Halo, semuanya pembaca setia Noveltoon/Mangatoon.
Terima kasih sudah meluangkan waktu buat buka bab pertama cerita ini. Semoga setiap babnya bisa buat kalian suka dan betah buat bacanya. Jangan lupa untuk terus mengikuti perjalanan para tokoh sampai akhir, ya. Jangan lupa juga kasih tanda ❤️ dan juga jadikan favoritmu supaya bisa terus mengikuti setiap update-annya. (Kalian bisa juga add IG aku. @andarashan_)
Terima kasih..
**
Hening. Hanya denting halus sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar di ruang makan mewah keluarga Adyatama di kawasan elit Surabaya Barat. Langit-langit tinggi, lampu kristal, dan aroma truffle oil yang baru saja disajikan menciptakan suasana formal, bahkan cenderung dingin.
Di ujung meja, Haris Adyatama, sang kepala keluarga, tampak tenang menikmati steak mahalnya. Di sampingnya, Reva Adyatama, sang istri, atau yang akrab dipanggil Mama Reva, tampak anggun dengan perhiasan berliannya.
Di sisi lain, ada dua putri yang sangat berbeda, Bianca Adyatama, mahasiswi cantik dengan gaun mini dari merek desainer ternama, sibuk memotret hidangannya untuk unggahan di media sosial. Auranya tampak ceria, tetapi sedikit angkuh.
Di seberangnya, Kirana Adyatama (27), yang oleh keluarganya hanya dikenal sebagai barista kafe, tampak paling santai. Rambut panjangnya ia cepol seadanya, dan ia mengenakan blus sederhana. Ia menikmati makan malamnya dengan tenang, seolah percakapan di meja ini tak ada hubungannya dengan dirinya.
Setelah menelan potongan terakhirnya, Ayah Haris meletakkan pisau dan garpu dengan bunyi tegas. Suara itu cukup untuk membungkam ponsel Bianca.
"Ada yang ingin Ayah sampaikan pada kalian semua," ujar Ayah Haris, suaranya berat dan berwibawa.
Mama Reva langsung mencondongkan tubuh dengan antusias. "Mengenai bisnis baru, Yah? Atau perluasan vila di Bali?"
Ayah Haris menggeleng kecil. "Ini lebih penting. Ini menyangkut masa depan. Ayah dan Pak Rivaldo telah sepakat untuk menjodohkan salah satu putri kita dengan putra tunggalnya, Raditya."
Mendengar kata "dijodohkan", Bianca spontan meletakkan garpu hingga menimbulkan bunyi klik keras. Wajahnya langsung cemberut.
"Dijodohkan? Siapa, Yah? Bianca atau Kirana?" tanya Mama Reva, nadanya terdengar seperti sedang menimbang barang dagangan.
Bianca langsung menyahut, nadanya penuh penolakan. "Aku menolak, Aku masih muda, Ma. Aku baru dua puluh! Aku masih mau clubbing, aku masih mau main-main. Aku enggak mau dijodohkan dengan cowok tua bangka yang pasti membosankan."
Ia melirik tajam ke arah Kirana di seberangnya. "Mending Mbak Kirana saja, Yah. Usianya sudah 27. Sudah cocok untuk cepat menikah. Biar Mbak Kirana saja yang mengambil jatah ini, ya, Mbak?" tanyanya, diselingi senyum meremehkan.
Kirana mendongak pelan. Matanya yang cokelat gelap menatap santai. Ia hanya mengambil sepotong udang lagi ke piringnya.
"Kalau Ayah bilang itu urusan kalian, aku ikut saja. Aku lebih suka menghabiskan malamku di Kafe daripada membahas pernikahan." Ia kembali fokus pada makanannya, seolah topik perjodohan ini sama membosankannya dengan menu makan malam setiap hari.
"Tuh, Yah! Mbak Kirana saja yang dijodohkan. Dia kan sukanya tempat sepi, biar dia cepat dapat suami," desak Bianca.
Ayah Haris menoleh ke Kirana, tetapi tatapannya langsung kembali ke Bianca dan Mama Reva.
"Mau Bianca atau Kirana, itu tidak masalah. Yang penting, salah satu dari putri keluarga ini. Ini adalah kesepakatan bisnis yang sangat menguntungkan. Kalian harus tahu, calon yang akan dijodohkan ini adalah Raditya Mahardika."
Mendengar nama belakang itu, senyum cemberut di wajah Bianca mendadak lenyap. Mata Bianca yang awalnya menyipit kesal kini langsung membulat sempurna. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan tak percaya.
