya gairah hidup, tidak punya ambisi.

​Kalandra berdiri, merapikan jasnya dengan kasar. Dia menatap Zoya dengan tatapan merendahkan yang tidak ditutup-tutupi.

​"Enak ya jadi kamu, Zoya," sindir Kalandra, suaranya rendah tapi tajam. "Bangun siang, ongkang-ongkang kaki, cuma habisin uang warisan orang tua. Kamu nggak punya beban. Nggak perlu mikir keras. Cuma jadi pajangan cantik di rumah mewah ini."

​Dia mendekatkan wajahnya sedikit. "Kadang aku mikir, otak kamu itu isinya apa selain belanja dan tidur? Sayang banget lulusan kedokteran cuma berakhir jadi pengangguran elit."

​Hening sejenak. Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Istri mana pun pasti akan menangis atau melempar gelas jika dikatai seperti itu. Tapi Zoya? Dia hanya mengedipkan mata sekali.

​"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Zoya.

Singkat. Padat. Tanpa nada tersinggung sedikit pun.

Dia kembali menatap layar tabletnya, seolah Kalandra sudah tidak ada di sana.

​Kalandra menggeram tertahan. Rasanya seperti meninju kapas. Tidak ada perlawanan, tidak ada kepuasan.

​"Cih. Dasar beban," umpat Kalandra sambil membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu utama. Dia membanting pintu penthouse itu keras-keras, meninggalkan Zoya yang masih tenang menyesap sisa kopinya.

​Di dalam lift yang membawanya turun ke basement, Kalandra memijat pelipisnya yang berdenyut.

Pernikahan ini gila. Sudah dua tahun dia terjebak dalam perjodohan konyol demi memuluskan bisnis keluarga dan koneksi politik ayahnya.

Dia, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti para bandit di kota, harus pulang ke rumah yang terasa seperti kamar mayat karena istrinya yang tak lebih hidup dari mayat itu sendiri.

​Mobil SUV hitam dinasnya melaju membelah kemacetan pagi kota. Sirine kecil dinyalakan sesekali untuk memecah kepadatan jalan.

Pikiran Kalandra masih tertinggal di meja makan tadi. Wajah datar Zoya benar-benar mengganggu konsentrasinya.

​Begitu mobilnya berbelok tajam memasuki pelataran Markas Besar Kepolisian Distrik Metro City, suasana hati Kalandra langsung berubah mode.

Dia bukan lagi suami yang kesal, dia adalah Komandan Kalandra Dirgantara. Sang anjing pelacak.

​Dia membanting pintu mobil, berjalan cepat melintasi lobi. Beberapa petugas memberi hormat, tapi dia hanya mengangguk sekilas.

Langkahnya mantap menuju lift khusus. Namun, baru saja pintu lift terbuka di lantai divisi kriminal, seorang pria muda dengan rompi lapangan berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.

​Itu Raka, anak buah kepercayaannya yang biasanya santai, tapi kali ini wajahnya pucat pasi.

​"Komandan! Gawat, Ndan!"

​Kalandra tidak berhenti berjalan, dia terus melangkah menuju ruangannya sambil melepas jas. "Napas dulu, Ka. Jangan kayak orang dikejar setan pagi-pagi. Kenapa? Kasus perampokan di Grand Mall lagi?"

​"Bukan, Ndan. Ini jauh lebih parah." Raka menyamakan langkah, menyodorkan sebuah tablet kerja dengan tangan gemetar.

​Kalandra berhenti mendadak di depan pintu ruangannya. Dia menatap Raka, alisnya menukik tajam. "Jangan bilang..."

​"The Puppeteer, Ndan," potong Raka cepat, suaranya tercekat. "Baru saja ditemukan mayat perempuan di gudang tua pelabuhan distrik tujuh. Kondisinya... sama persis. Posisi tubuhnya diatur seperti boneka yang sedang menari, dan ada benang merah terikat di pergelangan tangannya."

​Darah Kalandra berdesir hebat. Kasus itu.

Mimpi buruk yang sudah enam bulan membuat timnya tidak bisa tidur nyenyak. Pembunuh berantai jenius yang selalu selangkah lebih maju, yang mempermainkan polisi seperti anak kecil.

