Perawang-Riau, 18-11-2025.
Mentari kota Perawang, memanggang bumi dengan ganasnya siang itu. Alrazi, dengan peluh membasahi jaket lusuhnya, terpaksa menuntun motor bututnya.
Tangki bensin kosong melompong, hasil dari melayani penumpang ojek online kemarin ludes sudah diserahkan kepada istrinya, Sarah. Lima ribu rupiah—selembar uang lusuh yang tersisa di saku celananya—terasa begitu ironis di tengah kebutuhan hidup yang kian mencekik.
Alrazi menghela napas panjang. Ia menatap jalanan aspal yang bergelombang, seolah ikut merasakan beratnya beban hidup yang ia pikul.
Dulu, ia adalah seorang karyawan yang menjanjikan di sebuah perusahaan konstruksi ternama di Perawang. Gajinya lumayan, cukup untuk menghidupi istri dan menabung untuk masa depan. Namun, mimpi indah itu hancur berkeping-keping ketika fitnah keji menghantamnya.
Atasannya, seorang pria licik bernama Hendra, melakukan kesalahan fatal dalam sebuah proyek pembangunan jembatan. Alrazi yang jujur dan berani, tak bisa menutupi kecurangan itu.
Hendra yang panik, memutarbalikkan fakta dan menuduh Alrazi sebagai dalang dari semua masalah. Tanpa ampun, Alrazi dipecat dengan tuduhan yang tak pernah ia lakukan.
Sejak saat itu, hidup Alrazi berubah drastis. Ia mencoba mencari keadilan, namun usahanya selalu kandas. Kekuatan uang dan kekuasaan Hendra terlalu besar untuk dilawan. Alrazi yang putus asa, akhirnya memutuskan untuk menjadi pengemudi ojek online. Pekerjaan ini memang tak seberapa hasilnya, namun setidaknya bisa memberikan sesuap nasi untuk keluarganya.
Namun, ada satu hal yang membuat Alrazi lebih pedih. Ia dan Sarah terpaksa menumpang di rumah mertuanya. Bukan karena ia tak cinta pada mertuanya, namun ia merasa gagal sebagai seorang suami karena belum bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk istrinya. Setiap hari, ia merasa seperti benalu yang hanya bisa merepotkan orang lain.
Di tengah lamunannya, Alrazi melihat seorang wanita paruh baya berdiri di pinggir jalan, tampak kebingungan. Insting seorang pengojek online-nya langsung muncul. Ia mendekati wanita itu dan menawarkan bantuannya.
"Maaf, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alrazi dengan sopan.
Wanita itu menoleh, wajahnya tampak lega bercampur cemas. "Nak, saya mau ke Pasar Bambu Kuning, apa kamu tukang ojek?" tanyanya, matanya menyiratkan harapan sekaligus keraguan.
Alrazi mengulum senyum getir. "Oh, Pasar Bambu Kuning. Kebetulan sekali, Bu. Saya memang tukang ojek," jawabnya, berusaha menyembunyikan kegelisahan di balik keramahannya.
Keraguan di wajah wanita itu semakin kentara. "Tapi, motor kamu mogok?" tanyanya, menunjuk motor butut Alrazi yang teronggok tak berdaya di pinggir jalan.
Alrazi menelan ludah. Otaknya berputar mencari akal. "Hm... itu... begini saja, Bu. Bisakah Ibu isikan bensinnya dulu? Sebagai gantinya, nanti kalau sudah sampai tujuan, Ibu tidak perlu membayar ongkos," ujarnya, berharap wanita itu bersedia membantunya.
Namun, tawaran Alrazi justru memicu reaksi yang tak terduga. Wajah ibu itu berubah masam, alisnya bertaut, dan bibirnya membentuk garis lurus yang tegas. "Ya elah, kalau nggak punya modal, ngapain narik ojek? Di mana-mana itu, tukang ojek harus full servis motornya! Kalau motor mogok begini, membuat penumpang tidak nyaman. Mending kamu duduk di rumah saja, nungguin duit jatuh dari langit!" ucap ibu itu dengan nada ketus dan menusuk hati. Tanpa menunggu jawaban, ibu itu berbalik dan pergi meninggalkan Alrazi yang tertegun.