"Mahardika? Tunggu, Ayah serius? Maksud Ayah... Mahardika Group (MG)?" Suara Bianca tercekat, penuh gairah yang tiba-tiba membara.
Ayah Haris mengangguk tenang. "Tentu saja. Rivaldo Mahardika adalah sahabat Ayah sekaligus rekan bisnis terbesar kita di proyek Bali."
Seolah tombol reset telah ditekan, seluruh penolakan Bianca sebelumnya lenyap ditelan ambisi. Wajahnya berseri-seri, nyaris histeris.
"Aku mau! Aku mau, Yah! Aku yang akan dijodohkan!" teriak Bianca, mengabaikan etika di meja makan.
Mama Reva, yang awalnya setengah hati, kini mengerutkan kening. "Lho, Bian? Tadi kamu bilang tidak mau. Kamu kan masih muda, Sayang. Mama pikir yang lebih cocok itu Kirana. Dia kan sudah matang."
Bianca mendengus, menatap Mama Reva seolah ibunya baru saja datang dari zaman batu.
"Mama itu sama sekali enggak tahu! Mama enggak tahu siapa itu Mahardika! MG itu bukan sekadar properti dan vila! Mereka itu raja properti dan teknologi di Indonesia, Ma! Kalau aku bisa jadi nyonya muda Mahardika, aku enggak hanya hidup tenang, tapi aku bakalan hidup nyaman sampai tujuh turunan! Kemewahan yang kita punya sekarang ini enggak ada apa-apanya, Ma, dibandingkan dengan kekayaan mereka!" Ucapan Bianca begitu jujur, vulgar, dan penuh perhitungan, membuat Mama Reva terdiam. Sesaat, wajah Mama Reva tampak takjub.
"Benarkah itu, Yah? Mahardika sebegitu besarnya?" tanya Mama Reva, kini matanya memancarkan keserakahan yang sama dengan putrinya.
"Ya, jauh lebih besar dari yang bisa kalian bayangkan," jawab Ayah Haris, tersenyum bangga atas keberhasilan kesepakatan bisnisnya. "Jadi, bagaimana? Siapa yang akan kita jodohkan?"
Tanpa menunggu jawaban Ayah Haris, Bianca sudah membusungkan dada dan menyanggah.
"Aku, Yah! Bianca yang akan pergi. Aku yang paling cocok. Aku akan mengurusnya."
"Tentu, Sayang," ujar Mama Reva, kini sepenuhnya mendukung Bianca. "Bianca memang yang paling pantas."
Kirana, yang sedari tadi menjadi penonton bisu, akhirnya selesai makan. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan rapi.
"Kalau begitu, aku permisi ke Kafe Teras Senja, Ayah. Aku ada janji dengan supplier biji kopi," ucap Kirana santai, bangkit dari kursi, tidak menunjukkan minat sedikit pun terhadap nama "Mahardika" yang baru saja membuat ibu tiri dan adik tirinya kalap.
"Tunggu, Kirana," potong Ayah Haris, membuat Kirana berhenti di ambang pintu. "Besok malam, kita diundang makan malam di kediaman Mahardika. Kau ikut juga."
Alis Kirana sedikit terangkat. "Aku? Bukannya Bianca yang akan dijodohkan?"
"Ini pertemuan keluarga informal, Kirana. Kau harus ikut untuk menunjukkan betapa solidnya keluarga kita. Dan, yah... berjaga-jaga saja," ujar Ayah Haris ambigu.
Bianca tampak sedikit kesal, tetapi ia menahan diri. "Ya, biar Mbak Kirana ikut saja, Ma. Biar dia tahu bagaimana rasanya masuk ke rumah yang sesungguhnya. Tapi, Mbak, besok jangan pakai baju barista, ya! Itu akan memalukan!"
Kirana hanya mengangguk kecil, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang penuh rahasia.
"Tentu, Bianca. Sampai besok malam."
Ia melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kini dipenuhi tawa dan bisikan rencana antara Bianca dan Mama Reva tentang gaun, tas, dan perhiasan apa yang akan mereka kenakan untuk memikat pewaris Mahardika.
Mereka tidak tahu, batin Kirana, saat ia berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya sendiri, bahwa ia bisa membeli seluruh isi rumah keluarga Mahardika jika ia mau.