​"Siapkan tim. Kita berangkat sekarang!" perintah Kalandra, rasa kesal pada istrinya tadi pagi langsung lenyap, digantikan oleh adrenalin pemburu yang mencium bau darah. "Jangan biarkan tim forensik menyentuh apa pun sebelum aku sampai di sana. Kali ini, bajingan itu tidak boleh lolos."

​Kalandra menyambar kunci mobilnya lagi, berbalik arah lari kembali ke lift, tidak menyadari bahwa kasus kali ini akan memaksanya menyeret serta "beban" yang dia tinggalkan di meja makan tadi pagi.

BAB 2: Kasus Buntu & Gosip Murahan

​​"Mundur! Mundur semua! Jangan ada yang injak garis kuning, atau gue jebloskan kalian ke sel malam ini juga!"

​Teriakan Kalandra memecah kebisingan di Gudang Nomor 4 Pelabuhan Tanjung Harapan. Suasana di sana lembap, bau amis laut bercampur dengan aroma karat besi tua.

Kilatan lampu kamera tim dokumentasi menyambar-nyambar, menerangi sudut gelap di mana sesosok tubuh kaku terduduk di atas peti kemas usang.

​Itu adalah pemandangan yang mengerikan sekaligus indah—ciri khas "The Puppeteer".

​Korban adalah wanita muda, gaun merahnya menjuntai rapi. Kedua tangannya diikat ke atas dengan benang pancing transparan, seolah-olah dia adalah boneka marionette yang sedang menari.

Wajahnya didandani, bibirnya tersenyum, tapi matanya melotot kosong menatap langit-langit gudang yang bocor.

​Kalandra menerobos masuk, napasnya memburu. "Rudi! Gimana? Jangan bilang lo nggak nemu apa-apa lagi."

​Dokter Rudi, pria paruh baya dengan kacamata tebal yang sudah berjongkok di dekat mayat selama satu jam, mendongak. Wajahnya putus asa. Dia melepas sarung tangan lateksnya dengan kasar.

​"Nihil, Ndan. Kosong melompong," keluh Rudi sambil menggeleng. "Nggak ada luka tusuk, nggak ada bekas jeratan di leher, nggak ada memar perlawanan. Cewek ini kayak... mati begitu saja. Jantungnya berhenti mendadak."

​"Jangan ngaco lo, Rud!" sembur Kalandra. Dia berkacak pinggang, menatap mayat itu dengan frustrasi. "Mana ada orang muda sehat walafiat mati mendadak sambil didandanin kayak badut sirkus begini? Cek lagi! Racun? Suntikan?"

​"Sudah gue periksa seluruh permukaan kulitnya, Kalan! Nggak ada bekas jarum satu titik pun. Sebersih piring yang baru dicuci." Rudi berdiri, menepuk bahu Kalandra pelan. "Gue harus bawa dia ke lab buat bedah total, tapi gue pesimis. Si Dalang ini... dia hantu. Dia nggak ninggalin jejak DNA, sidik jari, bahkan penyebab kematian pun dia hapus."

​Kalandra menendang ban bekas yang tergeletak di dekatnya. "Sialan! Tiga mayat dalam dua bulan, dan kita masih jalan di tempat. Media bakal goreng kita habis-habisan besok pagi."

​Kalandra menjauh dari kerumunan tim forensik, butuh udara segar. Kepalanya pening. Dia bersandar di tiang beton gudang, merogoh saku celana mencari rokok, tapi teringat dia sudah berhenti merokok demi program kesehatan kepolisian bulan lalu.

​"Ndan? Minum dulu."

​Sebuah gelas kopi kertas dari minimarket Star-Mart terulur ke hadapannya. Kalandra menoleh. Sinta, polwan muda dari divisi administrasi yang entah kenapa bisa ada di TKP, tersenyum manis. Lipstiknya agak terlalu merah untuk situasi pembunuhan, dan seragamnya tampak sengaja dikecilkan di bagian pinggang.

​"Thanks, Sin. Gue butuh kafein biar nggak gila," gumam Kalandra, menerima kopi itu dan langsung meneguknya meski masih panas.