Alrazi hanya bisa mengelus dada dan mencoba bersabar. Kata-kata wanita itu menghantamnya seperti cambuk, mengingatkannya akan betapa sulitnya hidup yang sedang ia jalani.
Ia tahu, wanita itu benar. Sebagai seorang pengemudi ojek online, seharusnya ia memastikan kendaraannya dalam kondisi prima. Namun, apa daya, keadaan ekonominya yang serba kekurangan membuatnya tak mampu berbuat banyak.
Ia kembali menatap motornya dengan pandangan nanar. Rasa malu dan putus asa bercampur aduk dalam benaknya. Ia merasa seperti orang yang tak berguna, tak mampu memberikan yang terbaik bagi keluarganya.
Sore menjelang, mentari mulai meredup, namun Alrazi masih belum juga mendapatkan satu pun tumpangan. Motornya yang mogok seolah menjadi penghalang rezekinya hari itu. Ia menghela napas panjang, rasa lelah dan putus asa bercampur aduk dalam benaknya. Dengan langkah gontai, Alrazi akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya.
Sesampainya di depan rumah, Alrazi terkejut bukan kepalang. Pemandangan yang menyambutnya membuatnya terdiam membeku. Baju-bajunya, termasuk beberapa potong pakaian milik Sarah, tergeletak berserakan di teras rumah. Pemandangan itu membuatnya merasa seperti orang asing, tak diinginkan.
Tanpa berpikir panjang, Alrazi memarkirkan motor bututnya di pinggir jalan dan berlari menghampiri tumpukan pakaiannya. Ia memungut satu per satu, hatinya terasa perih melihat barang-barangnya diperlakukan seperti sampah.
Saat Alrazi sedang sibuk mengumpulkan pakaiannya, pintu rumah terbuka. Munculah sosok ibu mertuanya, Bu Marni, dengan wajah masam dan tatapan sinis. Alrazi sudah menduga, dialah dalang di balik semua ini.
"Hey Alrazi, mulai sekarang kamu pergi dari rumah ini! Aku tidak terima lagi menanggung beban seperti kamu di rumah ini!" kata Bu Marni dengan nada angkuh dan suara yang meninggi. Kata-katanya menghantam Alrazi seperti petir di siang bolong.
Alrazi terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Ia tahu, selama ini Bu Marni memang tidak pernah menyukainya. Ia dianggap sebagai menantu yang tidak becus, tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Sarah. Namun, ia tak menyangka, Bu Marni akan setega ini mengusirnya dari rumah.
"Ibu, kenapa Ibu tega melakukan ini? Saya memang belum bisa memberikan apa-apa untuk Sarah, tapi saya janji akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakannya," kata Alrazi dengan suara bergetar, mencoba membela diri.
Bu Marni tertawa sinis. "Halah, omong kosong! Sudah berapa lama kamu menganggur? Sudah berapa banyak janji yang kamu ingkari? Aku sudah muak dengan semua alasanmu! Lebih baik Sarah menikah dengan pria lain yang lebih mapan, daripada terus hidup susah denganmu!"
Alrazi terkejut mendengar ucapan Bu Marni. Ia tak menyangka, mertuanya itu tega menjodohkan istrinya dengan pria lain. "Ibu, Sarah itu istri saya! Kami saling mencintai! Ibu tidak berhak mengatur hidupnya!"
"Oh, jadi kamu berani membentak saya sekarang? Dasar tidak tahu diuntung! Kamu itu hanya menumpang di rumah ini, seharusnya kamu tahu diri!" balas Bu Marni dengan nada yang semakin tinggi.
Pertengkaran mereka semakin memanas. Beberapa tetangga mulai berkerumun, menyaksikan drama yang sedang terjadi di depan rumah Bu Marni. Alrazi merasa malu dan terhina. Ia tak ingin terus berdebat dengan mertuanya di depan umum.
"Baiklah, Bu. Saya akan pergi dari rumah ini. Tapi, saya mohon, jangan libatkan Sarah dalam masalah ini. Biarkan dia memilih jalannya sendiri," kata Alrazi dengan nada pasrah.
Sarah keluar dari rumah itu dengan wajah tertunduk. Ia menghampiri Alrazi yang masih terpaku di teras. Dengan suara lirih dan berat, Sarah mengucapkan kalimat yang jauh lebih menyakitkan daripada pengusiran mertuanya. "Maafkan aku, Mas. Aku... aku harus bercerai denganmu."