**
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah dengan pemandangan kota Surabaya yang berkilauan, Raditya Mahardika (33) baru saja menyelesaikan panggilan video bisnisnya. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan celana training—pakaian yang sangat jauh dari citra CEO properti dan teknologi.
Di hadapannya, Ayahnya, Rivaldo Mahardika, duduk di kursi berlengan kulit.
"Jadi, kau sudah memutuskan, Radit?" tanya Papi Rivaldo, dengan nada serius.
Raditya menyandarkan punggung ke sofa, menghela napas panjang. "Aku akan melihat mereka besok, Pi. Tapi aku tidak akan langsung memutuskan pertunangan. Aku tidak suka dijodohkan. Apalagi dengan gadis muda yang masih suka main-main dan hanya mengincar hartaku."
"Namanya Bianca Adyatama. Dia memang baru dua puluh tahun," kata Papi Rivaldo. "Tapi bisnis kita membutuhkannya, Nak."
"Bisnis yang solid tidak dibangun di atas pernikahan yang rapuh, Pi. Aku ingin seorang istri yang sepadan, bukan boneka manja." Raditya mengambil ponselnya, jarinya mulai mengetik cepat.
"Aku ingin tahu siapa gadis ini. Aku ingin tahu sifat aslinya."
Papi Rivaldo menatap putranya dengan tatapan skeptis. "Bagaimana caranya? Kau akan menguntitnya?"
Raditya tersenyum miring—senyum misterius yang membuat Papi Rivaldo tahu putranya sudah menyusun rencana gila.
"Tidak, Pi. Aku akan mendatanginya. Tapi bukan sebagai Raditya Mahardika. Aku akan menjadi Rio."
Rivaldo mengerutkan dahi. "Rio? Siapa itu?"
"Rio nama yang akan aku gunakan untuk menyamar dalam keluarga mereka. Aku sudah membuat CV palsu, dengan latar belakang yang sempurna sebagai mantan pengemudi profesional yang butuh pekerjaan baru."
Papi Rivaldo tertawa keras, tak percaya. "Kau gila, Raditya! Seorang CEO properti menyamar jadi supir? Jika Haris tahu, ia akan marah besar!"
"Tepat. Karena itu, Papi harus merahasiakannya. Besok malam, aku akan bertemu mereka sebagai Raditya, mengamati Bianca dari jauh, dan malam setelahnya... Rio sudah mulai bekerja di rumah Adyatama."
Raditya menatap pemandangan kota di luar jendela. Wajahnya kini tampak tekun dan penuh antisipasi.
Papi Rivaldo menggeleng. "Kau mempertaruhkan nama baikmu, Raditya."
"Aku mempertaruhkan hidupku, Pi. Dan aku harus memastikan aku tidak memilih kuda yang salah."
***
Pagi di kediaman Adyatama dimulai dengan kontras yang mencolok. Di lantai atas, sinar matahari memantul dari lampu kristal di kamar Bianca Adyatama, yang bahkan dalam tidurnya tampak seperti sampul majalah. Kamar seluas apartemen studio itu didominasi warna peach dan putih gading, hasil desainnya sendiri yang mahal dan glamor. Di sana, Bianca tidur tanpa beban, dikelilingi barang-barang branded yang ia dapat dengan mudah.
Sebaliknya, di kamar sederhana di lantai bawah, Kirana Adyatama (27) sudah sepenuhnya terjaga. Kamarnya jauh lebih kecil dan bernuansa kayu gelap, tempat tidur tunggal yang nyaman, dan rak buku penuh jurnal ilmiah. Kamar ini adalah bentengnya; tempat ia bisa bernapas bebas dari penilaian keluarga.
Kirana sudah selesai bersiap. Ia mengenakan celana jeans biru tua yang pas di tubuh, dipadukan dengan kemeja katun putih lengan tiga perempat. Rambut panjangnya yang berombak diikat menjadi ponytail yang rapi. Tidak ada riasan mahal, hanya lip balm sederhana. Penampilannya memancarkan energi praktis dan kecerdasan, jauh dari citra sosialita.
Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur, menghindari ruang makan formal yang terasa dingin. Dapur adalah zona terhangat di rumah itu, terutama karena ada Bi Tuti, juru masak setia yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Adyatama.
"Pagi, Bi!" sapa Kirana dengan senyum ramah dan tulus, suaranya lembut dan renyah seperti biji kopi yang baru digiling.