​Sinta tidak beranjak. Dia berdiri di samping Kalandra, ikut menatap kesibukan tim forensik dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Komandan pucat banget. Pasti belum sarapan ya? Padahal sudah jam segini."

​"Biasa. Buru-buru," jawab Kalandra singkat.

​"Duh, sayang banget," Sinta mulai melancarkan serangannya, suaranya direndahkan seolah mereka sedang berbagi rahasia.

"Padahal Komandan kan punya istri di rumah. Masa sih Bu Zoya nggak nyiapin apa-apa? Kalau aku jadi istrinya Komandan, nggak bakal aku biarin suamiku kerja keras dengan perut kosong. Apalagi kerjaan Komandan kan taruhannya nyawa."

​Kalandra terdiam. Ucapan Sinta, meski terdengar seperti perhatian, sebenarnya menyiram bensin ke dalam api kekesalannya pada Zoya.

Bayangan wajah datar istrinya pagi tadi kembali muncul. 'Ada roti di toples,' kata Zoya. Istri macam apa itu?

​"Dia... punya kesibukan sendiri," jawab Kalandra diplomatis, meski hatinya dongkol.

​"Sibuk apa sih, Ndan?" pancing Sinta lagi, kali ini sambil mengibaskan rambut pendeknya. "Setahu anak-anak kantor, Bu Zoya kan cuma di rumah aja. Enak ya, hidupnya santai. Nggak kayak kita yang harus panas-panasan ngejar penjahat. Komandan itu terlalu baik, lho. Laki-laki hebat kayak Komandan harusnya dapat pendamping yang suportif, yang bisa diajak tukar pikiran soal kasus, bukan yang cuma jadi beban pikiran."

​Kalimat itu menohok telak. Beban. Kata yang sama yang diteriakkan Kalandra tadi pagi. Sinta benar. Zoya memang tidak berguna.

​Belum sempat Kalandra menanggapi, ponsel di saku jasnya bergetar panjang. Nama "PAPA" terpampang di layar. Kalandra mendesah berat. Ayahnya—Mantan Jenderal yang kerasnya melebihi baja—menelepon di jam kerja. Ini bukan pertanda baik.

​"Halo, Pa. Kalan lagi di TKP, ada mayat ba—"

​"Pulang sekarang." Suara bariton di seberang sana memotong tanpa ampun.

​Kalandra menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layar dengan tak percaya. "Pa, ini kasus The Puppeteer. Kalan nggak bisa tinggalin tim. Mayatnya baru ditem—"

​"Saya tidak mau dengar alasan!" bentak ayahnya. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di rumah utama. Mertuamu, Pak Ravendra, juga datang. Istrimu sudah di jalan ke sana. Jangan bikin malu keluarga dengan datang terlambat atau nggak datang sama sekali. Kamu mau bikin Zoya kelihatan seperti istri yang nggak diurus?"

​Rahang Kalandra mengeras. Zoya lagi.

​"Pa, tapi ini darurat..."

​"Jabatanmu itu titipan, Kalandra. Tapi keluarga itu mutlak. Satu jam lagi kamu harus sudah sampai. Titik."

​Sambungan telepon diputus sepihak.

​Kalandra meremas ponselnya sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya menderu. Di depannya ada mayat yang belum terpecahkan, di belakangnya ada tim yang butuh arahan, tapi dia dipaksa pulang hanya untuk acara makan-makan basa-basi.

​Dan ini pasti gara-gara Zoya.

​Perempuan itu pasti mengadu pada orang tuanya kalau dia kesepian, atau mengeluh pada Papanya Kalandra. Zoya yang diam, Zoya yang penurut, ternyata punya cara licik untuk mengendalikan hidupnya lewat orang tua.

​"Sialan!" umpat Kalandra keras, membuat Sinta terlonjak kaget.

​Dia berbalik menatap Raka yang sedang mencatat bukti. "Raka! Ambil alih komando. Pastikan mayat dibawa ke RS Polri. Gue harus pergi."

​"Lho? Tapi Ndan, ini gimana..."