Kata-kata itu menghantam Alrazi seperti palu godam. Ia menatap Sarah dengan tatapan tak percaya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ke-kenapa kau berkata begitu? Apa aku kurang menafkahimu selama ini? Apa salahku?" tanya Alrazi dengan suara bergetar, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya.
Sarah mengangguk pelan. "Iya... sebenarnya... sebenarnya aku sudah lama berhubungan dengan mantan pacarku. Dia mapan, dia sukses, dan dia ingin menikah denganku. Dia memberikan aku pilihan: menikah dengannya atau tetap hidup susah bersamamu. Jadi... jadi aku memilih bercerai denganmu dan menikah dengannya," kata Sarah dengan suara tercekat, mengungkapkan pengkhianatan yang selama ini ia sembunyikan.
Dada Alrazi terasa sesak, sesak sekali. Pengkhianatan Sarah jauh lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang selama ini menghantuinya. Ia merasa seperti orang bodoh yang selama ini dibutakan oleh cinta. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya, tak mampu menatap wajah wanita yang selama ini ia cintai.
"Jika kau ingin menyalahkan, salahkan dirimu sendiri yang miskin itu. Kalau saja kau kaya, semua ini tidak akan terjadi," kata Sarah dengan nada dingin dan tanpa penyesalan, membuat Alrazi merasa seperti dihantam batu besar. Kata-kata itu meruntuhkan semua harapan dan impian yang selama ini ia bangun bersamanya.
Bu Marni, tersenyum sinis menatap Alrazi. "Bagus, Sarah. Kamu memang anak berbakti. Pria tidak berguna ini memang tidak layak untukmu. Pilihanmu ini sudah tepat," kata Bu Marni dengan nada puas, seolah merestui pengkhianatan putrinya.
Alrazi menatap Bu Marni dengan tatapan nanar. Ia tak menyangka, mertuanya itu tega mendukung perbuatan Sarah. Ia merasa seperti orang yang tak berharga, tak pantas dicintai dan dihargai.
"Mas, tolong jatuhkan talak 3 padaku, setelah ini kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jika nanti kita berpapasan, anggap saja kita tidak saling kenal. Aku tak mau gara-gara kamu, rumah tanggaku hancur bersama calon suamiku. Capek banget hidup susah denganmu," kata Sarah dengan nada dingin, menusuk hati Alrazi seperti ribuan jarum.
Alrazi merasakan dunianya runtuh. Kata-kata Sarah bagaikan palu godam yang menghancurkan setiap harapan yang masih tersisa di hatinya. Mata Alrazi berkaca-kaca, air mata mulai menggenang, siap tumpah membasahi pipinya. Dengan susah payah, ia mengangkat kepalanya, mencoba menahan gejolak emosi yang bergemuruh di dadanya.
"Aku... aku talak engkau... dengan talak 1, 2, dan 3. Kita... tak punya hubungan lagi," ucap Alrazi dengan suara parau, tercekat oleh isak tangis yang tak tertahankan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti mengoyak jantungnya.
Bu Marni, ibu Sarah, yang sedari tadi berdiri di samping putrinya, menyunggingkan senyum sinis. "Bagus, kau bisa pergi sekarang. Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami," ujarnya dengan nada merendahkan.
Alrazi hanya bisa terdiam, menunduk lesu.
Suasana tegang di depan rumah Sarah tiba-tiba terusik oleh deru mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pria tampan dengan setelan jas mahal dan kacamata hitam keluar dari mobil. Dia adalah Ardo, mantan kekasih Sarah semasa SMA yang baru saja kembali dari luar negeri. Ardo tidak tahu menahu tentang pernikahan Sarah dengan Alrazi.
Ardo melangkah dengan percaya diri menuju rumah Sarah. Matanya menangkap pemandangan yang membuatnya mengerutkan kening. Alrazi, dengan wajah penuh air mata, berlutut di depan Sarah.
"Ada apa ini, sayang?" tanya Ardo dengan nada bingung, menatap Alrazi dengan tatapan menyelidik.
Sarah, yang terkejut dengan kedatangan Ardo, berusaha menutupi kegugupannya. Ia menggenggam erat tangan Ardo dan tersenyum paksa. "Oh, dia ini... sopir pribadiku. Dia ketahuan mencuri, makanya aku pecat," jawab Sarah dengan nada merendahkan.