Bi Tuti yang sedang menyiapkan sarapan, balas tersenyum hangat. Senyum itu tidak pernah gagal ia berikan untuk Kirana, gadis yang ia anggap seperti anak sendiri. Di mata Bi Tuti, Kirana adalah satu-satunya Adyatama yang memperlakukannya dengan manusiawi.
"Pagi, Non Kirana. Sudah Bi Tuti siapkan bekal makan siang Non. Nasi goreng teri kesukaan Non. Biar kuat mengurus kafe," ujar Bi Tuti sambil menyerahkan kotak bekal stainless steel yang dibungkus kain kecil.
"Ya ampun, Bi. Tidak perlu repot-repot, aku kan bisa masak sendiri di kafe. Tapi terima kasih banyak, Bi. Masakan Bi Tuti yang paling enak," balas Kirana tulus, matanya mengerling penuh terima kasih.
"Tidak repot, Non. Lagipula, siapa lagi yang mau Bi Tuti masakkan?" gumam Bi Tuti pelan, pandangannya melirik ke arah tangga mewah—isyarat halus tentang Bianca dan Mama Reva yang tidak pernah menghargai masakannya.
Kirana mengerti. Ia menepuk lembut lengan Bi Tuti. "Aku berangkat, ya, Bi. Hati-hati di rumah."
Ia pun bergegas keluar, melewati ruang tamu yang sepi. Di garasi, ia menghidupkan mesin mobil tuanya yang setia, sebuah Honda Jazz lama yang sudah menemaninya sejak awal kuliah. Mobil itu, meskipun sudah dimakan usia, selalu terawat bersih. Inilah aset pribadinya yang tidak pernah dicampuri oleh uang keluarganya.
Kirana mengemudi keluar dari gerbang rumah megah itu, menuju hiruk pikuk jalanan Surabaya, siap berganti peran dari putri yang diremehkan menjadi seorang barista yang dikagumi di Kafe Teras Senja.
Tak lama setelah Kirana pergi, Ayah Haris dan Mama Reva turun dari lantai dua. Keduanya tampak rapi, siap menghadapi hari, tetapi dengan aura kemalasan khas orang kaya yang tidak perlu bekerja keras.
Mereka duduk di meja makan yang kini dihiasi hidangan lengkap: scrambled egg, sosis, dan aneka roti.
"Bi Tuti, apa Kirana sudah berangkat?" tanya Ayah Haris pada Bi Tuti yang baru saja selesai menuangkan teh ke cangkir porselen Mama Reva.
"Sudah, Tuan Haris. Baru saja lima menit yang lalu."
Mama Reva mendengus. "Gadis itu. Tidak pernah berubah. Sudah bertahun-tahun hidup di rumah ini, pergi tapi tidak pernah pamit. Sama sekali tidak punya sopan santun. Kalau diajak makan malam pun, lebih sibuk dengan piringnya sendiri."
Ayah Haris menghela napas, nadanya terdengar sedikit lelah. "Sudahlah, Ma. Tidak usah dipermasalahkan. Kita sudah hidup bersama bertahun-tahun. Sekarang lebih baik kita sarapan saja. Dan di mana Bianca?"
"Masih tidur, Yah. Semalam dia sibuk merencanakan gaun apa yang akan dia pakai untuk pertemuan dengan Keluarga Mahardika nanti malam. Biar dia istirahat saja," jawab Mama Reva sambil mengoleskan selai pada rotinya.
Ayah Haris meletakkan pisau dengan sedikit frustrasi. "Reva, ini bukan waktunya memanjakan. Kita diundang makan malam keluarga Raditya Mahardika. Kita harus terlihat sempurna dan tepat waktu. Bianca harus dibangunkan dan mulai bersiap dari sekarang."
"Bi Tuti," panggil Ayah Haris tegas, "Tolong bangunkan Non Bianca. Bilang padanya, Ayah yang suruh."
Bi Tuti mengangguk patuh. "Baik, Tuan Haris."
Bi Tuti pun melangkah cepat menuju tangga, hatinya merasa miris. Non Kirana yang selalu mandiri pergi sendiri tanpa sarapan, sedangkan Non Bianca yang sudah dewasa masih harus dibangunkan.
Saat Bi Tuti tiba di lantai dua, Bianca ternyata sudah bangun. Dia sedang duduk di depan meja riasnya, berkonsultasi dengan ponselnya, membandingkan koleksi tas branded-nya.
"Non Bianca?"
"Oh, Bi Tuti. Ada apa? Ayah atau Mama sudah bangun?" tanya Bianca tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar.