​"Lakukan saja perintah gue!" bentak Kalandra. Dia berjalan cepat meninggalkan TKP, meninggalkan kasus yang buntu demi sandiwara rumah tangga yang memuakkan. Dalam hatinya, kebencian pada Zoya naik satu level lagi. Istri itu benar-benar pembawa sial.

BAB 3: Tamu Tak Diundang di TKP

​"Tutup terpalnya! Jangan sampai air hujan ngerusak mayatnya lagi! Kalian ini kerja becus nggak sih?"

​Teriakan Kalandra kalah kencang dengan suara guntur yang membelah langit malam. Hujan deras mengguyur Pelabuhan Tanjung Harapan tanpa ampun, seolah alam semesta bersekongkol untuk menghapus jejak si pembunuh.

Kalandra berdiri di bawah tenda darurat, basah kuyup, rambutnya lepek, dan matanya merah menyala menahan amarah.

​Dia akhirnya kembali ke sini. Persetan dengan makan malam keluarga.

Persetan dengan ancaman ayahnya yang tadi menelepon sampai sepuluh kali. Kalandra memutar balik mobilnya di tengah jalan tol tadi demi kembali ke mayat wanita berbaju merah ini.

Dia tidak bisa makan enak sementara ada korban yang menuntut keadilan di tengah badai begini.

​"Ndan, percuma!" Dokter Rudi berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan. Dia sudah menyerah, duduk lemas di atas peti kayu. "Hujannya terlalu lebat. Residu kimia di tanah pasti sudah hanyut. Kita nggak bakal nemu apa-apa malam ini. Bubar aja dulu, Ndan!"

​"Enak aja lo ngomong bubar!" Kalandra mencengkram kerah baju Rudi, nyaris melayangkan tinju saking frustrasinya. "Kalau kita pulang, si brengsek itu menang! Pikir pakai otak lo, Rud! Pasti ada yang kelewatan!"

​"WOI! BERHENTI!"

​Teriakan Raka mengalihkan perhatian mereka.

​Dari arah gerbang pelabuhan, sorot lampu putih menyilaukan menerobos kegelapan.

Sebuah sedan hitam mewah—bukan mobil dinas, melainkan jenis mobil Eropa yang harganya setara anggaran kepolisian satu tahun—melaju kencang, menabrak genangan air hingga menyiprat ke mana-mana.

​Mobil itu tidak melambat sedikit pun meski Raka dan dua petugas lain melambaikan tangan.

​Ckiiit!

​Ban mobil berdecit ngilu di aspal basah, berhenti tepat tiga meter dari garis polisi, nyaris menyerempet mobil patroli.

​"Gila! Siapa tuh?" Sinta yang sedang berteduh di pos satpam langsung lari keluar, memayungi kepalanya dengan map plastik.

"Woi! Buta ya? Nggak liat ada garis polisi?"

​Kalandra melepas cengkramannya dari kerah Rudi. Tangannya meraba pistol di pinggang secara refleks.

"Siaga satu! Jangan-jangan ini komplotan pelakunya yang mau ngilangin bukti!"

​Semua pistol terarah ke pintu pengemudi sedan hitam itu. Suasana tegang. Hanya suara hujan yang terdengar menghantam atap mobil.

​Pintu pengemudi terbuka perlahan.

​Kalandra menyipitkan mata, siap menembak jika ada gerakan mencurigakan. Namun, yang keluar bukan pria bertopeng atau preman bersenjata.

​Pertama, sebuah kaki jenjang yang putih mulus turun menapak aspal becek.

​Semua mata terbelalak. Kaki itu tidak memakai sepatu bot militer, apalagi sepatu lari. Kaki itu terbungkus sandal rumah berbulu warna pink pastel yang basah kuyup terkena lumpur.

​Seorang wanita keluar dari mobil. Dia memakai gaun tidur sutra panjang yang bagian bawahnya langsung kotor terkena cipratan air, dibalut trench coat cokelat mahal yang jelas bukan untuk dipakai hujan-hujanan di pelabuhan kumuh.

​Rambutnya basah, menempel di pipi pucatnya.