Alrazi, yang mendengar perkataan Sarah, semakin terisak. Ia tidak menyangka wanita yang dicintainya tega berbohong dan mempermalukannya di depan orang lain.
Ia merasa seperti sampah yang tak berguna, diinjak-injak dan dibuang begitu saja. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah gontai meninggalkan rumah yang pernah menjadi saksi bisu cinta dan harapannya.
Alrazi berbalik badan, saat ia ingin membawa motornya, Bu Marni langsung menyergahnya.
"Kalau kau berani membawa motor itu, berurusan kita di kantor polisi! Itu adalah motorku! Dan atas namaku!" kata Bu Marni membuat ia tersentak.
Motor ini memang di kredit atas nama ibu mertuanya, tapi tiap bulan dia yang bayar, jika ia mengambilnya, Otomatis ia akan di anggap pencuri.
Mau tak mau, Alrazi meninggalkan sepeda motor yang telah lama menemani ia dalam mencari nafkah.
Rasanya tidak rela meninggalkan sepeda motor itu yang telah menjadi saksi bisu perjalanannya.
Langkah Alrazi membawanya menyusuri jalanan kota yang ramai. Namun, di tengah hiruk pikuk kehidupan, ia merasa sendirian, terasing, dan hampa. Kenangan tentang Sarah terus menghantuinya. Wajahnya, senyumnya, tawanya, semua berputar-putar di benaknya, menambah perih luka di hatinya.
Alrazi teringat saat pertama kali bertemu Sarah. Kala itu, ia adalah seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai buruh perusahaan. Sarah, seorang gadis cantik dan ceria dari keluarga berada, mampu melihat ketulusan hatinya. Mereka jatuh cinta, menikah, dan membangun rumah tangga sederhana namun bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Krisis ekonomi melanda, Alrazi di pecat, dan ia kehilangan pekerjaannya. Sejak saat itu, hidup mereka mulai diliputi kesulitan. Sarah mulai berubah, sering marah-marah dan menyalahkan Alrazi atas kemiskinan mereka.
Ia sungguh tak menyangka jika Sarah bertemu dengan seorang mantannya yàng menjadi pengusaha kaya yang menawarkan kehidupan mewah.Tanpa ragu, Sarah meninggalkan Alrazi dan memilih pria lain.
Hujan tiba-tiba mengguyur kota, memaksa Alrazi mencari tempat berteduh. Ia berlari menuju jembatan terdekat, berharap bisa berlindung dari derasnya air yang jatuh dari langit. Di bawah jembatan, ia menemukan beberapa kardus bekas yang berserakan. Dengan sigap, ia mengambilnya dan merapikannya, menciptakan alas tidur seadanya.
Alrazi merebahkan tubuhnya di atas kardus, menggunakan tas lusuhnya sebagai bantal. Di dalam tas itu hanya ada beberapa potong pakaian yang sudah usang. Ia tidak punya tempat untuk pulang. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia, dan rumah peninggalan mereka di desa telah ia jual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekarang, ia benar-benar tidak punya apa-apa.
Tiba-tiba, perut Alrazi berbunyi, memecah kesunyian malam. "Ah, perutku lapar sekali," gumamnya dengan nada lemah.
Perutnya terasa sangat perih, seolah-olah ada yang meremasnya dari dalam. Ia juga merasa sangat haus. Uang lima ribu rupiah yang tadi ia miliki telah habis untuk membeli minuman. Sekarang, sepeser pun ia tidak punya uang.
Alrazi menatap sungai yang mengalir di bawah jembatan. Airnya tampak keruh dan kotor. Ia tahu bahwa air itu tidak bersih dan bisa menyebabkan penyakit. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia sangat haus, dan tidak ada sumber air lain di sekitarnya.
Dengan ragu-ragu, Alrazi mendekati sungai dan menangkupkan tangannya. Ia meminum air sungai itu dengan hati-hati, mencoba menahan rasa jijik yang menyeruak di dadanya.
Setelah minum air sungai, Alrazi merasa sedikit lebih baik. Rasa hausnya sudah hilang, meskipun perutnya masih terasa lapar. Ia mencoba memejamkan mata, berharap bisa tertidur dan melupakan rasa laparnya.