"Iya, Non. Tuan Haris minta Non segera turun sarapan dan mulai bersiap untuk acara nanti malam di kediaman Mahardika."
"Ah, iya. Bilang pada mereka aku sebentar lagi. Aku harus memastikan wajahku sempurna untuk pewaris MG," jawab Bianca dengan nada self-centered yang khas, kembali fokus memilih anting.
Bi Tuti hanya bisa menghela napas dalam hati, lalu kembali turun untuk menyampaikan pesan itu.
**
Setelah Bi Tuti memberitahu bahwa Bianca sudah bangun, tidak butuh waktu lama bagi Bianca untuk bergabung dengan keluarganya. Namun, penampilannya bukan untuk sarapan santai. Ia mengenakan dress sutra ringan bermerek yang ia klaim sebagai "pakaian rumahan", rambutnya sudah ditata gelombang longgar, dan wajahnya dihiasi riasan nude sempurna. Ia sudah bersiap untuk acara besar malam ini.
Ia berjalan ke meja makan, lalu duduk dengan anggun—sebuah upaya keras untuk terlihat matang dan berkelas di hadapan calon mertuanya.
"Pagi, Ayah, Mama," sapanya, nadanya lebih manja dari biasanya.
"Pagi, Sayang. Ayo, sarapan," jawab Mama Reva lembut, langsung mengisi piring Bianca dengan hidangan terbaik.
Bianca mulai menyantap sarapannya, tetapi tak lama kemudian, ia meletakkan garpu dengan suara klak yang terkesan dibuat-buat.
"Ayah, Mama, aku jadi ingat sesuatu," rengeknya, memasang wajah cemberut.
"Apa, Sayang? Soal gaun untuk nanti malam?" tanya Mama Reva.
"Bukan! Soal supir! Ayah, kapan supir baru itu datang? Aku sudah sangat lelah harus menyetir Mercedes-Benz S-Class sendiri. Capek tahu! Aku harus menjaga kuku dan kulitku. Aku butuh supir hari ini juga!" tuntut Bianca, menekan setiap kata.
Ayah Haris meletakkan korannya, tampak sedikit terganggu dengan nada rengekan putrinya.
"Astaga, Bian. Kita baru membicarakannya semalam. Ayah sudah menghubungi agency sewa supir profesional. Mereka sudah mengirimkan beberapa CV. Ayah akan meminta mereka datang hari ini, kamu bisa memilih sendiri."
"Memilih? Tidak bisakah Ayah saja yang pilih? Pokoknya aku mau yang tidak bau rokok, tidak berisik, dan tahu diri! Yang jelas, aku tidak mau supir tua. Pasti mereka banyak pikun, jalannya lambat, dan suka mengeluh!" sembur Bianca. Ia melirik tajam ke arah Bi Tuti yang berdiri di sudut ruangan, seolah ucapan itu ditujukan juga untuknya.
Mama Reva tertawa kecil. "Memang, yang muda itu lebih enak dipandang, Sayang."
"Tentu saja! Ayah, pastikan mereka muda dan gagah. Agar tidak memalukan jika menjemputku di kampus," desak Bianca lagi.
Ayah Haris mengangguk lelah. "Baiklah, baiklah. Setelah ini, temui Ayah di ruang kerja. Ayah sudah menyiapkan beberapa berkas kandidat. Kamu yang akan menyaringnya."
Ekspresi Bianca langsung berubah puas. "Baik, Ayah. Aku akan pastikan aku mendapatkan supir terbaik hari ini juga."
Setelah sarapan usai, Bianca mengikuti Ayah Haris menuju ruang kerja pribadinya yang luas di lantai satu. Ruangan itu dipenuhi rak buku tebal dan dihiasi plakat-plakat penghargaan bisnis.
"Ini tiga kandidat terbaik dari agensi, Bian. Semuanya berpengalaman. Kamu baca baik-baik, jangan hanya lihat foto," ujar Ayah Haris sambil menyodorkan tiga map CV.
Bianca duduk di kursi kulit mahal di hadapan ayahnya, langsung mengambil berkas-berkas itu dengan jemari yang terawat sempurna.
Bianca melihat foto kandidat pertama, wajahnya sudah berumur, dan di bagian Riwayat Pekerjaan tertulis pengalaman 20 tahun.
"Ugh, tua. Budi Santoso lima puluh lima tahun? Tidak, terima kasih. Pasti jalannya pelambat, dan sebentar-sebentar minta izin untuk buang air. Langsung singkirkan!" Bianca melempar berkas itu ke sudut meja dengan jijik.