​"Zoya?" Kalandra menurunkan pistolnya, mulutnya menganga tak percaya. "Ngapain kamu di sini?"

​Zoya tidak menjawab. Dia menutup pintu mobilnya dengan satu dorongan pelan tapi pasti.

Wajahnya datar, sama datarnya seperti saat dia di meja makan tadi pagi. Dia berjalan lurus menerobos hujan, melewati Raka yang bengong, menuju tenda tempat mayat berada.

​"Eh, eh! Tunggu dulu!" Sinta langsung menghadang langkah Zoya.

Polwan itu merentangkan tangan, matanya menatap sinis penampilan Zoya yang 'salah kostum'.

​"Ibu ini siapa main nyelonong aja?" bentak Sinta, suaranya melengking. "Ini TKP, Bu! Tempat Kejadian Perkara. Bukan tempat arisan sosialita! Liat tuh sandal Ibu, ngerusak jejak kaki di tanah! Pulang sana, jangan ganggu kerjaan polisi!"

​Sinta menoleh ke Kalandra, mencari dukungan. "Ndan, ini istrinya, kan? Suruh pulang dong. Bikin semak aja. Kita lagi pusing, malah diajak main rumah-rumahan."

​Zoya berhenti tepat di depan Sinta. Dia menatap polwan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu kembali menatap ke depan seolah Sinta hanyalah tiang listrik yang tidak penting.

​"Minggir," ucap Zoya pelan. Suaranya hampir tertelan hujan, tapi dinginnya melebihi angin malam.

​"Dih, kok nyolot?" Sinta makin emosi. "Saya ini petugas berwenang—"

​Tanpa peringatan, Zoya menabrak bahu Sinta begitu saja, membuat polwan itu terhuyung ke samping karena kaget. Zoya terus berjalan, langkahnya anehnya begitu stabil meski memakai sandal licin.

​"Zoya! Pulang!" Kalandra akhirnya sadar dari keterkejutannya dan berlari menyusul istrinya. Amarahnya meledak lagi. "Kamu gila ya? Papa nyuruh aku pulang, bukan kamu yang nyusul ke sini pake baju tidur! Kamu mau bikin aku malu di depan anak buah?"

​Zoya sampai di bawah tenda. Dia tidak menatap Kalandra. Matanya terkunci lurus pada mayat wanita berbaju merah yang duduk kaku di atas peti.

​"Zoya, aku ngomong sama kamu!" Kalandra mencengkram lengan istrinya kasar. "Dengar nggak sih? Ini bukan tempat main-main. Pulang atau aku seret ka—"

​Gerakan Zoya terhenti. Dia merogoh saku mantel mahalnya.

​Kalandra mengira istrinya akan mengeluarkan sapu tangan untuk menangis, atau ponsel untuk menelepon papanya.

​Tapi tidak.

​Zoya mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks bedah berwarna biru.

​Dengan gerakan cepat dan terlatih—sangat terlatih—dia memakai sarung tangan itu.

Sret. Sret.

Bunyi karet yang ditarik kencang terdengar kontras dengan gemuruh hujan.

​Aura wanita itu berubah total. Tatapan kosong dan melamun yang biasa Kalandra lihat di rumah lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata tajam setajam silet yang sedang membedah sasaran.

Bahunya tegap, dagunya terangkat sedikit.

​Zoya menepis tangan Kalandra dari lengannya dengan satu sentakan kuat.

Dia melangkah mendekati mayat, berlutut tanpa peduli gaun sutranya terendam genangan darah campur air hujan.

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan," suara Zoya terdengar jernih, penuh otoritas yang membuat bulu kuduk Kalandra meremang.

​Kalandra ternganga. "Hah?"

​Zoya menoleh sedikit, tatapannya menusuk manik mata Kalandra. "Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di sela kuku jari manisnya, dan lebam mayat ini dimanipulasi pakai es kering."

​Zoya mengarahkan telunjuknya ke lampu sorot yang dipegang salah satu petugas gemetar.

​"Geser lampunya ke kiri. Kamu menghalangi cahaya," perintah Zoya dingin. "Biar aku tunjukkan apa yang kalian lewatkan selama enam jam ini."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!