Rasa lapar terus menggerogoti perut Alrazi. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia berbaring dan berguling-guling di atas kardus, namun rasa lapar itu tidak kunjung hilang. Akhirnya, ia menyerah dan memutuskan untuk duduk.
Ia memeluk lututnya, mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Di tengah rasa sakitnya, matanya menangkap sesuatu yang aneh di sungai.
"Benda apa itu?" gumam Alrazi penasaran.
Dengan memegangi perutnya yang keroncongan, Alrazi berjalan berjongkok menuju tepi sungai. Ia berusaha melihat lebih jelas benda yang hanyut itu. Ternyata, benda itu tampak bercahaya, memancarkan sinar redup di tengah kegelapan malam.
Alrazi semakin penasaran. Ia ingin tahu apa sebenarnya benda itu. Ia mencoba meraihnya dengan tangannya, namun benda itu malah tersangkut di antara bebatuan.
Tanpa menyerah, Alrazi mencari sebatang kayu di sekitar sungai. Ia menggunakan kayu itu untuk mengais benda bercahaya itu, berusaha melepaskannya dari bebatuan.
Setelah beberapa saat berjuang, akhirnya Alrazi berhasil mendapatkan benda itu. Ia mengangkatnya dengan hati-hati, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Apa ini? Kenapa benda ini bersinar?" tanya Alrazi dengan nada bingung, masih terus memegangi perutnya yang sakit.
Benda itu ternyata sebuah batu kristal berukuran sedang. Batu itu tampak bening dan berkilauan, memancarkan cahaya lembut yang menenangkan. Alrazi tidak pernah melihat batu seperti itu sebelumnya.
Ia mencoba membersihkan batu itu dari lumpur dan kotoran yang menempel. Semakin bersih batu itu, semakin terang pula cahayanya. Alrazi merasa ada sesuatu yang istimewa pada batu itu.
Tiba-tiba, Alrazi merasakan sesuatu yang aneh. Perutnya yang tadi terasa sangat sakit, kini mulai mereda. Rasa laparnya pun perlahan-lahan menghilang. Ia merasa tubuhnya menjadi lebih segar dan berenergi.
"Eh, ada apa ini?" tanya Alrazi kebingungan
Kejadian aneh itu bermula ketika Alrazi sedang membersihkan batu berlian yang ia temukan di sungai. Tiba-tiba, batu itu bergetar hebat, lalu melayang ke udara tepat di depan wajahnya. Alrazi terkejut bukan main, refleks ia mundur beberapa langkah.
Dari dalam berlian itu, memancar cahaya terang yang menyilaukan mata. Berlian itu kemudian jatuh ke tanah dengan bunyi klontang yang nyaring, namun cahaya yang keluar dari berlian itu tidak ikut padam. Cahaya itu justru semakin terang dan membentuk sebuah layar hologram yang berputar-putar di udara.
Seketika, layar hologram itu memindai wajah Alrazi dengan cahaya biru yang dingin. Alrazi hanya bisa terpaku, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia merasa seperti sedang berada di film fiksi ilmiah.
Ting!
Sebuah suara elektronik terdengar, memecah keheningan.
Memuat...
Loading...
Menemukan Tuan...
Memindai...
Pengenalan Tuan...
Memproses....
Selesai...
Mengscan tubuh Tuan...
Selesai.
Tampilan di layar hologram itu berubah, menampilkan informasi tentang dirinya.
Nama: Alrazi Ahyamatteo
Umur: 27 tahun
Pekerjaan: Ojek Online
Jenis Kelamin: Pria
Status: Duda
Memproses...
Selesai.
Tiba-tiba, sebuah pesan muncul di layar dengan huruf kapital yang besar.
WELCOME
[Selamat datang Tuan Alrazi, ini adalah sistem canggih, Anda adalah pemilik sistem ini]
Alrazi masih terpaku, otaknya berusaha mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan. Sistem canggih? Pemilik sistem? Apa maksudnya ini semua?
Alrazi masih berusaha mencerna informasi yang baru saja diterimanya. "Sistem canggih? Pemilik sistem?" gumamnya bingung. Ia menatap layar hologram itu dengan tatapan tak percaya. Apakah ini mimpi? Atau ia sedang berhalusinasi karena terlalu lelah bekerja?