"Empat puluh delapan tahun. Lumayan, tapi tetap tua. Wajahnya juga tidak bersahabat. Aku butuh seseorang yang ceria. Dia terlihat seperti supir yang suka mengomentari outfit-ku. Next!" Berkas kedua bernasib sama.
Bianca mengambil berkas ketiga. Mata hitamnya langsung terpaku pada foto pria di sana. Foto itu menunjukkan pria dengan tatapan yang tenang, sedikit misterius, dan postur yang jelas atletis. Meskipun memakai kacamata baca dan pakaian sederhana, auranya sangat berbeda dari supir pada umumnya.
"Hmm... Rio. Tiga puluh tiga tahun. Usia yang pas. Tidak terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda dan bodoh," gumam Bianca. Ia membaca sekilas riwayat pekerjaan: Pengemudi profesional dengan sertifikasi keamanan tingkat tinggi.
"Dia terlihat... lumayan. Tidak memalukan untuk dibawa keluar," Bianca tersenyum miring. Ia mengabaikan bahwa riwayat pekerjaannya terasa terlalu canggih untuk sekadar mengantar mahasiswi. Yang penting, Rio muda, gagah, dan rapi.
"Aku pilih yang ini, Yah. Rio. Hubungi dia. Aku mau dia datang nanti sore untuk wawancara dan langsung mulai kerja besok," putus Bianca, menggeser berkas Rio ke tengah meja.
Ayah Haris mengambil berkas itu dan memeriksanya lagi. "Rio? Baiklah. Pilihanmu bagus. Dia memiliki rekam jejak yang bersih dan direkomendasikan. Ayah akan segera menghubungi agensi dan meminta dia datang sore ini."
"Sip. Aku harus melatih diriku untuk bersikap dingin dan berwibawa di depannya. Aku harus memastikan dia tahu posisinya sebagai bawahanku," kata Bianca dengan nada kemenangan.
Setelah urusan pemilihan supir selesai, Bianca berdiri. "Kalau begitu, aku permisi, Ayah. Aku ada janji dengan make up artist terbaik di Surabaya. Wajahku harus maksimal untuk pewaris Mahardika nanti malam."
"Tentu, Sayang. Berhati-hatilah."
Bianca pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan, dipenuhi ambisi untuk memenangkan hati Raditya Mahardika dan kegembiraan karena akan mendapatkan supir pribadi yang "lumayan".
**
Di sisi lain kota, di sebuah kafe sederhana—bukan Kafe Teras Senja, melainkan kafe lain yang ramai—Raditya sedang menerima panggilan telepon dari ponsel murahnya.
"Ya, Pak Rudi. Saya Rio," jawab Raditya dengan suara husky yang ia latih untuk peran Rio.
"Selamat, Rio. Anda diterima. Nona Bianca Adyatama secara pribadi memilih CV Anda. Anda diminta datang sore ini pukul empat untuk wawancara formal dan pengarahan singkat. Anda akan mulai bekerja besok pagi."
"Terima kasih, Pak Rudi. Saya akan datang tepat waktu." Raditya tersenyum miring. Ia mematikan panggilan dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Misi tahap pertama sukses.
***
Tepat pukul empat sore, di gerbang megah kediaman Adyatama, terdengar suara mesin motor tua yang sengaja dibuat sedikit bising. Di atas motor butut itu, duduk seorang pria dengan postur tubuh yang luar biasa. Dia adalah Raditya Mahardika, yang kini menjelma menjadi Rio.
Penampilan Rio benar-benar disamarkan: kaos gelap yang menonjolkan otot-otot lengannya yang terbentuk sempurna, celana cargo kokoh, dan jam tangan kulit sederhana. Ia menghentikan motornya, mematikan mesinnya, lalu membuka helm. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Ia menatap gerbang besi hitam yang tinggi itu—kontras sekali dengan motor bututnya. Raditya tersenyum miring. Ia sudah menduga rumah rekan bisnis ayahnya ini dijaga ketat.
Di pos satpam, duduk seorang pria paruh baya, yang di seragamnya terdapat bordir nama Karman. Wajahnya ramah, tetapi matanya tetap waspada. Ia adalah suami dari Bi Tuti, juru masak di rumah ini.
"Selamat sore, Pak. Saya Rio. Dipanggil Tuan Haris Adyatama untuk wawancara pekerjaan jadi supir," sapa Raditya dengan suara husky yang ia latih, sedikit merendah, tetapi tetap terdengar percaya diri.
Pak Karman segera bangkit. Ia sudah mendapat kabar dari Ayah Haris. Ia mengamati Rio sejenak—posturnya terlalu bagus untuk seorang supir. Tapi ia cepat-cepat menepis pikiran itu.
"Oh, ya. Silakan, Mas Rio. Mari saya tunjukkan jalan ke pintu utama. Tuan Haris sudah menunggu di dalam," sambut Pak Karman ramah, kemudian membukakan gerbang kecil. "Saya Karman, satpam di sini. Senang Anda mau bekerja di sini."
"Terima kasih, Pak Karman. Senang bertemu Anda," balas Rio, menjabat tangan Pak Karman erat.
Rio melangkah masuk. Ia berjalan melintasi halaman depan yang terawat, menuju pintu kayu besar rumah utama. Ia sengaja memperlambat langkahnya. Sebelum mengetuk, ia mengambil kacamata bening tanpa bingkai dari saku kaosnya dan mengenakannya. Kacamata ini adalah props vital—untuk menyamarkan tatapan mata elangnya dan menambah kesan "pintar dan hati-hati" yang diharapkan oleh keluarga kelas atas.
Klik, klik. Rio mengetuk pintu.
Pintu terbuka, dan di sana berdiri Bi Tuti. Wanita paruh baya itu tersenyum lelah setelah seharian bekerja.
"Mas Rio, ya?”
“Iya.” Rio mengangguk ramah.
“Silakan masuk, Mas. Sudah ditunggu Tuan Haris," kata Bi Tuti sambil mempersilakan Rio masuk ke foyer yang dihiasi marmer dan patung-patung antik.
"Terima kasih, Bu," ucap Rio sopan.
Bi Tuti tertegun sejenak. Sudah lama tidak ada pekerja baru yang memanggilnya 'Ibu'. Kebanyakan hanya memanggil 'Bibi'.
"Saya panggilkan Tuan Haris sebentar, ya, Mas. Silakan duduk," ujar Bi Tuti, sedikit tersipu oleh kesopanan Rio.
Haris Adyatama muncul dari lorong, mengenakan polo shirt dengan celana bahan. Ia menyambut Rio dengan lambaian tangan dan mengajak Rio langsung menuju ruang kerjanya.
"Rio, silakan duduk. Saya Haris Adyatama," sambut Haris, suaranya lugas dan to the point.
"Terima kasih, Tuan Haris. Saya Rio. Siap untuk bekerja," balas Raditya, kini dalam mode Rio: tenang, profesional, dan sedikit kaku.
Ayah Haris menatap Rio. Pria muda ini memang tampak lebih berkelas dari supir yang biasa ia temui, dan posturnya sangat meyakinkan. Berkas CV yang ia baca sudah menyatakan semua kualifikasi.
"Saya lihat riwayat kerjamu bagus, Rio. Kau punya sertifikasi mengemudi keamanan dan juga ahli bela diri. Itu poin plusnya," kata Ayah Haris sambil memeriksa berkas Rio sekilas.
"Ini pekerjaan penuh waktu. Kau harus siap menginap di mess belakang. Kau akan mengantar kedua putriku, terutama yang bungsu, Bianca. Dia sibuk kuliah dan kegiatan sosial. Putriku yang sulung, Kirana, juga butuh diantar-jemput sesekali ke kafe tempatnya bekerja."
"Saya siap, Tuan Haris. Saya tidak memiliki tanggungan, dan saya siap bekerja 24 jam. Saya akan menjamin keselamatan kedua Nona Adytama," jawab Rio, tegas.
Ayah Haris mengangguk puas. Pria ini tidak banyak bertanya soal gaji atau tunjangan, yang merupakan nilai jual tertinggi di mata Ayah Haris—tidak matre, hanya profesional. Ayah Haris tidak tahu bahwa Rio bisa membeli 10 perusahaan Ayah Haris jika ia mau.
"Baiklah. Wawancara selesai. Kau diterima, Rio. Besok pagi jam enam, kau harus sudah ada di sini. Bi Tuti akan menunjukkan kamar dan fasilitasmu. Malam ini, kau bisa kembali ke tempat tinggalmu untuk berkemas," putus Ayah Haris.
"Terima kasih banyak, Tuan Haris. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya." Raditya berjabat tangan dengan Ayah Haris, pertanda kesepakatan sudah terjalin.