Tiba-tiba, layar hologram itu kembali menampilkan pesan.
[Apakah Tuan Alrazi membutuhkan bantuan?]
Alrazi tersentak. "Bantuan? Bantuan apa?" tanyanya ragu.
[Sistem ini dirancang untuk membantu Tuan Alrazi mencapai potensi maksimal dan mewujudkan impian Tuan. Sistem ini dapat memberikan informasi, sumber daya, dan kemampuan yang Tuan butuhkan untuk mencapai tujuan Tuan.]
Alrazi terdiam sejenak. Ia memang memiliki banyak impian yang ingin diwujudkan, namun ia selalu merasa tidak memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup. Mungkinkah sistem ini benar-benar bisa membantunya?
"Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Alrazi, mencoba memberanikan diri.
[Sistem ini memiliki banyak fitur, di antaranya:]
[1. Analisis Situasi: Menganalisis situasi di sekitar Tuan dan memberikan informasi yang relevan.]
[2. Optimalisasi: Meningkatkan kemampuan fisik dan mental Tuan.]
[3. Manipulasi Realitas: Mempengaruhi realitas di sekitar Tuan sesuai dengan keinginan Tuan.]
Alrazi ternganga mendengar daftar fitur yang disebutkan oleh sistem. Ini terdengar seperti kekuatan dewa! Mungkinkah ini nyata?
"Tunggu, ini terlalu berlebihan. Aku hanya seorang tukang ojek online. Kenapa sistem secanggih ini memilihku?" tanya Alrazi, masih tidak percaya.
[Sistem ini memilih Tuan Alrazi karena Tuan memiliki potensi yang besar dan hati yang baik. Sistem ini percaya bahwa Tuan akan menggunakan kekuatan ini untuk kebaikan dan membawa perubahan positif bagi dunia.]
Alrazi terharu mendengar pujian dari sistem. Ia merasa termotivasi untuk membuktikan bahwa ia layak menjadi pemilik sistem canggih ini.
Alrazi menghela napas panjang. Ia merasa seperti baru saja memasuki dunia yang sama sekali baru. Dunia di mana ia memiliki kekuatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun, di balik semua itu, ia juga merasakan tanggung jawab yang besar.
"Oke, sistem," kata Alrazi dengan nada serius. "Aku akan mencoba menggunakanmu untuk kebaikan. Tapi, aku butuh bimbinganmu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
[Tentu, Tuan Alrazi. Sistem akan memberikan bimbingan dan dukungan yang Tuan butuhkan. Dengan Fitur ini, Tuan dapat melihat informasi tentang orang-orang di sekitar Tuan]
"Baiklah, aktifkan fitur Analisis Situasi," perintah Alrazi.
Seketika, penglihatannya berubah. Ia bisa melihat informasi tentang orang-orang yang sedang lewat di atas jembatan muncul di layar pandangnya. Nama, umur, pekerjaan dan status.
"Wah, ini keren sekali," ucap Alrazi dengan nada tak percaya. Ia tak menyangka bisa melihat status dan masalah orang lain hanya dengan menggunakan sistem. Matanya berbinar-binar melihat potensi yang dimilikinya.
[Baiklah, Tuan Alrazi. Untuk mencapai tujuan Anda dalam membantu sesama dan mengembangkan diri, sistem akan memberikan misi. Setiap misi yang berhasil diselesaikan, sistem akan memberikan hadiah uang senilai 1.000.000.000 rupiah.]
"Apa? Sa-satu Miliar?!" tanya Alrazi dengan nada terkejut bercampur syok. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tercekat. Informasi ini terlalu berat untuk ia terima. Ia, seorang tukang ojek online, tiba-tiba mendapatkan kekuatan super dan kesempatan untuk mendapatkan uang miliaran rupiah? Ini seperti mimpi di siang bolong.
Alrazi mencoba mencerna semua informasi yang masuk ke otaknya. Namun, ia tidak kuat. Tekanan yang ia rasakan terlalu besar. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya terasa lemas.
"A-aku..." gumam Alrazi sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.
Sistem tetap aktif, memindai kondisi Alrazi dan menyesuaikan parameter untuk memastikan keselamatannya.
[Mendeteksi penurunan kesadaran. Mengaktifkan mode stabilisasi. Menunggu Tuan Alrazi sadar kembali.]
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!