Saat Rio keluar dari ruang kerja, langkahnya terhenti di lorong utama menuju pintu keluar. Matanya tertuju pada sebuah pigura besar yang dipajang di dinding, menampilkan foto keluarga Adytama.
Foto itu adalah foto yang diambil beberapa tahun lalu. Di sana ada Ayah Haris dan Mama Reva yang tersenyum lebar. Diapit oleh dua gadis cantik.
Rio mendekat, tatapan matanya fokus di balik kacamata. Ada salah satu gadis yang menarik perhatiannya. Gadis itu tersenyum tipis, tatapannya lebih teduh, dan pakaiannya lebih sederhana. Wajahnya memang cantik, tetapi auranya cenderung pemalu di foto itu.
Rio berharap jika gadis itu adalah perempuan yang dijodohkan oleh keluarganya, meski dia masih belum tahu apakah itu Bianca atau anak Ayah Haris lainnya.
**
Mal mewah di pusat kota Surabaya sore itu dipenuhi kilauan lampu kristal dan aroma parfum mahal. Di antara keramaian kaum elite, Bianca Adyatama berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri, seolah seluruh lantai marmer itu adalah karpet merah pribadinya.
Ia ditemani oleh Sarah, sahabatnya dari jurusan Desain Interior, yang berusaha keras menyamai langkah cepat Bianca.
"Sarah, lihat tas yang itu! Apakah limited edition warna champagne itu akan lebih menonjol dibandingkan yang navy?" tanya Bianca, menunjuk etalase butik high-end dengan ujung jarinya yang berkilauan.
"Yang champagne lebih elegan, Bian. Cocok dengan gaun Dior-mu," jawab Sarah, suaranya sedikit mendesah kagum.
Bianca tersenyum puas. "Tentu saja. Malam ini, aku harus sempurna."
"Memangnya malam ini ada acara apa, Bian? Kamu terlihat sangat serius," tanya Sarah, sedikit penasaran.
Bianca berbalik, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sombong dan rahasia. Ia menarik Sarah ke sudut yang lebih sepi.
"Malam ini, keluargaku diundang makan malam keluarga oleh... Mahardika."
Mata Sarah langsung membulat. "Mahardika? Tunggu, maksudmu... Mahardika Group (MG)? Yang punya proyek properti raksasa di setiap sudut kota?"
Bianca mendongakkan dagunya, tersenyum jumawa, menikmati reaksi Sarah.
"Tentu saja. Siapa lagi? Ayahku dan Papi Rivaldo Mahardika adalah rekan bisnis."
Sarah benar-benar tercengang. "Ya ampun, Bianca! Itu gila! Keluargamu benar-benar berada di liga tertinggi!"
"Tentu saja," Bianca mendengus. "Aku harus tampil sempurna. Malam ini bukan sekadar makan malam biasa, Sar. Malam ini adalah pertemuan penjodohan."
Sarah terlonjak kaget. "Penjodohan?! Dengan siapa? Pewaris tunggalnya?"
"Tentu saja dengan siapa lagi? Raditya Mahardika. Usianya 33 tahun, pewaris utama, tampan, atletis, dan yang terpenting: kaya raya yang tidak terhingga." Bianca mengucapkan kalimat terakhirnya dengan intonasi memuja, seolah nama Raditya adalah mantra ajaib.
"Aku tak percaya, Bian. Kamu akan menjadi Nyonya Mahardika?" Sarah menatap Bianca dengan campuran iri dan kekaguman.
"Aku akan memastikan itu, Sarah. Aku tidak akan membiarkan kesempatan emas ini lepas. Bayangkan, harta yang kami miliki sekarang bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan Mahardika. Aku akan hidup seperti ratu, tanpa perlu mengkhawatirkan mata kuliah yang menyebalkan itu lagi."
Ia melirik ke jam tangan emasnya. "Sudah. Pilih tas champagne itu dan sepatu heels yang baru datang. Setelah ini, kita ke salon. Aku butuh perawatan total, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulitku harus bersinar, rambutku harus bervolume, dan kukuku harus sempurna. Setiap detail harus menarik perhatian keluarga Mahardika, terutama Raditya itu sendiri."
Setelah mengeluarkan puluhan juta Rupiah tanpa berkedip, Bianca dan Sarah bergegas menuju salon langganan. Di benak Bianca, investasi pada penampilan adalah langkah strategis pertama untuk mengamankan masa depan sebagai Nyonya Mahardika.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!